DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transportasi merupakan aktivitas perpindahan manusia atau barang dari satu lokasi ke lokasi tujuannya dengan memanfaatkan kendaraan yang digerakkan oleh tenaga manusia atau mesin. Aktivitas ini sangat penting dalam kehidupan sehari- hari, karena memudahkan individu untuk menjalani berbagai aktivitas yang memerlukan mobilitas. Di Kabupaten Bangka, pemanfaatan lahan mencakup berbagai jenis kawasan, termasuk kawasan industri, pemukiman, perdagangan, dan pendidikan. Di antara kawasan-kawasan tersebut, kawasan pendidikan memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi pola perjalanan masyarakat, terutama saat berangkat dan pulang sekolah. Aktivitas harian yang intens di sekitar sekolah menciptakan pola perjalanan yang spesifik dan kompleks, yang memerlukan perhatian khusus dalam analisis transportasi.
Salah satu aspek penting dalam analisis transportasi di Kawasan Pendidikan adalah tarikan perjalanan (trip attraction), yaitu jumlah dan karakteristik perjalanan yang dihasilkan oleh suatu zona akibat adanya fasilitas yang menarik aktivitas pengguna. Tarikan perjalanan ini sangat relevan untuk dianalisis di daerah-daerah dengan tingkat mobilitas tinggi, terutama di kawasan yang mengalami perkembangan pesat. Jalan Sekolah Sungailiat, sebagai pusat akses menuju beberapa institusi pendidikan di Kabupaten Bangka, menjadi salah satu contoh kawasan dengan dinamika perjalanan yang cukup kompleks. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur pendidikan, tetapi juga merupakan area dengan pemanfaatan lahan campuran, yang terdiri dari kawasan perdagangan dan pemukiman. Jalan Sekolah juga menghubungkan jalan Yos Sudarso dengan jalan utama yakni Jalan Jenderal Sudirman.Dengan adanya empat sekolah yang berbeda jenjang pendidikan, yaitu dua Sekolah Dasar (SD), satu Madrasah Ibtida’iyah (MI), dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), Jalan Sekolah menjadi jalur utama
bagi siswa yang datang dari berbagai wilayah, baik menggunakan kendaraan pribadi, transportasi umum, maupun berjalan kaki.
Tarikan perjalanan yang dihasilkan oleh kawasan ini memiliki pola yang khas, terutama pada jam sibuk pagi hari pada pukul 06.30-07.00 WIB dan siang hari pada pukul 11.00-12.00. Tingginya volume perjalanan yang terkonsentrasi sering kali menimbulkan masalah, seperti kemacetan lalu lintas, ketidakteraturan parkir, serta ketidakamanan bagi siswa pejalan kaki dan pengguna sepeda. Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat tarikan perjalanan di kawasan ini mencakup jumlah siswa di sekolah, lokasi tempat tinggal mereka, moda transportasi yang digunakan, serta ketersediaan fasilitas pendukung di sekitar jalan tersebut. Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis yang mendalam guna memahami bagaimana fasilitas pendidikan memengaruhi pola mobilitas masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tarikan perjalanan di Jalan Sekolah Sungailiat secara spesifik, termasuk menganalisis jumlah perjalanan yang dihasilkan, distribusi asal dan tujuan perjalanan, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai karakteristik perjalanan, diharapkan dapat dirumuskan perencanaan yang efektif untuk mengatasi masalah transportasi yang muncul di sekitar kawasan pendidikan. Salah satu langkah awal yang dapat diambil adalah mengidentifikasi karakteristik pengguna transportasi yang melakukan perjalanan menuju kawasan pendidikan, khususnya terkait dengan pilihan moda transportasi yang digunakan.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang konkret untuk meningkatkan kinerja sistem transportasi di area tersebut, termasuk penambahan fasilitas bagi pejalan kaki, pengaturan zona parkir, serta perbaikan infrastruktur jalan yang ada.
Berdasarkan kondisi permasalahan pada kawasan tersebut, maka diperlukan penelitian tentang analisis tarikan perjalanan pada kawasan pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat untuk memahami lebih dalam pola perjalanan yang terjadi.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai karakteristik perjalanan yang dihasilkan oleh kawasan pendidikan, serta faktor- faktor yang mempengaruhi tarikan perjalanan tersebut. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya akan memberikan solusi terhadap permasalahan
transportasi yang ada, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi pengembangan kebijakan transportasi yang lebih baik di masa depan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh pengguna jalan, terutama bagi siswa yang beraktivitas di kawasan Pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat. Dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis data, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam perencanaan transportasi yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat tarikan perjalanan di kawasan pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka?
2. Bagaimana karakteristik dan pola tarikan perjalanan yang dihasilkan oleh kawasan Pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka?
1.3 Batasan Masalah
Untuk memudahkan proses penyusunan skripsi ini, perlu dilakukan pembatasan masalah dalam penelitian. Ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam laporan tugas akhir ini meliputi:
1. Penelitian ini difokuskan pada analisis tarikan yang dihasilkan oleh keberadaan kawasan pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat.
2. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi yang terdiri dari siswa, guru, dan staf di kawasan pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat.
3. Objek penelitian ini adalah kawasan pendidikan yang terletak di Jalan Sekolah Sungailiat.
4. Analisis pola tarikan perjalanan dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah siswa, guru, dan staf yang berkunjung ke kawasan pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat.
5. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.
6. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 30 (Statistical Product and Service Solution).
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisa faktor-faktor yang memengaruhi tingkat tarikan perjalanan di kawasan Pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka.
2. Untuk mengidentifikasi karakteristik dan pola tarikan perjalanan yang dihasilkan oleh kawasan pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka.
1.5 Manfaat Penelitian
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang transportasi dan perencanaan wilayah, khususnya terkait dengan analisis tarikan perjalanan pada kawasan pendidikan.
Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian- penelitian selanjutnya yang membahas hubungan antara fasilitas pendidikan dan pola perjalanan masyarakat, serta dapat memperkaya kajian tentang perencanaan transportasi berbasis kawasan.
Secara praktis, penelitian ini memiliki manfaat yang cukup signifikan bagi berbagai pihak. Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merencanakan dan mengelola sistem transportasi di kawasan pendidikan, terutama terkait dengan perbaikan infrastruktur jalan, pengaturan lalu lintas, serta pengembangan fasilitas pendukung seperti jalur pejalan kaki dan zona parkir.
1.6 Keaslian Penelitian
Penulis melakukan penelitian mengenai analisis tarikan perjalanan di kawasan Pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat. Penulis meyakini bahwa penelitian
ini belum pernah dilakukan oleh pihak lain sebelumnya. Meskipun analisis tarikan perjalanan sering diteliti di kawasan atau lokasi lain, penelitian ini secara khusus difokuskan pada kawasan Pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini merupakan kajian yang belum pernah dilakukan oleh pihak manapun selain penulis.
1.7 Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian ini, maka sistematika penulisan penelitian disusun dalam lima bab. Adapun sistematika penulisan penelitian adalah sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, ruang lingkup, serta sistematika penulisan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Menyajikan teori – teori yang digunakan sebagai landasan untuk menganalisis dan membahas permasalahan penelitian.
BAB III. METODE PENELITIAN
Menjelaskan mengenai langkah – langkah atau prosedur pengambilan dan pengolahan data hasil penelitian meliputi jenis penelitian, lokasi dan waktu penelitian, langkah – langkah penelitian, prosedur penelitian, dan variable penelitian.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Menyajikan data – data hasil penelitian di lapangan, analisis data, hasil analisis data, dan pembahasannya.
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN
Berisikan Kesimpulan dari rangkaian penelitian dan saran – saran terkait penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian serupa telah dilakukan oleh Mardiana (2021) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Model Tarikan perjalanan Pada Kawasan pendidikan di Kota Luwuk (Studi Kasus: Jalan Ki Hajar Dewantara Kelurahan Karathon Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model tarikan perjalanan dan memperkirakan jumlah tarikan yang menuju kawasan pendidikan di Kota Luwuk, khususnya di Jalan Ki Hajar Dewantara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang muncul akibat tarikan perjalanan dari sekolah-sekolah di kawasan tersebut. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda, dengan jumlah tarikan perjalanan total dan berdasarkan masing-masing moda sebagai variabel terikat. Sementara itu, variabel bebas mencakup luas lahan, luas bangunan, jumlah kelas, jumlah siswa, jumlah guru, kepemilikan kendaraan, serta mempertimbangkan faktor biaya, jarak, dan waktu tempuh transportasi. Hasil analisis pemodelan dengan metode tersebut menunjukkan bahwa model yang dihasilkan memenuhi syarat dan layak digunakan berdasarkan validitas uji statistik.
Untuk perjalanan total, diperoleh persamaan Y = - 6,806 + (1,583) X3 + (0,361) X4, dimana tarikan perjalanan total (Y) di kawasan pendidikan Kota Luwuk di jalan Ki Hajar Dewantara dipengaruhi oleh jumlah kelas (X3) dan jumlah siswa (X4), dengan nilai determinasi (R²) sebesar 1,000. Sementara itu, untuk tarikan perjalanan dengan berjalan kaki, model yang dihasilkan adalah Y = 7,600 + (0,200) X7 + (0,800) X10, dimana tarikan perjalanan dengan berjalan kaki (Y) dipengaruhi oleh variabel tidak punya kendaraan (X7) dan variabel waktu (X10), dengan nilai R² sebesar 1,000.
Annisa dkk. (2014) dalam penelitian mereka yang berjudul “Studi Pembuatan Model Tarikan Pergerakan Orang pada Pusat Kegiatan Pendidikan dengan Metode Analisis Regresi (Studi Kasus: Kampus Universitas Brawijaya)” bertujuan untuk
menganalisis karakteristik dan memodelkan pola tarikan pergerakan orang berdasarkan variabel-variabel yang dipengaruhi oleh tata guna lahan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pendidikan, dengan fokus pada Universitas Brawijaya (UB).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tarikan pergerakan untuk Mahasiswa S1 adalah Y = - 719,735 + 4,138 X1, sementara berdasarkan data karakteristik, modelnya menjadi Y = 0,842 + 0,970 X6 + 0,081 X10. Untuk tarikan pergerakan Mahasiswa S1, S2, dan S3, model yang diperoleh adalah Y = - 822,022 + 3,865 X1 + 12,843 X2 dan dari data karakteristik, modelnya menjadi Y = 0,561 - 0,064 X5 + 1,013 X6 + 0,149 X10. Model tarikan pergerakan untuk dosen adalah Y = 3,71 + 1,82 X2 + 0,75 X9 , sedangkan berdasarkan data karakteristik modelnya adalah Y = 1,543 + 0,722 X6 + 0,28 X9. Untuk karyawan, model tarikan pergerakannya adalah Y = − 486,076 + 9,808 X3 + 134,615 X10. Sementara itu, gabungan tarikan pergerakan dosen dan karyawan mengikuti model Y = − 337,18 + 1,753 X2 + 7,564 X3 + 55,261 X6 + 44,399 X10. Model untuk gabungan Mahasiswa S1, S2, S3, dosen, dan karyawan adalah Y = − 649,997 + 3,813 X1 + 18,375 X2.
Dwipa (2017) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Tarikan Perjalanan Kawasan Pendidikan (Studi Kasus Jalan Pemuda Sungailiat)” bertujuan untuk mengembangkan model tarikan perjalanan yang dapat memprediksi jumlah pergerakan di kawasan Jalan Pemuda Sungailiat. Model tarikan perjalanan ini diharapkan dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah tarikan perjalanan yang akan menuju kawasan tersebut di masa mendatang. Penelitian ini menerapkan metode analisis regresi. Hasil analisis menunjukan bahwa model tarikan perjalanan total (smp/jam) memiliki persamaan Y = 24,941 + 0,313 X1, dimana Y merepresentasikan tarikan perjalanan total dan nilai X1 merupakan Jumlah Siswa, dengan nilai R² sebesar 0,970. Untuk model tarikan perjalanan yang menggunakan sepeda, diperoleh persamaan Y = - 0,511 + 0,232 X7, dimana Y merupakan tarikan perjalanan dengan menggunakan sepeda dan nilai X7 menunjukan kepemilikan sepeda, dengan nilai R² sebesar 0,716. Selanjutnya, untuk model tarikan perjalanan menggunakan mobil Y = 1,340 + 0,449 X9, dimana Y adalah tarikan perjalanan menggunakan mobil dan nilai X9 adalah jumlah kepemilikan mobil, dengan nilai R² sebesar 0,905. Terakhir, untuk tarikan perjalanan menggunakan angkutan umum dengan bentuk model Y = - 0,369 + 3,015X10, dimana Y merepresentasikan tarikan
perjalanan dengan menggunakan angkutan umum dan nilai X10 adalah jumlah tidak memiliki kendaraan, dengan nilai R² sebesar 0,905.
Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Guntur & Octaviani (2022) yang berjudul “Analisis Tarikan Perjalanan dan Pola Sebaran Panjang Perjalanan ke Kawasan Pendidikan (Studi Kasus : Kawasan Pendidikan Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Blora)” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya tarik perjalanan dan pola sebaran perjalanan pada kawasan pendidikan Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Blora. Terdapat dua metode analisis yang digunakan dalam penelitiannya yaittu metode analisis deskriptif, dengan melihat dari karakteristik responden jenis kelamin, umur, dan status sebagai : murid, guru atau karyawan) dan karakteristik perjalanan (asal –tujuan perjalanan, jenis moda, serta jarak dan atau waktu tempuh). Metode yang kedua adalah metode analisis regresi, berdasarkan regresi bangkitan perjalanan dan analisis regrsi fungsi hambatan perjalanan.
Analisis regresi tarikan perjalanan dilakukan dengan alat bantu bahasa pemrograman statistik. Variabel terikat adalah jumlah perjalanan dengan variabel bebas : jumlah siswa, guru & karyawan, luas lahan, luas lantai, luas parkir.
Berdasarkan hasil analisis, daya tarik perjalanan sangat dipengaruhi oleh populasi traveler. Variabel kedua yang memiliki pengaruh signifikan secara statistik adalah ukuran area parkir. Sebagian besar perjalanan ke daerah ini memiliki jangkauan 3-6 km. Sedangkan fungsi trip barrier yang paling menggambarkan distribusi trip adalah fungsi eksponensial.
Handriyadi dkk. (2021) melakukan penelitian tentang Studi Analisis Pemodelan Bangkitan dan Tarikan Lalu Lintas (Studi Kasus : SMAN 1 Taman dan SMPN 2 Taman Sidoarjo). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bangkitan dan tarikan di SMA Negeri 1 Taman dan SMP 2 Taman – Sidoarjo. yang nantinya diharapkan dapat digunakan untuk memperkirakkan banyaknya tarikan yang menuju kawasan pendidikan tersebur dimasa mendatang, sehingga dapat digunakan untuk mengantisipasi permasalahan yang timbul akibat tarikan perjalanan tersebut.
Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa bangkitan dan tarikan pada SMA Negeri 1 Taman dan SMP 2 Taman - Sidoarjo untuk sepeda motor dengan bentuk permodelan Y = 42.7142 + 0,2857 X, dimana Tarikan Perjalanan untuk Sepeda Motor (Y) dari Jumlah Guru 112 (X), dengan uji korelasi (R) = 1. Kemudian untuk
bangkitan dan tarikan untuk antar jemput diperolah bentuk permodelan Y = 1103,80 + 236 X, dimana Tarikan Perjalanan untuk Antar Jemput (Y) dari Jumlah Siswa 2333 (X), dengan uji korelasi (R) = 0,1. Sementara untuk bangkitan dan tarikan perjalanan berdasarkan angkutan umum diperoleh bentuk permodelan Y = 891,66 + 32,3 X, dimana Tarikan Perjalanan untuk Angkutan Umum (Y) dari Jumlah Siswa 2333 (X), dengan uji korelasi (R) sebesar 1. Dengan analisis ini didapat Model terbaik untuk meramalkan bangkitan dan tarikan untuk kendaraan sepeda motor guru di SMAN 1 Taman dan SMPN 2 Taman Sidoarjo Y = 42.7142 + 0.2857 X, dimana setiap 112 guru ada 1 guru yang menggunakan sepeda motor. Kemudian untuk volume lalu lintas maksimum terjadi pada hari Senin pukul 6.30 hingga 7.30 pagi untuk arah Surabaya adalah 3923 kendaraan / jam dan arah Sidoarjo sebesar 2276 kend/jam, untuk derajat kejenuhan didapatkan 0,97.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Transportasi
A. Pengertian Transportasi
Morlok (1985) menjelaskan bahwa transportasi merujuk pada usaha untuk memindahkan, menggerakkan, atau mengalihkan suatu objek dari satu lokasi ke lokasi lainnya, di mana objek tersebut akan memiliki nilai atau kegunaan yang lebih besar untuk tujuan tertentu. Selain itu, transportasi juga dapat dipandang sebagai suatu proses yang mencakup pemindahan, pergerakan, pengangkutan, dan pengalihan, yang mana semua proses ini memerlukan alat pendukung untuk memastikan bahwa perpindahan dapat berlangsung dengan lancar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Di sisi lain, Bowersox (1981) berpendapat bahwa transportasi adalah kegiatan memindahkan barang atau penumpang dari satu tempat ke tempat lain, di mana produk tersebut dikirim ke lokasi yang diperlukan.
Secara umum, transportasi sering diasosiasikan dengan angkutan. Angkutan merujuk pada proses pemindahan orang dan/atau barang dari satu lokasi ke lokasi lain dengan memanfaatkan kendaraan di ruang lalu lintas jalan, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
B. Fungsi dan Peran Transportasi
Transportasi memiliki berbagai fungsi penting yang mendukung mobilitas manusia dan barang dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, transportasi berfungsi sebagai sarana untuk menghubungkan satu lokasi dengan lokasi lainnya, baik untuk perjalanan orang, barang, maupun informasi. Selain itu, transportasi juga memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian, di mana sistem transportasi yang efisien dapat meningkatkan konektivitas antar wilayah, mempercepat distribusi barang, dan memfasilitasi perdagangan (Morlok, 1985).
Sistem transportasi yang baik tidak hanya mempermudah mobilitas tetapi juga mendukung aktivitas sosial dan budaya dengan memfasilitasi pertemuan antar individu dari berbagai tempat (Litman, 2022).
Fungsi lainnya adalah sebagai pendorong pembangunan sosial dan ekonomi.
Banister (2008) menjelaskan bahwa sistem transportasi yang efisien dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan mengurangi waktu tempuh, mempermudah akses ke layanan publik, dan memperluas peluang kerja. Selain itu, sistem transportasi yang baik juga membantu mengurangi kemacetan, meningkatkan keselamatan perjalanan, dan mengurangi dampak lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan sistem transportasi yang efektif sangat penting untuk menciptakan keberlanjutan sosial dan ekonomi di berbagai kawasan.
C. Sistem Transportasi
Sistem transportasi dapat didefinisikan sebagai rangkaian komponen yang saling berkaitan dan berfungsi untuk memfasilitasi perpindahan manusia, barang, atau informasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya (Rodrigue, 2013). Komponen utama dari sistem transportasi meliputi infrastruktur, seperti jalan raya, rel kereta api, pelabuhan, dan bandara; moda transportasi berupa kendaraan yang digunakan untuk pengangkutan; serta sistem pengelolaan yang mencakup teknologi, regulasi, dan manajemen operasional (Morlok, 1985). Sistem ini tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga elemen nonfisik, seperti jaringan komunikasi dan informasi yang mendukung efisiensi transportasi. Sistem transportasi diselenggarakan dengan tujuan agar proses transportasi penumpang dan barang dapat dicapai secara optimum dalam ruang dan waktu tertentu dengan pertimbangan faktor keamanan, kenyamanan, kelancaran, dan efisiensi waktu dan biaya.
Efektivitas sistem transportasi dipengaruhi oleh kapasitas infrastruktur, kondisi operasional moda transportasi, tingkat integrasi antar moda, serta kebijakan transportasi yang diterapkan (Litman, 2022). Sistem transportasi yang efisien memungkinkan konektivitas yang lebih baik antar wilayah, yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, mempercepat distribusi barang, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Banister, 2008). Sebaliknya, transportasi yang tidak terkelola dengan baik dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti kemacetan, peningkatan emisi gas rumah kaca, dan pemborosan energi.
D. Komponen Utama Sistem Transportasi
Sistem transportasi terdiri dari beberapa komponen utama yang bekerja secara terintegrasi untuk mendukung pergerakan orang dan barang. Secara rinci komponen dalam sistem transportasi tersebut adalah seperti di bawah ini.
1. Infrastruktur Transportasi, mencakup semua fasilitas fisik yang digunakan untuk mendukung pergerakan tersebut. Infrastruktur ini mencakup jalan raya, jembatan, rel kereta api, terminal, bandara, dan pelabuhan. Infrastruktur yang baik akan mempengaruhi kelancaran perjalanan dan dapat meningkatkan efisiensi sistem transportasi secara keseluruhan. Pembangunan infrastruktur transportasi yang tepat akan membantu mengurangi kemacetan dan meningkatkan aksesibilitas antar wilayah.
2. Moda Transportasi, terdiri dari berbagai jenis kendaraan yang digunakan untuk mengangkut orang atau barang. Moda transportasi ini dapat berupa kendaraan darat seperti mobil, bus, dan sepeda motor, moda laut seperti kapal, serta moda udara seperti pesawat terbang (Suryani, 2023). Pemilihan moda transportasi biasanya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jarak, waktu perjalanan, biaya, dan kapasitas angkut yang diperlukan dalam setiap perjalanan (Litman, 2022).
Moda transportasi yang efisien dapat mengurangi biaya operasional dan waktu tempuh, serta meningkatkan kenyamanan pengguna.
3. Pengelolaan Sistem Transportasi, meliputi aspek operasional dan manajerial yang bertujuan untuk memastikan kelancaran dan keselamatan perjalanan. Hal ini mencakup perencanaan rute, pengelolaan lalu lintas, pemeliharaan infrastruktur, serta pengawasan terhadap keselamatan dan efisiensi operasional (Zulkarnain & Julian, 2017). Teknologi seperti Intelligent Transportation
Systems (ITS) telah menjadi komponen penting dalam manajemen transportasi modern, karena dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi kemacetan dengan memanfaatkan data dan informasi secara real-time.
E. Pola Perjalanan
Pola perjalanan merujuk pada kebiasaan atau distribusi perjalanan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu wilayah atau kawasan tertentu.
Pola ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tujuan perjalanan, waktu perjalanan, serta karakteristik pribadi dan sosial pengguna transportasi. Secara umum, pola perjalanan mencakup jenis perjalanan yang dilakukan, seperti perjalanan untuk bekerja, bersekolah, atau keperluan lainnya, serta bagaimana individu memilih moda transportasi dan waktu yang digunakan dalam setiap perjalanan tersebut (Ortúzar & Willumsen, 2011)
Beberapa faktor yang mempengaruhi pola perjalanan antara lain adalah lokasi tempat tinggal, tujuan perjalanan, serta faktor sosial-ekonomi seperti pekerjaan, pendidikan, dan status keluarga. Sebagai contoh, kawasan dengan banyak fasilitas pendidikan atau perkantoran cenderung memiliki pola perjalanan yang lebih padat pada jam-jam tertentu, terutama pada pagi dan sore hari. Pemahaman terhadap pola perjalanan ini sangat penting untuk merancang kebijakan transportasi yang dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi kemacetan, serta memastikan bahwa infrastruktur transportasi yang ada dapat memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat (Litman, 2022).
Selain itu, analisis pola perjalanan juga berperan penting dalam merencanakan pengembangan sistem transportasi yang lebih baik dengan mengidentifikasi area-area yang memerlukan peningkatan aksesibilitas atau pengurangan kemacetan. Oleh karena itu, pengumpulan dan analisis data pola perjalanan menjadi hal yang krusial dalam merencanakan sistem transportasi yang efektif dan berkelanjutan.
F. Konsep Perencanaan Transportasi
Perencanaan transportasi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk merancang, mengelola, dan mengembangkan sistem transportasi yang dapat memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Dalam konteks perencanaan, penting untuk mempertimbangkan
berbagai faktor, termasuk pertumbuhan penduduk, perubahan pola perjalanan, dan perkembangan infrastruktur yang ada. Perencanaan transportasi juga harus dapat mengatasi permasalahan transportasi yang terjadi, seperti kemacetan, kurangnya integrasi antar moda transportasi, dan tingginya polusi udara. Ada beberapa konsep perencanaan transportasi yang telah berkembang hingga saat ini dan yang paling popular adalah ‘Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap (Four Step Models)’. Adapun keempat model tersebut sebagai berikut ini.
1. Model Bangkitan Perjalanan (Trip Generation Models), merupakan tahap pertama dalam Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap yang bertujuan untuk memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona tata guna lahan atau jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu zona tertentu.
Menurut (Tamin, 2020), tahapan ini bertujuan untuk menghitung jumlah perjalanan yang dihasilkan atau tertarik oleh suatu wilayah berdasarkan karakteristik tata guna lahan, seperti permukiman, pusat perbelanjaan, atau kawasan industri. Sementara itu, (Hobbs, 2016) menjelaskan bahwa bangkitan pergerakan merupakan jumlah perjalanan yang terjadi dalam satuan waktu tertentu di sebuah zona, yang bergantung pada aktivitas dan fungsi dari wilayah tersebut.
2. Model Sebaran Perjalanan (Trip Distribution Models), merupakan tahap kedua dalam proses perencanaan transportasi yang bertujuan untuk memprediksi distribusi perjalanan antara zona asal dan zona tujuan. Model ini menentukan pola interaksi perjalanan antar wilayah dengan menggunakan data bangkitan dan tarikan perjalanan dari setiap zona (Tamin, 2020). Tahap ini memberikan gambaran tentang seberapa besar volume perjalanan yang terjadi di antara dua lokasi, yang sangat penting untuk perencanaan infrastruktur dan manajemen transportasi.
3. Model Pemilihan Moda Transportasi (Mode Choice Models), merupakan tahap ketiga dalam proses perencanaan transportasi yang bertujuan untuk memprediksi moda transportasi yang akan dipilih oleh pengguna untuk melakukan perjalanan. Tahap ini mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi keputusan individu atau kelompok dalam memilih moda transportasi tertentu, seperti kendaraan pribadi, angkutan umum, sepeda, atau
berjalan kaki (Tamin, 2020). Munculnya tahap analisis pilihan moda ini disebabkan oleh tersedia-nya berbagai wujud alat angkutan (moda) yang akan digunakan, yang jumlahnya bukan hanya satu alternatif di tiap-tiap pasang zona asal dan zona tujuan.
4. Model Pemilihan Rute (Trip Assigment Models), Tahap ini bertujuan untuk menentukan rute perjalanan yang akan dipilih oleh pengguna di jaringan transportasi tertentu. Pemilihan rute ini berdasarkan preferensi pengguna terhadap rute yang dianggap optimal, baik dari segi waktu, biaya, kenyamanan, maupun hambatan lain yang ada di sepanjang perjalanan (Tamin, 2020).
Adanya tahap ini disebabkan oleh terdapatnya lebih dari satu alternatif pilihan jalur gerak (rute tempuh) yang menghubungkan tempat asal dengan tujuan, sehingga arus orang, kendaraan dan barang yang akan melakukan pergerakan akan menghadapi dua atau lebih pilihan rute tempat lewat yang harus dipilih salah satunya.
2.2.2 Bangkitan Perjalanan
Bangkitan perjalanan (Trip Generation) dapat diartikan sebagai banyaknya jumlah perjalanan/pergerakan lalu lintas yang dibangkitkan oleh suatu zona (kawasan) per satuan waktu. Dari pengertian tersebut, maka bangkitan perjalanan merupakan tahap pemodelan transportasi yang memperkirakan dan meramalkan jumlah perjalanan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona. (Tamin, 2020). P erjalanan dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Home base trip, pergerakan yang berbasis rumah. Artinya perjalanan yang dilakukan berasal dari rumah dan kembal ke rumah.
b. Non home base trip, pergerakan berbasis bukan rumah. Artinya perjalanan yang dilakukan bukan berasal dan bertujuan bukan rumah.
Pergerakan lalu lintas merupakan fungsi tata guna lahan yang menghasilkan aliran lalu lintas. Secara umum, bangkitan perjalanan dibagikan menjadi dua ktegoru, yaitu :
a. Lalu lintas yang meninggalkan suatu lokasi, disebut juga bangkitan perjalanan b. Lalu lintas yang menuju atau tiba ke suatu lokasi, disebut juga tarikan
perjalanan
Bangkitan dan tarikan perjalanan dapat digambarkan sebagai berikut:
Sumber : Tamin, 2020
Gambar 2.1 Bangkitan dan Tarikan Perjalanan 2.2.3 Tarikan Perjalanan
Tarikan perjalanan merujuk pada total perjalanan yang menuju ke lokasi tertentu. Proses ini umumnya memanfaatkan data berbasis zona untuk memodelkan volume pergerakan yang terjadi dalam setiap satuan waktu. Kawasan yang menghasilkan perjalanan biasanya adalah kawasan perumahan, sedangkan kawasan yang cenderung menarik perjalanan meliputi kawasan pendidikan, perkantoran, industri, pusat perbelanjaan, dan tempat rekreasi. Bangkitan dan tarikan perjalanan dapat dilihat pada gambar berikut:
Sumber : Tamin, 2020
Gambar 2.2 Bangkitan dan Tarikan Perjalanan
Tarikan perjalanan merujuk pada perjalanan yang berasal dari rumah, di mana tempat asal atau tujuannya bukanlah rumah, atau pergerakan yang dipengaruhi oleh aktivitas yang tidak berbasis di rumah. Menurut Tamin (2020), terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pemodelan bangkitan dan tarikan perjalanan, yaitu:
1. Bangkitan perjalanan untuk manusia a. Pendapatan
b. Pemilik Kendaraan c. Struktur rumah tangga d. Ukuran rumah tangga e. Nilai lahan
f. Kepadatan daerah pemukiman g. Aksesibilitas
2. Tarikan perjalanan untuk manusia
Faktor yang paling umum digunakan dalam pemodelan adalah luas lantai untuk kegiatan industri, komersial, perkantoran, dan layanan lainnya. Selain itu, faktor lain yang dapat dipertimbangkan adalah jumlah lapangan kerja. Belakangan ini, beberapa penelitian mulai mencoba untuk memasukkan ukuran aksesibilitas sebagai salah satu pertimbangan.
Tujuan akhir perencanaan tahapan bangkitan perjalanan adalah menaksir setepat mungkin bangkitan dan tarikan perjalanan pada masa sekarang, yang akan digunakan untuk meramalkan pergerakan pada masa mendatang. Bangkitan pergerakan ini berhubungan dengan penentuan jumlah keseluruhan yang dibangkitkan oleh sebuah kawasan parameter tujuan perjalanan yang sangat berpengaruh di dalam produksi perjalanan adalah :
a. Tempat bekerja b. Kawasan perbelanjaan c. Kawasan Pendidikan d. Kawasan usaha e. Kawasan hiburan
2.2.4 Model Tarikan Perjalanan
Dalam konteks perencanaan transportasi, model merujuk pada representasi matematis atau logis yang berfungsi untuk menjelaskan hubungan antara variabel- variabel tertentu, dengan tujuan memprediksi atau memahami fenomena perjalanan. Model ini digunakan untuk menyederhanakan dan memberikan gambaran tentang suatu realitas untuk tujuan tertentu, yang umumnya dimanfaatkan untuk menjelaskan dan meramalkan kondisi di lapangan.
Model ini mendukung perencana transportasi dalam mengambil keputusan berdasarkan data yang terorganisir. Dalam analisis transportasi, salah satu model yang signifikan adalah model tarikan perjalanan (trip attraction model), yang dirancang khusus untuk memperkirakan jumlah perjalanan yang menuju ke suatu zona atau area tertentu dalam sistem transportasi.
Model merupakan penyederhanaan dari kondisi yang sebenarnya dan dapat memberikan panduan dalam perencanaan transportasi. Model ini memungkinkan penilaian yang cepat terhadap alternatif transportasi di suatu wilayah (Morlok, 1985). Proses pemodelan bangkitan perjalanan bertujuan meramalkan jumlah pergerakan di setiap zona asal dengan menggunaan data rinci mengenai tingkat bangkitan pergerakan, atribut sosial-ekonomi, serta tata guna lahan. Menurut (Tamin, 2020) model dapat didefinisikan sebagai alat bantu atau media yang dapat digunakan untuk mencerminkan dan menyederhanakan realitas (dunia sebenarnya) secara terukur, termasuk diantaranya:
1. Model Fisik
2. Peta dan diagram (grafis)
3. Model statistika dan matematika (persamaan)
Semua model tersebut adalah bentuk penyederhanaan realitas untuk tujuan tertentu, seperti memberikan penjelasan, pemahaman, serta peramalan. Model berfungsi sebagai representasi dari kondisi yang sebenarnya dan dapat memberikan panduan dalam perencanaan transportasi. Karakteristik sistem transportasi di area- area tertentu, seperti CBD, sering dianalisis menggunakan model. Model ini memungkinkan untuk mendapatkan penilaian yang cepat terhadap berbagai alternatif transportasi di suatu wilayah (Morlok, 1985).
Model dapat digunakan untuk menggambarkan hubungan antara sistem prasarana transportasi dengan memanfaatkan serangkaian fungsi atau persamaan (model matematis). Model ini dapat menjelaskan cara kerja sistem serta hubungan antar sistem secara terukur. Salah satu alasan untuk menggunakan model matematis dalam merepresentasikan sistem adalah karena matematika merupakan bahasa yang lebih akurat dibandingkan dengan bahasa verbal. Ketepatan yang diperoleh dari penggantian kata dengan simbol sering kali menghasilkan penjelasan yang lebih baik daripada yang disampaikan dengan bahasa verbal.
2.2.5 Karakteristik Perjalanan
Karakteristik perjalanan merujuk pada berbagai atribut yang menggambarkan pola dan perilaku perjalanan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu wilayah. Pemahaman tentang karakteristik perjalanan sangat penting dalam perencanaan transportasi, karena informasi ini menjadi dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan sistem transportasi dan mengevaluasi efektivitas infrastruktur yang ada (Tamin, 2020). Beberapa karakteristik perjalanan yang umum dianalisis meliputi :
1. Tujuan perjalanan
Tujuan perjalanan mengacu pada alasan utama seseorang melakukan perjalanan, seperti perjalanan ke tempat kerja, sekolah, pusat perbelanjaan, rekreasi, atau kebutuhan pribadi. Setiap jenis tujuan memiliki pola waktu, jarak, dan moda transportasi yang berbeda (Nasution, 2004).
2. Waktu perjalanan
Waktu perjalanan menunjukkan kapan perjalanan dilakukan. berdasarkan hal tersebut, waktu perjalanan dibagi menjadi jam sibuk (peak hours) dan jam tidak sibuk (off-peak hours). Analisis waktu perjalanan membantu memahami tingkat permintaan transportasi pada berbagai periode dan mendesain layanan transportasi yang lebih efisien (Tamin, 2020).
3. Pemilihan moda transportasi yang digunakan
Pemilihan moda transportasi mencerminkan prefensi pengguna berdasarkan kenyamanan, biaya, dan aksesibilitas. Secara sederhana moda berkaitan dengan jenis transportasi yang digunakan. Moda transportasi seperti kendaraan pribadi, angkutan umum, sepeda, atau berjalan kaki memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing dalam memenuhi kebutuhan perjalanan (Nasution, 2004).
4. Durasi dan Jarak Perjalanan
Durasi perjalanan merujuk pada waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan perjalanan, sementara jarak perjalanan mencerminkan panjang rute yang ditempuh. Faktor ini dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur, kepadatan lalu lintas, dan kecepatan moda transportasi yang digunakan.
5. Frekuensi Perjalanan
Frekuensi perjalanan mengacu pada seberapa sering seseorang melakukan perjalanan dalam periode waktu tertentu, seperti harian, mingguan, atau bulanan. Frekuensi ini dipengaruhi oleh kebutuhan individu, aktivitas ekonomi, dan kondisi geografis wilayah.
6. Asal dan Tujuan
Asal dan tujuan perjalanan menggambarkan lokasi awal dan akhir perjalanan.
Pola sering digunakan dalam pemodelan transportasi untuk menganalisis distribusi perjalanan dan merancang jaringan transportasi yang efektif (Tamin, 2020).
2.2.6 Kawasan Pendidikan
A. Karakteristik Kawasan Pendidikan
Kawasan pendidikan merupakan area yang didominasi oleh aktivitas belajar- mengajar dan kegiatan pendukung lainnya, yang melibatkan pelajar, tenaga pengajar, serta berbagai fasilitas seperti kantin, parkir, dan akses transportasi umum. Karakteristik kawasan pendidikan sering kali ditandai dengan tingginya mobilitas pengguna, terutama pelajar dan tenaga pendidik, yang memiliki pola perjalanan terjadwal dan terkonsentrasi pada jam masuk dan keluar sekolah.
Menurut Ortúzar & Willumsen (2011), pola perjalanan dalam suatu kawasan sangat dipengaruhi oleh tujuan perjalanan dan waktu tempuh, di mana kawasan pendidikan cenderung mengalami lonjakan volume perjalanan pada pagi dan siang hari. Hal ini sejalan dengan temuan Tamin (2020), yang menyatakan bahwa perjalanan terkait pendidikan merupakan salah satu faktor dominan dalam bangkitan dan tarikan perjalanan di perkotaan, sering kali menyebabkan peningkatan kepadatan lalu lintas di sekitar akses utama menuju sekolah. Fenomena ini menunjukkan perlunya perencanaan transportasi yang tepat untuk mengelola arus lalu lintas dan meningkatkan keselamatan di sekitar kawasan pendidikan.
Di kawasan Jalan Sekolah Sungailiat, yang memiliki beberapa institusi pendidikan, pola perjalanan ini dapat dilihat dengan jelas. Sebagian besar aktivitas lalu lintas di kawasan ini dipengaruhi oleh konsentrasi pelajar yang datang dan pergi setiap harinya. Keberadaan fasilitas penunjang seperti trotoar, tempat parkir, dan halte transportasi umum turut mendukung pergerakan pelajar menuju lokasi
pendidikan. Infrastruktur yang memadai seperti ini sangat penting dalam mengelola pergerakan pelajar dan tenaga pengajar agar tidak terjadi kemacetan yang berlebihan. Sehingga, karakteristik kawasan pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang ada, tetapi juga oleh kualitas infrastruktur yang tersedia serta pola pergerakan yang timbul akibat konsentrasi aktivitas pendidikan di kawasan tersebut.
B. Faktor Pengaruh Perjalanan
Faktor-faktor yang memengaruhi perjalanan di kawasan pendidikan melibatkan berbagai elemen, baik yang bersifat internal, seperti karakteristik pengguna (usia, jenis kelamin, dan status sosial-ekonomi), maupun eksternal, seperti kebijakan transportasi, tata guna lahan, dan kondisi infrastruktur (Tamin, 2020). Menurut Ortúzar & Willumsen (2011), volume perjalanan di suatu kawasan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jumlah penduduk yang beraktivitas di area tersebut dan jarak antara tempat tinggal dan tujuan perjalanan. Kawasan pendidikan, yang didominasi oleh aktivitas belajar-mengajar, cenderung menghasilkan tarikan perjalanan yang tinggi karena tingginya jumlah pelajar dan tenaga pengajar. Selain itu, faktor jarak juga berpengaruh terhadap pemilihan moda transportasi. Pelajar yang tinggal lebih dekat dengan sekolah cenderung berjalan kaki atau menggunakan sepeda, sedangkan mereka yang tinggal lebih jauh biasanya memilih menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum (Morlok, 1985).
Peningkatan volume perjalanan pada jam-jam tertentu, seperti saat masuk dan pulang sekolah, sering kali berkontribusi pada peningkatan kepadatan lalu lintas di sekitar kawasan pendidikan.
Ketersediaan dan kualitas infrastruktur transportasi sangat memengaruhi pola perjalanan di kawasan pendidikan. Infrastruktur yang mendukung kenyamanan pejalan kaki, seperti trotoar yang lebar dan fasilitas transportasi umum yang efisien, dapat meningkatkan mobilitas pelajar dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Akses yang baik terhadap transportasi umum, seperti bus atau angkutan kota, dapat mengurangi potensi kemacetan dan meningkatkan mobilitas pelajar. Selain itu, kebijakan transportasi yang mengutamakan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, seperti pengaturan lalu lintas yang lebih baik di sekitar
kawasan pendidikan, juga berperan dalam menciptakan pola perjalanan yang lebih teratur dan terkelola dengan baik.
2.2.7 Teknik Sampling A. Definisi
Rancangan sampling adalah metode yang digunakan untuk memilih sampel yang dapat menghasilkan kumpulan data sampel. Tujuan utama dari setiap rancangan sampling adalah untuk memberikan panduan dalam memilih sampel yang mewakili populasi, sehingga dapat menyediakan informasi tentang populasi dengan biaya yang minimal. Menurut Pasaribu (1964), pengambilan sampel, yang juga dikenal sebagai penarikan sampel, bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai populasi dengan mengamati hanya sebagian dari populasi tersebut.
Pengambilan sampel didasarkan pada asumsi bahwa dalam suatu populasi terdapat perbedaan atau variasi antara anggota-anggotanya, yaitu perbedaan dalam sifat-sifat individu dan sifat umum populasi tersebut. Setiap anggota populasi dianggap berbeda dari rata-rata populasi. Jika pengamatan dalam populasi dinyatakan dalam bentuk angka, maka sebagian anggota populasi akan memiliki nilai yang lebih rendah dan sebagian lainnya lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata. Ketika dilihat secara keseluruhan, perbedaan ini mungkin tidak terlalu terlihat, dan yang tampak secara umum adalah nilai rata-ratanya. Teori pengambilan sampel berlandaskan pada adanya pengaruh saling menghilangkan di antara anggota populasi tersebut.
B. Cara Penarikan dan Ukuran Sampel
Berkaitan dengan pengambilan sampel untuk survey transportasi, Bruton (1985) dalam Tamin (2000) memberikan ukuran sampel yang digunakan berdasarkan besarnya populasi yang ada seperti pada table 2.1 berikut :
Tabel 2.1 Rekomendasi ukuran sampel wawancara rumah tangga
Populasi Ukuran Sampel
Rekomendasi Minimum
Dibawah 50.000 1 : 5 1 : 10
50.000 – 150.000 1 : 8 1 : 20
150.000 – 300.000 1 : 10 1 : 35
300.000 – 500.000 1 : 15 1 : 50
500.00 – 1.000.000 1 : 20 1 : 70
Diatas 1.000.000 1 : 25 1 : 100
Sumber : Bruton (1985) dalam Tamin (2000) 2.2.8 Analisis Regresi
Analisis regresi merupakan salah satu metode statistik yang digunakan untuk menguji hubungan antara variabel dependen dan satu atau lebih variabel independen dalam sebuah model matematis. analisis regresi bertujuan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen sekaligus memprediksi nilai variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen.
Dalam perencanaan transportasi, analisis regresi sering digunakan untuk memahami hubungan antara berbagai faktor yang memengaruhi permintaan perjalanan, seperti jumlah penduduk, tingkat pendapatan, aksesibilitas, dan karakteristik wilayah (Ortúzar & Willumsen, 2011). Model ini membantu dalam mengestimasi volume perjalanan dan pola transportasi, yang selanjutnya menjadi dasar untuk merancang jaringan transportasi yang efisien dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, analisis regresi tidak hanya menjadi alat yang penting dalam penelitian ilmiah, tetapi juga berkontribusi secara langsung pada pengambilan keputusan di bidang perencanaan transportasi.
A. Model Analisis Regresi Linear
Model analisis regresi dalam permodelan bangkitan dan tarikan (trip generation) dilakukan untuk mendapatkan hubungan linier antara besarnya bangkitan dan tarikan dengan atribut sosial ekonomi dan karakteristik tata guna lahan pada suatu wilayah. Menurut Tamin (2020), analisis regresi linier adalah metode statistik yang dapat digunakan untuk mempelajari hubungan antar sifat
permasalahan yang sedang diselidiki. Pada model ini terdapat variabel dependen (y) yang mempunyai hubungan fungsional dengan satu atau lebih variabel independen (x).
B. Model Analisis Regresi Linear dengan Variabel Tunggal
Variabel analisis regresi dibedakan menjadi dua jenis variable yaitu independen (X) dan variable independen (Y). Bentuk sederhana dari hubungan linear dari 2 jenis variable tersebut dituliskan dalam persamaan:
Y = a+bX... (2.1) Dimana :
Y = Variabel dependen X = Variabel independen A = Konstanta regresi B = Koefisien regresi
C. Model Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis ini merupakan pengembangan lanjut dari regresi linear, khususnya pada kasus yang mempunyai banyak variabel independen. Persamaan umum untuk model regresi linear berganda adalah sebagai berikut :
Y = a+b1X1+b2X2+b3X3+…..bnXn... (2.2) Dimana :
Y = Variabel dependen X1..Xn = Variabel independen A = Konstanta regresi B1…Bn = Koefisien regresi 2.2.9 Analisis Korelasi
Menurut (Tamin, 2020), analisis korelasi adalah alat statistik yang digunakan untuk mengetahui derajat hubungan linier antara satu variabel dengan variabel lain.
Umumnya, analisis korelasi digunakan dalam hubungannya dengan analisis regresi untuk mengukur ketepatan garis regresi dalam menjelaskan variasi nilai variabel dependen. Koefisien korelasi merupakan ukuran yang dapat digunakan untuk mengetahui eratnya hubungan antara suatu variabel dengan variabel lain.
A. Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi digunakan untuk menentukan korelasi antara variabel tidak bebas dengan variabel bebas atau antara sesame variabel bebas. Koefisien korelasi ini dapat dihitung dengan persamaan :
Rxy =
n ∑ XY−(∑ X)(∑Y)
√
{n ∑ X²−(∑ X²)}{n ∑Y²−(∑Y²)}... (2.3) Besaran r berkisar antara -1 dan +1 (-1 S r ≤ +l), harga r = -1 menyatakan adanya asosiasi linear sempurna tak langsung antara X dan Y. Ini berarti titik-titik yang ditentukan oleh (X < Y) seluruhnya terletak pada garis regresi linear, dengan harga X yang besar akan berpasangan dengan harga Y yang kecil dan harga X yang kecil akap berpasangan dengan harga Y yang besar. Harga r = +1 menyatakan adanya asosiasi linear sempurna langsung antara X dan Y. Letak titik-titik pada garis regresi linear bersifat bahwa harga X yang besar akan berpasangan dengan harga Y yang besar pula, demikian juga sebaliknya.B. Pengujian Nilai Koefisien Korelasi
Pengujian nilai R untuk mengetahui hasilnya signifikan atau tidak, dapat diuji melalui tabel r-teoritik dengan jumlah pasangan data = N atau dengan derajat bebas db = N-2. Dalam pengujian ini digunakan r- teoritik dengan taraf signifikan 5%.
Apabila R> r-teoritik, berarti korelasi antara X dan Y signifikan Apabila R< r- teoritik, berarti korelasi antara X dan Y tidak signifikan.
Taraf signifikan 5% maksudnya adalah besarnya kemungkinan membuat kesalahan dari korelasi tersebut sebesar 5%. Tingkat kebenaran yang dapat diterima dari korelasi hitungan sebesar 95%.
1. Hipotesis yang digunakan:
a. НО : r = 0, artinya korelasi tidak signifikan.
b. Hi : r # 0, artinya korelasi signifikan.
Uji dilakukan 2 sisi karena akan dicari ada atau tidaknya hubungan/ korelasi, dan bukan lebih besar/ kecil.
2. Dasar pengambilan keputusan a. Berdasarkan probabilitas
1. Jika probabilitas > 0.05 maka Ho diterima.
2. Jika probabilitas < 0.05 maka Ho ditolak.
b. Berdasarkan tanda * yang diberikan SPSS Adanya tanda * pada pasangan data yang dikorelasi menunjukkan adanya korelasi yang signifikan pada data tersebut.
3. Indeks Determinasi
Indeks determinasi mengukur derajat asosiasi antara variabel X dan Y, apabila antara X dan Y terdapat hubungan regresi Y = f(X). Sifat indeks determinasi adalah jika titik-titik diagram pencar letaknya makin dekat kepada garis regresi, maka harga R' makin dekat kepada 1. Apabila titik-titik itu makin jauh dari garis regresi maka harga R? makin mendekati O. Secara umum berlaku 0 ≤ R' ≤ 1.
Rumus umum dari indeks determinasi : R2 = ∑(Y−Y)2−∑(Y−Y)²
∑(Y−Y)² ... (2.4) dimana:
R2 = Indeks determinasi
Y-Y = Jumlah kuadrat kesalahan pengganggu (Residual sum of square) Y-Y = Total sum of square
4. Korelasi Regresi Linear Berganda
Untuk menentukan derajat asosiasi antara variabel-variabel yang ada maka berdasarkan persamaan regresi linear berganda :
Y =a0 +a1X1+a2X2 +...+ akXk... (2.5) R2 ditentukan dengan rumus :
R2 = a1∑ x1y+…+a k ∑ xky
∑ y² ... (2.6) Dimana :
X1 = X1-X1; x2 = X2-X2; ...; xk = Xk-Xk, dan y = Y-Y
R = koefisien korelasi linear berganda untuk Y, X1, X2,...,Xk
R = koefisien determinasi linear berganda 2.2.10 Uji T
Uji T merupakan salah satu uji hipotesis penelitian dalam analisis regresi linear berganda, yang bertujuan untuk mengetahui apakah variabel X (masing masing) berpengaruh terhadap variabel Y. kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Jika sig > 0,05 atau T hitung < T tabel maka tidak terdapat pengaruh variabel X terhadap variabel Y.
2. Jika sig < 0,05 atau T hitung > T tabel maka terdapat pengaruh variabel X terhadap variabel Y.
2.2.11 Uji F
Uji F yaitu uji yang digunakan untuk melihat bagaimanakah pengaruh semua variabel bebasnya secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya. Atau untuk menguji apakah model regresi yang kita buat baik/signifikan atau tidak baik/non signifikan. Jika model signifikan maka model bisa digunakan untuk prediksi atau peramalan, sebaliknya jika tidak signifikan maka model regresi tidak bisa digunakan untuk peramalan. Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Bila sig>0,05 maka H0 ditolak, sehingga tidak ada pengaruh signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
2. Bila sig>0,05 maka H0 diterima, sehingga ada pengaruh signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
3. Jika F hitung > F tabel maka H0 di terima, sehingga ada pengaruh signifikan anata variabel bebas dengan variabel terikat.
4. Jika F hitung < F tabel maka H0 di terima, sehingga ada pengaruh signifikan anata variabel bebas dengan variabel terikat.
2.2.12 Koefisien Determinasi (R²)
Nilai koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan secara dependen mampu menjelaskan variasi variabel tidak bebas. Nilai 𝑅2 berada pada interval (0≤ R 2 ≥ 1), logikanya adalah semakin baik estimasi model dalam menggambarkan data, semakin dekat nilai R2 ke nilai 1. Nilai R2 diperoleh dengan rumus :
R2 = (1(1−N) (N−1)
(N−K) )... (2.7) Dimana :
R2 = Koefisien determinasi R = Nilai korelasi ganda N = Jumlah Sampel
K = Jumlah variabel bebas 2.2.13 Uji Signifikasi
Derajat signifikansi atau tingkat kepercayaan merujuk pada keyakinan terhadap tingkat kesalahan yang dinyatakan dalam persentase. Jika tingkat keyakinan ditetapkan pada 95%, maka tingkat kesalahan yang dapat diterima adalah 5%. Uji signifikansi biasanya didasarkan pada nilai kesalahan yang sering dinyatakan dalam interval 1%, 5%, 10%, hingga batas tertentu. Semakin tinggi persentase yang digunakan, semakin rendah tingkat kepercayaan terhadap hasil penelitian yang dilakukan. Dalam studi ini, interval yang digunakan adalah 5%.
2.2.14 Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menentukan apakah terdapat korelasi antara variabel bebas (independen) dalam model regresi. Model regresi yang baik seharusnya tidak menunjukan adanya korelasi diantara variabel independen. Untuk mendeteksi keberadaan multikolinearitas dalam model regresi, penelitian ini menggunakan ukuran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance. Berikut adalah cara untuk mendeteksi multikolinearitas:
a. Mempunyai nilai VIF +/- 1
b. Mempunyai angka Tolerance +/- 1
c. Atau tolerance = 1/VIF dan VIF = 1/Tolerance
d. Nilai cutoff yang umumnya dipakai untuk menunjukan adanya - multikolinearitas adalah nilai VIF >5 dipastikan terjadi multikolinearitas.
Untuk mempermudah dalam melakukan perhitungan secara statistik, maka analisis yang dilakukan dalam penelitian ini akan diolah dengan bantuan software statistik SPSS.
2.2.15 Uji Normalitas
Uji normalitas adalah metode statistik yang digunakan untuk menentukan apakah data dalam suatu dataset mengikuti distribusi normal, yang memiliki bentuk seperti lonceng simetris. Distribusi normal merupakan asumsi penting dalam banyak analisis statistik parametrik, seperti uji-t, ANOVA, atau regresi, sehingga pengujian ini diperlukan untuk memastikan keabsahan analisis yang dilakukan.
Uji normalitas dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu uji statistik dan uji grafik. Uji statistik, seperti uji Kolmogorov-Smirnov dan uji Shapiro-Wilk, memberikan hasil kuantitatif untuk menilai normalitas data, di mana nilai p > 0,05 menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (Ghozali, 2016). Di sisi lain, uji grafik, seperti histogram, Q-Q plot, dan boxplot, memberikan gambaran visual untuk mengevaluasi pola distribusi data. Jika data tidak berdistribusi normal, langkah alternatif seperti transformasi data atau penggunaan metode non- parametrik dapat dilakukan untuk analisis lebih lanjut (Sugiyono, 2020).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada keberadaan beberapa sekolah yang beroperasi di ruas jalan tersebut, serta kedekatannya dengan kawasan perdagangan dan permukiman yang terletak di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Yos Sudarso, dengan Jalan Sekolah ini yang menjadi penghubung antara kedua jalan utama tersebut, sehingga memiliki peranan strategis dalam mobilitas masyarakat. Keberadaan sekolah-sekolah yang berada di kawasan ini menciptakan tarikan perjalanan yang cukup besar. yang menjadi fokus utama dalam analisis ini. Berikut merupakan sketsa lokasi pengamatan analisis tarikan perjalanan Kawasan Pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat.
Sumber : Google Earth, 2025
Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian
Gereja
± 1,9 M
UPTD SDN 1 Sungailiat TK Plus Setia Budi SD Plus Setia Budi SMP Plus Setia Budi
3,5 M
MIN 1 Bangka UPTD SDN 1
Sungailiat
Permukiman warga
N
Sumber : Pribadi, 2025
Gambar 3.2 Denah Lokasi Penelitian
3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada pukul 06.30 - 7.00 WIB dan pukul 11.00 - 11.30 WIB selama 2 hari kerja. Hal ini dimaksudkan agar data yang diperoleh lebih lengkap dan dapat mewakili karakteristik perjalanan di Jalan Sekolah Sungailiat.
3.3 Studi Pustaka
Studi kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 1985). Dalam pepelitian studi pustaka bertujuan untuk :
1. Menemukan suatu masalah untuk diteliti.
2. Mencari informasi yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.
3. Mengkaji beberapa teori dasar yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.
4. Untuk membuat uraian teoritik dan empirik yang berkaitan dengan faktor, indikator, variabel dan parameter penelitian yang tercermin di dalam masalah- masalah yang ingin dipecahkan.
5. Memperdalam pengetahuan peneliti tentang masalah dan bidang yang akan diteliti.
6. Mengkaji hasil hasil penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Artinya hasil penelitian terdahulu mengenai hal yang akan diteliti dan atau mengenai hal yang berkaitan dengan hal yang akan diteliti.
3.4 Pelaksanaan Survei
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara membagikan kuisioner dan survey pada lokasi penelitian secara sampling dan acak. Ukuran sampel menurut Bruton (1985) dalam Tamin (2020) untuk jumlah populasi < 50.000 diambil sebanyak 20% dari total populasi, atau minimum sebanyak 10%. Kuisioner tersebut berisikan pertanyaan-pertanyaan yang meliputi jarak dari tempat tinggal ke sekolah.
kepemilikan kendaraan, moda yang digunakan, lama perjalanan, serta pertanyaan- pertanyaan pendukung lainnya.
3.5 Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara membagikan kuisioner kepada sampel populasi sedangkan data sekunder di peroleh dari instansi terkait.
3.5.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber asli oleh peneliti untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam penelitian ini data primer didapatkan melalui penyebaran kuisioner terhadap sampel populasi dari siswa, guru, dan staf pada sekolah-sekolah di Jalan Sekolah Sungailiat. Data primer yang didapatkan antara lain:
1. Karakteristik perjalanan 2. Jarak perjalanan
3. Waktu perjalanan
4. Waktu tempuh
5. Kepemilikan kendaraan 6. Pemilihan moda
7. Alasan pemilihan moda 8. Tujuan perjalanan 3.5.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan dan dipublikasikan sebelumnya oleh pihak terkait, biasanya dalam bentuk laporan, statistik, dokumen, atau arsip. Data ini diperoleh dari sumber seperti badan pemerintah, institusi penelitian, jurnal ilmiah, buku, atau database online. Pada penelitian ini data sekunder didapatkkan dari sekolah. Data sekunder yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Data jumlah siswa
2. Data jumlah guru dan staf 3. Luas Sekolah
4. Jumlah kelas 5. Kapasitas kelas 6. Luas kelas rata-rata
7. Luas lantai bangunan sekolah 8. Peta lokasi
3.6 Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang berpengaruh dalam perancangan model tarikan perjalanan ke kawasan Pendidikan jalan sekolah sungailiat adalah sebagai berikut : A. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel bebas, variabel tersebut adalah :
Tarikan Perjalanan (Y)
Merupakan akumulasi kendaraan yang digunakan siswa, guru, atau staf ke kawasan pendidikan jalan sekolah sungailiat per satuan waktu (misalnya, per hari atau jam puncak).
B. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tarikan perjalanan pada kawasan pendidikan jalan sekolah. Variabel ini diberi simbol X, adapun variabel-variabel hipotesa yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Jumlah siswa (X1)
Merupakan jumlah seluruh siswa pada setiap sekolah yang ditinjau 2. Jumlah guru dan staf (X2)
Merupakan jumlah guru dan staf pada setiap waktu sekolah yang ditinjau 3. Luas sekolah (X4)
Merupakan luas tanah sekolah secara keseluruhan.
4. Jumlah Kelas (X5)
Merupakan banyak kelas yang terdapat di masing-masing sekolah.
5. Kapasitas Kelas (X6)
Merupakan jumlah siswa yang dapat ditampung dalam satu kelas di setiap sekolah.
6. Luas kelas rata-rata (X7)
Merupakan luas rata-rata dari kelas di setiap sekolah.
7. Luas lantai bangunan (X8)
Merupakan luas lantai keseluruhan masing-masing sekolah.
8. Kepemilikan kendaraan (X9)
Merupakan kepemilikan kendaraan oleh siswa atau keluarganya (misalnya, memiliki kendaraan pribadi atau tidak).
9. Pemilihan moda (X10)
Merupakan jenis moda transportasi yang dipilih oleh siswa untuk pergi ke sekolah (misalnya, berjalan kaki, sepeda, angkutan umum, kendaraan pribadi).
10. Waktu tempuh (X)
Merupakan rata-rata waktu yang diperlukan siswa untuk mencapai sekolah dari rumah.
3.7 Perhitungan Jumlah Sampel
Kawasan Pendidikan pada Jalan Sekolah Sungailiat terdapat 5 sekolah yang terdiri dari 1 Taman Kanak-kanak (TK), 2 Sekolah Dasar (SD), 1 Madrasah Ibtida’iyah (MI), dan 1 Sekolah Menegan Pertama (SMP). Jumlah populasi sekolah-sekolah tersebut ditunjukan pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Jumlah Siswa dan Guru di Kawasan Pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat No Nama Sekolah Jumlah Siswa Jumlah Guru &
Staf Jumlah
1. TK Plus Setia Budi 91 10 110
2. SD Plus Setia Budi
Sungailiat 309 29 338
3. UPTD SD Negeri 1
Sungailiat 465 32 497
4. MIN 1 Bangka 387 30 417
5. SMP Plus Setia Budi
Sungailiat 112 13 125
Jumlah 1.364 114 1.487
(Sumber : sekolah.data.kemendikbud.go.id, 2025)
Berdasarkan data tersebut diketahui jumlah siswa pada Kawasan jalan sekolah sungailiat sebanyak 1.364 orang dan jumlah guru dan staf sebanyak 114 orang. Jumlah total populasi sebanyak 1.487 orang. Berdasarkan tabel 2.1 jumlah sampel untuk populasi dibawah 50.000 direkomendasikan sebesar 1:5, sehingga untuk penyebaran kuisioner dilakukan kepada sebanyak 296 orang. Untuk perincian jumlah sampel dijelaskan pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Jumlah Sampel Kuisioner Kawasan Pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat No Nama Sekolah Jumlah Siswa & Guru Jumlah Sampel
1. TK Plus Setia Budi 110 22
2. SD Plus Setia Budi
Sungailiat 338 68
3. UPTD SDN 1 Sungailiat 497 100
4. MIN 1 Bangka 417 84
5. SMP Plus Setia Budi
Sungailiat 123 25
Jumlah 1.487 296
(Sumber : Dihitung, 2025)
3.8 Teknik Pengolahan Data
Pengumpulan data primer yang digunakan pada penelitian ini adalah pengumpulan data dengan membagikan kuisioner kepada sampel populasi siswa dan guru untuk mendapatkan data yang valid.
Setelah didapat data-data yang diperlukan, Pengolahan data yang digunakan dalam analisis tarikan perjalanan kawasan pendidikan ini mengunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 30. SPSS merupakan sebuah program komputer statistik yang berfungi untuk membantu dalam memproses data- data statistik secara tepat dan cepat, serta menghasilkan berbagai output yang dikehendaki oleh para pengambil keputusan.
3.9 Analisis Data dan Pembahasan
Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi untuk mendapatkan model tarikan perjalanan dengan bantuan program SPSS. Adapun langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengujian terhadap koefisien korelasi dan signifikasi koefisien korelasi, untuk mengetahui hubungan antar variabel yang diselidiki, baik antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas, maupun antar variabel bebas, untuk pengujian ini menggunakan persamaan 2.3.
2. Membuat alternatif model berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji signifikansi koefisien korelasi.
3. Menghitung koefisien persamaan regresi untuk mendapatkan model tarikan perjalanan pada daerah penelitian dengan persamaan 2.5.
4. Melakukan pengujian statistik terhadap alternatif model yang diuji. Tiga uji statistik yang dilakukan adalah uji determinasi/ nilai R', uji signifikasi koefisien regresi/ uji-t dan uji simultan/ uji-F. Selain uji statistik tersebut juga dilakukan uji kolinearitas untuk mendeteksi masalah multikolinearitas.
5. Menentukan model terbaik dari beberapa alternatif model berdasarkan hasil uji statistik dan uji kolinearitas yang dilakukan.
3.10 Diagram Alir Penelitian
Diagram Alir Penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.3
Mulai
Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, dan Batasan Masalah
Studi Pustaka
Pengumpulan Data Data Primer
-Karakteristik perjalanan -Jarak
perjalanan -Waktu
tempuh -Kepemilikan
kendaraan -Pemilihan
moda -Alasan
pemilihan
Data Sekunder -Jumlah siswa -Jumlah guru
dan staf -Luas sekolah -Jumlah kelas -Kapasitas
kelas
-Luas kelas rata-rata -Luas lantai
bangunan
Pengolahan Data
Pengolahan data menggunakan Software Statical Product and Service Solution
(SPSS) versi 30
A
Gambar 3.3 Diagram Alir Penelitian
3.11 Time Schedule
Time schedule penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.4
TAHUN BULAN
MINGGU KE 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1
2
4
6 7 8
ANALISIS DAN PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN SEMINAR HASIL Revisi SIDANG AKHIR Revisi 9 10
KEMAJUAN PELAKSANAAN
PENGAJUAN JUDUL PERSIAPAN ADMINISTRASI
a. Pendahuluan b. Tinjauan Pustaka 3
5
c. Landasan Teori d. Metode Penelitian SEMINAR PROPOSAL PENGUMPULAN DATA a. Data Primer b. Data Sekunder PENGOLAHAN DATA PENGUMPULAN MATERI
FEBRUARI MARET APRIL MAY JUNE JULY
URAIAN PELAKSANAAN
NO AGUSTUS DESEMBER JANUARI
2024 2025
Gambar 3.4 Time Schedule/Jadwal Penelitian Tugas Akhir A
Uji Data -Uji Koefisien
Korelasi -Uji Koefisien
Determinasi -Uji Signifikansi -Koefisien Regresi -Uji Kolinearitas
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran Selesai
DAFTAR PUSTAKA
Annisa, R. D., Aini, N., Wicaksono, A., & Anwar, M. R. (2014). Studi Pembuatan Model Tarikan Pergerakan Orang Pada Pusat Kegiatan Pendidikan Dengan Metode Analisis Regresi (Studi Kasus: Kampus Universitas Brawijaya).
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, 1(1), pp-164.
Banister, D. (2008). The sustainable mobility paradigm. Transport Policy, 15(2), 73–80.
Bowersox, D. J. (1981). Introduction to Transportation. Macmillan.
Dwipa, Z. S. (2017). Analisis Tarikan Perjalanan Kawasan Pendidikan (Studi Kasus Jalan Pemuda Sungailiat). Jurnal Fropil, 5(2), 124–133.
Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete SPSS 23.
Guntur, H., & Octaviani, K. (2022). Analisis Tarikan Perjalanan dan Pola Sebaran Panjang Perjalanan ke Kawasan Pendidikan ( Studi Kasus : Kawasan Pendidikan Jalan Gatot Subroto , Kabupaten Blora ). Simetris, 16(Desember 2), 25–34.
Handriyadi, M. R., Sarya, G., Rizkiardi, A., & Trimurtiningrum, R. (2021). Studi Analisis Pemodelan Bangkitan Dan Tarikan Lalu Lintas (Studi Kasus : Sman 1 Taman Dan Smpn 2 Taman Sidoarjo). Extrapolasi, 17(1), 1–10.
Hobbs, F. D. (2016). Traffic Planning and Engineering: Pergamon International Library of Science, Technology, Engineering and Social Studies. Pergamon.
Litman, T. (2022). Evaluating Transportation Equity: Guidance for Incorporating Distributional Impacts in Transport Planning. ITE Journal (Institute of Transportation Engineers), 92(4), 44–49.
Mardiana, D. (2021). Analisis Model Tarikan perjalanan Pada Kawasan pendidikan di Kota Luwuk (Studi Kasus: Jalan Ki Hajar Dewantara Kelurahan Karathon Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai). SIPARSTIKA: Jurnal Ilmiah Ilmu- Ilmu Teknik, 1(1), 29–41.
Morlok, E. K. (1985). Pengantar teknik dan perencanaan transportasi. Erlangga.
Nasution, M. N. (2004). Manajemen Jasa Terpadu. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.
Nazir, M. (1985). Metode penelitian. Ghalia Indonesia.
Ortúzar, J. de D., & Willumsen, L. G. (n.d.). MODELLING TRANSPORT.
Pasaribu, A. (1964). Pengantar statistik (Nomor v. 1).
Rodrigue, J. P. (2013). The Geography of Transport Systems. Taylor & Francis.
Sugiyono. (2020). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
Suryani, D. (2023). Pengembangan Mode Transportasi.
Tamin, O. Z. (2020). Penerapan Konsep Interaksi Tata Guna Lahan-Sistem Transportasi Dalam Perencanaan Sistem Jaringan Transportasi. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 8(3), 34–52.
Zulkarnain, D., & Julian, E. S. (2017). Perancangan Sistem Parkir Dengan Rekomendasi Lokasi Parkir. Jetri : Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, 14, 17–28.