• Tidak ada hasil yang ditemukan

politik identitas dan gerakan sosial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "politik identitas dan gerakan sosial"

Copied!
215
0
0

Teks penuh

Alhamdulillah, atas rahmat Allah SWT, buku berjudul “Politik Identitas dan Gerakan Sosial Islam: Kajian Front Pembela Islam” berhasil diselesaikan oleh penulis. Bagian lain buku ini menyoroti kiprah Front Pembela Islam (FPI) sebagai gerakan sosial yang konsisten memajukan politik identitas Islam.

BAB II

Islam, Identitas dan Gerakan Sosial

Sebelumnya, gerakan sosial telah dipelajari sebagai subbidang dalam kerangka pendekatan aksi kolektif yang luas. Gerakan sosial lebih dekat pada kelompok kepentingan dibandingkan keduanya (persamaan dan perbedaan) dengan partai politik.

Aktivisme Islam Masa Reformasi

Apalagi kalau bisa hal-hal tersebut bisa disubordinasikan pada nilai dan ajaran Islam.86. Kelompok radikal utama yang muncul dalam konteks nasional pasca reformasi antara lain Darul Islam, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam, dan Laskar Jihad.Di konstelasi lokal Solo, selain kelompok di atas juga terdapat kekuatan radikal, lainnya seperti Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS), kelompok paramiliter lainnya, Forum Komunikasi Masjid (FKAM) dan Jamaah Anshrout Tauhid (JAT), organisasi baru yang didirikan oleh Abu Bakar Ba`asyir setelah pengunduran dirinya dari MMI . Lihat, Robert W, Hefner, Civil Islam: Islam and Democratization in Indonesia, (Jakarta: ISAI dan TAF, 2001) dan Robert W, Hefner, “Introduction: Multiculturalism and Citizenship in Malaysia, Singapore, and Indonesia,” dalam The Politics of Multikulturalisme: Pluralisme dan kewarganegaraan di Malaysia, Singapura dan Indonesia (ed.

Ketiga, adanya kewajiban dan rasa menjaga serta menjunjung harkat dan martabat Islam dan umat Islam. Ketiga, adanya kewajiban dan rasa melindungi serta menjaga harkat dan martabat Islam dan umat Islam. Maraknya pertanyaan dan wacana penegakan syariat Islam di ruang publik Indonesia dapat dilihat sebagai upaya mencegah dan memerangi arus sekularisasi yang dilakukan oleh kelompok yang dituduh FPI dan kelompok Islam fundamentalis lainnya.168 Tuntutan “murni” Syariat Islam menjadi identitas utama proyek yang ditanggung FPI.169.

FPI mencoba menjelaskan kepada masyarakat luas bahwa poster tersebut mengandung unsur yang mengindikasikan film tersebut adalah film sesat yang dapat merugikan keimanan umat Islam. 172. Resolusi yang tidak diselesaikan secara serius akhirnya memaksa FPI bertindak sendiri.177 Bahkan, Rizieq terang-terangan mengancam akan melakukan jihad untuk menggulingkan Presiden SBY pada perayaan Maulid Nabi beberapa hari sebelumnya di markas FPI, Jalan Petamburan. , Jakarta Barat. 178 Ancaman ini akan terwujud jika Presiden SBY tidak memenuhi tuntutan mereka terkait pembubaran Ahmadiyah, kelompok yang “menyesatkan” ajaran Islam. 179. Emosi seperti marah, malu dan sakit hati memainkan peranan penting dalam mobilisasi ke dalam ini.Dalam kasus Turki, tarekat Sufi Naqsybandi telah menjadi institusi utama untuk mobilisasi ke dalam ini.

Menurut Habib Rizieq, pemahaman agama yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama dan benar adalah bertentangan dengan ajaran Islam karena Al-Qur'an dengan jelas menyatakan bahwa agama yang diakui di mata Allah adalah Islam.203 Pemahaman Habib Rizieq sebagai pendiri FPI , didasarkan pada pemahaman Al-Qur'an bahwa satu-satunya agama yang diakui oleh Allah adalah Islam,204 dan karena Allah telah menyatakan bahwa satu-satunya agama yang dihormati oleh Allah adalah Islam,205 dan orang yang tidak beragama tidak.

Riwayat Hidup Pendiri Front Pembela Islam (FPI)

Islam, orang-orang ini tidak diterima agamanya,206 Habib Rizieq mengakui perbedaan, sehingga agama tidak bisa dipaksakan,207 namun menurut Habib Rizieq, bahwa setiap orang bebas menerima atau mengakui kebenaran agama tertentu, tetapi dia juga bebas menolak kebenaran agama dengan syarat tertentu sehingga tidak boleh ada paksaan untuk meyakini kebenaran agama lain. Berdasarkan data di atas maka dapat dipahami bahwa FPI merupakan salah satu contoh gerakan sosial Islam yang lahir dan besar di Indonesia sehingga memiliki kepedulian yang besar terhadap fenomena dan perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat yang menurut FPI adalah kejahatan, sehingga mengharuskan FPI turun tangan secara langsung untuk mengatasi permasalahan tersebut, yang sayangnya seringkali terjadi dengan cara yang bertentangan dengan hukum positif di Indonesia. Dan karena alasan menjadi provokator dan penghasut terkait penyerangan massa yang dilakukan Aliansi Nasional Agama dan Keyakinan atau AKKBB pada Peristiwa Monumen Nasional 1 Juni 2008, Habieb Rizieq kembali divonis 1,5 tahun penjara pada 30 Oktober 2008. dan harus kembali ke sel tahanan di Polda Metro Jaya209 .

FPI bisa kita katakan adalah transformasi dari Habiba Rizieq dan bisa juga kita katakan bahwa Habieb Rizieq adalah FPI. Dalam wawancaranya pada 10 Maret 2016, Habibe Rizieq menegaskan komitmennya memerangi kemaksiatan dan kejahatan tidak pernah goyah meski berada di balik jeruji besi. Ia menegaskan, tetap akan turun ke jalan jika pemerintah tidak tanggap dalam menyikapi fenomena yang terjadi di masyarakat dan merugikan umat Islam pada khususnya.

Hal tersebut kemudian dibuktikannya dengan memimpin langsung DPP FPI yang melakukan advokasi terhadap korban penggusuran di Masjid Batang Penjaringan Luar pada 18 April 2016. FPI (Front Pembela Islam) sebagai ormas yang didirikannya kerap mendapat sorotan tajam karena sikapnya yang tidak baik. tindakan.

Front Pembela Islam (FPI) Sebagai Identitas Sosial Islam Era politik kontemporer saat ini menunjukkan sebuah realitas

Islam tidak membeda-bedakan hal-hal yang sakral dan yang sekuler. 215 Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mendirikan negara Islam dan melaksanakan peraturan perundang-undangan Islam secara kaffah (menyeluruh) berupa formalisasi pelaksanaan syariat Islam 216 Teokratis pemandangan seperti ini, di zaman modern. Padahal mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Dalam keterangannya dijelaskan bahwa FPI lahir sebagai bentuk pertahanan terhadap penindasan. 221 Oleh karena itu, tujuan umum didirikannya FPI adalah untuk membangkitkan semangat jihad dan menjaga amar ma'. ruf nahi munkar dalam ikatan ukhuwah Islamiyah 222 . Surat keputusan tersebut memerintahkan kembalinya Pancasila dan UUD 1945 yang sarat dengan Piagam Jakarta yang isinya mengandung hukum Islam.

Oleh karena itu, umat Islam harus berjuang dan membebaskan serta bangkit dari kolonialisme mental, budaya, politik, dan ekonomi tersebut. Keputusan tersebut menyatakan bahwa "Ahmadiyya dilarang di provinsi tersebut karena aliran tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam." Larangan di tingkat daerah didukung oleh pejabat Kanwil Kementerian Agama, kejaksaan daerah, perwakilan MUI daerah, dan organisasi Islam lainnya, termasuk akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah di Palembang. Mereka memperjuangkan bukan demi terwujudnya negara Islam (setidaknya dalam jangka pendek), namun demi penerapan syariah di tingkat keluarga dan masyarakat (ruang Islamisasi).

258Desastian, Habib Rizieq: FPI Bukan Musuh Negara, Bangsa, TNI dan Polri, 23 Agustus 2013 di http://www.voa-islam.id/. FPI menentang keras sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam, dan tidak hanya menentang keras kebijakan tersebut.

Politik Identitas Front Pembela Islam (FPI) sebagai Bentuk Penguatan Internal Islam

Berdasarkan argumentasi sejarah, banyak intelektual Islam Indonesia yang tidak sependapat dengan mereka yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam—salah satu ciri aktivisme Islam. Saya sangat menentang untuk kembali memperjuangkan Piagam Jakarta dan menuntut Indonesia menjadi negara Islam – namun sebelum itu, sebelumnya saya banyak belajar, termasuk ketika saya masih di Ohio University dan belum mendalami dan merambah lautan ilmu yang lebih luas seperti ketika saya mulai belajar di Universitas Chicago— Saya juga salah satu orang yang sangat mendukung ISIS. Pengalaman saya hingga akhirnya mencapai tahap penolakan Piagam Jakarta dan ISIS tercatat dalam otobiografi saya. Jangan karena Indonesia adalah negara yang mayoritas pemeluk agama Islam, lalu seenaknya membakukan nilai-nilai Islam untuk dilegalkan, tanpa memperhitungkan banyaknya nilai-nilai lain di luar Islam.”300.

Oleh karena itu, Pancasila harus dapat diterima oleh semua umat beragama, oleh karena itu Pancasila tidak dapat dikatakan sebagai “konsep negara Islam”, dalam arti negara agama. Dawam Rahardjo yang kesemuanya diketahui termasuk dalam angkutan “Islam Liberal-Progresif” atau “Neo-Modernisme Islam”304 – disusul “jilid kedua” kaum intelektual progresif –. 304 Ahmad Baso, “Neo-Modernisme Islam versus Tradisionalisme Pasca-Islam”, dalam Jurnal Tashwirul Afkar, Edisi No.

306 Fazlur Rahman, “Prinsip Syura dan Peran Umat Islam” dalam Mumtaz Ahmad (ed.), Masalah Teori Politik Islam, trans. FPI meyakini bahwa pemajuan identitas keagamaan dan konsep komunitas Muslim seutuhnya harus dilaksanakan sepenuhnya321 dengan berpedoman pada hukum Islam.

Gerakan Sosial Front Pembela Islam (FPI) Sebagai Reaksi Atas Lemahnya Peran Negara

Merujuk pada pendapat McAdams, FPI dalam gerakan keagamaannya sangat dipengaruhi oleh relatif terbuka atau tertutupnya sistem politik formal dan institusional. Pemahaman seperti ini, menurut Habib Rizieq, merupakan pemahaman yang bertentangan dengan ajaran Islam karena Alquran sudah jelas menyatakan bahwa agama yang diakui Allah adalah Islam. Ketetapan tersebut memerintahkan kembalinya Pancasila dan UUD 1945 yang dijiwai Piagam Jakarta yang muatannya berlandaskan syariat Islam.374 Dengan kata lain, FPI pada dasarnya mendukung penuh keutuhan dan negara kesatuan Indonesia, meski menurutnya ke bagi FPI, negara kesatuan NKRI tidak berdiri sendiri, namun harus disempurnakan secara syariah.

Mereka berjuang bukan untuk mendirikan negara Islam (setidaknya dalam jangka pendek), melainkan menerapkan syariah di tingkat keluarga dan komunitas (ruang Islamisasi). Segala perkembangan di era modern ini dianggap mendistorsi Islam karena membawa sekularisasi, liberalisasi, dan cara hidup yang jauh dari batasan moral Islam. Ada yang bilang fundamentalisme karena gerakan ini sangat berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar atau asas Islam, ada pula yang menyebutnya radikalisme Islam, juga karena terlihat bahwa gerakan ini menganut akar Islam.

Gerakan ini mengacu pada pembaruan “bela Islam” Islamala al-Agfha yang apologetik terhadap hegemoni imperialisme Barat. Terlebih lagi, sikap standar ganda, dimana pembaharuan Islam kadang-kadang “membela Islam” namun di lain waktu juga menyerang stagnasi tradisi Islam, membuat modernisme Islam tidak lepas dari tudingan sebagai instrumen Westernisasi. Dan itulah sasaran utama hukum Islam.423 Hampir seluruh cendekiawan Islam berpendapat bahwa tidak ada satu pun risalah Tuhan yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya.

Madjid, Nurcholish, “Doa” dalam Budhy Munawar-Rachman (ed), Kontekstualisasi Ajaran Islam dalam Sejarah, (Jakarta: Paramadina.

Referensi

Dokumen terkait

Peserta didik mampu memahami pengertian,ciri-ciri, dan fungsi teks laporan hasil observasi berdasarkan informasi yang mereka peroleh dari berbagai sumber dengan mandiri.. Peserta