• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Proses pembuatan flywheel (roda gila) mesin Hammer Mill dengan metode Drilling, Milling, dan Turning di PT. Raja Ampat Indotim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Proses pembuatan flywheel (roda gila) mesin Hammer Mill dengan metode Drilling, Milling, dan Turning di PT. Raja Ampat Indotim"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Armatur volume 5 nomor 1 (2024) ISSN (cetak): 2722-080X, ISSN (online): 2722-0796

*Corresponding author: [email protected] DOI: https://10.24127/armatur.v5i1.4920

Received 16 Nopember 2023; Received in revised form 19 Maret 2024 ; Accepted 19 Maret 2024

Available online 22 March 2024 62

Contents list available at Sinta

A R M A T U R

: Artikel Teknik Mesin & Manufaktur

Journal homepage: https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/armatur

Proses pembuatan flywheel (roda gila) mesin Hammer Mill dengan metode Drilling, Milling, dan Turning di PT. Raja Ampat Indotim

Mulyana1*, Jojo Sumarjo2, Aripin3

1,2,3Prodi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Singaperbangsa Karawang, Jl.

HS. Ronggo Waluyo, Telukjambe Timur, Karawang, Indonesia

A R T I C L E I N F O

A B S T R A C T

Keywords:

drilling, milling and turning method

st 40 steel flywheel

materials processing mechanical engineering

This research aims to manufacture a flaywheel for a hammer mill machine using drilling, milling and turning methods, which aims to keep the engine rotation stable on the machine due to excessive load.

This research focuses on drilling, milling, and turning processes on low carbon steel (ST 40 steel).

Flywheel is a component that is a disk that because of its weight can withstand drastic changes in speed so that the rotational movement of the engine shaft becomes smoother. From the results of research using the following drilling, milling and turning methods in the flywheel manufacturing process, namely the drilling process time for making sepie holes 62.82 minutes, milling process smoothing 2 workpiece surfaces 242.06 hours and turning profiling 2 workpiece surfaces 117.6 hours with a total production time of about 15 days.

Pendahuluan

Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk membawa manfaat positif bagi kehidupan manusia. Teknologi juga memberikan banyak keuntungan, serta cara baru untuk melakukan aktivitas manusia.

Manusia juga sudah banyak menerima manfaat dari inovasi teknologi yang telah

dihasilkan dalam dekade terakhir ini [1].

Salah satu teknologi yang paling penting dalam kemajuan teknologi dunia adalah mesin. Mesin hammer mill merupakan pemecah batu yang bekerja menggunakan sistem rotasi dengan kecepatan rpm tinggi.

Mesin ini dapat menghasilkan materi akhir yang halus [2].

Dalam sebuah mesin hammer mill itu sendiri terdiri dari komponen – komponen yang berguna supaya mesin tersebut berjalan sesuai dengan tujuan

(2)

63 awalnya. Mengingat betapa pentingnya

mesin dan komponennya, penting juga untuk memahami tentang elemen mesin dari mesin tersebut. Salah satu elemen yang paling penting dan vital dari mesin hammer mill adalah flywheel (roda gila).

Flywheel atau sering juga disebut roda gila seperti yang kita tahu itu adalah komponen yang merupakan piringan yang karena beratnya dapat menahan perubahan kecepatan yang drastis sehingga gerakan rotasi poros mesin menjadi lebih halus.

Flywheel sebagai penyimpanan energi memperoleh energi kinetik dalam bentuk inersia putar, dan menyimpannya dalam bentuk energi kinetik, kemudian melepaskannya ketika diperlukan [3].

Material flywheel, ada dua kelas dasar flywheel berdasarkan bahan di rotor.

Kelas pertama menggunakan rotor yang terbuat dari bahan komposit canggih seperti serat karbon atau grafit. Bahan- bahan ini memiliki rasio kekuatan dan berat yang sangat tinggi, yang memberi flywheel potensi memiliki energi spesifik yang tinggi. Kelas kedua flywheel menggunakan baja sebagai bahan struktural utama dalam rotor. Kelas ini tidak hanya termasuk desain flywheel tradisional yang memiliki diameter besar, rotasi lambat, dan kepadatan daya dan energi rendah, tetapi juga termasuk beberapa flywheel kinerja tinggi yang lebih baru juga [4].

Pada proses pembuatan flywheel di PT. Raja Ampat Indotim Bekasi, Jawa Barat ada beberapa proses permesinan yang dilakukan sampai flywheel tersebut siap untuk digunakan diantaranya termasuk, proses drilling, milling, dan turning.

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian tentang mesin flywheel sangat menarik, menggunakan beberapa proses permesinan. Oleh karena itu, masih banyak yang perlu diteliti tentang material yang digunakan, terutama tahapan - tahapan dan lama proses yang dilakukan untuk membuat flywheel untuk siap dapat digunakan. Peneliti ingin mengetahui proses apa saja yang dilakukan untuk membuat flywheel dan pengaruh dari

dilakukanya tahapan drilling, milling, turning terhadap pembuatan flywheel serta mengetahui mesin apa saja yang digunakan.

Landasan Teori Pengertian Baja

Baja merupakan salah satu jenis logam paduan antara besi (Fe) dan karbon (C), dengan unsur dasar besi (Fe), dan unsur utama paduannya unsur karbon (C).

Presentase karbon dan struktur mikro merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap karakteristik sifat baja. Baja memiliki kandungan karbon berkisar antara 0, 1 % hingga 1, 7 % sesuai tingkatannya, adapun struktur mikro pada baja dipengaruhi oleh perlakuan panas dan komposisi baja. Dalam proses pembuatan baja, berbagai jenis kualitas baja dapat diperoleh dengan memvariasikan kandungan presentase karbon dan unsur paduannya, selain unsur besi (Fe) dan karbon (C) unsur paduan seperti kromium (Cr), nikel (Ni), mangan (Mn), silikon (Si), titanium (Ti), kobalt (Co), tungsten (W), vanadium (V) dan unsur lainnya [5].

Baja St. 40 adalah baja yang memiliki gaya tarik maksimal 40 kg/mm2, baja st. 40 termasuk dalam baja karbon rendah yaitu memiliki kandungan karbon antara 0,025% - 0,25% C. Setiap 1 ton baja karbon rendah memiliki 10 - 30 kg karbon [6].

Proses Pengeboran (Drilling)

Pengeboran (drilling) adalah salah satu teknik pemotongan (pembuatan lubang) dengan menggunakan mata potong bor (drill bit). Proses pengeboran (drilling) sangat dipengaruhi faktor - faktor permesinan seperti kecepatan spindle, pemakannan, diameter drill, point angle, gaya pemotongan dan torsi serta ketebalan material [7]. Sementara proses pengeboran (boring) adalah proses meluaskan / pembesaran lubang yang dapat dilakukan dengan batang bor (boring bar) yang tidak hanya dapat dilakukan pada mesin drill, tetapi juga bisa dengan mesin bubut, mesin freis, atau mesin bor [8].

(3)

64 Proses drill digunakan untuk

membuat lubang bulat. Pembuatan lubang dengan bor spiral di dalam benda kerja yang pejal merupakan suatu proses pengikisan dengan daya penyerpihan yang besar. Jika terhadap benda kerja itu dituntut kepresisian yang tinggi (ketepatan ukuran atau mutu permukaan) pada dinding lubang, maka diperlukan pengerjaan lanjutan dengan pembenaan atau gerek [9].

Gambar 1. Berikut menunjukkan proses drilling (pembuatan lubang sepie).

Gambar 1. Proses drilling (pembuatan lubang sepie)

Dalam proses pengeboran, geram (chips) harus keluar melalui alur helix pahat drill ke luar lubang. Ujung pahat menempel pada benda kerja yang terpotong, sehingga proses pendinginan menjadi relatif sulit.

Proses pendinginan biasanya dilakukan dengan menyiram cairan pendingin, atau bahan pendingin dimasukkan melalui lubang di tengah mata bor.

Proses Milling

Mesin milling merupakan suatu mesin perkakas yang menghasilkan sebuah bidang datar di mana pisau berputar dan benda bergerak melakukan langkah pemakanan. Sedangkan proses milling adalah suatu proses permesinan yang pada umumnya menghasilkan bentukan bidang datar (bidang datar ini terbentuk karena pergerakan dari meja mesin) dimana proses pengurangan material benda kerja karena

terjadi adanya kontak antara alat potong (cutter) yang berputar pada spindle dengan benda kerja yang tercekam pada meja mesin [10]. Gambar 2. Berikut menunjukan proses milling menggunakan mesin bubut.

Gambar 2. Proses milling (pemerataan permukaan benda kerja)

Proses Turning

Proses permesinan ini sangat penting. Proses ini adalah salah satu yang mengubah bentuk dengan cara membuang sebagian material dalam bentuk serpihan geram / chips. Selama proses permesinan berlangsung, terjadi interaksi antara pahat dengan benda kerja di mana benda kerja terpotong sementara pahat mengalami perubahan suhu yang terus meningkat yang dapat mengurangi kemampuan fungsional pahat. Sedangkan material benda kerja akan mengalami proses - proses perubahan sifat fisik maupun kimianya [11].

Salah satu proses pemotongan logam yang paling banyak digunakan dalam industri manufaktur adalah proses pembubutan [12]. Proses pembubutan adalah salah satu proses yang sering digunakan untuk konstruksi elemen mesin di industri manufaktur. Proses pemotongan logam merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengubah bentuk suatu produk dari logam dengan cara memotong, proses ini mampu menghasilkan komponen - komponen yang memiliki bentuk kompleks dengan akurasi geometri dan dimensi yang tinggi [13].

(4)

65 Pada proses pembubutan material

benda kerja berputar dan menghilangkan sebagian lapisan permukaan material benda kerja, menghasilkan tiga komponen yaitu gaya potong utama yang bekerja pada atau kecepatan potong, gaya umpan yang bekerja pada arah laju umpan dan gaya dorong yang bekerja pada arah yang normal ke pemotongan kecepatan [14].

Gaya potong (cutting force) yang dihasilkan pada proses pembubutan ada tiga macam yaitu gaya tangensial, gaya aksial, dan gaya radial. Gaya tangensial yaitu gaya yang dihasilkan pada arah kecepatan potong. Gaya aksial yaitu gaya yang terjadi pada arah gerak makan.

sedangkan gaya radial, yaitu gaya yang arahnya menuju bidang normal pada kecepatan potong [15]. Gaya potong dipengaruhi oleh putaran spindle dan beberapa faktor lainnya seperti tebal gram, kedalaman potong dan lainnya.

Material Baja Karbon Rendah (Baja ST 40)

Salah satu dari jenis material adalah Baja ST 40. Baja ini merupakan jenis baja karbon yang memiliki kadar karbon rendah (Low Carbon Steel) yaitu dibawah 0,30.

Baja ST 40 memiliki kekuatan tarik sampai dengan 40 kg/mm2, memiliki nilai regang senilai 34 ℅ dan massa jenis diangka 7,86 g/mm3. Baja ST 40 mengandung Besi (Fe)

= 99, 092℅, Karbon (C) = 0,16℅, Mangan (Mn) = 0,385℅ Silikom (Si) = 0,221℅, Kobalt (Co) = 0,077℅, Cuprum (Cu) = 0,036℅, Wolfram (W) = 0,001℅ dan Fosfor (P) = 0,026℅ [16].

Gambar 3. Proses turning (pemprofilan)

Metode Penelitian

Bahan yang digunakan untuk proses produksi flywheel (roda gila) yaitu material baja karbon (Baja ST 40) dengan diameter 60,5 cm, dan ketebalan 10 cm. Pembuatan flywheel ini diperuntukan mesin hammer mill dipergunakan sebagai penyimpan tenaga di dalam mesin dan menstabilkan putaran mesin.

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di PT.

Raja Ampat Indotim, Bekasi, Jawa Barat.

Prosedur Produksi

Pelat baja karbon (ST 40) dengan diameter 60,5 cm dan ketebalan 10 cm yang sebelumnya telah melalui serangkaian proses produksi dari mulai pemilihan material, tahap pemerataan diameter luar, tahap lalu proses drilling, proses milling, hingga masuk ke tahap turning finishing atau proses pembentukan profil 2 permukaan benda kerja dengan menggunakan pahat widia dengan kecepatan E 24 / min.

Tahapan dalam Proses Pembuatan flywheel (roda gila)

Terdapat tiga kategori kualitas yang dapat diukur yaitu sebagai berikut:

1. Perancangan desain: Tentukan spesifikasi dan desain flywheel sesuai dengan kebutuhan mesin hammer mill. Ini mencakup diameter, ketebalan, jumlah dan lokasi lubang, serta bentuk umum flywheel.

2. Pemilihan bahan: Pilih baja ST 40 sebagai bahan baku. Pastikan bahan ini memenuhi persyaratan kekuatan, kekuatan, dan sifat mekanis lainnya yang diperlukan untuk flywheel.

3. Pemotongan bahan: Potong atau potong bahan baja ST 40 sesuai dengan dimensi awal flywheel yang diinginkan.

4. Pembentukan lubang (drilling):

Pembuatan lubang sepie lubang

(5)

66 pengunci menggunakan mesin

drilling dengan mata bor 20 mm.

5. Pembentukan umum (milling menggunakan mesin turning):

Proses milling dengan

menggunakan mesin turning yaitu proses pemerataan 2 permukaan benda kerja dengan menggunakan pahat widia rampas luar.

6. Pembubutan (turning): Proses utama pembuatan flywheel (roda gila) mulai dari proses penghalusan sisi luar benda kerja diameter awal 60,5 cm diameter akhir 60 cm menggunakan pahat rampas luar dengan penipisan sampai 5 cm, proses pengeboran di bagian tengah diameter benda dengan mata bor 36 mm lalu dibuat mencapai ukuran 100 mm dengan menggunakan pahat widia rampas dalam, proses pemerataan 2 permukaan benda kerja dengan metode milling menggunakan pahat widia rampas luar, proses turning proses pembentukan benda kerja menggunakan pahat widia dan proses pemprofilan benda kerja sisi kiri - kanan dengan kedalaman masing - masing 5 mm menggunakan pahat widia.

7. Pengecekan dimensi dan kualitas:

Lakukan pemeriksaan dimensi dan kualitas flywheel menggunakan alat pengukur presisi dan peralatan pengujian lainnya. Jelaskan toleransi dan spesifikasi yang ditentukan.

Pengumpulan Data

Berdasarkan dari data yang ada setelah melalui tahap Statistic Quality Control (SQC), diketahui bahwa tidak terdapat kecacatan produk flywheel (roda gila) pada proses produksi melalui tahap permesinan yang diantaranya adalah proses drilling, milling, dan turning. Untuk membuktikan hasil penelitian ini, peneliti menampilkan beberapa hasil data pada proses awal – akhir pembuatan produk. Jika

dilihat dari proses produksi, peneliti menyimpulkan bahwa faktor kualitas fly wheel (roda gila) dipengaruhi oleh:

Pemilihan Pemotongan

1. Kecepatan potong (cutting speed) 2. Kedalaman potong (depth of cut) 3. Umpan pemotongan (feed rate) 4. Pemilihan alat potong (tool

selection)

Hasil dan Pembahasan

Proses pembuatan flywheel dengan metode drilling, milling, dan tuning ini dimulai dari perhitungan drilling, milling, dan turning dari kecepatan rpm dan waktu pemotongan yaitu:

1. Metode Drilling

Tabel 1. Data Drilling

Mata bor

Kecepatan

potong (v) L F

20 mm 60 m/min 100 mm 0,1 Perhitungan drilling dengan mata bor 20 mm.

Maka:

v=π x D x n

1000

n=v x 1000

π x D

n=60 x 10003,14 x 20 n= 60.000

3,14 x 20

n=60.00062.8 n=955 rpm Waktu pemotongan:

Maka:

Tm= L

F x n

= 100

0,1 x 955

=95,5100=1,047 x 60

= 62,8 menit

(6)

67 Tabel 2. Data Hasil Perhitungan

Diperoleh Hasil Perhiungan

Rpm 955

Waktu 62,8 menit

Dapat dilihat hasil perhitungan dari data tabel diatas, bahwa diperoleh kecepatan putaran spindle (n) adalah 955 rpm dan diperoleh waktu pemotongan untuk melubangi material benda kerja menggunakan mata bor ukuran 20 mm adalah 60,82 menit. bagian yang sangat mempengaruhi dalam proses pengeboran pada pembuatan lubang sepie flywheel (roda gila) ialah yang pertama kecepatan putaran spindle, kecepatan penyayatan (feed rate), diameter dan jenis mata bor.

2. Metode Milling

Tabel 3. Data Milling

Kecepatan

potong (v) A F

6,5 24 m/min 1.525 m2 0,1 Perhitungan milling 2 sisi permukaan baja st 40 dengan luas permukaan 1.525 m2. Maka:

v=π x D x n1000 n=v x 1000

π x D

n=24 x 1000

3,14 x 6,5

n=3,14 x 6,524.000 n=24.000

20.41

n=126 rpm Waktu pemotongan:

Maka:

Tm= A

F x n

=0,1 x 1261.525

=1.52512.6

=121.031 x 60

=7.261.8 menit atau121.03 jam

=121.03 jam x 2 sisi

=242.06 jam

Tabel 4. Data Hasil Perhitungan Diperoleh Hasil Perhiungan

Rpm 126

Waktu 241.06 jam

Dapat dilihat hasil perhitungan dari data tabel diatas, bahwa diperoleh kecepatan putaran spindle (n) adalah 126 rpm dan diperoleh waktu pemotongan untuk proses milling penghalusan 2 permukaan material benda kerja dengan kecepatan 24 mm/min adalah 242.06 jam atau selama 10 hari. bagian yang sangat mempengaruhi dalam proses milling ialah yang pertama kecepatan putaran spindle, kecepatan penyayatan (feed rate), dan jenis pahat.

3. Metode Turning

Tabel 5. Data Turning

Kecepatan

potong (v) A F

6,5 24 m/min 742 m2 0,1 Perhitungan turning pemprofilan 2 sisi permukaan baja st 40 dengan luas permukaan 742 m2.

Maka:

v=π x D x n

1000

n=v x 1000

π x D

n=24 x 10003,14 x 6,5 n= 24.000

3,14 x 6,5

D

D

(7)

68 n=24.00020.41

n=126 rpm Waktu pemotongan:

Maka:

Tm= A

F x n

=0,1 x 126742

=742

12.6

=58 x 60

=3.528 menit atau 58.8 jam

=58.8 jam x 2 sisi

=117,6 jam

Tabel 6. Data Hasil Perhitungan

Diperoleh Hasil Perhiungan

Rpm 126

Waktu 117.6 jam

Dapat dilihat hasil perhitungan dari data tabel diatas, bahwa diperoleh kecepatan putaran spindle (n) adalah 126 rpm dan diperoleh waktu pemotongan untuk proses turning pemprofilan 2 permukaan material benda kerja dengan kecepatan 24 mm/min adalah 117,6 jam.

Dengan total lama produksi flywheel skitar 15 hari. bagian yang sangat mempengaruhi dalam proses turning ialah yang pertama kecepatan putaran spindle, kecepatan penyayatan (feed rate), dan jenis pahat.

Hasil Akhir

Dari serangkaian tahapan proses yang sudah dilaksanakan seperti drilling pengeboran pembuatan lubang spie, milling pemerataan sisi bagian luar benda kerja dan turning pemprofilan pembentukan benda kerja maka di peroleh hasil akhir yaitu berupa flywheel (roda gila) dengan

diameter 60,5 cm dan tebal 10 cm seperti gambar dibawah ini:

Gambar 4. Flywheel (roda gila)

Kesimpulan

Dalam kaitan dengan proses produksi flywheel (roda gila) tersebut, metode drilling, milling dan turning menjawab semua pertanyaan itu.

Melakukan semua proses permesinan dan semua peralatan yang digunakan mulai dari material yang digunakan sampai tahap akhir proses produksi berjalan optimal.

Metode drilling, milling dan turning adalah metode permesinan yang banyak digunakan di dunia industri manufaktur dengan dapat menghasilkan produk yang lebih stabil dan berkualitas tinggi. Dalam kesempatan penelitian kali ini proses pembuatan flywheel (roda gila) mesin hammer mill setelah melalui tahap Statistic Quality Control (SQC), diketahui bahwa tidak terdapat kecacatan produk flywheel diperoleh hasil yang baik.

Menurut peneliti flywheel (roda gila) adalah sebuah komponen mesin yang memiliki peran vital yaitu menjaga putaran mesin agar tetap stabil pada mesin hammer mill ini karena beban berlebih dan merupakan sebuah massa yang berputar dan dipergunakan sebagai penyimpan tenaga di dalam mesin.

Dari hasil penelitian menggunakan metode drilling, milling dan turning berikut adalah pengaturan mesin yang tepat pada proses pembuatan flywheel (roda gila) yaitu dengan waktu proses drilling pembuatan lubang sepie 62,8 menit, proses milling penghalusan 2 permukaan benda kerja

(8)

69 242,06 jam dan turning pemprofilan 2

permukaan benda kerja 117,6 jam. Dengan total lama produksi flywheel sekitar 15 hari.

Referensi

[1] Ngafifi, M. (2014). Kemajuan teknologi dan pola hidup manusia dalam perspektif sosial budaya. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 2(1).

[2] Batu, F. L., Hutabarat, U. J., &

Sibarani, M. T. P. (2018).

Perancangan Mesin Pemecah Batu

Dolomit Kapasitas 500

Kg/Jam. Inovtek Polbeng, 8(2), 285- 292.

[3] Razali, R., & Stephan, S. (2017).

Rancang Bangun Mesin Pembangkit Listrik Tanpa Bbm Berkapasitas 3000 Watt Dengan Memanfaatkan Putaran Flywheel. Jurnal Media Elektro, 45- 48.

[4] Liu, H., & Jiang, J. (2007). Flywheel energy storage—An upswing

technology for energy

sustainability. Energy and buildings, 39(5), 599-604.

[5] ISWORO, H. (2020). Pengaruh Variasi Temperatur Pemanasan Dan Media Pendingin Terhadap Kekerasan dan Struktur Mikro Baja ST 41 Metode Hardening.

[6] Rohadi, A., Darmanto, D., & Syafa'at, I. (2013). Analisis Keausan Baja St.

40 Menggunakan Tribotester Pin-On- Disc Dengan Variasi Kondisi

Pelumas. Jurnal Ilmiah

Momentum, 9(2).

[7] W Prasetya, W., Septiadi, W. N., &

Subagia, I. A. (2016). Analisa Cacat Drilling dari Material Hybrid Komposit Laminasi Serat Karbon Basalt-Epoxy. Jurnal METTEK Volume, 2(2), 106-113.

[8] Hermawan, Y. (2012). Pengaruh Putaran Spindel, Gerak Makan Dan Kedalaman Potong Terhadap Getaran Spindle Head Hasil Proses

Drilling. ROTOR, 5(1), 18-25.

[9] Hermawan, Y. (2012). Pengaruh Putaran Spindel, Gerak Makan Dan Kedalaman Potong Terhadap Getaran Spindle Head Hasil Proses Drilling. ROTOR, 5(1), 18-25.

[10] Prakoso, I. (2014). Analisa Pengaruh Kecepatan Feeding Terhadap Kekasaran Permukaan Draw Bar Mesin Milling Aciera Dengan Proses Cnc Turning. Jurnal Teknik Mesin Mercu Buana, 3(3), 1-6.

[11] Rochim, T. (2007). Perkakas dan Sistem Perkakas (Umur Pahat, Cairan Pendingin Pemesinan). Bandung:

ITB.

[12] Rizal, M., & Ghani, J. A. (2018).

Design and construction of a strain gauge-based dynamometer for a 3- axis cutting force measurement in turning process. Journal of Mechanical Engineering and Sciences, 12(4), 4072-4087.

[13] Husni, T., Asmadi, A., Pusvyta, Y., &

Hidayat, T. (2020). Pengaruh Jenis Pahat Dan Kedalaman Pemakanan Pada Proses Pembubutan Terhadap Kekasaran Permukaan AISI 4340. Teknika: Jurnal Teknik, 6(2), 119-133.

[14] Nasution, A. R., & Affandi, A. (2021, August). Analisa Gaya Potong Pada Proses Pemesinan Turning

Menggunakan Bahan

Politetrafluoroetilena (PTFE).

In Seminar Nasional Teknologi Edukasi Sosial dan Humaniora (Vol.

1, No. 1, pp. 652-661).

[15] Kosaraju, S., Anne, V., & Ghanta, V.

(2011, May). Effect of rake angle and feed rate on cutting forces in an orthogonal turning process.

In International Conference on Trends in Mechanical and Industrial Engineering, May (pp. 150-154).

[16] Laksono, E. N., Santosa, A. W. B., &

Jokosisworo, S. (2020). Analisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Impak,

(9)

70 dan Mikrografi Pada Sambungan Las

Baja ST 40 Akibat Pengelasan Flux- Cored Arc Welding (FCAW) Dengan Variasi Suhu Normalizing. Jurnal Teknik Perkapalan, 8(4), 520-531.

Referensi

Dokumen terkait