1 PROBLEMATIKA SISTIM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK PADA SISWA KELAS IV DI MI AL-MA’ARIF NU SINAH
TAHUN PELAJARAN 2021/2022
Oleh :
EKA ZURRIATUN KASMIANA NIM.170.016.130
PROPGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2021
2 PROBLEMATIKA SISTIM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK PADA SISWA KELAS IV DI MI AL-MA’ARIF NU SINAH
TAHUN PELAJARAN 2021/2022
Skripsi
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai
gelar sarjana
Oleh :
EKA ZURRIATUN KASMIANA NIM.170.016.130
PROPGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2021
3 PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi Oleh: Eka Zurriatun Kasmiana, Nim: 170106130 Dengan Judul
“Problematika Sistim Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV di MI Al-Ma’arif Nu Sinah Tahun Pelajaran 2021/2022” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.
Disetujui pada tanggal:
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. M.Sobry, M.Pd Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag.
NIP.197710092006041002 NIP. 197401262007011010
4 NOTA DINAS PEMBIMBING
Mataram.
Hal: Ujian Skripsi Yang Terhormat
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Mataram
Assalamualaikum Wr.Wb
Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi Saudara:
Nama Mahasiswa : Eka Zurriatun Kasmiana
NIM : 170106130
Jurusan/Prodi : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Judul : Problematika Sistim Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV di MI Al-Ma’arif Nu Sinah Tahun Pelajaran 2021/2022
Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram.Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.
Wassalamualaikum, Wr.Wb.
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. M.Sobry, M.Pd Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag.
NIP.197710092006041002 NIP. 197401262007011010
6 PENGESAHAN
Skripsi oleh: Eka Zurriatun Kasmiana NIM: 170106130 dengan judul
“Problematika Sistim Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV di MI Al-Ma’arif Nu Sinah Tahun Pelajaran 2021/2022” telah dipertahankan didepan dewan penguji Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Mataram pada tanggal,………..2021
Dewan Penguji Dr. M. Sobry, M.Pd
( Ketua Sidang / Pem I )
Akhmad Khalakul Khairi, M.Pd (Sekretaris Sidang / Pem. II)
Dr. Hilmiati, M.Pd ( Penguji I )
Muhammad Anwar Sani, M.Pd.I (Penguji II )
Mengetahui
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Dr. Jumarim. M.H.I NIP. 197612312005011006
7 MOTTO
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemapuanya (qs. al-baqarah: 286)
8 PERSEMBAHAN
“Skripsi ini kupersembahkan untuk: kedua orang tuaku Bapak Sapoan dan Ibu Kartini yang tidak pernah berhenti mendukungku dan selalu bekerja keras untukku sehingga aku bisa menyelesaikan tugas akhirku di bangku kuliah yaitu menyelesaikan skripsiku. Saudara dan saudariku yang selalu menjadi inspirasi dan motivator dalam hidupku”.
9 KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa melakukan aktivitas dengan baik, sehat wal’afiat khususnya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul tentang “Problematika Sistim Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV di MI Al-Ma’arif Nu Sinah Tahun Pelajaran 2021/2022” ini bisa selesai dengan baik.
Tidak lupa juga penulis sampaikan salam dan shalawat kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW telah mengayomi kita semua dengan cinta kasih serta perjuangan beliau sehingga kita bisa menghirup udara segar ini dengan penuh nikmat yang takakan mampu kita menghitungnya.
Penulis menyadari bahwa selama penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. M.Sobry, M.Pd, sebagai pembimbing I dan bapak Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag, M.Fil.l sebagai pembimbing II yang telah sabar dan ikhlas membimbing penulis sehingga proposal ini bisa diselesaikan dengan baik.
2. Bapak Dr. Muammar, M.Pd sebagai ketua jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah.
3. Ibu Ramdhani Sucilestari, M.Pd.I sebagai sekretaris jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah.
4. Bapak Prof. Dr. Masnun Tahir selaku Rektor UIN Mataram.
10 5. Bapak Dr. Jumarim. M.H.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Mataram.
6. Semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebut satu persatu.
7. Bapak Kepala sekolah MI Al-Marif NU Sinah Suparlan S.PdI yang sudah memberikan izin peneletian.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya dapat membangun demi kesempurnaan penelitian selanjutnya. Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat-ganda dari Allah swt.
Dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembang khazanah keilmuan. Aamiin
Mataram,
Eka Zurriatun Kasmiana NIM:170106130
11 DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
HALAMAN PENGESAHAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN... vii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
ABSTRAK ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat ... 6
D. Ruang lingkup dan Settinng Penelitian ... 8
E. Telaah Pustaka ... 9
F. Kerangka Teori ... 11
1. Pembelajaran Tematik ... 11
a. Pengertian Pembelajaran Tematik ... 11
b. Tujuan Pembelajaran Tematik ... 13
c. Pentingnya Pembelajaran Tematik di SD atau MI ... 14
d. Karakteristik Pembelajaran Tematik... 15
e. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Tematik ... 18
f. Landasan-Landasan Pembelajaran Tematik ... 18
g. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik ... 20
12
2. Problematika Pembelajaran ... 21
a. Perencanaan Pembelajaran... 23
b. Pelaksanaan Pembelajaran ... 27
c. Evaluasi atau Penilaian Pembelajaran ... 29
G. Metode Penelitian ... 30
1. Pendekatan Penelitian ... 30
2. Kehadiran Peniliti ... 32
3. Lokasi Penelitian ... 32
4. Sumber Data ... 32
5. Prosedur Pengumpulan Data ... 33
6. Teknik Analisis Data ... 36
7. Pengecekan Keabsahan Data ... 38
H. Sistematika Pembahasan ... 40
BAB II PAPARAN DATA TEMUAN ... 42
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 43
B. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV Di MI Al-Ma’arif Nu Sinah ... 47
C. Problematika Yang Dihadapi Guru Dalam Menerapkan Sistim Belajar Tematik Di Mi Al-Ma’arif Nu Sinah ... 53
BAB III PEMBAHASAN ... 59
A. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV Di MI Al-Ma’arif Nu Sinah ... 59
B. Problematika Yang Dihadapi Guru Dalam Menerapkan Sistim Belajar Tematik Di Mi Al-Ma’arif Nu Sinah ... 69
BAB IV PENUTUP ... 72
A. Kesimpulan ... 72
B. Saran ... 73
13 DAFTAR PUSTAKA ... 74 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 76
14 PROBLEMATIKA SISTIM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK PADA SISWA KELAS IV DI MI AL-MA’ARIF NU SINAH
TAHUN PELAJARAN 2021/2022
Oleh
EKA ZURRIATUN KASMIANA NIM.170.016.130
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah tahun pelajaran 2020/2021. (2) Problematika yang dihadapi guru dalam menerapkan sistem belajar tematik di MI Al-Ma’arif NU Sinah tahun pelajaran 2020/2021.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif.
Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu, observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah yang dianjurkan oleh Miles dan Humberman yaitu, reduksi data, display data, dan verfikasi data.
Hasil dari penilitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik di MI Al-Ma’arif NU Sinah sebagi berikut 1) Dalam pembelajaran guru kelas memang sudah menggunakan metode yang berbasis pembelajaran aktif namun dalam pelaksanaan guru kelas hanya menggunakan dua sampai tiga metode saja. Hal ini kurang sesuai dengan apa yang diungkapkan Abdul Munir, dkk bahwa penggunaan metode dalam pembelajaran tematik yang baik adalah multi metode. Yakni memadukan beberapa metode dalam pembelajaran. Dengan milto metode akan tercipta berbagai variasi kegiatan, sehingga akan sesuai dengan karakteristik dari pembelajaran tematik.. 2). problematika yang dihadapi guru dalam menerapkan sistem belajar tematik di MI Al-Ma’arif NU Sinah yaitu guru kelas IV mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi, dalam pembuatan perangkat pembelajaran tematik, dan siswanya kurang memahami tematik. Juga mengalami kesulitan dalam mengelola keadaan kelas dalam proses pembelajaran tematik, guru sulit mengkondisikan karena siswa tersebut terlalu aktif atau ribut.
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Sistim pembelajaran tematik selalu menarik untuk dibahas dalam penelitian, bukan hanya karena praktiknya yang bisa dibilang cukup unik dan menarik karena menggabungkan banyak mata pelajaran, melainkan juga karena teori dalam metode pembelajaran ini juga menarik untuk dianalisis.
Pembelajaran memang harus selalu dipenuhi dengan inovasi, seiring dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan. Perkembangan tersebut secara otomatis akan mengupgrade tatanan pada dunia pendidikan untuk menemukan metode baru dalam mengajar, baik itu dari sisi metode, model maupun strategi dalam sistem belajar siswa.
Pengertian pendidikan juga dijelaskan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Bab I pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.1
Dari penjelasan UU No. 20 Tahun 2003 Bab I pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dapat dipahami bahwa pendidikan merupakan usaha
1 Penerbit, Undang- Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen & Undang- Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, ( bandung: fermana, 2006), hlm. 65.
2 yang dilakukan secara sadar yang berfungsi untuk mengembangkan potensi siswa dan menjadikannya manusia yang bermanfaat bagi bangsa dan negara
Seperti yang diketahui bahwa pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan dengan tujuan mencerdaskan anak bangsa. Dalam hal ini perubahan tersebut diwujudkan dengan adanya perubahan kurikulum, kurikulum yang diterapkan saat ini adalah kurikulum 2013. Sebelum kurikulum 2013 diterapkan, terdapat evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya dan melakukan uji coba akan keterlaksanaan kurikulum baru yang dilakukan langsung oleh pemerintah dan jajarannya. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, diperoleh informasi bahwa kurikulum sebelumnya memiliki beberapa kekurangan, diantaranya yaitu : beberapa kompetensi dasar yang dibutuhkan masih belum terealisasikan, seperti penerapan pendidikan karakter, pembelajaran aktif yang didalam proses pembelajarannya secara teori berpusat pada peserta didik, namun pada kenyataannya masih berpusat pada guru,2 karena terdapat beberapa kekurangan pada kuriukulum lama, maka sangatlah penting untuk melakukan perbaharuan kurikulum yaitu yang awalnya menggunakan KTSP diperbaharui menjadi kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang baru dicetuskan oleh Kemendikbud untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau sering disebut kurikulum 2006 yang sudah tidak cocok lagi dengan iklim pendidikan di Indonesia. Saat ini di indonesia memerlukan pendidikan yang bisa menanamkan tidak hanya pada aspek kognitif tetapi lebih
2 Novika Aulia Sari, Dkk, “ Penerapan Pembelajaran Teamtik Terpadu Di Sekolah Dasar”, KSDP Universitas Negeri Malang, Vol.3, Nomor 12, Desember 2018, Hml. 2.
3 menekankan pada proses, aspek afektif serta karakteristik pada peserta didik.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mengutamakan sebuah proses, pemahaman, keterampilan, serta pendidikan karakter, terutama pada tingkat dasar yang akan menjadi akar bagi tingkat selanjutnya.3
Kurikulum 2013 merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang berkompeten dan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor, serta menekankan pada pembentukan karakter. Oleh sebab itu diterapkanlah kurikulum 2013 pada proses pembelajaran di jenjang pendidikan formal sampai sekarang ini.
Pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum 2013 adalah pembelajaran tematik terpadu, kegiatan pembelajaran berbasis tematik ini didasarkan pada sebuah tema yang di dalam tema tersebut terdiri dari beberapa mata pelajaran yang digabungkan menjadi sebuah tema. Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik.4 Pembelajaran tematik dikemas dalam bentuk tema-tema yang merupakan wadah atau wahana untuk mengenal berbagai konsep materi kepada
3 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 6.
4 Rusman, Model-Model Pembelajaran ; Mengembangkan Profesionalisme Guru, Cetakan ke-5 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), hlm.254
4 peserta didik secara menyeluruh, sehingga diharapkan peserta didik dengan mudah memahami tema-tema tersebut pada saat proses pembelajaran.
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehigga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Pembelajaran tematik lebih menekankan kepada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung, siswa akan memahami konsep- konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipelajarinya.5
Pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pelajaran bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya.6
Pada metode belajar tematik ini, guru tidak hanya akan mendapatkan materi baru, tetapi juga cara mengajar yang baru pula. Hal ini secara tidak langsung akan menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam mengajar. Dalam
5 Samsudin. Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan Sd/Mi.
(Jakarta : Litera Prenada Media Group, 2008, hal. 48
6 Rusman. Model-Model Pembelajran: Mengembangkan Profesionalisme Guru.
(Jakatra : Rajawali Pers, 2011), hal. 254.
5 konteks pembelajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pemelajaran, penggunaan pendekatan dan metode pembelajaran serta penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.7
Berdasarkan hasil wawancara awal di MI AL-Ma’arif NU Sinah yang terletak di Kecamatan Pujut Lombok Tengah, sistem pembelajaran ini ternyata kurang optimal karena masih dianggap rumit oleh kebanyakan guru pada sekolah tersebut. Selain karena guru pada sekolah tersebut kesulitan melakukan evaluasi pembelajaran, pada sistem belajar tematik ini juga membutuhkan ketekunan, ketelitian dan kesabaran guru untuk menghasilkan autentik asesmen yang bermutu dalam impelementasinya. Temuan problematika singkat pada sekolah tersebut membuat penulis ingin melakukan penelitian dengan judul
“Problematika Sistim Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV MI (Studi Kasus MI Al-Ma’arif NU Sinah) untuk memberikan gambaran realitas, solusi, dan problem mendasar yang ada di madrasa tersebut hingga menyebabkan sistem belajar tematik ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
7 Abdul Majid. Perencanaan Pembelajaran. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 17.
6 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah tahun pelajaran 2020/2021?
2. Apa saja problematika yang dihadapi guru dalam menerapkan sistem belajar tematik di MI Al-Ma’arif NU Sinah tahun pelajaran 2020/2021?
C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah tahun pelajaran 2020/2021.
b. Untuk mendeskripsikan problematika yang dihadapi guru dalam menerapkan sistem belajar tematik di MI Al-Ma’arif NU Sinah tahun pelajaran 2020/2021.
2. Manfaat Penelitian
Selain mempunyai tujuan yang telah di sebutkan diatas, peneliti juga berharap dalam penelitian ini mempunyai kegunaan atau bermanfaat, adapun manfaat penelitian ini baik seacara teoritis maupun manfaat secara praktis adalah sebagai berikut :
7 a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang bagaimana sistim pelaksanaan pembelajaran tematik dan diharapkan bisa menjadi acuan untuk penelitian berikutnya.
b. Manfaat Praktis
Adapun manfaat secara praktis pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Manfaat Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi pertimbangan atau acuan bagi guru mempertimbangkan pengambilan keputusan untuk mengadakan pembinaan dan peningkatan kemampuan pelaksanaan pembelajaran tematik.
2) Manfaat Bagi Guru
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk mengoreksi, sekaligus sebagai usaha untuk memperbaiki kualitas dalam kapasitas sebagai guru yang profesional dalam upaya untuk meningkatkan mutu, proses, dan hasil belajar siswa dengan pelaksanaan pembelajaran tematik.
3) Manfaat Bagi peserta didik
Penelitian ini di harapkan berguna dan dapat mengetahui kesulitan belajar mengunakan tematik yang di hadapi oleh peserta didik.
8 4) Manfaat Bagi Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang upaya guru dalaam mengatasi kesulitan belajar pada mata pelajaran tematik dan dapat diteliti lebih lanjut oleh peneliti lainnya
D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian merupakan suatu unsur terpenting dalam sebuah penelitian karya ilmiah, ruang lingkup penelitian dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperjelas tujuan dari dilaksanakannya penelitian ilmiah, hal tersebut bertujuan agar pembaca mengetahui cakupan dari fokus penelitian yang dilakukan peneliti. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di MI Al- Ma’arif NU Sinah dan apa saja probelamatika yang dihadapi guru dalam menerapkan sistem belajar tematik di MI Al-Ma’arif NU Sinah.
2. Setting Penelitian
Adapun setting penelitian adalah berupa lokasi atau tempat penelitian akan melakukan penelitian yaitu di MI Al-Ma’arif NU Sinah, Desa Pengembur, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Adapun alasan peneliti memilih lokasi ini karena berdasarkan observasi awal yang dilakukan MI Al-Ma’arif NU Sinah pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah kurang efektif sehingga peneliti tertarik untuk meneliti tentang
9 Problematika Sistim Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV MI (Studi Kasus MI Al-Ma’arif NU Sinah).
E. Telaah Pustaka
Telaah pustaka dilakukan untuk menjelaskan posisi penelitian yang sering dilaksanakan, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat banyak masalah- masalah yang sama dalam penelitian, namun tentunya setiap penelitian memiliki perbedaan penekanan dalam mengatasi suatu masalah meskipun konteks penelitian yang dikaji tetaplah sama yaitu terkait Problematika Sistim Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas IV MI (Studi Kasus MI Al-Ma’arif NU Sinah), dalam hal ini terdapat beberapa perbedaan pada setiap penelitian yaitu rumusan masalah, batasan masalah maupun variable yang ingin diteliti dan tentunya kedalaman penelitian yang memiliki perbedaan yang telah diteliti sebelumya.
Sebagai gambaran dan pertimbangan penelitian–penelitian sebelumnya maka peneliti mengangkat penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti yaitu :
1. Ludfi Arya Wardana Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah UIN Malang angkatan 2015 dengan judul “Masalah-Masalah Pembelajaran Tematik Kelas 3 Sekolah Dasar ( Studi Kasus di SDN Tanjungrejo 5 Kota Malang)’’.
Persamaan penilitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh peneliti adalah obyek penelitian pada tingkat pendidikan dasar dan sama-
10 sama membahas tentang problemamatika atau masalah dalam pembelajaran tematik serta menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Perbedaan peneilitian yang dilakukan oleh Ludfi Arya Wardana dengan penelitian yang akan dilakukan ini yaitu dari segi setting penelitian, setting penelitiannya berada di SDN Tanjungrejo 5 Kota Malang sedangkan peneilitian ini akan dilaksanakan di Mi Al-Ma’arif Nu Sinah. Pada penilitian yang dilakukan oleh Ludfi Arya Wardana terfokus pada masalah-masalah pembelajaran tematik kelas 3 sedangkan peniliti berfokus pada problematika sistem belajar tematik pada siswa kelas IV di MI Al-Ma’arif Nu Sinah.
2. Raudatul Janah Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah UIN Malang angkatan 2015 dengan judul “pelaksanaan tematik kelas rendah dimadrasyah ibtida’iyah Negeri Model Banyuajuh kamal bangkalan”
Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Rudatul Janah dengan penelitian ini adalah subjek penelitian dan objek penelitian pada proses pelaksanaan pembelajaran tematik pada tingkat pendidikan dasar serta menggunakan metude deskripsi kualitatif jenis study kasus
Perbedaan pada penelitian yang dilakukan oleh Raudatul Janah terfokus pada peleksanaan pembelajaran temtik pada kelas awal dan lokasi penelitian pada penelitian Rudatul Janah yang dilakukan di MI Negeri Banyuajah Kamal Bangkalan. Sedangkan penelitian berfokus pada problematika sistem belajar tematik pada siswa kelas IV dI Mi Al-Ma’arif Nu Sinah.
11 3. Nur Khasanah Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah UIN Malang angkatan 2015 dengan judul “ problemetika pembelajaran Tematik Kelas 1 MI Khadijah Malang”.
Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Nur Khasanah dengan penelitian ini adalah objek peneletian pada tingkat pendidikan dasar dan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif
Perbedaan pada penelitian yang dilakukan oleh Nur Khasanah dengan penelitian ini terfokos pada problematika pembelajaran tematik dikelas 1 dan lokasi penelitian Nur Khasanah dilakukanhasanah dilakukan di MI Khadijah Malang. Sedangkan peneliti terfokus pada problematika sistem belajar tematik pada siswa kelas IV dI Mi Al-Ma’arif Nu Sinah.
F. Kerangka teori
1. Pembelajaran Tematik
a. Pengertian pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai fokus utama dan pembelajaran tematik menekankan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran.8 Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa yang di dalamnya mencakup berbagai tema yang disusun berdasarkan muatan mata pelajaran yang disatukan, pada pembelajaran tematik.
Peserta didik dituntut menjadi aktif dan diarahkan untuk rajin bertanya kepada guru bila ada kesulitan pada materi pembelajaran.
8 Faisal, Stelly Martha Lova, Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar, (Medan: CV Harapan Cerdas, 2018), hlm. 23.
12 Pembelajaran tematik juga merupakan program pembelajaran yang berangkat dari satu tema/topik tertentu dan kemudian dielaborasi dari beberapa aspek atau ditinjau dari beberapa perspektif mata pelajaran yang biasa diajarkan di sekolah.9 Pada buku yang ditulis oleh kadir dkk menjelaskan bahwa pembelajaran tematik merupakan gabungan antara berbagai bidang kajian; misalnya bidang IPA, matematika, pendidikan agama, IPS, dan lainnya, maka pelaksanaanya tidaklah pisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan (holistic) dan keterpaduan (integralistic), hal ini dapat memberikan implikasi terhadap guru yang mengajar di kelas.
Menurut DEPDIKNAS pada buku yang di tulis oleh trianto mengatakan bahwa pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi peserta didik, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.10 Diungkapkan dalam peraturan pemerintah No 32 tahun 2013 pasal 19 ayat 1 bahwa, proses pembelajaran pada suatu pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, kreativitas, dan kemandirian sebagai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” Kemudian secara lebih spesifik
9 Kadir, ABD & Hanun Asrohah, Pembelajaran Tematik, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2014), hlm, 1.
10 Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA &
Anak Usia Kelas Awal SD/MI, ( Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 174.
13 dalam Permendikbud RI No.67 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah pada lampirannya disebutkan bahwa kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola salah satunya sebagai berikut, “pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodicilane) menjadi pembelajaran ilmu pegetahuan jamak (multidiciplanes).” 11
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang pendekatan pembelajaran mengintegrasikan berbagai komponen dari berbagai mata pelajaran ke dalam bidang tema. Pembelajaran tematik juga merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa pada saat proses pembelajaran, pada pembelajaran ini peserta didik dituntun menjadi aktif dan diarahkan untuk rajin bertanya kepada guru bila ada kesulitan pada materi pembelajaran.
b. Tujuan Pembelajaran Tematik
Tujuan pembelajaran tematik adalah untuk memberi kemudahan bagi peserta didik dalam memahami materi yang tergabung dalam tema dan dapat menambah semangat belajar.
Kementerian pendidikan dan kebudayaan mengatakan bahwa tujuan pembelajaran tematik adalah:
1) Peserta didik mudah memusatkan perhatiannya hanya pada satu tema tertentu.
11 Andi Prastowo, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) Tematik Terpadu, ( Jakarta : PRENADAMEDIA GROUP, 2015), hlm. 20
14 2) Peserta didik dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan
berbagai kompetensi mata pelajaran dalam satu tema.
3) Peserta didik lebih paham materi pembelajaran dan berkesan.
4) Dapat mengembangkan keterampilan berbahasa dengan mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman peserta didik.
5) Peserta didik lebih bergairah dalam proses pembelajaran.
6) Peserta didik dapat merasakan manfaat dan makna belajar karena mata pelajaran di sajikan dalam tema yang jelas.
7) Guru dapat menghemat waktu.
8) Budi pekerti dan moral peserta didik dapat berkembang dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti sesuai dengan situasi dan kondisi.12
c. Pentingnya Pembelajaran Tematik di SD/MI
Pembelajaran tematik menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran, pembelajaran tematik menekankan kegiatan peserta didik sebagaai bagian penting untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru. Pembelajaran tematik sangat penting untuk diintegrasikan bagi peserta didik SD/MI agar mereka mampu menjadi peserta didik yangxvv memiliki skill atau kemampuan dalam sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotorik).13
12 Maulana Arafat Lubis, Pembelajaran Tematik Di SD/MI Pengembangan Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru, 2018), hlm.4-5.
13 Maulana Arafat Lubis, Pembelajaran Tematik Di SD/MI Pengembangan Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru, 2018) hlm. 7.
15 d. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai sesuatu model pembelajaran disekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki beberapa karakteristik khusus yang membedakan dengan pendekatan pembelajran lainya. Adapun karakteristik-karaktiristik pembelajaran tematik14 yaitu sebagai berikut:
1) Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered) sesuai dengan pendekatan pembelajarn tematik dimana lebih banyak menekankan siswa dalam proses pembelajaran. Seperti membuat keputusan serta memberikan keluasan kepada siswa untuk dapat aktif dalam proses pembelajran baik secara kelompok maupun secara individu. Pembelajran ini berpusat kepada dikarnakan siswa berperan sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang akan memnerikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktifitas belajar15. Dengan pendekatan pembelajaran tematik diharapkan siswa dapat aktif mencarai, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasi sesuai dengan perkembangan.
2) Memberikan pengalaman langsung
Pembelajarn tematik lebih bermakna jika dapat memberikan pengalam langsung kepada siswa. Pembelajaran tematik dikhususkan
14 Majid, Abdul. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosda Karya.
2014, hlm. 89-90
15Prastowo, Andi .Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP)Tematik Terpadu Implimentasi Kurikulum 2013 Untuk SD/MI, Jakarta: Prenada Media Grup, 2015. hlm. 341
16 untuk melibatkan siswa secara langsung salam pembelajaran. Dengan pengalam lanmgsung ini, siswa dihadapkan pda sesuatu yang nyata (konkret) atau fakta yang pernah yang dia alaminya sebagai dasar untuk memahami ha-hal yang lebih abstrak.16 Guru lebih banyak bertindakl sebagai fasilator yang membimbimg yang kearah tujuan pembelajaran yang di ingin dicapai.
3) Pemisah mata pelajaran tidak begitu jelas
Pemisah bidang pengembangan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Siswa dapat memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang tersendri atau terpisah-pisah. Sehingga memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena pembeljaran dari segala sisi yang menyeluruh tanpa terpisah. Focus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema- tema yang paling dekat berkaitan drngan kehidupan dan pengalaman siswa.17
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik megkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang akan membentuk semacam jalinan penghubung antar pengetahuan yang dimiliki siswa, sehingga berdapak dari materi yang dipelajarinya. Pembelajarn tematik menyajikan konsep-konsep
16Prastowo, Andi .Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP)Tematik Terpadu Implimentasi Kurikulum 2013 Untuk SD/MI, Jakarta: Prenada Media Grup, 2015, hlm. 341
17Prastowo, Andi .Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP)Tematik Terpadu Implimentasi Kurikulum 2013 Untuk SD/MI, Jakarta: Prenada Media Grup, 2015, 2015, hlm.342
17 dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajarn. Dengan demikian, siswa mampu memahsmi konsep-konsep secara keseluruhan.18 Diharapkan akan berdampak pada kemampuan siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari hari secara nyata.
5) Bersifat luwes (fleksibel)
Pembelajaran tematik bersifat luswe (fleksibel) dimana guru dfapat mengkaitkan bahan ajar dari suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, bahkan guru dapat mengkaitkan dengan kehidupan nyata siswa dengan lingkungan dimana siswa sekolah bdan berada.
6) Lebih memperhatikan proses dari pada hasil
Karena proses akan memberikan makna yang akan lebih bertahan dari pada hasil yang mereka dapatkan. Dari proses ini siswa akan mudah memahami konsep pembelajaran dan akan bertahan lebih lama.
7) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenakanan Pembelajaran yang menarik adalah pembelajara dimana siswa dapat bermain sambil belajar yang sesuai dengan karakter siswa yang usinya masih sekolah dasa, dimana siswa lebih suka pembelajaran yang lebih santai tetapi bermakna. Pembelajaran tematik mengadopsi prinsip belajar PAKEM yaitu pembelajaran yang akrif, kreatif dan menyenangkan.
18 e. Prinsip-prinsip Pembelajaran tematik
Adapun prinsip-prinsip pembelajaran tematik antara lain:19
1) Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak bidang studi.
2) Tema harus bermakna, artinya tema yang dipilih harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya.
3) Tema yang dikembangkan hari mampu mewadahi sebagian besar minat siswa.
4) Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psiologi anak.
5) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan pristiwa yang actual dalam kehidupan siswa.
6) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat
7) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan ketersedian sumber belajar.
f. Landasan-landasan Pembelajaran Tematik
Dalam setiap pelaksanaan pembelajaran tematik di Sekolah Dasar, seorang guru harus mempertimbangkan banyak faktor. Selain karena pembelajaran itu pada dasarnya merupakan impementasi dari kurikulum yang berlaku, juga selalu ada landasan-landasan yang kuat dan
19 Hilda Karli dan Oditha R. Hutabarat, loc.cit
19 didasarkan atas hasil-hasil pemikiran yang mendalam. Landasan- landasan pembelajaran tematik mencukup sebagai berikut.20
1) Landasan filosifi dalam pembelajaran tematik sangat dupengaruhi oleh tiga aliran yaitu, progresivisme, kontruktivisme dan humanism.
2) Landasan pisikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikoligi perkembangan peserta didik dan pisikiologi belajar pesertadidik
3) Landasan yuridis yaitu landasan ini berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang endukung pembelajaran teatik di Sekolah Dasar. Dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannnya sesuai dengan minat bakatnya (pasal 9). Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidika sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V pasal 1-b).
g. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Pelaksanaan pembelajaran tematik dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu:
1) Perencanaan
20 Akhmad Sudrajad. http:// akhmadsudrajad.wordpress.com/2008/07/13 pembelajaran- tematik-dikelas-awal-sekolah-dasar/, diakses 27 juni 2013 jam 16.15 wib
20 Ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam merancang pembelajaran tematik yaitu: pelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran, memilih tema yang dapat menyatukan setiap kompetensi, membuat matriks hubungan kompetensi dasar dan tema, membuat pemetaan pembelajaran, membuat silabus dan rencana pembelajaran.
2) Penerapan pembelajaran tematik
Guru melaksanakan pembelajaran tematik sesuai dengan rencana yang telah di susun. Pada saat pelaksanaan pembelajaran tematik guru perlu sarana dan prasarana yang memadai agar proses pelaksanaan pembelajaran tematik berjalan dengan baik.
3) Evaluasi pembelajaran tematik
Dalam pembelajaran tematik evaluasi yang di fokuskan adalah evaluasi proses dan hasil. Evaluasi proses diarahkan pada tingkat keterlibatan, minat dan semangat peserta didik dalam proses pembelajaran. Sedangkan evaluasi hasil di arahkan pada tingkat pemahaman dan sikap peserta didik terhadap materi dan manfaatnya bagi kehidupan peserta didik sehari-hari.21
2. Problematika Pembelajaran
Setiap pembelajaran pastinya selalau mengalami yang namanya problem atau masalah, tidak semua pembelajaran itu sempurna nama yang mendekati sempurna itu banyak. Problematika adalah suatu massalah yang
21 Faisal, Stelly Martha Lova, Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar, (Medan: CV Harapan Cerdas, 2018), hlm. 126-128.
21 timbul dan masalah harus diselesaikan. Problem dalam proses pembelajaran yang ditelusuri dan dan dicari apa penyenyebab terjadinya problem tersebut. Pembelajran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, untuk memperhitung kejadian-kejadian ekstrem yang berperan terhadap rangkian kejadian yang berlangsung dan di alami siswa. Jika problem dalam pembelajaran dapat diketahui maka akan terjadi prosses belajaran yang lebih lagi.22
Sebagai sebuah proses, pembelajaran dihadapkanh berbagai problem. Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan: “Problematika diartikan sebagai hal yang belum dapat dipecahkan sehingga dapat menimbulkan permasalahan”23. Masalah itu dapat diartiakn sebagai suatu persoalan atau kendala yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kensenjangan antara kenyataan dengan harapan dapat tersekesaikan.
Secara umum, proses pembelajaran dapat dicari dari faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar. Pembelajaran pembelajarn pada hakikatnya adalah proses interaksi antara guru dan siswa, guru dengan guru, dadn siswa dengan sumber belajar. Berhasil atau tidaknya dalam mencapai tujuan pendidikan tergantung pada peroses pembelajaran siswa24. Dalam proses pembelajarn seorang pendidik sebaiknya banyak menguasai berbagai macam stratrgi, model-model pembelajaran dengan
22 Djamarah dan Zain, 2010, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka cipta
23 Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA
JAKARTA: BALAI PUTAKA2002,hlm.276
24Bisri Mustofa,hlm.276.
22 baik dan benar yang sesuai dengan karakter siswa karena dengan adanya penggunaan dan penguasaan beberapa strategi dan model, tujuan pembelajaran akan terlaksana dengan baik sehingga tumbuh minat siswa dalam mengikuti proses pembelajarn. Seorang pendidik sebaiknya menguasai bahan ajar dan menggunakan bahasa yang baik dan benar yang mudah dipahami olah peserta didik, agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Belajar pada dasarnya merupakan usaha mengubah atau meningkatkan potensi siswa tersebut.
Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiaatan dan buakn suatu hasil atau tujuan, belajar bukan hanya meningkatkan akan tetapi mengalami25. Hasil belajar bukan suatu penguasaan melainkan pengubahan tingkah laku peserta didik. Belajar bukan suatu tujaun akan tetapi merupkan suatu proses untuk mencapai tujaun. Dapat ditarik kesumpulan bahwa problematika pembelajaran adalah kendala atau persoalan dalam proses belajar mengajar yang harus dipecahkan agar tercapainya sebuah tujuan pembrlajaran. Adapun factor yang menentukan suatu keberhasilan pembelajaran yaitu bahan baku (raw input) intrumen lingkuanan26.
Problematika pembelajaran disebabkan faktor lingkungan pada dasarnya dapat antisipasi dengan berbagi kebijakan sekolah tertentu, terutama yang menerapakan layanan plus, biasanya sudah mengantisipasi
25 Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara 2014, hlm.27
26Bisri Mustofa,hlm. 177
23 faktor-faktor melalui berbagai kebijakan. Dampak lingkungan dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran sehingga proses pembelajaran dapat berjalan sebagaiman mestinya dan materi pembelajarn dapat diserap denagn baik dan benar oleh peserta didik. Pembelajaran tematik atau kurikulum 2013 memiliki tiga tahapan yaitu perencanaan pembelajaran, pelaksanaa pembelajaran dan evaluasi atau penilaian pembelajaran,
a. Perencanaan dan problematika pembelajaran Tematik 1) Perencanaan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran adalah proses yang sistematis tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa perencanaan merupakan pengambilan keputusan mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan. Perencanaan pembelajaran kurikulum 2013 memuat program tahunan, program semester, silabus dan RPP. Sebagai rancangan perencanaan pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013 yaitu:
a) Program Tahunan, program tahunan merupkan rencana penetapan alokasi waktu 1 tahun pembelajaran untuk mencapau kompetensi inti, kompetensi dasar, yang ada dalam kurikulum 2013. Prota berdasarkan kurikulum 2013 merupakan program umum pembelajaran untuk setiap kelas yang dikembangkan oleh guru.
Prota tersebuta sebagai rencana umum pelaksanaan pembelajaran setelah diketahui kepastian jumlah jam pelajaran yang efektif
24 dalam satu tahun, prota perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pembelajaran karena merupakn pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya.
b) Program Semester, program semester merupkan penjabarn dari prota sehingga dari program tersebut tidak bias disusun sebelum tersusunya prota, program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut.
c) Silabus, silabus merupakan rencana pembelajaran pada sutau kelompok mata pelajaran tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok atau pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk peniliaan, penilaiaan alokasi waktu, dan sumber belajar27.
Dalam kurikulum 2013 silabus sudah disiapkan oleh pemerintah baik unuk kurikulum nasional maupun kurikulum wilayah, hal ini menandakan pelaksanaannya guru hanya tinggal mengmbangkan rencana pembelajaran, pernyatan tersebut menandakan bahwa silabus perlu dipahami sebelum membuat RPP karena pada dasarnya RPP dikembangkan berdasarkan rumusan silabus yang ditetpakn oleh pemerintah28.
27Majid, Abdul , pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2014, hlm.108
28Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung:PT Rosda Karya, 2013, hlm.181
25 d) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah prosedur dan perorganisasian pembelajaran untuk mencapai suatu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarakan dalam silbus, lingkup rencana pembelajaran paling luas mencakup suatu kompetensi dasar yang terdiri satu atau untuk satu kali pertemuan atau lebih. Adapun komponen pengembangan RPP yaitu:
(1) Mencantumkan identitas
(2) Mencantumkan tujuan pembelajaran (3) Mencantumkan materi pembelajaran
(4) Mencantumkan model atau metude pembelajaran
(5) Mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran (6) Mencantumkan media, alat bahan, dan sumber belajar (7) Mencantumkan penilaiaan
2) Problem Pembelajaran Tematik
Kesulitan dalam membuat perencanaan pembelajran ini merupakan salah satu problem bagi guru yang tidak mmiliki keterampilan mendesain perencanaan pembelajaran tersebut.
Tematik terpadu adalah kesulitan mereka dalam:
a) Menjabarkan kompetensi inti dan kompetensi dasar ke dalam indicator.
26 b) Mengembankan indicator dalam bentuk kata kerja oprisional yang dikembangkan dari kata kerja oprisional pada kompetensi dasar.
c) Melakukan pemetaan terhadap kompentisi dasar lintas mata pelajaran dan melakukan kompetensi dasar dalam bentuk sebuah tema.
d) Menjabarkan indicator menjadi materi pembelajaran.
e) Merumuskan keterpaduan berbagai mata pelajaran pada langkah pembelajaran dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) f) Merumuskan tujuan pembelajaran sesuai materi yang
dijabarkan dari inidikator.
g) Dalam memilih metude pembelajaran yang sesuai dengan materi, kemampuan peserat didik, ketersedia sarana, kondisi dan alokasi waktu.
h) Mengurutkan langkah pembelajaran sesuai dengan tema, metude yang sesuai dengan pembelajaran ilmiah, katateristik mata pelajaran, kemampuan peseta didik, dan kesedian sarana
i) Menjadikan alat peraga murah, sederhana dan efektif dalam membantu tercapainya proses pembelajaran yang aktif, menyenangkan dan mencapai kompetensi yang ditentukan j) Memilih sumber belajar yang sesuai dari sumber aslinya.
27 k) Melakukan evaluasi yang sesuai denagn materi , karekteristik mata pelajaran dan menggambarkan hasil belajar yang sebenarnya
l) Membuat format penilaian dengan berbagai komponen.29 b. Pelaksanaan dan problem Pembelajaran Tematik
1. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Tahapan ini merupakan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar sebagai unsur inti dari aktivitas pembelajaran dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun dalam perencanaan sebelumnya. Langkah-langkah kegiatan yang ditempuh diterpakan tiga langkah yaitu sebagai berikut30:
a) Kegiatan Awal atau Pendahuluan
Dari kegiatan membuka pola pembelajaran adalah untuk menarik perhatian siswa yang dapat dilakukan dengan cara seperti menyakinkan siswa bahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untuk dirinya, menumbuhkan motivasi belajar siswa yang dapat dilakukan dengan cara seperti membangun suasana akrab sehingga siswa merasa dekat, dan dilakukan dengan cara mengumukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungan dengan pencapian tujuan.
29 Dwi Ramdani Prastianingsih dkk, Jurnal Penelitian Analisis Kesulitan Guru dalam Pembelajaran Tematik di SD Negeri 3 Haji pemanggilan Kabupaten Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013, 4
30Majid, Abdul , pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosda Karya. , 2014, hlm.129-130
28 b) Kegiatan Inti
Merupakn kegiatan pokok dalam pembelajaran dalam kegiatan ini dilakukan pembahasan terhadap tema dan sub tema melalui berbagai kegiatan belajar dengan menggunakan metude dan media sehingga siswa dapat mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna, pada penyajian dan pembahasan guru dalam penyajian hendaknya lebih berperan sebagai fasilator. Guru pada kegiatan inti ini guru harus menggunkan strategi pembelajaran dengan upaya menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa agar siswa aktif mempelajari permasalahan yang berkenan dengan tema atau sub tema dalam proses pembelajaran hendaknya guru selalu memberikan umpan balik pada siswa agar peserta didik mencapai jawaban dari permaslahan yang akan dipelajari.
c) Tahapan Penutup atau Tahapan Penilaian
Tahapan penutup adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakahiri pelajaran. Tahapan penutup ini merupakan tahapan evaluasi atau penilaian dan tindak lanjut dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan tahapan ini untuk mengtahui timgkat keberhasilan dari tahapan-tahapan. Adapun kegiatan yang dilakukan guru pada tahap penutup ini adalah meninjau kembali dan melalukan evaluasi pada akhir ulanagn, selain itu guru dapat menginformasikan kegiatan pembelajaran selanjutnya. Dalam kegiatan meninjau kembali dapat dilakukan dengan menerangkan
29 initi pembelajaran atau membuat ringkasan. Dalam kegiatan ini guru dapat menggunakan pedoman evaluasi.
c. Evaluasi atau penilaian pembelajaran
Dalam kurikulum 2013 sistem penilaian yang digunakan adalah penilaian autentik, penilaian autentik ini sangat cocok dengan pendekatan tematik integrative dalam pembelajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau mata pelajaran yang sesuai. Dalam penilaian autentik guru mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba membangun jejaring dan lain-lain. Penilaian autentik merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian pelaksanaan berkelanjutan, bukti autentik, akurat dan konsisten31. Jenia penilaian autentik yaitu: penilaian proyek, penilaian kinerja.
Portofolio, penilaian jurnal, penilaian tertulis dan non tertulis.
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian.32Apabila dilihat dari sifat data, pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk
31Majid, Abdul , pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2014, hlm. 56
32 Wiratna Sujarweni, Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: PT Pustaka Baru Press, 2014), hlm. 5.
30 meneliti dan memahami perilaku individu dan kelompok, dan fenomena sosial dalam kondisi alamiah sehingga di peroleh data-data deskriptif dalam bentuk lisan atau tulisan33. Adapun jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif jenis deskriptif yaitu berupa kata-kata tertulis maupun tidak tertulis terkait objek penelitian, serta prilaku objek yang diamati sehingga menemukan data sesuai dengan kebenaran yang ada di lokasi penelitian.
Peneliti memilih pendekatan kualitatif karena prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tulisan atau lisan orang- orang yang dijadikan sebagai informan penelitian, serta peneliti ingin memberikan gambaran atau deskripsi yang jelas terkait pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah dan problematika yang dihadapi guru dalam menerapkan sistem belajar tematik di MI Al-Ma’arif NU Sinah. Selain itu, data yang peneliti cari merupakan data-data hasil observasi, wawancara dan dokumentasi.
2. Kehadiran Peneliti
Tujuan utama kedatangan peneliti di lokasi penelitian adalah untuk mendapatkan data yang dibutuhkan.Dalam metode penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen kunci sehingga peneliti melibatkan dirinya dalam kehidupan orang-orang yang menjadi objek penelitian. Dengan demikian peneliti akan mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi pada saat melakukan observasi
33 Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra, Peneltitian Kualitatif, (Lombok: Holistica, 2020), hlm.5
31 Kehadiran peneliti di lokasi adalah sebagai instrumen kunci dengan tujuan untuk mendapatkan data yang valid. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan data-data yang akurat dan sesuai dengan tujuan untuk mendapatkan data-data yang akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian, maka hal-hal yang akan peneliti lakukan di lokasi penelitian adalah sebagai berikut:
a. Melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah serta problematika yang dihadapi guru kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah
b. Melakukan wawancara dengan peserta didik, kepala sekolah dan guru kelas terkait dengan pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah serta problematika yang dihadapi guru kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah
3. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi atau tempat peneliti akan melakukan penelitian, yaitu di MI Al-ma’arif NU Sinah, Desa Pengembur, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
4. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.34 Sumber data diklarifikasikan menjadi 3 tingkatan huruf P dari bahasa Inggris, yaitu person, place, dan paper, keterangan untuk singkatan dari ketiganya adalah sebagai berikut:
34 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2019), hlm. 172.
32 a. Person, yaitu sumber data yang bisa memberikan data berupa jawaban lisan melalui wawancara atau jawaban tertulis.35 Dalam penelitian ini sumber data berupa person ialah guru dan kepala sekolah MI Al-ma’arif NU Sinah.
b. Place, yaitu sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam dan bergerak.36 Dalam penelitian ini sumber data berupa place ialah sistim pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah yang merupakan bagaimana pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV MI Al-ma’arif NU Sinah.
c. Paper, yaitu sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa huruf, angka, gambar, atau symbol-simbol lain.37 Dokumen dalam penelitian ini sumber data paper yang dimaksud berupa pelaksanaan kegiatan pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa kelas IV MI Al-ma’arif NU Sinah..
5. Prosedur Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan prosedur mengumpulkan data yang akan dilakukan peneliti untuk dapat menjawab rumusan masalah dari suatu penelitian. Guna memperoleh data yang valid dari lapangan sesuai dengan kebutuhan data yang diinginkan. Adapun teknik pengumpulan data
35Ibid, hlm. 172.
36Ibid, hlm. 172.
37Ibid, hlm. 172.
33 yang dapat dilakukan untuk mengumpulkan data dilapangan yaitu dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi.38
a. Observasi (pengamatan)
Nasution menyatakan bahwa, observasi adalah salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif. Sebagai salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, observasi merupakan dasar semua ilmu pengetahuan.39 Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi.40 Dalam hal ini peneliti akan melakukan observasi untuk memperoleh gambaran informasi tentang keadaaan dilapangan secara langsung, terutama data tentang sistim pelaksanaan pembelajaran tematik kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah dan Problematika pembelajaran tematik kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah.
Adapun yang dilakukan peneliti sebagai observer dalam penelitian ini yaitu.
1) keadaaan dilapangan secara langsung, terutama data tentang sistim pelaksanaan pembelajaran tematik kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah
2) Problematika pembelajaran tematik kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah.
38 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D, (Bandung:
Alfabeta, 2019), hlm. 224-225
39 Sobry Sutikno & Prosmala Hadisaputra, Peneltitian Kualitatif, (Lombok: Holistica, 2020), hlm. 99
40 Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D, (Bandung:
Alfabeta, 2019), …, hlm. 226
34 b. Wawancara (interview)
Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi dari sumber data atau responden melalui tanya jawab yang dilakukan.41Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan informasi yang akurat terkait objek penelitian yang dilakukan. Selain itu dengan dilakukannya metode wawancara peneliti akan memperoleh data yang berbeda dari beberapa responden yang ada di lingkungan tersebut.
Wawancara dalam penelitian ini adalah peneliti menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan dijawab oleh responden. Adapun dalam penelitian ini wawacara akan dilakukan kebeberapa subjek penelitian diantaranya adalah: Kepala sekolah, guru dan siswa di MI Al-Ma’arif NU Sinah
Adapun jenis data yang diperoleh peneliti melalui metode wawancara adalah apa problematika sisitm pelaksanan pembelajaran tematik kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah dan bagaimana pelakasanaan pembelajaran tematik di MI Al-Ma’arif NU Sinah.
c. Dokumentasi
Menurut Sugiyono dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu yang berbentuk tulisan, gambar, atau karya monumental dari sesorang.42 Dengan dokumentasi ini peneliti gunakan untuk
41Sudaryono, Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Kencana,2016), hlm. 82.
42Ibid, hlm. 176
35 mengumpulkan data seperti, proses pembelajaran siswa di MI Al-Ma’arif NU Sinah dan data-data siswa yang dijadikan sebagai sampel penelitian.
Dalam metode dokumentasi peneliti memperoleh data mengenai objek penelitian yang berupa:
1) Daftar keadaan guru di MI Al-Ma’arif NU Sinah
2) Daftar keadaan peserta didik di MI Al-Ma’arif NU Sinah 3) Data tentang sejarah berdirinya MI Al-Ma’arif NU Sinah 6. Teknik Analisis Data
Dalam analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat dipahami dan temuannya dapat di informasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.43
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan empat komponen dalam analisis data, sebagaimana yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman bahwa aktivitas dalam analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas. Aktivitas dalam analisis data peneliti yaitu:
a. Data Reduction (Reduksi Data)
43Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D, (Bandung:
Alfabeta, 2019). hlm. 244.
36 Dalam penelitian data yang dikumpulkan tentu tidak sedikit dan bervariasi sehingga perlu dilakukan analisis untuk mendapatkan data yang valid melalui analisis reduksi data. Reduksi data merupakan proses merangkum, pemilihan, pemfokusan hal-hal penting dari data yang sudah dikumpulkan.44
Dalam hal ini peneliti akan merangkum apa yang sudah didapat dari berbagai sumber diantaranya: kepala sekolah, guru dan siswa, dari hasil wawancara, hasil observasi, dan dokumentasi yang terkait dengan apa saja problematika sistem pembelajaran tematik kelas IV di MI Al- Ma’arif NU Sinah.
b. Data Display (Penyajian Data)
Display data merupakan tahapan kedua setelah reduksi data.
Melalui proses ini peneliti akan dapat menemukan data yang lebih jelas dan informatif.45 Setelah data dirangkum kemudian melakukan penyajian data terkait dengan masalah penelitian yang ada mengenai problematika sistem pembelajaran tematik kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah.
c. Conclusion Drawing/Vertification
Langkah ketiga dalam analisis data menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti- bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.
Akan tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal yang
44Sugiyono, Metode..., hlm. 338.
45 Ibid, hlm. 141
37 didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan kredibel.46
7. Pengecekan Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan suatu hal yang sangat penting dalam suatu penelitian.Mengingat data-data yang dihasilkan harus dipertanggung jawabkan sesuai dengan yang sesungguhnya terjadi. Ada beberapa jenis pengecekan keabsahan data yang digunakan peneliti diantaranya:
perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, dan triangulasi.
a. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinabungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.47 Dengan meningkatkan ketekunan, maka peneliti maka peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati yang berkaitan dengan hasil penelitian atau dokumen-dokumen yang berkaitan dengan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran tematik di kelas IV di MI Al-Ma’arif NU Sinah.
46Ibid, hlm. 252.
47Ibid, hlm. 272.