Judul : Pemberdayaan Peralatan Berbasis Kompetensi di Kantor Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nama Mahasiswa : S A M S I R. Tujuan penelitian ini adalah (i) menganalisis dan menjelaskan pemberian wewenang, pengembangan kompetensi dan pengambilan keputusan berbasis peralatan tentang pengetahuan, keterampilan dan kemampuan; (ii) menganalisis dan menjelaskan faktor-faktor penentu efektivitas perangkat pemberdayaan berdasarkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan; dan (iii) menganalisis dan menjelaskan prototipe pemberdayaan perangkat sesuai dengan syarat dan ketentuan Kantor Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
BAB II
BAB V
Faktor Penentu Efektivitas Pemberdayaan Perangkat Pada Biro Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan 3.
BAB I
- Latar Belakang Masalah
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Hasil Penelitian
Faktor apa saja yang menjadi faktor penentu penguatan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan aparatur berbasis pada Kantor Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Menganalisis dan menjelaskan prototype otorisasi aparatur yang sesuai dengan kondisi aparatur pada kantor badan kepegawaian daerah provinsi Sulawesi Selatan.
TINJAUAN PUSTAKA
Sumber Daya Manusia
- Manajemen Sumber Daya Manusia
- Pengembangan Sumber Daya Manusia
- Manajemen Sumber Daya Manusia Sektor Publik
- Pengembangan Sumber Daya Manusia Sektor Publik
Pengembangan sumber daya manusia yang memadai juga akan memandu siklus kepemimpinan dalam organisasi. Strategi pengembangan sumber daya manusia pada organisasi swasta memperhatikan keinginan dan kebutuhan individu.
Pemberdayaan
- Konsep Pemberdayaan
- Model Pemberdayaan
- Pemberdayaan Aparatur
- Pemberdayaan dan Kinerja Aparatur
- Prinsip dan Karakteristik Pemberdayaan Aparatur PNS
Faktanya, istilah “pemberdayaan” telah menjadi kata yang elastis, digunakan dalam konteks yang berbeda-beda, sehingga mengaburkan makna sebenarnya (Aithai, 2005). Dalam konteks manajemen kepegawaian, pemberdayaan PNS pada akhirnya diartikan sebagai proses pemberian tenaga, kekuasaan, kompetensi dan wewenang kepada pegawai. Selain itu, makna pemberdayaan juga mengandung arti dan makna bahwa independensi atau profesionalitas PNS merupakan hal yang sangat mendasar.
Pendekatan pemberdayaan PNS dilakukan melalui prosedur analitis berdasarkan pada penggalian potensi berdasarkan kompetensi dan sumber daya (Resource-Based Approach) serta menciptakan dan mengoptimalkan keunggulan berdasarkan kompetensi sumber daya (Resource-Based advantage). Pemberdayaan PNS dengan demikian tidak hanya untuk analisis potensi, namun juga untuk meningkatkan kualitas kinerja dan produktivitas. Pemberdayaan PNS pada prinsipnya dilakukan dengan pendekatan pengelolaan sumber daya berbasis kompetensi, yang meliputi pengelolaan dan pemanfaatan karakteristik potensi dan kapasitas.
Penerapan aparatur sipil negara dilakukan melalui prosedur OADI (Observasi, Penilaian, Perancangan, Implementasi) dan analisis terhadap karakteristik potensi, guna memperoleh gambaran dan informasi yang jelas tentang kemampuan, yang meliputi pengetahuan kerja sampai batas tertentu sesuai dengan kemampuannya. jabatan (pekerja berbasis pengetahuan), kemampuan untuk menunjukkan keterampilan kinerja fisik atau kelompok mental (pekerja multi keterampilan), dalam hal sikap, pandangan, nilai, tindakan, perilaku kinerja dalam pelaksanaan tugas kerja dan jabatan (attitude pekerja). Konsep pemberdayaan PNS secara tersirat, terkandung dan tersirat bahwa independensi atau profesionalisme PNS merupakan hal yang sangat mendasar.
Kompetensi Aparatur
Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil, kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pegawai negeri sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan jabatannya. Kemampuan (ability) adalah sesuatu yang dimiliki seseorang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang diberikan kepadanya. Pengetahuan, kompetensi yang berkaitan dengan informasi yang dimiliki atau dikuasai seseorang dalam bidang pekerjaan tertentu.
Sikap dan nilai diukur melalui tes terhadap responden untuk mengetahui nilai-nilai apa yang dimiliki seseorang, apa yang membuat seseorang tertarik melakukan aktivitas tertentu. Bahwa pengetahuan keterampilan dan ketrampilan cenderung lebih nyata dan relatif dipermukaan sebagai salah satu ciri yang dimiliki seseorang. Selain itu kompetensi juga dinyatakan sebagai seperangkat tindakan cerdas, bertanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat yang harus diperhatikan oleh aparatur untuk mampu melaksanakan tugas.
Faktor-faktor Determinan
- Karakteristik Organisasi
- Karakteristik Lingkungan
- Karakteristik Pekerja
- Kebijakan dan Praktek Manajemen
- Faktor Lingkungan Kerja
- Komitmen Kepemimpinan
- Budaya Kerja Organisasi
Steers, seperti teori pengembangan organisasi yang menekankan pada perubahan terencana dalam organisasi dengan tujuan meningkatkan efektivitas organisasi. Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya dipengaruhi oleh komponen-komponen organisasi, antara lain: (1) struktur, (2) tujuan, (3) orang, (4) peraturan perundang-undangan (5) prosedur operasi yang berlaku, (6) teknologi, (7) lingkungan , (8) kompleksitas, (9) spesialisasi, (10) wewenang, (11) pembagian kerja. Sedangkan satuan kerja dilaksanakan karena dalam organisasi terdapat kegiatan pengorganisasian satuan organisasi yang mempunyai wilayah kerja atau fungsi tertentu.
Struktur yang dibangun dan teknologi yang digunakan dalam organisasi akan sangat mempengaruhi proses dan pencapaian tujuan. Suatu organisasi sebagai organisasi terbuka, kelangsungan hidupnya akan sangat bergantung pada lingkungan sekitar, baik di dalam organisasi maupun di luar organisasi. Abdullah dan Herlin Arisanti menjelaskan: 1) Robbins (1996) menyatakan budaya organisasi adalah persepsi bersama yang dianut oleh anggota organisasi; 2) Schein (1992) menyatakan bahwa budaya organisasi adalah pola dasar yang diterapkan oleh suatu organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk pegawai yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota organisasi. Oleh karena itu, para anggota, termasuk anggota baru, harus diajari cara mempelajari, berpikir dan merasakan yang benar tentang masalah yang dihadapinya; 3) Wood (2001), budaya organisasi adalah suatu sistem kepercayaan dan nilai-nilai yang dikembangkan oleh suatu organisasi yang menjadi pedoman perilaku kerja para anggota organisasi itu sendiri.
Kerangka Konseptual
- Pelibatan dalam Pengambilan Keputusan
Dalam masyarakat, budaya organisasi mempengaruhi nilai/etika individu, sikap, asumsi dan harapan individu. Untuk memperkuat pegawai diperlukan pegawai yang mempunyai kompetensi, yaitu keterampilan dan atribut yang dimiliki pegawai berupa pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya. Pemberdayaan perangkat dilaksanakan dalam organisasi melalui pemberian kewenangan yang jelas, pengembangan kompetensi, pemanfaatan peluang, pembagian tanggung jawab dan pengembangan budaya organisasi serta pengembangan sikap saling mendukung.
Pemberdayaan aparatur yang sangat signifikan, strategis dan menyeluruh pada setiap proses kegiatan organisasi dan manajemen sehingga dapat tercapai kinerja sesuai yang diharapkan. Berdasarkan pemberdayaan perangkat, perlu diketahui juga faktor organisasi yang mempengaruhi pemberdayaan perangkat berbasis kompetensi. Perangkat yang diotorisasi dengan demikian adalah perangkat yang memiliki kesesuaian pekerjaan, pembagian tugas, kemandirian dalam bekerja dan akses yang setara, serta menemukan model yang efektif untuk otorisasi perangkat.
PROTOTYPE PEMBERDAYAAN
APARATUR
- Hasil Penelitian Terdahulu
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Waktu dan Lokasi Penelitian
- Sumber Data
- Sasaran dan Fokus Penelitian
- Sasaran Penelitian
- Fokus Penelitian
- Deskripsi Fokus Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan dan Pengabsahan Data 1. Teknik Pengumpulan Data
- Pengabsahan Data
- Teknik Analisis Data
Selain itu, Badan Kepegawaian Daerah mempunyai referensi pemberdayaan aparatur berbasis kompetensi di lingkungan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data terkait pemberdayaan pegawai berbasis kompetensi yang dilakukan di kantor Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Tujuan penelitian ini adalah para informan yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam pemberdayaan pejabat berbasis kompetensi di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
Faktor penentu pemberdayaan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan aparatur pada Kantor Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Prototipe pemberdayaan berbasis kompetensi yang sesuai dengan ketentuan aparatur Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil wawancara dijadikan dasar untuk membenarkan kebenaran hasil penilaian mengenai respon pegawai terhadap Pemberdayaan Aparatur Berbasis Kompetensi pada Kantor Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
Data Collection
Data Display
Data
Drawing/Veriling
Sejarah Perkembangan Badan Kepegawaian Daerah
Badan Administrasi Umum Daerah Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan pengembangan dari Badan Layanan Umum sebelumnya. Ketika pemerintah provinsi Sulawesi Selatan melakukan restrukturisasi organisasi pada tahun 2000 akibat berlakunya Undang-undang Republik Indonesia no. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, susunan organisasi Kantor Kepegawaian Sekretariat Daerah Provinsi I Tingkat I mengalami perubahan sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 159 Tahun 2000 tentang Pedoman Pembentukan Badan Administrasi Umum Daerah dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 25 Tahun 2000 tentang Administrasi Negara dan Kekuasaan Provinsi sebagai Daerah Otonom. Kepala Badan Administrasi Umum Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang pertama sejak pergantian adalah Dr.
Badan Administrasi Umum Provinsi Sulawesi Selatan menempati salah satu gedung di kawasan Kantor Gubernur Sulsel di Jalan Jend.
Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan
- Visi dan Misi
- Tujuan
- Sasaran
Penguatan kapasitas Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan untuk mendorong profesionalisme, kompetensi dan kinerja PNS. Terwujudnya peningkatan kapasitas kelembagaan dan kapasitas manajemen untuk mendorong profesionalisme, kompetensi, dan kinerja sumber daya aparatur. Terwujudnya peningkatan kapasitas dan profesionalisme sumber daya aparatur berbasis kompetensi, dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme sumber daya aparatur berbasis kompetensi.
Mewujudkan peningkatan kapasitas kelembagaan dan kapasitas manajemen untuk mendorong profesionalisme, kompetensi dan kinerja sumber daya aparatur, dengan tujuan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan manajemen. Terwujudnya sumber daya aparatur yang sejahtera dan berdisiplin tinggi, dengan tujuan meningkatkan disiplin aparatur dan kesejahteraan pegawai. Terwujudnya pelayanan administrasi kepegawaian yang unggul berbasis teknologi informasi dan komunikasi, dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan administrasi kepegawaian.
Strategi, Kebijakan dan Nilai-nilai Organisasi
Pejabat yang berkompeten di bidangnya, mempunyai pengetahuan, keahlian, keterampilan, wawasan luas, menjunjung tinggi etika profesi, mempunyai dedikasi, komitmen dan tanggung jawab terhadap tugas dan jabatannya, serta berperilaku disiplin dan mempunyai integritas yang tinggi. Kesejahteraan PNS diwujudkan dengan mempertimbangkan beban kerja dan usaha kerja/produktifitas marjinal serta didukung dengan sistem penghargaan yang adil dan rasional untuk menumbuhkan motivasi meningkatkan kinerja dan mewujudkan PNS bebas dari KKN.
Organisasi Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan
- Struktur Organisasi Badan Kepegawaian Daerah
- Keadaan Pegawai Badan Kepegawaian Daerah
- MAGISTER (S2)
- Tugas Pokok dan Fungsi Badan Kepegawaian Daerah a. Tugas Pokok
- Tupoksi dan Rincian Tugas Jabatan Strukturan BKD
- Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
- Sub Bagian Keuangan
- Sub Bagian Program
- Sub Bidang Perencanaan dan Pengembangan Pegawai
- Sub Bidang Mutasi Jabatan
Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat diketahui bahwa rata-rata kelas/ruangan pegawai di lingkungan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan berada pada kelas/ruangan III yang berjumlah 55 pegawai dan IV yang berjumlah 9 pegawai, untuk tahun 2016. Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dikemukakan bahwa keadaan pegawai berdasarkan tingkat pendidikan pada Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan berjumlah 46 pegawai yang mempunyai tingkat pendidikan sarjana (S1), dan 11 pegawai mempunyai tingkat pendidikan magister (S2), dan masih terdapat 20 karyawan yang berpendidikan SLTP, SLTA, dan Diploma. Berikut disajikan susunan pegawai berdasarkan eselon pada Badan Kepegawaian Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2016 sebagai berikut :.
Berikut kedudukan pegawai menurut tingkat pendidikan, golongan/golongan dan jabatan pada Badan Administrasi Umum Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016 sebagai berikut: Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. 6 Tahun 2011, Badan Administrasi Umum Daerah Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang kepegawaian berdasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Badan Kepegawaian Daerah dipimpin oleh Kepala Badan yang tugas pokoknya menangani urusan kepegawaian menurut asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan.