POTENSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN
PANGKALAN KERINCI KABUPATEN PELALAWAN
Potency and developmental strategy of dairy cattle business in Pangkalan Kerinci, Pelalawan district
Septina Elida*
Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau, Pekanbaru
DOI: 10.21111/agrotech.v2i2.413
Terima 11 April 2016 Terbit 18 Juni 2016
Abstrak: Potensi pengembangan sapi perah dapat ditingkatkan dengan ketersediaan pakan, pengetahuaan peternak, permintaan susu, pendapatan peternak, infrastruktur pasar, peranan lembaga pemberikan kredit dan kebijakan pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sumberdaya, aspek teknis dan ekonomis pada usaha ternak sapi perah serta pegembangan strategi alternatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Hasil peneliti an menunjukkan bahwa sumberdaya relatif mendukung usaha ternak sapi perah, tenaga kerja dalam keluarga dan motivasi untuk beternak tinggi, pakan ternak dan
* )Korespendensi email: [email protected]. Alamat: Jl. Kaharuddin Nasution 113 Pe-
54 Vol. 2 No. 2, Juni 2016 obatobatan tradisional didapat di lingkungan daerah tersebut, LQ populasi sebagai daerah basis. Teknis dalam usaha ternak sapi perah cukup baik dan secara ekonomis menguntungkan nilai RCR 2,22;
GMP 56 %; NPM 52 %; TAT 48%; dan nilai ROI 11%. Berdasarkan SWOT strategi dalam mengembangkan usaha ternak sapi perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci adalah strategi SO (Strength
Oppor tunity), yaitu strategi yang mendukung pertumbuhan yang agresif (Growth oriented), dengan cara meningkatkan penggunaan peluang dan pengembangan kebijakan berdasar prioritas. Strategi tersebut meliputi memperbaiki akses permodalan bagi peternak, memaksimalkan teknologi budidaya dan miningkatkan populasi sapi perah, meningkatkan pengetahuan peternak tentang diversifi
kasi agroindustri susu, menciptakan kebun hijauan pakan ternak, meningkatkan daya saing produk, serta promosi produk olahan.
Kata kunci: Potensi, strategi, pengembangan, sapi perah, SWOT.
Abstract: Potential dairy development enhanced by availability of food, farmers knowledge, the demand for milk, farmer’s income, market infrastructure, the role of credit institutions and government policies. The study aims are to analyze the condition of the resource, technical and economic aspects in the business of dairy cattle as well as alternative strategies for deployment. Research conducted using survey method.
The results showed that the relative resource support dairy cattle business, family’s labor and the motivation to develop, fodder and traditional medicines obtained in the environment of the area, population LQ categorized as a regional base. Technical in dairy cattle business well known and economically advantageous RCR value of 2.22; GMP 56%; NPM 52%; TAT 48%; and the ROI of 11%. Based on the SWOT strategy in developing the dairy cattle business in the District of Pangkalan Kerinci is SO strategy (StrengthOpportunity), which is a strategy that supports an aggressive growth (Growth oriented), using enforcement utilization of opportunities and policy
1)Korespendensi email: [email protected]
Alamat: Jl. Kaharuddin Nasution 113 Pekanbaru Riau 28284
1)Korespendensi email: [email protected]
Alamat: Jl. Kaharuddin Nasution 113 Pekanbaru Riau 28284
1)Korespendensi email: [email protected]
Alamat: Jl. Kaharuddin Nasution 113 Pekanbaru Riau 28284
based on priorities. The development policies strategy consisting improving capital access, maximized culture technology, increasing cattle population and production, improving farmer knowledge in diversification of agroindustry product, creating adequate forage, improving product competitiveness, and product promotion.
Keywords: Potential, strategy, development, dairy cattle, SWOT.
1. Pendahuluan
Peternakan sapi perah di Indonesia umumnya merupakan usaha keluarga di pedesaan dalam skala kecil, sedangkan usaha skala besar masih sangat terbatas dan umumnya merupakan usaha sapi perah yang baru tumbuh (Swastika, et.al., 2005). Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek produksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pasca panen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Pengetahuan petani mengenai aspek tataniaga masih harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya. Keuntungan tersebut terjadi jika peternak memiliki manajemen yang baik dalam meningkatakan skala usaha, meningkatakan frekuensi pemerahan, memberikan pakan yang cukup dan berkualitas. Peternak harus menekan biaya produksi sehingga mendapatkan keuntungan maksimal dalam usaha ternak (Rusdiana dan Wahyuning, 2009).
Provinsi Riau merupakan daerah yang mempunyai prospek untuk pengembangan usaha ternak sapi perah. Ketersediaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia dapat mendukung dalam perkembangan usaha tersebut, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu daerah di Riau yang dijadikan daerah uji coba
untuk usaha ternak sapi perah adalah Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan. Peternakan sapi perah ini sudah dilakukan sejak tahun 2012 sampai sekarang, dengan jumlah sapi yang terus meningkat. Pada tahun 2012 di Pangkalan Kerinci terdapat sapi perah sebanyak 391 ekor, dan pada tahun 2013 menggalami peningkatan sebanyak 260 ekor (66,50%), menjadi 651 ekor (Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan, 2013).
Jenis sapi perah yang dipelihara oleh peternak di Kecamatan Pangkalan Kerinci adalah jenis Fries Holland (FH), pengelolaannya masih sederhana dan produksi susunya masih rendah. Produksi susu dari jenis FH berkisar antara 30004000 liter per laktasi, namun di Indonesia ratarata sapi perah hanya mencapai 10,7 liter per ekor per hari atau 3264 liter per laktasi (Siregar,1996).
Dalam mencapai keberhasilan usaha ternak sapi perah di daerah Kecamatan Pangkalan Kerinci berbagai hal baik fak tor internal maupun eksternal harus dipertimbangkan. Fak tor ter se but antara lain potensi sumberdaya, aspek teknis dan ekonomis yang berhubungan dengan perhitungan usaha se cara ekonomis da pat dilihat dari tingkat kemampuan usaha peterna kan dalam men
dapatkan keuntungan (profitabilitas). Dengan mem pertim bangkan hal tersebut dapat ditentukan alternatif strategi untuk mengem
bangkan usaha ternak sapi perah di daerah tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) Kondisi sumberdaya dalam mendukung usaha peternakan sapi perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan; 2) Aspek teknis dan ekonomis pada usaha peternakan sapi perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan dan; 3) Alternatif strategi untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan.
2. Bahan dan Metode
2.1. Metode, Tempat dan Waktu Penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yang dilakukan di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelala wan..Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan, dari Maret Juli 2015.
2.2. Teknik Penentuan Responden.
Responden dalam penelitian ini adalah peternak sapi perah.
Ber dasarkan survei pendahuluan, sentra produksi sapi perah di Ka ca
matan Pangkalan Kerinci terdapat di Desa Makmur. Di desa ini terdapat 10 peternak sapi perah, oleh sebab itu responden diambil secara sensus yakni dengan mendata seluruh pengusaha sapi perah yang ada di Desa Makmur Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan.
2.3. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data pri
mer dan data sekunder. Data primer meliputi: Karaktristik (umur, ting kat pendidikan, jenis kelamin, pengalaman usaha, jum lah tang
gu ngan keluarga), bentuk usaha, tujuan usaha, modal, mana je men, penggunaan faktor produksi, kepemilikan sapi, biaya, pro duksi. Data sekunder meliputi: keadaan/gambaran umum dae r ah penelitian, keadaan jumlah penduduk, populasi sapi perah, serta informasi lain yang dianggap perlu untuk menunjang dan meleng kapi penelitian ini.
2.4. Analisis Data
Data yang diperoleh dari lapangan kemudian ditabulasi selanjutnya dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Dalam analisis ini juga dilakukan perhitungan komponen yang dioperasionalkan
untuk usaha ternak sapi perah meliputi:
1. Untuk menentukan apakah usaha ternak sapi perah merupakan komoditas basis dalam mendukung perekonomian, dianalisis dengan pendekatan metode Location Question (LQ)
2. Biaya Produksi
Biaya produksi dihitung dengan menggunakan rumus menurut Seokartawi (1995).
3. Pendapatan
Pendapatan dihitung dengan rumus perhitungan umum menurut Gunawan dan Lanang (1993)
4. Efesiensi
Menghitung efesiensi usaha ternak sapi perah mengunakan rumus menurut Hermanto (1991)
5. Profitabilitas
Kemampuan badan usaha atau perusahaan untuk mendapatkan keuntungan, pendapatan atau laba.
Beberapa rasio yang digunakan untuk mengukur pro
fitabilitas antara lain:
a. Gross Profit Margin (GMP)
Gross Profit Margin merupakan perimbanggan antara keuntungan gross profit yang di peroleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada priode yang sama. Gross Profit Margin yang dikurangi dengan angka 100% menunjukkan jumlah yang tersisa uuntuk menutup biaya operasi dan keuntungan setelah pajak (Munawir, 2004).
b. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin menggambarkan secara relatif efesiensi pe ru
saha an setelah memperhatikan semua pengeluaran biaya dan pajak pendapatan, tetapi tidak termasuk bebanbeban biaya.
c. Total Assets Turnover (TAT)
Total Assets Turnover merupakan rasio antara jumlah modal operating asset yang digunakan dalam operasi dengan penjualan yang diperoleh selama periode tersebut. Trend angka ratio yang semakin naik menunjukkan bahwa perusahaan semakin efesien dalam menggunakan modalnya (Munawir, 2004).
d. Return on Investment (ROI)
Return on Investment merupakan analisa yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan dana keseluruhan yang ditanamankan dalam modal yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam mendapatkan keuntungan. Usaha untuk memperbesar ROI dengan memperbesar profit margin adalah bersangkutan dengan usaha untuk memperbesar efesiensi pada sektor produksi, penjualan dan administrasi (Munawir, 2004).
2.5 Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Perah
R
ancangan SWOT pada usaha ternak sapi perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci adalah sebagai berikut :Faktor Internal
Faktor Eksternal Strength (S), Tentukan 510 faktorfaktor kekuatan
Weaknesses (W), tentukan 510 faktor
faktor kelemahan
Opportunities (O), tentukan 510 faktor
faktor peluang
Strategi SO, ciptakan strategi yang
mengunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
Strategi WO, ciptakan strategi yang meminimal kan kelemahan untuk memanfaatkan peluang Threats (T), tentukan
510 faktorfaktor ancaman
Strategi ST, ciptakan strategi yang mengguna kan kekuatan untuk mengatasi ancaman
Strategi WT, ciptakan strategiyg meminimal
kan kelemahan dan menghindari ancaman
Strategi pengembangan usaha ternak sapi perah ditentukan dengan menggunakan analisis SWOT yaitu dengan menganalisa faktor internal (kekuatan dan kelemahan) yang dimiliki serta faktor ekternal (peluang, dan ancaman) terhadap usaha tersebut, kemudian dilanjutkan dengan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).
3. Hasil dan Pembahasan Analisis Usaha Ternak Sapi Perah
Dalam analisis usaha ternak sapi perah yang dikaji adalah biaya produksi, produksi, pendapatan, dan efisiensi. Biaya produksi pada usaha ternak sapi perah rakyat di Desa Makmur meliputi biaya riil (biaya tunai) maupun biaya tersamar (tidak tunai) yang dikeluarkan dalam proses produksi selama satu tahun analisis. Biaya riil yang dikeluarkan adalah untuk konsentrat, obatobatan (madu, telur ayam kampung), bahan penunjang seperti minyak goreng, kemasan/plastik, sedangkan biaya tersamar meliputi biaya hijauan, tenaga kerja, dan penyusutan alat dan kandang. Biaya produksi, produksi, pendapatan dan efisiensi usaha ternak sapi perah di Desa Makmur pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1 nampak bahwa total biaya (biaya riil dan tersamar) dalam usaha ternak sapi perah per tahun sebesar Rp 67.579.255,, biaya terbesar dikeluarkan untuk pakan yaitu Rp 60.372.000, (89,34%), dan biaya terbesar kedua adalah biaya tenaga kerja (6,54%). Hal ini sejalan dengan pendapat Morrison (1961), yang menyatakan bahwa biaya tenaga kerja merupakan biaya terbesar kedua setelah biaya pakan. Dalam penggunaan tenaga kerja pada usaha ternak sapi perah di Desa Makmur nampak semua merupakan biaya tersamar. Hal ini karena semua tenaga kerja yang digunakan adalah berasal dari tenaga
Tabel 1. Distribusi Biaya, Produksi, Pendapatan dan Efisiensi Usaha Peternakan Sapi Perah di Desa Makmur 2015
No Jenis Biaya Jumlah Harga (Rp) Nilai (Rp) Persentase (%) 1 Biaya
A. Biaya Riil (Tunai)
a. Kosentrat 5.244 1.000 5.350.000 7,92
b. Obatobatan
Madu (Liter) 19 32.000 25.300 0,04
Telor ayam kampung (butir) 4 1.250 24.000 0,03
a. Bahan penunjang
· Plastik (Kg) 3 27.300 81.200 0,12
· Karet (Kg) 1 22.900 22.900 0,03
· Minyak goreng (Kg) 3 11.500 35.200 0,05
· Karung goni (Unit) 575 395 223.450 0,33
d. Inseminasi Buatan (IB) 110.000 0,16
B. Biaya Tersamar
a. Hijauan (Kg) 55.022 1.000 55.022.000 81,42
b. Tenaga kerja (TKDK)
· HKP 47 2.821.085 4,17
· HKW 48 1.601.620 2,37
c. Biaya Penyusutan Alat 1.054.800 1,56
d. Biaya Penyusutan Kandan 1.219.200 1,8
Total biaya 67.579.255 100
2 Produksi
a. Susu (liter) 10.000
· Susu yang dijual 15.837 119.346.000 79,38
· Susu untuk pedet 282 2.820.000 1,87
· Susu dikomsumsi Kelg 81 810.000 0,58
b. Kotoran (krg) 340,4 10.000 3.404.000 2,26
c. Urien (drum 10 liter) 209,5 25.000 5.238.000 3,48
d. Pedet (ekor) 2 7.200.000 14.400.000 9,57
e. Niliai tambah ternak 4.310.000 2,86
Total Produksi 150.325.000 100
3 Pendapatan
a. Pendapatan Riil (Tunai) 142.385.000 93,31
b. Pendapatan Tersamar
(Tidak tunai) 7.940.000 6,69
c. Total Pendapatan 150.325.000 100
d. Pendapatan Bersih 82.745.745
4 RCR 2,22
Kerja dalam keluarga. Peternak dalam mengelola usahanya selalu memanfaatkan potensi yang mereka miliki. Keadaan ini pula yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan usaha ternak sapi perah di daerah ini tetap bertahan walaupun dalam kepemilikan yang relative sedikit.
Tabel 1 juga menjabarkan ratarata susu yang dihasilkan dalam satu tahun 16.200 liter per tahun dan 97,76% susu tersebut untuk dijual, hanya 1,74 % yang dikonsumsi oleh pedet. Produk lain dari usaha ini adalah kotoran, urine dan pedet, serta nilai tambah ternak. Ratarata kotoran yang dihasilkan dalam satu tahun 8.500 kg, urine yang dihasilkan adalah 487 drum atau 24.350 liter, dan pedet 2 ekor. Produksi dikalikan dengan harga akan diperoleh pendapatan kotor (penerimaan).
Besarnya tingkat pendapatan yang diterima peternak akan tergantung kepada besarnya produksi serta harga jual dan biaya produksi yang dikeluarkan. Pendapatan rill yang diperoleh pengusaha sapi perah sebesar Rp. 142.385.000, per tahun (Rp 11.865.416,67, per bulan), dan sebahagian besar adalah dari hasil penjualan susu. Sedangkan pendapatan tersamar yang diterima pengusaha sapi perah sebesar Rp 10.214.000,. Besarnya pendapatan ini ditentukan oleh jumlah dan harga setiap unit produk. Pendapatan bersih ratarata yang diterima peternak per tahun sebesar 85.129.745, atau Rp 7.094.145 per bulannya, dapat dikatakan cukup tinggi karena besar pendapatan perbulan lebih besar dari upah minimum regional (UMR= Rp 1.960.000,) di Provinsi Riau.
Berdasarkan hasil penelitian, nilai RCR pada usaha peternakan sapi perah di daerah penelitian ratarata 2,22. Artinya bahwa setiap Rp 1 biaya produksi yang dikeluarkan untuk usaha ternak sapi perah akan mendapatkan pendapatan kotor Rp. 2,22 atau pendapatan bersih sebesar Rp 1,22. Hal ini menunjukkan bahwa ratarata usaha
masingmasing peternakan sapi perah di Desa Makmur sudah efisien (menguntungkan), dan kegiatan usaha peternakan tersebut layak untuk dilanjutkan kerena dapat memberikan imbalan jasa ekonomi berupa keuntugan.
Tingkat Profitabilitas Usaha Peternakan Sapi Perah
Analisis profitabilitas dapat dihitung dengan Gross Prifit Margin, Net Profit Margin, Total Assets Turnover, and Return on Invest
ment. Hasil perhitungan profitabilitas di Desa Makmur disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Analisis Profitabilitas Usaha Peternakan Sapi Perah di Desa Makmur Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan.
No Uraian Persentase (%)
1 Gross Prifit Margin (GMP) 56
2 Net Profit Margin (NPM) 52
3 Total Asset Turnover (TAT) 48
4 Return On Invesment (ROI) 11
Gross Prifit Margin (GMP)
GMP merupakan perimbangan antara keuntungan (gross profit) yang diperoleh badan usaha dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Usaha peternakan sapi perah memiliki nilai GMP sebesar 56 % atrinya bahwa usaha yang dijalankan sudah baik. Tiap penjualan Rp 100 mampu memberikan keuntungan sebesar Rp 56.
Nilai GMP yang semakin besar maka akan semakin baik keadaan operasional badan usaha, karena hal ini menunjukkan
harga pokok penjualan yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan penjualan, sebaliknya makin rendah GMP maka semakin kurang baik operasional perusahaan (Syamsuddin, 2009)
Net Profit Margin (NPM)
NPM menggambarkan secara relatif efisiensi perusahaan setelah memperhatikan semua biaya dan pajak, tetapi tidak termasuk bebanbeban biaya (Horne, 1983). Usaha peternakan sapi perah memiliki nilai NPM sebesar 52 % hal ini berarti setiap penjualan Rp 100 mampu memberikan keuntungan setelah pajak sebesar Rp 52.
Total Assets Turnover (TAT)
Total Assets Turnover (TAT) merupakan rasio antara jumlah modal (operating assets) yang digunakan dalam operasional.
Perusahaan terhadap jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tersebut. TAT merupakan ukuran sampai seberapa jauh modal ini telah digunakan dalam kegiatan perusahaan atau menunjukkan telah berapa kali operating assets berputar dalam suatu periode tertentu. Nilai ratarata TAT pada usaha peternakan sapi perah di Desa Makmur adalah sebesar 48 %, artinya bahwa setiap penjualan Rp 100, modal yang dikeluarkan akan mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 48.
Tabel 3. Internal Factor Analysis Sumary (IFAS)
FAKTOR INTERNAL Bobot Rating B x R Kekuatan
A Subsistem Penyediaan Input
1. Ketersediaan lahan, dan status milik sendiri 0,06 3 0,18
2. Tersedianya pakan dan air 0,06 4 0,24
3. Tersedianya tenaga kerja dari dalam keluarga 0,05 2 0,10
4. Sapi bakalan jenis unggul 0,06 4 0,24
B Subsistem Usahatani
5. Pengelolaan usahaternak relatif mudah 0,05 3 0,15 6. Banyaknya limbah yang dihasilkan 0,06 3 0,18 C Subsistem Agroindustri
7. Proses pengolahan susu relatif mudah 0,05 2 0,10 8. Susu dapat diolah untuk berbagai keperluan 0,06 3 0,18 D Subsistem Pemasaran
9. Jumlah pedagang relatif banyak 0,05 3 0,15
10 Lokasi pedagang relatif dekat dengan usaha
ternak 0,04 3 0,12
Jumlah 0,54 1,64
Kelemahan
A Subsistem Penyediaan Input
1. Keterbatasan modal yang dimiliki oleh
peternak 0,06 3 0,18
2. Bibit diperoleh dari luar wilayah 0,04 3 0,12
3 Pendidikan peternak rendah 0,04 3 0,12
4. Kebun husus hijauan (rumput) belum tersedia 0,04 2 0,08 B Subsistem Usahatani
5 Teknik budidaya dan system recording rendah 0,05 3 0,15
6. Daya awet susu rendah 0,04 2 0,08
C Subsistem Agroindustri
7. Belum adanya pabrik pengolahan susu 0,05 3 0,15 8. Peternak belum mampu mengolah susu lebih
lanjut 0,05 3 0,15
D Subsistem Pemasaran
9. Standarisasi dan grading belum dilakukan 0,05 3 0,15 10. Belum adanya pabrik pengolahan susu 0,04 3 0,12
Jumlah 0,46 1,30
Total Jumlah 1,00 2,94
Tabel 4. Eksternal Factor Analysis Sumary (EFAS)
FAKTOR EKSTERNAL Bobot Rating B x R
Peluang
A Subsistem Penyediaan Input
1. Dukungan pemerintah pusat, provinsi dan
kabupaten 0,07 3 0,21
2. Perhatian pihak perbankan mulai besar 0,05 3 0,15 3. Tersedianya bibit dengan produktivitas tinggi 0,07 4 0,28
4. Perkembangan dan dukungan IPTEK 0,05 3 0,15
B Subsistem Usahatani
5. Rendahnya persaiangan antar daerah dalam
menghasilkan susu 0,05 3 0,15
6. Limbah dapat dimanfaatkan untuk pertanian 0,05 3 0,15 C Subsistem Agroindustri
7. Diversifikasi produk olahan 0,06 3 0,18
8. Berkembangnya agroindustri untuk
menampung produk susu 0,06 3 0,18
D Subsistem Pemasaran
9. Permintaan susu yang cukup tinggi 0,06 4 0,24
10 Stabilitas harga susu 0,05 3 0,15
Jumlah 0,57 1,84
Ancaman
A Subsistem Penyediaan Input
1. Harga sapi bakalan cenderung naik 0,06 3 0,18
2. Minimnya petugas IB 0,06 4 0,24
3. Ketersediaan konsentrat 0,05 3 0,15
B Subsistem Usahatani
4 Perubahan iklim 0,05 3 0,15
5. Munculnya produk subtitusi 0,06 3 0,18
6. Penyakit ternak 0,04 3 0,12
C Subsistem Agroindustri
7. Pengolahan belum disertai uji laboratorium 0,05 3 0,15 8. Rendahnya inovasi hasil olahan produk susu. 0,06 4 0,24 D Subsistem Pemasaran
9. Banyaknya produk susu olahan di pasaran 0,06 3 0,18 10. Semakin tingginya biaya transportasi sebagai
akibat meningkatnya harga bahan bakar 0,05 3 0,15
Jumlah 0,54 1,74
Total Jumlah 1,00 3,58
Return on Investment (ROI)
Nilai ROI peternakan sapi perah di Desa Makmur adalah 11 % artinya setiap penggunan modal sebesar Rp 100 mampu menghasilkan keuntungan setelah pajak sebesar Rp 11.
Analisis SWOT
Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan dari usaha ternak sapi perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci, beberapa faktor internal dan eksternal yang menentukan arah strategi pengem
bangannya. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3 dan Gambar 1.
Hasil analisis pada diagram SWOT (Kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan) menunjukkan bahwa strategi pengem
bang an usaha ternak sapi perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan terletak pada kuadran I yaitu strategi SO (Streanght and Opportunity). Menurut Rangkuti (2003), bahwa pada kuadran I ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan.
Pengembangan usaha tersebut strategi memiliki kekuatan dan peluang, sehingga untuk pengembangkannya dapat menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang yang ada. Fokus strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah strategi SO (Strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang). Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth oriented).
Gambar 1. Diagram Analisis SWOT Usaha Ternak Sapi Perah
4. Kesimpulan
1.
Sumberdaya relatif mendukung usaha ternak sapi perah di Desa makmur, tenaga kerja dalam keluarga dan motivasi untuk beternak tinggi, pakan ternak dan obatobatan tra
disional didapat di lingkung2an desa tersebut, LQ pro
duksi dikategori sebagai daerah basis.
2.
Aspek teknis dan ekonomis pada usaha peternakan Sapi Perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelala
wan adalah
a.
Aspek teknis usaha sapi perah meliputi ; kandang sistem
terbuka, pakan sapi (hijauan dan konsentrat) diberi dua kali sehari dan air minum diberi secara adlibitum, pemerahan sapi dilakukan dalam keadaan sapi bersih yaitu pagi dan sore hari.
b.
Aspek ekonomis menunjukkan usaha ternak sapi perah menguntungkan dengan nilai RCR 2,22; GMP 56 %; nilai NPM 52 %; Nilai TAT 48%; dan nilai ROI 11%.
3.
Berdasarkan analisis SWOT, maka strategi dalam mengem
bang kan usaha ternak sapi perah di Kecamatan Pangkalan Kerinci adalahstrategi SO (StrengthOpportunity), yaitu stra
tegi yang mendukung pertumbuhan yang agresif (Growth
oriented), dengan cara menggunakan kekuatan untukmemanfaatkan peluang.
5. Daftar Pustaka
Dinas Peternakan Kabupaten Pellawan. 2013. Data Statistik Peternakan Kabupaten Pelalawan. Pangkalan Kerinci
Gunawan dan Lanang. 1993. Ekonomi Produksi. Karuniks. Jakarta Hermanto. 1991. Ilmu Usaha Tani. Swadaya. Jakarta
Munawir. 2004. Analisis Laporan Keuangan. Liberty. Yogyakarta Rangkuti. 2003. Measuring Custumer Satisfaction: Teknik Mengukuran
dan Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan. Gramedia.
Jakarta
Rusdiana dan Wahyuning, K.S. 2009. Upaya Pengembangan Agri
bisnis Sapi Perah dan Peningkatan Produksi susus Melalui Pem berdayaan Koperasi Susu. Forum Penelitian Agro Ekonomi.
1 (2): 4351
Siregar, S. 1996. Jenis Perah. Jenis, Teknik dan Analisa Usaha. Penebar Swa daya. Jakarta
Swastika, D.K., M.O.A. Manikmas., B. Sayaka., K. Kariyasa.1) 2005.
The Status and Propespect of Feed Crops in Indonesia. ESCAP.
United Nation.
Syamsuddin, L. 2009. Manajemen Keuangan Perusahan. Raja Grafindo.
Jakarta