PROFIL KEMATANGAN EMOSI MAHASISWA STKIP PGRI SUMATERA BARAT YANG TIDAK TINGGAL DENGAN ORANG TUA
(Studi terhadap Mahasiswa BK Angkatan 2015 dan 2016)
Vioreta Fitriana, Helma, RahmaWira Nita
Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
This research is motivated by the existence of students who do not have emotional maturity that is currently undergoing the lecture and living not with parents. Porpuse of research to describe (1) Able to hold back (2) nalyze critical (3) a more stble mood and calm donw. This type of research is descriptive qualitative. Populatation in this research is all student of BK Force 2015 and 2016 which amounted 1199 people. Sampling using is propotional random sampling technique with sample size 92 people. Data collection tool used is a questionnare.
The tecnique used to analyze the data is percentage technique.
The results of this study reveral that (1) The emotional maturity of the students is seen from the aspect being to hold themselves on suffcient criteria (2) the emotional maturity of students viewed from the aspect of analzing the situation critically is on the criteria enough (3) students emotional maturyty is seen from a more stable mood aspect and begins to clam down on adequate criteria. Based on the finding of this study recomended to the relevant parties is to BK student to be more able to control the emotions well.
Keyword: Emotional Maturity, Able To Hold Back, Critical Analysis, Mood Atmospher
PENDAHULUAN
Usia mahasiswa untuk strata 1 (S1) pada umumnya berkisar antara 18- 25 tahun yang dalam kategori psikologi berada pada masa remaja akhir dan mulai memasuki masa dewasa awal.
Pada masa ini individu masih sering menampakkan ketidakdewasaan, masih terombang ambing dan tergantung kepada orang lain. Pada masa ini individu dituntut untuk mulai hidup mandiri. Individu pada masa ini juga
sudah mulai memiliki pandangan tentang masa depan yang lebih realistis, diwujudkan dengan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Akan tetapi perguruan tinggi yang diinginkan mungkin tidak didapatkan di daerah sendiri, sehingga menyebabkan individu harus merantau.
Hurlock 1977 (Djaali, 2013:48) memberi saran dalam mengatasi emosi, yaitu dengan cara menyembunyikan diri dengan bermain atau berkerja dan
pemahaman dan menyehatkan fisik dan emosi, mengembangkan rasa humor, sekalipun menertawakan diri sendiri, dan menangis untuk membantu melampiaskan diri sendiri.
Menurut Hartinah (2008:80) kematangan emosi pada remaja diawali dengan pengendalian emosi, dan biasanya tercapai kematangan emosional pada akhir masa remaja yang ditandai dengan ciri-ciri kematangan emosi yaitu:
a. Remaja mulai mampu menahan diri, untuk tidak melampiaskan emosinya didepan umum, remaja
mulai berusaha
mempertimbangkan baik buruk akibat yang ditimbulkan, sampai menemukan cara yang tepat dan aman untuk melampiaskan kemarahannya tersebut.
b. Remaja mulai mampu menganalisis situasi dengan kritis, dapat memberikan penilaian terhadap peristiwa atau perlakuan negatif yang diterimanya dengan mempertimbangkan apa hal itu benar/tidak, remaja akan melakukan intropeksi dan koreksi pada diri sendiri sebelum mengoreksi, apakah perlu
ditanggapi dengan marah atau mengakui kesalahan dan kekurangannya.
c. Remaja juga mulai mampu menunjukkan suasana hati yang lebih stabil dan mulai tenang. Pada masa remaja akhir anak sudah tidak mudah lagi untuk dipengaruhi teman atau meniru perilaku orang-orang disekitarnya, semuanya sudah mulai dipikirkan akibatnya.
Emosi
Menurut L. Crow & Crow 1989 (Djaali 2013:37), emosi merupakan pengalaman afektif yang disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, dimana keadaan mental dan fisiologis sedang dalam kondisi meluap-luap, juga dapat diperhatikan dengan tingkah laku yang jelas dan nyata. Menurut Kaplan dan Saddock (Djaali 2013:37) emosi adalah keadaan perasaan yang kompleks yang mengandung komponen kejiwaan, badan, dan perilaku yang berkaitan dengan affect dan mood. Affect merupakan ekspresi sebagai tampak oleh orang lain dan affect dapat bervariasi sebagai respons terhadap perubahan emosi, sedangkan mood adalah suatu perasaan yang
meluas, meresap dan terus-menerus yang secara subjektif dialami dan dikatakan oleh individu dan juga dilihat oleh orang lain. Menurut Goleman1995 (Djaali 2013:37) emosi adalah perasaan dan pikiran khasnya suatu keadaan biologis dan psikologis suatu rentangan dari kecenderungan untuk bertindak.
Kematang Emosi
Menurut Hartinah (2008:80), kematangan emosi pada remaja diawali dengan pengendalian emosi dan bisa tercapai kematangan emosional pada akhir masa remaja. Bila pada masa akhir remaja tidak meledakkan emosinya di hadapan orang lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih di terima, sudah mencapai kematangan emosi. Bukti kematangan emosi lainya adalah mereka menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum beraksi secara emosional, tidak lagi beraksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang belum matang. Mereka tidak menghiraukan segala rangsanganyang dapat menimbulkan ledakan emosi, reaksi emosionalnya yang stabil, tidak berubah-ubah dari suatu emosi atau
suasana hati ke suasana hati yang lain, sebagaimana terjadi pada priode yang lalu.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada tanggal 23 Januari 2017 dengan objek mahasiswa BK yang tinggal di kost, peneliti melihat ada berbagai masalah yang terjadi seperti masalah pribadi yang dialami oleh mahasiswa BK yang tinggal di kost yang pertama kurang bisa menerima kondisi dirinya sendiri dengan mengeluh dan, timbul emosi yang meluap-luap ketika ada masalah dengan teman satu kostnya, sering marah-marah dan menyalahkan orang lain saat dirinya membuat masalah, belum memiliki kemandirian diri dan bergantung kepada orang lain, adanya individu yang tidak bisa menahan emosinya.
Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu mahasiswa BK yang tinggal di kost pada tanggal 27 Januari 2017 terungkap adanya mahasiswa yang kurang perhatian dengan teman satu kostnya cenderung hidup secara individual, kurang bisa menerima kondisi dirinya, lebih sering marah-marah ketika ditegur temannya, tidak mempunyai keteguhan hati
terhadap suatu pilihan, kurang terjadinya hubungan yang harmonis dan menyenangkan di dalam kost, kurangnya sikap saling menghargai, kurang dalam menjalin hubungan sosial dengan teman satu kost.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 8 sampai 15 Desember 2017 di STKIP PGRI Sumatera Barat dengan judul penelitian
“Profil kematangan emosi mahasiswa BK angkatan 2015 dan 2016 yang tidak tinggal dengan orang tua”.
Sesuai dengan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang dikemukakan di atas, maka dalam melaksanakan penelitian ini Penulis menggunakan metode penelitian deskriptif. Yusuf (2007:83), mengemukakan bahwa ”Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematik, faktual dam akurat mengenai fakta- fakta dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara detail.”
Sejalan dengan pendapat di atas, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kematangan emosi
mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat yang tidak tinggal dengan orang tua. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian bersifat populasi terbatas atau definitepopulations (Yusuf, 2007: 183) yaitu semua mahasiswa BK angkatan 2015 dan 2016 STKIP PGRI Sumatera Barat yang tidak tinggal dengan orang tua yang berjumlah 119 orang mahasiswa yang tidak tinggal dengan orang tua.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik proposional random sampling dengan menggunakan teori Taro Yamane (Riduwan 2013:120) dengan jumlah sampel penelitian ini adalah sebanyak 92 orang responden.
Teknik analisis data yang digunakan adalah presentase untuk mengungkapkan aspek yang diteliti.
Rumus yang digunakan adalah teknik analisis presentase yang dikemukakan oleh Sugiyono (2014:89) sebagai berikut: 𝑃 = 𝑓
𝑁𝑋 100
HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, gambaran secara umum profil kematangan emosi mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat dapat diketahui bahwa
kecerdasan emosional dari 92 orang mahasiswa, terdapat 57 orang mahasiswa berada pada kategori matang, terdapat 32 orang mahasiswaberada pada kategori cukup matang, terdapat 3 orang mahasiswa berada pada kategori sangat matang, tidak ada satu orang pun yang berada pada kategori kurang matang dan sangat kurang matang. Jadi dapat disimpulkan bahwa profil kematangan mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat berada pada kategori matang.
Menurut Djaali (2013:47) ketidak matangan emosional dapat ditunjukkan melalui pola - pola respon yang beraneka ragam, yaitu dengan cara menarik perhatian, ucapan yang dibuat-buat, penampilan yang aneh, rasionalisasi (memberikan alasan yang tampak bagus terhadap tingkah lakunya yang tolol dan yang tidak diinginkan oleh orang lain, proyeksi (melempar kesalahan pada orang lain atas kekurangan dan kelemahan sendiri), serta mimpi di siang hari bolong (menolak kenyataan).
Jadi dapat dimaknai bahwa mahasiswa ataupun remaja mulai berfikir secara kirtis dalam menilai sesuatu persolan ataupun suatu kondisi, tidak mudah lagi
terpancing emosi atau sudah mampu mengendalikan emosinya dengan baik sehingga remaja lebih berfikir lagi dalam bertindak ataupun bereaksi terhadap suatu kejadian yang terjadi.
Remaja atau mahasiswa lebih memilih cara yang lebih tepat maupun lebih baik dalam mengekpresikan atau mengeluarkan emosinya sehingga orang-orang disekitarnya lebih bisa menerima dan memahaminya dan tidak lagi menghiraukan segala rangsangan yang dapat menimbulkan ledakan emosi, reaksi emosional yang lebih stabil dan tidak meledak-ledak seperti pada tahap sebelumnya, tidak mudah berubah-ubah dari suatu emosi atau perubahan suasana hati yang lebih mulai stabi tidak mudah goyah dari suasana hati satu kesuasana hati yang lain sabagaimana yang penah ia alami di priode-priode sebelumnya.
Gambaran kematangan emosi dilihat dari beberapa aspek kematangan emosi sebagai berikut :
a. Aspek Menahan Diri
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui profil kematangan emosi mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat dilihat dari aspek menahan diri diketahui
bahwa kematangan emosional peserta didik dari 92 orang mahasiswa, terdapat 46 orang mahasiswa berada pada kategori cukup matang, terdapat 36 orang mahasiswa berada pada kategori matang, terdapat 9 orang mahasiswa berada pada kategori kurang matang, terdapat 1 orang peserta didik berada pada kategori sangat matang, tidak ada satu orang pun yang berada pada kategori sangat kurang matang. Jadi dapat disimpulkan bahwa profil kematangan emosi mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat dilihat dari aspek menahan diri termasuk ke dalam kategori cukup matang.
Ahmad Fauzi 2004, (Marliany 2010:222) mengatakan bahwa perasaan dan emosi memiliki perbedaan, dan keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas batasannya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan emosi bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja, tapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik
pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam).
Jadi dapat dimaknai bahwa kematangan emosi merupakan kemampuan individu untuk dapat menggunakan emosinya dengan baik dan tepat serta dapat menyalurkan emosinya pada hal-hal yang bermanfaat atau positif, dan bukan malah sebaliknya menghilangkan emosi tersebut. Selanjutnya kematangan emosi itu sendiri adalah kemampuan atau kesanggupan seorang individu dalam menanggapi emosi dengan baik dalam menghadapi tantangan hidup yang ringan ataupun berat serta individu tersebut mampu menyelesaikannya. Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan.
Peneliti menemukan bahwasannya remaja banyak memiliki permasalahan seperti bertingkahlaku kasar terhadap temannya ketika sedang emosi, menyalahkan orang lain ketika berbuat salah, dan bertindak spontan tampa memikirkan apa konsekuensinya. Jika prilaku tersebut terus menerus dilakukan akan menimbulkan dampak negatif bagi remaja tersebut, namun sebaliknya jika individu tersebut bisa
mengontrolnya dengan baik maka remaja tidak akan terjerumus pada hal- hal negatif dan akan lebih mampun dalam mengendalikan emosinya.
Untuk meningkatkan kematangan emosi banyak faktor yang bisa mendukung proses terjadinya kematangan emosi itu sendiri seprti faktor lingkungan tempat tinggal yang nyaman dan menyenangkan dapat mempengarauhi kamatangan emosi seseorang.
b. Aspek Menganalisis Situasi Dengan Kritis.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui profil kematangan emosi mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat dilihat dari aspek menganalisis situasi dengan kritis diketahui bahwa kematangan emoional peserta didik dari 92 orang mahasiswa, terdapat 56 orang mahasiswa berada pada kategori cukup matang, terdapat 34 orang mahasiswa berada pada kategori matang, terdapat 1 orang mahasiswa berada pada kategori sangat matang, terdapat 1 orang peserta didik berada pada kategori kurang matang, tidak ada satu orang pun yang berada pada kategori sangat kurang matang. Jadi dapat
disimpulkan bahwa profil kematangan emosi mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat dilihat dari aspek menahan diri termasuk ke dalam kategori cukup matang.
Menurut Ghom Clore, 2002 emosi terbagi menjadi dua kategori, kategori pertama adalah emosi positif atau bisa disebut dengan efek positif. Emosi positif memberikan dampak yang menyenangkan dan menenangkan.
Macam dari emosi positif ini seperti tenang, santai, rileks, gembira, lucu, haru, dan senang. Ketika kita merasakan emosi positif ini kita pun merasakan keadaan psikologis yang positif. Kategori kedua adalah emosi negatif efek negatif. Ketika kita merasakan emosi negatif ini maka dampak yang kita rasakan adalah negatif, tidak menyenangkan dan menyusahkan. Macam emosi negatif diantaranya sedih, kecewa, putus asa, depresi, tidak berdaya, frustasi, marah, dendam, dan masih banyak lagi.
Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan peneliti menemukan bahwasannya remaja memiliki persoalan yaitu remaja bergantung pada diri sendiri, menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan orang lain, dan
merasa iri pada teman yang memilki kelebihan. Dari penelitian yang peneliti lakukan menemukan dampak positif dan negatif bagi remaja yang tidak dapat memiliki kemtangan emosi dampak positif ketika remaja dapat mengendalikan emosinya dengan baik seperti merasa lebih tenang ketika mengadapai sesuatu permasalah berbeda dengan remaja yang tidak dapat mengendalikan emosinya dengan baik remaja akan meluap-luapkan emosinya secara langsung tampa berfikir akibatnya.
c. Aspek Suasana Hati yang Lebih Stabil dan Mulai Tenang.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui profil kematangan emosi mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat dilihat dari aspek menganalisis situasi dengan kritis diketahui bahwa kematangan emoional peserta didik dari 92 orang mahasiswa, terdapat 53 orang mahasiswa berada pada kategori cukup matang, terdapat 35 orang mahasiswa berada pada kategori matang, terdapat 2 orang mahasiswa berada pada kategori sangat matang, terdapat 2 orang mahasiswa berada pada kategori 2 kurang matang, tidak ada satu orang
pun yang berada pada kategori sangat kurang matang. Jadi dapat disimpulkan bahwa profil kematangan emosi mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat dilihat dari aspek menahan diri termasuk ke dalam kategori cukup matang.
Menurut Al-Mighwar (2006:100) kematangan emosi adalah mereka yang menilai situasi secara kritis terlebih dulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang belum matang. Mereka tidak menghiraukan segala rangsangan yang dapat menimbulkan ledakan emosi, reaksi emosionalnya yang stabil, tidak berubah-ubah dari suatu emosi atau suasana hati ke suasana hati yang lain, sebagaimana terjadi pada periode yang lalu. Kematangan emosi itu bisa dicapai bila remaja memperoleh gambaran tentang berbagai kondisi yang dapat mengakibatkan reaksi emosional. Caranya, antara lain membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Sebab, keterbukaan perasaan serta masalah pribadi dipengaruhi oleh rasa aman dalam interaksi sosial dan tingkat penerimaan orang lain terhadapnya.
Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan. Peneliti menemukan bahwasannya remaja langsung meminta maaf ketika berbuat salah, mudah tersinggung dengan ucapan teman, dan diajak teman untuk membenci teman yang lain. Dari penelitian yang peneliti lakukan menemukan dampak positif dan negatif bagi remaja yang tidak dapat memiliki kemtangan emosi dampak positif ketika remaja dapat mengendalikan emosinya dengan baik seperti merasa lebih tenang ketika mengadapai sesuatu permasalah berbeda dengan remaja yang tidak dapat mengendalikan emosinya dengan baik remaja akan meluap-luapkan emosinya secara langsung tampa berfikir akibatnya.
Jadi dapat dimaknai bahwa adanya faktor yang mendukung terjadinya kematangan emosi adalah adanya perubahan pola interaksi degan orang tua, pola asuh terhadap individu sacara tidak langsung akan berbeda ketika seorang individu tinggal dengan orang tuanya dan tinggal berada jauh dari orang tuanya akan susah bagi orang tua mengontrol atau mengawasinya, namun orang tua memberikan kepercayaan
bagi individu tersebut dengan cara tersebut maka individu tersebut mulai mengubah cara berpikir dan berinteraknya.
KEPUSTAKAAN
Al-Mighwar, Muhammad. 2006.
Psikologi Remaja. Bandung:
Pustaka Setia.
Djaali. 2013. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Hartinah, Siti. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Refika Aditima.
Hurlock, Elizabeth B. 2002. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentan Kehidupan.
Jakarta: Erlangga.
Marliany, Rosleny. 2010. Psikologi Umum.Bandung: Pustaka Setia.
Mudjiran.2005. Perkembangan Peserta Didik. Padang: UNP Press.
Riduwan. 2013. Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian.
Jakarta: Alfabeta.
Yusuf, A. Muri. 2007. Metodologi Penelitian. Padang. UNP Press.