PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Novel sebagai salah satu bentuk karya sastra akan dijadikan objek kajian dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Melalui pendekatan sosiologi sastra diharapkan dapat membangun jembatan antara pengarang sebagai pencipta karya sastra dan masyarakat.
Rumusan Masalah
Sepengetahuan penulis, sampai saat ini belum ada penelitian sastra yang mengkaji novel Athirah, baik menggunakan pendekatan sosiologis sastra maupun menggunakan pendekatan lain. Penelitian ini berjudul Refleksi Kehidupan Sosiologi Bugis dalam Novel “Athirah” karya Alberthiene Endah (A Study of Sociology of Literature).
Tujuan Kajian
Manfaat Kajian
Definisi Istilah
Dalam novelnya, Athirah memiliki banyak tema, artinya novel ini memiliki lebih dari satu tema. Kehidupan sosial budaya yang tercermin dalam novel ini meliputi kematian, cinta, tragedi, harapan, pengabdian, dan hal-hal transendental.
KAJIAN PUSTAKA
Tinjauan Hasil Penelitian
Yelmi Andriani: 2011 (Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Andala) dalam penelitiannya yang berjudul “Perubahan Sosial dalam Novel Negeri Wanita Karya Wisran Hadi” (Tinjauan Sosiologi Sastra). Faktor penyebab perubahan sosial yang terjadi dalam novel Negeri Perempuan adalah: (1) Nagariko menjadi obyek wisata, (2) tingkat ekonomi yang rendah, pendidikan yang rendah.
TinjauanTeoridan Konsep
Tema adalah gagasan sentral yang menjadi dasar sebuah karya sastra yang meliputi masalah dan maksud atau pesan pengarang kepada pembaca (Semi, 1993: 42). Karya sastra fiksi selalu memberikan pesan moral yang berkaitan dengan sifat manusia yang luhur, memperjuangkan hak dan martabat manusia (Sujiman, 1988:57). Hal ini dikarenakan karya sastra merupakan kumpulan kata-kata yang memiliki makna.
Dalam segala sesuatu yang dideskripsikan atau disajikan, ada realitas di luar karya sastra (Luxemburg, 1982:55). Pendekatan sosiologi sastra berangkat dari kenyataan bahwa karya sastra tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial budaya masyarakat yang melingkupinya, bagaimanapun dan apapun bentuknya. Proses penciptaan karya sastra sangat erat kaitannya dengan berbagai peristiwa yang telah terjadi, sedang terjadi, atau mungkin terjadi dalam masyarakat, sehingga pemaknaan kehadiran sastra tidak hanya dilihat dari teksnya, tetapi juga dari konteksnya.
Konteks sosial pengarang berkaitan dengan kedudukan sosial pengarang dan pengaruh sosial yang berkaitan dengan penciptaan karya sastra. Jadi, membaca karya sastra berarti membaca refleksi masalah kehidupan manusia dalam bentuk komposisi seni linguistik (Santosa: 1993:40).
Kerangka Pikir
Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan cerminan kehidupan sosial budaya masyarakat Bugis dalam novel Athirah karya Alberthiene Endah. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan “Saya sedang duduk di kursi kayu di dapur, oleh karena itu analisis sosiologi sastra ini akan menjelaskan bagaimana kehidupan sosial budaya masyarakat setempat yang tercermin dalam novel Athirah.
Isu kematian yang dikisahkan dalam novel Athirah juga tentang kematian Haji Kalla yang cukup mengejutkan. Novel ini juga menggambarkan betapa besar harapan Haji Kalla agar Jusuf dapat melanjutkan usahanya. Tema yang direfleksikan dalam novel ini antara lain kematian, cinta, tragedi, harapan, pengabdian dan hal-hal transendental.
Sementara itu, persoalan transendental yang tercermin dalam novel ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang bersifat spiritual. Jika ada perubahan pada ayahmu, apakah itu yang perlu dikhawatirkan, Emma (Athirah)?” Jawabku dengan sopan.
METODE KAJIAN
Pendekatandan Jenis Penelitian
Pendekatan langsung adalah mengetahui hakekat suatu hal tanpa terlebih dahulu melihat fenomena yang terlihat, sedangkan pendekatan tidak langsung adalah mengetahui hakikat sesuatu dengan terlebih dahulu melihat fenomena yang muncul disekitar masalah (Surakhmad, 1984: 38). Pendekatan struktural adalah pendekatan yang berusaha menggambarkan keterkaitan dan fungsi setiap unsur karya sastra sebagai satu kesatuan struktural yang secara bersama-sama menghasilkan suatu makna yang menyeluruh (Teuw. Pendekatan sosiologi sastra adalah pendekatan yang mempertimbangkan aspek-aspek sosial yang terkandung dalam karya sastra). , bekerja (Damono, 1984: 2).
Pendekatan sosiologi sastra dalam hal ini sangat didukung oleh pendekatan struktural untuk memperoleh hasil analisis yang optimal. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menganalisis data dan hasil analisisnya berupa gambaran fenomena, bukan berupa angka atau koefisien hubungan antar variabel. Dalam penelitian deskriptif, data yang dikumpulkan berupa kata, kalimat, konsep, gambar dan bukan angka.
Sesuai dengan pendapat tersebut di atas, Satoto (1991) dalam Moleong mengatakan bahwa teknik deskriptif adalah deskripsi, menceritakan atau memberi, menganalisis dan mengklarifikasi, menganalisis dan menginterpretasikan.
Sumber Data
Objek Kajian
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengolahan Data
Teknik Penarikan Kesimpulan
Tahapan dan Jadwal Pengkajian
Inilah makna cinta yang bisa kita petik dari kisah cinta Yusuf dan Mufida dalam novel Athirah.
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Analisis Unsur Intrinsik Novel
Pada awalnya cerita dalam novel ini berkisah tentang masa kecil Yusuf bersama Emma (Athirah, ibunda Yusuf) di Makassar. Pelayan itu meletakkan cangkir teh dan piring manis serta dua serbet biru muda yang dilipat, lalu segera pergi. Tokoh dalam novel Athirah adalah Athirah, Haji Kalla, Jusuf, Mufidah, Pak Rudi, Bu Mela.
Tempat terjadinya peristiwa pertama dalam novel ini adalah di Makassar, tepatnya di kediaman Jusuf di Jalan Andalas. Itu adalah pertama kalinya aku melihat ibuku disakiti oleh dunia." (Alberthiene Endah Tidak hanya di rumah Jusuf, lingkungan tempat terjadinya peristiwa dalam novel ini juga terjadi di rumah Mufidah, sebuah rumah sederhana dan mungil. Masih di daerah Makassar, peristiwa yang terjadi dalam novel ini juga diceritakan di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Tapi langit cerah." (Alberthiene Endah Peristiwa dalam novel ini juga terjadi di kampus SMA 2 Makassar tempat Jusuf belajar sebelum pindah ke SMA 3. Tidak hanya di SMA 2, setting dalam novel ini juga di SMA 3 karena kebijakan untuk membagi ini sekolah , banyak siswa Kehidupan sosial budaya yang digambarkan dalam novel ini adalah kehidupan sosial budaya masyarakat yang sangat beragam, dengan latar belakang pendidikan, profesi, dan tingkat ekonomi yang berbeda.
Tema utama dalam novel ini adalah kesetiaan dan keikhlasan dalam kondisi apapun kapanpun dan dimanapun.
Analisis Sosiologi Sastra
Penelitian ini difokuskan pada permasalahan sosial budaya masyarakat Bugis yang tercermin dalam novel Athirah yang meliputi masalah kematian, cinta, tragedi, harapan, pengabdian dan transendental. Isu kematian digambarkan dalam novel Athirah dengan peristiwa kematian Athirah akibat komplikasi diabetes dan sirosis atau pengerasan hati yang dideritanya. Romeo dan Juliet dan Layla Majnun adalah dua mahakarya tentang cinta abadi.
Salah satu tragedi dalam novel Athirah adalah tragedi yang menimpa Athirah dan anak-anaknya di pernikahan kedua suaminya. Untungnya, Athirah adalah wanita yang cukup kuat, dia menerima kejadian itu dengan ikhlas dan sabar, “dia mengalah tapi tidak kalah”. Sejak dia menikah hingga hari itu, dia dikenal sebagai wanita yang kuat dan dia ingin terus seperti itu, dia menginginkan hari di mana tidak pernah ada bekas patah hati.
Selain pengabdian Jusuf, novel ini juga menggambarkan pengabdian Athirah kepada suaminya. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa novel Athirah mencerminkan kehidupan sosial budaya masyarakat.
Pembahasan Hasil Penelitian
Sedangkan dari segi kualitas, novel Athirah menggunakan alur yang longgar, yaitu hubungan antar peristiwa dalam novel ini tidak sepenuhnya benar, sehingga memiliki kemungkinan disisipkan alur-alur lain. Karakter masing-masing tokoh dalam novel Athira dideskripsikan secara analitik, yaitu pengarang menceritakan secara detail watak tokoh-tokohnya. Dalam novel Athirah, latar memberikan informasi tentang situasi, termasuk tempat, waktu, dan suasana cerita sebagaimana adanya (Semi 1993: 46).
Lingkungan tempat-tempat yang digambarkan pengarang dalam novel ini sebagian besar berada di Makassar dan beberapa tempat lainnya di Bone, Bantimurung dan Sengkang. Setidaknya ada tiga tragedi yang paling dikenang dalam novel ini, yaitu ketika Haji Kalla memilih untuk berpoligami, ketika. Peristiwa demi peristiwa yang dialami tokoh-tokoh dalam novel Athirah membentuk rangkaian peristiwa sehingga terbentuk alur cerita.
Isu kematian digambarkan dalam novel Athirah melalui dua peristiwa, yakni pada saat kematian Athirah dan kemudian disusul oleh suaminya, Haxhi Kalla, yang hanya berselang tiga bulan setelah kematian Athirah. Masalah cinta yang tercermin dalam novel Athirah adalah cinta yang diartikan sebagai keinginan untuk berkorban, melindungi dan mempertahankan apa yang dicintai.
KESIMPILAN DAN SARAN
Kesimpulan
Setelah menganalisis novel Athirah karya pengarang Alberthiena Endah, penulis dapat menyimpulkan bahwa novel Athirah berdasarkan strukturnya menunjukkan hubungan antar unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra di dalam sebuah karya sastra. Serangkaian peristiwa dalam novel Athirah, yang disusun melalui alur kronologis, dan pada tahapan cerita tertentu disusun dengan kilas balik, yang mengharuskan aktor untuk berpartisipasi di dalamnya. Ada hubungan antara plot dan penokohan, karena plot tidak akan terbentuk tanpa karakter diceritakan dan bergerak melalui rangkaian cerita.
Cerita terbentuk karena peristiwa-peristiwa yang dialami para tokohnya, dan tokoh-tokoh tersebut terhubung dengan latar tempat mereka pertama kali bertemu, yaitu di SMA Negeri 3 Makassar. Rangkaian peristiwa yang terbentuk digunakan sebagai langkah awal untuk pembahasan lebih lanjut mengenai analisis sosiologi sastra. Sebagai sebuah karya sastra, novel Athirah merupakan cerminan kehidupan, yaitu cerminan tanggapan pengarang terhadap kehidupan sosial dan budaya.
Oleh karena itu, penanggulangan terhadap suatu tragedi harus dibarengi dengan keimanan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih lanjut, harapan Haxhi Kalla adalah agar Yusufi melanjutkan bisnis komersial yang ia mulai dengan berbagai kesulitan.
Saran
Tidak pernah ada penjelasan dari Emma tentang apa yang dia khawatirkan setelah percakapan yang membuatku bingung. Banyak dari kita khususnya orang Bugis Makassar mengenal Athirah hanya sebagai ibu dari Pak Jusuf Kalla yang mengabadikan namanya di salah satu sekolah terkemuka di kota Makassar. Namun banyak yang tidak tahu bahwa Pak Jusuf Kalla belajar arti kesetiaan, ketulusan dan rasa tanggung jawab dari Emma.
Karena berbagai gejolak rumah tangga yang dihadapinya bersama Pak Jusuf, tanggung jawab diambil ayahnya untuk mengurus Emma dan adik-adiknya. Emma Athirah sangat tangguh, keadaan mengharuskannya menekan emosi hatinya untuk melanjutkan hidupnya sementara separuh hatinya hilang. Selain itu, Emma Athirah juga terlibat dalam perusahaan transportasi Cahaya Bone yang berjalan lancar meski rumah tangganya sedang dilanda gejolak.
Jusuf, seorang remaja, tumbuh di tengah gejolak keluarga orang tuanya yang penuh badai, dan ia tumbuh di tengah poligami sang ayah. Lucunya Pak Jusuf Kalla menikah dengan baju adat Makassar dan Bu Mufidah pakai baju Minang.