Proposal dengan judul :
“Kenaikan Harga Minyak Goreng Dan Daya Konsumtif Warga Kota Ambon”
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial Dosen pengajar Dr.Pahrul Idham Kaliky,M.Si
DISUSUN OLEH :
NAMA : BRYAN JOE LATUMAHINA KELAS :A
NIM : 202025024
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PATTIMURA 2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kepada TUHAN YANG MAHA ESA atas segala rahmatnya sehingga proposal ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.
Penulis sangat berharap semoga proposal ini dapat menambah pengetahuan serta pengalamaan bagi para pembaca proposal penelitian ini. Bahlkan saya berharap lebih jauh lagi agar proposal ini bisa pembaca praktekan dalam kehidupan sehai-hari.
Bagi saya penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan dalam proposal penelitian ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis, maka dari itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan proposal ini.
DAFTAR ISI :
KATA PENGANTAR...2
BAB I...4
PENDAHULUAN...4
A. LATAR BELAKANG :...4
A. RUMUSAN MASALAH :...7
B. TUJUAN PENELITIAN :...7
C. MANFAAT PENELITIAN :...7
D. SISTEMATIKA PENELITIAN :...8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...9
A. MINYAK GORENG :...9
B. DAYA ATAU PERILAKU KONSUMTIF :...15
C. KERANGKA PEMIKIRAN :...24
D. KERANGKA PENELITIAN :...24
BAB III METODE PENELITIAN...25
A. JENIS DAN TIPE PENELITIAN :...25
B. SETTING PENELITIAN :...25
C. SUMBER DATA :...25
D. INFORMAN PENELITIAN :...25
E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA :...26
F. TEKNIK ANALISIS DATA :...27
G. KEABSAAN DATA :...28
BAB IV...29
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...29
BAB V...31
KESIMPULAN DAN SARAN...31
A. KESIMPULAN :...31
B. SARAN :...31
DAFTAR PUSTAKA...32
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG :
Minyak goreng umumnya berasal dari minyak kelapa sawit. Minyak kelapa dapat digunakan untuk menggoreng karena struktur minyaknya yang memiliki ikatan rangkap sehingga minyaknya termasuk lemak tak jenuh yang sifatnya stabil. Selain itu pada minyak kelapa terdapat asam lemak esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Asam lemak tersebut adalah asam palmitat, stearat, oleat, dan linoleat. Beberapa minyak yang dipakai untuk menggoreng selain minyak kelapa sawit adalah minyak palm kernel, palm olein, palm stearin, dan Tallow. Selain itu terdapat juga minyak lain seperti minyak biji anggur, bunga matahari, kedelai, dan zaitun.Minyak-minyak ini kurang cocok apabila digunakan untuk menggoreng namun minyak-minyak ini memiliki kandungan asam lemak yang tinggi dan biasa digunakan sebagai bahan tambahan pada salad dan makanan lainnya.
Minyak goreng adalah salah satu komoditas dari sembilan bahan pokok yang bersifat strategis dan multiguna. Kedua sifat tersebut membuat minyak goreng menjadi salah satu komoditas yang memiliki peranan yang penting dalam perekonomian Indonesia. Harga minyak goreng beberapa tahun ini mengalami peningkatan yang cukup tinggi, hal ini disebabkan meningkatnya harga CPO dunia yang ikut memicu peningkatan harga CPO domestik dan jumlah persedian CPO untuk pasar domestik. Kenaikan harga akan berdampak langsung kepada konsumen pengguna minyak goreng baik konsumen rumah tangga maupun konsumen industri terutama untuk industri pengolahan makanan skala kecil dan menengah. Salah satu jenis usaha dalam industri pengolahan makanan yang menggunakan minyak goreng sebagai salah satu bahan baku utama dan vital dalam proses produksinya adalah usaha penggorengan kerupuk.
TAHUN 2022 diawali dengan kegundahan yang dirasakan oleh kebanyakan kaum ibu rumah tangga di Indonesia. Kegundahan yang mereka bawa dari tahun 2021 sebelumnya ketika harga- harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Minyak goreng menjadi komoditas dengan kenaikan harga yang cukup menonjol. Tingginya harga minyak goreng seperti pada saat ini belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Menurut Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan, Per 24 Desember 2021, harga minyak goreng di pasar senilai Rp 18.400 per liter.
Ini cukup miris untuk sebuah negara penghasil sawit nomor satu di dunia. Harga tersebut jugalebih tinggi 67% dari harga acuan pemerintah yaitu Rp 11.000 per liter.
Berdasarkan Pusat Informasi Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, per 4 Januari harga minyak goreng kemasan bermerek dibanderol Rp20.800 per Kg, harga minyak goreng curah Rp18.550 per Kg. Kenaikan harga minyak goreng juga bisa memengaruhi berbagai sektor lain, seperti sektor makanan-minuman, ritel, pedagang kecil hingga di tingkat rumah tangga.
Di tingkat rumah tangga, kenaikan harga minyak goreng ini menimbulkan dua kemungkinan.
Mengurangi konsumsi minyak goreng atau tetap membeli minyak goreng tetapi mengurangi belanja yang lain.
Lebih lanjut, kondisi ini juga bisa merugikan pengusaha sektor lain. Misalnya pengusaha pakaian dan elektronik yang tidak laku barangnya. Sebab masyarakat memilih membelanjakan
uangnya untuk kebutuhan pokok ketimbang membeli pakaian atau elektronik yang masih bisa ditunda.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan mengatakan, kenaikan harga minyak goreng lebih dikarenakan harga internasional yang naik cukup tajam. Selain itu, faktor yang menyebabkan harga minyak di Indonesia mahal adalah turunnya panen sawit pada semester kedua. Sehingga, kata dia, suplai CPO menjadi terbatas dan menyebabkan gangguan pada rantai distribusi (supply chain) industri minyak goreng.
Penyebab lain yang menyebabkan naiknya harga minyak goreng yakni adanya kenaikan permintaan CPO untuk pemenuhan industri biodiesel seiring dengan penerapan kebijakan B30.
Faktor lainnya, yaitu gangguan logistik selama pandemi Covid-19, seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal.
SPI menilai kebijakan pangan dan pertanian nasional harus berdasarkan kedaulatan pangan.
Kedaulatan pangan berarti pemenuhan pangan melalui produksi lokal, mendorong produk pertanian nasional, serta mendorong pendirian dan penguataan kelembagaan ekonomi petani, yakni koperasi bukan korporasi. Melalui kedaulatan pangan, kebijakan pertanian Indonesia akan menempatkan kepentingan dan nasib petani, selaku produsen pangan, di atas kepentingan korporasi maupun tuntutan pasar.
khusus untuk kasus naiknya harga minyak goreng ini, SPI menilai pemerintah harus segera merumuskan kebijakan agar tidak semuanya sawit diekspor. Pemerintah harus mengalokasikan produksi sawit untuk kebutuhan di dalam negeri. Pemerintah juga bisa mendorong dan
membantu koperasi-koperasi petani untuk mampu membangun pabrik minyak goreng skala lokal. Tentunya pemerintah juga membantu proses distribusi dan pemasarannya juga.
minyak goreng harus kembali menjadi produksi rakyat. Sawitnya dijual ke pabrik minyak goreng lokal dengan harga yang layak, minyak gorengnya dijual ke masyarakat lokal, hingga nasional dengan harga yang tidak memberatkan konsumen.
A. RUMUSAN MASALAH :
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apa penyebab naiknya harga minyak goreng ?
2. Apa imbus dari naiknya harga minyak goreng ini bagi masyarakat kota Ambon (khusunya warga magga dua Ambon) ?
B. TUJUAN PENELITIAN :
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui bagaimana imbus kenaikan harga minyak goreng
terhadap masyarakat kota Ambon (khususnya waga kota ambon).
2. Memberikan solusi yang sekiranya dapat membantu pemerintah dalam menangani permasalahan ini.
C. MANFAAT PENELITIAN :
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini sebagai berikut : 1. Manfaat teoritis :
Penulis berharap karya ini dapa menjadi tambahan pemikian dan landasan teori bagi penelitan yang telah dilakukan maupun peneliti yang akan mengambil topik yang sama dan dapat memberikan informasi mengenai permasalahan yang diteliti.
2. Manfaat praktis :
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan Dan wawasan bagi penulis khusunya dan pembaca pada umumnya.
D. SISTEMATIKA PENELITIAN :
Sistematika penelitian adalah sebuah kerangka yang nantinya akan berisi mengenai laporan penelitian yang berfungsi sebagai dokumen persetujuan.
Sistematika penulisan atau pembahasan terdiri dari V bab yang rinciannya sebagai berikut :
1. BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi uraian pendahuluan yang di dalamnya berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penelitian
2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini berisi uraian tentang defenisi dan pengertian serta penjelasan yang bersumber dari penelitian terdahulu, buku atau penelitian yang berhubungan dengan penelitian yang dikerjakan. Dan juga terdapat kerangka berpikir dalam menyusun penelitian ini.
3. BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini membahas tipe penelitian, setting penelitian, informan peneltian, sumber data, teknik penelitian, teknik analisis data, dan keabsaan data.
4. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini menyajikan deskripsi objek peneltian, hasil penelitian, serta pembahasan mengenai masalah.
5. BAB V PENUTUP
Bab ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan, dan saran.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. MINYAK GORENG :
1. DEFENISI MINYAK GORENG :
Minyak goreng adalah bahan pangan dengan komposisi utama trigliserida yang berasal dari bahan nabati, dengan atau tanpa perubahan kimiawi, termasuk pendinginan dan telah melalui proses rafinasi atau pemurnian yang digunakan untuk menggoreng (SNI, 2103).
Minyak merupakan campuran dari ester asam lemak dengan gliserol. Jenis minyak umumnya dipakai untuk menggoreng adalah minyak nabati seperti minyak sawit, minyak kacang tanah, minyak wijen dan sebagainya. Minyak goreng jenis ini mengandung sekitar 80 % asam lemak tak jenuh jenis asam oleat dan linoleat, kecuali minyak kelapa (Sartika, 2009).
Pada teknologi makanan, lemak dan minyak memegang peranan penting, karena minyak dan lemak memiliki titik didih yang tinggi (sekitar 2000 C) maka dapat digunakan untuk menggoreng makanan sehingga bahan yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya dan menjadi kering (Sudarmadji, 2003 dalam Titin, 2016).
2. JENIS-JENIS MINYAK GORENG : a. minyak kelapa :
Minyak kelapa diambil dari ekstrak buah kelapa segar. Minyak kelapa mengandung lemak jenuh (saturated fat), namun lemak pada minyak kelapa tidak sama dengan lemak hewani.
Minyak kelapa tidak mengandung kolesterol dan bisa digunakan untuk memasak pada suhu tinggi. Minyak kelapa akan membeku pada suhu rendah.
b. Minyak zaitun :
Minyak zaitun bagus untuk kesehatan jantung. karena mengandung lemak
tak jenuh (monounsaturated fat) atau kolesterol baik. Minyak zaitun tidak diperkenankan untuk menggoreng karena minyak ini tidak tahan suhu tinggi. Jika ingin menggunakannya untuk menumis, maka gunakan api sedang. Biasanya minyak zaitun dipakai untuk membuat salad.
c. Minyak sawit :
Umumnya minyak sawit mengandung lemak jenuh. minyak sawit sangat
bagus untuk memasak atau menggoreng karena tahan suhu tinggi. Meskipun demikian, sebaiknya jangan terlalu sering mengkonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak sawit, karena lemak jenuh pada minyak tersebut dapat mengganggu kesehatan.
d. Minyak biji wijen :
Minyak biji wijen mengandung lemak tak jenuh ganda. Minyak biji wijen
dipercaya bisa mengurangi kolesterol, serta mengandung vitamin E dan antioksidan.
Minyak biji wijen sebaiknya hanya digunakan untuk menumis dengan suhu rendah dan membuat salad.
e. Minyak kacang tanah :
Minyak kacang tanah mengandung lemak tak jenuh karena termasuik
minyak sehat. Minyak ini bisa digunakan untuk menggoreng, menumis, memanggang atau membuat salad. Minyak kacang tanah juga dipercaya mengandung omega 6 dan
antioksidan.
f. Minyak kulit padi :
Minyak kulit padi dihasilkan dari ekstrak dedak padi. Minyak ini
mengandung lemak tak jenuh dan bisa digunakan untuk memasak, menggoreng, membuat salad, ataupun memanggang. Minyak kulit padi juga mengandung vitamin E dan
antioksidan.
g. Minyak alpukat (avocado) :
Komposisi minyak alpukat atau avocado mirip dengan minyak zaitun, yaitu mengandung lemak tak jenuh atau kolesterol baik. Penggunaan minyak alpukat hamper sama dengan minyak zaitun yaitu membuat salad.
h. Minyak jagung :
Minyak jagung mengandung lemak tak jenuh ganda. Menurut penelitian di Amerika Serikat, minyak ini lebih efektif untuk mengurangi kolesterol hingga 11 % dibandingkan minyak zaitun. Minyak ini bisa digunakan untuk menggoreng, menumis atau membuat salad.
i. Minyak biji bunga matahari :
Minyak biji bunga matahari sangat bagus karena mengandung lemak tak
jenuh ganda (polyunsaturated fats). Minyak ini tidak tahan panas, jadi tidak disarankan menggunakannya untuk memasak. Minyak ini hanya untuk membuat salad, dan kosmetik yang mengandung minyak biji bunga matahari dipercaya bisa untuk menghaluskan kulit.
j. Minyak kanola :
Minyak kanola adalah minyak nabati yang diolah dari biji buah canola.
Minyak ini tergolong minyak yang bagus karena mengandung lemak tak jenuh, omega 6 dan omega 3. Minyak kanola bisa digunakan untuk memasak, memanggang, atau membuat salad. Minyak ini juga bisa digunakan sebagai pengganti mentega.
k. Minyak biji anggur (grapeseed oil) :
Minyak biji anggur cocok untuk menumis, menggoreng dan memanggang sayuran. Minyak biji anggur juga cocok untuk pengganti mentega saat memanggang makanan.
3. SIFAT-SIFAT MINYAK GORENG :
Menurut Ketaren (2012) sifat–sifat minyak goreng dapat dibagi menjadi sifat fisik dan sifat kimia, yakni :
a. Sifat Fisik : 1) Warna
Terdiri dari 2 golongan, golongan pertama yaitu zat warna alamiah, yaitu secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstrak bersama minyak pada proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain α dan β karoten (berwarna kuning), xantofil, (berwarna kuning kecoklatan), klorofil (berwarna kehijauan) dan antosyanin (berwarna
kemerahan). Golongan kedua yaitu zat warna dari hasil degradasi zat warna alamiah, yaitu warna gelap disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E), warna cokelat disebabkan oleh bahan untuk membuat minyak yang telah busuk atau rusak, warna kuning umumnya terjadi pada minyak tidak jenuh. Minyak dalam keadaan murni tidak mempunyai warna, rasa, dan bau.
2) Odor dan Flavor
Odor dan Flavor pada minyak atau lemak selain terdapat secara
alami, juga terjadi karena pembentukan asam yang berantai sangat pendek sehingga hasil penguraian pada kerusakan minyak dan lemak. Sebagai contoh, bau khas dari minyak kelapa sawit dikarenakan terdapatnya beta ionone, sedangkan bau khas dari minyak kelapa
ditimbulkan oleh nonyl methylketon.
3) Kelarutan
Suatu zat dapat larut dalam pelarut jika mempunyai nilai polaritas
yang sama, yaitu zat polar larut dalam pelarut bersifat polar dan tidak larut dalam pelarut non polar. Minyak dan lemak tidak larut dalam air, kecuali minyak jarak. Minyak dan lemak hanya sedikit larut dalam alkohol, tetapi akan melarut sempurna dalam etil eter, karbon dioksida dan pelarut-pelarut halogen. Ketiga jenis pelarut ini memiiki sifat non polar sebagaimana halnya minyak dan lemak netral.
4) Titik Didih (Boiling Point)
Titik didih akan semakin meningkat dengan bertambah panjangnya rantai karbon asam lemak tersebut.
5) Titik Lunak (Softening Point)
Titik lunak dari minyak ditetapkan dengan maksud untuk identifikasi minyak tersebut. Cara penetapannya yaitu dengan menggunakan tabung kapiler yang diisi dengan minyak, kemudian dimasukkan ke dalam lemari es selama satu malam, sehingga minyak akan membeku atau menjadi padat.
6) Slipping Point
Penetapan slipping point dipergunakan untuk pengenalan minyak
dan lemak alam serta pengaruh kehadiran komponen-komponennya. Cara penetapannya yaitu dengan mempergunakan suatu silinder kuningan yang kecil, yang diisi dengan lemak padat, kemudian disimpan dalam bak yang tertutup dan dihubungkan dengan termometer. Bila bak tadi digoyangkan, temperatur akan naik dengan perlahan-lahan.
7) Shot Melting Point
Shot melting point adalah temperatur pada saat terjadi tetesan
pertama dari minyak atau lemak. Minyak dan lemak umumnya mengandung asam lemak tidak jenuh dalam jumlah yang relatif besar, biasanya berwujud cair pada temperatur kamar. Bila mengandung asam lemak jenuh yang relatif besar, maka minyak atau lemak tersebut akan mempunyai titik cair yang tinggi. Bila titik cair dari trigliserida sederhana yang murni
ditentukan, akan dijumpai bahwa panjang rantai karbon dari asam-asam lemaknya, maka titik cairnya pun akan semakin tinggi.
8) Bobot Jenis
Bobot jenis minyak lebih ringan dari pada air yaitu 0,91 – 0,94
g/liter. Bobot jenis dari minyak dan lemak biasanya ditentukan pada temperatur 2500 C. Akan tetapi dalam hal ini dianggap penting juga untuk diukur pada temperatur 4000 C. Pada
penetapan bobot jenis, temperatur dikontrol dengan hati-hati dalam kisaran temperatur yang pendek.
9) Index Bias
Indeks bias adalah derajat penyimpangan dari cahaya yang
dilewatkan pada suatu medium yang cerah. Indeks bias tersebut pada minyak dan lemak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian kemurnian minyak.
b. Sifat Kimia : 1) Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisa, minyak atau lemak akan diubah menjadi asamasam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisa yang dapat mengakibatkan kerusakan minyak atau lemak yang terjadi karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak tersebut.
2) Oksidasi
Proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara
sejumlah oksigen dengan minyak atau lemak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada minyak atau lemak. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Tingkat selanjutnya ialah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta asam-asam lemak bebas.
3) Hidrogenasi
Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak atau lemak.
4) Esterifikasi
Proses esterifikasi bertujuan untuk mengubah asam lemak dari trigliserida dalam bentuk ester.
Dengan menggunakan prinsip reaksi ini hidrokarbon rantai pendek dalam asam lemak yang menyebabkan bau tidak enak, dapat ditukar dengan rantai panjang yang bersifat tidak menguap (Ketaren, 2012).
5). Perubahan saat menggoreng
Salah satu proses penggorengan diantaranya pemanasan yang dialami oleh
minyak selama proses penggorengan, masuknya uap air, komponen larut lemak dari makanan ke dalam minyak, dan terjadinya kontak antara minyak dengan oksigen dari udara. Semua kondisi ini menyebabkan terjadinya perubahan pada minyak goreng. Kontak dengan oksigen pada suhu tinggi menyebabkan minyak goreng teroksidasi. Uap air dari makanan yang masuk ke dalam minyak selama proses penggorengan juga akan memicu reaksi kimiawi lemak. Begitu pula dengan komponen larut lemak dan sisa-sisa yang berasal dari makanan, akan menambah kerusakan terhadap minyak goreng. Seberapa cepat terjadinya proses perubahan minyak sangat tergantung pada frekuensi penggunaan, jenis bahan yang digoreng dan suhu serta waktu penggorengan yang digunakan.
a. Perubahan pada Bahan Pangan Karena Proses Penggorengan Menurut Muchtadi dan Ayustaningwarno (2010).
1) Pembentukan Crust
Crust atau kerak akan terbentuk pada permukaan bahan pangan yang berwarna kuning yang disebabkan oleh reaksi pencoklatan non enzimatis karena ekspose yang lebih intensif dengan minyak goreng panas, sehingga kandungan air dalam bahan pangan akan menguap dan permukaan bahan pangan akan mudah mengering.
2) Perubahan cita-rasa, aroma, tekstur, dan warna
Proses penggorengan mengakibatkan bahan pangan mengalami
perubahan citarasa dari mentah menjadi gurih dan lezat, perubahan aroma menjadi aroma khas gorengan, perubahan teksture dari keras menjadi renyah, perubahan warna yang khas yaitu kuning kecoklatan.
3) Pengurangan air
Akibat pemberian panas pada bahan pangan akan menyebabkan
kadar air bahan pangan akan berkurang karena terjadi penguapan saat proses penggorengan.
4) Penyerapan minyak
Saat proses penggorengan, minyak yang digunakan akan terserap ke dalam bahan pangan, sehingga bahan pangan akan mengandung sejumlah minyak yang ikut terkonsumsi oleh konsumen.
5) Kerusakan vitamin
Penggorengan cepat pada suhu tinggi akan menghambat terjadinya perubahan pada bagian dalam bahan pangan sehingga dapat mempertahankan sebagian besar nutrisi yang terkandung di dalamnya. Sebaiknya proses penggorengan yang ingin menghasilkan bahan pangan kering dan memiliki umur simpan yang panjang, dapat mengakibatkan nutrisi yang terkandung di dalamnya akan hilang terutama vitamin larut lemak.
6) Gelatinisasi pati
Apabila didalam bahan yang digoreng terdapat kandungan pati,
maka suhu tinggi dapat menyebabkan terjadinya gelatinisasi pada pati. Granula pati yang semula utuh akan pecah dan membentuk tekstur yang lebih mengembang.
7) Denaturasi/koagulasi protein
Akibat suhu penggorengan yang tinggi bahan pangan yang
megandung protein juga akan mengalami perubahan kandungan proteinnya dimana dapat terjadi denaturasi atau koagulasi yang berpengaruh pada tekstur produk pangan gorengan yang dihasilkan.
4. KLARIFIKASI MINYAK GORENG :
Minyak yang berasal dari tumbuhan lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh sehingga umumnya berbentuk cair. Minyak goreng dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan (Ketaren, 2005) yaitu:
a. Berdasarkan sifat fisiknya, dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Minyak tidak mengering (non drying oil)
Minyak yang apabila mengalami pemanasan tidak menguap misalnaya minyak zaitun, kelapa, kacang tanah.
2) Minyak nabati setengah mengering (semi drying oil)
Berupa minyak yang mempunyai daya mengering lebih lambat. Misalnya minyak biji kapas, minyak biji bunga matahari, gandum.
3) Minyak nabati mengering (drying oil)
Minyak yang mempunyai sifat dapat mengering jika kena oksidasi,
dan akan berubah menjadi lapisan tebal, bersifat kental dan membentuk sejenis selaput jika dibiarkan di udara terbuka misalnya minyak kacang kedelai, biji karet.
b. Berdasarkan sumbernya dari tanaman, diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Biji-bijian palawija, yaitu minyak jagung, biji kapas, kedelai, dan
bunga matahari.
2) Kulit buah tanaman tahunan, yaitu minyak zaitun dan kelapa sawit.
3) Biji-bijian dari tanaman tahunan, yaitu kelapa, cokelat, inti sawit.
c. Berdasarkan ada atau tidaknya ikatan ganda dalam struktur molekulnya yakni : 1) Minyak dengan asam lemak jenuh (Saturated Fatty Acids / SAFA) Semua asam lemak terdiri atas rantai atom karbon dengan berbagai jumlah atom hidrogen yang melekat padanya.
Satu molekul memiliki dua atom hidrogen yang melekat pada masing-masing karbon dianggap terjenuhkan oleh hidrogen karena molekul tersebut mengikat semua atom hidrogen yang mampu diikatnya.
2) Minyak dengan asam lemak tak jenuh tunggal (Mono-Unsaturated Fatty Acids/MUFA).
Merupakan satu asam lemak yang kehilangan satu pasang atom hidrogen pada salah satu karbonnya.
3) Minyak dengan asam lemak tak jenuh ganda (Poly-Unsaturated Fatty Acids/ PUFA). Minyak dinamakan lemak poli-tak jenuh apabila lebih dari dua atom hidrogennya hilang. Asam lemak ini mengandung lebih dari satu ikatan rangkap, misalnya asam linoleat, yang ditemukan dalam minyak biji-bijian seperti minyak kedelai dan minyak jagung
5. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS MINYAK GORENG (Budijanto & Sitanggang 2016) :
1) Kandungan air pada bahan yang digoreng
Kadar air pada bahan yang digoreng akan semakin tinggi maka
semakin mempercepat kerusakan pada minyak goreng, karena dengan adanya air dan suhu yang tinggi minyak atau lemak akan terhidrolisa menghasilkan asam lemak bebas yang mudah dioksidasi.
2) Suhu
Pemanasan minyak goreng dengan suhu yang tinggi akan berdampak pada kualitas minyak yang digunakan, karena minyak atau lemak akan terhidrolisa menghasilkan asam lemak bebas yang mudah dioksidasi.
3) Peralatan penggorengan
Alat yang digunakan untuk menggoreng yang terbuat dari besi atau
tembaga akan mempercepat proses kerusakan karena besi dan tembaga dapat berfungsi sebagai prooksidan yaitu mempercepat terjadinya reaksi oksidasi.
B. DAYA ATAU PERILAKU KONSUMTIF : 1. DEFENISI DAYA KONSUMTIF :
Istilah “perilaku” memiliki arti tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (KBBI on-line, 2016). Sedangkan “konsumtif” memiliki arti bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri) (KBBI on-line, 2016). Jadi perilaku konsumtif adalah kegiatan individu untuk mengkonsumsi suatu barang karena rangsangan.
Sedangkan definisi perilaku konsumtif menurut para ahli adalah sebagai berikt, Dahlan (dalam Sumartono, 2002)
Jadi perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang paling mahal yang memberikan kepuasan dan
kenyamanan fisik sebesar- besarnya, serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata. Sementara Lubis (dalam Sumartono, 2002) perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf tidak tifak rasional lagi. Anggarasari (dalam Sumartono, 2002) memberikan batasan tentang perilaku konsumtif sebagai suatu tindakan membeli barang-barang yang kurang atau tidak diperlukan sehingga
sifatnya menjadi berlebihan. Senada dengan Setiadi (2003) bahwa perilaku konsumtif terjadi ketika konsumen menganut gaya hidup yang menganggap bahwa materi sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan kepuasan.
Kesimpulan dari penjelasan diatas, perilaku konsumtif adalah suatu pola hidup seseorang atau masyarakat yang berlebihan identik dengan kemewahan. Sesuatu hal yang dirasa tidak pernah puas dan sifatnya bukan sebuah kebutuhan pokoknya.
2. DEFENISI DAYA KONSUMTIF MENURUT PARA AHLI :
A. Menurut Lubis (Sumartono, 2002) perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena keinginan yang sudah tidak mencapai taraf tidak rasional lagi.
B.Setiaji dalam Konsumerisme (1995) menyatakan perilaku konsumtif adalah kecenderungan seseorang berperilaku berlebihan dalam membeli sesuatu atau membeli secara tidak terencana.
Sebagai akibatnya, mereka kemudian membelanjakan uangnya dengan membabi buta dan tidak rasional. Sekadar untuk mendapatkan barang-barang yang menurut anggapan mereka dapat menjadi simbol keistimewaan.
C.Menurut Ancok dalam Nuansa Psikologi Pembangunan (1995), perilaku konsumtif adalah perilaku individu yang tidak dapat menahan keinginannya untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan tanpa melihat fungsi utama dari barang tersebut. Definisi tersebut menunjukkan bahwa individu yang berperilaku konsumtif akan cenderung membeli barang berdasarkan keinginan dari pada kebutuhan.
D.Peter & Paul (2014) menyatakan perilaku konsumtif merupakan interaksi dinamis antara pengaruh dan kondisi perilaku dan kejadian sekitar lingkungan dimana manusia melakukan aspek pertukaran dalam kehidupan mereka.
E. Fromm dalam The Sane Society (2008) menjelaskan seseorang dikatakan konsumtif apabila dirinya memiliki barang yang lebih disebabkan karena pertimbangan status.
Seseorang yang konsumtif membeli barang yang diinginkan, bukan yang dibutuhkan, secara berlebihan dan tidak wajar untuk menunjukkan status dirinya.
3. INDIKATOR PERILAKU KONSUMTIF :
Sumartono dalam buku Terperangkap dalam Iklan menjelaskan indikator perilaku konsumtif sebagai berikut :
A. Membeli produk karena penawaran khusus. Konsumen membeli suatu barang karena adanya penawaran khusus jika membeli barang tersebut.
B. Membeli produk karena penampilannya yang menarik. Konsumen sangat mudah untuk membeli suatu produk dikarenakan penampilannya yang menarik. Artinya motivasi untuk membeli produk tersebut hanya karena penampilan produk tersebut menarik.
C. Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi. Konsumen mempunyai keinginan membeli yang tinggi, karena pada umumnya perempuan dewasa awal mempunyai ciri khas dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut dan sebagainya dengan tujuan agar mereka selalu berpenampilan yang dapat menarik perhatian orang lain.
D. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya) Konsumen cenderung berperilaku yang ditandakan oleh adanya kehidupan mewah
sehingga cenderung menggunakan segala hal yang dianggap paling mewah.
E. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status. Konsumen mempunyai kemampuan membeli yang tinggi baik dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut dan sebagainya
sehingga hal tersebut dapat menunjang sifat eksklusif dengan barang yang mahal dan memberi kesan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi.
F. Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan.
Konsumen cenderung meniru perilaku tokoh yang diidolakannya dalam bentuk menggunakan segala sesuatu yang dapat dipakai tokoh idolanya.
G. Membeli produk dengan harga mahal untuk meningkatkan rasa percaya diri. Konsumen sangat terdorong untuk mencoba suatu produk karena mereka percaya apa yang dikatakan oleh iklan tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Dengan membeli produk yang mereka anggap dapat mempercantik penampilan fisik, mereka akan menjadi lebih percaya diri.
H. Mencoba lebih dari dua produk sejenis. Konsumen akan cenderung menggunakan produk dengan jenis yang sama tetapi dengan merek yang lain dari produk yang sebelumnya ia gunakan, meskipun produk tersebut belum habis dipakainya.
4. ASPEK-ASPEK PERILAKU KONSUMTIF :
Aspek-aspek perilaku konsumtif menurut, Lina dan Rasyid (1997) : a. Pembelian Impulsif
b. Pembelian Tidak Rasional c. Pembelian Boros dan Berlebih
Aspek-aspek perilaku konsumtif menurut, Fromm (1995):
a. Pemenuh Keinginan :
Sifat manusia yang tidak pernah puas menjadi pemicu perilaku konsumtif. Oleh karena itu, dalam mengkonsumsi suatu hal manusia selalu ingin lebih untuk memenuhi rasa puasnya, walaupun sebenarnya tidak ada kebutuhan akan barang tersebut (Fromm, 1995). Seperti halnya Membeli produk hanya karena memenuhi keinginan atau mencari kepuasan, membeli produk hanya karena ingin mendapatkan sesuatu : iming-iming hadiah, potongan harga besar atau murah (Fromm dalam Agustia, 2012)
b. Barang Diluar Jangkauan :
Bilamana manusia menjadi konsumtif, tindakan konsumtifnya menjadi
kompulsif dan tidak rasional. Manusia selalu merasa belum lengkap dan mencari kepuasan akhir dengan membeli barang baru. Manusia sudah tidak lagi membeli barang tersebut atas kebutuhan atau kegunaan bagi dirinya (Fromm, 1995). Seperti halnya membeli produk yang harganya diluar batas kemampuan, berusaha keras membeli produk diluar jangkauan dengan menggunakan uang saku atau simpanan, hingga meminjam uang. (Fromm dalam Agustia, 2012)
c. Barang tidak produktif :
Jika pengkonsumsian barang menjadi berlebihan maka kegunaan
konsumsi menjadi tidak jelas, sehingga menyebabkan fungsi dari barang tersebut menjadi tidak produktif.
d. Status :
Perilaku individu bisa digolongkan sebagai konsumtif jika ia memiliki barang-barang lebih karena pertimbangan status. Manusia mendapatkan barang-barang untuk memilikinya.
Tindakan konsumsi itu sendiri tidak lagi merupakan pengalaman yang berarti, manusiawi dan produktif karena hanya merupakan pengalaman pemuasan angan-angan untuk mencapai suatu status melalui barang atau kegiatan yang bukan merupakan bagian dari kebutuhan dirinya.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek perilaku konsumtif adalah keinginan untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan keinginan untuk mencapai
kepuasan. Peneliti menggunakan aspek milik Fromm (1995) karena dinilai paling sesuai dengan kondisi dilapangan berdasarkan hasil wawancara dan observasi.
5. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMTIF :
Bila berbicara tentang perilaku konsumtif, maka tida lepas dari masalah proses keputusan pembelian. Sigit (dalam Lestari, 2006) ada dua faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang dalam melakukan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain dan faktor kedua adalah situasi-situasi yang tidak terduga. Perilaku konsumtif menurut Kotler (1997) dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:
a. Faktor Budaya :
Faktor budaya memiliki pengaruh yang luas dan mendalam terhadap perilaku. Faktor budaya antara lain terdiri dari:
1. Peran budaya:
Budaya adalah penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar. Seorang anak
mendapatkan kumpulan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari keluarganya dan lembaga- lembaga penting lain.
2. Sub budaya. Setiap budaya terdiri dari sub budaya yang lebih kecil yang memberikan ciri-ciri sosialisasi khusus bagi anggota-anggotanya. Sub budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras, dan daerah geografis.
3. Kelas sosial pembeli. Pada dasarnya semua masyarakat memiliki strata sosial. Strata tersebut biasanya terbentuk system kasta di mana anggota kasta yang berbeda dibesarkan dengan peran tertentu dan tidak dapat mengubah keanggotaan kasta mereka. Stratifikasi lebih sering ditemukan dalam bentuk kelas sosial.
b. Faktor Sosial :
Sebagi tambahan atas faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial antara lain:
1.Kelompok Acuan.
Individu sangat dipengaruhi oleh kelompok acuan mereka sekurang-kurangnya dalam tiga hal.
Kelompok acuan menghadapkan seseorang pada perilaku dan gaya baru. Mereka juga mempengaruhi perilaku dan konsep peribadi seseorang dan menciptakan tekanan untuk mengetahui apa yang mungkin mempengaruhi pilihan produk dan merk actual seseorang.
Tingkat pengaruh kelompok acuan terhadap produk dan merk berbeda-beda, pengaruh utama atas pilihan merk dalam barang-barang seperti perabot dan pakaian.
2. Keluarga.
Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan telah menjadi obyek penelitian yang ekstensif. Anggota
keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh. Keluarga primer terdiri dari orang tua dan saudara kandung. Dari orang tua individu mendapatkan orientasi atas agama, politik, ekonomi, ambisi peribadi, harga diri, dan cinta, meskipun pembeli tidak berinteraksi secara intensif dengan keluarganya maka pengaruh keluarga terhadap perilaku pembeli dapat tetap signifikan.
3. Peran dan Status.
Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Setiap peran akan mempengaruhi beberapa perilaku pembelian. Setiap peran memiliki status. Individu memilih produk yang mengkomunikasikan peran dan status mereka dalam masyarakat.
c. Faktor Pribadi :
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, karakteristik pribadi tersebut terdiri dari:
1. Usia dan Tahap Siklus Hidup.
Orang membeli barang dan jasa yang berbeda sepanjang hidupnya. Tahap siklus hidup, situasi keuangan dan minat produk berbeda-beda dalam masing-masing kelompok. Pemasar sering memilih kelompok berdasarkan siklus hidup sebagai pasar sebagai sasaran mereka, beberapa peneliti baru telah mengidentifikasikan tahap siklus hidup psikologis. Orang dewasa mengalami
“perjalanan dan transformasi” sepanjang perjalanan hidupnya. Pemasar memberikan perhatian yang besar pada situasi hidupnya. Pemasar memberikan perhatian yang besar pada situasi hidup yang berubah, bercerai dan dampak mereka terhadap perilaku konsumtif.
2. Pekerjaan.
Pekerjaan seseorang juga mempengaruhi pola konsumsinya. Pekerja kerah biru akan membeli pakaian kerja, sepatu kerja. Direktur perusahaan akan membeli pakaian yang mahal, perjalanan dengan pesawat udara. Pemasar berusaha mengidentifikasikan kelompok pekerjaan yang memiliki minat di atas rata-rata atas produk dan jasa mereka. Sebuah perusahaan bahkan dapat mengkhususkan produknya untuk kelompok pekerjaan tertentu.
3. Keadaan Ekonomi.
Pilihan produk sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi seseorang. Keadaan ekonomi terdiri dari penghasilan yang dapat dibelanjakan (tingkat, kestabilan, pola, waktu) tabungan dan aktiva (presentase yang lancar atau likuid), hutang, kemampuan untuk meminjam dan sikap atas belanja dan menabung. Pemasar barang-barang yang peka terhadap harga terus memperhatikan trend penghasilan pribadi, tabungan, dan tingkat bunga. jika indikator ekonomi menandakan resesi, pemasar dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, melakukan penempatan ulang, dan menetapkan kembali harga produk sehingga mereka dapat terus menawarkan nilai pada pelanggan sasaran.
4. Gaya Hidup.
Orang-orang yang berasal dari sub budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup individu merupakan pola hidup di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opini. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang”, yang berinteraksi dengan lingkungannya. Pemasar mencari hubungan antara produk dan gaya hidup kelompok. Misalnya sebuah pabrik computer menemukan sebagian besar pembeli computer berorientasi pada prestasi, sehingga pemasar dapat mengarahkan merk pada gaya hidup achiever. Copywriter iklan kemudian dapat menggunakan kata-kata dan symbol yang menarik bagi achiever.
5. Kepribadian dan Konsep Diri.
Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda yang mempengaruhi perilaku pembelian.
Kepribadian merupakan karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang yang
menyebabkan tanggapan yang relative konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungannya.
Kepribadian biasanya dijelaskan dengan menggunakan ciri-ciri seperti percaya diri, dominasi otonomi, ketaatan, kemampuan bersosialisasi, daya tahan, dan kemampuan beradaptasi.
Kepribadian dapat menjadi variabel yang berguna dalam menganalisa perilaku konsumen. Jika jenis kepribadian dengan pilihan produk atau merk yang berkaitan dengan kepribadian adalah konsep diri (citra pribadi) seseorang. Pemasar berusaha mengembangkan citra merk yang sesuai dengan citra pribadi sasaran.
d. Faktor Psikologis :
Pilihan pembelian dipengaruhi oleh enam faktor psikologis utama yaitu:
1. Motivasi.
Motivasi berasal dari kata motif, merupakan kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan individu bertindak atau berbuat. Setiap orang selalu mempunyai motivasi untuk memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginannya, motivasi juga merupakan dasar dorongan pembelian atau penggunaan terhadap suatu produk.
2. Persepsi.
Individu yang termotivasi pasti akan siap bereaksi, tapi bagaimana
individu yang termotivasi tersebut bertindak? Adalah dipengaruhi oleh persepsi mengenai situasi dan kondisi tempat ia tinggal. Perbedaan persepsi konsumen akan menciptakan proses pengamatan dalam melakukan pembelian atau penggunaan barang atau jasa.
3. Konsep Diri.
Konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara bagaimana seseorang dapat melihat dirinya sendiri dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang apa yang dipikirkannya. Setiap orang memiliki suatu konsep tentang dirinya yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan adanya pandangan- pandangan atau persepsi yang berbeda-beda pula terhadap suatu produk, baik berupa barang ataupun jasa.
4. Kepribadian.
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk dan sifat- sifat yang ada dalam diri individu yang sangat berpengaruh pada perubahan- perubahan perilakunya. Kepribadian konsumen sangat ditentukan oleh faktor internal dirinya, seperti motif, IQ, emosi spiritualitas, maupun persepsi dan faktor-faktor eksternal, seperti lingkungan fisik, keluarga, masyarakat.
Pada dasarnya kepribadian mempengaruhi persepsi dan perilaku membeli.
5. Pengalaman Belajar.
Belajar sebagai suatu proses yang membawa perubahan dalam performance sebagai akibat dari latihan atau pengalaman sebelumnya. Jadi perilaku konsumen dapat dipelajari karena sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan proses latihan .
6. Sikap dan Keyakinan (agama).
Sikap merupakan suatu penilaian kognitif
seseorang terhadap suka atau tidak suka. Secara emosional tindakannya cenderung kearah berbagai objek dan ide.
Assuari (1987), mengatakan bahwa tingkat keinginan seseorang menempati
strata yang tertinggi dalam pembelian. Keinginan untuk mengkonsumsi barang dan jasa bisa terjadi karena suatu pembelian terhadap sesuatu yang ingin tampak berbeda dan menonjol dari yang lain (distinctiveness), kebanggaan karena penampilan pribadinya (pride of personal appearance), dan pencapaian terhadap suatu status sosial tertentu (sosial achievement).
Kemudian Assuari (1987) menambahkan, bahwa perilaku konsumtif dapat terjadi karena:
a. Seorang pembeli ingin tampak berbeda dari yang lain, biasanya remaja melakukan pembelian atau mengkonsumsi atau jasa dengan maksud untuk menunjukan bahwa dirinya berbeda dari yang lain.
b. Kebanggaan akan penampilan dirinya, seseorang membeli sesuatu didasarkan pada kebutuhan memamerkan dirinya.
c. Adanya sikap positif terhadap diskon/potongan harga, dengan dalih sebelum masa tahu tempo diskon tersebut berakhir, maka konsumen akan membelanjakan uangnya tanpa pertimbangan yang rasional.
d. Ikut-ikutan, bahwa seseorang akan melakukan tindakan pemberian hanya sekedar meniru orang lain atau kelompoknya saja, dan mengikuti mode yang sedang marak- maraknya.
e. Menarik perhatian orang lain, pembelian akan dilakukan seseorang karena ingin mendapatkan perhatian dari orang lain, sehingga ada sesuatu yang mendorong orang tersebut untuk membeli suatu produk tanpa pertimbangan yang matang.
Selain adanya teori-teori di atas yang membahas faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif, adapula penelitian yang dilakukan oleh Betty dan Kahle (Sutisna, 2001) menemukan bahwa faktor-faktor yang mendukung perilaku konsumtif, yaitu adanya peran sikap yang ikut mempengaruhi perilaku pembelian.Adapun faktor-faktor tersebut antara ain :
a. Pengaruh keluarga
Keluarga mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan (pembelian). Dengan mengabaikan kecenderungan anak yang sering memberontak pada orang tua, sebenarnya terdapat hubungan yang kuat antara sikap orang tua dengan sikap si anak.
Menurut Bennet dan Kassarjian (Sutisna, 2001) menyatakan bahwa sikap terhadap kesehatan pribadi, pilihan item-item produk kepercayaan mengenai nilai modis tentang suatu produk semua itu akan diperoleh dari orang tua.
b. Pengaruh kelompok kawan sebaya (Peer Group Influence). Beberapa studi
memperlihatkan bahwa kawan sebaya atau sejawat dapat mempengaruhi seseorang dalam berprilaku (pembelian). Salah satunya menurut Kazt dan Kazarsfeld mempengaruhi sikap dan perilaku pembelian terhadap suatu produk, karena teman dekatnya telah membeli produk tersebut terlebih dahulu.
c. Pengalaman.
Pengalaman masa lalu mempengaruhi sikap terhadap pemilihan produk tertentu. Pengalaman atas penggunaan suatu produk pada masa lampau akan memberikan evaluasi atas produk tersebut, tergantung apakah pengalaman itu menyenangkan atau tidak. Jika pengalaman masa lampau itu kurang menyenangkan, maka konsumen akan cenderung untuk mempunyai sikap negative terhadap produk tersebut. Dan sebaliknya, jika pengalaman peggunaan suatu produk cukup menyenangkan, maka sikap terhadap produk tersebut dimasa datang akan positif.
d. Kepribadian
Seperti yang telah diketahui bahwa kepribadian individu atau konsumen sangat mempengaruhi proses pembelian. Sifat-sifat seperti suka terbuka, kepatuhan atau otorianisme mungkin lebih terlibat dalam persaingan mendapatkan sesuatu produk dengan merk yang mahal dalam usaha mengungguli lawan-lawannya.
Pendapat yang berbeda dikemukakan Harsono (Lestari, 2006) yang menyatakan bahwa motif pembelian konsumen merupakan faktor-faktor yang menyebabkan seorang konsumen membeli suatu produk untuk digunakan secara pribadi. Faktor-faktor tersebut menggambarkan
kebutuhan, keinginan, sikap dan kesan orang tentang suatu produk. Faktor-faktor itu juga menunjukkan pengalaman seseorang dan pengaruh-pengaruh kelompok sosial, budaya, dan keluarga. Motif pembelian konsumen dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. Motif emosional
Motif emosional adalah alasan konsumen membeli produk yang berasal dari kebutuhan impulsif dan kebutuhan psikologis seseorang tanpa mempertimbangkan kualitas produk yang
mahal dan alasan-alasan rasional lainnya. Pembelian produk itu disebabkan oleh alasan-alasan emosional seperti untuk kebanggaan, gengsi, ikut-ikutan, kesenangan, dan lain-lain. Motif pembelian emosional ini sering dimanfaatkan oleh para pemasur (marketer) untuk
meningkatkan pembelian produk mereka.
b. Motif rasional
Motif rasional adalah alasan pembelian yang direncanakan secara hati-hati dan dianalisis semua informasi tentang produk yang dibeli. Produk yang akan dibeli tersebut dipertimbangkan memang sangat dibutuhkan, kualitas produknya baik, harganya tidak mahal, dan pertimbangan- pertimbangan rasional lainnya tentang kondisi tersebut.
c. Motif patronage
Motif patronage adalah alasan pembelian yang didasarkan karakteristik khusus toko atau tempat pembelian, juga dapat karena alasan merk suatu produk. Konsumen membeli suatu produk karena tempat penjualannya nyaman, karena pelayanannya baik, karena pelayannya cantik, atau karena merknya terkenal.
Jadi berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif pada konsumen antara lain:
faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi. Adapun faktor-faktor lain yang tidak kalah penting adalah faktor psikologis, meliputi motivasi, persepsi, konsep diri, kepribadian pengalaman, belajar, sikap dan keyakinan. Selain itu ada: pengaruh keluarga, pengaruh kelompok kawan sebaya, pengalaman, kepribadian, motif emosional, motif rasional, dan motif patronage.
6. DAMPAK PERILAKU KONSUMTIF :
Jika diamati, sepintas perilaku konsumtif mungkin terasa kurang baik. Namun, seperti segala hal lain, perilaku konsumtif pun tetap mempunyai dua sisi.
Maka dari itu, dampak yang ditimbulkan pun tetap ada yang positif sekaligus negatif. Di bawah ini beberapa dampak perilaku konsumtif yang mungkin terjadi.
Dampak positif perilaku konsumtif :
Hampir sebagian besar konsumen menginginkan kepuasan ketika bertransaksi atau melakukan pembelian. Nah, salah satu dampak positif perilaku konsumtif bagi konsumen secara pribadi adalah dapat memunculkan rasa puas.
Mengingat karakter perilaku konsumtif adalah cenderung berbelanja terus-menerus, gaya hidup ini memberi dampak baik sebab dapat mendorong perputaran roda perekonomian.
Jadi, bagi produsen atau pemilik usaha, hal ini tentu menguntungkan. Bahkan, dari sisi bisnis, consumptive behavior justru didorong agar sektor ekonomi terus hidup.
Dampak negatif perilaku konsumtif :
Meskipun disebutkan sebelumnya bahwa perilaku konsumtif bisa mendatangkan rasa puas bagi konsumen, tetapi dampaknya tidak selalu positif.
Dari sisi perencanaan keuangan, perilaku ini tentu dianggap sebagai kebiasaan kurang baik sebab dapat menimbulkan pemborosan dan tidak terencananya alokasi finansial.
Kemudian, kepemilikan benda atau barang juga membuat jurang kaya dan miskin makin kentara. Akibatnya, muncul kesenjangan sosial. Tidak hanya itu, inflasi juga mengintai sebagai akibat dari perilaku konsumtif.
Perilaku konsumtif berarti tingginya jumlah orang membelanjakan uangnya. Jika angka spending tinggi, uang yang beredar banyak sehingga mendorong menurunnya nilai uang dan terjadilah inflasi.
7. CIRI-CIRI GAYA HIDUP KONSUMTIF : A. Rasa Gengsi Yang Tinggi
Sifat yang satu ini memang kerap kali menjadi suatu pendorong bagi seseorang untuk bersikap konsumtif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. agar mereka terlihat mampu dimata orang lain, terutama dari segi finansial.
Buat kamu yang memiliki rasa gengsi yang tinggi, buang jauh-jauh lah sifat ini karena dengan memiliki rasa gengsi yang tinggi maka kamu akan mengikuti gengsi kamu selalu.
B. Selalu Ikut Trend
Kadang bagi sebagian orang, selalu mengikuti trend perkembangan sekitar tentu merupakan hal yang positif, tetapi apabila kamu mengikuti trend dengan berlebihan maka tentu ini akan
menjadi hal yang negatif. Nah ciri yang satu ini sebenarnya sering sekali kamu temukan dimana mereka selalu senang mengikuti trend yang ada baik itu trend gadget, trend fashion dan trend lainnya. Biasanya keinginannya muncul setelah melihat barang terbaru yang baru keluar agar tidak ketinggalan trend.
Nah inilah yang salah. oleh karena itu, kamu harus membatasinya, karena sebenarnya
mengikuti trend bukanlah hal yang salah, asal dengan kontrol yang tepat maka itu bisa menjadi hal yang positif,
C. Hidup Bermewahan
Ciri ini juga tidak akan terlewat apabila kita melihat orang yang memiliki gaya hidup konsumtif. Karena ini adalah salah satu kebiasaan yang lumrah yang biasa kita temui. Ya, kebiasaan seseorang yang konsumtif dapat diakibatkan dengan adanya keinginan untuk hidup lebih mewah dengan banyak barang dan fasilitas yang dimiliki.
D. Suka Dikagumi Orang Lain
Ini juga salah satu ciri orang yang menyukai gaya hidup yang konsumtif yaitu suka dikagumi oleh orang lain. Saat dia melakukan gaya hidup yang konsumtif dan ada orang yang memuji dia maka perasaannya langsung senang.
E. Pilih-Pilih Dalam Bersosialisasi
Beberapa dari mereka yang memiliki gaya hidup konsumtif juga biasanya memilih dengan siapa mereka bersosialisasi. Anggapannya jika mereka bersosialisasi dengan orang yang tidak memiliki gaya hidup konsumtif maka komunikasi yang dilakukan tidak akan sampai.
8. CONTOH PERILAKU KONSUMTIF :
Ada banyak contoh perilaku konsumtif yang terkadang tidak kamu sadari. Berikut beberapa contoh hidup konsumtif adalah:
• Suatu hari, kamu melihat iklan mengenai handphone baru di televisi. Kamu lalu tertarik pada handphone tersebut dan langsung membelinya. Padahal, handphone lama kamu masih bagus dengan semua fitur yang up-to-date.
• Kamu sedang berada di sebuah restoran dan memesan banyak makanan.
Alhasil, makanan tersebut tidak dapat kamu habiskan. Terkadang restoran tidak perbolehkan konsumen membawa makanan yang tersisa, sehingga pada akhirnya makanan sisa akan dibuang.
Daya konsumtif masyarakat Harga minyak goreng
Pengaruh kenaikan harga
• Membeli baju, tas, jam tangan atau sepatu secara berlebihan. Padahal, kamu sudah memiliki barang tersebut di rumah. Sehingga, baju, tas, jam tangan atau sepatu hanya akan menumpuk dan tidak terpakai sama sekali.
• Kamu melihat teman membeli mobil baru. Karena tidak ingin disaingi, kamu juga ikut membeli mobil tersebut. Padahal, kamu sendiri tidak terlalu membutuhkan mobil tersebut.
• Contoh lain yang paling sering terjadi adalah membeli barang branded hanya untuk meningkatkan status sosial.
C. KERANGKA PEMIKIRAN :
Minyak goreng merupakan salah satu komoditas dari Sembilan bahan pokok yang bersifat strategis dan multiguna. Kedua sifat tersebut membuat minyak goreng menjadi salah satu komoditas yang memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia.
Harga minyak goreng beberapa tahun ini mengalami peningkatan yang cukup tinggi, hal ini disebabkan meningkatnya harga CPO dunia yang ikut memicu peningkatan harga CPO domestik dan jumlah persedian CPO untuk pasar domestik. Kenaikan harga akan berdampak langsung kepada konsumen pengguna minyak goreng baik konsumen rumah tangga.
Dampak dari kenaikan harga minyak goreng tersebut bukan hanya berdampak pada pengguna minyak goreng baik di konsumen rumah tangga tetapi pada pedagang-pedagang kecil seperti kios-kios yang menjual minyak gorengpun mengalami dampak dari naiknya harga minyak goreng tersebut.
Daya atau perilaku konsumtif masyarakat dalam hal kenaikan harga minyak goreng ini adalah berdasarkan pada kelas ekonominya dimana masyarakat lebih memelih membelanjakan bahan pokok dibanding dengan barang-barang lainnya seperti baju, alat elektronik dan lainnya. Oleh sebab itu sector pengusaha baju dan barang elektronik mengalami kerugian.
D. KERANGKA PENELITIAN :
Berdasarkan pemaparan kerangka pemikiran diatas, peneliti mencoba menuangkan dalam kerangka penelitian yang dapat digambarkan melalui skema di bawah ini.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS DAN TIPE PENELITIAN :
1. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif untuk memperoleh gambaran tentang bagaimana pengaruh dari kenaikan harga minyak goreng dan daya atau perilaku konsumtif masyarakat kota ambon khususnya di manga dua (ponegoro atas) dalm menyikapi hal tersebut.
2. Tipe penelitian adalah penelitian yang mengunakan metode deskriptif kualitatif yaitu memberikan suatu uaraian yang bersifat menggambarkan masalah yang di teliti agar diperoleh gambaran yang jelas mengenai pengaruh kenaikan harga minyak goreng dan daya konsumtif masyarakat kota ambon khususnya di manga dua ambon (ponegoro atas).
B. SETTING PENELITIAN : 1. Lokasi penelitian :
Penelitian ini dilakukan di manga dua atas tepatnya di ponegoro atas RT003/RW04 Ambon.
2. Waktu penelitian :
Waktu penelitian ini dilaksanakan selama 2 (dua) minggu.
C. SUMBER DATA : 1. Data primer :
Data primer merupakan data utama dalam penelitian ini. Data ini bersifat mentah yang di analisis lebih lanjut. Untuk memperoleh data primer dalam penelitian ini di peroleh melalui observasi, wawancara dan wawancara.
2. Data sekunder :
Data sekunder adalah data yang telah diolah sebelumnya, yang diperoleh dari studi perpustakaan, maupun studi dokumentasi. Adapun data sekunder dapat diperoleh melalui : literature atau sumber dari buku-buku yang dibaca bisa juga dapat diperoleh melaluyi jurnal-jurnal penelitian yang terkait dengan penelitian ini.
D. INFORMAN PENELITIAN :
Informan penelitian merupakan orang-orang yang berpotensi dan berkelompok memberikan infomasi tentang pengaruh kenaikan harga minya goreng dan daya konsumtif masyarakat kota ambop khususnya masyarakat manga dua (ponegoro atas)
Adapun infoman penelitian ini yaitu pedagang-pedagang di kios kecil-kios kecil serta warga setempat yang berpotensi untuk memberikan infomasi tentang objek dalam kajian penelitian ini.
E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA :
Untuk memperoleh data dan keterangan-keterangan yang dibutuhkan dalam penelitian, peneliti menetukan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti mengunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Observasi (pengamatan) :
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pecatatan-pencacatan terhadap keadaan atau
perilaku objek sasaran. Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan pengaruh kenaikan harga minyak goreng serta daya
konsumtif masyarakat mangga dua Ambon khususnya di ponegoro atas.
Kelebihan teknik ini adalah data yang diperoleh adalah data yang dapat dipercaya Karena dilakukan atas pengamatan sendiri demgam berkomunikasi dan berinteraksi. Sehingga peneliti mengadakan observasi secara langsung di lapangan untuk mengetahui kondisi yang terjadi pada warga setempat mengenai kenaikan harga minyak goreng ini.
2. Wawancara mendalam (indepth interview) :
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer ) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
Disini peneliti yang berperan aktif untuk bertanya dan memancing pembicaran menuju masalah tertentu kepada kepada informan, agar memperoleh jawaban dari permasalahan yang ada, sehingga diperoleh data peneltian. Penggunaan motede wawancara ini dimaksudkan untuk mendapat keterangan secara face to face, artinya secara langsung berhadapan dengan informan. Hal ini juga dimaksud untuk mencari kelengkapan data yang diperoleh.
Peneliti mengadakan wawancara secara bebas menuju fokus penelitian sekaligus mencatat pernyataan atau pendapat yang penting dan sesuai dengan fokus penelitian. Hasil wawancara kemudian disusun seacara sistematis dalam bentuk ringkasan data untuk kerperluan analisis data. Wawancara dilakukan kepada para pedagang kiuos-kios kecil dan masyarakat setempat yang ada pada manga dua khususnya di ponegoro atas.
3. Dokumentasi :
Dokumentasi adalah mengumpulkan data dengan melihat dan mencatat suatu laporan yang suda tersedia. Berbagai informasi yang dapat diperoleh melalui dokumentasi anatara lain adalah pengaruh penjualan minyak goreng pada masing_masing kios yang ada pada warga setempat dan juga dilihat lagi dari ekonomi tiap rumah tangga pada tiap-tiap warga yang ada di manga dua ambon (ponegoro atas)
F. TEKNIK ANALISIS DATA :
Data yang terkumpul pada penelitian ini adalah data kualitatif, sehingga teknik analisisnya sesuai dengan yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman
sebagaimana yang dikutip Sugiono yaitu dilakukan secara interaktif, yang dapat dijelaskan dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Reduksi Data (data reduction) :
Reduksi data adalah merangkum, memilah hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
Proses reduksi data ini tidak dilakukan pada akhir penelitian saja, tetapi dilakukan secara terus-menerus sejak proses pengumpulan data berlangsung karena reduksi data ini bukanlah suatu kegiatan yang terpisah dan berdiri sendiri dari proses analisis data, akan tetapi merupakan bagian dari proses analisis itu sendiri. Reduksi data pada penelitian ini difokuskan pada bagaimana pengaruh kenaikan harga minyak goreng bagi pdagang di kios-kios kecil ini serta perkembangan perekonomian keluarga masing-masing pada warga setempat.
2. Sajian Data (Data Display)
Data Display merupakan suatu proses pengorganisasian data sehingga mudah dianalisis dan disimpulkan. Penyajian data ini merupakan hasil reduksi data yang telah dilakukan sebelumnya agar menjadi sistematis dan bisa diambil maknanya, karena biasanya data yang terkumpul tidak sistematis. Penyajian data dalam penelitian ini berbentuk uraian narasi serta dapat diselingi dengan gambar, skema, matriks, tabel, rumus, dan lain-lain. Hal ini disesuaikan dengan jenis data yang terkumpul dalam proses pengumpulan data, baik dari hasil observasi partisipan, wawancara mendalam, maupun studi dokumentasi.
3. Verifikasi Data/Penarikan Kesimpulan
Langkah ke tiga dalam analisis data kualitaif menurut Miles and Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.Sehubungan dengan penelitian ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan yang diteliti yaitu: Sehubungan dengan penelitian ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan yang diteliti yaitu:
a. bagainana pengaruh kenaikan harga minyak goreng pada warga manga dua ambon khsusnya di ponegoro atas.
b. bagaimana perkembangan perekonomian warga setempat stelah terjadinya. kenaikan harga minya goreng ini.
c. daya atau perilaku konsumtif masyarakat dalam menghadapi hal ini Apabila datanya sudah terkumpul, maka dilakukan klarifikasi
data yaitu dengan cara digambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisah- pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
G. KEABSAAN DATA :
Selain menganalisis data, peneliti juga harus menguji keabsahan data agar
memperoleh data yang valid. Untuk menetapkan keabsahan data tersebut diperlukan teknik pemeriksaan. Dalam pengecekan keabsahan data dengan metode kualitatif diperlukan rencana uji keabsahan yang meliputi uji kredibilitas data, uji
dependabilitas, uji transferabilitas dan uji konfirmabilitas. Namun yang lebih utama adalah uji kredibilitas data yang meliputi :
1. Ketekunan/Keajegan Pengamatan :
Keajegan pengamatan berarti mencari secara konsisten
interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisisyang konstan.
Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut. ketekunan pengamatan dilakukan oleh peneliti dengan cara teliti, terus menerus, dan secara cermat agar diperoleh hasil yang akurat dan terhindar dari hal yang tidak diinginkan.
2. Triangulasi :
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Jadi triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Triangulasi pada penelitian ini adalah triangulasi metode yang dilakukan dengan membandingkan dan mengecek suatu informasi yang diperoleh dari data hasil wawancara dan data hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung.
3. Pemeriksaan sejawat :
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan- rekan sejawat. Pemeriksaan sejawat berarti pemeriksaan yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan rekan sebaya yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang apa yang sedang diteliti, sehingga bersama mereka peneliti dapat mereview persepsi, pandangan dan analisis yang sedang dilakukan. Hal ini dilakukan beberapa kali dengan harapan peneliti mendapat masukan-masukan baik dari segi metodologi maupun konteks peneitian, demi kesempurnaan. Masukan-masukan yang diperoleh peneliti bisa digunakan sebagai media evaluasi untuk mengembangkan penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Dampak Kenaikan Harga Bahan Pokok
Berdasarkan observasi secara langsung dan melalui wawancara dengan masyarakat di ponegoro atas dengan demikian peneliti telah menghasilkan data.
Dari hasil observasi peneliti melihat secara langsung aktifitas warga di ponegoro atas. melalui wawancara, peneliti mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana dampak kenaikan harga bahan pokok yaitu minyak goreng terhadap kehidupan masyarakat ponegoro atas tersebut. Sedangkan dari hasil dokumentasi, peneliti mengasilkan hasil penelitian mengenai naiknya bahan pokok yaitu harga minyak goreng.
Setelah mengumpulkan data-data secara lisan maupun secara tertulis dengan ketiga teknik pengumpulan data yang digunakan, penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 juni 2022 sehingga diperoleh data-data yang cukup dan sesuai dengan masalah penelitian yang dilakukan. Adapun hasil penelitian akan diuraikan sebagai berikut:
1. Kurangnya daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok :
Kurangnya daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok merupakan dampak yang terjadi akibat rendahnya pendapatan masyarakat di ponegoro atas terutama yang hanya ojek atau menarik becak dan setiap hari mengalami penurunan secara derastis. Masyarakat yang sebagian besar bekerja seperti itu, saat ini mengalami kekurangan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan masyarakat ponegoro atas maka didapatlah data sebagai berikut:
Menurut seorang warga ibu Titi yang berprofesi sebagai penjual di kios’ ia mengatakan bahwa:
“Dengan pendapatan Rp.1.440.000/bulan belum bisa mencukupi kebutuhan bahan pokok dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari lainnya. Terlebih lagi dengan harga bahan pokok yang sekarang naik khususnya minyak goreng ini dengan terus menerus sehingga mempengaruhi daya beliyang semakin menurun ditambah keadaan cuaca yang tidak menentu yang menyebebkan orang jarang untuk belanja di kios saya, ditambah lagi dengan kebutuhan anak sekolah. Disaat seperti saat ini saya hanya mmapu mengkonsumsi beras dengan kualitas yang rendah yang dibeli dari pasar, karena harganya lebih murah dibandingkan beras dengan kualitas bagus. Begitu juga dengan lauk pauk, saat ini tidak mampu mengkonsumsi daging, sedangkan daging ayam yang mencapai hampir Rp. 31.500/kg hanya bisa dikonsumsi beberapa minggu sekali. Sementara untuk kebutuhan pokok lainnya hanya bisa dibeli seperlunya saja agar lebih hemat.
Pendapat di atas dibenarkan pula oleh bapak Muhamad Soleh dan Bapak Jamaludi sebagai pedagang kios juga di ponegoro atas.
Berdasarkan pendapat yang telah disampaikan maka dapat dikatakan bahwa saat ini masyarakat di ponegoro atas yang bekerja sebagai pedangan kios dan pekerjaan dengan gaji kecil lainnya mengalami kekurangan dalam daya beli kebutuhan bahan pokok, seperti beras dengan kualitas baik, daging, ikan, ayam, minyak goreng dan sebagainya. Kurangnya daya beli masyarakat akan bahan pokok, disebabkan karena pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan pokoknya sehingga masyarakat lebih menghemat pengeluaran agar kebutuhan pokoknya dapat terpenuhi.
2. Ketidakmampuan masyarakat dalam membeli barang-barang skunder lainnya
Menurut seorang warga bapak Ahmad yang berprofesi sebagai tukang ojek ia mengatakan bahwa:
“Dengan pendapatan yang tidak menentu/bulan belum mencukupi untuk membeli kebutuhan bahan pokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya setiap hari, terlebih lagi saya punya anak 3 yang harus membiayai sekolah setiap harinya. Apalagi untuk memebeli sepeda motor atau berang- barang elektronik lainnya.
Pendapat di atas juga dibenarkan oleh Bapak jhon yang berprofesi sebagai tukang becak mengatakan:
“Pada zaman sekarang ini dengan penghasilan yang tidak menentu mustahil bisa dibilang sebagai masyarakat yang sejahterah terlebih lagi dengan kondisi mempunyai anak 4 dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Belum untuk keperluan sekolah, jajan sehari-hari, kebutuhan susu, kebutuhan makan, belum lagi nanti apabila anak-anak sakit kebutuhan berobat memerlukan biaya yang sangat besar dan kebutuhan lain-lainnya sedangkan harga kebutuhan bahan pokok khususnya minyak goreng yang semakin mahal membuat saya sulit untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Apalagi untuk membeli kebutuhan skunder sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari saja kurasa masih kurang cukup.”.
Dari hasil wawancara dengan beberapa responden diatas maka dapat dikatakan bahwa kehidupan masyarakat di ponegoro atas lebih besar pengeluarannya dibandingkan penghasilan dikarenakan naiknya harga bahan pokok khususnya minyak goreng tidak sesuai dengan pendapatan
masayarakat ponegoro atas yang hanya berpendapatan rendah.
Pendapatan yang merupakan penghasilan masyarakat harus diimbangi dengan pengeluaran atau biaya hidup yang dikeluarkan setiap hari, penghasilan yang tidak seimbang dengan pengeluaran maka masyarakat tersebut belum dapat dikategorikan sejahtera karena ukuran kesejahteraan adalah pendapatan dan pengeluaran harus seimbang.
Wawancara dilakukan kepada masyarakat ponegoro atas seperti misalnya pengeluaran sangatlah tinggi karena didasari oleh harga bahan pokok yang semakin mahal dengan ditambah adanya biaya pendidikandan kesehatan dan biaya lain-lainnya.
Dari hasil wawancara inilah dapat kita kelompokan bahwa pendaptan masyarakat tidak merata mengingat hanya masyarakat yang bekerja sebagai karyawan tetap sudah memenuhi syarat sejahtera yang berpenghasilan Rp.5.000.000 dan bahkan lebih perbulannya, yang dapat
mengimbangi pengeluaran. Sedangkan masyarakat yang pendapatannya dibawah standar untuk memenuhi kebutuhan keluarga perlu mencari tambahan pekerjaan juga.
Masih banyak masyarakat yang berpenghasilan rendah, yang didominasi oleh masyarakat yang berprofesi sebagai tukang ojek dan tukang becak yang penghasilannya tidak menentu. Sedangkan biaya hidup makin meningkat apa lagi bagi mereka yang mempunyai banyak anggota keluarga sehingga menambah tanggung jawab bagi kepala keluarga.
Bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat yang harganya terus- menerus naik membuat banyak keresahan bagi kesejahteraan dan kehidupan masyarakat di ponegoro atas, bukan hanya karena pendapatan yang tidak sesuai tetapi kebutuhan hidup yang semakin melambung tinggi harganya.
Bahan pokok (minyak goreng) yang harganya mahal membuat masyarakat sulit untuk
memenuhinya ditambah kebutuhan rumah tangga yang lain sehingga kesejahteraan sulit untuk diciptakan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN :
Setelah peneliti menguraikan hal-hal yang berkenan dengan pengaruh kenaikan harga minyak goreng bagi warga mangga dua ambon khususnya di ponegoro atas.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa kenaikan harga minyak goreng ini berpengaruh buruk bagi warga di ponegoro atas yang dimana kenaikan harga minyak goreng ini pengaruhnya terhadap warga disana adalah pada kehidupan sehari hari warga dimana berdampak tidak baik. Sebagian warga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan biasanya karena kenaikan harga minyak goreng ini. Dan juga bagaimana pengaruhnya terhadap daya beli warga bagi kios-kios di ponegoro atas sehingga menurunya pendapatan bagi warga yang membuka kios di ponegoro atas ini. Itu saja kesimpulannya yang dapat saya ambil dari hasil penelitian yang telah saya buat.
B. SARAN :
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat saya berikan adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan bagi pemerintah kota ambon dalam memperhatikan warga kota ambon khususnya dalam hal menyediakan lapangan kerja yang luas bukan hanya bagi warga manga dua tetapi seluruhnya masyarakat yang ada supaya warga mannnga dua dan juga masyarakat lainnya bisa dalam memenuhi kehidupan sehari- hari dalam berkeluarga.
2. Mengenai kenaikan harga minyak goreng ini saran saya adalah harus
dipertimbangkan lagi mengenai ini soalnya banyak warga atau masyarakat yang tidak memilki perkerjaan tidak dapat memenuhi kebutuhan sahari-hari mereka terlebih khusus naiknnya harga minyak goreng ini.