• Tidak ada hasil yang ditemukan

The population in this study is 344 private boarding house that exist in the campus area STKIP PGRI West Sumatra.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "The population in this study is 344 private boarding house that exist in the campus area STKIP PGRI West Sumatra."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

SPATIAL PATTERN OF HIRE PRICE PRIVATE BOARDING HOUSE IN CAMPUS AREA STKIP PGRI WEST SUMATRA

Pariman, Dasrizal, Afrital Rezki

Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]

ABSTRACT

The problem in this research is the spatial distribution of the rental price of private boarding house in the campus of STKIP PGRI West Sumatera. This study aims to analyze the spatial distribution of rental rates private boarding house in the campus STKIP PGRI West Sumatra and analyze the factors that affect the rental price private boarding house in campus STKIP PGRI West Sumatra. The type of this research is descriptive research. The population in this study is 344 private boarding house that exist in the campus area STKIP PGRI West Sumatra. The sample was taken by proportional random sampling technique. Data analysis techniques using the formula percentage. The results of the study found that: 1) Spatial Distribution of private boarding house in Campus Area STKIP PGRI West Sumatra, where there are 85 boarding in this research location. Location 1 as much as 31 private boarding house, location 2 as much as 25 private boarding house, location 3 of 29 private boarding house. The location of this research is located in District of Nanggalo and District of Padang Utara. 2) Factors that affect the rental of kos is the price, distance and facilities. Based on the rental price of Rp. 400.000- Rp 550,000 as much as 57 private boarding house, the price of Rp. 551,000- Rp. 650,000 as many as 26 private boarding house, the price of Rp. 651,000- Rp. 750,000 as much as 2 private boarding house. Then the distance 0- 233 m as 25 private boarding house, distance 233-466 m as 44 private boarding house, distance 466- 700 m as 11 private boarding house. Wifi + television facilities as much as 1 private boarding house, wifi facilities as much as 3 private boarding house, television facilities as much as 25private boarding house, ordinary facilities as much as 56 private boarding house.

Keywords: Distribution of boarding, lease factor, spatial distribution.

(2)

2 PENDAHULUAN

Pendidikan adalah segala upaya direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, dan masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (menurut Soekidjo 2003: 16). Sedangkan pendidikan menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar untuk mewujudkan susasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pola adalah bentuk atau model yang bisa dipakai untuk membuat dan menghasilkan suatu bagian dari dari sesuatu, khususnya jika sesuatu itu mempunyai suatu jenis untuk pola dasar yang ditunjukkan, sehingga sesuatu itu dapat dikatakan memamerkan pola.

Pola adalah susunan distribusi antar lokasi dalam suatu ruang, sedangkan pola persebaran adalah

bentuk atau model suatu obyek yang ada di permukaan bumi.

Spasial merupakan segala hal yang menyangkut lokasi atau tempat.

Dalam analisis spasial tertuju pada cara mendeskripsikan fakta yang memfokuskan pada fenomena yang terjadi di atas permukaan bumi.

Analisis mengenai pola-pola spasial (pemusatan, penyebaran, kompleksitas spasial dan lain-lain), kecenderungan spasial, bentuk- bentuk dan semua interaksi spasial secara deskriptif (Rustiadi, 2011).

Distribusi adalah terjadinya persebaran gejala-gejala geosfer yang ada di permukaan bumi, dimana distribusi (penyebarannya) berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Distribusi diartikan sebagai persebaran. Persebaran dalam hal ini adalah posisi lokasi yang terletak

Sedangkan spasial adalah ruang fisik yang terbentuk pada lingkungan permukiman, rumah tinggal dan bentuk bangunan terjadi karena faktor-faktor yang berkembang dalam lingkungan masyarakat (Hamzah, 2010).

Hidup jauh dari keluarga membuat penghuni kost mau tak

(3)

2 mau harus mandiri. Suasana kos sangat menentukan betah tidaknya sang penghuni. Seiring berkembangnya zaman, model dan jenis rumah kos identik dengan kesederhanaan dengan fasilitas seadanya, biasanya dibagi perkamar, tapi kini kos bahkan telah mengambarkan status sosial penghuninya. Dengan konsep moderinitas, kos bisa lebih mewah dari rumah yang paling mewah di desa sekalipun.

Seiring dengan perjalanan waktu kota mengalami perkembangan sebagai akibat dari pertambahan penduduk, perubahan sosial ekonomi dan budaya. Kota sebagai perwujudan spasial cenderung mengalami perubahan (aspek fisik dan non fisik) dari waktu kewaktu begitu pula dengan fungsi- fungsi perkotaan (Sandy, 1978 dalam Koestoer, 2001.

Perkembangan perkotaan merupakan proses perubahan keadaan perkotaan yang berjalan alami atau dapat pula menyangkut suatu proses yang berjalan secara atifisial, dengan campur tangan

manusia yang mengatur arah perubahan tersebut (Hayati, 2010).

Selain itu perkembangan suatu kota karena adanya jaringan transportasi otomatis akan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mencapai lokasi di pusat kota.

Pusat kota akan semakin dengan bertambahnya manusia yang menempati lokasi tersebut.

Berdasarkan observasi peneliti kampus STKIP PGRI Sumatera Barat adalah salah satu kampus swasta di kota Padang yang memiliki ∓10.000 mahasiswa.

Oleh karena itu mahasiswa kampus STKIP PGRI Sumatera Barat menempati kos di sekitar kawasan kampus agar mudah menjangkau lokasi kampus, tetapi tidak jarang pula ada mahasiswa yang memilih kos jauh dari kampus. Lokasi di sekitar kampus merupakan lokasi yang strategis untuk membangun sebuah kontrakan atau rumah kos karena kebanyakan mahasiswa akan mencari kos yang dekat kampus dimana mahasiswa menuntut ilmu. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat

(4)

3 sekitar kampus untuk membangun rumah kos.

Kebanyakan masyarakat sekitar kampus memiliki kamar kos yang menyatu dengan rumah mereka. Hal ini berbeda dengan rumah kos yang tidak dijaga oleh pemiliknya yang biasanya hanya datang sekali sebulan untuk menagih uang sewa. Pemilik kos biasanya memiliki kamar kos dengan jumlah yang tidak sedikit, mereka terkadang memiliki kamar kos hingga mencapai dua puluh lima kamar. Bisnis sewa kamar kos ini adalah investasi jangka panjang yang sangat menjanjikan karena akan terus mendatangkan pendapatan. Hal ini menyebabkan masyarakat yang memiliki modal akan membangun rumah kos dengan fasilitas yang dibutuhkan oleh para mahasiswa. Mahasiswa akan memilih kamar kos yang sesuai dengan yang mereka inginkan disamping harga yang murah, mahasiswa akan memilih kos yang lingkungan yang bersih, fasilitas yang memadahi dan tentunya tidak rawan maling.

Pemilik kamar kos biasanya menyewakan kosnya dengan tarif sewa perbulan dan ada juga yang pertahun. Menurut observasi di lapangan, harga sewa kos perbulan di kawasan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat adalah sekitar Rp.

250.000-RP. 350.000. Harga tinggi yang ditawarkan oleh pemilik kos tentunya didukung dengan fasilitas dan keamanan yang memadahi seperti garasi kendaraan bermotor, kasur, lemari, dan ruang kamar yang cukup besar. Terkadang harga sewa kos yang mendekati kampus akan menjadi mahal dikarenakan lebih mudah dijangkau. Kondisi faktual tersebut menunjukan adanya perbedaan harga kos yang diyakini akan mengalami kenaikan.

METODE PENELITIAN

Berdasarkan latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian maka jenis penelitian yang dilakukan tergolong pada penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial atau dimaksudkan untuk eksplorasi atau klarifikasi mengenai

(5)

4 suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti antara fenomena yang diuji. Penelitian ini bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis dari para responden dengan maksud untuk memahami dan atau meramal beberapa aspek perilaku dari populasi yang diamati (Soehardi dalam Surya: 2006).

Yang menjadi populasi dari penelitian ini adalah kos yang berada di kawasan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat. Penarikan sampel mengg-unakan teknik proposional random sampling dengan proporsi 25% dari jumlah populasi sebanyak 344 kos, sehingga didapatkan sampel sebanyak 85 kos.

Teknik analisis data yang digunakan yaitu rumus persentase, sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian deskriptif maka digunakan analisis deskriptif dengan rumus formula persentase (%)yang dikemukakan oleh Arikunto (2010).

HASIL DAN PEMBAHASAN Pertama, Distribusi Spasial Harga Sewakos-Kosan di Kawasan Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, dimana terdapat 344 kos di kawasan kampus dan 85 kos sebagai sampelnya. 85 kos terletak di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Nanggalo dan Kecamatan Padang Utara. Penelitian ini di bagai menjadi 3 wilayah, wilayah 1 sebanyak 31 kos, wilayah 2 sebanyak 25 kos, wilayah 3 sebanyak 29 kos.

Kedua, Faktor yang mempengaruhi harga sewa kos- kosan di kawasan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat.

berdasarkanharga sewa kos di kawasan kampus berbeda-beda.

Pada wilayah 1 kos dengan harga RP. 400.000- Rp 550.000 berjumlah 22 kos, kos dengan harga

(6)

5 Rp. 551.000- Rp. 650.000 berjumlah 7 kos, kos dengan harga Rp. 651.000- Rp. 750.000 berjumlah 2 kos. Pada wilayah 2 kos dengan harga RP. 400.000- Rp 550.000 berjumlah 13 kos, kos dengan harga Rp. 551.000- Rp.

650.000 berjumlah 12 kos, dan pada wilayah 2 ini tidak ditemukan kos dengan harga Rp. 651.000- Rp.

750.000. Pada wilayah 3 dengan harga RP. 400.000- Rp 550.000 berjumlah 22 kos, kos dengan harga Rp. 551.000- Rp. 650.000 berjumlah 7 kos, dan pada wilayah 3 ini tidak ditemukan kos dengan harga Rp. 651.000- Rp. 750.000.

Jarak kos ke kampus bervariasi mulai yang palingh dekat 8 meter dan yang paling jauh 647 m. Pada lokasi 1 dengan jarak 0- 233 m berjumlah 14 kos, jarak 233- 466 m berjumlah 16 kos, jarak 466- 700 m berjumlah 1 kos. Pada lokasi

2 dengan jarak 0-233 m berjumlah 11 kos, jarak 233-466 m berjumlah 13kos, jarak 466-700 m berjumlah 1 kos. Pada lokasi 3 dengan jarak 0- 233 m berjumlah 0 kos, jarak 233- 466 m berjumlah 15 kos, jarak 466- 700 m berjumlah 14 kos.

Selanjutnya fasilitas kos di kawasan kampus STKIP PGRI Sumbar ada 4 tipe fasilitas yaitu: tipe wifi dan tv, wifi, televisi dan fasilitas biasa (kamar mandi dan kamar tidur). Pada kawasan 1 tidak ada yang memiliki fasilitas wifi&

televisi, untuk kos dengan fasilitas wifi berjumlah 2 kos, untuk kos dengan fasilitas biasa berjumlah 24 kos. Pada kawasan 2 yang memiliki fasilitas wifi& televisi berjumlah satu kos , untuk kos dengan fasilitas wifi tidak ada, untuk kos dengan fasilitas biasa berjumlah 15 kos.

Pada kawasan 3 tidak adayang

(7)

6 memiliki fasilitas wifi& televisi ber, untuk kos dengan fasilitas wifi berjumlah 1, untuk kos dengan fasilitas tv berjumlah 11 dan fasilitas kamar tidur saja berjumlah 17 kamar kos.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti menarik beberapa kesimpulan sehubungan dengan distribusi spasial harga sewa kos- kosan di kawasan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat yaitu sebagai berikut:

1. Distribusi Spasial Harga Sewa Kos-Kosan di Kawasan Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, dimana terdapat 85 kos pada lokasi penelitian ini.

Lokasi 1 sebanyak 31 kos, lokasi 2 sebanyak 25 kos, lokasi 3 sebanyak 29 kos. Lokasi penelitian ini terletak di

Kecamatan Nanggalo dan Kecamatan Padang Utara.

2. Faktor yang mempengaruhi harga sewa kos adalah harga, jarak dan fasilitas. Berdasarkan harga sewa Rp. 400.000- Rp 550.000 sebanyak 57 kos, harga Rp. 551.000- Rp. 650.000 sebanyak 26 kos, harga Rp.

651.000- Rp. 750.000 sebanyak 2 kos. Kemudian jarak 0- 233 m sebanyak25 kos, jarak 233-466 m sebanyak 44 kos, jarak 466- 700 m sebanyak 11 kos.

Fasilitas wifi + televisi sebanyak 1 kos, fasilitas wifi sebanyak 3 kos, fasilitas televisi sebanyak 25 kos, fasilitas biasa sebanyak 56 kos.

3.

DAFTAR PUSTAKA

Astri Aulia S, Adisti Madella Elmanisa dan Myra P Gunawan (2014) Pola Distribusi Spasial Minimarket Di Kota-Kota Kecil

.

Asthidhita Nuraini Latifah (2017) Pengelompokan Wilayah Persebaran Indekos Dengan Metode K-Means Dan Informasi Pengalokasian Akses Jalan Dengan Klasifikasi Menggunakan Analisis Dat Spasialpada Aplikasi E- Commerce Carikos

(8)

7 .

Citra Indriani (2008) Pola Spasial- Temporal Epidemic Demam Cikungunya Dan Demam Berdarah Dengue di Kota Yogyakarta Tahun 2008.

Dwi Arini Mandasari (2014) Analisis Sosio-Spasial Kost Yang Mempengaruhi Preferensi Kost Mahasiswa Di Lingkungan Kampus UMS.

Hafififah Rasti (2015) Pengaruh Lingkungan Harga, Fasilitas Dan Kelompok Referensi

Terhadap Keputusan

Konsumen Dalam Memilih Jasa Rumah Kos Di Kawasan Limau Manis Dan Jati.

Hamzah F. Rachman (2010) Kajian Pola Spasial Pertumbuhan Kawasan Perumahan dan Permukiman di Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo.

Tesis

Heffi Christya Rahayu. 2013. Pola Spasial Harga Lahan Sepanjang Koridor MERR Pada Ruas Rungkut Sampai Arif Rahman Hakim Di Kota Surabaya. Jurnal

Ilham Moehammad. 2013.

Mahasiswa Dan Fenomena Kos (Diakses 25 September 2017)

Irma Susanti. 2017. Analisis Spasial Pemukiman Transmigrasi Di Kabupaten Dharmasraya.

Skripsi

Jansen Sitorus (2004) Analisis Pola Spasial Penggunaan Lahan Dan Suburbanisasi Di Kawasan JABOTABEK

Keputusan Menteri Kesehatan RI No:829/MenKes/SK/VII/1999

tentang persyaratan kesehatan rumah tinggal. di akses 19 Oktober Marlon. 2017. Distribusi Spasial

Sekolah Di Kecamaten Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya. Skripsi

Ni Made Swanendri (2016) Pola Spasial Permukiman Pada Masyarakat Bali Aga Di Desa Pakraman Timbrah.

Ratna Dwi Kartika Sari (2012) Analisis pengaruh kualitas produk persepsi harga, dan word of mouth comunication terhadap keputusan pembelian mebel pada CV. Mega Jaya Mebel Semarang.

Referensi

Dokumen terkait

Dedi Hermon, M.P 2, Yuherman, SP, M.Pd3 1 Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat 2 3 Dosen Program Studi Pendidikan Geografi PGRI Sumatera Barat ABSTRAK Penelitian ini bertujuan