• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI KARAKTER RELIGIUS PADA MATERI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI KARAKTER RELIGIUS PADA MATERI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

91

PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI KARAKTER RELIGIUS PADA MATERI

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

Ummi Fauziah

Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak, Jalan Alianyang No. 6A Pontianak e-mail: [email protected]

Abstrak

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun (masa SMP) sampai dengan 20 tahun yaitu menjelang masa dewasa muda. Pada masa remaja awal ini, siswa mulai tertarik untuk mengetahui dan mengenal organ-organ fisik (seksual). Pengetahuan awal siswa mengenai organ reproduksi apabila tidak diarahkan dengan religius yang tinggi, siswa dapat mengarah kepada pergaulan bebas dan seks bebas. Metode penulisan artikel yaitu kajian literatur dengan tujuan menyajikan model inovatif pada materi sistem reproduksi manusia melalui Problem Based Learning dihubungan dengan permasalahan nyata dalam kehidupan dan diintegrasikan melalui karakter religius pada pelaksanaan pembelajaran. Hasil yang diperoleh pada kajian literatur adalah melalui Problem Based Learning terintegrasi karakter religius dapat membentengi siswa melakukan pergaulan bebas dan seks bebas dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis siswa melalui pemecahan masalah dan solusi yang diberikan dengan mengintegrasikan ayat-ayat qauliyah pada Alqur’an.

Kata Kunci: Problem Based Learning, keterampilan berpikir kritis, karakter religius

Abstract

Adolescent is a transition phase from childhood to adulthood where a child start maturing biologically. This phase ranges from 11 to 20 years old. Early on, students start developing interest in human topology, genital in particular. If this interest isn't directed religiously, there will be a high risk of student(s) engaged in free sex. This article is conducted using literature research method with the goal to lay an innovative model of human reproduction presentation through real-life problem based "Problem Based Learning". We will integrate the problem with Quran's solution surah Al Isra' verse 32, An Nur verse 21, and Al Ahzab verse 59 about Islam's prohibition on 'zina'

Keywords: Problem Based Learning, critical thinking skills, Religious Character.

PENDAHULUAN

Remaja awal memasuki usia 11 sampai 12 tahun atau disebut masa puber mencapai kulminasi pertumbuhan jasmaniah dan rohaniah (Fudyartanta, 2012).

Remaja sebagai titik awal proses reproduksi, sehingga perlu dipersiapkan sejak dini (Romauli et al., 2011). Pengetahuan mengenai sistem reproduksi dan fungsi organ-organ reproduksi harus diketahui remaja terutama pada masa remaja awal,

(2)

92

karena pada usia ini remaja sudah mengalami kematangan organ-organ seksualnya, misalnya menstruasi dan mimpi basah. Remaja harus mengetahui fungsi organ- organ seksualnya dan penyakit kelamin yang berbahaya melalui pendidikan terutama di sekolah dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter. seseorang memiliki karakter religius, maka menjadi orang yang baik.

Guru sains terutama guru IPA melalui materi Sistem Reproduksi Manusia harus dapat menekankan nilai-nilai karakter religius karena persoalan remaja yang dialami saat ini adalah usia SMP sudah mulai menyukai lawan jenis, pacaran, hingga jika tidak dikontrol dan tidak dibekali dengan nilai-nilai religius akan berlanjut pergaulan bebas dan seks bebas. Pergaulan bebas di kalangan pelajar banyak terjadi di Indonesia, hal ini dikarenakan para pelajar belum mempunyai kontrol pikiran dan emosi yang matang dan mudah terpengaruh, sehingga mernjadi masalah bagi orang tua, pemerintah dan organisasi masyarakat di Indonesia. Pembelajaran hendaknya tidak hanya menekankan aspek kognitif saja dalam mempelajari teori dan konsep materi pelajaran, namun penanaman nilai karakter masih sangat diperlukan agar siswa memiliki akhlak yang baik terutama karakter religius agar menjauhi yang dilarang oleh agama. Kompetensi Inti pada Kurikulum 2013, terutama pada KI-1 menyatakan siswa dapat menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya, berarti setiap mata pelajaran harus bermuatan nilai-nilai religius, tidak hanya pelajaran agama, termasuk pelajaran sains.

Hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) 2012 mendapatkan 29,5% remaja laki-laki dan 6,2% remaja perempuan pernah meraba atau merangsang pasangannya, 48,1% remaja laki-laki dan 29,3% remaja perempuan pernah berciuman bibir, serta 79,6% remaja laki-laki dan 71,6% remaja perempuan pernah berpegangan tangan dengan pasangannya (Mahmudah et al., 2016). Faktor-faktor terjadinya pelecehan seksual pada remaja: (1) Penayangan tulisan atau tontonan pada media massa, (2) Rusaknya moral dan sistem nilai yang ada di masyarakat, (3) Kurang berperannya agama dalam mencegah terjadinya pelecehan seksual, (4) Hukuman yang diberikan kepada pelaku pelecehan seksual yang belum setimpal (Romauli et al., 2011). Pendidikan seks diberikan kepada

(3)

93 siswa pada tingkat SMP berdasarkan silabus mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada kelas IX Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017 pada materi Sistem Reproduksi Manusia dengan kompetensi dasar yaitu: (1) Menghubungkan sistem reproduksi pada manusia dan gangguan pada sistem reproduksi, serta penerapan pola hidup yang menunjang kesehatan reproduksi, (2) Menyajikan hasil penelusuran informasi dari berbagai sumber terkait kesehatan dan upaya pencegahan gangguan pada organ reproduksi.

Berdasarkan hasil observasi di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak bahwa belum menerapkan suatu model pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan mengintegrasikan karakter religius khususnya pada materi Sistem Reproduksi Manusia untuk mengatasi permasalahan pada remaja mengenai pergaulan bebas, dan seks bebas. Pembelajaran belum menerapkan keterampilan berfikir kritis pada permasalahan yang dialami remaja. Siswa belum menyadari bahaya dari pacaran dan pergaulan bebas ditinjau dari ilmu pengetahuan dan agama. Model pembelajaran Problem Based Leaning dapat dijadikan suatu alternatif model pembelajaran dengan memberikan siswa permasalahan nyata dalam kehidupan berkaitan dengan materi Sistem Reproduksi Manusia dengan karakter religius yaitu fakta-fakta sains sebagai kauniyah, ayat yang tidak diwahyukan diintegrasikan dengan ayat qauliyah, ayat yang diwahyukan dalam Alqur’an yang relevan.

Penelitian yang telah dilakukan berkaitan Problem Based Learning dan karakter yaitu Rokhmawati (2016) menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan self- efficacy siswa di SMP Muhammadiyah Malang. Kono, et al (2016) menunjukkan bahwa ada pengaruh model Problem Based Learning (PBL) terhadap pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis tentang Ekosistem dan lingkungan siswa kelas X biologi di SMA Negeri 1 Sigi. Reni (2012) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan pengaruh perubahan perilaku jujur, disiplin, gigih serta bertanggung jawab siswa yang diberikan pembelajaran dengan model Problem Based Learning berbasis pendidikan karakter terhadap kemampuan menyelesaikan masalah Fisika.

(4)

94

Penelitian mengenai Problem Based Learning terintegrasi karakter religius materi Sistem Reproduksi Manusia belum pernah dilakukan.

Berdasarkan latar belakang dan kerangka berfikir di atas, kajian tentang model Problem Based Leaning terintegrasi karakter religius untuk meningkatkan keterampilan berfikir kritis siswa perlu dilakukan. Adapun tujuan kajian ini adalah merumuskan penerapan Problem Based Learning terintegrasi karakter religius pada materi Sistem Reproduksi Manusia guna mengoptimalkan pendidikan karakter dan membentengi siswa terhadap pergaulan bebas dan seks bebas.

Informasi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan penting bagi perbaikan kualitas pendidikan nasional, khususnya dalam upaya mewujudkan generasi muda yang religius sejak dini dan berakhlak yang baik.

KAJIAN TEORI

Keterampilan Berfikir Kritis

Tujuan pendidikan utama dalam masyarakat di seluruh dunia yaitu mengembangkan pemikiran kritis siswa, dimana perkembangan teoritis telah ditunjukkan teori tentang pengalaman belajar yang berhubungan dengan perkembangan pemikiran kritis (Larsson, 2017). Keterampilan berpikir kritis adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi. Menurut Ennis (1996) mendefinisikan keterampilan berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang terfokus pada penentuan apa yang harus dipercaya atau dilakukan. Reflektif berarti mempertimbangkan atau memikirkan kembali segala sesuatu yang dihadapi sebelum mengambil keputusan (Runisah et al., 2017).

Keterampilan berpikir kritis berarti berpikir jernih dan cerdas. Pemikiran kritis adalah istilah umum yang diberikan berbagai keterampilan kognitif dan disposisi intelektual yang perlu diidentifikasi secara efektif, dianalisis dan dievaluasi sebuah argumen, temukan sebuah hipotesis dan berbagai masalah termasuk mengatur dan menyampaikan alasan, dan mendukung kesimpulan secara reflektif (Aryani et al., 2017). Pemikiran kritis adalah pemikiran yang melibatkan penalaran dan logika untuk memecahkan masalah (Page et al., 2006). Menurut Elder et al (2000) keterampilan berpikir kritis melibatkan aktivitas-aktivitas,

(5)

95 seperti menganalisis, menyintesis, membuat pertimbangan, menciptakan, dan menerapkan pengetahuan baru pada situasi dunia nyata. Keterampilan berpikir kritis penting dalam proses pembelajaran karena memberikan kesempatan kepada siswa belajar melalui penemuan (Redhana, 2012).

Keterampilan berfikir kritis perlu diterapkan kepada siswa melalui mengaitkan materi pelajaran dengan suatu penalaran, logika dan cerdas dalam mengatasi suatu persoalan melalui kemampuan menganalisis, membuat pertimbangan pada permasalahan nyata, sehingga melatih siswa mandiri, kreatif dan menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan, jadi bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran namun memberikan siswa kepada permasalahan yang mengajak siswa berfikir tingkat tinggi. Keterampilan berfikir juga sangat penting diberikan oleh siswa guna bekal mereka pada usia dewasa menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat yang lebih berat. Hal ini juga sesuai Kurikulum 2013 bahwa lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah memperoleh kecakapan untuk menjalani kehidupan dengan sikap positif dengan daya pikir kritis, kreatif, inovatif, dan kolaboratif, disertai kejujuran dan keterbukaan, berdasarkan potensi proses dan produk sains;

Keterampilan berpikir kritis siswa dapat dilatih dan dikembangkan melalui proses pembelajaran melalui pemilihan suatu model dan metode pembelajaran yang tepat. Pembelajaran berpusat pada siswa (student centered) dengan membiasakan memberikan suatu masalah yang berkaitan pada materi pembelajaran dan kehidupan, sehingga siswa lebih tertantang melalui melibatkan penalaran dan logika berusaha untuk menjawab permasalahan tersebut melalui aktivitas-aktivitas seperti menganalisis, menyintesis, membuat pertimbangan, menciptakan dan menerapkan penemuan baru.

Karakteristik Remaja

Masa remaja adalah masa di mana timbulnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang matang. Namun, masa remaja penuh dengan perasaan tidak menentu, cemas dan bimbang, di mana harapan, tantangan, kesenangan dan kesengsaraan berkecamuk yang harus dilalui dengan perjuangan menuju dewasa yang matang (Daradjat, 1993). Masa remaja

(6)

96

akan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat, terutama pada organ-organ reproduksi akan mulai mengalami kematangan. Remaja sebagai titik awal proses reproduksi, sehingga perlu dipersiapkan sejak dini (Romauli et al., 2011). Remaja akan berusaha mencari tahu berkaitan perubahan fisik yang dialaminya, oleh karena itu perlu pendidikan tentang sistem reproduksi sejak dini agar remaja mampu mengendalikan dirinya untuk menghadapi perubahan fisik yang terjadi yaitumateri Sistem Reproduksi Manusia telah tercantum pada Kurikulum 2013 pada kelas IX SMP/MTs.

Masa remaja merupakan masa pertarungan antara hasrat untuk mencari kesenangan seksual dan super-ego, yaitu tuntutan untuk mematuhi norma dan moral sosial (Lestari, 2012). Adanya dorongan seksual yang dirasakan remaja menyebabkan berperilaku tidak pantas menurut penilaian masyarakat, misalnya pacaran, pergaulan bebas dan seks bebas. Pertentangan tersebut semakin bertambah masalah jika remaja tersebut terbiasa menonton film porno, membaca majalah yang menyajikan gambar-gambar yang tidak pantas bagi usia remaja.

Berdasarkan permasalahan tersebut remaja membutuhkan nilai-nilai agama dan nilai-nilai akhlak yang harus ditanamkan sejak dini.

Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kritis Problem Based Learning (PBL) adalah sebuah metode pembelajaran dimana siswa belajar melalui masalah kemudian dilakukan pemecahan masalah.

Siswa bekerja dalam kelompok kolaboratif mengidentifikasi apa yang perlu mereka pelajari untuk memecahkan masalah (Cindy et al., 2004). PBL sebagai metode yang sukses dan inovatif dalam pendidikan. Proses pembelajaran PBL, membutuhkan kegiatan melibatkan penelitian, pengambilan keputusan dan penulisan. Hal ini dapat memotivasi dan memberi siswa kesempatan untuk memperoleh lebih dalam pembelajarannya (Graaff et al., 2003). PBL digunakan berorientasi masalah menggunakan tingkat berpikir tinggi. Proses berpikir dalam PBL diperlukan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran dalam bentuk konsep materi pelajaran untuk merangsang proses berpikir yang lebih tinggi (Kayanti et al., 2017).

(7)

97 PBL berhubungan dengan keterampilan berpikir kritis siswa, dengan menerapkan proses pembelajaran PBL siswa menjadi aktif dan tertantang dalam menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru secara kolaboratif yang dikaitkan dalam kehidupan nyata. Penerapan model PBL dapat melatih keaktifan siswa dalam berdiskusi dan bekerja sama dalam kelompok, siswa lebih berperan aktif dalam pembelajaran. Peran serta guru sebagai fasilitator, membimbing dan mengarahkan siswa apabila mengalami kesulitan. Tujuan PBL menurut Cindy et al (2004) meliputi membantu siswa mengembangkan: (1) pengetahuan yang fleksibel, (2) keterampilan pemecahan masalah yang efektif, (3) keterampilan belajar mandiri, (4) efektif keterampilan bekerja sama dan berdiskusi, dan (5) motivasi intrinsik.

Aktivitas PBL yang melibatkan skenario masalah terstruktur yang dikembangkan melalui langkah-langkah berikut: (Jonassen, 1997)

1. Pengenalan situasi masalah: Masalah terstruktur diperkenalkan.

2. Harapan dari anggota kelompok: Anggota kelompok diperkenalkan satu sama lain diikuti dengan pengenalan harapan dari masing-masing anggota kelompok yang mengarah pada pemecahan masalah yang dapat diterima.

3. Pendapat tentang masalah ini: Setiap anggota kelompok menyampaikan gagasan mereka tentang masalah tersebut dan tercermin pada pendapat rekan- rekan merekamelalui diskusi.

4. Pengetahuan sebelumnya tentang masalah ini: Anggota kelompok berbagi pengetahuan mereka sebelumnya mengenai masalah tersebut.

5. Informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah: Anggota kelompok menentukan dan mendiskusikan jenis dan tingkat informasi yang diperlukanmenyelesaikan masalah.

6. Menentukan rencana: Setiap anggota kelompok menentukan rencana studi individual yang menangani situasi masalah.

7. Proses solusi: Menggunakan sumber daya mereka sendiri dan teman sebaya dan berdiskusi dengan anggota kelompok dan instruktur, masing-masing anggota dibuatrencana tindakan mereka sendiri yang mengarah ke solusi potensial untuk masalah ini.

(8)

98

8. Evaluasi: Setiap anggota kelompok merefleksikan rencana aksi mereka dan rekan-rekan mereka. Selain itu, mereka menilai kontribusi masing-masing kelompok dan memberikan solusinya.

Karakter Religius

Pendidikan karakter adalah gerakan nasional yang menciptakan sekolah melalui pembinaan etika, bertanggung jawab baik melalui penekanan universal, dan nilai-nilai yang diyakini (Damayanti, 2014). Pendidikan karakter dijiwai oleh ajaran agama yang mengajarkan agar anak didik menjadi manusia yang baik agar memahami ayat-ayat Allah, melihat tanda-tanda kebesaran Allah, memiliki panca indera untuk mendengarkan ayat-ayat Allah yang didalamya mengandung kebenaran sebagai pedoman hidup yang paling tinggi agar berbaik baik menuju keselamatan dunia dan akhirat (Amin, 2012). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 Pasal 3 Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggung jawab.

Persoalan moralitas dan karakter bangsa menjadi masalah penting bagi bangsa Indonesia, seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, pergaulan (seks) bebas, gaya hidup materialis, serta penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif.

Pelajar dan mahasiswa khususnya, persoalan moralitas dan karakter menampakkan keadaan yang memprihatinkan. Pergaulan (seks) bebas, gaya hidup hedonis, dan penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif lainnya menjadi fenomena umum di masyarakat perkotaan, dan mulai menjalar di pedesaan. Padahal masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang beragama. Nilai religius merupakan salah satu nilai karakter penting yang dikembangkan dalam kurikulum 2013 (Sultoni et al, 2016).

Jenis karakter yang selama ini dikenal dan dilaksanakan dalam proses pendidikan ada 4 jenis, yaitu: (1) pendidikan karakter berbasis nilai religius, (2) pendidikan karakter berbasis nilai budaya, (3) pendidikan karakter berbasis

(9)

99 lingkungan, dan (4) pendidikan karakter berbasis potensi diri. Urgensi penanaman nilai karakter dapat dimulai melalui pendidikan karakter berbasis nilai religius (Hastuti, 2015).

Karakter religius berarti kualitas moral seseorang dalam pikiran, sikap dan perilakunya dilandasi oleh nilai-nilai agama yang dianutnya, seperti ketauhidan, kesyukuran, kejujuran, amanah, keteladanan, kedisiplinan dan pantang menyerah dalam berusaha (Supardi, 2017). Secara konseptual, sentralisasi nilai karakter religius dalam pendidikan karakter di kurikulum 2013 ditempuh dengan cara mengintegrasikan atau memasukkan nilai ketuhanan atau nilai karakter religius ke seluruh materi pembelajaran yang tidak mengandung nilai karakter religius (Sultoni et al., 2016). Proses pembelajaran terintegarasi karakter religius yaitu melalui pembelajaran materi sistem reproduksi diintegrasikan dengan ayat-ayat Alqur’an yang berkaitan dengan sistem reproduksi manusia dan permasalahan yang diberikan, hal ini sangat penting dilakukan tidak hanya dalam pembelajaran agama, namun dilakukan terhadap pembelajaran sains, karena guru dapat memberi pengaruh pendidikan karakter siswa secara bertahap dan terus-menerus agar menjadi manusia berakhlak yang baik dengan mendekatkan diri kepada Allah demi mencapai masa depan yang baik.

Problem Based Learning Terintegrasi Karakter Religius Materi Sistem

Reproduksi Manusia

Masa remaja awal pada usia 11-12 tahun merupakan masa awal pengenalan dan mulai berfungsinya organ reproduksi atau disebut dengan masa puber. Masa ini ditandai dengan perubahan fisik dan secara psikologi mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa, menyukai lawan jenis dan rasa ingin tahu tentang organ-organ reproduksi siswa. Peran orang tua, masyarakat dan sekolah sangat besar dalam membentuk karakter agar tidak terjerumus kepada pergaulan remaja yang buruk seperti pacaran, pergaulan bebas, seks bebas, pelecehan seksual dan penyimpangan yang berkaitan dengan organ reproduksi lainnya.

Kejahatan seksual, pergaulan (seks) bebas, gaya hidup materialis, serta penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif menjadi masalah dalam moralitas dan karakter bangsa Indonesia, khususnya pelajar dan mahasiswa. Padahal masyarakat

(10)

100

Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang beragama. Nilai religius merupakan salah satu nilai karakter penting yang dikembangkan dalam kurikulum 2013 (Sultoni et al, 2016). Guru merupakan faktor dominan yang menentukan tingkat keberhasilan anak didik dalam proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta internalisai etika dan moral. Pendidikan sains merupakan implementasi dari perintah Allah dalam Alqur’an (Supardi, 2017). Guru harus mempunyai strategi pembelajaran yang dapat mengintegrasikan karakter religius pada materi sistem reproduksi manusia agar membangun remaja yang berakhlak dan tidak terjerumus kepada penyimpangan-penyimpangan seksual untuk menuju keselamatan dunia dan akhirat, karena selama ini pembelajaran IPA jarang dikaitkan dengan karakter religius, hanya pada pembelajaran agama saja. Menurut Sultoni et al (2016) bahwa seseorang memiliki karakter religius, akan menjadi orang yang baik karena memiliki sikap taat dan patuh pada agama yang mengajarkan kebaikan.

Materi sistem reproduksi pada manusia pada SMP merupakan materi yang sangat menarik bagi siswa, karena siswa baru mengetahui dan mengenal organ- organ reproduksinya, sehingga pada materi ini siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga membangun keterampilan berpikir kritis mereka mengenai sistem reproduksi manusia dan berkaitan dengan kehidupan nyata.Materi sistem reproduksi pada manusia berdasarkan silabus mata pelajaran IPA SMP kelas IX Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017 pada Tabel 1.

Tabel 1 Silabus Materi Sistem Reproduksi Manusia Kompetensi Dasar Materi Pokok 3.1Menghubungkan sistem

reproduksi pada manusia dan gangguan pada sistem reproduksi serta penerapan pola hidup yang menunjang kesehatan reproduksi 4.1 Menyajikan hasil penelusuran

informasi dan berbagai sumber terkait kesehatan dan upaya pencegahan gangguan pada organ reproduksi

Sistem Reproduksi Pada Manusia 1. Pembelahan sel

2. Sistem reproduksi manusia 3. Kelainan dan penyakit pada

sistem reproduksi

4. Pola hidup yang menunjang kesehatan reproduksi

(11)

101 Peran guru sangat penting dengan menggunakan strategi pembelajaran yang inovatif yaitu Problem Based Learning yang sesuai dengan Kurikulum 2013.

Permasalahan yang berkaitan dengan sistem reproduksi manusia melalui PBL pada kehidupan nyata diberikan oleh siswa untuk membangun keterampilan berpikir kritisnya dan diintegrasikan dengan karakter religius yang berkaitan pada materi tersebut. Analisis yang dilakukan oleh Rokhmawatiet al (2016) menyebutkan bahwa PBL membantu siswa menjadi pelajar aktif karena menempatkan pembelajaran pada dunia nyata dengan suatu masalah dan membuat siswa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka. Hal ini menyebabkan kemampuan siswa untuk belajar berpikir kritis dalam menganalisa dan memecahkan suatu masalah yang diberikan oleh guru sesuai dengan materi yang diberikan. Siswa dengan pemikiran kritisnya akan kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan membangun sebuah argumen dan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan tepat. Siswa yang berpikir kritis kritis akan dapat membantu diri mereka sendiri atau orang lain dalam memecahkan masalah yang dihadapi, secara tidak langsung akan meningkat kepercayaan siswa karena mereka mampu mengaktualisasikan potensi mereka.

Metode PBL akan merangsang pengajaran dan pembelajaran, fokus utama pengajaran dan pembelajaran terjadi melalui kegiatan pemecahan masalah.

Pengetahuan deklaratif dan keterampilan yang didapat melalui kemampuan berpikir kritis akan diterapkan untuk memecahkan suatu masalahdilakukan secara berulang, jadi pengetahuan dan keterampilan akan mudah dihafalkan dan akan disimpan dalam memori jangka panjang (Zabit, 2010). Model pembelajaran berbasis masalah atau PBL, siswa pertama dihadapkan dengan masalah ill- structured, open-ended, ambigu, dan kontekstual. Siswa harus mempelajari materi terlebih dahulu agar dapat memecahkan masalah, maksudnya siswa harus mengkonstruksi pengetahuan melalui proses penemuan. kemudian memecahkan masalah yang dihadapi (Redhana, 2012).

Pelaksanaan Problem Based Learning terintegrasi karakter religius pada materi sistem reproduksi manusia dengan langkah-langkah berikut:

1. Orientasi siswa pada masalah

(12)

102

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan sarana atau logistik yang dibutuhkan. Guru memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah mengenai remaja saat ini banyak yang melakukan aborsi, pelecehan seksual dan remaja yang mengidap penyakit AIDS. Masalah tersebut dapat disajikan dalam bentuk gambar.

2. Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengsn masalah yang sudah diorientasikan pada tahap sebelumnya. Guru dapat menjelaskan lebih rinci alternatif-alternatif strategi untuk menyelesaikan masalah remaja dengan menghubungkan karakter religius mengenai semua makhluk hidup ada penciptanya melalui proses kejadian manusia surah Al-Hajj ayat 5.

3. Membimbing penyelidikan individual dan kelompok

Peserta didik mengumpulkan informasi yang sesuai untuk mendapatkan kejelasan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengenai organ- organ reproduksi pada remaja putra dan putri, cara merawat dan menjaganya terutama wanita agar terhindar dari pelecehan seksual. Siswa melakukan kajian secara independen berkaitan dengan masalah yang diberikan guru dan harus diselesaikan. Siswa dapat melakukannya dengan cara mencari sumber di perpustakaan, internet, sumber personal atau melakukan observasi, guru memberikan bimbingan jika diperlukan. Guru membimbing siswa jika ada kesulitan, karakter religius yang dapat diberikan adalah wanita wajib menutup aurat untuk melindungi wanita dari pemerkosaan dan pelecehan seksual, Allah menjelaskan di dalam ayat Alqur’an surat Al Ahzab ayat 59 yaitu:

(13)

103 Artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Siswa mencari solusi untuk menghindari pergaulan bebas dan seks bebas melalui larangan pacaran dan membatasi pergaulan lawan jenis, karakter religius yang diberikan yaitu larangan melakukan zina (pacaran), pergaulan bebas, dan seks bebas hingga aborsi merupakan perbuatan syaitan, sesuai dengan firman Allah Swt dalam Alquran surah AnNur ayat 21 yaitu:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Penyebab dari permasalahan yang diberikan guru karena kurangnya penanaman nilai-nilai agama Islam, karakter religius yang dapat diberikan adalah agama Islam melarang pacaran karena hal tersebut mendekati zina agar tidak terjadi seks bebas, kehamilan di luar nikah sehingga melakukan aborsi

(14)

104

dan penyakit HIV/AIDS, Allah SWT melarang melakukan penyimpangan tersebut pada Alquran surat Al Isra ayat 32 yaitu:

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji yang membawa kepada kerusakan.”

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Siswa berbagi tugas sesuai kelompoknya untuk merencanakan atau menyiapkan karya yang sesuai sebagai hasil pemecahan masalah misalnya dalam bentuk laporan atau video mengenai organ-organ reproduksi manusia, penyakit organ reproduksi manusia dan cara menjaga kesehatan reproduksi.

Materi sistem reproduksi manusia dikaitkan dengan Alquran yang relevan, misalnya larangan pacaran atau berbuat zina pada surat Al Isra’ ayat 21 dan menutup aurat bagi wanita pada surat Al Ahzab ayat 59 agar mencegah pelecehan seksual dan melindungi wanita.

5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu peserta didik melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses pemecahan masalah yang dipresentasikan setiap kelompok maupun terhadap aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan pada materi Sistem Reproduksi Manusia. Guru memberikan penguatan terkait konsep tertentu mengenai bahaya melakukan pergaulan bebas dan seks bebas berdasarkan kesehatan karena banyak penyakit menular misalnya HIV AIDS kemudian diintegrasikan ayat-ayat Alquran yang relevan.

Materi Sistem Reproduksi Manusia dapat dijadikan sebagai pendekatan guru untuk membangun moral, karakter dan akhlak yang baik sesuai ajaran agama yang dianutnya. Model pembelajaran Problem Based Learning terintegrasi karakter religius tidak hanya dapat diterapkan pada madrasah tetapi juga pada sekolah sesuai dengan agama yang dianutnya. Menurut Supardi (2017) bahwa

(15)

105 pendidikan sains merupakan implementasi dari perintah Allah dalam Alquran.

Oleh karena itu, diperlukan peran guru dapat mengembangkan pembelajaran sains yang mengintegrasikan ayat-ayat kauniyah alam semesta dengan Alquran.

Penelitian yang dilakukan oleh Aviyah, et al (2014) menunjukkan bahwa religiusitas dan kontrol diri secara simultan dan sangat signifikan berkorelasi dengan kenakalan remaja.

SIMPULAN

Tinjauan literatur pada artikel ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning terintegrasi karakter religius pada materi Sistem Reproduksi Manusia dapat melatih dan membangun keterampilan berfikir kritis siswa pada masa remaja awal (usia SMP) berkaitan dengan permasalahan banyak terjadi di kalangan remaja yaitu pergaulan bebas, seks bebas dan penyakit organ- organ reproduksi lainnya. Siswa menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru dengan mengaitkan materi pembelajaran melalui ayat-ayat Alquran sebagai upaya membentuk akhlak siswa agar menjauhi perbuatan yang dilarang oleh agama dan terus mendekatkan diri kepada Allah agar selamat di dunia maupun di akhirat.

Karakter religius yang diberikan pada materi Sistem Reproduksi Manusia yaitu larangan melakukan zina untuk mencegah seks bebas dan penyakit HIV AIDS pada surah Al Isra ayat 32, larangan mengikuti langkah-langkah syaitan pada surah An Nur ayat 21 dan kewajiban wanita dalam menutup aurat pada surah Al Ahzab ayat 59 untuk mencegah pemerkosaan.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, M. (2012). Pendidikan Karakter. Jakarta: Baduose Media.

Aviyah, E. & Farid, M. (2014). “Religiusitas, Kontrol Diri Dan Kenakalan Remaja. Jurnal Psikologi Indonesia. 3(2), 126 – 129.

Cindy, E. & Silver, H. (2004). “Problem Based Learning: What and How Do Students Learn?. Educational Psychology Review. 16 (3), 235-266.

Damayanti, D. (2014). Panduan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah.

Yogyakarta: Araska.

Daradjat, Z. (1993). Remaja Harapan dan Tantangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Fudyartanta. (2012). Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(16)

106

Graaff, E. & Kolmos, A. (2003). Characteristics of Problem Based Learning.

International Journal of Engineering, 19(5), 657-662.

Hastuti, A. (2015). Implementasi Pendidikan Karakter Religius Dalam Pembelajaran Sosiologi (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Comal). (Thesis).

Universitas Negeri Semarang.

Jonassen, D. (1997). Instructional Design Models for Well Structured and Ill Structured Problem Solving Learning. Educational Technology Research and Development, 45 (1), 65-94.

Kono, R., Mamu, H., & Tangge, L. (2016). Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap Pemahaman Konsep Biologi Dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Tentang Ekosistem Dan Lingkungan Di Kelas X SMA Negeri 1 Sigi. Jurnal Sains dan Teknologi Tadulako, 5(1), 28-38.

Larsson, K. (2017). Understanding and Teaching Critical Thinking: A New Approach. International Journal of Educational Research. 84, 32–42.

Lestari, S. (2012). Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga. Jakarta: Kencana.

Mahmudah, Yaunin, Y., & Lestari, Y. (2016). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual Remaja di Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, 5(2), 448-455.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Page, D. & Mukherjee, A. (2006). Using Negotiation Excercises to Promote Critical Thinking Skills. Business Simulation and Experimental Learning, 30 (1), 71-78.

Rokhmawati, J., Djatmika, E., & Wardana, L. (2016). Implementation of Problem Based Learning Model to Improve Students’ Problem Solving Skill and Self-Efficacy (A Study on IX Class Students of SMP Muhammadiyah).

Journal of Research & Method in Education, 6(3), 51-55.

Redhana, I. (2012). Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dan Pertanyaan Socratik Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa.

Cakrawala Pendidikan, 31 (3), 351-365.

Romauli, S. & Vindari, A. (2011). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika.

Runisah, Herman, T. & Dahlan, J. (2017). Using the 5E Learning Cycle with Metacognitive Technique to Enhance Students’ Mathematical Critical Thinking Skills. International Journal on Emerging Mathematics Education, 1(1), 87-98.

Sultoni, A., Alfan, M. & Maksum, A. (2016). Optimalisasi Pendidikan Karakter Melalui Sentralisasi Nilai Karakter Religius dalam Kurikulum 2013.

Jurnal Penelitian Keislaman, 12 (2), 127-140.

Supardi, K. (2017). Pembelajaran Kimia Terintegrasi Karakter Religius.

Semarang: UNNES Press.

Zabit, M. (2010). Problem Based Learning On Students’ Critical Thinking Skills In Teaching Business Education In Malaysia: A Literature Review.

American Journal of Business Education, 3 (6), 19-32.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penelitian pengembangan adalah: (1) pengembangan perangkat pembelajaran IPA Fisika SMP berbasis problem based learning terintegrasi pendidikan karakter

Reproduksi pada manusia terjadi secara seksual, yang mana individu baru terbentuk diawali dengan bersatunya sel kelamin pria (sperma) dan sel kelamin wanita (sel telur)..

Berdasarkan hasil uji validasi dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran biologi terintegrasi problem based learning dilengkapi dengan tes diagnostik multiple

Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu penggunaan bahan ajar sistem reproduksi manusia terintegrasi nilai-nilai Al Qur’an dapat meningkatkan skor sikap

Jika sebelumnya pada ringkasan materi bab 1 Sistem Reproduksi pada Manusia Part 2 membahas tentang Sistem Reproduksi Perempuan, Oogenesis dan Menstruasi, maka pada part 3 ini membahas

217 Meningkatkan Hasil dan Motivasi Belajar Peserta Didik melalui Model Discovery Learning Berbantuan Video pada Materi Sistem Reproduksi Manusia Sri Wahyuni1, Titin2, Zulfikar3

SIMPULAN DAN SARAN Setelah serangkaian proses penelitian, maka peneliti menemukan hasil temuan di lapangan terkait penerapan pendidikan karakter religius pada peserta didik di Sekolah

Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning PBL secara daring Terhadap Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Pada Materi Sistem Reproduksi SKRIPSI Diajukan untuk