• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK TANAMAN KAKAO DI MASA DEPAN

N/A
N/A
Imam Mukhlis Nainggolan

Academic year: 2024

Membagikan "PROSPEK TANAMAN KAKAO DI MASA DEPAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK TANAMAN KAKAO DI MASA DEPAN

MAKALAH

OLEH :

IMAM MUKHLIS NAINGGOLAN 210308043

TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM A

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2024

(2)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman kakao merupakan tanaman tahunan yang bijinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan coklat. Biji kakao mengandung banyak manfaat seperti pada bidang kesehatan, makanan, dan ekonomi. Sehingga tanaman kakao sudah dibudidaya mulai dari 4000 tahun yang lalu di Mesoamerika Kuno atau Meksiko saat ini. Di Indonesia sendiri tanaman kakao di perkenalkan oleh Spanyol pada tahun 1560 di Minahasa dan Sulawesi. Kakao berproduksi pada umur 4 tahun dan apabila dikelola dengan baik maka masa produksinya bisa mencapai 25 tahun.

Kakao menghasilkan kakao kering rata-rata 467,3 kg/Ha (FAOSFAT, 2022).

Kakao pada saat ini ditanam di 50 negara di dunia dengan produksi total sebesar 3.045.000 ton, tingkat kenaikan produksi 2,3 % pertahun, dan 73 % produksi biji kakao dunia dipasok oleh tiga besar Negara penghasil biji kakao, yaitu Pantai Gading 1.315.000 ton, Ghana 490.000 ton dan Indonesia 425.000 ton (Lass, 2004).

Perkebunan kakao Indonesia pada umumnya merupakan perkebunan rakyat yang dikelola oleh petani kecil (smallholders). Pada tahun 2020, perkebunan kakao yang diusahakan oleh rakyat diperkirakan sebesar 1,49 juta hektar (98,92 persen), sementara yang diusahakan oleh perkebunan besar swasta sebesar 11,56 ribu hektar (0,77 persen), dan yang dikelola oleh perkebunan besar negara sebesar 4,81 ribu hektar (0,32 persen) (BPS, 2021).

Dengan lausnya perkebunan kakao di Indonesia dan besarnya permintaan pasar terhadapap biji kakao dan produk turunan prospek tanaman kakao di masa depan sudah menjanjikan namun terdapat berbagai hambatan dalam mmeningkatan kuantitas dan kualitas hasil produksi kakao Indonesia yang setiap tahun mengalami penurunan setiap tahun.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana produksi kakao Indonesia saat ini?

2. Bagaimana peluang bisnis kakao saat ini di Indonesia?

3. Apa yang menjadi penghambat produksi dan ekspor kakao?

(3)

4. Bagaimana mengatasi faktor penghambat produksi dan ekspor kakao ? 5. Bagaimana prospek tanaman kakao di masa depan?

(4)

PEMBAHASAN

A. Produksi Kakao

Pada tahun 2022 Indonesia memiliki lahan perkebunan seluas 1.421.000 Ha.

Areal perkebunan kakao tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, kecuali Provinsi DKI Jakarta. Dari 33 provinsi, Provinsi Sulawesi Tengah masih menjadi provinsi dengan areal perkebunan kakao terluas di Indonesia, yaitu mencapai 274.003 hektar pada tahun 2022 atau sekitar 19,28 persen dari total luas areal perkebunan kakao di Indonesia. Dalam lima tahun terakhir luas areal perkebunan kakao di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada tahun 2018, luas areal perkebunan kakao mencapai 1,61 juta hektar dan mengalami penurunan sebesar 11,79 persen pada tahun 2022 menjadi 1,42 juta hektar (lihat Gambar A). Penurunan tersebut salah satunya disebabkan karena terjadinya alih fungsi lahan ke komoditas lain yang dianggap dapat memberikan keuntungan yang lebih besar. Produksi biji kakao terus mengalami penurunan seiring dengan penurunan pada luas areal perkebunan kakao (BPS, 2022).

Pekebunan kakao di Indonesia hamper semuanya di pegang oleh petani rakyat yaitu 99,81% dari total luas perkebunan Indonesia (BPS, 2022). Sehingga sebagian besar pengolahan pascapanen kakao masih kurang diperhatikan oleh petani sehingga hasil yang didapatkan tidak berkualitas sesuai ketentuan yang berlaku untuk ekspor.

. Pada umumnya kakao hasil petani rakyat tidak di fermentasi. Hal ini diperkuat juga dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa mutu produk kakao yang dihasilkan dari perkebunan rakyat sangat rendah karena tidak difermentasi, dan tidak di sortasi serta banyak mengandung kotoran dan jamur (Listiyati, 2014).

B. Peluang Bisnis

Ekspor kakao baik dari sisi volume maupun nilai mengalami fluktuasi dalam kurun lima tahun terakhir. Pada tahun 2018, volume ekspor kakao mencapai 380.827 ton dengan total nilai sekitar US$ 1,25 miliar. Kemudian pada tahun 2019 menurun menjadi 358.481 ton dengan total nilai sekitar US$ 1,20 miliar. Selanjutnya, volume ekspor kakao terus mengalami peningkatan hingga pada tahun 2022 mencapai

(5)

385.421 ton dengan total nilai sekitar US$ 1,26 miliar. Namun demikian, pada tahun 2021, peningkatan volume ekspor kakao tidak diikuti dengan nilai ekspor, dimana nilai ekspor kakao justru mengalami penurunan sebesar 3,01 persen dari tahun 2020.

Pada tahun 2022 Negara tujuan ekspor kakao terbesar yaitu India, United States, Malaysia, China, dan Australia.

Produk hilir kakao sangat banyak, terutama dalam makanan ringan baik itu minuman atau minuman. Hal ini sangat bagus dalam pengembangan bisnis kakao karena tujuan produk akhir sangat banyak namun saat ini produk hilirasis di Indonesia masih di dominasi ole produk dari luar negeri. Sehingga langkah hilirisasi sangat diperlukan untuk meningkatkan pendapatan produsen dalam negeri seiring dengan peningkatan kualitas yng sesuai dengan standarisasi yang berlaku.

Saat ini harga kakao biji kakao kering mencapai Rp. 172.500/kg, lonjakan harga kakao yang dimulai dari awal tahun 2024 ini disebabkan oleh krisis panen di Pantai Gading dan Ghana sebagai penghasil utama kakao dunia. Yang menyebabkan kelangkaan pasokan kakao. Ini bisa menjadi peluang bagi Indoensia untuk menjadi negara penghasil kakao terbesar saat ini.

C. Faktor Penghambat Produksi dan Ekspor Kakao

Kakao merupakan tanaman yang terkena hama penyakit serta rentan terhadap perubahan iklim khususnya curah hujan dan kelembapan. Seperti yang terjadi saat ini kakao mengalami krisis panen yang disebabkan oleh hujan lebat yang disebabkan oleh El Nino, kerusakan tanaman dan penyebaran penyakit. Di Indonesia sendiri hal ini juga terjadi namun tidak separah yang terjadi di Pantai Gading dan Ghana.

Penyebab lainnya adalah pohon yang sudah tua, pupuk, tenaga kerja dan lahan yang kurang sesuai.

Pada tahap pascapanen prroduksi yang sesuai dengan standar nasional Indonesia belum merata di Indonesia lebih banyak yang masih menggunakan metode tradisional. Hilirisasi kakao juga masih sangat minim dan belum banyak dalam skala besar sehingga permintaan kakao dalam negeri masih berfluktuasi. Hal inilah yang menyebabkan ekspor kakao masih belum maksimal yaitu kurangnya kualitas kakao Indonesia yang belum memenuhi standar internasional.

(6)

D. Strategi Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Kakao

Peningkatan kualitas kakao tentunya sangat bergantung terhadap luasnya perkebunan di Indonesia. Luas perkebunan kakao yang menurun dari tahun ke tahun menyebabkan penurunan jumlah produksi kakao. Penurunan ini disebabkan oleh peralih fungsian lahan ke tanaman yang lebih menjanjikan seperti sawit.

Menurut direktur tanaman tahunan dan penyegar kementrian RI Hendratmojo Bagus Hudoro ada tiga strategi yang dapat dilakukan yaitu jangka pendek dengan melakukan peningkatan produktivitas dengan intensifikasi, jangka panjang dengan melakukan kolaborasi antar semua pihak mulai dari pemerintah, swasta dan perusahaan, dan edukasi petani.

Pelayanan bimbingan teknis atau pendampingan petani kakao rakyat dalam pascapanen perlu diperhatikan oleh pemerintah khususnya pemerintah daerah.

Kebijakan pemerintah daerah terkait dengan pengembangan kakao pada saat ini dan di masa depan perlu diarahkan kepada upaya mewujudkan produk kakao yang berdaya saing, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi para pelaku usahanya, khususnya petani perkebunan kakao secara berkelanjutan. Pemerintah daerah sebagai pendukung pelaku usaha perkebunan kakao, seperti: Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Dinas Koperasi dan UKM yang memiliki tupoksi terkait dengan perkebunan kakao rakyat seharusnya proaktif dalam upaya peningkatan mutu biji kakao agar dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik bagi pelaku usahanya khususnya petani perkebunan rakyat.

E. Prospek Tanaman Kakao di Masa Depan

Dari uraian yang telah dipaparkan peluang dari tanaman sangat luas dalam bidang ekonomi, yaitu permintaan terhadap kakao selalu tinggi. Namun pada bidang budidaya dan produksi tanaman kakao harus dilakukan banyak pembenahan dan inovasi. Dengan banyaknya hambatan yang ada dalam produksi tanaman kakao bisa menjadi peluang ataupun benteng yang tidak dapat dilallui. Maksudnya jika Indonesia dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam produksi kakao maka Indonesia akan menjadi produsen kakao terbesar yang ada di dunia, tetapi jika masala ini tidak dapat diselesaikan dengan tepat dan cepat perkebunan kakao Indonesia akan terus menurun dengan presentase yang lebih tinggi.

(7)

Fokus sekarang untuk memanfaatkan prospek tanaman kakao yang sangat luas, Indonesia harus menerapkan strrategi yang tepat intensifikasi, kolaborasi dan edukasi petani. Sehinga prospek tanaman di semua bidang di masa depan akan semakin luas dan selalu menjadi komoditas andalan Indonesia.

(8)

KESIMPULAN

1. Produksi kakao Indonesia saat ini di pegang oleh pekebun rakyat dengan luas 99,81%. Dengan pengolahan pascapanen yang masih tradisional.

2. Ekspor kakao Indonesia dai tahun ke tahun selalu mengalami fluktuasi hal ini karena produksi kakao yang belum stabil dan mutu yang belum memadai.

3. Produksi kakao memiliki banyak hambatan mulai dari tahap budidaya, pengolahan hingga ekspor.

4. Pemerintah telah membantu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kakao dengan menggunakan 3 strategi yaitu intensifiksi, edukasi dan kolabrasi, yang di aplikasikan dengan program dan kebijakan.

5. Tanaman kakao memiliki prospek yang bagus di masa depan yang dapat ditingkatkan dengan menyelesaikan permasalahan dalam produksi kakao.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2021). Statistik Kakao Indonesia 2020. Badan Pusat Statistik Indonesia

Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Kakao Indonesia 2022. Badan Pusat Statistik Indonesia

FAOSTAT. (2022). Crops and livestock products: cocoa. FAO United Nations.

https://www.fao.org/faostat/en/#data/ QCL

Lass, T. 2004. Balancing cocoa production and consumption, J. Fload and R.

Murphy (Eds). Pp.8-15 . In : Cocoa Futures

Listiyati Dewi, Agus Wahyudi dan Abdul Muis Hasibuan (2014). Penguatan Kelembagaan untuk Peningkatan Posisi Tawar Petani dalam Sistem Pemasaran Kakao. Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi.

Referensi

Dokumen terkait

Meningkatnya perhatian para konsumen terhadap tanaman kakao dan terhadap produk yang dihasilkan dari biji kakao tidak hanya terbatas karena adanya kandungan kimia yang baik untuk

Untuk meningkatkan produksi dan mutu biji kakao khususnya di perkebunan rakyat diperlukan bahan tanaman berupa varietas/klon unggul, untuk mengantisipasi serangan VSD

Liberalisasi perdagangan ACFTA tidak meningkatkan kinerja perdagangan dan daya saing produk kakao Indonesia di pasar China karena negara ini berkonsentrasi pada biji kakao

Proses sortasi sangat berperan penting dalam menghasilkan biji kakao dengan kualitas yang baik. Digunakan untuk memisahkan buah kakao yang sehat dari buah kakao

- Batang dan daun pisang digunakan sebagai mulsa kakao.. Tanaman tumpangsari dengan tanaman kakao dengan tanaman kelapa.. BAHAN TANAM. Keberhasilan dalam budidaya tanaman

Hanya pasar Amerika Serikat dan juga Malaysia yang masih menerima biji kakao Indonesia yang belum difermentasi.12 Amerika Serikat sangat membutuhkan biji kakao dari Indonesia karena

Dalam satu buah kakao Forastero, dapat dihasilkan 35-50 biji cokelat Forastero Trinitario Trinitario merupakan salah satu jenis kakao yang pertama kali dibudidayakan di daerah