• Tidak ada hasil yang ditemukan

(REVISI) SKRIPSI RIZQI NURCAHYANI[1]

N/A
N/A
Lyric Pro

Academic year: 2023

Membagikan "(REVISI) SKRIPSI RIZQI NURCAHYANI[1]"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Teknik

Oleh :

RIZQI NURCAHYANI 21219191

NO SKRIPSI :

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SERANG RAYA 2023

(2)

i Oleh : Rizqi nurcahyani

21219191

Sebagai institusi yang menyediakan pelayanan kesehatan, membuat RSUD Berkah Pandeglang juga memiliki potensi untuk terjadinya penyakit akibat kerja pada petugas medis. Berdasarkan tingkat intisitas kerja perawat ruang rawat inap di RSUD Berkah Pandeglang, peneliti melakukan wawancara terhadap perawat rawat inap, dari hasil wawancara tersebut teryata menunjukan bahwa banyak keluhan musculoskeletal disorders yang dirasakan oleh perawat tersebut.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuesioner Dutch Musculoskeletal Questionaire (DMQ). DMQ merupakan suatu tool yang digunakan untuk mengukur faktor risiko muskuloskeletal akibat kerja dan gejala yang menyertainya pada populasi pekerja. didapat hasil tingkat keluhan otot rangka yang banyak terjadi pada perawat di RSUD Berkah Pandeglang adalah sakit pada leher yaitu sebanyak 65% menjawab ya, selanjutnya yang banyak dirasakan yaitu sakit pada punggung atas sebanyak 62% menjawab ya dan sakit pada bahu sebanyak 48% menjawab ya. Untuk mengurangi keluhan otot rangka pada perawat di RSUD Berkah Pandeglang, ada beberapa upaya pengendalian yang bisa dilakukan secara manajemen dan teknis, yaitu secara manajemen dapat melakukan evaluasi rutin terhadap beban kerja dan pastikan pembagian tugas yang harus adil. Sedangkan secara teknis, selalu lakukan pemanasan sebelum bekerja, dan pendinginan setelah bekerja untuk mengurangi risiko cedera otot.

Kata kunci : keluhan otot rangka, cedera otot dan perawat.

(3)

ii ABSTRACT

By:

Rizqi nurcahyani 21219191

As an institution that provides health services, Berkah Pandeglang Hospital also has the potential for occupational diseases in medical staff. Based on the level of work intensity of inpatient nurses at RSUD Berkah Pandeglang, researchers conducted interviews with inpatient nurses, from the results of these interviews it turned out that many complaints of musculoskeletal disorders felt by these nurses. This research was conducted using the Dutch Musculoskeletal Questionaire (DMQ) method. DMQ is a tool used to measure musculoskeletal risk factors due to work and accompanying symptoms in the working population. The results showed that the level of skeletal muscle complaints that occurred a lot in nurses at Berkah Pandeglang Hospital was pain in the neck, namely 65% said yes, then what was felt a lot was pain in the upper back as much as 62% said yes and pain in the shoulder as much as 48% said yes. To reduce skeletal muscle complaints in nurses at RSUD Berkah Pandeglang, there are several control efforts that can be done managementally and technically, namely management can conduct regular evaluations of workload and ensure fair distribution of tasks.

While technically, always warm up before working.and cooling down after work to reduce the risk of muscle injury.

Keywords: skeletal muscle complaints, muscle injuries and nurses.

(4)

iii

atas berkat limpahan rahmat dan kasih karunia-Nya kepada kita sekalian khususnya kepada penulis, sehingga Skripsi dengan judul “ANALISIS KELUHAN OTOT RANGKA PADA PERAWAT DI RSUD BERKAH

PANDEGLANG MENGGUNAKAN METODE DUTCH MUSCULOSKELETAL

QUESTIONNAIRE (DMQ)” dapat terselesaikan dengan baik dari awal sampai akhir proses. Tujuan dari penulisan Skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi sarjana – S1 pada Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Universitas Serang Raya. Didalam penyelesaiannya penulis banyak sekali dibantu oleh beberapa pihak, oleh karenanya pada kesempatan ini, penulis mengucapkan rasa terimakasih kepada:

1. Dr. H. Hamdan, MM, selaku Rektor Universitas Serang Raya.

2. Wahyu Oktri Widyarto, ST., MT, selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Serang Raya

3. Sahrupi, ST., MT, selaku Ketua Program Studi Teknik Industri Universitas Serang Raya.

4. Seluruh jajaran Dosen dan Staff Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Serang Raya.

5. Dr. Ing. Farid Wajdi, M.Sc. selaku Dosen Pembimbing 1 yang telah meluangkan waktunya untuk membantu dan membimbing penelitian ini.

(5)

iv

7. RSUD Berkah Pandeglang yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian ini.

8. Kedua orang tua beserta keluarga yang telah memberikan dukungan, doa dan motivasi sehingga dapat terselesaikan dengan baik.

9. Pasangan saya, yang senantiasa mendengarkan keluh kesah peneliti, memberi dukungan, motivasi, pengingat, dan menemani peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Menyadari kodratnya sebagai seorang manusia yang tak pernah luput dari kesalahan dan kekurangan, penulis yakin masih banyak kesalahan dan kekurangan yang terdapat pada Skripsi ini, terutama dari segi penulisannya. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangatlah penulis harapkan. Sehingga kesalahan Skripsi ini dapat diperbaiki pada penyusunan berikutnya. Akhirnya penulis berharap, semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya, khususnya penulis.

Serang, 25 Juli 2023

Penulis

(6)

v

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 6

1.3 Batasan Masalah... 6

1.4 Rumusan Masalah ... 7

1.5 Tujuan Penelitian ... 7

1.6 Manfaat Penelitian ... 8

1.7 Sistematika Penulisan ... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 10

2.1 Ergonomi ... 10

2.2 MSDS (musculoskeletal disorders)... 11

2.2.1 Pengertian MSDS ... 11

2.2.2 Gejala MSDS ... 12

2.2.3 Fungsi Sistem Musculoskeletal ... 13

2.2.4 Keluhan MSDS ... 13

2.2.5 Faktor penyebab keluhan sistem muskuloskletal ... 14

2.2.6 Pengukuran keluhan MSDS ... 24

2.2.7 Metode DMQ (Dutch Musculoskeletal Questionnaire) .. 25

2.2.8 Langkah-langkah mengatasi keluhan MSDS ... 27

2.3 Penelitian Terdahulu ... 28

2.4 Kerangka Berpikir ... 32

(7)

vi

3.2.2 Perumusan Masalah ... 36

3.2.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 36

3.2.4 Pengumpulan Data ... 36

3.2.5 Pengolahan Data ... 38

3.2.6 Analisis Dan Interpretasi Hasil ... 40

3.2.7 Usulan Perbaikan ... 40

3.2.8 Kesimpulan Dan Saran ... 41

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... 42

4.1 Profil Dan Sejarah Tempat Penelitian ... 42

4.2 Pengumpulan Data ... 43

4.2.1 Observasi ... 43

4.2.2 Kuesioner ... 43

4.3 Pengolahan Data... 44

4.3.1 Karakteristik Responden ... 44

4.3.2 Uji validitas ... 53

4.3.3 Uji Reliabilitas ... 57

4.3.4 Keluhan MSDS perawat ... 63

4.3.5 Uji Korelasi Fisik Perawat Terhadap Keluhan MSDS .... 64

4.3.6 Pembahasan ... 67

4.3.7 Upaya pengendalian ... 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

5.1 Kesimpulan ... 72

5.2 Saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 75

LAMPIRAN ... 78

(8)

vii

Tabel 4.1 Pengujian Karakteristik Usia ... 45

Tabel 4.2 Pengujian Karakteristik Jenis Kelamin ... 45

Tabel 4.3 Karakteristik Pendidikan Terakhir ... 46

Tabel 4.4 Karakteristik Tinggi Badan ... 47

Tabel 4.5 Karakteristik Berat Badan ... 47

Tabel 4.6 Karakteristik Berapa Lama Bekerja ... 48

Tabel 4.7 Karakteristik Berapa Jam / Minggu Bekerja ... 49

Tabel 4.8 Karakteristik Berapa Hari / Minggu Bekerja ... 49

Tabel 4.9 Karakteristik Apakah Sedang Sakit ... 50

Tabel 4.10 Karakteristik Apakah Memiliki Pekerjaan Sampingan ... 50

Tabel 4.11 Karakteristik Apakah Kidal ... 51

Tabel 4.12 Karakteristik Apakah Mengawasi Bawahan ... 51

Tabel 4.13 Karakteristik Berapa Lama Perjalanan ... 52

Tabel 4.14 Karakteristik Bagaimana Pergi Ke Tempat Kerja... 52

Tabel 4.15 Karakteristik Apakah Bekerja Shift ... 53

Tabel 4.16 Uji Validitas Kesehatan 1 ... 54

Tabel 4.17 Uji Validitas Kesehatan 2 ... 55

Tabel 4.18 Uji Validitas Kesehatan 2 ... 56

Tabel 4.19 Tabel Output Kesehatan 1 ... 57

Tabel 4.20 Reliability Statistic Kesehatan 1 ... 58

Tabel 4.21 Uji Reliabilitas Kesehatan 1 ... 58

Tabel 4.22 Tabel Output Kesehatan 2 ... 60

Tabel 4.23 Reliability Statistic Kesehatan 2 ... 60

Tabel 4.24 Uji Reliabilitas Kesehatan 2 ... 61

Tabel 4.25 Korelasi Fisik Dengan Keluhan ... 65

(9)

viii

Gambar 3.1 Diagram Alir penelitian ... 34 Gambar 4.1 Grafik presentase keluhan MSDS ... 63 Gambar 4.2 Grafik presentase keluhan MSDS dalam 7 hari terakhir ... 64

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan otot tulang rangka akibat kerja (gotrak) menjadi salah satu permasalahan kesehatan kerja yang paling sering terjadi dan dialami oleh pekerja, termasuk perawat. Perawat menjadi salah satu staf medis yang berperan aktif untuk meningkatkan pembangunan kesehatan, namun dalam melaksanakan aktivitasnya, perawat seringkali tidak memperhatikan hal- hal penting yang menjadi faktor risiko terjadinya penyakit akibat kerja.

Tuntutan kerja yang banyak dan bervariasi serta postur tubuh yang janggal menjadi salah satu faktor risiko yang paling sering dialami. Selain itu, karakteristik individu juga menjadi faktor risiko dalam peningkatan keluhan tersebut. Tuntutan kerja yang banyak dan bervariasi serta postur tubuh yang janggal menjadi salah satu faktor risiko yang paling sering dialami.

Keluhan muskulosceletal adalah keluhan yang dirasakan pada bagian otot rangka seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. ketika otot menerima beban statis secara berulang dan dalam jangka waktu yang lama, dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan muskuloskeletal disorders (MSDS).

Sebuah metode semi-kuantitatif yang mengevaluasi potensi terjadinya

(11)

lelah otot pada sebagian besar bagian tubuh melalui penilaian berdasarkan tingkat usaha suatu pekerjaan. Bila terjadi kelelahan otot, maka cedera akan lebih mudah terjadi, bagian tubuh yang berpotensi mengalami lelah otot dikelompokkan menjadi low, moderate dan high sehingga dapat teridentifikasi prioritas penanganan untuk menghindari cedera otot (Tarwaka, 2015).

Keluhan musculoskeletal menjadi masalah global. Di Negara berkembang, musculoskeletal disorders merupakan penyakit akibat kerja yang paling sering ditemui pada 40-95% pada berbagai pekerja yang memiliki pekerjaan statis (Erick, 2015). Menurut laporan di sejumlah Negara seperti China, Jepang, Argentina, Inggris dan Amerika pada tahun 2010 dan 2011, proses kerja yang tidak ergonomis merupakan salah satu faktor penyebab dari sebagian besar kasus penyakit akibat kerja (ILO, 2013). Salah satu penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh proses kerja yang tidak ergonomis adalah keluhan musculoskeletal (Tarwaka, 2015).

Keluhan musculoskeletal yang berkaitan dengan pekerjaan adalah gangguan yang terjadi pada struktur tubuh seperti : otot, sendi, tendon, ligament, saraf, tulang dan sistem peredearan darah local, yang trauma disebabkan atau diperparah oleh faktor pekerjaan (OSHA, 2019). Keluhan muskuloskeletal merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang paling umum terjadi, demikian juga Korea kasusnya mengalami peningkatan sebesar 3.868 dalam kurun tahun 2010 hingga 2011 (Yuda, 2015).

(12)

Kondisi Musculoskeletal Disorders (MSDs) adalah penyebab utama kecacatan di seluruh dunia, dengan nyeri punggung bawah menjadi penyebab utama kecacatan di 160 negara. Gangguan Musculoskeletal Disorders (MSDs) diantaranya, nyeri punggung bawah adalah yang paling membebani dengan prevalensi kasus 568 juta orang. Gangguan nyeri ini yang sangat membatasi mobilitas dan ketangkasan, menyebabkan pensiun dini, kesejahteraan yang lebih rendah, dan mengurangi kemampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat (Alsobayel et al., 2021).

Berdasarkan data dari Kemenkes RI dalam RISKESDAS (Kemenkes, 2018), prevalensi penyakit Musculoskeletal Disrders (MSDs) di Indonesia yaitu sebanyak 7,9%. Prevalensi berdasarkan diagnosis tertinggi berada di Aceh sebesar 13,3%, kemudian diikuti oleh Bengkulu sebesar 10,5%, dan Bali sebesar 8,5%. Dalam 5 tahun terakhir Indonesia, dilaporkan bahwa angka penyakit akibat kerja masih terbilang sangat kecil namun lebih didominasi oleh gangguan tulang belakang, pendengaran, gatal-gatal pada kulit karena zat kimia dan gangguan kulit pada tangan (Solechan, 2019).

Wajdi dan Kusmasari (2015), Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi resiko cedera rangka otot pada perawat di rumah sakit.

Studi dilakukan pada RSUD Serang dengan 173 responden perawat, terdiri dari 37 laki- laki dan 136 perempuan. Kuesioner DMQ (Dutch Musculoskeletal Questionaire) digunakan untuk mengukur faktor-faktor dan gejala resiko cedera rangka otot. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase responden mengalami keluhan fisik yang paling banyak

(13)

diderita perawat adalah keluhan sakit leher (69%), punggung atas (59%), dan bahu (58%). Selanjutnya tingkat usaha untuk melakukan jenis pekerjaan ringan hingga sangat berat diukur dengan skala 1-4 dengan hasil sebagai berikut: mengangkat pasien (mean=2.57, SD=0.771), memindahkan pasien (mean=2.54, SD=0.688), mengangkat alat berat (mean=2.22 ,SD=0.909), membersihkan ruangan (mean=1.94, SD=0.595), berjalan kaki (mean=1.93, SD=0.606), duduk (mean=1.83, SD=0.489), memakaikan baju (mean=1.75, SD=0.081). Hasil pengukuran korelasi Spearman memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan pada pekerjaan memandikan pasien (S=0.280, Sig.2-tailed=0.000 ) terhadap keluhan punggung atas (p<0.01) dan hasil yang sama pada memindahkan pasien (S=0.208, Sig.2-tailed=0.008 ) terhadap keluhan punggung atas (p<0.01). Sedangkan aktifitas terlalu banyak berjalan kaki (S=-0.167, Sig.2-tailed=0.034 ) signifikan terhadap keluhan leher (p<0.05).

Peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia, dari 40,7% menjadi 81,25% di tahun 2015, menaikan beban kerja dan resiko pekerjaan yang mengikutinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi resiko fisik cedera otot rangka (musculoskeletal disorders) pada bidan. Penelitian dilakukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat I (Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan) di Kabupaten Serang dengan melibatkan 19 orang bidan. Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner DMQ (Dutch Musculoskeletal Questionaire) untuk mengetahui gejala resiko cedera otot rangka dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

(14)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden mengalami keluhan sakit leher (84%), bahu (79%), punggung atas (74%), pinggul (58%), lutut (53%), kaki (47%), punggung bawah (37%), pergelangan tangan (26%), dan siku (11%). Hasil uji korelasi Pearson terhadap tiga keluhan utama yaitu leher, punggung atas, pinggul (kiri dan kanan), menunjukkan bahwa hanya ukuran tinggi badan responden (P=0.539, Sig.2- tailed=0.018 ) dan lamanya bekerja (P=0.476, Sig.2-tailed=0.039) yang signifikan terhadap terjadinya keluhan leher (p<0.05). Dari hasil studi ini menunjukkan bahwa ketinggian bed partus tidak sesuai dengan ketinggian badan bidan sehingga harus dinaikkan ketinggiannya dengan alat bantu agar bidan penolong partus tidak terlalu membungkuk dalam menolong persalinan.

RSUD Berkah Pandeglang adalah rumah sakit umum daerah milik Pemerintah dan merupakan salah satu rumah sakit tipe C yang terletak di wilayah Pandeglang, Banten. Rumah sakit ini memberikan pelayanan di bidang kesehatan yang didukung oleh layanan dokter spesialis serta ditunjang dengan fasilitas medis lainnya. Sebagai institusi yang menyediakan pelayanan kesehatan, membuat RSUD Berkah Pandeglang juga memiliki potensi untuk terjadinya penyakit akibat kerja pada petugas medis. Berdasarkan tingkat intisitas kerja perawat ruang rawat inap di RSUD Berkah Pandeglang, peneliti melakukan wawancara terhadap perawat rawat inap, dari hasil wawancara tersebut teryata menunjukan bahwa banyak keluhan musculoskeletal disorders yang dirasakan oleh perawat tersebut, untuk itu penelitian ini dilakukan agar kesehatan perawat

(15)

terjamin, tidak ada lagi keluhan musculoskeletal disorders dan tidak menghambat pekerjaan, dengan ini dapat meningkatkan produktivitas perawat di RSUD Berkah Pandeglang. Berdasarkan hal tersebut, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi resiko fisik cedera otot rangka (musculoskeletal disorders) pada perawat di RSUD Berkah Pandeglang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner Dutch Musculoskeletal Questionaire. (DMQ). DMQ merupakan suatu tool yang digunakan untuk mengukur faktor risiko muskuloskeletal akibat kerja dan gejala yang menyertainya pada populasi pekerja. Kuesioner ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antara pekerjaan dengan gejala dan keluhan muskuloskeletal pada pekerja (Stanton, et al., 2005).

1.2 Identifikasi Masalah

Keluhan MSDS pada profesi perawat telah banyak diteliti dari sudut pandang jenis pekerjaannya, akan tetapi masih sedikit yang membahas hubungannya dengan karakteristik subyek, yaitu: usia, tinggi badan, berat badan dan lama bekerja. Dengan mempertimbangkan karakteristik perawat, maka akan didapatkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai keluhan MSDS pada perawat di Rumah Sakit.

1.3 Batasan Masalah

Untuk membatasi permasalahan agar sesuai dengan yang dimaksudkan dan lebih terarah maka peneliti memberikan batasan terhadap penelitian ini yaitu:

(16)

1. Penelitian hanya dilakukan kepada perawat rawat inap di RSUD Berkah Pandeglang

2. Penelitian ini berfokus pada identifikasi keluhan musculoskeletal disorders ditinjau dari variabel usia, berat badan, tingi badan, dan lama bekerja.

1.4 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini sesuai dengan latar belakang yaitu:

1. Bagaimana tingkat keluhan otot rangka pada perawat di RSUD Berkah Pandeglang berdasarkan faktor usia, berat badan, tinggi badan, dan lama bekerja.

2. Bagaimana upaya pengendalian untuk mengurangi resiko keluhan otot rangka pada perawat di RSUD Berkah Pandeglang.

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu:

1. Mengetahui tingkat keluhan otot rangka pada perawat di RSUD Berkah Pandeglang.

2. Mengetahui upaya pengendalian untuk mengurangi keluhan otot rangka pada perawat di RSUD Berkah Pandeglang.

(17)

1.6 Manfaat Penelitian a. Bagi perusahaan :

1. Memperoleh informasi mengenai potensi dan gangguan musculoskeletal yang diakibatkan oleh pekerjaan terhadap pekerja.

2. Sebagai referensi tambahan untuk mengevaluasi, dan rekomendasi mengenai tindakan dalam menanggulangi dan mencegah terjadinya gangguan musculoskeletal pada pekerja.

b. Bagi penulis

1. Memperoleh gambaran secara langsung mengenai analisis keluhan otot rangka pada pekerja.

2. Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam bidang ergonomi.

c. Bagi pihak lain :

1. Dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian-penelitian yang berkaitan dengan bidang ergonomic khususnya MSDS.

1.7 Sistematika Penulisan

Sebagai gambaran jelas tentang penelitian yang akan dilakukan, seacara garis besar sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Memuat latar belakang, identifikasi masalah, batasan permasalahan, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan laporan penelitian.

(18)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Memuat tinjauan penelitian, kajian pustaka, dan kerangka pemikiran.

Melalui kajian pustaka ditujukan “the state of the art” dari teori yang sedang dikaji dan kedudukan masalah penelitian dala bidang ilmu yang diteliti.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Mengandung uraian tentang obyek serta bahan atau materi penelitian, alat, tata cara penelitian, variable dan data yang akan dikaji serta cara analisis yang akan dipakai dan bagan alir penelitian. Metodologi penelitian memuat diagram alir penelitian dan tahapan penelitian.

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Memuat data yang berkaitan dengan tema penelitian dan diolah berdasarkan metode yang digunakan. Bab ini terdiri atas beberapa sub-bab yaitu; pengumpulan data, pengolahan data dan pembahasan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan berisi pernyataan singkat yang ditulis dengan menggunakan urutan angka (1,2,3 dan seterusnya) untuk menjabarkan hasil penelitian yang dilakukan. Kesimpulan harus menjawab rumusan permasalahan. Saran berisi beberapa rekomendasi pengembangan penelitian lanjutan metode lain dengan tujuan untuk memperluas pengembangan ilmu Teknik Industri. Selain itu, saran yang diperlukan jika penelitian lanjutan akan dikembangkan berdasarkan keterbasan/hambatan yang ditemukan selama penelitian dilakukan.

(19)

10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Ergonomi

Ergonomi adalah suatu disiplin ilmu yang berkaitan mengenai interaksi antara manusia dengan objek yang digunakan (Pulat, 1992). Asumsi yang paling penting dalam ergonomi adalah peralatan dan kondisi lingkungan kerja berpengaruh terhadap performansi kerja. Jika produk, peralatan, stasiun kerja, dan metode kerja dirancang sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, maka performansi dan hasil yang diberikan akan lebih baik.

Sebaliknya jika ergonomi diabaikan dalam merancang peralatan, stasiun kerja, dan metode kerja maka akan memberikan hasil yang sebaliknya. Suatu kondisi kerja yang dirancang akan memberikan dampak kepada operator, diantaranya (Pulat, 1992):

1. Penurunan output produksi

2. Meningkatkan biaya dan material untuk kesehatan 3. Meningkatkan tingkat ketidakhadiran operator 4. Penurunan kualitas kerja

5. Cedera pada operator

6. Peningkatan kecelakaan kerja

Dalam ergonomi dikenal istilah fitting the task to the person. Maksud dari istilah tersebut adalah pekerjaan harus dirancang sesuai dengan kapasitas pekerja. Pengembangan ilmu ergonomi didasarkan pada konsep tersebut.

(20)

Berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan di Amerika Serikat, terdapat indikasi bahwa ergonomi terkait dengan lima dari sepuluh penyakit dan kecelakaan kerja. Berikut merupakan penyakit dan kecelakaan kerja yang sering terjadi di Amerika Serikat (Pulat, 1992):

1. Penyakit paru-paru 2. Cedera muskoloskeletal 3. Kanker

4. Amputasi, patah tulang, buta, trauma, dan lecet 5. Kardiovaskular

6. Penyakit reproduksi 7. Gangguan saraf

8. Gangguan pendengaran 9. Dermatologic

10. Gangguan jiwa

2.2 MSDS (musculoskeletal disorders) 2.2.1 Pengertian MSDS

Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan sekumpulan gejala atau gangguan yang berkaitan dengan jaringan otot, tendon, ligamen, kartilago, sistem syaraf, struktur tulang, dan pembuluh darah.

MSDs pada awalnya menyebabkan sakit, nyeri, mati rasa, kesemutan, bengkak, kekakuan, gemetar, gangguan tidur, dan rasa terbakar (OSHA, 2000).

(21)

MSDs merupakan gangguan yang disebabkan ketika seseorang melakukan aktivitas kerja dan pekerjaan yang signifikan sehingga mempengaruhi adanya fungsi normal jaringan halus pada sistem Musculoskeletal yang mencakup saraf, tendon dan otot (WHO, 2003).

Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua (Tarwaka, 2004) yaitu:

1. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pembebanan dihentikan.

2. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap, walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut.

2.2.2 Gejala MSDS

MSDs ditandai dengan adanya gejala sebagai berikut yaitu : nyeri, bengkak, kemerah-merahan, panas, mati, rasa, retak, atau patah pada tulang dan sendi dan kekakuan, rasa lemas atau kehilangan daya koordinasi tangan, susah untuk digerakkan (Suma’mur, 2003). MSDs diatas dapat menurunkan produktivitas kerja, kehilangan waktu kerja, menimbulkan ketidakmampuan secara temporer atau cacat tetap (Lukman, 2012).

Untuk memperoleh gambaran tentang gejala MSDs bisa menggunakan Nordic Body Map (NBM) dengan cara melihat dan

(22)

menganalisa peta tubuh (NBM) sehingga dapat diestimasi tingkat dan jenis keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh para pekerja (Kroemer, 2002).

2.2.3 Fungsi Sistem Musculoskeletal

Fungsi utama dari sistem musculoskeletal adalah untuk mendukung dan melindungi tubuh dan organ-organnya serta untuk melakukan gerak. Agar seluruh tubuh dapat berfungsi dengan normal, masing- masing substruktur harus berfungsi dengan normal. Enam sub struktur utama pembentuk sistem musculoskeletal antara lain: tendon, ligamen, fascia (pembungkus), cartilago, tulang sendi dan otot. Tendon, ligamen, fascia dan otot sering disebut sebagai jaringan lunak, sedangkan tulang sendi diperlukan untuk pergerakan antara segmen tubuh. Peran mereka dalam sistem musculoskeletal keseluruhan sangatlah penting sehingga tulang dan sendi sering disebut sebagai unit fungsional sistem musculoskeletal (Humantech, 1995 dalam Hasrianti, 2016).

2.2.4 Keluhan MSDS

Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) adalah keluhan pada bagian otot-otot skeletal yang dirasakan seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai berat. Jika dalam hal ini otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama maka dapat menyebabkan kerusakan pada otot, saraf, tendon, persendian, kartilago dan discus intervetebrata.

(23)

Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) yang sering timbul pada pekerja angkut adalah nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada bahu, siku dan kaki. Tubuh bagian atas terutama punggung dan lengan adalah bagian yang paling rentan terhadap risiko terkena Musculoskeletal Disorders (MSDs).

2.2.5 Faktor penyebab keluhan sistem muskuloskletal

Keluhan pada sistem musculoskeletal adalah keluhan pada bagian- bagian otot rangka yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan pada bagian-bagian dari otot rangka yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament atau tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan muskoloskeletal disorder (MSDs) atau cedera pada sistem musculoskeletal (Grandjean, 1993; Lemasters, 1996). Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :

1. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot meneritoma beban statis, namun demikian keluhan tersebuta akan segera hilang apabila pemberian beban dihentikan

(24)

2. Keluhan tetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pemberian beban kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot tersebut terus berlanjut.

Faktor Penyebab Keluhan Pada Sistem Musculoskeletal Peter Vi (2000) menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan sistem musculoskeletal yakni, antara lain:

1. Peregangan otot yang berlebihan

Peregangan pada otot yang berlebihan pada umumnya sering dikeluhkan oleh pekerja yang aktivitas kerjanya menuntut pengerahan tenaga yang besar seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik dan menahan beban yang berat. Hal ini terjadi karena pengerahan tenaga yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot dan bila sering dilakukan maka dapat mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot, bahkan dapat menyebabkan terjadinya cedera otot skeletal.

2. Aktivitas Berulang

Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus seperti pekerjaan mancangkul, membelah kayu besar, angkat-angkat dan sebagainya. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja secara terus- menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk relaksasi.

(25)

3. Sikap Kerja Tidak Alamiah

Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala terangkat dan sebagainya. Umumnya karena karakteristik tuntutan tugas, alat kerja dan stasiun kerja tidak sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan pekerja (Grandjean, 1993; Anis & McConville, 1996; Waters & Anderson, 1996 & Manuaba, 2000).

Di Indonesia, sikap kerja tidak alamiah ini lebih banyak disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian antara dimensi alat dan stasiun kerja dengan ukuran tubuh pekerja. Sebagai negara berkembang, Indonesia masih tergantung pada perkembangan teknologi negara-negara maju khususnya dalam pengadaan peralatan industri. Sebagai contoh, pengoperasian mesin-mesin produksi di suatu pabrik yang diimpor dari Amerika dan Eropa akan menjadi masalah bagi sebagian besar pekerja di Indonesia.

Hal tersebut disebabkan karena Negara pengekspor di dalam mendesain mesin-mesin hanya didasarkan pada antropometri dari pekerja mereka, yang pada kenyataannya ukuran tubuh mereka lebih besar dibandingkan dengan pekerja di Indonesia.

Dapat dipastikan kondisi tersebut akan menyebabkan sikap paksa pada waktu pekerja mengoperasikan mesin. Apabila

(26)

terjadi dalam kurun waktu yang lama, maka akan terjadi akumulasi keluhan yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya cidera otot.

4. Faktor Penyebab Sekunder

a. Tekanan: Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak. Sebagai contoh, pada saat tangan harus memegang alat, maka jaringan otot tangan yang lunak akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat dan apabila hal ini sering terjadi dapat menyebabkan rasa nyeri otot yang menetap.

b. Getaran: Getaran dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan kontraksi otot bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan peredaran darah tidak lancar, penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot (Suma’mur, 1995).

c. Mikroklimat: Paparan suhu dingin yang berlebihan dapat menurunkan kelincahan, kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga gerakan pekerja menjadi lamban, sulit bergerak yang disertai dengan menurunnya kekuatan otot. Demikian juga dengan paparan udara yang panas. Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh yang terlampau besar menyebabkan sebagian energi yang ada dalam tubuh akan termanfaatkan oleh tubuh untuk beradaptasi dengan

(27)

lingkungan tersebut. Apabila hal ini tidak diimbangi dengan pasokan energi yang cukup, maka akan terjadi kekurangan suplai oksigen kerja otot. Akibatnya, peredaran darah kurang lancar, suplai oksigen kerja otot menurun, proses metabolism karbohidrat terhambat dan terjadi penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri otot (Suma’mur, 1982; Grandjean, 1993).

5. Penyebab Kombinasi. Resiko terjadinya keluhan otot skeletal akan semakin meningkat apabila melakukan tugasnya, pekerja dihadapkan pada beberapa faktor resiko dalam waktu yang bersamaan misalnya pekerja harus melakukan aktivitas angkat angkut dibawah tekanan panas sinar matahari seperti yang dilakukan para pekerja bangunan.

Di samping kelima faktor terjadinya keluhan sistem musculoskeletal tersebut diatas, beberapa ahli menjelaskan bahwa faktor individu seperti umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, kekuatan fisik dan ukuran tubuh juga dapat menjadi penyebab terjadinya keluhan otot skeletal.

a. Umur.

Chaffin (1979) dan Guo et al. (1995) menyatakan bahwa pada umumnya keluhan musculoskeletal mulai dirasakan pada usia kerja, yaitu 25-65 tahun. Keluhan pertama biasanya dirasakan pada umur 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus

(28)

meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Hal ini terjadi karena pada umur setengah baya, kekuatan san ketahanan otot mulai menurun sehingga resiko terjadinya keluhan otot meningkat. Sebagai contoh, Betti’e, et.al. (1986) telah melakukan studi tentang kekuatan statik otot untuk pria dan wanita dengan usia antara 20 sampai dengan diatas 60 tahun.

Penelitian difokuskan untuk otot lengan, punggung, dan kaki.

Hasil penelitian menujukkan bahwa kekuatan otot maksimal terjadi pada saat umur antara 20-29 tahun, selanjutnya terus terjadi penurunan sejalan dengan bertambahnya umur. Pada saat umur mencapai 60 tahun, rerata kekuatan otot menurun sampai 20%. Pada saat kekuatan otot mulai menurun inilah maka resiko terjadinya keluhan otot akan meningkat.

Riihimaki, et.al. (1989) menjelaskan bahwa umur mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan keluhan sistem musculoskeletal, terutama untuk otot leher dan bahu, bahkan ada beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa umur merupakan penyebab utama terjadinya keluhan otot.

b. Jenis Kelamin

Walaupun masih ada perbedaan pendapat dari beberapa ahli tentang pengaruh jenis kelamin terhadap resiko keluhan sistem musculoskeletal, namun beberapa hasil penelitian secara signifikan menunjukkan bahwa jenis kelamin sangat

(29)

mempengaruhi tingkat resiko keluhan otot. Hal ini terjadi karena secara fisiologis, kemampuan otot wanita memang lebih rendah dari pada pria. Astrand & Rodahl (1996) menjelaskan bahwa kekuatan otot wanita hanya sekitar dua per tiga dari kekuatan otot pria, sehingga daya otot pria pun lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Hasil penelitian Betti’e et al.

(1989) menujukkan bahwa rerata kekuatan otot wanita kurang lebih hanya 60% kekuatan otot pria, khusunya untuk otot lengan, punggung, dan kaki. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Chiang, et.al. (1993), Bernard, et.al. (1994), hales, et.al. (1994) dan Johanson (1994) yang menyatakan bahwa perbandingan keluhan otot antara pria dan wanita adalah 1:3.

Dari uraian tersebut diatas, maka jenis kelamin perlu dipertimbangkan dalam mendesain beban tugas.

c. Kebiasaan Merokok

Sama halnya dengan faktor jenis kelamin pengaruh kebiasaan merokok terhadap resiko keluhan otot juga masih diperdebatkan dengan para ahli, namun demikian, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa meningkatnya keluhan otot sangat erat hubungannya dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan. Boshuizen, et.al. (1993) menemukan hubungan

(30)

yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan keluhan otot pinggang, khususnya untuk pekerjaan yang memerlukan pengerahan otot. Hal ini sebenarnya terkait erat dengan kesegaran tubuh seseorang. Kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen menurun dan sebagai akibatnya, tingkat kesegaran tubuh juga menurun. Apabila yang bersangkutan harus melakukan tugas yang menuntut pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandunagn oksigen dalam darah rendah, pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi tumpukan asam laktat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot.

d. Kesegaran Jasmani

Pada umumnya, keluhan otot lebih jarang ditemukan dalam seseorang yang aktivitas kesehariannya mempunyai cukup waktu untuk istirahat. Sebaliknya, bagi yang dalam kesehariannya melakukan pekerjaan yang memerlukan pengerahan tenaga yang besar, disisi lain tidak mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat, hamper tidak dapat dipastikan akan terjadi keluhan otot. Tingkat keluhan otot juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kesegaran tubuh. Laporan NIOSH yang dikutip dari penelitian Cady, et.al. (1979) menyatakan bahwa untuk tingkat kesegaran tubuh yang rendah,

(31)

maka resiko terjadinya keluhan adalah 7,1%, tingkat kesegaran tubuh sedang adalah 3,2% dan tingkat kesegaran tubuh tinggi adalah 0,8%. Hal ini juga diperkuat dengan laporan Betti’e, et.al. (1989) yang menyatakan bahwa hasil penelitian terhadap para penerbang menunjukkan bahwa kelompok penerbang dengan tingkat kesegaran tubuh yang tinggi mempunyai resiko yang sangat kecil terhadap resiko terjadinya cedera otot. Dari uraian diatas dapat digaris bawahi bahwa, tingkat kesegaran tubuh yang rendah akan mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot. Keluhan otot akan meningkat sejalan dengan bertambahnya aktivitas fisik.

e. Kekuatan fisik

Sama halnya dengan beberapa faktor lainnya, hubungan antara kekuatan fisik dengan resiko keluhan sistem musculoskeletal juga masih diperdebatkan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan, namun penelitian lainnya menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kekuatan fisik dengan keluhan otot skeletal.

Chaffin and Park (1973) yang dilaporkan oleh NIOSH menemukan adanya peningkatan keluhan punggung yang tajam pada para pekerja yang melakukan tugas yang menuntut kekuatan melebihi batas kekuatan otot pekerja. Bagi pekerja yang kekuatan ototnya rendah, resiko terjadinya keluhan tiga

(32)

kali lipat dari yang mempunyai kekuatan tinggi. Sementara itu, Betti’e, et.al. (1990) menemukan bahwa pekerja yang sudah mempunyai keluhan pinggang mampu melakukan pekerjaan seperti pekerja lainnya yang belum memiliki keluhan pinggang.

Terlepas dari perbedaan kedua hasil penelitian tersebut diatas, secara fisiologis ada yang dilahirkan dengan struktur otot yang mempunyai kekuatan fisik lebih kuat dibandingkan dengan yang lainnya. Dalam kondisi kekuatan yang berbeda ini, apabila harus melakukan pekerjaan yang memerlukan pengerahan otot, jelas yang mempunyai kekuatan rendah akan lebih rentan terhadap resiko cedera otot. Namun untuk pekerjaan- pekerjaan yang tidak memerlukan pengerahan tenaga, maka faktor kekuatan fisik kurang relevan terhadap resiko keluhan sistem musculoskeletal.

f. Ukuran Tubuh (antropometri)

Walaupun pengaruhnya relatif kecil, berat badan, tinggi badan dan masa tubuh merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan sistem musculoskeletal.

Vessy, et.al. (1990) menyatakan bahwa wanita yang gemuk mempunyai resiko dua kali lipat dibandingkan dengan wanita kurus. Hal ini diperkuat oleh Werner, et.al (1994) yang menyatakan bahwa bagi pasien yang gemuk (obesitas dengan masa tubuh >29) mempunyai resiko 2,5 lebih tinggi

(33)

dibandingkan dengan yang kurus (masa tubuh <20), khususnya untuk otot kaki. Temuan lain menyatakan bahwa pada tubuh yang tinggi umumnya sering menderita keluhan sakit punggung, tetapi tubuh tinggi tidak mempunyai pengaruh terhadap keluhan pada leher, bahu dan pergelangan tangan.

Apabila dicermati, keluhan sistem musculoskeletal yang terkait dengan ukuran tubuh lebih disebabkan oleh kondisi keseimbangan struktur rangka didalam menerima beban, baik beban berat tubuh maupun beban tambahan lainnya. Sebagai contoh, tubuh yang tinggi pada umumnya mempunyai bentuk tulang yang langsing sehingga secara biomekanik rentan terhadap beban tekan dan rentan terhadap tekukan, oleh karena itu mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya keluhan sistem musculoskeletal.

2.2.6 Pengukuran keluhan MSDS

Nordic Body Map (NBM) merupakan kuesioner yang dipergunakan sebagai pengukur keluhan musculoskeletal disorders.

Dengan menggunakan NBM maka dapat diketahui bagian-bagian otot yang merasakan ada keluhan nyeri atau tidak. Melihat dan menganalisis peta tubuh (NBM) yang terbagi dalam 28 item bagian tubuh maka dapat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot yang dirasakan oleh pekerja. Selain Nordic Body Map (NBM),

(34)

Musculoskeletal disorders ini bisa juga di ukur dengan menggunakan Dutch Musculoskeletal Questionnaire (DMQ), yaitu suatu tool yang dipergunakan sebagai pengukur faktor risiko musculoskeletal akibat pekerjaan serta gejala pada populasi pekerja. DMQ ini terdiri dari sekitar 25 pertanyaan. Dari kedua alat ukur MSDs ini mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, diantaranya untuk kelebihan NBM yaitu dapat digunakan untuk mengevaluasi keluhan MSDs, dan untuk kekurangannya yaitu hanya melihat keluhan secara subyektif. Sementara untuk DMQ kelebihannya yaitu tinjauan komprehensif tersedia lebih luas terhadap faktor risiko serta angka kesakitan, dan kekurangannya yaitu tidak bisa dilakukan pada penelitian kelompok kecil dan tidak dilakukan menghitung risiko.

2.2.7 Metode DMQ (Dutch Musculoskeletal Questionnaire)

Dutch Musculoskeletal Questionnaire (DMQ) adalah kuesioner yang dirancang untuk menganalisis beban kerja muskuloskeletal dan kondisi kerja berbahaya yang potensial, serta gejala muskuloskeletal pada populasi pekerja. Kuesioner ini digunakan untuk menilai dampak dari faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan terhadap kesehatan muskuloskeletal dan untuk mengidentifikasi area-area yang perlu ditingkatkan dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja.

Informasi penting tentang Kuesioner Muskuloskeletal Belanda (Dutch Musculoskeletal Questionnaire, DMQ):

(35)

1. DMQ terdiri dari serangkaian pertanyaan yang dapat dijawab dengan ya atau tidak.

2. Kuesioner ini telah digunakan dalam berbagai studi dan penelitian untuk menilai beban kerja muskuloskeletal dan gejala-gejalanya.

3. Kuesioner ini telah terbukti memiliki homogenitas yang memuaskan dan validitas divergen yang cukup baik jika dibandingkan dengan indeks kondisi kerja psikososial dan ketidaknyamanan selama terpapar beban fisik.

4. Kuesioner ini telah menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gejala punggung bawah dan/atau leher-bahu, yang mengindikasikan validitas bersamaan.

DMQ adalah alat yang berharga bagi para peneliti, profesional kesehatan kerja, dan organisasi yang tertarik untuk menilai dan menangani masalah muskuloskeletal di tempat kerja. DMQ memberikan wawasan tentang hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan dan kesehatan muskuloskeletal, yang memungkinkan intervensi yang ditargetkan dan peningkatan dalam praktik kesehatan dan keselamatan kerja. Rincian dari kuesioner DMQ dapat dilihat pada Lampiran XXX.

(36)

2.2.8 Langkah-langkah mengatasi keluhan MSDS

Apabila Keluhan musculoskeletal disorders tidak diatasi, konsentrasi saat bekerja akan terganggu dan menurunkan produktivitas kerja karna kelelahan yang dirasakan oleh pekerja. Menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA), ada dua cara tindakan ergonomic untuk mencegah adanya sumber penyakit yaitu rekayasa teknik (desain stasiun dan alat kerja) dan rekayasa manajemen/kriteria dan organisasi kerja (Tarwaka,2015). Dan berikut ini merupakan langkah-langkah mengatasi keluhan Musculoskeletal disorders:

a. Rekayasa Teknik

Alternatif yang dilakukan untuk rekayasa teknik yaitu sebagai berikut:

1. Eliminasi, dengan cara menghilangkan sumber-sumber bahaya dilingkungan kerja.

2. Subsitusi, mengganti alat yang lama dengan yang baru, sehingga proses produksi dapat lebih sempurna.

3. Partisi, pekerja dijauhkan atau dipisahkan dengan sumber bahaya.

4. Ventilasi, dengan penambahan disetiap ruangan ventilasi dengan tujuan agar risiko penyakit lebih berkurang.

b. Rekayasa Manajemen

Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(37)

1. Pekerja diberikan pendidikan atau pelatihan agar lebih paham denganlingkungan kerja serta alat yang dipakai untuk bekerja supaya keluhan sakit yang didapatkan dilingkungan kerja dapat dicegah.

2. Pekerja harus diberikan waktu rehat dari pekerjaan, dan waktu istirahatnya dengan jenis pekerjaannya harus sesuai, sehingga paparan bahaya ditempat kerja dapat dicegah.

3. Melakukan pengawasan intensif, dengan tujuan dapat mencegah lebih dini terhadap sakit akibat kerja.

2.3 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Nama/Tahun

penelitian Judul penelitian Metode Hasil penelitian 1. Farid Wajdi &

Wyke Kusmasari (2015)

Resiko jenis pekerjaan

terhadap keluhan musculoskeletal disorders pada perawat rumah sakit

DMQ Analisis faktor

penyebab keluhan otot rangka pada perawat dilakukan berdasarkan perhitungan nilai korelasi antara faktor- faktor dengan 3 keluhan yang paling sering dirasakan oleh perawat.

Tiga keluhan tersebut adalah keluhan pada leher, punggung atas, dan bahu.

Adapun jenis pekerjaan perawat yang signifikan berpengaruh pada keluhan MSDs adalah memandikan pasien, memindahkan pasien, dan terlalu banyak berjalan kaki.

(38)

No Nama/Tahun

penelitian Judul penelitian Metode Hasil penelitian 2. Farid Wajdi &

Dadi Cahyadi (2016)

Analisis keluhan fisik bidan akibat menolong partus

DMQ Dari hasil kuesioner dan observasi postur bidan pada saat melakukan pertologan partus ini dapat disimpulkan bahwa keluhan cedera otot rangka pada bidan dapat disebabkan oleh:

1. ketinggian bed partus yang tidak sesuai dengan tinggi badan bidan penolong, sehingga menyebabkan 2. postur yang terus membungkuk dalam menolong persalinan.

3. Postur yang kurang baik ini menyebabkan

banyak bidan

mengalami keluhan sakit leher dan punggung

4. Disarankan untuk penelitian selanjutnya adalah studi mengenai 5. interaksi bidan dan bed partus selama menolong persalinan.

Dan perancangan stasiun kerja bed partus yang lebih ergonomis dan sesuai dengan konteks kultur budaya daerah di Indonesia.

3. Annisa Danni Kartika (2014)

The Influence Factors Of Musculoskeletal Complaints To Emergency Nurse

(En) In

Emergency Room (Er)

At Rsud Dr.

Moewardi Hospital

DMQ Penelitian ini

menunjukkan bahwa uji Chi-Square signifikan antara aktivitas fisik (p=0,010), lingkungan (p=0,034), individu (p=0,047), psikologi (p=0,009) terhadap keluhan

muskuloskeletal. Uji regresi logistik lingkungan (OR (IK95%)=0,32) dan psikologi

(39)

No Nama/Tahun

penelitian Judul penelitian Metode Hasil penelitian (OR(IK95%)=0,23).

4. Maulana, Jayanti &

Kurniawan (2021)

Analisis Faktor Risiko

Musculoskeletal Disorders (Msds) Sektor Pertanian:

Literature Review

studi kepustaka an (Literatur e Review)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor individu (umur, jenis kelamin, masa kerja, riwayat penyakit dan faktor psikososial), faktor pekerjaan (postur kerja, beban kerja, durasi kerja, gerakan berulang dan material manual handling) dan faktor lingkungan (area kerja), mempengaruhi kejadian

Musculoskeletal

Disorders (MSDs) kepada para pekerja di sektor pertanian.

5. Sari, Saufi &

Handayani (2017)

Hubungan Antara Umur dan Masa Kerja dengan Keluhan

Musculoskeletal Disorders

(MSDs) pada Pekerja Laundry

Nordic Body Map

Ada hubungan antara umur dengan keluhan MSDs dengan nilai p=

0,005 < α (0,05) dan tidak ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan MSDs dengan nilai p= 0,630 >

α (0,05). Ada hubungan antara umur dengan keluhan MSDs namun tidak ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan MSDs.

6. Devi, Purba &

Lestari (2016)

Faktor Risiko Keluhan

Musculoskeletal Disorders (Msds) Pada Aktivitas Pengangkutan Beras Di Pt Buyung Poetra Pangan Pegayut Ogan Ilir

pendekata n cross sectional

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko usia (ρ=0,002) dan masa kerja (ρ=0,033) berhubungan signifikan dengan keluhan Musculoskeletal

Disorders (MSDs), sedangkan IMT, kebiasaan merokok, lama kerja, beban yang diangkut dan tingkat risiko ergonomi tidak berhubungan. Beban

(40)

No Nama/Tahun

penelitian Judul penelitian Metode Hasil penelitian yang diangkut paling dominan menjadi faktor risiko keluhan Musculoskeletal

Disorders (MSDs).

7. Nuryaningtyas

& Martiana (2014)

Analisis Tingkat Risiko

Muskuloskeletal Disorders (Msds) Dengan The Rapid Upper Limbs Assessment (Rula) Dan Karakteristik Individu Terhadap Keluhan Msds

Analitik observasi onal dengan pendekata n cross sectional

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 25–

35 tahun (81,8%), wanita (84,8%) dengan masa kerja < 5 tahun sebesar (63,6%), yang tidak mempunyai kebiasaan olahraga (45,5%), status gizi normal (63,6%), memiliki kebiasaan merokok (6,1%) dan sikap kerja tidak alamiah (87,9%).

8. Siti Rahmah Hidayatullah Lubis (2018)

Analisis Faktor Risiko Ergonomi terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders

(MSDs) pada Teller Bank

Rapid Entire Body Asessment (REBA)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa task yang menjadi prioritas utama adalah task menyerahkan uang di akhir hari kepada supervisor, tetapi dari data keluhan MSDs dan data peralatan yang didapat prioritas task yang harus segera dilakukan perubahan adalah task menginput data dan task menghitung uang dengan mesin hitung 9. Utami,

Karimuna &

Jufri (2017)

Hubungan Lama Kerja, Sikap Kerja Dan Beban Kerja Dengan Muskuloskeletal Disorders (Msds) Pada Petani Padi Di Desa Ahuhu Kecamatan Meluhu Kabupaten

observasi onal analitik dengan desain studi cross sectional

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan secara stasistik (ρ < 0,008) variabel lama kerja (ρ = 0,005) dan sikap kerja (ρ < 0,018) serta beban kerja yaitu (ρ < 0,00) pada petani padi di desa ahuhu kecamatan meluhu kabupaten

(41)

No Nama/Tahun

penelitian Judul penelitian Metode Hasil penelitian Konawe Tahun

2017

konawe 10. Syakhroni,

Wiranto,

Mas’idah &

Sagaf (2022)

Analisis Postur Kerja Untuk Memperkecil Faktor Keluhan Musculoskeletal Dissolder (Msds) Menggunakan Metode Rapid Upper Limb Assessment (Rula) Pada Pekerja Batik Tulis

RULA Dengan hasil

mengunakan metode rappid upper limb body assessment

menggunakan tiga postur kerja dengan 3 orang dalam satu pekerjaan membatik.

postur pengambilan lilin dari ke 3 sampel mendapatkan score rula action sebesar 7 dengan kategori tinggi maka diperlukanya perbaikan metode kerja,postur peniupan dari 3 orang sampel dari pekerja pertama mendapatkan score rula action sebesar 6, pekerja kedua dan ketiga mendapatkan score rula action sebesar 5, denga tindakan waktu dekat.

Postur pembatikan dari

ke 3 sampel

mendapatkan score rula action 6 dengan diperlukan tindakan dalam waktu dekat.

2.4 Kerangka Berpikir

Kerangka pemikiran adalah alur pikir peneliti sebagai dasar-dasar pemikiran untuk memperkuat sub fokus yang menjadi latar belakang dari penelitian ini dan berikut adalah kerangka berpikir pada penelitian ini.

(42)

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir (sumber : pengolahan data, 2023)

(43)

34

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Penelitian

(sumber : pengolahan data, 2023) Gambar 3.1 Diagram Alir penelitian

(44)

3.2 Tahapan Penelitian

3.2.1 Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan adalah tahap awal dalam penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan data yang diperlukan untuk merancang penelitian yang lebih komprehensif.

Studi pendahuluan dilakukan sebelum penelitian utama dilakukan dan dapat membantu peneliti untuk memahami topik penelitian, menentukan masalah penelitian, merumuskan hipotesis, dan merancang metodologi penelitian yang tepat. Studi pendahuluan dibagi menjadi 2 yaitu:

A. Studi Lapangan

Studi lapangan merupakan salah satu bentuk pembelajaran outdoor dimana terjadi kegiatan observasi untuk mengungkap fakta–fakta guna memperoleh data dengan cara terjun langsung ke lapangan. Studi lapangan merupakan cara ilmiah yang dilakukan dengan rancangan operasional sehingga didapat hasil yang lebih akurat.

B. Studi pustaka

Studi pustaka merupakan kegiatan mempelajari berbagai buku referensi serta hasil penelitian sebelumnya yang sejenis yang berguna untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti.

(45)

3.2.2 Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan pernyataan spesifik mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti. Rumusan mengenai masalah sebuah hal atau kejadian yang berbentuk kalimat tanya yang sederhana, singkat, padat, dan jelas.

3.2.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian adalah menjawab rumusan masalah.

Sedangkan manfaat penelitian adalah keuntungan yang bisa diperoleh pihak-pihak tertentu jika penelitian yang kamu lakukan selesai.

3.2.4 Pengumpulan Data

Tahapan ini menjelaskan tentang data yang akan dikumpulkan sesuai dengan rumusan masalah yang akan dijawab dan digunakan untuk pengolahan data, seperti objek penelitian, sumber data, populasi dan sampel dan teknik pengumpulan data.

A. Sumber Data 1. Data primer

Yaitu pengambilan data dengan instrumen pengamatan, wawancara, catatan lapangan dan penggunaan dokumen.

2. Data sekunder

Yaitu data yang digunakan untuk mendukung data primer yaitu melalui studi kepustakaan, dokumentasi, buku, arsip tertulis yang berhubungan dengan obyek yang akan diteliti.

(46)

B. Populasi Dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam suatu penelitian merupakan kumpulan individu atau objek yang merupakan sifat-sifat umum.

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian penelitian.

Populasi dalam penelitian ini adalah perawat.

2. Sampel

Penarikan atau pembuatan sampel dari populasi untuk mewakili populasi disebabkan untuk mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi, sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.

C. Teknik Pengumpulan Data 1. Kuesioner

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk menjawabnya. Pada penelitian ini menggunakan kuesioner dutch musculoskeletal questionnaire.

2. Observasi

Yaitu pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian untuk

(47)

mengetahui keberadaan objek, situasi, konteks dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian (Satori dan Komariah, 2011).

3. Wawancara adalah suatu bentuk atau percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi dalam keadaan saling berhadapan atau melalui telepon (Nasutionm 2010).

4. Dokumentasi

Menurut Satori dan Komariah (2011), yaitu dengan teknik dokumentasi, dapat memperoleh informasi bukan dari orang sebagai sumber, tetapi memperoleh informasi dari macam-macam sumber tertulis atau dari dokumen yang ada. Dalam hal ini dokumentasi yang dilakukan berupa dokumen seperti foto dan video postur kerja pekerja pada saat proses pekerjaan.

3.2.5 Pengolahan Data

Setelah melakukan pengumpulan data, maka dilakukan pengolahan data. Pengolahan data yang pertama dilakukan yaitu identifikasi keluhan, lalu melakukan penilaian menggunakan metode DMQ (dutch musculoskeletal questionnaire) dan selanjutnya melakukan uji validitas, uji reliabilitas dan uji korelasi menggunakan SPSS.

(48)

A. Dutch Musculoskeletal Questionnaire

Kuesioner Dutch Musculoskeletal Quistionnaire membahas tentang karakteristik pekerjaan, kesehatan, waktu luang, nyeri punggung, sakit pinggang, nyeri leher dan bahu dari pekerja.

Kuesioner DMQ terdiri dari beberapa bagian :

a. Latar belakang, meliputi: umur, jenis kelamin, lama bekerja, histori kerja, kerja shift. Tugas, meliputi: tingkat keluhan dan tingkat berat-ringan-nya tugas-tugas yang dilakukan.

b. Beban kerja musculoskeletal, meliputi: postur, gaya, gerakan.

c. Kondisi kerja secara psikososial dan kecepatan kerja:

tuntutan kerja, kendali dan otonomi, organisasi kerja dan dukungan sosial, kepuasan kerja; faktor-faktor tersebut berpengaruh pada pekerja yang memiliki keluhan MSDs (Bongers at.al., 1993).

d. Gaya hidup: seperti olah raga, kebiasaan merokok (versi tambahan).

e. Kendala dan upaya perbaikan: diajukan oleh pekerja (opsional).

Cara pengisian kuesioner yaitu :

1. Jika jawaban YA maka diberi nilai = 2 2. Jika jawaban TIDAK maka diberi nilai = 1

(49)

3. Semakin positif jawaban maka diberi skor 1 4. Dan semakin negative jawaban maka diberi skor 4

3.2.6 Analisis Dan Interpretasi Hasil

Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan, maka selanjutnya kita dapat menganalisa lebih mendalam dari hasil pengolahan data. Analisa tersebut akan mengarahkan pada tujuan penelitian dan akan menjawab pertanyaan pada perumusan masalah.

Tahap selanjutnya yaitu memberikan usulan perbaikan berdasarkan analisis yang sudah dibuat.

3.2.7 Usulan Perbaikan

Usulan perbaikan dalam penelitian mengacu pada saran-saran atau rekomendasi yang diajukan untuk meningkatkan atau memperbaiki aspek-aspek tertentu dalam sebuah penelitian. Usulan perbaikan dapat berkaitan dengan berbagai aspek penelitian, termasuk metodologi, pendekatan analisis, desain penelitian, pengumpulan data, sampel, instrumen pengukuran, atau interpretasi hasil.

(50)

3.2.8 Kesimpulan Dan Saran

Kesimpulan dan saran adalah bagian penutup dari penelitian yang peneliti tulis dimana isi dari penelitan telah dijabarkan dalam Bab sebelumnya. Pada bagian kesimpuan akan dijelaskan secara singkat mengenai hasil-hasil penelitian yang telah peneliti laksanakan.

Gambar

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu  No  Nama/Tahun
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir  (sumber : pengolahan data, 2023)
3.1  Diagram Alir Penelitian
Tabel 4.1 Pengujian karakteristik usia  frequency  percent  Valid
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan gaya kepemimpinan kepala ruangan dengan tingkat stres kerja perawat di ruang rawat inap RSUD Bitung dapat disimpulkan

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah dr.. Pirngadi Medan pada

Saya Rosiani. Saat ini, saya sedang melakukan penelitian mengenai Analisis Hubungan Beban Kerja Fisik dan Tingkat Stress Kerja Perawat di Rumah Sakit Umum Gunung

skripsi dengan judul “ Gambaran Penerapan Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit ( K3RS ) pada Perawat di RSUD Tugurejo.. Semarang

Dan menurut salah satu bagian dari rumah sakit tersebut, didapat banyak keluhan konsumen yang merupakan sebuah indikasi penurunan kinerja perawat dan disinyalir diakibatkan

Dari hasil survei yang dilakukan oleh peneliti di Rumah Sakit, bahwa seluruh perawat ruangan memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda sehingga masih banyak yang belum

Penyusunan skripsi dengan judul “Hubungan Beban Kerja Mental dengan Tingkat Kepuasan Kerja Perawat di Ruang Interna dan Ruang Bedah Rumah Sakit Adi Husada

EFEKTIVITAS RELAKSASI GENGGAM JARI DAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP TINGKAT NYERI PASIEN POST OPERASI LAPARATOMI DENGAN GENERAL ANESTHESIA DI RSUD MARDI WALUYO BLITAR Skripsi