• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Sekolah Anti Korupsi SMA Negeri 1 Tigo Nagari

N/A
N/A
Edy Marsal

Academic year: 2024

Membagikan "Program Sekolah Anti Korupsi SMA Negeri 1 Tigo Nagari"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM SEKOLAH ANTI KORUPSI SMA NEGERI 1 TIGO NAGARI

KABUPATEN PASAMAN 2023

DIAJUKANKAN OLEH

TIM PENANGULANGAN BENCANA

SMA NEGERI 1 TIGO NAGARI KAB. PASAMAN

NPSN : 10300827

Alamat Sekolah :

Jalan Kumpulan Padang Sawah Km 4 Tigo Nagari Kab. Pasaman Prov. Sumatera Barat

Email: [email protected] Web: http://www.sman1tigonagari.sch.id

SMA NEGERI 1 TIGO NAGARI KABUPATEN PASAMAN DINAS PENDIDIKAN PROVINSI SUMATERA BARAT

2022

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahiim, Kepala SMA Negeri 1 Tigo Nagari menyatakan bahwa

Nama Program : Sekolah Anti Korupsi 2023 Waktu Pelaksanaan: Januari- Desember 2023

Pelaksana : Tim Penggulangan Bencana SMA Negeri 1 Tigo Nagari

Dinyatakan sebagai kegiatan yang sah dilaksanakan dan segala biaya yang ditimbulkan dibebankan kepada anggaran yang relevan

Disahkan di Tigo Nagari Tanggal Januari 2023

ZULFILDAIRI, S.Pd., M.M.

NIP 19660406 199003 1 007

(3)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan mengucapkan Puji dan Syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kekuatan dan inspirasi kepada kami sehingga Program Sekolah Anti Korupsi SMA Nageri 1 Tigo Nagari dapat diselesaikan.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Kepala SMA Negeri 1 Tigo Nagari yang telah memberikan kepercayaan kepada Tim Penanggulanan Bencana SMA Negeri 1 Tigo Nagari untuk melaksanakan kegiatan ini, semoga kami dapat melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan tujuan kegiatan. Aamiin.

Kami menyadari bahwa penyusunan Program ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnan program ini.

Demikianlah Program ini kami buat, atas bantuan dan kerjasama Bapak/ Ibu Kami mengucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tigo Nagari, 5 Januari 2023 SMA Negeri 1 Tigo Nagari

ZULFILDAIRI, S.Pd., M.M.

NIP 19660406 199003 1 007

(4)

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i

Halaman Pengesahan ... ii

Kata Pengantar... iii

Datar Isi... iv

BAB I Pendahuluan... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Sasaran dan Tujuan Kegiatan... 5

C. Landasan Kegiatan... 7

BAB II Program Sekolah Anti Korupsi... 9

A. Model Kegiatan... 9

B. Waktu dan Tempat Kegiatan... 14

C. Materi Kegiatan... 15

D. Panitia Pelaksana... 15

E. Anggaran Biaya ... 15

BAB III Penutup... 16

A. Simpulan... 16

B. Saran... 16

KEPUSTAKAAN

(5)

BAB I

PENDAHULULAN

A. Latar Belakang

Korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang dihadapi Indonesia saat ini. Tindakan korupsi sudah menjadi hal yang biasa bagi para pemangku jabatan. Proyek Hambalang, BLBI, Bus Trans Jakarta merupakan hasil dari korupsi yang dilakukan oleh pejabat di Indonesia. Kepala daerah merupakan salah satu penyumbang korupsi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya perilaku anti korupsi yang seharusnya tertanam sebagai karakter.

Berdasarkan pemahaman pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana yang diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001, Korupsi adalah perbuatan secara melawan hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara, sehingga dari sini ada beberapa unsur yang harus dipenuhui agar suatu perbuatan dapat dianggap sebagai korupsi, yaitu; 1) Melawan Hukum; 2) Memperkaya diri sendiri/orang lain; 3) Dapat merugikan keuangan/ perekonomian.

Upaya pemberantasan korupsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (1) penindakan, dan (2) pencegahan. Upaya ini akan berhasil jika dilakukan oleh

(6)

pemerintah dengan melibatkan peran serta pendidikan yaitu sekolah (Pratama dan Sumaryati, 2015).

Salah satu upaya preventif untuk pencegahan tindakan korupsi adalah melalui pendidikan anti korupsi yang diintegrasikan dalam semua mata pembelajaran di sekolah. Pendidikan anti korupsi secara efektif bisa diterapkan dalam pendidikan informal seperti dalam lingkungan keluarga, dan pendidikan formal yaitu di sekolah. Namun, sekolah dipandang lebih efektif untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki perilaku anti korupsi (Handoyo, 2009).

Sekolah sebagai sarana penanaman nilai anti korupsi kepada siswa yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa yang bersih dari perilaku korupsi.

Pendidikan anti korupsi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi perilaku korupsi siswa. Pendidikan anti korupsi tidak hanya mengenalkan nilai-nilai anti korupsi tetapi akan dilanjutkan dengan penghayatan dan pengamalan nilai menjadi karakter yang nantinya akan menjadi Moral Action dan menjadi Habituation siswa untuk menjauhi perbuatan korupsi. Dalam pendidikan anti korupsi harus mengintegrasikan tiga domain, yakni domain pengetahuan (kognitif), sikap dan perilaku (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) (Agus dan Delia, 2015).

Dasar hukum mengenai pendidikan antikorupsi terdapat di dalam Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi Diktum kesebelas butir 7 yang isinya : Menteri Pendidikan Nasional menyelenggarakan pendidikan yang berisikan substansi penanaman semangat

(7)

dan perilaku antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan baik formal dan nonformal. Diharapkan pendidikan antikorupsi ini dapat memberikan pembekalan kepada siswa yang dapat ditempuh dengan berbagai cara antara lain melalui Kegiatan pembelajaran, sosialisasi, penetapan peraturan sekolah. Penanaman jiwa antikorupsi bagi siswa bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya serta menanamkan nilai-nilai antikorupsi (Pratama dan Sumaryati, 2015).

Nilai –nilai anti korupsi yang dapat ditanamkan sebagai karakter pada siswa adalah (1) kejujuran, (2) kepedulian, (3) kemandirian, (4) kedisiplinan, (5) tanggung jawab, (6) kerja keras, (7) sederhana, (8) keberanian, dan (9) keadilan.

Jika nilai anti korupsi ini sudah tertanam dalam diri siswa sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari, maka akan tercipta generasi penerus bangsa yang bersih dari perilaku korupsi Pendidikan anti korupsi seharusnya sudah diintegrasikan di seluruh mata pembelajaran yang ada di sekolah.

Namun, fakta yang ditemukan di lapangan bahwa sekolah tidak menerapkan pendidikan anti korupsi dalam proses pembelajaran. Guru tidak mengetahui nilai-nilai anti korupsi yang harus ditanamkan pada siswa.

Pembelajaran hanya terfokus pada materi sesuai dengan bidang masing-masing guru, sehingga masih banyak ditemukan siswa yang memiliki perilaku korupsi seperti tidak disiplin dengan datang terlambat ke sekolah, mencontek ketika melaksanakan ujian dan membolos ketika proses pembelajaran berlangsung.

Implementasi pendidikan anti korupsi harus memuat beberapa unsur pelaksanaan yakni dengan mengintegrasikan ke dalam semua mata

(8)

pembelajaran. Muatan materi yang perlu disampaikan kepada siswa terdiri dari materi yang berhubungan dengan upaya dan peran serta dalam pemberantasan korupsi dengan tujuan pembelajaran agar siswa mampu menjelaskan upaya pemberantasan korupsi dan peran serta siswa dalam memahami nilai-nilai anti korupsi (Asyafiq, 2017).

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah merumuskan nilai-nilai luhur untuk pembangun perilaku anti korupsi. Pemikiran ini dihasilkan dari asumsi bahwa terjadinya tindak pidana korupsi karena tidak konsisten pada nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, etos kerja yang rendah, konsumtif, mandiri, dan mental menerabas. Semua ini akan menimbulkan sikap dan perilaku yang hanya mementingkan jalan pintas. Oleh karena itu KPK mengembangkan nilai- nilai anti korupsi (KPK, 2008).

Implementasi pendidikan anti korupsi di sekolah saat ini masih jauh dari harapan. Siswa masih banyak ditemui terlambat datang ke sekolah, mencontek ketika melaksanakan ujian dan menyelesaikan tugas rumah dari guru. Siswa tanpa sadar telah menunjukkan perilaku korupsi. Guru sebagai suri tauladan juga masih menunjukkan perilaku korupsi karena guru juga terlambat dalam melaksanakan pembelajaran. Ironisnya adalah ketika siswa terlambat datang ke sekolah, maka siswa diberi hukuman sampai jam pembelajaran berakhir, sedangkan ketika guru yang terlambat datang ke sekolah tidak mendapatkan hukuman dari sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi pendidikan anti korupsi belum menyentuh tahap Moral action. Guru belum mampu menjadi panutan bagi siswa dalam menerapkan karakter perilaku anti korupsi.

(9)

B. Sasaran dan Tujuan Program

Sasaran utama pendidikan anti korupsi adalah tumbuhnya budaya integritas di kalangan semua warga sekolah, sehingga semua warga sekolah memiliki kesadaran yang tinggi untuk selalu bersikap jujur, disipilin, tanggung jawab, kerjasama, mandiri, adil, berani, dan peduli terhadap penegakan aturan yang berlaku (Widyastomo, 2013).

Pendidikan Antikorupsi bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda agar berbudaya integritas (antikorupsi) melalui berbagai kegiatan di sekolah termasuk penyelenggaraan manajemen, kegiatan pembelajaran dan pembiasaan agar setiap individu memiliki kemampuan untuk menghindar, menolak, melawan, atau mencegah segala bentuk tindakan kecurangan dan tindakan lain yang mengarah pada tindakan korupsi. Secara khusus, pendidikan antikorupsi bertujuan untuk:

1. Membangun kehidupan sekolah sebagai bagian dari masyarakat melalui penciptaan lingkungan belajar yang berbudaya integritas (antikorupsi), yaitu:

jujur, disiplin, tanggung jawab, bekerja keras, sederhana, mandiri, adil, berani, peduli dan bermartabat (dignity);

2. Mengembangkan potensi kalbu/nurani peserta didik melalui ranah afektif sebagai manusia yang memiliki kepekaan hati dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya sebagai wujud rasa cinta tanah air, serta didukung oleh wawasan kebangsaan yang kuat;

(10)

3. Menumbuhkan sikap, perilaku, kebiasaan yang terpuji sejalan dengan nilai- nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;

4. Menanamkan jiwa kepemimpinan yang profesional dan bertanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa;

5. Menyelenggarakan manajemen sekolah secara terbuka, transparan, profesional, dan bertanggung jawab.

Dalam implementasinya, tujuan pendidikan Antikorupsi disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik dan jenjang pendidikan, PAUD/TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan bentuk lain yang sederajad serta perguruan tinggi. Selengkapnya, tujuan pendidikan Antikorupsi SMP/MTs, SMA/SMK/MA diuraikan sebagai berikut.

“Sebagai kelanjutan dari jenjang sebelumnya, pada tingkat menengah, pendidikan antikorupsi bertujuan untuk membekali peserta didik dalam menuju proses pendewasaan diri secara individu. Sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik yang menginjak masa remaja, hal penting yang menjadi penekanan adalah penyadaran terhadap tanggung jawab sebagai individu agar menjadi warga negara yang baik, amanah, mandiri, sehingga siap untuk dididik menjadi sumber daya manusia yang profesional, serta siap untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Mengutamakan mutu, menghagai prestasi, menjunjung tinggi harga diri namun tetap rendahati, adil/tidak diskriminatif, dan menghargai orang lain dalam membina pergaulan.”

(11)

C. Landasan

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 1;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1, Pasal 36, Pasal 37 ayat (1) dan Pasal 38 ayat (1) dan (2);

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 jo Undang- Undang Nomor 20 tahun 2005 tentang Tindak Pidana Korupsi;

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;

5. Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN);

6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana yang diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001.

7. Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi

8. Instruksi Presiden Nomor 17 tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi;

9. Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2010 tentang Prioritas Pembangunan Nasional 2010;

10.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI);

(12)

11.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Kompetensi Lulusan (SKL);

12.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi (SI) dan Standar Kompentensi Lulusan (SKL);

13.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006;

14.Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah;

15.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru;

16.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan;

17.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian;

18.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses;

19.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 tahun 2009 tentang Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan;

20.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 30 tahun 2011 Tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan.

(13)

BAB II

PROGRAM SEKOLAH ANTI KORUPSI

A. MODEL KEGIATAN

Pendidikan anti korupsi merupakan bagian dari membangun karakter siswa yang seharusnya mampu meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Strategi Guru dalam implementasi pendidikan anti korupsi Pendidikan anti korupsi belum tertuang di dalam Kurikulum Sekolah. Oleh karena itu, masih banyak sekolah yang belum menyisipkan perilaku anti korupsi ketika pembelajaran berlangsung. Strategi pembelajaran dibutuhkan untuk menanamkan perilaku anti korupsi kepada siswa. Model pembelajaran pendidikan anti korupsi dapat dilakukan dengan 3 model yaitu :

(1) Model terintegrasi dalam mata pembelajaran;

(2) Model di luar pembelajaran melalui kegiatan ekstrakurikuler; dan

(3) Model pembudayaan/pembiasaan

Nilai dalam seluruh aktivitas siswa (Suracmad, 2009). Strategi pembelajaran yang dapat diterapkan guru dalam menanamkan karakter anti korupsi adalah dengan memberikan experiental learning yang mana tahapan dalam strategi ini adalah (1) Concrete Experience dengan melibatkan siswa sepenuhnya dalam pengalaman dengan menjelaskan contoh-contoh perilaku korupsi; (2) Reflective Observation (Watching) siswa diajak untuk mengamati

(14)

dalam perspective yang berbeda; (3) Abstract Conceptualization (Thinking) siswa melakukan analisis logis dari gagasan dan bertindak sesuai dengan pemahaman pada suatu situasi; (4) Active Experimentation (Doing) siswa mengambil keputusan dan implikasi dari konsep korupsi (Suyanto, 2005).

Media yang dapat digunakan guru dalam menerapkan pendidikan anti korupsi adalah table angka korupsi, video tentang korupsi yang, media ular tangga korupsi, dan media lainnya yang saat ini sudah bisa diunduh di media sosial Komisi Pemberantasan Korupsi. Sekolah juga bisa membentuk kegiatan yang mampu menumbuhkan perilaku anti korupsi siswa, contohnya adalah warung kejujuran untuk memantau karakter jujur pada siswa. Guru dituntut untuk memiliki kreativitas dalam menerapkan dan menanamkan nilai-nilai anti korupsi.

Pembiasaan perilaku guru sebagai suri tauladan yang sangat dibutuhkan oleh siswa agar siswa bisa meniru apa yang dilakukan oleh guru, diantaranya tepat waktu masuk dan keluar dari kelas, bersikap adil kepada siswa, bersikap jujur kepada siswa mengenai keilmuan, dan bertanggung jawab terhadap materi pembelajaran. Jika guru tidak bisa menjawab pertanyaan dari siswa maka guru harus mengakui dan jangan sembarangan menjawab pertanyaan dari siswa (Gurning, et.al., 2014). Pendidikan anti korupsi dapat dimulai dari hal yang sederhana yaitu dengan cara menunjukkan perilaku anti korupsi dan membiasakan siswa untuk berani menegur jika terdapat tindakan salah dari guru dan temannya, serta ketika siswa menegur guru ketika guru salah, maka sebaiknya guru menerima dengan lapang dada atas kesalahan yang telah diperbuat.

(15)

Fenomena yang terjadi saat ini adalah banyaknya guru yang merasa dirinya benar ketika mereka melakukan hal yang salah, dan dengan sikap seperti ini, maka siswa juga meniru tindakan guru ketika mereka melakukan kesalahan.

Pembelajaran jangan hanya menekankan pada hafalan saja, namun siswa harus dibiasakan untuk mengambil tindakan dan keputusan yang telah dilakukan oleh siswa. Guru juga sebaiknya memberikan materi ke dalam persoalana yang sedang dihadapi saat ini, agar siswa mampu memandang masalah dari perspective yang berbeda sehingga akan menumbuhkan sikap kritis dan mampu berpikir secara logika agar daya kreatif berpikinya berkembang (Wibowo, 2013).

Hambatan dalam implementasi pendidikan anti korupsi Pendidikan anti korupsi tidak mudah diterapkan di lingkungan sekolah dan materi pembelajaran, karena menanamkan karakter tidak mudah. Butuh waktu dan strategi pembelajaran yang sesuai agar dihasilkan siswa yang memiliki perilaku anti korupsi. Dalam proses penerapan pendidikan anti korupsi, guru memiliki hambatan ketika mengintegrasikan dalam mata pembelajaran. Hambatan yang dialami dalam implementasi pendidikan karakter adalah kurangnya pengetahuan guru mengenai perilaku anti korupsi dan guru belum bisa menjadi teladan bagi siswa. Belum adanya ketersediaan program dari sekolah dan guru untuk membentuk karakter perilaku anti korupsi pada siswa.

Kunci keberhasilan dalam menanamkan perilaku anti korupsi adalah guru dapat menjadi contoh bagi siswa. Guru menuliskan karakter yang akan dicapai dalam setiap materi pembelajaran dalam RPP, tetapi dalam pelaksanaannya, guru tidak berusaha untuk menanamkan karakter tersebut. Guru cenderung

(16)

hanya memenuhi kewajiban administratif dalam pelaksanaan pembelajaran dan tidak ada sinkronisasi dalam pelaksanaan di dalam kelas. Hambatan selanjutnya adalah guru tidak mampu memilih materi yang bisa diintegrasikan dengan perilaku anti korupsi sehingga suasana pembelajaran tidak menarik bagi siswa.

Guru belum mampu membangkitkan motivasi siswa untuk mengurangi perilaku anti korupsi, sehingga 20 masih banyak siswa yang menunjukkan perilaku korupsi ketika di sekolah (Agus dan Delia, 2015).

Kurangnya sosialisai dan pelatihan merupakan hambatan selanjutnya yang dialami oleh guru dalam penerapan pendidikan anti korupsi. Wawancara yang dilakukan kepada kepala sekolah diperoleh bahwa sekolah tidak mengetahui bahwa pendidikan anti korupsi sudah terinterasi dengan semua mata pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak serius untuk memberantas perilaku korupsi (Handoyo, et al., 2010).

Implementasi pendidikan anti korupsi di tingkat sekolah masih jauh dari harapan karena guru tidak serius untuk menanamkan karakter anti korupsi. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk menanamkan perilaku anti korupsi yaitu

(1) menanamkan nilai kejujuran dnegan membiasakan siswa untuk tidak mengambil milik orang lain. Menghargai keras keras siswa yang nilai ujiannya diperoleh bukan dari hasil mencontek dari temannya yang lebih pintar, sehingga siswa merasa senang karena kerja kerasnya dihargai oleh guru;

(17)

(2) menanamkan sifat kesederhanaan, dengan mengajari siswa bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan tidak boleh cemburu dengan milik orang lain;

(3) menanamkan perilaku untuk mampu menghadapi masalah, dan dalam menyelesaikan masalah tidak perlu mencari jalan pintas yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta beri dukungan kepada siswa;

(4) tanamkan perilaku berani dan percaya diri dengan membiarkan siswa untuk belajar dari kesalahannya, guru tidak harus marah ketika siswa melakukan kesalahan, tetapi tanamkan pada diri siswa untuk berani melawan sesuatu yang dianggap salah dan jangan merasa takut untuk melakukan sesuatu yang diyakini benar oleh siswa, contohnya membela teman yang diejek oleh teman yang lain;

(5) memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan siswa;

(6) menanamkan perilaku disiplin, tanamkan pada siswa untuk menghargai waktu dengan tidak datang terlambat ke sekolah dan mengikuti aturan yang sudah diterapkan di sekolah;

(7) menanamkan perilaku keadilan dengan mengajarkan kepada siswa untuk saling berbagi dengan temannya;

(8) menumbuhkan rasa kepedulian, dengan cara menumbuhkan rasa empati kepada orang lain;

(18)

(9) menanamkan perilaku kerjasama dengan menerapkan model pembelajaran Role Play antara guru dengan siswa dengan memberikan permasalaha dan bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut. Nilai integritas ini sebaiknya ditanamkan sejak dini, agar nilai-nilai ini menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun karakter perilaku anti korupsi siswa yang dapat mencegah dan mengurangi tindak korupsi di masa yang akan datang (Agus dan Delian, 2015).

B. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

Waktu dan tempat kegiatan disesuaikan dengan model kegiatan yang ada.

Bagaimana teknis kegiatan dapat digambarkan dalam struktur program berikut:

N O

KEGIATAN TEMPAT WAKTU PELAKSANA

1 Rapat Persiapan 1 Ruang

Kepsek

Januari Kepsek

2 Rapat Persiapan 2

Sosialisasi Guru Ruang Majelis

Guru Januari Kepsek

3 Sosialisasi 1 Siswa Tempat

Kultum Januari Wakasis

4 Sosialisasi 2 Orang Tua Kelas XII IPS Februari Wakasis 5 Materi 1, Pendidikan Anti

Korups Model terintegrasi dalam mata pembelajaran;

Ruang Majelis

Guru Maret Tim

6 Materi 2, Pendidikan Anti Korups Model di luar pembelajaran melalui kegiatan ekstrakurikuler

Ruang Majelis Guru

April Tim

7 Materi 3, Pendidikan Anti Korups Model

pembudayaan/pembiasaan

Ruang Majelis

Guru Mei Tim

8 Evaluasi Ruang

Kepsek

Agustus Tim

9 Tindak Lanjut Ruang November Tim

(19)

Kepsek C. MATERI KEGIATAN

Materi 1, Pendidikan Anti Korups Model terintegrasi dalam mata pembelajaran;

Materi 2, Pendidikan Anti Korups Model di luar pembelajaran melalui kegiatan ekstrakurikuler

Materi 3, Pendidikan Anti Korupsi Model pembudayaan/ pembiasaan

Terdapat tigo materi yang dapat dikembangkan oleh sekolah. Dalam pelaksanaanya tetap mengacu pada Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Antikorupsi Di Satuan Pendidikan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Dan Komisi Pemberatasan Korupsi 2012.

D. Panitia Pelaksana

Panitia pelaksana kegiatan ini melibatkan berbagai unsur sekolah.

N O

NAMA UNSUR JABATAN TUGAS

1 Zulfildairi, S.Pd., MM Kepsek Penangggung Jawab

Manajerial

2 Edy Marsal, S.S. Wakil Ketua Menyusun

Program

3 Wardizal, S.Pd. Wakil Sekretaris 1 Pelaksana

4 Yuliana, S.Pd. Wakil Sekretaris 2 Adminitrasi

dan data 5 Janiar, S.Pd. Guru Mapel Koordinator 1 Materi 1 6 Putri Diana, S.Pd. Pembina

OSIS

Koordinator 2 Materi 2 7 Desy Rozani, S.Pd. Guru PAI Koordinator 3 Materi 3

8 Sy. Dt. Lelo Nan Sati Komite Humas Humas

E. Anggaran Biaya

Anggaran biaya kegiatan ini dibebankan pada sumber dana yang relevan.

(20)

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Implementasi pendidikan anti korupsi belum sepenuhnya diintegrasikan dalam semua mata pembelajaran di sekolah. Guru belum mampu menjadi teladan bagi siswa ketika berada di sekolah dan strategi pembelajaran yang diterapkan guru belum mampu memberikan minat dan motivasi untuk mengurangi perilaku korupsi siswa.

B. Saran

Nilai integritas sebaiknya ditanamkan sejak dini agar nantinya menjadi karakter dan menjadi kebiasaan bagi siswa untuk menghindari perilaku korupsi di masa mendatang.

(21)

KEPUSTAKAAN

Asyafiq. S. (2017). Implementasi Pendidikan Anti Korupsi pada Mata Pelajaran PPKn Berbasis Project Citizen di Sekolah Menengah Atas. Jurnal Civics. Volume 14, Nomor 2.

Agus. S. dan Delia M.V. (2015). Peran Pendidikan Anti Korupsi dalam Rangka Mewujdkan Pembanguna Nasional yang Bersih dari Korupsi. Research and Development Journal of Education. Volume 1, Nomor 2.

Handoyo. E. (2009). Pendidikan Anti Korupsi. Semarang: FIS UNNES dan Widya Karya.

Handoyo, Eko & Tijan. (2010). Model Pendidikan Karakter Berbasis Konservasi, Pengalaman Universitas Semarang. Jakarta: Derektorat Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional.

Gurning. N.L.M., Haris. M. Haryanto. S. (2014). Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Melalui Warung Kejujuran di SMP Keluarga Kudus. Jurnal Teknologi Pendidikan dan

Pembelajaran. Volume 2, Nomor 1.

Surachmad. W. (2009). Pendidikan Nilai nilai Anti Korupsi Untuk Kelas 6 SD. Jakarta: Buku Kompas.

Referensi

Dokumen terkait

Saran untuk peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan produk buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi pada siswa Sekolah Dasar kelas rendah adalah

yang berjudul Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan Anti Korupsi untuk Pembelajaran Membaca kelas III Sekolah Dasar ini dapat terselesaikan

• Pendekatan untuk melaksanakan program anti korupsi dibedakan menjadi 2 (dua) yakni (Haarhuis : 2005), pendekatan dari bawah. (bottom-up) dan pendekatan dari

Tujuan dari pendidikan anti korupsi antara lain: pertama, untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang korupsi baik kepada siswa, kepala sekolah, guru, dan

Implementasi kurikulum pendidikan nilai-nilai anti korupsi di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang meliputi kegiatan belajar mengajar (integrasi nilai-nilai anti korupsi),

Dalam buku ini mengupas tentang Pendidikan Anti Korupsi, yang memberikan edukasi kepada pembaca dan masyarakat pada umumnya untuk mengenal arti korupsi, dampak dari

Artikel ini berjudul Pendidikan Anti Korupsi Untuk Generasi Muda, para generasi muda dapat memiliki sifat anti korupsi, dimana korupsi ini menjadi penyakit yang

Jurnal Pendidikan Tambusai 8612 Implementasi Pendidikan Anti Korupsi pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa di Sekolah Dasar Jihan Humaira1, Dinie Anggraeni Dewi2,