• Tidak ada hasil yang ditemukan

rancangan undang-undang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "rancangan undang-undang"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

Pemanfaatan kawasan hutan secara tidak sah adalah kegiatan terorganisir yang dilakukan di kawasan hutan untuk perkebunan dan/atau pertambangan tanpa izin menteri. Pelapor adalah orang yang melaporkan kepada pejabat yang berwenang bahwa ada dugaan, sedang atau telah terjadi pengrusakan hutan. Setiap orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi yang melakukan perbuatan perusakan hutan secara terorganisir di wilayah hukum Indonesia dan/atau mempunyai akibat hukum di wilayah hukum Indonesia.

Pencegahan perusakan hutan dilakukan oleh masyarakat, badan hukum, dan/atau korporasi pemegang izin pemanfaatan hutan. Setiap orang dilarang, baik langsung maupun tidak langsung, mencegah, menghalangi, dan/atau menggagalkan upaya pemberantasan pembalakan liar dan pemanfaatan kawasan hutan secara tidak sah. Setiap orang dilarang menggunakan kayu hasil pembalakan liar dan/atau pemanfaatan secara tidak sah kawasan hutan yang berasal dari hutan konservasi.

Setiap orang dilarang menghalangi dan/atau merintangi penyidikan, penyidikan, penuntutan, atau penyidikan di pengadilan atas tindak pidana pembalakan liar dan pemanfaatan kawasan hutan secara tidak sah. Alat bukti untuk menyelidiki tindakan perusakan hutan antara lain :. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam KUHAP; dan/atau. Ketentuan mengenai tata cara penyimpanan barang bukti sitaan hasil perusakan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) dan tata cara penugasan barang bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, Pasal 45, dan Pasal 46 diatur dengan Peraturan Menteri.

Pemerintah mendorong kerja sama internasional dalam hal pembiayaan masyarakat internasional dan investasi swasta internasional dalam konteks pencegahan kerusakan hutan.

PEMBIAYAAN

BAB XII

UMUM

Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. orang orang. Perusakan hutan telah berkembang menjadi suatu tindak pidana yang berdampak luar biasa, terorganisir dan melibatkan banyak pihak, baik nasional maupun internasional. Upaya penanggulangan kerusakan hutan telah dilakukan sejak lama, namun belum efektif dan belum membuahkan hasil yang optimal.

Hal ini antara lain disebabkan karena peraturan perundang-undangan yang ada belum secara jelas mengatur tindak pidana perusakan hutan secara terorganisir. Oleh karena itu, diperlukan perlindungan hukum dalam bentuk undang-undang agar dapat menangani perusakan hutan secara terorganisir secara efektif dan efisien serta memberikan efek jera bagi pelakunya. Berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan di atas, maka upaya pemberantasan deforestasi melalui Undang-Undang ini dilakukan dengan mengedepankan prinsip keadilan dan keamanan hukum, keberlanjutan, tanggung jawab negara, partisipasi masyarakat, tanggung jawab, prioritas, serta integrasi dan koordinasi.

Ruang lingkup undang-undang ini meliputi (i) pencegahan perusakan hutan; (ii) pemberantasan perusakan hutan; (iii) kelembagaan; (iv) partisipasi masyarakat; (v) kerjasama internasional; vi) perlindungan saksi, pelapor dan pelapor; (vii) pembiayaan; dan (viii) sanksi. Bidang perusakan hutan yang diatur dalam undang-undang ini meliputi proses, cara atau perbuatan perusakan hutan melalui kegiatan pembalakan liar dan/atau pemanfaatan kawasan hutan secara tidak sah. Undang-undang ini menitikberatkan pada pemberantasan perusakan hutan yang dilakukan secara terorganisir, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh suatu kelompok yang terstruktur, terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih, dan bertindak bersama-sama dalam waktu tertentu dengan tujuan untuk melakukan penebangan hutan. , namun tidak mencakup kelompok masyarakat yang melakukan budidaya tradisional.

Upaya pencegahan kerusakan hutan dilakukan melalui pengambilan kebijakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah serta peningkatan partisipasi masyarakat. Dalam rangka pemberantasan perusakan hutan, Undang-Undang ini mengatur kategori-kategori perusakan hutan yang terorganisir, baik langsung, tidak langsung, atau tindakan terkait lainnya. Untuk meningkatkan efektivitas pemberantasan perusakan hutan, undang-undang ini dilengkapi dengan hukum acara yang meliputi penyidikan, penuntutan, dan penyidikan di pengadilan.

Undang-undang ini mengatur tentang pembentukan suatu lembaga yang melaksanakan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan secara terorganisir, yang dibentuk di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden, yang terdiri atas unsur kehutanan, kepolisian, kejaksaan, dan unsur terkait lainnya, seperti unsur kementerian terkait. , pakar/pakar dan perwakilan masyarakat. Sejak berdirinya Balai Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, penanganan segala tindak pidana perusakan hutan secara terorganisir sebagaimana diatur dalam undang-undang ini menjadi kewenangan Lembaga Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Sedangkan tindak pidana perusakan hutan secara terorganisir yang sedang dalam proses hukum akan terus berlanjut sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang lama sampai diperoleh kekuatan hukum tetap.

PASAL DEMI PASAL Pasal 1

Yang dimaksud dengan “partisipasi masyarakat” adalah keterlibatan masyarakat dalam melakukan kegiatan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelestarian hutan. Yang dimaksud dengan “akuntabilitas” adalah evaluasi terhadap kinerja pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan dilakukan dengan cara mengevaluasi pelaksanaan yang dilaksanakan dengan rencana yang dibuat secara sederhana, terukur, layak, rasional, dan kegiatannya dapat dijadwalkan. . Yang dimaksud dengan “prioritas” adalah perkara perusakan hutan merupakan perkara yang memerlukan penanganan segera sehingga penyidikan, penyidikan, atau penuntutan harus diprioritaskan.

Yang dimaksud dengan “sanksi administratif” adalah sanksi yang dikenakan terhadap pelanggaran tanpa izin dan terhadap pemegang izin. Yang dimaksud dengan “paksaan pemerintah” adalah tindakan hukum yang dilakukan pemerintah agar perusahaan/badan hukum melakukan restorasi hutan akibat perbuatannya merusak hutan karena tidak mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud dengan “sarana dan prasarana perlindungan hutan” antara lain adalah jalan patroli, pos penjagaan, rambu larangan, peralatan komunikasi statis, peralatan angkut, palet pembatas, dan peralatan pengamanan hutan.

Yang dimaksud dengan “batas luar suatu kawasan hutan” adalah pembatas yang berupa tiang pembatas dan penanda batas perairan (pelampung). Yang dimaksud dengan “batas kawasan hutan yang berbatasan dengan batas negara” adalah tugu batas atau penanda batas, dan pelampung yang bertepatan dengan batas negara. Yang dimaksud dengan “membantu” adalah mereka yang dengan sengaja membantu dilakukannya tindak pidana dan/atau dengan sengaja memberikan kesempatan dan sarana untuk melakukan tindak pidana pembalakan liar.

Yang dimaksud dengan “informasi elektronik” adalah informasi yang diucapkan, dikirim, diterima atau disimpan secara elektronik dengan menggunakan YMBO atau sejenisnya. Yang dimaksud dengan “benda temuan” adalah barang bukti yang tidak dan/atau belum diketahui pemiliknya. Yang dimaksud dengan “barang bukti yang disita” adalah barang bukti yang disita dari pemilik dan/atau penguasaannya.

Yang dimaksud dengan “peraturan perundang-undangan” adalah ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin pegawai dan tanggung jawab pekerjaan. Yang dimaksud dengan “amanat” adalah pemberian wewenang oleh negara kepada badan usaha negara yang mempunyai kewenangan untuk melakukan kegiatan pengelolaan perkebunan. Yang dimaksud dengan “terintegrasi” adalah sistem informasi pemberantasan perusakan hutan dapat diakses secara bersama-sama oleh aparat penegak hukum terkait dengan database yang saling terhubung.

Yang dimaksud dengan “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia” adalah perangkat dewan yang membidangi kehutanan. Yang dimaksud dengan “bertempat tinggal di dalam dan/atau dekat kawasan hutan” adalah orang yang bertempat tinggal di dalam dan/atau dekat kawasan hutan yang mata pencahariannya bergantung pada kawasan hutan.

Referensi

Dokumen terkait

QR heat rejected QS heat supplied R r compression ratio rpn relative performance number rc cut-off ratio rp pressure ratio R length of the moment arm R delivery ratio [Chp.19] R

"It is widely distributed in the south-eastern region of central South America comprising south-eastern Bolivia, Paraguay, southern Brazil, Uruguay, and southern and central Argentina"