DISIPLIN POSITIF
UNIT MODUL DISIPLIN POSITIF
Agenda Kegiatan
Sesi MERDEKA Aktivitas
Pembukaan Penjelasan agenda dan tujuan pendampingan.
Kesepakatan tata tertib selama pendampingan.
Perkenalan.
Mulai dari diri Peserta merefleksikan pengalaman pribadi terkait disiplin di sekolah.
Eksplorasi konsep Penjelasan konsep terkait disiplin positif.
Ruang kolaborasi Peserta secara berkelompok mendiskusikan contoh kasus terkait disiplin positif.
Tujuan Kegiatan
Peserta memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman berbasis disiplin positif pada sekolah penggerak.
Sesi MERDEKA
Aktivitas
Demonstrasi Kontekstual
Peserta memaparkan hasil diskusi di Ruang Kolaborasi.
Elaborasi Pemahaman Peserta merefleksikan hasil diskusi yang telah dilakukan Peserta berbagi hasil refleksi
Koneksi Antar Materi Diskusi klasikal dan membuat kesimpulan terkait disiplin positif.
(Rencana) Aksi Nyata Untuk Guru: Membuat keyakinan kelas
Untuk kepala sekolah: Membuat rencana bentuk dukungan terhadap guru untuk menerapkan disiplin positif.
Untuk Pengawas Sekolah: Membuat rencana bentuk dukungan terhadap sekolah untuk menerapkan disiplin positif.
Penutup Evaluasi
Penutup
Kesepakatan Kelas
Luring
• Hadir tepat waktu
• Tidak meninggalkan kelas selama sesi berlangsung
• Tidak membuka dan menyalakan gawai (HP, Laptop) selama kegiatan berlangsung
• Berpartisipasi aktif dalam diskusi
• Menghargai pendapat peserta lain (semua pendapat dan pertanyaan berharga)
• Bertanya / Memberikan pendapat dengan tertib
Daring
• Hadir tepat waktu
• Menyalakan kamera dan Audio selama diskusi
• Berpartisipasi aktif dalam diskusi
• Menghargai pendapat peserta lain (semua pendapat dan
pertanyaan berharga)
• Bertanya / Memberikan pendapat dengan tertib
MULAI DARI DIRI
Sebelum menelaah materi pada sesi ini, marilah kita merefleksikan
pengalaman Bapak/Ibu terkait penerapan disiplin di sekolah…
Ceritakanlah pengalaman pribadi Bapak/Ibu tentang pelanggaran di sekolah dimana Bapak/Ibu sebagai guru/kepala sekolah/Pengawas
sekolah harus menindaklanjutinya.
- Apa yang terjadi pada saat itu?
- Apa yang Bapak/Ibu katakan/lakukan?
- Bagaimana reaksi siswa/guru yang melakukan pelanggaran pada saat itu?
- Bagaimana perasaan Bapak/Ibu?
Selanjutnya mari kita merefleksikan pengalaman yang kita miliki dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini….
• Sebagai guru/kepala sekolah/pengawas sekolah, bagaimana saya dapat
menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi peserta didik?
• Apa hubungan menciptakan lingkungan belajar yang positif dengan
pembelajaran yang berpihak pada murid?
EKSPLORASI KONSEP
Sebelum menelaah materi pada sesi ini, marilah kita melakukan sebuah
permainan ‘cobalah buka’
■ Peserta A bertugas mengepalkan salah satu tangan seolah sedang menyimpan sesuatu yang sangat berharga baginya.
■ Peserta B bertugas membuka kepalan tangan peserta A dengan segala cara (misalnya membujuk, menggelitik, menggoda, menawari sesuatu, dan lain sebagainya) dll.
■ Setiap peserta memiliki waktu 30 detik untuk berusaha membuka kepalan tangan rekannya.
Selanjutnya, marilah kita menonton video pada
tautan berikut ini …
• Video Inspirasi | Video Parentin g - Mendidik Anak dengan Disip lin Positif - Apa itu Disiplin Posit if? (kemdikbud.go.id)
• Pengetahuan atau pengalaman baru apa yang saya dapatkan setelah menyimak video
mengenai Disiplin Positif?
• Apa hal baru yang berbeda dari yang saya pahami dengan yang sudah saya lakukan selama ini?
Konsep dasar Disiplin Positif
01
Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas
02
Keyakinan Kelas
03
5 Posisi Kontrol
04
Segitiga Restitusi
05
Pada akhir sesi ini, Bapak/Ibu akan memahami tentang…
Konsep Dasar
Disiplin Positif
Apa yang terlintas di pikiran Bapak/Ibu
Ketika mendengar
kata ‘disiplin’?
Konsep ‘disiplin’
Segala sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain
untuk mendapatkan kepatuhan.
Apakah disiplin
hanya dapat dicapai dengan hukuman?
Stimulus Respon versus Teori Kontrol
Stimulus Respon Teori Kontrol
Realitas (kebutuhan) kita sama Realitas (kebutuhan) kita berbeda
Semua orang melihat hal yang sama. Setiap orang memiliki gambaran berbeda.
Kita mencoba mengubah orang agar berpandangan
sama dengan kita. Kita berusaha memahami pandangan orang lain
tentang dunia.
Perilaku buruk dilihat sebagai suatu kesalahan Semua perilaku memiliki tujuan.
Orang lain bisa mengontrol saya. Hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda.
Saya bisa mengontrol orang lain. Anda tidak bisa mengontrol orang lain.
Pemaksaan ada pada saat bujukan gagal. Kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru.
Model Berpikir Menang/Kalah Model Berpikir Menang-menang
(Covey, 1991)
Disiplin Positif
Memampukan peserta didik untuk memahami dan mengontrol setiap perilaku/Tindakan yang
dilakukan agar senantiasa dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, sebagai bentuk menghormati diri sendiri dan orang lain
disekitarnya.
Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga
mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki
motivasi intrinsik.
Apakah hubungan
disiplin positif dengan pelaksanaan
pembelajaraan yang
berpihak pada murid?
www.free-powerpoint-templates-design.com
Pelajar Pancasila Berim
an, berta
qwa, bera
khla k mulia
Berke binek
aan global
Mandiri
Bergotong royong
Bernalar Kritis Kreatif
DISIPLIN POSITIF
Sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan
Apa saja yang
Bapak/Ibu ketahui tentang nilai-nilai
kebajikan universal?
Nila-Nilai Kebajikan Universal
Sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu.
Pelajar Pancas
ila Berim
an, berta
qwa, bera
khla k mulia
Ber kebin
eka an g
lobal Mandiri
Bergotong royong
Bernalar Kritis
Kreatif Contoh
The Seven Essential Virtues (Tujuh Nilai-nilai Kebajikan Esensial):
● Empati
● Suara hati
● Kontrol diri
● Rasa Hormat
● Kebaikan
● Toleransi
● Keadilan
Manakah nilai kebajikan yang paling menarik bagi Bapak/Ibu?
Adakah persamaan atau
perbedaan nilai tersebut dengan
nilai/prinsip yang ada di sekolah
Bapak/Ibu?
Bagaimana agar nilai-nilai tersebut dapat dipahami dan diterapkan oleh
peserta didik dalam
kehidupan sehari-hari?
Teori Motivasi, Hukuman,
dan Restitusi
3 Motivasi
1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman 2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan
3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya
Disiplin Positif
Sumber: Gossen (2004)
Motivasi intrinsik akan
berdampak jangka Panjang, tidak dipengaruhi oleh hukuman
ataupun hadiah.
Dari ketiga motivasi tadi, manakah yang paling
banyak mendasari perilaku
murid-murid Bapak/Ibu di
sekolah saat ini?
Hukuman, Konsekuensi, dan Restitusi
(Gossen, 1996)
Hukuman atau Konsekuensi?
1. Mengganti
penghapus teman yang dihilangkan
2. Berdiri di tengah lapangan upacara karena datang terlambat ke sekolah
3. Merapikan sapu dan alat pel yang jatuh karena tersenggol saat berlari di jam istirahat
5. Membersihkan WC sekolah karena tidak mengumpulkan tugas.
4. Mencatat 200 kali kalimat
‘saya minta maaf’ karena berkelahi dengan teman
Hukuman atau Konsekuensi?
1. Mengganti
penghapus teman yang dihilangkan
2. Berdiri di tengah lapangan upacara karena datang terlambat ke sekolah
3. Merapikan sapu dan alat pel yang jatuh karena tersenggol saat berlari di jam istirahat
5. Membersihkan WC sekolah karena tidak mengumpulkan tugas.
4. Mencatat 200 kali kalimat
‘saya minta maaf’ karena berkelahi dengan teman
Konsekuensi
Hukuman
Punished by Reward (Dihukum
oleh
Penghargaan)
Efektif hanya untuk jangka pendek
Kecewa bila tidak mendapatkannya
‘menghukum’
bagi yang tidak mendapatkanny
a
Menimbulka n persaingan
Menurunka n
ketepatan
Ketergantunga n dalam jangka
panjang
Mematikan kreatifitas
Penghargaan bisa jadi bentuk lain dari hukuman
(Kohn, 1993)
Bagaimana sebaiknya reaksi kita apabila
murid melakukan
kesalahan?
Restitusi
• Proses menciptakan kondisi bagi peserta didik untuk
memperbaiki kesalahan yang telah mereka lakukan.
• Guru mengajak murid untuk berefleksi tentang tindakan yang telah dilakukan untuk
memperbaiki diri sehingga ia menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya.
Restitusi….
• bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan
• memperbaiki hubungan
• adalah tawaran, bukan paksaan
• ‘menuntun’ untuk melihat ke dalam diri
• mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan
• adalah cara yang paling baik
• fokus pada karakter, bukan tindakan
• menguatkan
• berfokus pada solusi
• mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya
Kebutuhan Dasar Manusia
dan Dunia Berkualitas
5 Kebutuhan Dasar Manusia
Manusia senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan dasarnya.
Apabila tidak berhasil diperoleh melalui cara yang positif, maka mungkin dengan cara melanggar aturan.
Mengapa sebagai guru kita perlu memahami
kebutuhan dasar
murid?
Dunia Berkualitas
Tempat khusus dalam pikiran seseorang yang menyimpan gambaran hal-hal yang diinginkan; hal-hal terbaik yang membuat seseorang
merasa Bahagia dan terpenuhi kebutuhan dasarnya.
• Orang-orang
• Nilai-nilai
• Karakter
• Pencapaian
• Pekerjaan
• Dst.
Ilustrasi Dunia Berkualitas 2 Murid SDN X
Anak A: Anak B:
- Orang tua - Teman sekelas - Sepatu yang
dibelikan ayah - Bu Guru Biologi - Rumah
- Sekolah
- Lapangan bola - Persahabatan
- Teman sekelas - Sepeda dari
nenek - Wali kelas - Sekolah
- Kantin sekolah - Komik
❖
Terkait lingkaran duniaberkualitas, di manakah kira-kira Bapak/Ibu dan murid meletakkan
sekolah dan pengalaman di sekolah?
❖
Jika Bapak/Ibu adalah pemimpin di sekolah, bagaimana Bapak/Ibu akan menggunakan informasi ini untuk membangun budaya positif?Keyakinan Kelas
Mengapa keyakinan kelas, bukan peraturan kelas?
Mengapa keyakinan kelas penting untuk membangun budaya positif?
Bagaimana mewujudkan keyakinan kelas yang efektif?
Nilai Kebajikan apa yang dituju?
Peraturan Nilai Kebajikan yang dituju
1. Dilarang membuang sampah sembarangan 2. Dilarang merokok
3. Kembalikan buku yang telah dibaca ke tempat semula 4. Hadir di kelas 10 menit sebelum pembelajaran dimulai 5. Matikan komputer setelah digunakan
6. Wajib menggunakan masker 7. Dilarang berlari di koridor
Bagaimana Menyusun nilai-nilai kebajikan
sekolah?
Tahapan Menciptakan Program Kebajikan
1. Lihat daftar nilai-nilai kebajikan yang ada
2. Tentukan nilai-nilai yang menjadi fokus sekolah melalui diskusi 3. Sempurnakan daftar nilai-nilai kebajikan yang paling utama,
diskusikan Kembali
4. Sosialisasikan nilai-nilai ini di lingkungan sekolah, baik melalui poster maupun media sosial sekolah.
Setelah sekolah memiliki nilai-nilai kebajikan utama yang diyakini, bagaimana membuat sebuah
keyakinan sekolah/kelas?
Pembentukan keyakinan sekolah/kelas
• Keyakinan kelas lebih ‘abstrak’ dari peraturan.
• Dapat berupa pernyataan-pernyataan yang bersifat universal
• Senantiasa dalam bentuk positif
• Sebaiknya tidak terlalu banyak agar mudah diingat dan dipahami
• Sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut
• Disusun dengan melibatkan semua warga sekolah/kelas
• Handaknya ditinjau Kembali dari waktu ke waktu
Tahapan Pembentukan keyakinan sekolah/kelas
1. Mempersilakan warga sekolah/kelas untuk menyampaikan pendapatnya terkait peraturan yang perlu disepakati
2. Mencatat semua masukan di papan tulis/kertas besar agar dapat dilihat oleh seua warga sekolah/kelas
3. Menyusun keyakinan kelas sesuai Langkah ‘pembentukan keyakinan sekolah/kelas’, yakni dengan menggunakan kalimat positif.
• Jangan membuang sampah sembarangan (-) menjadi buanglah sampah di tempat sampah 4. Meninjau Kembali daftar hasil diskusi dan secara Bersama-sama menemukan (+)
nilai kebajikan yang dituju dari peraturan-peraturan tersebut. Nilai kebajikan inilah yang dimasukkan dalam keyakinan sekolah/kelas.
5. Meninjau Kembali keyakinan sekolah/kelas secara Bersama-sama. Bila dirasa terlalu banyak (lebih dari 7 keyakinan), maka dapat dikurangi.
6. Meninjau ulang, menyetujui dan menyepakati keyakinan sekolah/kelas oleh seluruh warga sekolah/kelas
7. Meletakkan keyakinan sekolah/kelas di tempat yang mudah dilihat oleh semua warga sekolah/kelas
Contoh keyakinan kelas
• Setiap anggota kelas perlu belajar
• Setiap anggota kelas perlu senang
• Setiap anggota kelas perlu saling menghargai
• Setiap anggota kelas
perlu merasa aman • Senantiasa menjadi diri terbaik
• Senantiasa menghargai orang lain
• Selalu bersikap positif
• Berkomitmen terhadap setiap tugas
HORMAT
Kami meyakini bahwa sangat penting untuk menghormati semua orang dan barang milik
orang lain
BEKERJA
Kami meyakini bahwa sangat penting untuk mengerjakan segala pekerjaan atau mengikuti
kegiatan yang telah ditugaskan.
DITERIMA DAN DIMILIKI
Kami meyakini bahwa sangat penting untuk merasa diterima pada suatu kelompok dan saling
peduli satu dengan yang lain.
5 Posisi Kontrol
Contoh Kasus
Arfi sering sekali bertengkar dengan teman-temannya. Ia tidak jarang menggunakan kata-kata kasar saat di kelas, sehingga teman-
temannya merasa terganggu.
Jika Bapak/Ibu adalah kepala sekolah, penerapan disiplin apakah yang akan Bapak/Ibu lakukan untuk kasus Arfi? Mengapa?
5 Posisi Kontrol
menggunakan Bahasa yang lembut, namun dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau
rendah diri.
2. Pembuat Rasa Bersalah bisa menggunakan
hukuman fisik atau verbal;
mengancam.
1. Penghuku m
melandaskan Tindakan pada peraturan dan konsekuensi 4. Pengamat
mempersilakan murid mempertanggungjawabk an perilakunya dan
mendukung murid untuk menemukan solusi atas permasalahannya
sendiri.
5. Manajer
mengontrol murid dengan bujukan
3. Teman
5 Posisi Kontrol
Siapakah yang mengatakannya?
Sampai kapanpun kamu tidak akan menjadi orang yang berhasil.
Saya merasa
kecewa denganmu hari ini.
Jika masih belum mengerti, nanti saya bantu.
Peraturannya apa?
Jika tidak bisa menjawab pertanyaan ini, maka
tidak boleh pulang.
Apa yang akan kamu lakukan untuk
menyelesaikannya?
Bagaimanakah setiap posisi (penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pengamat, dan manajer) mengucapkannya?
Di manakah Bapak/Ibu saat ini?
1
Penghukum
4
Pemantau 2
Pembuat rasa bersalah
3 Teman
5 Manajer
Segitiga Restitusi
Men anya
kan k eyak
inan
Menstabilkan identitas Validasi Tindakan yang salah
Kamu tentu punya alasan mengapa melakukan itu
Segitiga Restitusi
Adakah cara yang lebih efektif untuk
mendapatkan apa yang kamu butuhkan?
Keyakinan kelas apa yang telah kita
sepakati?
Kamu ingin menjadi orang seperti apa?
Kamu bukan satu- satunya yang pernah melakukan ini
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan
Dalam menerapkan disiplin positif, guru hendaknya mampu
merefleksikan posisi kontrolnya saat ini; bagaimana ia berproses menjadi seorang ‘manajer’ yang menuntun peserta didik untuk menjadi mandiri, merdeka dan bertanggung jawab.
RUANG KOLABORASI
Mekanisme diskusi:
• Buatlah kelompok yang terdiri dari berbagai unsur (Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, dan Guru)
• Diskusikanlah kasus-kasus yang
disediakan dalam kelompok masing- masing
• Analisislah secara mendalam kasus- kasus tersebut dan jawablah
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
Mode daring hari pertama sampai di slide ini.
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL
Mekanisme pemaparan hasil diskusi:
• Presentasikanlah hasil diskusi
Bapak/Ibu yang dilakukan bersama kelompok di sesi Ruang Kolaborasi
• Kelompok hadirin yang bertugas menanggapi dapat memberikan
tanggapan, komentar, atau masukan yang konstruktif.
• Kelompok lain juga dapat memberikan umpan balik setelahnya.
ELABORASI PEMAHAMAN
Selanjutnya mari kita merefleksikan pertanyaan-pertanyaan berikut…..
• Sejauh mana pemahaman anda tentang konsep- konsep inti yang dibahas pada modul ini?
Adakah hal-hal menarik dan di luar dugaan?
• Sebelum menerapkan modul ini, posisi manakah (5 posisi kontrol) yang paling sering anda
gunakan, dan bagaimana perasaan anda?
Setelah mempelajari modul ini, posisi mana yang akan anda gunakan? Mengapa?
• Kendala apa yang mungkin dihadapi saat
menerapkan budaya positif di sekolah? Apa saja solusi yang dapat dilakukan?
Bentuk Program Kebajikan (Apresiasi).
Apresiasi (pengakuan) boleh dilakukan, namun hendaklah:
- diberikan secara khusus - diberikan secara pribadi
- diberikan kepada semua murid (bergantian)
- diberikan secara konsisten - berfokus pada proses
Contoh Pengakuan/Apresiasi Kebajikan
Pembuka Nilai Kebajikan Situasi
Kemarin saya perhatikan rasa empatimu besar sekali pada saat menolong murid baru di kelas kita
Saya menghargai kepedulianmu pada saat kamu membantu
teman-temanmu di tugas kelompok
Terima kasih untuk rasa tanggung jawab mu pada saat memungut kertas- kertas yang berserakan di lantai
KONEKSI ANTAR MATERI
Selanjutnya mari kita merefleksikan keseluruhan materi pada
pembelajaran di modul ini….
• Apakah peran Bapak/Ibu dalam
menciptakan budaya positif di sekolah melalui penerapan konsep-konsep yang ada di modul ini dan keterkaitannya
dengan implementasi kurikulum Merdeka yang telah dilakukan?
(RENCANA) AKSI NYATA
Selanjutnya mari kita menyusun Langkah dan strategi yang konkret dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah
7 Prinsip Disiplin Positif
1) Menumbuhkan kesadaran internal bukan control dari luar.
2) Konsekuensi logis bukan hukuman.
3) Dorongan bukan hadiah.
4) Koneksi sebelum koreksi
5) Memahami bukan menghakimi
6) Kendalikan diri bukan kontrol orang lain 7) Lembut dan tegas
1. Menumbuhkan kesadaran internal
bukan kontrol dari luar
Super Car, wil Power, tombol 1. Manfaat
2. Kebanggaan 3. Makna
4. Tantangan
5. Pertanyaan yang menggugah kesadaran
6. Minat
7. Tujuan hidup
8. Kesenangan, kebahagiaan 9. Keyakinan
10. Kebutuhan
2) Konsekuensi logis bukan hukuman
Efek samping hukuman:
Resentment / Kebencian : ini ngga adil
Rebel/memberontak : Saya akan melakukan sebaliknya
Retry, Ngeyel ; Mencoba kembali
Trik
Related : Harus berhubungan dengan perilaku
Risquefull : tidak menjatuhkan harga diri
Reasonable : harus seimbang dengan usia
Hak : Membantu siswa memperbaiki kesalahan
3 bentuk konsekuensi logis
1) Jika merusak maka memperbaiki Jika menghilangkan maka
mengganti/
2) Jika mengabaikan maka kehilangan hak
3) Jika melakukan sesuatu yang mengganggu dan berulang akan diberikan jeda atau positif time out
3) Dorongan bukan hadiah
• Dorongan / dukungan Sifatnya spesifik
Kamu sudah bagus dibidang ini, kalau kamu berusaha terus kamu pasti
berhasil . Pujian
Kamu Hebat Kamu pandai
• Dorongan
Anak jadi subyek
Kami bangga akan keberhasilanmu . Pujian
Ibu bangga padamu
Kamu hebat, anak siapa dulu
. Dorongan
• Memberikan kepercayaan
Ibu percaya kamu bisa belajar dari kesalahan
. Pujian
Ada kontrol
Ibu senang kamu belajar naik sepeda ngga jatuh
. Dorongan
• Fokus pada usaha dan progress Kamu pasti bisa selagi banyak
berusaha . Pujian
Fokus pada kesempurnaan Wah suaramu merdu sekali
. Dorongan
Mengevalusi diri
Tahun ini nilai kamu naik dari tahun sebelumnya
. Pujian
Membandingkan dengan orang lain Hebat kamu punya nilai paling besar di kelas mu
. Dukungan
• Mendorong keberanian
• Belajar sepeda pasti jatuh
• Pujian
• Membuat anak takut salah
Ibu bangga kamu ngga pernah jatuh
. Dorongan
Vitamin yang menyehatkan . Pujian
Permen yang membuat sakit gigi
4) Koneksi sebelum koreksi
• Langsung ngoreksi
• Langsung merintah
• Langsung berceramah
Cara membangun koneksi
1) Sapaan 2) Gestur
3) Membangun Koneksi dengan Validasi
4) Membangun koneksi dengan memberikan kepercayaan
5) Memberikan perhatian, afirmasi Bahasa, qualitime, melayani
6) Mau mendengarkan
5) Memahami bukan menghakimi
1. Hak perhatian 2. Haus kekuasaan 3. Rasa dendam 4. Rasa minder
6) Kendalikan diri bukan control orang lain
• 6 bagian emosi
6 bagian emosi
Bahagia
Sangat bahagia
Tenang
Sedih Takut
Marah
5 langkah mengendalikan emosi
TANYA
1) Terima 2) Amati 3) Nikmati 4) Yakini 5) Aksi
7)Lembut dan tegas
Lembut akan diterima dengan hati dan tenang.
Tegas Penekanan pada komitmen yang harus dilakukan
1) Lembut : Induk burung dengan lembut menyauapi anaknya Tegas : mendorong anak burung untuk belajar terbang
Lembut : Menyelamatkan
Memberikan perlindungan berlapis pada anak
Memberikan kemanjaan, Micro managing : Intervensi berlebihan
TERIMA KASIH
Lembut : Perasaan tidak tega pada anak untuk mengalami kesalahan, kita harus tega anak mengalami kesalahan karena itu bagian dari kenyataan hidup
Adversity Cuesen : Kecerdasan menghadapi ketahan malangan
Ketegasan adalah salah satu prinsip , tetapi ketegasan harus disampaikan dengan kelembutan itulah yang di sebut keseimbangan