Kami berharap setelah terbitnya buku ini, ada upaya dari teman-teman yang lain untuk menerbitkan karya selanjutnya. Bagian pertama buku ini berjudul Perempuan dan Penguatan Masyarakat Sipil dengan tiga penulis perempuan yang sangat terlibat dalam pendampingan dan pemberdayaan perempuan.
KATA PENGANTAR
Kehadiran karya bertajuk: Membuka Jalan Baru Bagi Masyarakat Sipil: Percikan Pemikiran dari Gerakan memberikan setitik harapan bahwa masih ada upaya mencari jalan terang di tengah terowongan gelap kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga dengan diterbitkannya buku ini menjadi penanda seluruh ambisi kita untuk mewujudkan masyarakat sipil yang kuat dan mandiri.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
BAGIAN KESATU
PEREMPUAN DAN PENGUATAN CIVIL SOCIETY
Pengantar
TRANSFORMASI SOSIAL
PEREMPUAN AKAR RUMPUT MEMBANGUN PERDAMAIAN
Perempuan dan perdamaian: cerita perempuan akar rumput yang terpinggir
Munculnya sekelompok ibu-ibu yang menginginkan anaknya yang berada di kamp militer kembali ke rumah. Di Kepulauan Solomon, para ibu mengirimkan makanan kepada anak-anak mereka di kamp militer.
Genuinitas peran perempuan dalam perdamaian: sebuah framework
Tak sedikit di antara mereka yang menjadi korban pelecehan seksual, pemerkosaan, dipaksa menjadi mata-mata, penyelundup senjata, hingga kehilangan suami dan anak. Cara-caranya sangat halus, elegan dan berusaha memancing transformasi batin pada anak-anaknya.
Genuinitas perempuan paska konflik
Setelah konflik mereda, baik perempuan maupun laki-laki perlahan-lahan dikembalikan ke peran gender mereka semula melalui prioritas hidup serta program pemulihan dan rehabilitasi. Pembagian konsentrasi pemulihan seringkali mengikuti pembagian gender, dimana perempuan bertanggung jawab atas pemulihan keluarga dan laki-laki berkonsentrasi untuk mencari pekerjaan baru atau kembali ke lapangan.
Mengelola genuinitas perempuan
Misalnya, program pembangunan infrastruktur lebih fokus pada keterlibatan laki-laki, sedangkan program bantuan sembako biasanya melibatkan perempuan aktif. Penguatan kepemimpinan ditujukan untuk melanjutkan pendidikan perdamaian di tingkat akar rumput sebagai media pembelajaran masyarakat.
Menuju perdamaian: bibit-bibit transformasi sosial oleh perempuan akar rumput
Ada tiga refleksi penting bagi saya untuk melihat bagaimana transformasi konflik terjadi pada masyarakat dasar, yang mencakup perubahan pada lingkungan individu, hubungan dan keluarga, serta masyarakat secara lebih luas. Bagian terakhir adalah proses transformasi model kepemimpinan perempuan akar rumput dari kepemimpinan tunggal menjadi kepemimpinan kolektif.
Transformasi kelukaan untuk perdamaian Poso
Untuk itu, saya akan mengambil pengalaman perempuan korban konflik kekerasan di Poso, Sulawesi Tengah. Kedua, proses transformasi pada perempuan paralel berdampak pada proses transformasi anggota keluarga pada ibu di Jakarta, Bogor, dan Poso.
Dua wilayah sedang merintis program reintegrasi pasca-konflik kekerasan dengan memobilisasi potensi damai perempuan melalui Sekolah Perempuan Perdamaian. Dan apakah pemerintah yang aktif dalam program rekonsiliasi telah mengungkapkan informasi sebenarnya mengenai penyebab konflik kekerasan?
Transformasi relasional: dari aku, keluargaku, dan kampungku
Para ibu dapat menikmati langsung tabungan tersebut untuk membayar biaya sekolah anaknya, berobat, melunasi hutang dan lain sebagainya. Penggalangan dana untuk Merapi ini cukup menjadi bukti solidaritas ibu-ibu yang mau memikirkan saudara-saudaranya yang tertimpa musibah.
Transformasi kepemimpinan perempuan: kolektif V.S tunggal
Kekuatan pengurus dalam kepemimpinan kolektif berpotensi menjaga stabilitas institusi dari upaya perusakan baik secara kultural maupun struktural. Jika dalam kepemimpinan kolektif setiap orang dapat bergerak secara simultan dalam sebuah tim, maka ketergantungan anggota terhadap mereka yang dipimpin juga tertular dalam kepemimpinan individu.
Epilog: transformasi sosial oleh perempuan
Bagi saya, perubahan menuju kesadaran kritis perempuan harus difasilitasi oleh model pendidikan yang dapat mengarah pada tiga hal, yaitu pemahaman (kognitif), penghayatan (afektif) dan pengamalan (psikomotor). Penting bagi organisasi perempuan untuk secara mandiri mengorganisir potensi kesadaran kritis untuk melawan ketidakadilan secara legal dan sistematis.
Kepustakaan
Alice yang bertajuk “Women for Peace Group: Women Demonstrated Leadership in a Crisis Situation” pada acara Asia Pacific Women Leadership Training yang dilaksanakan pada tanggal 8-18 Juli 2007. 8 Presentasi Soraya Kamaruzama pada Lokakarya Nasional AMAN Indonesia tanggal 22-23 Mei 2009 menjelaskan bagaimana Flower Aceh mulai mengukuhkan wacana perdamaian dan secara tidak langsung menentang wacana referendum pada masa konflik.
Ketidakadilan gender
Konsep masyarakat sipil lahir pada abad ke-17, bersamaan dengan lahirnya liberalisme politik dan agama di Eropa. Singkatnya, masyarakat sipil menekankan adanya ruang publik yang bebas dimana individu dan kelompok dalam masyarakat dapat berinteraksi satu sama lain dalam semangat toleransi.
ANCAMAN HUMAN SECURITY PEREMPUAN DAN CIVIL SOCIETY INDONESIA
Sejak era reformasi, diskusi mengenai masyarakat sipil di Indonesia tidak pernah sepi, baik di kalangan akademisi, LSM, media, dan masyarakat luas. Masalah lainnya adalah 140 juta anak perempuan dan perempuan di dunia pernah mengalami FGM, dan lebih dari 3 juta anak perempuan di Afrika setiap tahunnya.
Bentuk-bentuk ketidakadilan gender
- Kekerasan terhadap perempuan
- Beban ganda perempuan
- Marginalisasi perempuan
- Subordinasi perempuan
- Perempuan dan food security
- Perempuan dan health security
- Perempuan dan environment security
Dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup, seperti Perpu Nomor 1 Tahun 2004 yang membolehkan perusahaan pertambangan membuka tambang terbuka di kawasan hutan lindung, hal ini berdampak pada kerusakan lingkungan dan berdampak lebih jauh pada penderitaan. 21 Masalah lingkungan lain yang harus dihadapi perempuan, drainase masih miskin di antara mereka, dan ini merupakan yang terburuk. 97,2% TKI di luar negeri adalah perempuan.23 Pada tahun 2009, BNP2TKI menangani sekitar 7.709 kasus.
Penutup
Oleh karena itu, kesetaraan, keadilan dan inklusi perempuan dalam segala aktivitas di semua lapisan masyarakat merupakan suatu keharusan dalam kerangka masyarakat sipil di Indonesia. 1 Baihaqi, Imam, PNPM Mandiri Perkotaan dan peran perempuan dalam mewujudkan masyarakat sipil http://www.bisnisbali.com news/opini/x.html.
KEBERDAYAAN PEREMPUAN PERDESAAN DAN UPAYA MEMBANGUN CIVIL SOCIETY
Ketimpangan gender sebagai penyebab utama kemiskinan belum menjadi fokus perhatian pemerintah dan belum menjadi indikator utama dampak program Gerdu-Taskin. Berdasarkan uraian di atas, artikel ini menjelaskan bagaimana program pemberdayaan perempuan dilaksanakan di pedesaan dengan upaya membangun masyarakat sipil di tingkat lokal.
PADA ARAS LOKAL
Untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan program Gerakan Pengentasan Kemiskinan Terpadu (Gerdu-Taskin) dengan pendekatan pemberdayaan yang dilaksanakan secara terpadu. Oleh karena itu, pengarusutamaan gender perlu diterapkan sebagai strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender.
Pembangunan dan ketidakadilan gender
Pengarusutamaan gender dalam pembangunan
Dalam teori feminis dikatakan bahwa ketimpangan antar jenis kelamin dalam masyarakat bukan hanya timbul karena kedudukan laki-laki dan perempuan yang berbeda, namun juga karena adanya ketidaksetaraan. Fakih (1996:35) mengatakan, ketidakadilan atau ketimpangan gender disebabkan oleh perbedaan antara laki-laki dan perempuan, bukan hanya secara biologis (kodrat) tetapi lebih pada kepribadian yang ditentukan oleh masyarakat (nurture), sehingga perempuan secara situasional dianggap sebagai makhluk yang lemah, laki-laki dianggap lebih kuat dan lebih mampu.
Pendekatan pemberdayaan dalam program pembangunan
Freire menyatakan bahwa yang terpenting bagi kaum tertindas adalah proses kesadaran (process of conscience), yaitu suatu proses kesadaran kritis dalam diri individu terhadap situasi lingkungannya, sehingga individu dengan kemampuannya sendiri dapat mengendalikan lingkungan sekitar. mereka (Amien Sukesi dalam Sugiarti, 2003: 188). Hipotesis yang dikembangkan dalam artikel ini adalah sebagai berikut, pertama, penerapan pengarusutamaan gender dalam kegiatan program Gerdu-Taskin dapat mewujudkan keadilan gender.
Kondisi masyarakat penerima program gerdu-taskin
Tingkat pendidikan penduduk di Desa Suger Kidul didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar yaitu sebanyak 668 orang atau 74,80%. Rendahnya tingkat pendidikan penduduk di Desa Suger Kidul mempengaruhi jenis pekerjaan yang dilakukan masyarakat.
Implementasi pengarusutamaan gender melalui program gerdu-taskin
- Akses Masyarakat dalam Program Gerdu-Taskin
- Partisipasi Masyarakat dalam Program Gerdu-Taskin
- Kontrol Masyarakat dalam Program Gerdu-Taskin
- Manfaat Program Gerdu-Taskin Bagi Anggota Pokmas
Tingkat pengetahuan perempuan mengenai jenis kegiatan program Gerdu-Taskin lebih rendah 41,92% dibandingkan pengetahuan laki-laki. Artinya kegiatan pemberdayaan usaha program Gerdu-Taskin di Desa Suger Kidul lebih terfokus pada laki-laki.
Pemberdayaan masyarakat
Lembaga ini dilaksanakan dalam bentuk kelompok sarowa’an yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Partisipasi perempuan dalam setiap proses pelaksanaan program Gerdu-Taskin masih minim dibandingkan laki-laki.
BAGIAN KEDUA
PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MEMBANGUN
Sebagai pembukaan, artikel ini bertujuan untuk merefleksikan praktik budaya yang terjadi saat ini. Diakui atau tidak, hiruk pikuk budaya yang terjadi saat ini mampu menenggelamkan kesadaran kritis masyarakat terhadap fenomena budaya tersebut.
PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN DAN PENGUATAN POLITIK
Sebuah proses kebudayaan yang idealnya patut dikritisi ulang dalam ranah rumah-rumah multikultural Indonesia. Sebagai aktor partisipan, hendaknya kita mampu memberikan alternatif jawaban terhadap suasana budaya di Indonesia yang saat ini sedang mengalami fenomena sosial yang akut.
MULTIKULTURAL: CATATAN UNTUK REVOLUSI INSTITUSIONAL KEBUDAYAAN
Hal ini tidak dapat ditunda dan sekaligus memerlukan partisipasi kolektif bangsa ini, pasca konflik berkepanjangan2 dan proses pendewasaan demokrasi3 yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, reaktualisasi strategi kebudayaan bangsa ini – sekali lagi – adalah suatu keharusan.
Berpikir strategis kebudayaan
Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa permasalahan utama bangsa ini terletak pada tataran strategi kebudayaan. Bidang pendidikan dan politik, yang seharusnya menjadi pilar strategi kebudayaan yang sedang berjalan, malah dikebiri, diratakan, dan dikomodifikasi.
Disorientasi paradigma pendidikan dan politik
Jika praktik politik seperti ini tidak segera diatasi, negara ini jelas akan mengalami kemerosotan yang sangat dalam. Satu-satunya cara untuk memulihkan praktik politik seperti ini adalah dengan memulihkan dan menerapkan paradigma politik yang benar, yakni mengangkatnya setinggi-tingginya.
Quo vadis pendidikan di Indonesia
Pendidikan dalam konteks seperti ini patut dibaca sebagai salah satu pilar strategi kebudayaan Indonesia, sehingga penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu sistem tidak bisa dianggap remeh. Apalagi mengatasnamakan korporasi modal yang justru menjauh dari landasan kemanusiaan dan strategi kebudayaan Indonesia.
Quo vadis politik Indonesia
Kebijakan kebudayaan mengandung makna bahwa negara ini sebagai sebuah bangsa harus mampu merumuskan arah kebudayaannya secara tepat dan ideal. Bangsa ini tidak pernah bisa lepas dari fakta dan landasan budaya yang dimilikinya.
Penutup: Revolusi institusional kebudayaan 18
Berbagai krisis dan konflik politik nasional dalam konteks ini sebenarnya terletak pada rendahnya kesadaran politik multikultural bangsa ini. Oleh karena itu, penyelidikan etis (baca: refleksi etis) merupakan suatu cara yang menawarkan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi saat ini (Bertens, 2004: 35).
MENGIKIS DISKRIMINASI DALAM DEMOKRASI
Konstitusi yang berperspektif hak asasi manusia tentu memuat norma-norma mengenai hak asasi manusia yang mendasar secara luas. Padahal, pengakuan hak asasi manusia dalam konstitusi merupakan salah satu bentuk perwujudan mendasar dari konsep demokrasi di Indonesia.
Diskriminasi dan prinsip proporsionalitas
Dalam praktiknya, penerapan prinsip non-diskriminasi seringkali bertentangan dengan pembatasan pemenuhan hak asasi manusia berdasarkan kepentingan dan keamanan umum, serta dengan hak-hak dasar orang lain atau “asas proporsionalitas”. Prinsip proporsionalitas adalah suatu batasan. . Namun yang menjadi permasalahan adalah adanya ketentuan 'pertimbangan moral dan nilai agama' dalam konstitusi untuk menentukan batasan hak asasi manusia.
Kesimpulan
Human Rights and Human Dignity: An Analytical Critique of Non-Western Conceptions of Human Rights. International Human Rights in Context, Law Politics MoralsEdisi Ketija, (New York: Oxford University Press, 2008), p.
SESAT NALAR KEBIJAKAN
Hal ini terlihat dari tidak adanya kasus kekerasan terhadap pluralitas, kasus intimidasi dan kekerasan yang dilakukan kelompok agama dan etnis terhadap kelompok yang dianggap “lainnya”.2. Tidak hanya kekerasan dan intimidasi kelompok agama terhadap kelompok agama lain yang diabaikan, negara juga telah menciptakan kebijakan yang memberi ruang bagi kekerasan dan intimidasi tersebut dalam bentuk kebijakan syariah.3.
MEMBACA KEBIJAKAN DISKRIMINATIF DI DAERAH
Kedua, pengurangan hak atas perlindungan dan keamanan hukum dalam bentuk kriminalisasi juga mengabaikan hak atas kehidupan dan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan. Ketiga, pembatasan kebebasan setiap warga negara untuk beribadah menurut keyakinannya dan khususnya pembatasan kebebasan memeluk agama bagi kelompok Ahmadiyah.
Membaca kedok dibalik perda berbasis syariat
Berdasarkan data tahun 2007 saja, dari 5.518 peraturan daerah yang dikaji Kementerian Hak Asasi Manusia, terdapat 1.406 peraturan daerah yang direkomendasikan untuk dibatalkan. Menurut Kementerian Hak Asasi Manusia dan Kementerian Dalam Negeri, dari seluruh peraturan daerah yang mempengaruhi pemerintah pusat, 90% merupakan peraturan daerah yang objek pengaturannya tidak berkaitan langsung dengan pelayanan publik.
Kesalahan nalar kebijakan publik
Eksistensi identitas dipertahankan dengan cara “menghilangkan” yang lain.22 Menurut Theodore Adorno, logika seperti ini disebut dengan “logika identitas”, yaitu upaya untuk menghilangkan perbedaan. Logika kebijakan yang dibangun atas dasar logika identitas seperti ini sangat berbahaya dalam konteks integrasi nasional.
Penciptaan “imajinasi merusak”
Suaedy “Perda Syariah Islam Tidak Menyelesaikan Masalah Sosial” di http/www.wahidinstitute.org/indonesia/content/blogcategory/1/54/. 10 Lihat artikel Suaedy “Perda Syariah Islam Tidak Menyelesaikan Masalah Sosial” di http/www.wahidinstitute.org/indonesia/content/blogcategory/1/54/.
BAGIAN KETIGA SOCIAL MOVEMENT
DAN TANTANGAN
MEMBANGUN CIVIL SOCIETY
Sekelompok nelayan berkumpul di pinggir jalan raya Deandles untuk membahas penderitaan warga yang semakin sulit melaut akibat maraknya penggunaan alat tangkap ministrawl oleh nelayan kompleks Weru dan sekitarnya. Terjadi diskusi bebas dan terbuka di kalangan nelayan, yang kemudian muncul sebagai keinginan kolektif untuk mencari hasil kesepakatan penghapusan penggunaan alat tangkap ikan kecil pada tahun sebelumnya.
DARI PAYANG KE MINITRAWL
Pagi itu, para nelayan Desa Paciran tidak melaut karena angin kencang dan gelombang besar yang terjadi selama beberapa hari pada awal Desember 1999. Kejadian di atas merupakan gambaran apa yang terjadi sebelum perlawanan nelayan tradisional Paciran terhadap aparat pada bulan September. 2 tahun 1999.
PERLAWANAN NELAYAN TRADISONAL TERHADAP NEGARA
Meskipun alat tangkap mini trawl ini bersifat destruktif, namun di perairan Paciran cenderung meningkat. Meski alat penangkapan ikan tersebut banyak beroperasi di perairan laut Jawa, namun kehidupan masyarakat tidak pernah mengalami konflik.
Akar konflik nelayan
Di sisi lain, para nelayan Kompleks Weru dan sekitarnya meyakini bahwa sumber daya perikanan laut merupakan anugerah dan penghidupan Tuhan bagi manusia. Di sisi lain, persaingan sumber daya ikan yang semakin kompetitif di kalangan nelayan mengakibatkan meningkatnya eksploitasi di wilayah pesisir utara Lamongan.13.
Kronologi perlawanan nelayan Paciran
Aksi yang dilakukan nelayan Paciran ini mendapat respon dari nelayan di Desa Komplek Nggul, Kranji, Banjarwati, dan Weru. Kejadian bermula saat nelayan Paciran menggelar aksi protes menuntut kesepakatan pencabutan alat tangkap mini trawl dari kantor Kecamatan Paciran.
Skema konflik nelayan
Nelayan tradisional juga tidak percaya kepada aparat militer yang melindungi penggunaan alat tangkap pukat mini oleh nelayan Kompleks Weru. Kegunaan stempel ini untuk keselamatan kapal pukat mini selama berada di laut karena alat tangkapnya sering dirusak dan dibakar oleh nelayan tradisional Paciran.
Dimensi konflik nelayan
Hal ini terlihat dari adanya kesepakatan antara nelayan tradisional dengan nelayan pengguna mini trawl yang diputuskan bersama Kyai pada tahun 1998 untuk meniadakan penggunaan alat tangkap mini trawl. Basis massa perlawanan nelayan tradisional di Paciran terdiri dari nakhoda (pemilik perahu jaten), anak-anak ras campuran31 dan istri-istri nelayan.
RUANG PUBLIK DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Dalam ruang publik ini, warga negara berkumpul untuk membentuk publik, dimana akal publik akan berfungsi sebagai pengawas kekuasaan negara (Habermas, 1998: 36). Dalam konsep Habermas, media dan ruang publik berfungsi di luar sistem kelembagaan politik yang sebenarnya.
Sejarah publik di Indonesia
Jadi hampir tidak ada perdebatan berarti antara versi publik yang menceritakan sejarah kemerdekaan Indonesia dan versi yang berbasis elite, penguasa, dan orang-orang besar. Di antara perdebatan sejarah yang sangat buruk antara versi pro-publik dan pro-elit, kami dapat menyebutkan sebuah contoh yang jarang terjadi: perdebatan Kahin-Anderson pada periode revolusi kemerdekaan, 1945-1949.
Keberadaan media di Indonesia
Reformasi tersebut juga belum melahirkan ruang publik ideal yang relatif otonom dari dominasi kapital dan rasionalitas birokrasi, serta mampu memobilisasi wacana sosial yang bersifat kualitatif, kontroversial, dan relevan dengan nilai-nilai kewarganegaraan. Perubahan regulasi di bidang media sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menyerahkan urusan publik kepada publik guna menghilangkan kubu sistem bisnis dan birokrasi di ranah publik.
Ruang publik politik
Dalam konteks ini, ruang publik lebih diidentikkan dengan common world yang dipahami dari tingkat keumumannya. Dalam kategori ini, seringkali masing-masing kepentingan dapat bersaing satu sama lain di ruang publik.
Ruang publik yang terreduksi
Dengan fakta seperti itu, politik menjadi ruang publik yang tingkat publisitasnya semakin menurun. Sebab, ruang publik yang maksimal ini mampu beradaptasi dengan berbagai aspirasi dan kepentingan publik yang nyata.
Penutup: Peran kaum intelektual dan media literasi
Ironisnya, belum ada satu pun jurusan Ilmu Komunikasi di Indonesia yang memiliki mata kuliah literasi media tersendiri. Literasi media dipahami secara sepihak sebagai gerakan permusuhan terhadap industri televisi, atau media massa pada umumnya.
METODOLOGI TRANSFER INOVASI USAHA KECIL BERORIENTASI PEMBERDAYAAN
Ada beberapa hal penting dalam pendekatan teori berbasis sumber daya yang dapat meningkatkan daya saing usaha kecil. Usaha kecil dapat dengan mudah beradaptasi dengan merespons perubahan keinginan pelanggan, saluran distribusi, dan kemampuan inovasi (Feigenbaum dan Karnani, 1991).
Konsep pemberdayaan
Artinya, usaha kecil perlu melakukan inovasi agar dapat merancang organisasinya dengan lebih fleksibel, sehingga dapat beradaptasi terhadap perubahan orientasi pasar. Artikel ini akan mengupas dimensi penting inovasi bagi usaha kecil dan metodologi transfer inovasi agar usaha kecil dapat lebih berdaya dan meningkatkan daya saingnya.
Kapabilitas manajemen
Garengo dan Bernardi (2007) merekomendasikan usaha kecil yang ingin meningkatkan keterampilan manajemennya untuk memperhatikan proses makro kegiatan usaha kecil. Penelitian Gareng dan Bernardi (2007) menunjukkan bahwa jika perusahaan kecil mampu menerapkan proses makro, hal ini secara langsung akan mempengaruhi kinerja.
Keunggulan kompetitif berkelanjutan
Hal ini dapat diukur dengan produk dan layanan berkualitas tinggi yang memiliki keberlanjutan dan daya saing perusahaan dalam pasar global yang sangat kompetitif (Garvin, 1998). Usaha kecil dapat mencapai keunggulan kompetitif jika mampu menciptakan produk yang berbeda dengan pesaing (diferensiasi), dengan harga murah, menjaga kelangsungan produksi dan distribusi, serta selalu menerapkan inovasi yang berorientasi pasar.
Pemberdayaan usaha kecil nelayan