ANALISIS PENGARUH KOMPONEN RGEC TERHADAP RETURN ON ASSETS
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh :
ALFATHAN BAHRUDIN DANI 155020501111030
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2020
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
ANALISI PENGARUH KOMPONEN RGEC TERHADAP RETURN ON ASSETS
Yang disusun oleh :
Nama : Alfathan Bahrudin Dani
NIM : 155020501111030
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan
Program Studi : :
S1 Ilmu Ekonomi Ekonomi Islam
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 30 Juni 2020.
Malang, 30 Juni 2020 Dosen Pembimbing,
Puspitasari Wahyu Anggraeni, SE.,M.Ec.Dev NIP 2014058707032001
Analisis Pengaruh Komponen RGEC Terhadap Return on Assets Alfathan Bahrudin Dani
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Realitasnya dengan beragamnya produk perbankan syariah yang sesuai kebutuhan, namun ketidakstabilan kesehatan bank ditemukan sebagai permasalahan utamanya. Apa yang dikenal dalam sistem perbankan konvensional dengan istilah Net Performance Loan (NPL) sedangkan perbankan syariah mengenalnya dengan Net Performance Finance (NPF), dari kedua faktor tersebut harus diatasi karena kedua faktor tersebut yang menentukan tingkat kesehatan bank.
Urgensi penelitian ini adalah agar dapat melihat proyeksi peningkatan potensi penerimaan negara. Memberikan bukti bahwa manajemen Bank Syariah juga berkualitas dan profesional dalam menjalankan bisnisnya tidak seperti keraguan masyarakat. Mengoptimalkan peran perbankan syariah yang utama yaitu mendukung percepatan pertumbuhan dan pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional. Sekaligus dapat mengukur kemandirian finansial masyarakat dengan upaya peningkatan pemerataan pembangunan.
Pada penelitian ini deskriptif kuantitatif di mana jenis dari penelitian yang mengdapatkan hasilnya melalui syarat berprosedur statistik. Jenis data dalam skripsi ini adalah sekunder di mana diunduh dari website resmi PT Bank Syariah Mandiri yang sudah dipublikasi periode 2012 – 2019 triwulan 1 – 4 kecuali tahun 2019 hanya sampai triwulan 3. Analisis linier berganda yang digunakan. Regresi Linier berganda dipakai untuk memastikan relevansi sebab akibat antara variable terikat.
Hasil penelitian sesuai teori yang menyatakan bahwa Risk Profile yang merendah, maka profitabilitas bank yang semakin tinggi meningkatkan ROA. Profil Risiko ini pun berdasarkan faktor pengelolaan bank yang membaik, Sehingga sudah optimal dalam penerapan manajemen risikonya. Begitu pula dengan GCG, Sejajar dengan teori di mana merendahnya GCG membuat tingginya ranking kualitas pengelola BSM untuk menumbuhkan profitabilitas perusahaan.
Kemudian, CAR sangat erat kaitannya dengan ROA suatu perusahaan di mana company dapat secara leluasa menjalankan roda operasionalnya dengan statejik peningkatan profitabilitasnya melalui penggelontoran modal yang produktif.
Kata kunci: RGEC, Return on Assets, Regresi Linier Berganda LATAR BELAKANG
Kehadiran BUS diantaranya seperti Bank Muamalat, BSM, BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Danamon Syariah, Bank Jatim Syariah dan lainnya. Antusiasme bermunculan perbankan syariah pun diperkuat dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat muslim berkaidah secara Islam dalam bertransaksi, berdasarkan Statistik Perbankan Syariah bulan April dan September 2018 yang mengalami beberapa kenaikan angka. Untuk bulan April 2018 tercatat FDR (Finance to Deposit Ratio) BUS 133,02%, Asset Gross 276, Dana Pihak Ketiga 198, Total Pembiayaan 263. Untuk bulan September 2018 tercatat FDR BUS 132,45%, Asset Gross 278, Dana Pihak Ketiga 202, Total Pembiayaan 267 (OJK,2018).
Pada penelitian kali ini peneliti memilih BSM melihat historinya yang mampu bertahan di tengah krisis ekonomi dan moneter dan menjadi solusi untuk kestabilan ekonomi perbankan di Indonesia. Bank sudah bisa menghasilkan layanan asuransi, pengkreditan, saham, green sukuk, reksadana syariah dan berbagai produk lainnya yang ditawarkan. Bank di Indonesia ada juga yang melakukan usaha agar tetap terjaga stabilitas sistem keuangannya dengan membuka jasa di bidang ekonomi lainnya, contoh di bidang perkebunan, pendaftaran haji, dan sistem keuangan digital (e – commerce).
Realitasnya dengan beragamnya produk perbankan syariah yang sesuai kebutuhan, namun ketidakstabilan kesehatan bank ditemukan sebagai permasalahan utamanya. Apa yang dikenal dalam sistem perbankan konvensional dengan istilah Net Performance Loan (NPL) sedangkan perbankan syariah mengenalnya dengan Net Performance Finance (NPF), dari kedua faktor tersebut harus diatasi karena kedua faktor tersebut yang menentukan tingkat kesehatan bank (Khotibul, 2015:204).
Urgensi penelitian ini adalah agar dapat melihat proyeksi peningkatan potensi penerimaan negara. Memberikan bukti bahwa manajemen Bank Syariah juga berkualitas dan profesional dalam menjalankan bisnisnya tidak seperti keraguan masyarakat. Mengoptimalkan peran perbankan syariah yang utama yaitu mendukung percepatan pertumbuhan dan pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional. Sekaligus dapat mengukur kemandirian finansial masyarakat dengan upaya peningkatan pemerataan pembangunan.
Berdasarkan beberapa penjabaran di atas baik dari latar belakang masalah, studi terdahulu, dan urgensinitasnya sehingga penelitian berjudul “Analisis Pengaruh Komponen RGEC Terhadap Return on Assets (Studi pada PT Bank Syariah Mandiri Periode 2012 – 2019)” perlu untuk diteliti.
KERANGKA TEORITIS Teori Perbankan Syariah
Inti Paradigma pada setiap sistem ekonomi mutlak ada menurut Para Ekonom muslim.
Ekonomi Islam berinti paradigma bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Rabbani dan Insani sebagai sifat dasarnya. Ekonomi Rabbani berdasarkan nilai-nilai Ilahiyah, sedangkan Ekonomi Insani berdasarkan aspek kemakmuran manusia, bila dalam konteks perbankan yakni untuk kemaslahatan nasabahnya.
Beberapa ayat Al-Quran dengan jelas mengarahkan manusia untuk berekonomi dengan tujuan falah dengan cara yang mulia serta bermartabat atau hayyah thayyibah. Empat ayat menunjukkan hal tersebut adalah QS. Al-Baqarah: 168, QS. Al-Maidah: 87, QS. Al-Maidah: 88, dan QS. Al- Jumuah: 10.
Keempat ayat di atas menggambarkan bahwa Islam mengajarkan dan mengarahkan umatnya untuk masuk dalam kerangka norma Islam untuk mencapai kesejahteraan ekonomi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kedua jalan baik dunia dan akhirat diperoleh secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya. Kemudian disambung dengan ketiga ayat berikut yang berkonteks relevan dengan kehidupan falah yaitu QS. Al-Hujuraat: 13, QS. Al-Maidah: 8, dan QS. Asy- Syuaraa: 183.
Ayat-ayat di atas mendeskripsikan Islam dalam bertatanan sosial harus berprinsip pada keadilan karena keuniversalan persaudaraannya. Terbukti dalam ilmu perbankan dikenal dengan istilah pelayanan prima (service excellent) di mana konsumen atau nasabah wajib menemukan keadilan dalam produk perbankan yang dipilihnya kemudian jika terjadi permasalahan akan diajak berunding layaknya sebuah persaudaraan yang diselesaikan dengan jalan kebaikan. Jalan tersebut dipilih perbankan syariah mengingat kesensitifan nilai uang membuat distribusi pendapatan baik dari pihak bank maupun konsumennya harus transparan seperti pada ayat-ayat QS. Al-An’am:
165, QS. An-Nahl: 71, dan QS. Az-Zukhruf: 32.
Ketiga ayat tersebut terlihat sangat masif menyatakan bahwa sebagai muslim wajib mendistribusikan pendapatan dan kekayaan secara adil dan merata agar harta tidak berkutat pada segelintir orang. Hal itu mengingat nikmat Allah SWT yang berhak dirasakan oleh setiap muslim.
Sehingga Islam mutlak telah menciptakan kebebasan muslim untuk mencapai kesejahteraan sosial seperti termaktub dalam dua Quran Surah Ar-Ra’du: 36 dan Lukman: 22. Tauhid, akhlak, dan keseimbangan adalah tiga pedoman Ilmu Ekonomi Islam. Tauhid dan Akhlak tidak ada pada landasan dasar ekonomi konvensional. Prinsip terakhir (keseimbangan) membuat ekonomi konvensional dikritik serta ditinggalkan. (Qardhawi, 2004: Hal. 10)
Berkonteks pada Perbankan Syariah, manajemen Perbankan Syariah dilaksanakan secara agamis serta profesional. Agamis dalam penemuan hakiki hakikat mencari rezeki dan profesional untuk menghadapi kekacauan serta kekuatan sistem kapitalisme dan sosisalisme. Kehadiran Ekonomi Islam diyakini dapat keluar dari jeratan itu. Konsep yang ditawarkan adalah Ekonomi Relijius karena merujuk inti paradigma sehingga dapat disebut sebagai Ekonomi Quran. (Dimyati, 2007: Hal. 3)
Bank Indonesia dalam “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia” (2002) itu stakeholders diberikan pedoman tentang sudut pandang Bank Indonesia mengembangkan perbankan syariah, maka Dewan Syariah Nasional (DSN) pun dapat membuat “Cetak Biru Fiqh Kontemporer” agar mampu menjadi problem solving apapun modifikasi permasalahan keuangan.
Hal itu agar menjadi acuan tatanan hukum islam untuk stakeholders perbankan syariah agar meminimalkan perbedaan signifikan pengertian (Abdullah, 1995: Hal. 227)
Tuntutan di zaman modernitas dan industrialisasi global harus menjadikan metodologi ushul alfiqh dan qawaid al-Fiqhiyyah mampu membaca fakta, data, dan realitas agar tidak lepas dari
landasan utama perbankan syariah. Histori perbankan adalah institusi penyimpanan uangdan penyaluran uang dari yang kelebihan dana kepada yang berkekurangan dana.
Pengertian Perbankan Syariah
Bank Syariah berdasarkan UU Nomor 21 tahun 2008 yaitu bank yang operasional kegiatan usahanya menurut prinsip syariah serta terdiri dari BUS dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Pemahaman perbankan syariah yaitu semua yang bersangkutan dengan bank, lembaga, aktivitas usaha baik cara serta prosenya dari sana terlihat komprehensifnya perbangkan syariah.
Sistem operasional BUS tidak dikendalikan oleh bunga karena itu Bank Syariah dikenal dengan bank tanpa bunga (riba), dapat disebut demikian karena berprinsip syariat Islam (Khaerul,2013).
Bank Syariah merupakan sejalan dengan prinisp dasar ekonomi Islam. Misi ekonomi Islam tidak hanya keuntungan namun berdampak dalam menyejahterahkan masyarakat. Kegiatan pengumpulan dan pendistribusian zakat, infaq, sedekah, hibah, dan wakaf juga dilakukan sebagai salah satu bentuk kontribusi BUS dalam meningkatkan kemaslahatan umat. Apalagi keuntungan BUS disisihkan beberapa persen untuk zakat melalui pembiayaan kebajikan (qardh).
Laporan Keuangan Perbankan
Laporan Keuangan adalah ikhtisar tentang kondisi keuangan suatu company di periode tertentu (Martono dan Agus Harjito, 2003:51). Laporan Keuangan yang telah dibuat manajemen bank yang terkait untuk mempertanggungjawabkan kinerja yang diemban oleh para pemilik perusahaan.
Laporan Keuangan (catatan keuangan yang melaporkan presentasi historis dari suatu perusahaan dan memberikan dasar, bersama dengan analisis bisnis ekonomi untuk membuat proyeksi dan perkiraan untuk masa depan) dapat mengatasi segala kekurangan yang dialami.
Menurut Kasmir (2000:239) bahwa laporan keuangan itu menyerahkan informasi keuangan perusahaan—baik kepada pemilik, manajemen atau pihak luar yang berkepentingan terhadap laporan. Maka, laporan keuangan adalah laporan periodik yang dibangun atas dasar akuntansi yang diterima secara umum tentang status keuangan dari pribadi, asosiasi, atau organisasi bisnis.
Kinerja Kesehatan Keuangan Perbankan
Kinerja suatu perusahaan / perbankan adalah suatu bagian yang penting sebab kinerja mencerminkan kemampuan perbankan memanajemen adanya sumber daya. Sebagai persuahaan berjalan di bidang perbankan bank sangat memiliki upaya untuk menuju kinerja yang baik supaya rasa percaya masyarakat khususnya nasabah senantiasa meningkat dan memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional. Kinerja bank bisa diukur melalui analisis laporan keuangan. Analisa laporan keuangan itu, kinerja keuangan periode sebelumnya dijadikan acuan untuk membuat suatu prediksi dimana posisi keuangan dan kinerja di masa berikutnya. UU No. 10 Tahun 1998 mengenai perbankan menerangkan bahwa bank wajib memelihara kesehatannya. Kesehatan Bank yang mencerminkan keadaan keuangan dan kinerja bank adalah media bagi otoritas pengawas dalam menentukan strategi dan fokus pengawasan terhadap bank. Kesehatan bank pun menjadi kepentingan seluruh pihak pemilik, manajemen, dan nasabah bank.
Menurut Kasmir (2014) bahwa tingkat kesehatan bank di mana kemampuan bank agar melakukan aktifitas operasional perbankan secara normal dan dapat memenuhi kewajibannya dengan baik melalui cara yang sesuai peraturan bank yang berlaku. Tingkat kesehatan bank bila disaksikan dari penghasilan yaitu posisi di mana bank tersebut disebut sehat atau tidak. Laporan keuangan suatu bank mampu menggambarkan keadaan dan kinerja bank tersebut.
Dasar Hukum Penilaian Kesehatan Perbankan
Berdasarkan obyek penelitian (PT Bank Syariah Mandiri) dalam menilai kesehatan bank peneliti menganalisis berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/2011 tanggal 5 Januari dan Surat Edaran OJK No. 10/SEOJK.03/2014 mengenai Penilaian Tingkat Kesehatan BUS dan UUS dari kedua standar operasional prosedur yang lebih tepatnya landasan hukum bahwa komponen dalam proses penilian kesehatan bank bisa disimpulkan sama dan tidak ada perbedaan. Proses penilaian tingkat kesehatan bank.
Profitabilitas
Rasio agar terlihat dasar kemampuan perusahaan memperoleh laba (profit) dari penghasilan (earning) berhubungan dengan penjualan, aset, dan ekuitas dengan pengukuran tertentu. Jenis rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengetahui laba yang didapat dari kinerja pada suatu perusahaan yang berdampak akan catatan atas laporan keuangan yang harus sama dengan standar akuntansi.
Komponen RGEC Risk Profile
Penilaian akan resiko inheren di mana penilaian atas resiko yang menempel pada aktifitas bisnis bank. Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP tahun 2011 ada beberapa ukuran dan indikator resiko berjumlah 8 resiko. Dalam penelitian ini dipilih satu indikator yang dominan.
Bank dapat menggunakan rasio NPL atau NPF (istilah yang digunakan bank syariah) untuk indikator mengasumsikan kelangsungan hidup bank. NPF yaitu perbandingan yang memperlihatkan kemampuan manajemen kredit bermasalah dari keseluruhan kredit yang diberikan bank di mana kolektabilitasnya belum lancar, diragukan, dan macet dari kredit yang diserahkan sepenuhnya yang bisa diukur dengan rumus sebagai berikut,
=PEMBIAYAAN NON LANCAR
TOTAL KREDIT 100%
Sumber: SE OJK 03/2016
Perhitungan NPF diperoleh dari perbandingan kredit (bermasalah) dengan keseluruhan (total) kredit. Kredit bermasalah merupakan kredit pada pihak ketiga bukan bank yang masuk dalam golongan kurang lancar, diragukan, dan macet. Sedangkan, total kredit yaitu kredit pada pihak ketiga (dana pihak ketiga) bukan bank.
Good Corporate Governance
Menilai faktor GCG adalah dengan melihat manajemen bank terhadap prinsip GCG yang dilaksanakan. GCG dalam hal ini adalah pengelolaan bank yang mengaplikasikan prinsip transparasi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independensi, dan kewajiban. Ketentuan pada bank yang berlaku adalah pada tiap bank diharuskan (wajib) melakukan Self Assessment, menyusun laporannya yang berkala (Amir, 2017)
Earnings
Penentuan peringkat pengukuran faktor rentabilitas secara konsolidasi dikerjakan berlandas pemikiran komprehensif (terstruktur) akan indikator rentabilitas terhadap penilaian yang didapatkan dari laporan keuangan baik dalam konsolidasi atau informasi lainnya yang dapat berpengaruh pada permodalan bank. Pengukuran rentabilitas terdiri dari:
Return on Asset (ROA) adalah perbandingan yang dipakai menghitung kemampuan bank mendapatkan keuntungan (relative) dibandingkan akan (total) asetnya. Perbandingan ini menghitung kemampuan company mendapatkan net profit berlandas tingkat asset tertentu diukur dengan indikator sebagai berikut :
= ! " #
RATA − RATA TOTAL ASET 100%
Sumber: SE BI/13/24/DPNP/2011 Capital
Penentuan ranking permodalan bank baik konsolidasi dikerjakan melalui analisis komprehensif (terstruktur) terhadap laporan keuangan bank. Menghitung permodalan ini disebut Capital Adequancy Ratio (CAR). Ranking komposit tingkat kesehatan bank yang telah ditentukan dalam cara ini berlandas pada pemikiran komprehensif (terstruktur) akan ranking tiap factor seperti profil resiko, GCG, rentabilitas, dan modal yang memperlihatkan materialitas serta signifikan setiap faktor (Amir, 2017). Diukur dengan indikator sebagai berikut:
& = ! '
Total ATMR 100%
Sumber : SE BI/13/24/DPNP/2011 Hipotesis
Hipotesis merupakan perkiraan sementara akan permasalahan (objek penelitian) lalu diuji kebenarannya secara empiris. Hipotesis penelitian ini yang dipakai yaitu :
,- : Risk Profile secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap ROA ,. : GCG secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap ROA ,/ : CAR secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap ROA
,0 : Variabel Risk Profile, GCG, dan CAR secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ROA
METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini deskriptif kuantitatif di mana jenis dari penelitian yang mengdapatkan hasilnya melalui syarat berprosedur statistik (Wiratna,2015). Pemilihan deskriptif kuantitatif karena terpusat pada variable. Disini makna dari varibel dalam penelitian bersifat obyektif yaitu pada PT Bank Syariah Mandiri. Metode deskriptif merupakan sebuah cara dalam meneliti
sekelompok manusia, obyek, keadaan, sistem pemikiran, atau kejadian yang terjadi di publik (Sujarweni,2015). Peneliti memiliki tujuan secara deskriptif dengan gambaran yang sistematis, faktual, dan tepat (akurat) tentunya dipercaya, juga relasi antar fenomena yang sedang diteliti.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam skripsi ini adalah sekunder di mana diunduh dari website resmi PT Bank Syariah Mandiri yang sudah dipublikasi periode 2012 – 2019 triwulan 1 – 4 kecuali tahun 2019 hanya sampai triwulan 3.
Metode Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan dokumentasi untuk pengumpulan datanya. Tahapan yang dilakukan peneliti mulai dari mempersiapkan alat atau instrument dokumen, menulis catatan resmi &
obyektif, dan elakukan evaluasi dengan penghitungan berdasarkan metode RGEC.
Dokumentasi merupakan publikasi laporan keuangan tahunan pada PT Bank Syariah (BSM) Tahun 2012 - 2019. Penelitian ini dalam pelaksanaanya peneliti mendapatkan data dari laporan keuangan tahunan (annual report) tahun 2012 - 2019 yang dipublikasikan BSM dalam internal perusahaanya dan studi kepustakaan terkait perbankan khususnya kinerja kesehatan perbankan.
Metode Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis linier berganda yang digunakan. Regresi Linier berganda dipakai untuk memastikan relevansi sebab akibat antara variable terikat. Sehingga, analisis regresi ganda akan dikerjakan jika jumlah variabel independennya setidaknya dua (Sugiyono,2011). Dalam melakukan analisis regresi linier berganda diisyaratkan melakukan uji asumsi klasik menghasilkan regresi yang baik seperti uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heterokedastisitas
Pengujian terhadap hipotesis yang diajukan dilakukan dengan uji signifikansi (pengaruh nyata) variable independen (X) terhadap variable dependen (Y) baik secara parsial dengan uji statistic t (t-test) maupun secara simultan dengan menggunakan uji f (f-test) pada level 5% (a = 0,05).
Estimasi Model
Pada penelitian ini memiliki 4 varibel yang diolah datanya menggunakan analisis yang sudah ditentukan oleh peneliti variabel tersebut diantaranya Risk Profile (X1), GCG (X2), CAR (X3), dan ROA (Y)
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda secara linier menghubungkan antar variable independent (X1, X2,….Xn) dengan variable dependent (Y). Analisis ini memperlihatkan relevansi antar variabel independen dan variabel dependen di mana setiap variabel independen berkorelasi positif atau negatif serta meperkirakan nilai variabel dependen jikanilai variabel independen menaik atau menurun. Data yang dipakai harus berskala interval.
Proses selanjutnya dengan melakukan penelitian kejadian atau variabel dari waktu ke waktu, ditulis detail berdasar waktu, lalu dibuat data statistiknya. Peneliti melakukan pengamatan data sekunder yang diperoleh secara daring resmi PT Bank Syariah Mandiri tahun 2012 – 2019 triwulan 1 sampai 4 kecuali tahun 2019 hanya sampai triwulan 3 dengan rumus persamaan sebagai berikut :
Y = a + b(X) Keterangan :
Y = Nilai trend periode tertentu a = Nilai trend periode dasar
b = Pertambahan trend tahun yang dihitumg (2.32-)
5
n = Jarak waktu antar periode dasar pertama ke dasar kedua x = jumlah unit tahun yang dihitung dari periode dasar
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi bank syariah di Indonesia akhir akhir ini sedang dalam kondisi internal yang kurang baik. Objek penelitian ini dirasa sangat tepat oleh peneliti karena susbtansi bank saat ini sudah seperti supermarket yang bisa menghasilkan banyak produk dan jasa yang memiliki keterkaitan dengan kelancaran arus keuangan pembiayaan dan profitabilitas untuk mendukung kelancaran roda perekonomian.
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Risk Profile 31 2.520 6.890 4.572 1.477
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif
Sumber : Data Diolah,2019 Asumsi Klasik Model Regresi
Pada proses asumsi klasik regresi wajib melakukan pengujian pada data agar terpenuhi pemakaian regresi linier berganda. Pascaperhitungan regresi berganda dengan aplikasi Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) for Windows, dilakukan kegiatan uji asumsi klasik regresi berganda bertujuan untuk melihat pengaruh dari antar variable yang menghasilkan masalah.
Uji Normalitas
Pengujian dikerjakan dengan tujuan melihat nilai residual tersebut normal atau tidak normal.
Berdasar pengukuran didapatkan nilai sig. yaitu 0,170 (tabel 4.2) atau lebih besar dari 0,05; maka ketentuan ,6 yang diterima yakni terpenuhinya asumsi normalitas. Menurut uji Grafik Histogram didapatkan bahwa frekuensi Residual paling banyak mengumpul pada nilai 0 atau nilai penyebaran data sudah sesuai dengan kurva normal maka residual telah terdistribusi normal. Menurut uji P – P Plot didapatkan bahwa titik titk yang tergambar pada gambar diatas bahwa data sudah menyebar mengikuti garis diagonal, maka dikatakan residual telah terdistribusi normal.
Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi ini supaya melihat relevansi antar sisaan berdasarkan waktu seperti data cross section. Koneksi regresi, model regresi linier klasik diasumsikan bahwa tidak ada autokorelasi dalam sisaan (
ε
i). Hal ini memperlihatkan model klasik diasumsikan unsur sisaan yang berkorelasi melalui penelitian tidak disebabkan oleh sisaan yang berkorelasi dengan pengamatan lainnya. Dilihat nilai uji Durbin Watson yaitu 1,655 di mana terletak antara 1.650 dan 2.350, sehingga dikonklusikan asumsi tidak ada autokorelasi sudah terpenuhi.Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas ini memperlihatkan tidak terjadinya korelasi sangat kuat (linier yang tidak sempurna) atau antar variabel bebas tidak berkaitan. Teknik pengukurannya dengan merasiokan nilai Tolarance yang diperoleh dari pengukuran regresi berganda, jika nilai tolerance < 0,1 maka multikolinearitas terjadi. Diperoleh semua nilai tolerance > 0,1 maka bisa dikonklusikan tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas. Uji itu bisa juga dikerjakan melalui merasiokan nilai VIF (Variance Inflation Faktor) dengan angka 10. Apabila nilai VIF > 10 maka akan terjadi multikolinearitas. VIF untuk Risk Profile adalah 2,510, VIF untuk GCG adalah 2,299, dan VIF untuk CAR adalah 1,274. Dari hasil pengukuran itu dikonklusikan tidak terjadi multikolinearitas antar variable bebas. Artinya uji asumsi klasik tidak terdapat multikolinearitas yang bisa terpenuhi.
Uji Heterokedastisitas
Uji Heterokedastisitas agar melihat ketidaksamaan nilai simpangan residual sebab ukuran nilai salah satu variabel bebas atau terdapat perbedaan nilai variasi (ragam) dengan meningkatnya nilai variable bebas. Alur pengukurannya dikerjakan melalui uji Scatter Plot. Berdasarkan pengamatan diperoleh diagram scatterplot terdistribusi dan tidak berpola tertentu sehingga tidak terjadi heterokedastisitas, maka bisa dikonklusikan sisaan memiliki ragam homogen (tidak ada gejala heterokedastisitas). Kecukupan semua asumsi klasik regresi diatas sehingga model regresi linier berganda dalam pengamatan ini layak (tepat).
Uji Hipotesis Uji T
T test dipakai melihat variabel bebas (parsial) memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Jika t hitung > t tabel ( -t hitung < -t tabel), maka signifikan hasilnya dan artinya H0 ditolak dan H1 diterima. Sedangkan, jika t hitung < t tabel (-t hitung > -t tabel), maka tidak signifikan hasilnya dan artinya H0 diteima dan H1 ditolak.
Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Regresi Variabel
Terikat
Variabel Bebas
UnStandardized Coefficients
Standardized
Coefficients (Beta) t Sig. Keterangan
GCG 31 1.000 2.000 1.258 0.445
CAR 31 11.840 16.460 14.428 1.228
ROA 31 0.170 2.560 1.117 0.670
Y
(Constant) 5.306 5.220 0.000
X1 -0.558 -1.230 -7.820 0.000 Signifikan
X2 0.674 0.448 2.973 0.006 Signifikan
X3 -0.172 -0.316 -2.817 0.009 Signifikan
R : 0.857
R Square : 0.734
Adjusted R Square : 0,704
F hitung : 24.812 F tabel : 2.960
Sig. F : 0.000 t Tabel : 2.052
Sumber : Data diolah,2019
Berdasarkan Tabel 4.5 diperoleh bahwa t test antara X1 (Risk Profile) dengan Y (ROA) memperlihatkan hasil yang artinya H0 ditolak dan H1 diterima maka dikonklusikan ROA bisa mempengaruhi signifikan oleh Risk Profile atau meningkatkannya Risk Profile maka ROA akan menurun secara nyata.
Kemudian, t test antara X2 (GCG) dan Y (ROA) meperlihatkan hasil yang artinya berarti H0
ditolak H1 diterima maka dikonklusikan ROA dipengaruhi signifikan oleh GCG atau meningkatkan GCG. Lalu, t test antara X3 (CAR) dengan Y (ROA) memperlihatkan hasil yang artinya H0 ditolak H1 diterima maka dikonklusikan ROA dipengaruhi signifikan oleh CAR (meningkatkan CAR dengan ROA menurun secara signfiikan).
Uji F
Menurut Tabel 4.5 nilai F hitung yaitu 24,812. Sedangkan, F tabel (α = 0.05; db regresi= 3: db residual= 27) yaitu 2,960. Sebab F hitung > F tabel 24,812 > 2,960 atau nilai Sig. F (0,000)<α = 0.05 maka model analisis regresi sudah tepat. Artinya H0 ditolak dan H1 diterima maka dikonklusikan model regresi sudah baik dipakai untuk pendugaan.
Uji Adjusted R2
Supaya dapat melihat besar kontribusi variabel bebas dari Risk Profile (X1), GCG (X2), dan CAR (X3) terhadap variabel terikat (ROA) dipakai nilai adjusted R2. Koefisien determinasi mengukur besarnya pengaruh atau kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari pemikiran Tabel 4.5 didapatkan adjusted R2 (koefisien determinasi) yaitu 0,704. Hal itu berarti 70,4% variabel ROA dipengaruhi oleh variabel bebasnya meliputi Risk Profile (X1), GCG (X2), dan CAR (X3). Sisanya 29,6% variabel ROA dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lain—tidak dibahas dalam penelitian ini.
Selain koefisien determinasi pun terdapat koefisien korelasi yang memperlihatkan besarnya korelasi antar variabel bebas (Risk Profile, GCG, dan CAR) dengan variabel ROA, nilai R (koefisien korelasi) yaitu 0,857, nilai korelasi ini memperlihatkan hubungan antara variabel bebas Risk Profile (X1), GCG (X2), dan CAR (X3) dengan ROA terdapat pada kategori sangat kuat ada di selang 0,8-1,0.
Model Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi ini bisa mengukur besarnya pengaruh antar variabel bebas (Risk Profile (X1), GCG (X2), CAR (X3)) terhadap variabel terikat (ROA (Y)). Memakai SPSS for Windows vesion 21.00 diperoleh model regresi seperti pada tabel 4.5
Persamaan regresi dipakai untuk memperlihatkan bentuk korelasi antar variabel bebas dan variabel terikat. Model regresi yang dipakai yaitu standardized regression, sebab data interval yang pengujiannya mempunyai perbedaan satuan. Pada standardized regression, ukuran variabel telah dipadankan. Persamaan regresi yang diperoleh menurut tabel 4.5 sbb:
Y = -1,230 X1 + 0,448 X2 – 0,316 X3
Berdasarkan persamaan tersebut dijabarkan sbb:
b1 = -1,230 yang artinya ROA akan menurun sebesar 1,230 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X1 (Risk Profile). Jadi jika risk profile meningkat 1 satuan, maka ROA menurun yaitu 1,230 satuan (asumsi variabel lainnya dianggap konstan).
b2 = 0,448, artinya BOA akan meningkat yaitu 0,448 satuan pada tiap tambahan satu satuan X2
(GCG). Jadi jika GCG meningkat 1 satuan, maka ROA meningkat yaitu 0,448 satuan (diasumsikan variabel lainnya dianggap konstan).
b3 - -0,316, artinya ROA meurun yaitu 0,316 satuan pada tiap tambahan satu satuan X3 (CAR).
Jadi, jika GCG meningkat 1 satuan, maka ROA menurun yaitu 0,316 satuan (diasumsikan variabel lainnya dianggap konstan).
Pembahasan
Menurut hasil analisis tersebut bisa dijabarkan dengan semua variabel yang diamati berpengaruh terhadap profitabilitas BSM yang diukur melalui perhitungan ROA (Return of Asset).
Risk Profile terhadap ROA BSM, Berdasar regresi uji t, variabel Risk Profile memiliki signifikansi 0,000<0,05. Artinya menolak H0 atau menerima H1, maka dikonklusikan variabel Risk Profile berpengaruh terhadap ROA bsm. Hasil ini sesuai teori yang menyatakan bahwa Risk Profile yang merendah, maka profitabilitas bank yang semakin tinggi meningkatkan ROA. Profil Risiko ini pun berdasarkan faktor pengelolaan bank yang membaik, Sehingga sudah optimal dalam penerapan manajemen risikonya.
GCG terhadap ROA BSM, Berdasar uji t, variabel GCG memiliki signifikansi 0,006<0,05.
Artinya menolak H0 atau menerima H1, maka dikonklusikan variabel GCG berpengaruh terhadap ROA BSM. Sejajar dengan teori di mana merendahnya GCG membuat tingginya ranking kualitas pengelola BSM untuk menumbuhkan profitabilitas perusahaan.
CAR terhadap ROA BSM, Berdasar uji t, variabel CAR memiliki signifikansi 0,009 > 0,05.
Artinya ini tidak cukup membuktikan agar menolak H0 dan menerima H1, maka dikonklusikan variabel CAR berpengaruh terhadap ROA BSM. Hasilnya menunjukkan bahwa CAR sangat erat kaitannya dengan ROA suatu perusahaan di mana company dapat secara leluasa menjalankan roda operasionalnya dengan statejik peningkatan profitabilitasnya melalui penggelontoran modal yang produktif.
KESIMPULAN & REKOMENDASI Kesimpulan
Menurut paparan data, pengukuran, dan analisis maka dapat disimpulkan bahwa NPF penyebab BSM berhati-hati karena berpengaruh pada kestabilannya yang ditemukan sebagai permasalahan utama karena bank syariah akan menanggung resiko, jika tidak dikontrol oleh BSM maka akan mengalami ketidakstabilan yang semakin parah, dampak terburuknya BSM dapat bangkrut sehingga berakibat pada terganggunya produk perbankan yang sudah berjalan sebab nilai NPF tinggi itu akan meningkatkan biaya-biaya lainnya. Oleh karena itu, indikator terpilih dari Risk Profile yaitu Net Performing Finance (NPF) diusakan semakin rendah nilainya, agar profitabilitas bank syariah semakin tinggi meningkatkan Return on Assets (ROA). Profil Risiko Bank Syariah Mandiri (BSM) yang erat hubungannya dengan faktor pengelolaan bank syariah yang membaik itu optimal dalam penerapan manajemen risikonya. NPF ini pun digunakan BSM untuk memprediksi keberlangsungan hidup bank syariah dilihat dari segi pengelolaan kredit bermasalah.
Penilaian GCG tentang profil resiko mempunyai tujuan memberikan informasi kepada seluruh stakeholder mengenai kondisi resiko dalam penyaluran dana usaha yang dihadapi bank.Pengaplikasian BSM dalam prinsip transparasi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independensi, dan kewajiban pun terpenuhi. Jadi, Good Corporate Governance (GCG) berdasarkan self asessment untuk BSM mengenai penerapan akan fungsi manajemen resiko sangat dimaksimalkan dengan hasil nilai sangat baik. Merendahnya nilai GCG BSM membuat tingginya ranking kualitas pengelola BSM untuk menumbuhkan profitabilitas perusahaan di mana bermakna pelaksanaan prinsip–prisnip GCG yang sudah berjalan baik.
Capital Adequancy Ratio (CAR) pada BSM di mana sumber-sumber dana BSM tersebut kemudian dimanivetasikan oleh pemilik dana untuk pendirian badan usaha (membiayai kegiatan usaha bank) disamping pemenuhan regulasi yang telah ditentukan. CAR BSM terlihat sangat erat kaitannya dengan ROA suatu perusahaan, sehingga BSM secara leluasa menjalankan roda operasionalnya dengan statejik untuk peningkatan profitabilitasnya melalui penggelontoran modal yang produktif.
Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan yang dijelaskan sebelumnya, maka bisa disampaikan saran yang bisa berdampak baik untuk perusahaan atau masyarakat. Peneliti mengharapkan perusahaan bisa memertahankan dan menumbuhkan kualitas mutu Risk Profile, sebab variabel Risk Profile memiliki dominasi pengaruhi ROA, melalui meningkatkandan menstabilkan kualitas manajemen perusahaan yang baik sehingga dapat memanfaatkan asset menjadi laba atau profitabilitas yang tinggi bagi perusahaan dan berpengaruh ke ROA yang dapat meningkat.
Peneliti menyatakan bahwa variabel bebas adalah hal yang sangat penting pengaruhi ROA, maka disarankan hasil ini bisa digunakan patokan setiap penelian sehingga penelitian selanjutnya dapat mengembangkan dalam bentuk menemukan variabel selain dalam penelitian ini. Diharapkan PT Bank Syariah Mandiri dalam memberikan pendanaan terhadap masyarakat pada umumnya dan
pendanaan terhadap produk/jasa yang dimiliki agar lebih selektif. Perusahaan isa menyesuaikan kemampuan pendanaanya karena hal ini bersangkutan dengan kemaslahatan masyarakat banyak.
UCAPANTERIMAKASIH
Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu sehingga panduan ini dapat terselesaikan.Ucapan terima kasih khusus kami sampaikan kepada Asosiasi Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya dan Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya yang memungkinkan jurnal ini bisa diterbitkan.
DAFTARPUSTAKA
Alwan. 2017. Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Likuiditas Pada Bank Konvensional Studi pada Bank yang Termasuk Badan Usaha Milik Pemerintah dan Bank Asing di Indonesia dan Malaysia Periode tahun 2011 sampai dengan 2015. Diponegoro Journal of Management. Volume 6, Nomor 4 Tahun 2017 Halaman. 1 – 12 ISSN (Online): 2337 – 3729 (Diakses pada 14 Mei 2019)
Arbi, S. 2013. Perbankan Keuangan Pembiayaan Lembaga. Yogyakarta: BPFE (Diakses pada 9 Desember 2018)
Arikunto, Suhartini. 2009. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Abdullah, M. Amin. 1995. Falsafah Kalam di Era Postmodernisme.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dimyati, A. 2007. Ekonomi Etis: Paradigma Baru Ekonomi Islam. Jurnal Ekonomi IslamLa Riba,Vol. 1 No.2, Desember 2007.
Darmawi, Herman. 2012. Manajemen Perbankan. Jakarta: Bumi Aksara (Diakses pada 6 April 2019)
Dwi, Putri, Encep.2015. Analisis Kinerja Keuangan dan Prediksi Tingkat Kesehatan Bank Pada Berbagai Bank Umum Syariah Devisa di Indonesia.Islamadina,Volume XIV, No 1: 49-70 (Diakses pada 10 Desember 2018)
Ismail.2015. Perbankan Syariah. Surabaya: PT Kharisma Putra Utama (Diakses pada 28 Maret 2019)
Kasmir.2005. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.PT Raja Grafindo,Ed. Rev,hlm 23 (Diakses pada 18 Desember 2018)
Kasmir. 2000. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada (Diakses pada 3 Februari 2019)
Kasmir. 2014. Dasar Dasar Perbankan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada (Diakses pada 27 Maret 2019
Martono dan D. Agus, dan Harjito. 2003. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Kamus FE UII (Diakses pada 4 Februari 2019)
Miskhin, S Frederic. 2008. Ekonomi, Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan. Jakarta: Salemba Empat
Nuraini dan Azhar Muttaqin.2018. Korelasi Antara Penerapan Akad Mudharabah dan Profitabilitas Pada Bank Syariah Mandiri (Tahun 2012-2016).FALAH Jurnal Ekonomi Syariah. Volume 3,No. 1: 28-34 (Diakses pada 31 Desember 2018)
Otoritas Jasa Keuangan. Sharia Banking Statistics September 2018. (Online), ((http://www.ojk.go.id) diakses pada 27 Maret 2019)
Otoritas Jasa Keuangan. Sharia Banking Statistics Maret 2019. (Online), ((http://www.ojk.go.id) diakses pada 7 Agustus 2019)
Peraturan BI Nomor. 09/1/PBI/2007 tanggal 24 Januari 2007, Perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (Online), ((http://www.bi.go.id) diakses pada 3 Februari 2019 Peraturan BI Nomor. 13/1/PBI/2001, Perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (Online),
((http://www.bi.go.id) diakses pada 3 Februari 2019
Peraturan BI Nomor. 14/14/PBI/2012, Perihal Transparansi dan Publikasi Laporan Keuangan Bank (Online), ((http://www.bi.go.id) diakses pada 2 Februari 2019
Pernyataan Standart Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 tahun 2015, Perihal Tujuan Laporan Keuangan Perbankan (Online), ((http://www.iaiglobal.or.id) diakses pada 28 Maret 2019 Pernyataan Standart Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 Per 27 Agustus 2014, Perihal Komponen
Laporan Keuangan Perbankan (Online), ((http://www.iaiglobal.or.id) diakses pada 31 Maret 2019
Putri, Ade. 2016. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Menggunakan Metode RGEC Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, Capital Studi pada PT. Bank Rakyat
Indonesia Persero Periode 2011 – 2014. Malang: Skripsi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Brawijaya.
Qardhawi, Yusuf. 2004. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam. Jakarta: Robbani Press.
Rizka, Nabila. 2016. Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank SYariah Mandiri dan Bank Muamalat Dengan Menggunakan Metode RGEC Periode 2011 – 2015. Malang: Skripsi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Brawijaya.
Rustam, Bambang Rianto. 2013. Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia. Jakarta:
Salemba Empat. Rev,hlm 30 (Diakses pada 28 Maret 2019)
Sinambela, L.P. 2014. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu (Diakses pada 4 April 2019)
Sudaryono. 2014. Aplikasi Statistika Untuk Penelitian. Tangerang: Lentera Ilmu Cendekia (DIakses pada 10 Mei 2019)
Sugiyono. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta (Diakses pada 10 Mei 2019) Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R & D. Bandung: Alfabeta (Diakses pada
14 Februari 2019)
Sujarweni, V.W. 2015. Metedologi Penelitian Bisnis & Ekonomi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press (Diakses pada 1 April 2019)
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/24/DPNP/2011, Perihal Tingkat Kesehatan Bank Umum (Online), ((http://www.bi.go.id) diakses pada 27 Maret 2019)
Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/SEOJK.03/2014, Perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) (Online), ((http://www.ojk.go.id) diakses pada 9 Februari 2019)
Totok Budi Santoso,dkk. 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat.
(Diakses pada 10 Februari 2019)
Umam, Khaerul. 2013. Manajemen Perbankan Syariah. Bandung: Pustaka Setia. (Diakses pada 9 Februari 2019)
Umam, Khotibul.2015. Perbankan Syariah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada (Diakses pada 9 Februari 2019)
Undang - Undang Republik Indonesia Nomor. 10 Tahun 1998, tentang Perbankan Syariah Undang - Undang Republik Indonesia Nomor. 21 Tahun 2008, tentang Perbankan Syariah Wiratna. 2015. Metodologi Penelitian Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press
(Diakses pada 1 April 2019)
https://www.jurnal.id/id/blog/2018-rasio-profitabilitas-pengertian-fungsi-jenis-dan-contoh- terlengkap/