• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL PENELITIAN INTERNAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PROPOSAL PENELITIAN INTERNAL"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

i

PROPOSAL

PENELITIAN INTERNAL

SANKSI WAJIB PAJAK

YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PERPAJAKAN

Tim peneliti:

Ketua : Dr.H.Achmad Sulchan,SH,MH. (NIDN.0631035702) Anggota 1: Dr.H.Akhmad Khisni,SH,MH. (NIDN.0604085701)

Anggota 2: R.Sugiharto,SH,MH. (NIDN.0602066103)

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

APRIL 2020

(2)

ii

HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL PENELITIAN INTERNAL PERGURUAN TINGGI

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG (UNISSULA)

Judul : Sanksi Wajib Pajak Yang Melakukan Tindak Pidana Perpajakan

Peneliti/Pelaksana

NamaLengkap : Dr.H.Achmad Sulchan,SH,MH.

NIDN / NIK : 0631035702 / 230315046

JabatanFungsional : Lektor

Program Studi : Ilmu Hukum / FakultasHukum

HP : 081228389498

Alamatsurel (e-mail) : [email protected] Anggota (1)

NamaLengkap : Dr.H.Akhmad Khisni,SH,MH.

NIDN / NIK : 0604085701 / 210389017

Anggota (2)

NamaLengkap : R.Sugiharto,SH,MH.

NIDN / NIK : 0602066103 / 210389015

InstitusiMitra (jikaada)

NamaInstitusiMitra : Pengadilan Negeri Semarang

Alamat : Jl.Siliwangi Semarang

Telp/Fax/Email : -

Lama Penelitian : 1 (satu) tahun Biaya yang diperlukan : Rp 8.000.000,-

Mengetahui, Semarang, 20 April 2020

DekanFakultasHukum

(Prof.Dr.H.Gunarto,SH,SE,Akt,MHum) NIK 210389016

Ketua,

(Dr.H.Achmad Sulchan,SH,MH) NIK 230315046

Menyetujui, Kepala LPPM

(Dr. HeruSulistyo, S.E., M.Si) NIK 210493032

(3)

iii

DAFTAR ISI

PROPOSAL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ...ii

DAFTAR ISI ... iii

Ringkasan ... v

BAB 1 ... 1

LATAR BELAKANG ... 1

BAB 2 ... 3

TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1. Tinjauan Umum Tentang Pajak... 3

2.1.1. Pengertian Pajak. ... 3

2.1.2. Wajib Pajak... 3

2.2. Hukum Pidana Kaitannya Dengan Hukum Pajak ... 4

2.3. Pejabat Pajak ... 5

2.3.1. Pengertian Pejabat Pajak ... 5

2.3.2. Pejabat Pajak... 5

2.4. Sanksi Pidana ... 5

2.5. Tindak Pidana Perpajakan ... 5

2.6. Perspektif Islam tentang Pajak ... 6

BAB 3 ... 7

METODE PENELITIAN ... 7

3.1. Metode Pendekatan ... 7

3.2. Spesifikasi Penelitian ... 7

3.3. Jenis dan Sumber Data ... 7

3.4. Lokasi Penelitian ... 7

3.5. Metode Pengumpulan Data ... 7

3.6. Metode Analisa Data ... 8

BAB 4 ... 9

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN ... 9

Jadwal PenelitianTahun 2020... 9

Rencana Anggaran Biaya Penelitian Tahun 2020 ... 9

1. BELANJA HONOR ... 9

(4)

iv

2. BELANJA BAHAN ... 10

3. BELANJA BARANG NON OPERASIONAL LAINNYA... 10

4. BELANJA PERJALANAN LAINNYA ... 10

DAFTAR PUSTAKA ... 11

Lampiran 1.Biodata ketua dan anggota ... 12

Lampiran 2. Surat pernyataan ketua peneliti ... 14

(5)

v

Ringkasan

Negara Indonesia adalah negara yang bersifat kesejahteraan (welfare state), sehingga pajak dipandang sangat penting sebagai salah satu pendapatan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam menyelesaikan perkara tindak pidana perpajakan diutamakan wajib pajak untuk dapat membayarnya, tetapi apabila tidak mau membayarnya, maka upaya terakhir adalah dilakukan proses peradilan. Dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa proses peradilan yang dilakukan pihak penyidik, penuntut umu dan putusan Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Semarang.

Metode yang digunakan adalah meteode yuridis sosiologis dengan menggunakan data primer dan sekunder, tipenya adalah deskriptif analitis. Data primer dilakukan dengan wawancara, data sekunder dilakukan dengan membaca, mengkaji dan menganalisa bahan hukum primer. Dan bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier dengan teknik analisis kualitatif, ditafsirkan secara logis dan sistematis yang akhirnya ditarik suatu kesimpulan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui proses peradilan yang dijalankan oleh pihak penyidik dalam melakukan penyidikan, dan penuintut umum yang akan melakukan penuntutan dan eksekusi, serta Majelis Hakim dalam menjalankan tugas memimpin jalannya persidangan hingga melakukan pertimbangan-pertimbangan serta keyakinannya dalam memutus perkara tindak pidana perpajakan di Pengadilan Negeri Semarang.

Kemudian kasus tersebut setelah diketahui kronologis tindak pidananya, sanksi yang dijatuhkan terhadap wajib pajak yang melakukan tindak pidana perpajakan dan pertimbangan Majelis Hakim dalam menjatuhkan putusannya, maka dianalisis dengan penerapkan peraturan yang berlaku serta bagaimana kendala-kendala yang dihadapi dalam kasus tindak pidana perpajakan tersebut.

Kata Kunci : Pidana, Sanksi, Wajib Pajak.

(6)

1 BAB 1

LATAR BELAKANG

Indenesi termasuk salah satu negara yang menempatkan pajak sebagai salah satu pendapatan negara, tercantum dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, alenia ke empat yang berbunyi : “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan keadilan sosial”. Dengan demikian negara memerlukan dana untuk pendapatan negara dalam mensejahterakan rakyat, maka dana tersebut di dapat dari rakyat melalui pungutan pajak. Salah satunya penerimaan pajak adalah disektor Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yaitu pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean, orang pribadi, perusahaan maupun pemerintah.

Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaran dan peran serta Wajib Pajak (WP) untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional, sesuai falsafah undang- undang perpajakan. Membayar pajak bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi merupakan hak dari setiap warga negara untuk ikut berpartisipasi dalam bentuk peran serta terhadap pembiayaan negara dan pembangunan nasional.1PPN diatur dalam Undang Undang No.8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah sebagaimana telah diubah Undang Undang No.42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang Undang No.8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

PPN memiliki peran yang sangat strategis dan signifikan dalam penerimaan negara dalam sektor perpajakan, namun sangat disayangkan potensi pemasukan dari pajak tersebut belum bisa dimanfaatkan dengan baik bagi kesejahteraan rakyat. Hal ini dikarenakan kerap kali terjadi tindak pidana perpajakan, yaitu berupa kealpaan dan kesengajaan, baik oleh WP, Fiskus (petugas, pegawai, pejabat atau aparat perpajakan) dan pihak ketiga (Bank, notaris, konsultan pajak, akuntan publik, kantor administrasi) yang tidak menyetorkan uang pajak kepada kas Negara, sehingga terjadi kerugian pendapatan penerimaan keuangan Negara yang bersumber dari pajak.2Di dalam proses penegakan hukum perpajakan, penyidik sangat berperan dalam menegakkan norma-norma hukum serta aturan hukum yang berlaku, agar dapat memberi efek jera palakunya dan fungsi serta tujuannya bisa tercapai.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka penulis akan melakukan penelitian dengan judul : “Sanksi Wajib Pajak Yang Melakukan Tindak Pidana Perpajakan”.

1 Djoko Slamet Suryoputro, 2009, Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak, Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Humas, Jakarta, hal.3.

2 Ibid, hal.8.

(7)

2

Berdasarakan latar belakan diatas, maka permasalahan yang akan di abahas adalah sebagai berikut :

1. Sanksi yang bagaimana dijatuhkan terhadap Wajb Pajak yang melakukan tindak pidana perpajakan ?

2. Bagaimana pertimbangan Majelis Hakim menjatuhkan putusanya terhadap Wajib Pajak yang melakukan tindak pidana perpajakan dan kendala-kendala serta solusinya

?

(8)

3 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Tentang Pajak

2.1.1. Pengertian Pajak.

Pengertian pajak menurut Prof.Dr.P.J.A. Andrian, adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib pajak membayarnya menurut peraturan- peraturan dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas Negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.3Menurut Undang Undang No.16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (selanjutnya disebut UU KUP), Pasal 1angka (1), Berdasarkan definisi tersebut, pajak memiliki karakteristik unsur sebagai berikut :

a. Pungutan secara paksa oleh Negara.

b. Yang bersangkutan tidak mendapatkan prestasi langsung.

c. Digunakan untuk membiayai pengeluaran umum.4 2.1.2. Wajib Pajak

Wajib Pajak (WP) adalah subyek pajak yang memenuhi syarat-syarat obyektif, yang ditentukan oleh undang-undang, yaitu Undang-Undang PPH Tahun 1984, menerima atau memperoleh penghasilan kena pajak, yaitu penghasilan yang melebihi pendapatan tidak kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri. Dalam UU KUP diatur pula penanggung pajak sesuai Pasal 1 angka (28), yaitu orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan kewajiban wajib pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan. Pasal 32 ayat (1) UU KUP mengatur bahwa dalam menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, wajib pajak diwakili dalam hal :

a. Badan oleh pengurus

b. Badan yang dinyatakan pailit oleh Curator

c. Badan dalam pembubaran oleh orang atau badan yang ditugasi untuk melakukan pemberesan.

d. Badan dalam likuidasi oleh Likuidator.

3 R. Santoso Brotodihardjo, 2008, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, PT.Refika Aditama, Bandung, hal.2.

4 Ida Zuraida dan L.Y.Hari Sih Advianto, Penagihan Pajak,Pusat Pajak dan Pajak Daerah, hal.4.

(9)

4

e. Suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli warisnya.

f. Anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam pengampuan oleh wali atau pengampunya.

Wakil sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) UU KUP bertanggung jawab secara pribadi dan atau secara renteng atas pembayaran pajak terutang, kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan Direktur Jenderal Pajak bahwa mereka dalam kedudukannya benar-benar tidak mungkin untuk dibebani tasnggung jawab atas pajak terutang tersebut.5

2.2. Hukum Pidana Kaitannya Dengan Hukum Pajak

Hukum pidana adalah hukum yang mengatur tentang pelanggaran dan kejahatan terhadap kepentingan umum.Pelanggaran dan kejahatan tersebut diancam dengan sanksi pidana atau hukuman yang merupakan penderitaan atau siksaan bagi yang melanggarnya, sedangkan hukum pidana kaitannya dengan hukum pajak/perpajakan dapat di lihat dalam Pasal 103 Kitab Undang –Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi :

“Ketentuan dari delapan bab pertama dari buku ini berlaku juga terhadap perbuatan yang dapat dihukum menurut peraturan-peraturan lain, kecuali kalau ada undang-undang (Wet) atau ordonansi menentukan peraturan lain”.

Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa selain hal-hal yang disebut dalam KUHP berlaku juga hal-hal yang disebut dalam undang-undang atau peraturan lain. Ketentuan pidana dalam hukum pajak diatur dalam Undang-Undang No.16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yaitu terdapat dalam Pasal 38, 39, 40, 41.

Sehingga apabila terjadi tindak pidana perpajakan, maka proses penyidikan dan penuntutan mengacu pada ketentuan KUHP dan KUHAP. Adapun tindak pidana perpajakan dapat dibedakan atas :

a. Pelanggaran, yaitu tindak pidana yang terjadi tidak dengan sengaja atau terjadi karena kealpaan atau kekhilafan seperti karena kealpaan tidak menyampaikan SPT.

b. Kejahatan, yaitu perbuatan tindak pidana yang dilakukan dengan sengaja, dimanaWajib Pajak tahu bahwa perbuatannya itu tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan undang-undang tetapi tetap dilakukan dengan maksud upaya membayar pajak lebih rendah/ringan atau untuk memperoleh ketentuan bagi dirinya yang merugikan Negara.

5 Rochmat Soemitro. 1992, Pengantar Singkat Hukum Pajak, Eresco, Bandung, hal.6.

(10)

5 2.3. Pejabat Pajak

2.3.1. Pengertian Pejabat Pajak

Pejabat adalah petugas pajak maupun mereka yang melakukan tugas dibidang perpajakan. Kaidah hukum pajak mempersamakan antara petugas pajak dengan tenaga ahli yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak dan atau yang ditunjuk oleh Gubernur Kepala Daerah dan atau Bupati/Walikota Kepala Daerah untuk membantu pelaksanaan hukum pajak. Tenaga ahli, seperti ahli bahasa, akuntansi dan pengacara yang diperbantukan dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2.3.2. Pejabat Pajak

Pihak-pihak yang tergolong sebagai pejabat pajak adalah sebagai berikut : a. Direktur Jenderal Pajak;

b. Direktur Jenderal Bea dan Cukai;

c. Gubernur dan Bupati/Walikota;

d. Pejabat yang ditunjuk melaksanakan peraturan perundang-undanganperpajakan, seperti Kepala Kantor Pelayanan Pajak atau Kepala Dinas Pendapatan Daerah.

e.Tenaga ahli yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak atau oleh Kepala Daerah 2.4. Sanksi Pidana

Menurut ketentuan dalam Undang-Undang Perpajakan, ada 3 macam sanksi pidana, yaitu : 1. Pidana Denda, sanksi berupa pidana denda dikenakan wajib pajak dan diancam juga

kepada pejabat pajak atau pihak ketiga yang melanggar norma. Denda pidana dikenakan kepada tindak pidana yang bersifat pelanggaran maupun bersifat kejahatan.

2. Pidana Kurungan, hanya diancamkan kepada tindak pidana yang bersifat pelanggaran.

Dapat ditujukan kepada wajib pajak dan pihak ketiga, karena pidana kurungan diancamkan kepada si pelanggar norma itu yang ketentuannya sama dengan denda pidana, maka masalahnya hanya ketentuan mengenai denda pidana sekian dan diganti dengan pidana kurungan selama-lamanya sekian.

3. Pidana Penjara, seperti halnya pidana kurungan, merupakan hukuman perampasan kemerdekaan. Pidana penjara diancamkan terhadap kejahatan, yang ancaman pidana penjara tidak ada yang ditujukan kepada pihak ketiga, adanya kepada pejabat dan wajib pajak.

2.5. Tindak Pidana Perpajakan

Dalam hukum pajak, tindak pidana perpajakan diartikan suatu peristiwa atau tindakan melanggar huku atau undang-undang pajak yang dilakukan oleh seseorang yang tindakannya tersebut dapat dipertanggung jawabkan oleh undang-undang pajak dan telah

(11)

6

dinyatakan sebagai suatu perbuatan pidana yang dapat dihukum. Dalam Undang-Undang Perpajakan tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan tindak pidana pajak, sementara itu definisi tindak pidana perpajakan secara jelas dapat dilihat pada Pasal 33 ayat (3) Undang- Undang No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, menyatakan sebagai berikut : Yang dimaksud dengan “tindak pidana perpajakan”adalah informasi yang tidak benar mengenai laporan yang terkait dengan pemungutan pajak dengan menyampaikan surat pemberitahuan, tetapi yang isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan-keterangan yang tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada negara dan kejahatan lainyang diatur dalam undang-undang yang mengatur perpajakan.

2.6. Perspektif Islam tentang Pajak

Pajak dalam bahasa arab disebut dengan “Dharibah” artinya mewajibkan, menetapkan, menentukan, memukul, menerangkan atau membebankan. Sehingga dapat diartikan sebagai beban. Pajak disebut dharibah karena merupakan kewajiban tambahan atas harta setelah zakat, sehingga dalam pelaksanaannya akan dirasakan sebagai sebuah beban.

Pajak sudah dikenal dalam Islam, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab atas inisiatif atau ijtihad Umar pada masa itu mulai diterapkan adanya kharaj atau pajak bumi dan ‘ushr/pajak impor dan ekspor, karena pada masa pemerintahan Umar sudah ada fasilitas dan program-program pembangunan.6

6 Gusfahmi, 2011, Pajak Menurut Syariat (Edisi Revisi), PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal.28.

(12)

7 BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yang bersifat yuridis sosiologis. Pendekatan ini digunakan karena masalah yang akan dibahas berkaitan dengan ketentuan pengaturan secara hukum, mengenai dasar hukum penjatuhan sanksi tindak pidana perpajakan. Hal ini diharapkan dapat memperoleh gambaran yang jelas dan utuh mengenai latar belakang dan seluk beluk penerapan dan penjatuhan sanksi pidana perpajakan, sekaligus pertimbangan dan kendala-kendala yang dihadapi serta solusinya.

3.2. Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis artinya melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis mengenai sanksi yang bagaimana dijatuhkan kepada wajib pajak yang melakukan tindak pidana, dan pertimbangan Majelis Hakim serta kendala maupun solusinya.

3.3. Jenis dan Sumber Data

1. Data Primer, yaitu data diperoleh langsung di lapangan melalui responden untuk memperoleh sejumlah data yang terkait penelitian, seperti observasi dan wawancara.

2. Data Sekunder, yaitu data kepustakaan diperoleh dari buku-buku referensi, makalah, peraturan perundang-undangan, laporan penelitian, jurnal, dokumen-dokumen, arsip-arsip dan artikel dari internet yang terkait dengan penelitian ini.

3.4. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pengadilan Negeri Semarang, Jl.Siliwangi Kelurahan Kembangarum Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilihat dari tujuan penelitian, maka data yang diperlukan adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data yang diperoleh langsung di lapangan yang berkaitan dengan putusan pengadilan. Sedangkan data sekunder meliputi peraturan perundang-undangan, pendapat para pakar hukum pidana, hukum acara pidana dan hukum perpajakan, serta bahan-bahan kepustakaan lainnya. Untuk mendapatkan data tersebut diperoleh melalui :

(13)

8

1. Studi Kepustakaan, bertujuan untuk memperoleh data sekunder, mencari teori-teori, pandangan-pandangan yang berhubungan dengan pokok permasalahan yang akan di bahas. Adapun data sekunder ini mencakup norma atau kaidah dasar, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan, serta bahan-bahan hukum lainnya yang digunakan untuk mendukung data primer.

2. Observasi, melakukan pengumpulan data primer dengan mendatangi lokasi penelitian, kemudian melakukan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian guna mengetahui penerapan pasal tindak pidana terhadap wajib pajak yang melakukan tindak pidana perpajakan.

3.6. Metode Analisa Data

Data telah diperoleh dari hasil penelitian, kemudian dilanjutkan dengan analisis data secara kualitatif, yaitu menganalisis data berdasarkan kualitasnya lalu di deskrepsikan dengan menggunakan kata-kata sehingga diperoleh bahasan atau paparan dalambentuk kalimat yang sistimatis dan dapat dimengerti, kemudian ditarik kesimpulan. Analisa ini digunakan untuk mengolah data yang berwujud kasus yang memerlukan penjabaran melalui uraian-uraian.

(14)

9

BAB 4

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

Jadwal Penelitian Tahun 2020

NamaKegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 Penyempurnaan instrumen

kuisioner v

2 Pembelian ATK dan Bahan Habis

Pakai v

3 Coaching surveyor dan persiapan

survei lapangan v v

4 Survei Lapangan v v v v

5

Focus Group Discussion/ Seminar

Hasil v

6 Input dan Analisis Data v v

7 Penyusunan Laporan Kemajuan v v v

8

Penyusunan Draft / summit Publikasi

Nasional/Internasional/Buku Ajar ISBN

v v v

9 Penyusunan Draft Seminar

Internasional/Nasional v v v v

10 MONEV v

11 Penyusunan Laporan Akhir v v

12 Penyerahan Laporan Akhir dll v

Rencana Anggaran Biaya Penelitian Tahun 2020

1. BELANJA HONOR

JenisPembelanjaan Item Satuan Vol. BiayaSatuan

Total Honor Ketua

Peneliti

Rp 1.400.000 Honor Anggota

Peneliti 1 Rp 700.000

Honor Anggota

Peneliti 2 Rp 700.000

JUMLAH Rp

2.800.000

(15)

10 2. BELANJA BAHAN

JenisPembelanjaan Item Satuan Vol. BiayaSatuan

Total

Tinta Untuk Printer 2 Rp

150.000 2 Rp 300.000 Rp 600.000 Cindera Mata Responden 50 Rp 10.000 2 Rp 500.000 Rp 1000.000

Voucer Pulsa 2 Rp 50.000 2 Rp 100.000 Rp 200.000

Konsumsi

Rapat/Seminar/Wawancara 25 Rp 20.000 2 Rp 500.000 Rp 1000.000 Foto Copi Kuesioner 1 paket Rp 50.000 2 Rp 50.000 Rp 100.000

JUMLAH Rp2.900.000

3. BELANJA BARANG NON OPERASIONAL LAINNYA

JenisPembelanjaan Item Satuan Vol. BiayaSatuan

Total Penjilidan

Laporan Kemajuan

1 Rp 50.000 2 Rp 50.000 Rp 100.000

Penyusunan Publikasi Nasional

dan Terjemahan dalam Bahasa

Inggris

1 Rp 250.000 2 Rp 250.000 Rp 500.000

JUMLAH Rp

600.000 4. BELANJA PERJALANAN LAINNYA

JenisPembelanjaan Item Satuan Vol. BiayaSatuan

Total Biaya perjalanan

survei di Semarang

20 Rp 20.000 2 Rp 400.000 Rp 800.000

Biaya /seminar dll 1 paket Rp 100.000 1 Rp 100.000 Rp 100.000 Biaya Akomodasi

dan Konsumsi 2 hari Rp 200.00 2 Rp 400.000 Rp 800.000

JUMLAH Rp

1.700.000

Total RAB Rp 8.000.000,- (Delapan juta rupiah)

(16)

11

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Djoko Slamet Suryoputro, 2009, Buku Panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak, Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Humas, Jakarta.

Gusfahmi, 2011, Pajak Menurut Syariat ( Edisi Revisi ), PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Ida Zuraida dan L.H. Hari Sih Advianto, 2008, Penagih Pajak, Pusat Pajak dan Pajak Daerah.

R. Santoso Brotodihardjo, 2008, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, PT.Refika Aditama, Bandung.

Rochmat Soemitro, 1992, Pengantar Singkat Hukum Pajak, Eresco,Bandung.

B. Peraturan Perundang-Undangan Undang Undang Dasar 1945

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Undang-Undang No.6 Tahun 1963, sebagaiman telah diubah beberapa kali dengan Undang-Undang No.16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Undang-Undang No.42 Tahun 2009 tentang perubahan ketiga atas Undang-Undang No.8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Undang-Undang No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

(17)

12

Lampiran 1.Biodata ketua pengusul

A. BIODATA KETUA PENGUSUL

Nama Dr.H.Achmad Sulchan,SH,MH.

NIDN/NIDK 0631035702

Pangkat/Jabatan Penata IIIC / Lektor

E-mail [email protected]

No. HP 081228389498

ID Sinta 6657645

h-Index -

Publikasi di JurnalInternasionalterindeks

No. JudulArtikel

Peran (First author, Corresponding author, atau co-

author)

NamaJurnal, Tahunterbit, Volume, Nomor,

P-ISSN/E-ISSN

URL artikel (jikaada)

1

The Roles Investigator in Implementing Diversion on

Children Criminal Action

Penulis Pertama

International Journal of Law Reconstruction Volume II,Issue

1, March 2018 2

3 4 5

Publikasi di JurnalNasionalTerakreditasi

No. JudulArtikel

Peran (First author, Corresponding author, atau co-

author)

NamaJurnal, Tahunterbit, Volume, Nomor,

P-ISSN/E-ISSN

URL artikel (jikaada) 1

2 3 4 5

(18)

13

Publikasi di JurnalNasionalTidakTerakreditasi (Ber-ISSN)

No. JudulArtikel

Peran (First author, Corresponding author, atau co-

author)

NamaJurnal, Tahunterbit, Volume, Nomor,

P-ISSN/E-ISSN

URL artikel (jikaada) 1

2 3 4 5

Prosiding Seminar/KonverensiInternasionalTerindeks

No. JudulArtikel

Peran (First author, Corresponding author, atau co-

author)

NamaJurnal, Tahunterbit, Volume, Nomor,

P-ISSN/E-ISSN

URL artikel (jikaada) 1

2 3 4 5 Buku

No. JudulBuku Tahun

Penerbitan ISBN Penerbit URL artikel (jikaada) 1

2 3 4 5

Perolehan KI

No. Judul KI Tahun

Perolehan Jenis KI Nomor

Status KI (terdaftar/granted)

URL artikel (jikaada) 1

2 3 4

(19)

14

Lampiran 2.Suratpernyataanketuapeneliti

Referensi

Dokumen terkait

Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib pajak yang pembayarannya menurut peraturan-peraturan dengan tidak mendapat

Prof.Dr.PJA.Adriani, mendefinisikan pajak sebagai iuran pada negara yang dapat dipaksakan yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan dengan

“Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang)

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib membayarnya menurut peraturan- peraturan

“Pajak adalah iuran masyarakat kepada Negara (yang dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan- peraturan umum (undang-undang) dengan

Pajak adalah iuran rakyat kepada negara (yang dapat di paksakan) yang terutang oleh wajib pajak membayarnya berdasarkan peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat

Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayar menurut peraturan-peraturan dengan tidak mendapat balasan kembali, yang langsung

Menurut Adriani (1998: 2) Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh berwajib membayarnya menurut peraturan - peraturan dengan tidak