MAKALAH HUKUM ISLAM
POLITIK HUKUM ISLAM DI INDONESIA
NAMA : KHAERUN NISA NIM : D1A021176
MATA KULIAH : HUKUM ISLAM (A1)
DOSEN PENGAMPU : H.SUPARDAN MANSYUR,SH.,M
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan tuas makalah Pengantar Hukum Indonesia tepat pada waktunya.
Selanjutnya saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada orang tua dan teman- teman yang selalu memberikan support dan semangat kepada saya si kala saya merasa lelah dan jenuh dengan tugas-tuas saya dan di kala saya merasa tak mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas yan sedang saya emban. Tak lupa pula saya sampaikan rasa terima kasih saya kepada dosen mata kuliah Hukum Islam yang telah memberikan tugas makalah ini sehingga saya bisa lebih menambah wawasan saya mengenai Hukum Islam.
Terakhir kali saya ingin mengatakan bahwasanya makalah yang telah saya buat ini masih jauh dari kata sempurna.Saya berharap bisa mendapatkan respon baik serta kritikan dan masukan yang membangun. Semoga apa yang saya tulis dapat berguna bagi saya khususnya dan bagi pembaca para umumnya.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI...ii BAB I : PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG... 1 1.2 RUMUSAN MASALAH... 2
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Konseptualisasi Politik Hukum Islam di Indonesia...3 2.2 Pemberlakuan Hukum Islam di Indonesia...4 2.3 Tujuan Politik Islam di Indonesia...5
BAB II : PENUTUP
3.1 KESIMPULAN... 7 3.2 SARAN... 7 DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Politik hukum merupakan pernyataan kehendak penguasa negara terhadap hukum yang akan berlaku di wilayahnya dan arah perkembangan hukum yang sedang dibangun1. Dapat juga dipahami bahwa kebijakan hukum adalah kebijakan hukum (legalpolicy) yang akan dilaksanakan atau telah dilaksanakan di tingkat nasional oleh pemerintah Indonesia, mencakup aspek hukum yang diperlukan untuk pembentukan hukum.
Politik merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan, maka dalam politik diperlukan seorang pemimpin yang dipercaya oleh rakyat dan untuk rakyat. Sedangkan politik mengacu pada berbagai jenis kegiatan yang terjadi di suatu negara yang berkaitan dengan proses penetapan tujuan dan cara mencapainya.
Setiap kebijakan politik terdiri dari dua unsur yaitu pemimpin dan masyarakat serta organisasi yang dibentuknya. Proses menuju panggung politik dapat dilakukan atau dilanjutkan oleh siapa saja selama mereka memiliki kapasitas. Politik tidak hanya dibuat atau dipimpin oleh orang- orang yang berkuasa tetapi juga bisa dibuat oleh para ulama, ulama memiliki sumber daya yang luar biasa untuk mempengaruhi massa. Pada dasarnya, politik Islam dan hukum Islam merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam masyarakat Islam, hukum Islam tanpa dukungan politik sulit untuk ditegakkan dan sebaliknya, kebijakan yang mengabaikan hukum Islam akan menyebabkan kekacauan dalam tatanan sosial. Tiga hal ini dianggap benar oleh mereka yang telah memiliki kesadaran hukum bahwa mengamalkan dan memperjuangkan hukum Islam di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam adalah suatu keharusan bagi umat Islam, baik melalui jalur hukum formal maupun jalur substantif. Di Indonesia, implementasi, cita-cita hukum dan kesadaran hukum, suka tidak suka, juga dibentuk oleh konfigurasi sosial politik yang berkembang di masyarakat.
Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, jelas akan selalu menjadikan Islam sebagai artikulasi yang berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Prinsip nilai dan keunikan sumber motivasi Islam menegakkan syariat Islam di Indonesia selalu muncul di semua fase kehidupan bangsa, terutama di era krisis multidimensi yang kemudian menggugah keinginan untuk kembali ke nilai-nilai alternatif yang berbasis pada Islam. Tetapi kemudian, dalam upaya dan perjuangannya penerapan syariat, seperti dalam sejarahnya selalu ada hubungan sebab akibat antara agama dan negara yang mengetahui secara permanen dinamika kehidupan.pasang surut dalam konfigurasi politik Islam dan hukum Islam yang berjalan beriringan.
1 Marzuki Wahid & Rumadi,Fiqh Madzhab Negara: Kritik Atas Politik Hukum di Indonesia (Yogyakarta:LKiS, 2001), hal. 39
Hukum Islam adalah norma yang hidup dan diyakini oleh masyarakat Islam Indonesia sehingga sejak awal pembentukan konstitusi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip hukum Islam telah mempengaruhi dan mengilhami pemusnahan konstitusi. Hukum Islam ada dan berlaku bagi pemeluknya sejak masuknya Islam di Indonesia. Saat itu, hukum Islam bahkan sudah terintegrasi ke dalam kehidupan bernegara.
Rumusan Masalah
1. bagaimana konseptualisasi politik hukum Islam di Indonesia 2. Bagaimana pemberlakuan hukum Islam di Indonesia?
3. Apa saja tujuan politik Islam di Indonesia?
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Konseptualisasi Politik Hukum Islam di Indonesia
Untuk memahami politik hukum Islam di Indonesia, perlu diberikan uraian singkat tentang konsep dan ruangan lingkup sekitar tema bahasan ini. Paling tidak ada tiga konsep yang harus dijelaskan, yaitu: hukum Islam, konfigurasi politik, dan karakter produk hukum.
1. Hukum Islam
Hukum Islam adalah hukum yang dibangun atas dasar pemahaman manusia tentang nasal Quran dan Sunnah yang mengatur kehidupan manusia yang berlaku secara universal dan relevan untuk setiap zaman dan tempat untuk semua orang Islam, di manapu, kapanpun dan kebangsaan apapun. Istilah hukum Islam sebagaimana
diketahui merupakan istilah khas Indonesia yang merupakan terjemahan dari Al fiq Al islamy atau dalam konteks tertentu disebut al-syari’a Al-Islamiyah. Dalam literatur barat istilah ini dikenal dengan idiom Islamic law atau Islamic jurisprudence2. Namun secara teknis, hukum Islam banyak dipakai untuk menggantikan istilah syariah dan fiqih. Sepanjang sejarah hukum Islam, setidaknya ada empat jenis produk pemikiran, yaitu kitab fiqh,fatwa-fatwa,putusan pengadilan agama,dan peraturan perundang-undangan negara- negara muslim. Jadi, objek kajian hukum Islam dalam tulisan ini ialah hukum atau aturan yang sesuai dengan ketentuan dasar agama Islam yang mengandung norma moral dan norma hukum-untuk kemaslahatan manusia, sesuai dengan mukoshid syariah yang merupakan pesan utama sekaligus substansi hukum Islam.
Keabsahan disahkan oleh negara menurut tata cara yang ditentukan oleh substansi atau peraturan lain yang berlaku di negara Indonesia.
2. Konfigurasi politik
Kajian kebijakan hukum Islam tidak hanya memandang hukum dari perspektif formal yang memuat kebijakan rumusan resmi sebagai suatu produk tetapi juga
memandangnya dalam konteks lahirnya kebijakan hukum itu sendiri. Konfigurasi politik didefinisikan sebagai komposisi dikotomis atau konstelasi kekuasaan atas dua konsep yang bertentangan secara diametral, yaitu konfigurasi politik demokratis dan konfigurasi politik otoriter.
3. Karakter Produk Hukum
Karakter produk hukum sebenarnya dapat dilihat dari berbagai sudut teoretis. Dalam studi tentang hukum banyak identifikasi yang dapat diberikan sebagai sifat atau karakter hukum seperti memaksa, tidak berlaku surut, dan umum. Dalam berbagai studi tentang hukum dikemukakan misalnya, hukum mempunyai sifat umum sehingga peraturan hukum tidak berlaku terhadap suatu peristiwa konkret. Peraturan hukum juga mempunyai sifat abstrak yakni mengatur hal-hal yang belum terkait dengan kasus-kasus konkret. Selain itu ada yang mengidentifikasi sifat hukum ke dalam sifat imperatif dan fakultatif.
2 Said Agil Al Munawar, hukum Islam dan pluralitas, (Jakarta:Panamadani,2004),Hal.7
Dengan sifat imperatif peraturan hukum bersifat apriori harus ditaati, mengikat, dan memaksa titik sedangkan sifat fakultatif peraturan hukum tidak secara priori mengikat melainkan sekedar melengkapi, subsider dan dispositif.3
4. Hukum sebagai produk politik
Asumsi bahwa hukum merupakan produk politik merupakan produk politik menghantarkan penulis pada hipotesis bahwa konfigurasi politik tertentu akan
melahirkan karakter produk hukum tertentu pula. Secara dikotomis konfigurasi politik dibagi atas konfigurasi politik demokrZatis dan konfigurasi non
demokratis.Sedangkan variabel produk hukum dibagi atas produk hukum yang berkarakter responsif atau otonom dan produk hukum yang berkarakter ortodoks atau konservatif atau menindas.4
Aksioma ini tidak terlepas dari pendapat kalangan ahli hukum mengenai hubungan antara politik dan hukum. Setidaknya ada dua golongan yang mengkaji hal ini.
Pertama, kaum idealis yang berdiri pada sudut dan sollen yang mengatakan bahwa hukum harus mampu mengendalikan dan merekayasa masyarakatnya, termasuk dalam hal politik. Kedua, kaum realis yang berdiri pada pandangan desain. Mereka
beranggapan bahwa hukum selalu berkembang sesuai dengan perkembangan
masyarakatnya. Artinya, hukum berada pada posisi dependent variabel bagi keadaan di luarnya terutama keadaan politik.
2.2 Berlakunya Hukum Islam di Indonesia
Dari sudut historis dan yuridis formal, keberadaan negara republik Indonesia adalah sebuah negara yang pernah dijajah oleh Belanda Inggris dan Jepang. Masing-masing membawa jenis hukum dan selang waktu yang berbeda-beda, dan karenanya telah dan akan memberikan implikasi yang berbeda pula. Dari sinilah kita akan dapat memahami adanya pluralitas sistem hukum yang berlaku di Indonesia sebagai sebuah konsekuensi5. Hukum Islam sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ajaran agama Islam masuk dan menjadi bagian dari norma
masyarakat sejak masuknya ajaran Islam itu sendiri,yakni mulai abad 1 hijriah atau abad 7 sampai 8 miladiyah.” hukum Islam ini datang ke Indonesia bersamaan dengan hadirnya agama.” keyakinan inilah yang menjadikan hukum Islam berlaku mengatur dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Menurut sejarah mulai berlakunya hingga eksistensi hukum Islam dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia, sejarah hukum Islam dapat dilihat melalui klasifikasi teori yang pernah dikemukakan oleh para ahli hukum sebagai berikut.
a. Teori Receptiein Complexu
Teori hukum ini diperkenalkan oleh Van Den Berg dan dipraktekkan pada masa kolonial. Teori ini menyatakan bahwa semua sanksi hukum adat tunduk kepada sanksi yang diberlakukan dalam hukum Islam. Teori ini berlaku sejak pemerintah kolonial memberlakukan hukum Islam khususnya perkawinan dan hukum waris, yang
kemudian disebut dengan hukum kekeluargaan. Untuk menjamin pelaksanaan hukum tersebut, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan peraturan resolutieder Indische Regeering tanggal 25 Mei 1760, yang kemudian dikenal dengan compedium
freijer.Dalam Reegering-Reglement (RR) tahun 1885, pasal 75, dinyatakan bahwa:
oleh Hakim Indonesia hendaknya diberlakukan undang-undang agama.”
b. Teori receptie berkebalikan dari teori pertama, teori Receptie
Menyatakan bahwa hukum yang berlaku bagi orang Islam adalah hukum adat mereka masing-masing. Hukum Islam berada di bawah hukum adat, dan hukum adat berdiri sejajar dengan hukum positif. Teori ini dikembangkan oleh snouck Hurgronje (orientalis Belanda) setelah melakukan penelitian di berbagai daerah di tanah air. Ia menyimpulkan bahwa hukum Islam tidak dapat berlaku dalam masyarakat muslim kecuali jika diakui oleh hukum adat setempat. Politik ini bermuatan devided impera yang bertujuan menghambat meluasnya hukum Islam. Fungsinya selain sebagai konsep tandingan dari teori pertama sekaligus mendukung politik pecah belah kolonial Belanda.
c. Teori eksistensi
Teori ini kemukakan oleh ichatiarto SA untuk mempertegas dan mengeksplisitkan makna receptie a contrario dalam hubungannya dengan hukum nasional. Teori eksistensi ini mengokohkan keberadaan hukum Islam dalam hukum nasional.
Menurutnya hukum Islam:
a)Ada (exist) sebagai bagian integral dari hukum nasional; b)Ada dalam arti,dengan kemandirian dan kekuatan wibawanya, iya diakui sebagai hukum nasional dan diberi status sebagai hukum; c)Ada (exist) dalam arti norma hukum Islam sebagai penyaring bahan-bahan hukum nasional; d)Ada (exist) sebagai bahan utama dan sumber utama hukum nasional
2.3 Tujuan Politik Islam di Indonesia
Tujuan sistem politik Islam ialah membangun sebuah sistem pemerintahan dan kenegaraan yang tegak di atas dasar untuk melaksanakan seluruh hukum syariat Islam. Tujuan utamanya ialah untuk menegakkan sebuah negara Islam atau Darul Quran titik dengan adanya
pemerintahan yang mendukung Syariah, maka akan tegaklah Ad din dan berteruskanlah segala urusan agama.
Ada 10 perkara penting sebagai tujuan kepada sistem politik dalam pemerintahan Islam:
1. memelihara keimanan menurut prinsip-prinsip yang telah disepakati oleh ulama salaf daripada kalangan umat Islam
2. Melaksanakan proses pengadilan di kalangan rakyat dan menyelesaikan masalah di kalangan orang-orang yang berselisih.
3. Menjaga keamanan daerah-daerah Islam agar manusia dapat hidup dalam keadaan aman dan damai.
4. Melaksanakan hukuman-hukuman yang ditetapkan syarat demi melindungi hak-hak manusia.
5. Menjaga perbatasan negara dengan berbagai persenjataan bagi menghadapi kemungkinan serangan daripada pihak luar.
6. Melancarkan jihad terhadap golongan yang menentang islam.
7. Mengendalikan urusan pengutipan cukai, zakat dan sedekah sebagaimana yang ditetapkan oleh syara.
8. Mengatur anggaran belanja dan perbelanjaan daripada perbendaharaan negara agar tidak digunakan secara boros ataupun secara kikir.
9. Mengangkat pegawai-pegawai yang cakap dan jujur untuk mengawal kekayaan negara dan meneruskan hal ihwal pertadbiran negara.
10. Menjalankan pergaulan dan pemeriksaan yang rapi di dalam hal ihwal awam demi untuk memimpin negara dan melindungi addin.
Namun di negara Indonesia terjadi modernisasi politik Islam di Indonesia dengan penyesuaian juga dengan budaya Indonesia, akan tetapi kondisi masyarakat yang mayoritas muslim tidak menjadikan Indonesia sebagai negara agama.Konsekuensi yang telah terbangun adalah republik.
Dengan demikian, negara dan masyarakat harus mengayomi dan melindungi keragaman agama perbedaan harus disikapi dan diterima sebagai sunnatullah,keragaman harus dijadikan sebagai ladang ibadah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk turut serta menciptakan kondisi tentram dan damai. Dengan kondisi yang damai, sangat dimudahkan untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Di sisi lain, Islam dengan tegas menolak sikap terorisme, radikal, anarkisme, keberingasan, dan perusakan yang mengatasnamakan agama. Tidak lain, karena hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan watak dasar Islam kita sebagai kaum muslim Indonesia yang menjadi mayoritas sangat makhum bahwa Indonesia bukanlah negara agama, melainkan negara yang memiliki banyak agama serta suku bangsa. Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara juga mengambil intisari dari kitab suci Alquran tokoh-tokoh pendiri bangsa, dengan berbagai latar belakang agama yang dianut telah bahu-membahu berperan penting dalam mendirikan sebuah negara bernama Indonesia.
Oleh karenanya, Indonesia bukanlah dimiliki oleh satu agama tetapi dimiliki oleh semua agama. Bagi umat Islam maupun penganut agama lain harus berupaya memahami dan mengamalkan ajaran masing-masing dalam bingkai merawat kemajemukan dan kemajuan Indonesia. Hal ini tidaklah berlebihan, mengingat setiap agama pasti mengajarkan nilai dan.
Selain itu, pragmatisme pada partai berbasis Islam perlu dipahami dari karakteristik organisasi partai yang bertujuan untuk meraih dominasi kekuasaan negara mempengaruhi kebijakan politik dan berorientasi pada kepentingan. Dalam upaya tersebut, partai Islam harus terlibat dalam kompetisi yang ketat dan melakukan berbagai macam strategi mulai dari kerjasama,kompromi, negosiasi, hingga periksa dengan institusi lain. Sebagai pelaku sosial mereka tidak selalu dapat berpegangan pada panduan atau prinsip ideologi dalam
menentukan tindakannya.
Pelaku memiliki kemampuan refleksif sebagai mekanisme untuk melihat faktor sebab akibat yang menyebabkan kegagalan atau keberhasilan tindakannya untuk dijadikan
pengalaman di kemudian hari. Di sisi lain, partai islam pun tidak dapat melepaskan diri dari simbol-simbol Islam dan atau aspirasi konstituennya, karena aspek tersebut merupakan identitas sekaligus modal politik yang esensial. Dengan demikian, dalam skema tindakan sosial partai Islam secara umum mengarah pada tindakan rasional yang dalam situasi tertentu lebih mengedepankan aspek pragmatis dan aspek ideologi pada aspek lainnya. Dinamika tindakan mereka ditentukan oleh penafsiran para pelaku terhadap keadaan dan situasi yang dihadapinya
BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN
di negara Indonesia terjadi modernisasi politik Islam di Indonesia dengan penyesuaian juga dengan budaya Indonesia, akan tetapi kondisi masyarakat yang mayoritas muslim tidak menjadikan Indonesia sebagai negara agama.Konsekuensi yang telah terbangun adalah republik.
Dengan demikian, negara dan masyarakat harus mengayomi dan melindungi keragaman agama perbedaan harus disikapi dan diterima sebagai sunnatullah,keragaman harus dijadikan sebagai ladang ibadah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk turut serta menciptakan kondisi tentram dan damai. Dengan kondisi yang damai, sangat dimudahkan untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Di sisi lain, Islam dengan tegas menolak sikap terorisme, radikal, anarkisme, keberingasan, dan perusakan yang mengatasnamakan agama. Tidak lain, karena hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan watak dasar Islam kita sebagai kaum muslim Indonesia yang menjadi mayoritas sangat makhum bahwa Indonesia bukanlah negara agama, melainkan negara yang memiliki banyak agama serta suku bangsa. Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara juga mengambil intisari dari kitab suci Alquran tokoh-tokoh pendiri bangsa, dengan berbagai latar belakang agama yang dianut telah bahu-membahu berperan penting dalam mendirikan sebuah negara bernama Indonesia.
Oleh karenanya, Indonesia bukanlah dimiliki oleh satu agama tetapi dimiliki oleh semua agama. Bagi umat Islam maupun penganut agama lain harus berupaya memahami dan mengamalkan ajaran masing-masing dalam bingkai merawat kemajemukan dan kemajuan Indonesia. Hal ini tidaklah berlebihan, mengingat setiap agama pasti mengajarkan nilai dan.
Selain itu, pragmatisme pada partai berbasis Islam perlu dipahami dari karakteristik organisasi partai yang bertujuan untuk meraih dominasi kekuasaan negara mempengaruhi kebijakan politik dan berorientasi pada kepentingan. Dalam upaya tersebut, partai Islam harus terlibat dalam kompetisi yang ketat dan melakukan berbagai macam strategi mulai dari kerjasama,kompromi, negosiasi, hingga periksa dengan institusi lain. Sebagai pelaku sosial mereka tidak selalu dapat berpegangan pada panduan atau prinsip ideologi dalam
menentukan tindakannya.
Pelaku memiliki kemampuan refleksif sebagai mekanisme untuk melihat faktor sebab akibat yang menyebabkan kegagalan atau keberhasilan tindakannya untuk dijadikan
pengalaman di kemudian hari. Di sisi lain, partai islam pun tidak dapat melepaskan diri dari simbol-simbol Islam dan atau aspirasi konstituennya, karena aspek tersebut merupakan identitas sekaligus modal politik yang esensial. Dengan demikian, dalam skema tindakan sosial partai Islam secara umum mengarah pada tindakan rasional yang dalam situasi tertentu lebih mengedepankan aspek pragmatis dan aspek ideologi pada aspek lainnya. Dinamika tindakan mereka ditentukan oleh penafsiran para pelaku terhadap keadaan dan situasi yang dihadapinya
3.2 SARAN
Dengan adanya Islam maka di harapkan dapat membangun sebuah sistem pemerintahan dan kenegaraan yang tegak di atas dasar untuk melakukan atau melaksanakan seluruh hukum syariat islam.
DAFTAR PUSTAKA
http://gudangilmuh.blohspot.com/2014/11/karakter -produk-hukum.html (diakses pada 9 september 2022)
Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia, cet.I (Yogyakarta: Gama Media,1999)hal.6-7 A.Qodri Azizy,Ekletisisme Hukum Nasional;Kompetisi Antara Hukum’ Islam dan Hukum’ umum, (Yogyakarta: Gama Media,2002),Hal.109
Said Agil Al Munawar, hukum Islam dan pluralitas, (Jakarta:Panamadani,2004),Hal.7
Marzuki Wahid & Rumadi,Fiqh Madzhab Negara: Kritik Atas Politik Hukum di Indonesia (Yogyakarta:LKiS, 2001), hal. 39
Ensiklopedi Hukum Islam, Abdul Aziz Dahlan [et.al.], cet. I ( Jakarta: Ichtar Baru Van Hoeve, 1996), III: 713., dalam Ichtiarto SA, Hukum Islam dan Hukum Nasional (Jakarta: In-Hill Co, 1990), hal. 86- 87., dan lihat dalam, Said Agil Husin Al-Munawar, Hukum Islam dan Pluralitas Sosial, hal.14