• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENDIDIK AKHLAK SISWA DI SMA NEGERI 2 PERCUT SEI TUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENDIDIK AKHLAK SISWA DI SMA NEGERI 2 PERCUT SEI TUAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENDIDIK AKHLAK SISWA DI SMA NEGERI 2 PERCUT SEI TUAN

Safira Khairudina1, Afrahul Fadhila Daulay2, Zahratu Saffanah3, Raihan Ahmad Zikri Lubis4, Khairul Azmi5

1,2,3,4,5

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Corresponding Author: E-mail: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected]4, [email protected]5

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam dalam mendidik akhlak siswa, dan faktor pendukung dan menghambat dalam mendidik akhlak, serta upaya yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajarkan akhlak kepada siswa di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif, yaitu melakukan penelitian dan merangkum temuannya untuk menggambarkan suatu hasil penelitian. Metode observasi, wawancara, dan dokumentasi digunakan dalam proses pengumpulan data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam yang profesional dalam mendidik akhlak siswa di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan berperan aktif sebagai pendidik, pembimbing, fasilitator, komunikator, dan motivator. 1) kegiatan ekstrakurikuler sekolah, 2) apersepsi sebelum pembelajaran, 3) dan kerjasama antara pengajar PAI dengan seluruh warga sekolah, semuanya sangat membantu dalam membina akhlak siswa. Permasalahan yang menghambat dalam membina akhlak siswa adalah: 1) latar belakang siswa, 2) fasilitas sekolah yang belum memadai, dan 3) kurangnya interaksi antara pengajar PAI dengan orang tua atau wali siswa.

Kata Kunci:, Profesionalisme, Pendidikan Agama Islam, Akhlak Siswa

How to Cite : Safira Khairudina, Afrahul Fadhila Daulay, Zahratu Saffanah, Raihan Ahmad Zikri Lubis, Khairul Azmi.

Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mendidik Akhlak Siswa Di Sma Negeri 2 Percut Sei Tuan:

TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 7 (2), 57-69

DOI : https://doi.org/10.52266/tadjid.v7i1.1851 Journal Homepage : https://ejournal.iaimbima.ac.id/index.php/tajdid This is an open acc ess article under the CC BY SA license

: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.

ARTICLE INFO Article history:

Received 15, Agustus, 2023

Revised 06, September, 2023

Accepted 12, September, 2023

(2)

PENDAHULUAN

endidikan agama Islam merupakan mata pelajaran wajib yang diajarkan di sekolah karena pendidikan moral atau dikenal dengan pendidikan nasional merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan moral suatu negara.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, “pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berpengetahuan dan terampil, sehat jasmani dan rohani, mempunyai kemantapan kepribadian, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Jika dicermati, beragam persoalan yang menimpa Indonesia bermula dari kemerosotan integritas moral. Apabila seseorang mempunyai sifat akhlak yang baik, maka sifat akhlak tersebut akan terwujud dalam bentuk sikap dan tindakan yang positif. Masalah ini harus diatasi, dan pendidik harus menerima tanggung jawab atas masalah ini. Guru PAI yang profesional mempunyai peranan penting dalam memberikan pembinaan akhlak dan menjadi wadah terwujudnya cita-cita pembinaan akhlak yang baik pada diri peserta didik.1

Dinamika perilaku siswa SMA menimbulkan banyak permasalahan, salah satunya adanya penurunan moralitas dan interaksi sosial siswa terhadap guru dan sesamanya.

Misalnya, berbicara kurang sopan dengan guru maupun dengan teman sebaya, berpakaian kurang sopan, datang terlambat ke kelas, mendominasi teman-temannya, terlibat dalam kejahatan yang disertai kekerasan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan perilaku-perilaku lain yang kurang terpuji, atau mungkin melakukan perilaku-perilaku lain yang kurang terpuji. Perilaku seperti ini yang dapat merugikan orang lain yang ada disekitarnya maupun dirinya sendiri.

Profesionalisme guru pendidikan agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai moral pada peserta didiknya dengan demikian merupakan hal yang memerlukan penelitian lebih lanjut.2 Hal ini merupakan permasalahan yang harus diatasi dalam kemerosotan moral dan memerlukan keahlian dan profesionalisme seorang guru PAI.

Dalam hal ini, pendidik tidak hanya memberikan ilmu agama tetapi juga menunjukkan kepada siswa bagaimana mengembangkan keimanan, ketakwaan, dan akhlaknya. Begitu pentingnya pendidikan akhlakul karimah pada siswa, Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

اً قُلُخًًْمُهُ نَسْحَأًً ناَيمِإًًَيِنِمْؤُمْلاًًُلَمْكَأ

1 Cecep Darmawan, “IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROFESI GURU MENURUT UNDANG- UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PENDIDIKAN,” Wacana Paramarta: Jurnal Ilmu Hukum 19, no. 2 (31 Oktober 2020): 61–68, https://doi.org/10.32816/paramarta.v19i2.86.

2 Aisyiah Fitri Aulia dan Nur Hidayah, “Peran Guru Profesional Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Siswa di SMA Negeri 1 Polokarto Sukoharjo Tahun Pelajaran 2022/2023”

06, no. 01 (2023).

P

(3)

Terjemahnya :

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad).

Dari hadits diatas dapat dijelaskan bahwa diantara hal yang paling mulia bagi seseorang dihadapan Allah Swt sesudah beribadah dan beriman kepada Allah Swt ialah akhlak yang mulia (akhlakul karimah).

Banyak siswa yang masih memiliki standar moral yang rendah, hal ini menjadi salah satu penyebab pendidikan agama Islam belum berhasil selama ini. Oleh karena itu, pengajar Pendidikan Agama Islam yang profesional sangat penting untuk memaksimalkan dan memfasilitasi pengembangan moral siswa sekolah menengah atas.3 Oleh karena itu, tanggung jawab sebagai pendidik profesional harus mampu dilaksanakan dengan membantu siswa membina akhlak sebagai guru Pendidikan Agama Islam.

Tidak dapat dipungkiri, masih banyak guru yang belum menumbuhkan profesionalismenya secara berkelanjutan. Guru diharapkan terus mengoptimalkan kapasitasnya dalam membimbing siswa, namun mereka juga perlu terus belajar mengenai kekurangan-kekurangan tersebut. Selain itu juga bertujuan agar pendidik mampu membantu peserta didik membina karakter moral semaksimal mungkin. Guru dikatakan profesional jika memenuhi sejumlah prasyarat, misalnya yang berkaitan dengan kesejahteraan jasmani dan rohani.4

Berdasarkan observasi awal di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan, upaya guru dalam mengajar, mendidik, membimbing, dan mengembangkan siswa, khususnya dalam hal mendidik akhlak siswa, maka guru PAI dianggap sebagai teladan bagi siswanya, dintaranya guru PAI mampu memotivasi siswa untuk selalu belajar dan selalu beribadah kepada Allah SWT, dan jika ada siswa yang melanggar peraturan sekolah, guru akan memberikan nasehat dan teguran kepada siswa tersebut.

Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh peneliti, masih banyak siswa di sekolah memiliki akhlak yang kurang baik, dan sering ditemukan siswa yang melanggar peraturan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan seorang guru Pendidikan Agama Islam yang terlatih agar mampu mengembangkan akhlak pada diri siswa. Oleh karena itu, peneliti berusaha untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan penelitian di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis ingin melakukan kajian mengenai Guru Pendidikan Agama Islam yang profesional khususnya dalam mendidik akhlak siswa di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Oleh karena itu, maka penulis membuat penelitian ini dengan judul “Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mendidik Akhlak Siswa Di Sma Negeri 2 Percut Sei Tuan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang”

3 Halimatus Sa’diyah dkk., “Model Research and Development dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 10, no. 1 (19 Juni 2020): 42–73, https://doi.org/10.54180/elbanat.2020.10.1.42-73.

4 Aulia dan Hidayah, “Peran Guru Profesional Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Siswa di SMA Negeri 1 Polokarto Sukoharjo Tahun Pelajaran 2022/2023.”

(4)

METODE PENELITIAN

Penelitian yang digunakan yakni metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menjelaskan fenomena dalam bentuk kata-kata dan tidak menggunakan angka-angka serta tidak menggunakan berbagai pengukuran.5 Pendekatan penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif yaitu penelitian dengan metode menggambarkan suatu hasil penelitian, jenis penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk memberikan deskripsi, penjelasan, juga validasi mengenai fenomena yang tengah diteliti.6

Penelitian ini berusaha mengungkapkan, menggambarkan berbagai kondisi realita mengenai profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam dalam pembinaan akhlak siswa. Tempat penelitian yag akan peneliti gunakan adalah SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan, sedangkan informan dalam penelitian ini yaitu bapak Kumawadi, S.Pd.I guru yang mengampu mata pelajaran PAI pengalaman mengajar sudah 8 tahun dimulai awal dibukanya sekolah ini yakni pada tahun 2015 sampai saat ini. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam pengumpulan data.

PEMBAHASAN

Pengertian Profesionalisme Guru PAI

Menurut Kunandar, profesionalisme berasal dari kata profesi yang berarti suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni seseorang, dalam buku Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Profesi juga dapat didefinisikan sebagai peran atau pekerjaan tertentu yang memerlukan pengetahuan dan kemampuan khusus yang diperoleh melalui pelatihan akademis yang ketat. Profesi adalah suatu pekerjaan atau peran yang memerlukan serangkaian kemampuan tertentu.7 Seorang profesional, menurut H.A.R. Tilaar yakni melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar profesinya; artinya, mereka memiliki keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memenuhi standar tersebut. Para profesional menjalankan bisnis mereka dengan profesionalisme dan bukan amatirisme. Amatirisme adalah kebalikan dari profesionalisme. Melalui pelatihan dan pendidikan, seorang profesional akan secara sadar berusaha untuk terus meningkatkan kualitas pekerjaannya.8 Pendidik yang profesional tentunya mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk secara langsung mengatasi persoalan-persoalan mendasar dalam pendidikan, khususnya pengetahuan dan kemampuan untuk menciptakan dan membimbing proses pertumbuhan yang terjadi

5 Sigit Hermawan, Metode penelitian bisnis: Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif (Media Nusa Creative,t.t.),https://books.google.co.id/books?id=tHNMEAAAQBAJ&lpg=PP1&hl=id&pg=PR2#v=one page&q&f=false.

6Metode Penelitian, 2021 ed. (Cipta Media Nusantara (CMN), t.t.),https://books.google.co.id/books?id=Ntw_EAAAQBAJ&lpg=PR1&hl=id&pg=PR1#v=onepage&q&

f=false.

7Idhar Idhar, “Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Akhlak Mulia Peserta Didik,” TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan 2, no. 1 (5 April 2018): 314–28, https://doi.org/10.52266/tadjid.v2i1.104.

8Husnul Amin, “PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH” 4 (2019).

(5)

pada diri peserta didik dalam menjalani proses pendidikan. Profesionalisme pada hakikatnya adalah dorongan untuk mengembangkan diri menuju realisasi profesional melalui motivasi diri.9

Mukhtar juga mengungkapkan, berikut ini yang termasuk dalam profil profesionalisme kemampuan mendasar: a) Menguasai materi berbasis kurikulum serta penerapannya dalam materi pembelajaran. b) Mampu mengawasi inisiatif pendidikan melalui penciptaan tujuan pembelajaran, penerapan strategi dan protokol pengajaran yang sesuai, dan kesadaran akan keterampilan peserta. c) Mampu mengawasi kelas dan membina lingkungan belajar yang positif. d) Menggunakan bahan atau media pendidikan, khususnya media yang sudah ada sebelumnya. e) Memperoleh penguasaan konseptual dan praktis tentang dasar-dasar pendidikan. f) Mampu mengawasi interaksi selama proses pembelajaran dan menawarkan evaluasi menyeluruh.10

Pembenaran ini menunjukkan bahwa guru adalah pendidik yang berkualitas.

Sikap profesional juga menekankan nilai inisiatif peningkatan kualitas yang berkelanjutan agar siap menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan bidang keahlian seseorang secara kontekstual. Guru profesional juga mengubah budaya menjadi budaya yang menghargai penguasaan pengetahuan, output tinggi, dan kualitas kerja yang kompetitif daripada sekedar meneruskan norma-norma budaya.11 Oleh karena itu, jelas bahwa dedikasi seorang guru untuk meningkatkan keterampilan profesionalnya dan secara konsisten menyempurnakan metode yang mereka terapkan dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik merupakan profesionalisme guru.

Perwujudan guru yang memiliki keahlian baik dalam kemampuan metodologis maupun materi keilmuan yang dikuasainya merupakan tanda kematangan profesional guru. Guru profesional memperoleh pengetahuannya melalui proses pendidikan dan pelatihan yang terencana dan terorganisir dengan cermat.12 Dengan kata lain, individu yang memiliki keterampilan dan pengetahuan unik di bidang pengajaran untuk memenuhi kewajiban dan peran seorang guru dianggap sebagai guru profesional.

Secara umum, professional adalah seseorang yang menerima kompensasi atas pekerjaannya, terlepas dari seberapa baik mereka melaksanakannya. Pekerjaan profesional memerlukan pengetahuan khusus yang hanya tersedia melalui lembaga pendidikan terakreditasi, sehingga memungkinkan para profesional mendasarkan kinerjanya pada pengetahuan yang didukung oleh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, seorang guru memerlukan keterampilan unik yang tidak dapat dimiliki oleh seseorang yang bukan seorang guru.

9 Idhar, “Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Akhlak Mulia Peserta Didik.”

10 Zulmuqim Zulmuqim, “Profesionalisasi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Islam di Sumatera Barat,” Murabby: Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (15 April 2019): 13–21, https://doi.org/10.15548/mrb.v2i1.325.

11 Amin, “PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH,” 2.

12 Nasaruddin Nasaruddin, Syarifuddin Syarifuddin, dan Bustomi Arisandi, “Evaluation Model Of Noble Moral Education For Students In Madrasah,” Al-Insyiroh: Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (26 Maret 2023): 143–67, https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v9i1.6360.

(6)

Guru Profesional dalam Al-Qur’an dan Hadis

Seorang pendidik memegang peranan penting dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, ia harus memiliki berbagai kompetensi sebagai pendidik profesional. Kompetensi guru sangatlah penting; bahkan Al-Quran pun mengakuinya, sebagaimana firman Allah dalam QS AnNisa./4:58 :

ًِبً۟اوُمُكَْتًَنَأًِساَّنلٱًَْيَ بًمُتْمَكَحًاَذِإَوًاَهِلْهَأًََٰٰٓلِإً ِتََٰنََٰمَْلْٱً ۟اوُّدَؤُ تًنَأًْمُكُرُمَْيًَََّللَّٱًَّنِإ

ً ً ََِِْْْلٱل

ًَّنِإًًۗ ٰٓۦِهِبًمُكُظََِيًاَّمَِِنًََّللَّٱًَّنِإ ا يرِصَبًا ًۢ ً

َيَِسًََناَكًََّللَّٱ

Terjemahnya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.

Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa; 58).

Ayat ini memperjelas bahwa Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengerjakan tugas sesuai dengan tingkat keahliannya. Kata makanah pada ayat tersebut aslinya berarti kekuatan penuh untuk mencapai sesuatu, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Al-Mishbah. Dari sini dapat diartikan sebagai keadaan yang memungkinkan seseorang melakukan pekerjaan yang diinginkannya semaksimal mungkin.13 Hal ini juga berlaku bagi pendidik profesional, yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya agar dapat menjadi teladan bagi siswanya dan membantu mereka dalam mengikuti ajaran agama.

Ada beberapa pengamatan penting mengenai profesional yang dapat dilakukan berdasarkan paragraf di atas. Al-amin (dapat dipercaya), alhafiz (mampu menjunjung tinggi amanah), dan al-wafiya (yang menjaga sesuatu dengan baik) merupakan ciri-ciri seorang pendidik yang profesional. Dalam perspektif Islam, seorang pendidik yang mempunyai keahlian dianggap sebagai pendidik profesional. Menurut pandangan Islam, pendidik yang profesional adalah seseorang yang bertindak adil, yaitu seseorang yang secara efektif memberikan hak kepada orang yang berhak atasnya. Peran seorang guru dalam melaksanakan program pendidikan di sekolah sangat penting untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Secara sederhana, dapat dipahami bahwa guru profesional adalah guru yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Ikhlas karena Allah Swt

Niat seseorang dalam mencari dan mengamalkan ilmu hendaknya murni dan diarahkan semata-mata kepada Allah. Inilah salah satu hal yang menuntut perhatian

13Nasaruddin Nasaruddin, “METODE PENGAJARAN DALAM PERPEKTIF Al-QURAN (TINJAUAN Q.S. AN-NAHL AYAT 125),” Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan Voleme 6 Nomor 2 (2022), https://doi.org/10.52266/.

(7)

dan keikhlasan jiwa seseorang. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar /98:

11

ًِّٰٓنِإًْلُق

ًَنيِّْلٱًُهَّلًا صِلُْمًََُّللَّٱًَُْبْعَأًْنَأًُتْرِمُأ ً

Terjemahnya:

Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Azzumar: 11).

Pada ayat di atas memberikan isyarat bahwa sebagai seorang guru hendaknya berbuat ikhlas dalam mengajar dan mengamalkan ilmu yang diperolehnya kepada peserta didiknya.

2. Berilmu

Seorang guru perlu berilmu karena kunci keberhasilan manusia adalah ilmu yang praktis dan keinginan yang kuat untuk memperolehnya. Pengetahuan memungkinkan seseorang memahami haram dan halal, tugas dan tanggung jawab, sopan santun, dan perilaku yang baik. Bagi seorang muslim, ilmu adalah perhiasan yang selalu diperlukan di rumah, di kelas, dan di pasar. Ia juga membutuhkan pengetahuan dalam segala bidang kehidupannya, sosial dan pribadi.14 Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS al-Mujādilah/58:11 sebagai berikut:

ًِفً۟اوُحَّسَفَ تًْمُكَلًَليِقًاَذِإً ۟آٰوُ نَماَءًَنيِذَّلٱًاَهُّ يَََٰٰٓيَ

ً ًْمُكَلًَُّللَّٱًَِِسْفَ يً ۟اوُحَسَْٱلًََِِِلََََٰٰمْلٱً

ً ً ٍتََٰجَرَدًَمْلَِْلٱً ۟اوُتوُأًَنيِذَّلٱَوًْمُكنِمً۟اوُنَماَءًَنيِذَّلٱًَُّللَّٱًِعََْرَ يً۟اوُزُشنٱلًََ۟اوُزُشنٱًَليِقًاَذِإَو

ًريرِبَخًَنوُلَمََْ تًاَِبًَُِّللَّٱَو

Terjemahnya:

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:

"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:

"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah:11).

Ayat di atas menggambarkan perintah untuk meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk terus belajar dimana pun berada, karena Allah akan mengangkat orang yang menuntut ilmu beberapa derajat.

3. Beramal

Pada kenyataannya, menjadi berbudi luhur dan lurus secara moral tidak dapat dicapai hanya dengan pengetahuan saja. Namun, untuk menjadi teladan yang baik, seorang

14 Almaydza Pratama Abnisa, “PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ERA 4.0,” 2022.

(8)

guru harus mempraktikkan ilmunya, seperti memiliki akhlak yang tinggi, seperti menjunjung tinggi kesucian diri, jujur, ikhlas, dan amanah, senang memberi nasehat, menghargai kebaikan orang lain, dan menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuannya.

4. Mengajarkan dan Mendidik

Setelah mempelajari dan menerapkan ilmu, tugas guru selanjutnya adalah menasihati, membimbing, dan mendidik siswa tentang bagaimana mengubah pengalaman negatif menjadi pengalaman positif, sehingga kerugian hilang dan kebahagiaan muncul. Oleh karena itu, guru bagaikan dokter bagi orang-orang tersebut, seperti kata pepatah. Hal ini menandakan bahwa siswa memerlukan bimbingan dan motivasi menuju kebaikan dari orang dewasa. Mendorongnya untuk belajar dan membiasakannya menjadi pribadi yang berakhlak mulia, membantunya mencapai kemuliaan dan meninggalkan kehinaan, menumbuhkan kecintaan terhadap penerapan ilmu, dan membiasakannya beramal. Seorang guru harus waspada terhadap bahaya menyembunyikan informasi dan tidak mengungkapkannya kepada orang lain. Seorang guru harus mendorong orang untuk berbuat baik dan menyelesaikannya, serta memperingatkan mereka terhadap kejahatan dan menjahui segala larangan itu.

5. Bersabar

Kesabaran seorang guru merupakan salah satu sifat yang sangat penting untuk dimiliki, karena dalam proses belajar mengajar menuntut kesabaran darinya karena kelelahan dan beban kerja yang berat. Ketidaksabaran akan menyebabkan ia menjadi bosan dalam menjalankan tugas mengajarnya, sehingga menyebabkan ia kehilangan minat dan motivasi.15 Ia juga tidak akan mampu memenuhi komitmen mengajarnya sesuai dengan standar yang diharapkan. Sesungguhnya guru dan panutan tertinggi umat Islam ialah Rasulullah SAW yang telah bertindak dengan lembut dan penuh kesabaran yang tinggi, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah /2:153 sebagai berikut:

ًَنيِِبََّْٰصلٱًَعَمًََّللَّٱًَّنِإً ًِةَٰوَلَّصلٱَوًِْبَّْصلٱلِبً۟اوُنيََِتْسٱً۟اوُنَماَءًَنيِذَّلٱًاَهُّ يَََٰٰٓيَ

Terjemahnya:

Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(QS. Al-Baqarah; 153) Kompetensi Profesionalisme Guru PAI

Kompetensi inti guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dijabarkan sebagai berikut: Pertama, kompetensi pedagogik, meliputi : penguasaan kurikulum yang relevan dengan bidang pengembangan yang diajarkan; b) penguasaan berbagai teori pembelajaran dan prinsip pembelajaran pendidikan; c) penguasaan ciri fisik, moral, sosial, budaya, emosional, dan intelektual peserta didik; d) memiliki keterampilan yang

15 Abnisa, 16–17.

(9)

diperlukan untuk melaksanakan kegiatan pengembangan pendidikan; e) dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan pendidikan, f) membantu siswa mencapai potensi maksimalnya; g) mempunyai kemampuan berinteraksi dengan peserta didik secara efektif, santun, dan simpatik; h) memiliki kemampuan menilai dan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran; dan i) mampu memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk tujuan pendidikan. dan j) selalu bertindak dengan refleksi untuk meningkatkan standar pengajaran.16

Kedua, kompetensi kepribadian, meliputi: a) bertindak sesuai dengan norma- norma nasional, agama, hukum, dan budaya di Indonesia ; b) menampilkan diri sebagai pribadi yang lurus, jujur, dan dapat menjadi teladan bagi orang lain dan siswa.

Tampilkan diri Anda sebagai individu yang dewasa, bijaksana, berwibawa, dan mantap, yang memiliki etos kerja yang kuat, rasa tanggung jawab yang kuat, kebanggaan menjadi guru, dan rasa percaya diri, serta menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Ketiga, kompetensi sosial, meliputi: a) bertindak tidak memihak, inklusif, dan tidak melakukan diskriminasi berdasarkan faktor seperti gender, ras, agama, penampilan fisik, riwayat keluarga, atau status sosial ekonomi; b) Berinteraksi dengan orang tua, masyarakat, tenaga kependidikan, dan pendidik lainnya secara efisien, simpatik, dan santun. c) Menyesuaikan dengan tempat penugasannya di wilayah Republik Indonesia mana pun yang secara sosiokultural beragam. d) Berinteraksi secara lisan, tertulis, atau melalui cara lain dengan anggota komunitas profesionalnya sendiri maupun dengan profesi lain.17

Kempat, kompetensi professional, meliputi: a) Penguasaan isi, organisasi, gagasan, dan sudut pandang keilmuan yang mendasari mata pelajaran yang diajarkan; b) Memperoleh penguasaan keterampilan dasar dan standar kompetensi mata pelajaran atau bidang pengembangan yang diajarkan; c) Menyediakan sumber daya pendidikan yang diajarkan secara kreatif; d) Selalu mengupayakan profesionalisme dengan berperilaku bijaksana; e) menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk pertumbuhan pribadi dan komunikasi.18

Syarat-syarat Guru Profesional dalam Pendidikan Agama Islam

Menurut Al-Kanadi dalam Abd. Rahman Getteng, kriteria seorang pendidik dibagi menjadi tiga kategori: persyaratan diri sendiri, persyaratan pedagogik, dan persyaratan siswa.

16 Darmawan, “IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROFESI GURU MENURUT UNDANG- UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PENDIDIKAN.”

17 Aulia dan Hidayah, “Peran Guru Profesional Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Siswa di SMA Negeri 1 Polokarto Sukoharjo Tahun Pelajaran 2022/2023.”

18 Nasarudin Nasarudin Evi Fatimatur Rusydiyah, “PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS KELUARGA DALAM PERSPEKTIF ABDULLAH NASHIH ULWAN DI ERA MILENIAL,” Journal of Applied Linguistic and Islamic Education by JALIE is licensed under a Creative Commons Attribution- NonCommercial 4.0 International License. Based on a work at http://ejournal.inkafa.ac.id/index.php/jalie-inkafa. Volume 04, Nomor 01, Maret 2020, JALIE (2020), https://doi.org/10.33754/jalie.v4i01.203.

(10)

1. Syarat yang berkenaan dengan dirinya, meliputi: a) Seorang guru haruslah seorang petapa; b) tidak boleh serakah dalam mengejar kesenangan duniawi; c) tidak boleh mengeksploitasi pengetahuan demi keuntungan pribadi; d) harus menahan diri dari tindakan yang menjijikkan menurut syariah; e) harus menghindari kegiatan yang menyebarkan fitnah; f) harus menjunjung tinggi simbol-simbol Islam; g) harus selalu kuat dan sabar dalam menghadapi kesulitan dan kritik; h) harus selalu mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat; i) harus terus-menerus bekerja keras untuk memperluas pengetahuan mereka.

2. Syarat yang berhubungan dengan pelajaran ya, meliputi: a) Guru hendaknya berpakaian rapi dan bersih; b) Guru hendaknya berdoa agar mereka tidak menyesatkan orang lain; c) Guru hendaknya berdoa sebelum kelas; d) Guru harus selalu berdzikir kepada Allah; e) Guru harus mempunyai mandat ilmiah; f) Guru hendaknya mengajarkan pelajaran sesuai dengan keahliannya; g) Guru harus menjaga ketertiban dalam pertemuan; h) Guru harus bijaksana sepanjang seluruh proses pembelajaran; i) Hendaknya guru menutup kegiatan pembelajaran dengan kalimat wallahua’lam (Allah Maha Mengetahui).

3. Syarat yang berkaitan dengan peserta didik, meliputi: a) Guru hendaknya mempersiapkan pelajaran yang mudah dimengerti; b) Guru harus selalu memenuhi persyaratan; c) Guru harus selalu menyebarkan pengetahuan; d) Guru memotivasi siswa untuk mencari ilmu seluas-luasnya; e) Guru harus adil terhadap semua siswa;

g) Guru harus memperhatikan tingkat perkembangan dan pemahaman siswa; h) Guru harus mengevaluasi kegiatan belajar siswa.19

Namun, memenuhi persyaratan ini membutuhkan waktu lebih dari sekedar membalikkan tangan, dengan membutuhkan ketekunan dan latihan terus-menerus untuk mencapai potensi penuh. Guru yang profesional adalah guru yang sungguh-sungguh menerima tanggung jawab atas pekerjaannya sebagai pendidik, oleh karena itu mereka mempunyai motivasi yang tinggi untuk terus meningkatkan kualitas ilmunya. Selain itu, konsep pendidikan Islam sangat mendorong umatnya untuk senantiasa melakukan proses pembelajaran yang baik dan akurat yang didukung oleh ketekunan dan kesabaran. Kegiatan tersebut sangat membantu guru dalam mencapai hasil pembelajaran yang baik. Dengan demikian, pendidik profesional adalah pendidik yang memenuhi kriteria tertentu, seperti bekerja penuh waktu, memiliki informasi yang dapat digunakan, dan memiliki ilmu yang diperoleh dari lembaga pendidikan.

Upaya Profesionalisme yang dilakukan Guru PAI dalam Mendidik Akhlak Siswa di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan

Berdasarkan wawancara dan pengamatan yang penulis lakukan pada Sabtu, 25 November 2023, upaya yang dilakukan guru PAI SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan dalam meyakinkan peserta didik dengan membina akhlak serta menanamkan nilai-nilai agama sebagai berikut: Pertama, memberikan pemahaman kepada siswa itu secara kontekstual

19 Idhar, “Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Akhlak Mulia Peserta Didik.”

(11)

ataupun dengan cara pengadaan praktek secara langsung kepada anak itu tentang apasih sebenarnya akhlak itu? memberikan pengertian akhlak itu seperti apa? Hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Maka bentuk pelaksanaannya yaitu dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler rohis (Rohani Keislaman) sebagai bentuk pendalaman dalam segi pengetahuan dan proses pembentukan akhlak itu sendiri.

Kedua, melakukan kegiatan apersepsi seperti pembacaan ayat suci al-Qur’an guna sebagai salah satu bentuk menanamkan kecintaan mereka terhadap al-Qur’an. Ketiga, melakukan evaluasi seperti menegur dan memberitahu terkait perlakukan atau kegiatan yang tidak baik yang telah dilakukan siswa-siswi yang bertujuan untuk memperbaiki akhlak siswa-siswi SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan.

Metode yang digunakan guru PAI SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan yakni hanya menggunakan teladan atau pemberian contoh kepada siswa-siswi yang ada disekolah tersebut dikarenakan dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti, menurut bapak Kusmawadi, S.Pd.I keberhasilan membina akhlak siswa menjadi lebih baik atau tidaknya tidak dapat diukur secara langsung dan tidak bisa dilihat dari satu sisi saja sebab akhlak seseorang bisa berubah menjadi lebih baik atas dasar keinginan yang ada pada dirinya sendiri, maka dalam pembinaan akhlak ini guru hanya dapat memberikan contoh dan motivasi serta dorongan agar anak tersebut dapat segera berubah sesuai hati dan keinginannya.

Dalam mendidik akhlak siswa di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan ini guru PAI mengalami berbagai hambatan pertama, dari dalam diri individu atau siswa itu sendiri akibat ketidakharmonisan dalam keluarga maka akan menyebabkan siswa tersebut tidak peduli atau acuh tak acuh terhadap perbaikan akhlak pada dirinya sendiri. Kedua, perhatian kedua orang tua yang kurang maksimal terkait memberikan pemahaman dan penanaman tentang akhlak terhadap anak-anak mereka, serta hambatan ketiga dari kemajuan teknologi. Tidak dapat kita pungkiri bahwa teknologi sangat memiliki peran yang cukup signifikan terhadap perubahaan akhlak, seperti banyaknya siswa-siswi yang kurang menghargai dan memperhatikan guru ketika guru sedang menjelaskan kaena mereka hanya berfokus pada gadget yang mereka punya. Maka, upaya guru pada hambatan ini yakni guru hanya dapat melakukan kegiatan persuasive berupa pendekataan pertemuan langsung kepada murid yang kurang baik dari segi akhlaknya.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti terkait jumlah jam pelajaran pendidikan agama islam yakni sebanyak 3 jam pelajaran, menurut bapak Kusmawadi, S.Pd.I tidak akan cukup karena berdasarkan yang sudah peneliti paparkan diatas juga bahwa perubahan akhlak siswa bisa lebih baik atas kemauan dari individu tersebut. Dan hambatan yang terakhir berupa sarana dan prasana yang kurang mendukung, akan tetapi SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan sudah mengupayakan semaksimal mungkin dalam memfasilitasi terlaksananya kegiatan pembinaan dan mendidik akhlak siswa baik saat pembelajaran berlangsung maupun di luar pelajaran seperti diadakan kegiatan ekstrakurikuler rohis, kegiatan nasyid, tilawah, sedekah bersama, yasinan jum’at, dan kegiatan lain sebagainya sebagai bentuk upaya menanamkan nilai akhlak siswa-siswi SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan.

(12)

PENUTUP

Profesionalisme dan kualitas kerja seorang guru sangat mempengaruhi baik tidaknya pendidikan tersebut. Guru yang bekerja di lembaga pendidikan formal, khususnya yang mengajar Pendidikan Agama Islam, mempunyai peran penting dalam membantu siswanya menjadi manusia yang lebih bermoral. Hal ini terlihat dari seberapa baik kinerja guru dan seberapa bertanggung jawab mereka dalam menanamkan standar moral yang tinggi kepada siswanya. Proses pengajaran dan penanaman akhlak pada peserta didik harus dilakukan secara profesional, karena tugas guru adalah berupaya meningkatkan kualitas akhlak dan pengetahuan peserta didik. Selain itu, seorang pengajar pendidikan agama Islam yang profesional perlu menampilkan dirinya sebagai agen perubahan dengan memahami kewajiban moralnya untuk membentuk karakter moral dan moral. Terdapat berbagai cara guru PAI menggunakan profesionalismenya untuk membantu siswa memperbaiki akhlaknya seperti menjadi teladan, menanamkan kebiasaan, menawarkan konseling, dan menerapkan sanksi atau hukuman. Guru tentu akan menemukan unsur pendorong dan penghambat dalam proses membantu siswa membina akhlak mereka. Maka, upaya yang dilakukan sekolah dalam membantuguru PAI membina akhlak siswa di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan yaitu dengan adanya kegiatan rohani, nasyid, pengajian, sedekah bersama, yasinan jumat, dan acara lainnya, terdapat faktor pendukung guru PAI dalam mengembangkan akhlak siswa, antara lain kegiatan apersepsi, evaluasi dan pemahaman kontekstual. Sementara itu, kurangnya kerjasama antara orang tua dan guru, pengaruh teknologi, dan faktor lingkungan menjadi tantangan bagi guru PAI dalam menanamkan nilai-nilai moral pada siswanya.

DAFTAR PUSTAKA

Abnisa, Almaydza Pratama. “PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ERA 4.0,” 2022.

Amin, Husnul. “PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH” 4 (2019).

Aulia, Aisyiah Fitri, dan Nur Hidayah. “Peran Guru Profesional Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Siswa di SMA Negeri 1 Polokarto Sukoharjo Tahun Pelajaran 2022/2023” 06, no. 01 (2023).

Darmawan, Cecep. “IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROFESI GURU MENURUT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PENDIDIKAN.” Wacana Paramarta: Jurnal Ilmu Hukum 19, no. 2 (31 Oktober 2020): 61–68. https://doi.org/10.32816/paramarta.v19i2.86.

Evi Fatimatur Rusydiyah, Nasarudin Nasarudin. “PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS KELUARGA DALAM PERSPEKTIF ABDULLAH NASHIH ULWAN DI ERA MILENIAL.” Journal of Applied Linguistic and Islamic Education by JALIE is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0

International License. Based on a work at

http://ejournal.inkafa.ac.id/index.php/jalie-inkafa. Volume 04, Nomor 01, Maret 2020, JALIE (2020). https://doi.org/10.33754/jalie.v4i01.203.

Hermawan, Sigit. Metode penelitian bisnis: Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif. Media

Nusa Creative, t.t.

(13)

https://books.google.co.id/books?id=tHNMEAAAQBAJ&lpg=PP1&hl=id&pg=

PR2#v=onepage&q&f=false.

Idhar, Idhar. “Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Akhlak Mulia Peserta Didik.” TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan 2, no. 1 (5 April 2018): 314–28.

https://doi.org/10.52266/tadjid.v2i1.104.

Metode Penelitian. 2021 ed. Cipta Media Nusantara (CMN), t.t.

https://books.google.co.id/books?id=Ntw_EAAAQBAJ&lpg=PR1&hl=id&pg=

PR1#v=onepage&q&f=false.

Nasaruddin, Nasaruddin. “METODE PENGAJARAN DALAM PERPEKTIF Al- QURAN (TINJAUAN Q.S. AN-NAHL AYAT 125).” Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan Voleme 6 Nomor 2 (2022).

https://doi.org/10.52266/.

Nasaruddin, Nasaruddin, Syarifuddin Syarifuddin, dan Bustomi Arisandi. “Evaluation Model Of Noble Moral Education For Students In Madrasah.” Al-Insyiroh:

Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (26 Maret 2023): 143–67.

https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v9i1.6360.

Sa’diyah, Halimatus, Hanik Yuni Alfiyah, Zaini Tamin Ar, dan Nasaruddin Nasaruddin.

“Model Research and Development dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.” EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 10, no. 1 (19 Juni 2020): 42–73. https://doi.org/10.54180/elbanat.2020.10.1.42-73.

Zulmuqim, Zulmuqim. “Profesionalisasi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Islam di Sumatera Barat.” Murabby: Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (15 April 2019): 13–21.

https://doi.org/10.15548/mrb.v2i1.325.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan perpustakaan sekolah dan hubungan hasil belajar geografi siswa SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan adalah siginifikan..

Pengaruh Teknik Kunjungan Lapangan terhadap Kemampuan Menulis Paragraf Deskripsi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan Tahun Pembelajaran 2013/2014,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Kecerdasan Emosional dengan Prestasi belajar biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan Tahun

Hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa secara umum, tipe kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam tingkat Sekolah Dasar di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang tahun

Penelitian saya di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli serdang pertama kali yang saya jumpai adalah pemilik usaha yaitu Ibu Sofi pada hari Sabtu 04 Mei

Kegiatan pendampingan literasi yang kami lakukan di Desa Amplas,Kecamatan Percut Sei Tuan ini menjadi salah satu bentuk upaya yang kami berikan bagi masyarakat dalam

1 STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN AKHLAKUL KARIMAH PADA SISWA DI MTs AMIN DARUSSALAM KECAMATAN PERCUT SEI TUAN SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi

Laporan akhir tentang praktik lapangan di SMP Negeri 1 Percut Sei