• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses menua pada manusia merupakan suatu peristiwa alamiah yang tidak dapat dihindari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Proses menua pada manusia merupakan suatu peristiwa alamiah yang tidak dapat dihindari"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

Menurut undang-undang ini, lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai umur 60 tahun atau lebih, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini terlihat dari hasil penelitian Haiflick (1980) yang teorinya menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pembelahan sel dalam kultur dengan umur jenis mutasi somatik (error Catastrophe theory). Proses penuaan dapat terjadi akibat adanya perubahan protein pasca translasi yang dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh dalam mengenali dirinya sendiri (self recognition).

Jika mutasi somatik menyebabkan kelainan pada permukaan sel, hal ini akan mengakibatkan sistem kekebalan tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. Goldstein (1989) dikutip dari Azis (1994). Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya prevalensi autoantibodi pada lansia (Brocklehurst, 1987 dikutip dalam Darmojo dan Martono, 1999). Perubahan kondisi fisik Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi perubahan mulai dari tingkat sel hingga seluruh sistem organ dalam tubuh, meliputi sistem pernapasan, pendengaran, visual, kardiovaskular, pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, urogenital, endokrin, dan integumen.

Permasalahan fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia antara lain cepat terjatuh, cepat lelah, kebingungan mental akut, sesak napas, saat melakukan aktivitas fisik/bekerja, nyeri pada pinggang atau punggung, sendi panggul, sulit tidur, sering pusing, berat badan bertambah, penurunan fungsi. , gangguan penglihatan dan pendengaran, serta masalah retensi urin. Usia berpengaruh terhadap lansia pada setiap percobaan, hal ini didukung oleh teori aktivitas yang menyatakan bahwa hubungan antara sistem sosial dengan individu tetap stabil ketika individu tersebut berpindah. Menurut (Wahyuni, 2013), usia mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pemberian pelayanan kesehatan, hal ini mungkin disebabkan karena lansia mengalami perubahan atau penurunan dalam berbagai aspek kehidupannya, baik fisik maupun psikis.

Angka harapan hidup lansia perempuan lebih tinggi dibandingkan lansia laki-laki, jumlah lansia perempuan yang menikah lebih sedikit dibandingkan penduduk lansia laki-laki.

Proses Pathologi Nyeri Punggung Bawah

NPB adalah nyeri yang dirasakan pada daerah punggung bawah, dapat berupa nyeri lokal atau nyeri radikuler atau kedua-duanya. Nyeri ini terasa di antara sudut tulang rusuk bagian bawah hingga lipatan bawah bokong, yaitu di daerah pinggang atau lumbo-sakral dan sering kali disertai dengan menjalarnya nyeri ke tungkai dan kaki. Pasien NPB kronis mungkin merasakan nyeri terbatas pada garis tengah daerah pinggang (punggung bawah), atau menyebar ke daerah yang lebih luas, termasuk daerah paraspinal, tulang panggul, pinggul atau bokong; daerah paha posterior atau lateral, lutut atau kaki atau dimana saja di sekitar kaki (Rahmat, 2009).

Refleks itu sendiri sebenarnya bermanfaat bagi tubuh kita, misalnya refleks dramatis yang merupakan mekanisme kelangsungan hidup organisme. Selain itu, refleks tersebut akan menimbulkan kontraksi yang tidak disadari dan dapat menimbulkan nyeri melalui nosiseptor pada otot dan tendon. Semakin sering dan kuat nosiseptor dirangsang, maka semakin kuat aktivitas refleks pada otot tersebut sehingga menyebabkan hipertonus.

Kondisi ini akan semakin diperburuk dengan iskemia lokal akibat kontraksi otot yang kuat dan terus menerus atau mikrosirkulasi yang tidak mencukupi akibat deregulasi sistem simpatis. Masukan serat aferen dari organ visceral, kulit, sendi, tendon, otot atau impuls dari otak turun ke tulang belakang dapat mempengaruhi rangsangan neuron motorik alfa dan gamma sehingga mengakibatkan kekakuan otot, misalnya peningkatan masukan nosiseptif dari kapsul sendi. meningkatkan refleks yang dapat merangsang beberapa otot di sekitar sendi. Stimulasi dari otak berupa stres atau emosi juga dapat merangsang refleks pada otot postural.

Etiologi dan Klasifikasi Nyeri Punggung Bawah

Kurang gerak, duduk terus menerus dengan tulang belakang lumbal yang melengkung (lordosis), obesitas, sembelit dan hidup bermalas-malasan merupakan faktor yang pada akhirnya merusak keseimbangan sciatic dan kinetik yang dijaga oleh sendi posterior, cakram intervertebralis dan ligamen tulang belakang lumbal. Lesi traumatis yang dimaksud adalah lesi akibat trauma besar maupun trauma ringan yang berulang. Nyeri bertambah seiring dengan gerakan pinggang, terutama saat pinggang digerakkan setelah tetap dalam posisi duduk atau berbaring.

Batuk, bersin, atau duduk tegak dapat menyebabkan patah tulang kompresi osteoporosis pada tulang belakang. Setiap terjadi perubahan pada tubuh tempat panggul bergerak, nyeri akan terasa, misalnya saat menoleh ke satu sisi. Jenis nyerinya berlanjut, tidak bertambah karena pergerakan dan mobilitas sumsum tulang belakang masih cukup baik.

Kelainan bawaan tulang belakang yang dimaksud adalah spondylolisthesis, spondylolysis, spina bifida dan stenosis kanalis vertebra lumbalis. Berada dalam posisi membungkuk terlalu lama dapat menyebabkan sakit punggung. Stres dapat menyebabkan otot menjadi tegang yang merupakan faktor psikososial dalam pekerjaan dan masalah punggung.

Meratanya ruang cakram akan menurunkan kemampuan tulang belakang, terutama di daerah pinggang, untuk menahan beban yang berkurang. Jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi terjadinya nyeri pinggang, karena pada wanita penyakit ini lebih sering terjadi misalnya pada saat siklus menstruasi, selain itu menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang menurun akibat menurunnya hormon estrogen yang menyebabkan terjadinya nyeri pinggang. memungkinkan timbulnya nyeri punggung. Namun belum diketahui secara jelas apakah jenis kelamin merupakan faktor risiko terjadinya nyeri pinggang, meskipun operasi HNP lebih banyak terjadi pada laki-laki, sehingga kompensasi nyeri pinggang lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu sekitar 70 – 80.

Jenis olahraga yang dapat dilakukan oleh lansia penderita nyeri pinggang adalah jalan cepat, jogging, atau mengikuti klub kebugaran khusus lansia. Sebenarnya ada tiga hal utama dalam pencegahan nyeri pinggang, yaitu olah raga, sikap atau postur tubuh yang baik dan pengaturan asupan makanan seimbang (Widy, 2010). Pola makan yang tidak seimbang menyebabkan terjadinya obesitas yang akan meningkatkan kejadian gangguan muskuloskeletal terutama pada punggung bagian bawah karena tulang pinggang merupakan titik mobilitas punggung.

Back Exercise

Back Exercise Metode William flexion a) Gerakan 1 (Pelvic tilt)

Berbaring telentang dengan kedua lutut ditekuk, kemudian punggung ditekan ke lantai dengan cara mengontraksikan otot perut.Kontraksi otot perut dilakukan selama 5 – 8 hitungan (5 – 8 detik) dengan 4 kali pengulangan b) Gerakan 2 (Duduk) di tekuk lutut). Berbaring telentang dengan kedua lutut ditekuk, lalu tekan bokong ke arah lantai dengan mengontraksikan otot punggung bawah. Kontraksi otot punggung bawah dilakukan selama 5 – 8 hitungan (5 – 8 detik) dengan 4 kali pengulangan.. c) Gerakan 3 (Satu lutut ke dada). Posisi meluncur seperti posisi melakukan “Push-up” dengan salah satu lutut ditekuk hingga mengarah ke dada, kepala terangkat sehingga pandangan ke depan, otot perut ditekan ke paha dengan mengontraksikan otot punggung, setiap gerakan dilakukan dan ditahan selama 5 – 8 hitungan (5 – 8 detik) dengan 4 kali pengulangan.

Posisi duduk, kemudian badan digerakkan ke bawah dengan cara menekuk (menekuk) pinggang hingga dada menyentuh paha hingga otot punggung meregang sempurna, setiap gerakan dilakukan dan ditahan selama 5 – 8 hitungan (5 – 8 detik) dengan 4 kali pengulangan. .

Gambar 2.1 Pelvic Tilt
Gambar 2.1 Pelvic Tilt

Kerangka Konseptual

Pengertian Nyeri

Intensitas Nyeri

Referensi

Dokumen terkait