Judul Skripsi: Potret Realitas Sosial Masyarakat Beragama yang Terlihat dalam Novel Meniti di Atas Kabut Karya Abu Umar Basyier. Potret realitas sosial dalam masyarakat yang religius, terlihat dalam novel Meniti di Atas Kabut karya Abu Umar Basyier. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis realitas sosial dalam novel Meniti di Atas Kabut karya Abu Umar Basyier.
Selain itu, ia juga memaparkan gambaran realitas sosial dalam masyarakat beragama seperti yang terlihat dalam novel Meniti di Atas Kabut karya Abu Umar Basyier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa realitas sosial yang terlihat dalam novel Meniti di Atas Kabut terdiri dari enam aspek, antara lain: Proses interaksi sosial yang dilihat berupa kerjasama, akomodasi, asimilasi, persaingan, kontradiksi dan pertentangan. Nilai dan norma sosial dapat dilihat pada nilai agama, nilai etika, nilai kebenaran, norma adat, norma kesopanan, norma agama, dan norma kesusilaan.
Stratifikasi sosial dapat dilihat pada perbedaan kekayaan dalam hal tempat tinggal, selera makan, harta benda dan pekerjaan, serta jenis kegiatan yang mereka ikuti.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karya sastra hidup dalam masyarakat dan menyerap aspek-aspek kehidupan yang timbul dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga dimanfaatkan oleh masyarakat. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat istiadat dan tradisi lainnya, karya sastra mengandung estetika, etika bahkan logika, masyarakat jelas tertarik pada ketiga aspek tersebut. Sebagaimana prinsip sastra dulce et utile adalah bahwa karya sastra yang baik adalah karya yang tidak hanya bersifat dulce, menghibur; namun juga harus mampu memberikan kontribusi atau pengaruh yang positif dan bermanfaat.
Novel menceritakan realitas-realitas yang ada di masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk teks pada saat karya sastra itu lahir. Menurut Abrams (1981) dalam bukunya yang berjudul Pengantar Teori Fiksi, dunia sastra memang mengenal karya sastra yang didasarkan pada cerita atau kenyataan. Sosiologi sastra sebagai suatu pendekatan yang mempertimbangkan aspek-aspek sosial, dan karya sastra baru yang tidak lepas dari kenyataan atau realitas sosial, kemungkinan besar dapat digunakan untuk mengkaji novel-novel yang diangkat dari kisah nyata.
Kita tidak hanya ingin mencapai tujuan kajian sastra secara terbatas, namun kita juga berusaha menggali potensi dakwah dari sebuah karya sastra, sebuah novel yang menggugah keimanan, yang sarat dengan ibroh (pelajaran berharga) dan hikmah yang mungkin mampu mencerahkan pembaca agar mempesona dan memampukan hati nurani dan pikiran untuk memaknai peristiwa-peristiwa dalam masyarakat yang mungkin telah terjadi, sedang terjadi, atau mungkin terjadi.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Adanya penelitian yang menganalisis novel dengan pendekatan sosiologi sastra akan bermanfaat sebagai bacaan yang tidak hanya melihat dan mengkaji novel dari sudut pandang sastra, tetapi juga menjembatani hubungan antara sastra dan sosiologi.
Hasil Penelitian yang Relevan
Seperti halnya penelitian di atas, Amriani H. 2014) juga melakukan penelitian dengan judul “Realitas Sosial dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari”. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas sosial dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan menggunakan teori sosiologi sastra. Analisis data menggunakan metode deskriptif, teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan dengan menjaring data tertulis melalui novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Realitas sosial dalam novel tersebut antara lain kemiskinan, perdukunan, kesewenang-wenangan, kegilaan, prostitusi, seks pranikah, kelicikan, kecemburuan sosial, dan intimidasi sosial.
Landasan Teori 1. Hakikat Karya Sastra
- Realitas Sosial
- Interaksi Sosial
- Nilai dan Norma Sosial
- Kebudayaan
- Stratifikasi Sosial
- Status dan Peran Sosial
- Perubahan Sosial
- Masyarakat Religius
- Sosiologi dan Sastra a. Sosiologi
- Konteks sosial pengarang
- Sastra sebagai cermin masyarakat
- Fungsi sosial sastra
Sedangkan contoh karya sastra nonfiksi adalah biografi, otobiografi, esai, dan kritik sastra. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Karya_sastra). Unsur internal merupakan unsur-unsur yang membentuk sebuah karya sastra seperti penokohan, tema, alur, sentral narasi, dan latar. Unsur-unsur luar yang membentuk suatu karya sastra dapat dilihat dari berbagai aspek (1) biografi pengarang merupakan penyebab pertama lahirnya suatu karya sastra.
Sebuah karya sastra dapat dinikmati dengan mempelajari perjalanan hidup (biografi) pengarangnya, menelusuri perkembangan moral, spiritual, dan intelektual yang tentunya menarik untuk dikaji. Masyarakat dan Agama berasal dari dua akar kata yang keduanya mempunyai satu kesatuan, yaitu ‘masyarakat’ dan ‘religius’. Basyier (2008:xvi) mengatakan dalam pengantar novelnya yang berjudul Sandiwara Langit bahwa “Karya sastra bukan sekedar bahasa tulis atau cipta, dan bukan sekedar permainan bahasa.
Horace (Ismawati, 2013:3) mengatakan bahwa “sastra itu dulce et utile, artinya indah dan bermakna.” Hal ini sesuai dengan prinsip sastra bahwa karya sastra yang baik adalah karya yang tidak hanya membosankan, menghibur; namun juga harus mampu memberikan kontribusi atau pengaruh yang positif dan bermanfaat.
Kerangka Pikir
Hal-hal pokok yang mendapat perhatian adalah: (a) sejauh mana karya sastra mencerminkan masyarakat pada saat karya sastra itu ditulis; (b) sejauh mana ciri pribadi pengarang terhadap gambaran masyarakat yang ingin disampaikannya; Ada tiga hal yang perlu diperhatikan: (a) sejauh mana sastra dapat berperan sebagai pembaharu masyarakat; (b) sejauh mana sastra hanya berfungsi sebagai hiburan; dan (c) sejauh mana terdapat sintesis antara opsi (a) dan (b) di atas. Berdasarkan teori sosiologi sastra yang telah dikemukakan, maka analisis realitas sosial dalam novel Meniti di Atas Kabut karya Abu Umar Basyier dengan menggunakan tinjauan sosiologi sastra dilakukan dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Ian Watt.
Karya sastra diciptakan dengan tujuan untuk menghibur, memperluas pengetahuan, dan memperkaya pemahaman pembaca dengan cara yang unik dalam bentuk narasi. Meski tidak bisa dikatakan fiksi murni, namun dunia sastra juga mengakui adanya karya sastra yang berdasarkan cerita atau kenyataan. Hal ini menunjukkan bahwa novel ini merupakan novel yang ditulis berdasarkan fakta sejarah atau dikelompokkan ke dalam jenis fiksi nonfiksi.
Objek penelitian dalam hal ini dibatasi oleh aspek-aspek realitas sosial dalam masyarakat yang terdapat dalam novel, yang meliputi: (1) interaksi sosial; (2) nilai dan norma sosial; (3) Kebudayaan; (4) Stratifikasi sosial; (5) status dan peran sosial; dan (6) perubahan sosial.
Pendekatan Penelitian
Fokus Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Instrumen Penelitian
Analisis Data
Keabsahan Data
Hasil Penelitian
- Interaksi Sosial
- Nilai dan Norma Sosial
- Kebudayaan
- Stratifikasi Sosial a. Kekayaan
- Tempat Tinggal dan Peralatan Rumah Tangga
- Makanan atau Selera Makan
- Harta dan Profesi
- Kegiatan
- Abbas
- Azizah
- Ustadz Ferry
- Bapak
- Yusran
- Bang Doni
- Sarah
- Status dan Peran Sosial
- Perubahan Sosial
Azizah meringis." (Terlihat di atas kabut: 220) Penggalan cerita di atas menunjukkan konflik Monah dengan Azizah yang tak terbendung. Penggalan cerita di atas menunjukkan Bang Doni baru saja mengalami peristiwa yang sangat besar.
Pembahasan
Cuplikan cerita di atas menggambarkan suatu perubahan yang tidak diinginkan, yaitu perubahan Monah dari istri yang setia menjadi suami, menjadi istri yang tidak terkendali sejak kematian suaminya. Di bawah ini pembahasan mengenai analisis hasil penelitian dari realitas sosial yang terdapat dalam novel Meniti di Atas Kabut karya Abu Umar Basyier. Proses kerjasama tersebut terlihat dari kesepakatan antara Abbas dan Azizah untuk membantu anak Ibu Darso yang dirawat di rumah sakit serta kerjasama bisnis antara Abbas dan rekan bisnisnya.
Proses asimilasi diwujudkan dalam upaya untuk mengurangi perbedaan, misalnya dalam perlakuan terhadap masyarakat miskin. Begitu pula dengan kontroversi yang terlihat dari penolakan Azizah dalam berpakaian dan berinteraksi dengan masyarakat, serta penolakan terhadap argumentasi dan hasutan Sari. Nilai-nilai religius dalam novel Meniti di Atas Kabut secara umum terlihat dalam pelayanan keagamaan sebagai bentuk pelayanan dan cara berinteraksi dengan penciptanya.
Pelanggaran norma agama terlihat pada sikap Biksu ketika berada pada masa Idaat seorang wanita yang suaminya telah meninggal. Begitu pula dengan pelanggaran norma kesusilaan yang terjadi di kalangan sahabat Abbas yang tidak mampu membedakan kata-kata yang baik dan kata-kata yang tidak pantas. Sistem kekerabatan terlihat pada hubungan persaudaraan terlihat pada keluarga besar Abbas dan hubungan kekerabatan karena perkawinan.
Secara umum novel Meniti di Atas Kabut karya Abu Umar Basyier menggambarkan adanya beberapa tokoh yang menyelesaikan pendidikannya dan lulus perguruan tinggi, seperti Abbas, Bang Doni dan Ustadz Ferry (dalam hal ini tidak disebutkan dalam novel, karena Ustadz Ferry sendiri adalah seorang novelis). Perubahan sosial dalam novel Meniti di Atas Kabut Karya Abu Umar Basyier dilihat dari pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, seperti perubahan lambat dan cepat, perubahan kecil dan besar, serta perubahan yang diinginkan dan tidak diinginkan. Hal ini terlihat pada sosok Soraya Abdullah, seorang gadis metropolitan, yang berubah menjadi perempuan berkerudung dan berkelakuan baik, kemudian beringsut menutup wajahnya dengan cadar, dan kemudian berhenti menjadi artis sama sekali.
Sementara itu, perubahan besar yang mempengaruhi kehidupan bermasyarakat terlihat pada persepsi masyarakat terhadap sekte dan kelompok tertentu. Misalnya saja jilbab di awal tahun 80an yang diidentikkan dengan kebiasaan perempuan pengikut organisasi Darul Arqam asal Malaisya, perubahan yang diinginkan adalah upaya sosok ayah tersebut untuk menjalankan usahanya dari nol.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan realitas sosial yang terlihat dalam novel Meniti di Atas Kabut dalam potret masyarakat beragama yaitu persamaan dan keterhubungan antara enam aspek realitas sosial.
Saran
Diharapkan para pembaca dapat mengambil ibrah (pelajaran berharga) dari skripsi ini dan juga dari novel Meniti di Atas Kabut sebagai kisah nyata yang menyajikan nilai-nilai keislaman yang dapat menyuburkan keimanan. Jadi dalam beberapa menit aku sudah duduk kembali di kursi di ruang tamu rumah yang cukup luas. Saat itu, perkelahian antar anak sekolah – khususnya STM dan SMU – mulai meresahkan. Peristiwa ini terjadi dimana-mana dan menimbulkan banyak korban jiwa.
Kalau ada waktu luang, kami selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Bang Haru, Bang Don atau Mbak Sari. Indahnya keramahtamahan benar-benar kami rasakan saat berkunjung ke rumah Bang Don dan keluarganya. Bang Don selalu memohon agar saya berjuang mengatasi kekurangan saya, lebih rajin mengaji, membangun keluarga kami islami semaksimal mungkin.
Dan mereka hanya mempercantik diri untuk tujuan yang tidak halal..." Aku pun mencoba bernalar. Pukul sepuluh pagi, ketika aku sedang bersiap-siap berangkat ke salah satu tokoku, Bang Doni datang dengan wajah pucat. Selama perjalanannya. Pencarian jati dirinya saat itu, Abbas sangat membutuhkan seseorang yang bisa memberinya bimbingan dan arahan, yang tidak ia dapatkan dari keluarga atau lingkungan sekitarnya.
Namun, terkadang Abbas tersesat dalam ajakan teman-temannya yang nakal untuk memuaskan keliaran remajanya dengan aktivitas yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Abbas dikejutkan dengan kemunculan Aziza yang tak hanya mengenakan hijab lebar dan panjang, namun juga ada tambahan cadar yang menutupi wajahnya. Inilah pahala yang diberikan Allah atas kerja kerasnya menjalani kehidupan yang diberikan kepadanya, “..dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (QS. Al-Baqarah : 269).
Meniti di Atas Kabut (Sandiwara Langit 2), yang ditulis oleh Ustadz Abu Umar Basyir dalam lakaran perjalanan hidup sahabat karibnya, mengajak kita untuk menguatkan hati nurani dan daya berfikir untuk lebih memahami peristiwa. Selepas Sandiwara Langit 1 yang penuh dengan pengajaran dan mesej, anda juga akan dihujani hikmah oleh Meniti di Atas Kabut yang turut menjadi sebahagian daripada 'permainan syurga' ini. Percintaan Nan yang mengusik jiwa–165– Di Sebalik Helaian Aziza–175– Tiga Kuasa Magnetik–183– Poligami, Menurut Aziza–193– Berjuang dengan Sibuk–203–.
Jadi, dari semua kisah nyata yang aku susun, inilah yang paling aku minati untuk menyusunnya, walaupun betapa antusiasnya pembaca akan menikmatinya di kemudian hari, itu adalah sesuatu yang aku tidak tahu sama sekali.