Perubahan Sarekat Dagang Islam dari Organisasi Ekonomi menjadi Organisasi Politik (1900-1912)
Salma Arifiana
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga [email protected]
ABSTRACT
A. PENDAHULUAN
Pada awal abad ke-20, Indonesia masih dikuasai oleh para kolonial Belanda. Para penjajah ini selain berusaha untuk menguasai wilayah Indonesia, mereka juga berusaha menguasai perekonomian di Indonesia. Kebijakan dalam bidang sosial yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda, sangat berdampak kepada perekonomian masyarakat Indonesia. Kebijakan sosial tersebut menimbulkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat, sehingga masyarakat Indonesia terpecah menjadi kelompok Pribumi, Cina, dan Belanda.1
Kebijakan sosial yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda sangat menguntungkan bagi para pedagang Cina, karena mereka berada di pihak Belanda. Pemerintah Belanda membuat suatu kebijakan khusus bagi pedagang Cina, yaitu dengan memberi kebebasan berdagang bagi orang-orang Cina. Pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan tersebut bukan semata-mata ingin membantu pedagang Cina, namun agar membuat pedagang pribumi dapat dikendalikan oleh Pemerintah Belanda. pedagang Cina dianggap sebagai perantara antara Pemerintah Belanda dengan para pedagang pribumi. Sehingga membuat pedagang Cina lebih unggul dibandingkan dengan pedagang pribumi. Hal tersebut sangat dirasakan oleh para pedagang kain batik, yang mana pedagang Cina mengendalikan serta memonopoli harga dan bahan untuk memproduksi batik.2
Para pedagang pribumi merasa semakin tertindas dengan dikuasainya jalur perdagangan batik. Sehingga menimbulkan kemarahan para pedagang batik yang tidak terima dengan sistem yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda. Salah satu pedagang batik yang cukup terpandang, membuat sebuah perkumpulan bersama para pedagang batik lainnya dengan tujuan untuk
1 Muhammad Kaffin Mustakif dan Mumung M, “Sarekat Dagang Islam (1905-1912): Between The Savagery
Of Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) and The Independence Of Indonesia” International Journal of Nusantara Islam Vol.07 No.01 2019. hlm. 8.
2 Zuhroh Latifah, Sarekat Islam Pelopor Gerakan Kebangsaan dalam Gerakan-Gerakan Islam Indonesia
Kontemporer. (Yogyakarta: Adab Press, 2020) hlm. 4.
menyaingi para pedagang Cina. Maka berdirilah Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh K.H. Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905. Organisasi ini telah lama diinginkan oleh masyarakat pribumi, dengan harapan dapat membantu perekonomian yang sudah tertindas oleh Pemerintah Belanda ini.
Organisasi ini mengalami peningkatan anggota yang signifikan. Karena banyaknya masyarakat pribumi yang mulai masuk ke dalam organisasi ini, selain itu organisasi ini sudah dikenal hingga seluruh pulau Jawa. Pemerintah Belanda khawatir semakin meluasnya organisasi ini, kemudian melarang Sarekat Dagang Islam untuk melakukan kegiatan yang memicu penambahan anggota, serta mereka juga menggeledah kediaman para aktivis Sarekat Dagang Islam. K.H. Samanhudi yang khawatir jika organisasi ini dibubarkan, meminta bantuan kepada H.O.S. Cokroaminoto yang pada saat itu menjabat sebagai pimpinan organisasi Sarekat Dagang Islam di Surabaya, untuk bertindak sebagai penyusun kembali organisasi Sarekat Dagang Islam.
H.O.S. Cokroaminoto yang telah diberikan kewenangan atas organisasi Sarekat Dagang Islam ini, menambahkan beberapa tujuan organisasi ini agar tidak menyinggung pemerintah Belanda. Namun pada tahun 1912, H.O.S. Cokroaminoto mengganti nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam, organisasi ini tidak berfokus pada permasalahan ekonomi saja, namun berfokus pada hal politik juga.3 Bahkan pada perkembangan selanjutnya organisasi ini banyak bergabung dengan organisasi-organisasi politik seperti Volksraad, Pan-Islam, PPPKI, GAPI dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas artikel ini membahas perubahan fokus Sarekat Dagang Islam dari organisasi ekonomi menjadi organisasi politik. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dibahas sebab penelitian-penelitian sebelumnya belum secara jelas membahas perubahan fokus Sarekat Dagang Islam. Terdapat beberapa kajian terdahulu yang membahas mengenai perkembangan Sarekat Dagang Islam hingga menjadi Sarekat Islam antara lain: Kaffin (2019), mengkaji tentang pengaruh kebijakan VOC pada abad ke-19 yang berdampak hingga awal abad ke-20 terutama kebijakan pada bidang ekonomi. Kemudian memicu kemarahan pedagang pribumi, sehingga mereka mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islam yang pada
3 Retno Winarni dan Ratna Endang, “Konflik Politik dalam Pergerakan Sarekat Islam 1926” Jurnal Literasi
Vol. 5 No. 2, Desember (2015). hlm. 218.
perkembangannya organisasi ini berganti nama menjadi Sarekat Islam.4 adapun artikel yang tidak jauh membahas Sarekat Dagang Islam yaitu Yasmis (2009)5 dan Abdullah (2019)6, kedua artikel ini memiliki persamaan yaitu mengkaji tentang latar belakang berdirinya Sarekat Dagang Islam yang kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam, yang kemudian menjadi organisasi yang berfokus pada politik demi kemerdekaan Indonesia. Kedua penelitian tersebut berfokus pada perkembangan Sarekat Dagang Islam kemudian menjadi Sarekat Islam, yang selanjutnya berjuang menjadi organisasi politik, dengan masuknya pengaruh komunis dan mengalami perpecahan dalam Sarekat Islam.
penelitian selanjutnya yaitu Izzur (2015), mengkaji tentang lahirnya Sarekat Dagang Islam pada bidang ekonomi, sebagai ancaman bagi pemerintah Belanda. Selain itu juga dengan tujuan untuk mengimbangi dominasi pedagang Tionghoa yang didukung oleh pemerintah Belanda.7 Penelitian selanjutnya dari Muthahharah (2015). mengkaji tentang riwayat hidup serta peran K.H. Samanhudi dalam organisasi Sarekat Dagang Islam, yang mana ia merupakan pencetus Sarekat Dagang Islam. Dalam penelitian ini membahas mengenai pemikiran keagamaan K.H. Samanhudi yang banyak terpengaruh dari para pembaharu di Timur Tengah.8
Penelitian ini berfokus membahas perubahan fokus Sarekat Dagang Islam yang semula bergerak di bidang ekonomi menjadi bergerak di bidang politik. Pokok permasalahan penelitian ini adalah mengapa Sarekat Dagang Islam mengubah organisasinya menjadi bergerak di bidang politik dan apa penyebab perubahan tersebut. Artikel ini berusaha membahas secara mendalam mengenai alasan-alasan Sarekat Dagang Islam mengubah organisasinya menjadi politik, termasuk didalamnya membahas mengenai latar belakang berdirinya Sarekat Dagang Islam.
Kemudian membahas penyebab Sarekat Dagang Islam berubah menjadi organisasi politik dengan nama Sarekat Islam. Oleh karena itu penelitian ini akan menganalisis mengenai alasan- alasan terjadinya perubahan fokus dalam organisasi Sarekat Dagang Islam.
4 Muhammad Kaffin Mustakif dan Mumung M, “Sarekat Dagang Islam (1905-1912): Between The Savagery
Of Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) and The Independence Of Indonesia” International Journal of Nusantara Islam Vol.07 No.01 2019.
5 Yasmis, “Sarikat Islam dalam Pergerakan Nasional Indonesia (1912-1927)”, Jurnal Sejarah Lontar Vol.
6, No. 1 Januari -Juni 2009.
6 Abdullah Khusairi, “Organisasi Massa Islam Awal Abad 20: Telaah terhadap Perjalanan Gerakan Sarekat Islam”, Jurnal Hikmah, Vol. 13, No. 2 Desember, 2019. hlm. 241-257.
7 Izzur Rozabi, “Sarekat Dagang Islam : Kemandirian Ekonomi Islam dibawah Tekanan Pemerintah Kolonial
Belanda”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawidjaya Vol. 3, No. 2.
8 Muthahharh, “K.H. Samanhudi dan Sjarikat Dagang Islam”, Jurnal Al-Fikr, Vol. 19, No, 1, 2015. hlm. 116- 126.
B. METODOLOGI
Pendekatan penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis. Pendekatan ini dipilih untuk menambah wawasan dalam bidang sejarah yang terbilang kurang, karena sumber yang ditemukan tidaklah banyak dan masih dibutuhkan penjelasan yang valid. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis yang terdiri atas pengumpulan data (heuristik), kritik sumber (verifikasi), interpretasi, dan historiografi.9
Pengumpulan data (heuristik) peneliti mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan Sarekat Dagang Islam. Peneliti mencari sumber-sumber serta bukti-bukti yang diperoleh dari perpustakaan, serta literatur terbaru. Kritik sumber merupakan proses pengkritikan terhadap sumber serta bukti-bukti yang diperoleh pada tahap awal. Kritik dilakukan secara intern dan ekstern. Pada tahap intern, peneliti memperoleh fakta-fakta sejarah dari data-data yang telah diseleksi dan dibandingkan. Interpretasi, peneliti menempatkan makna yang memiliki keterkaitan dengan fakta-fakta yang telah terkumpul. Pada tahap ini peneliti melakukan penafsiran terhadap penyebab terjadinya perubahan fokus dalam organisasi Sarekat Dagang Islam yang semula berfokus pada bidang ekonomi menjadi berfokus pada bidang politik dengan cara membandingkan serta menghubungan makna dari fakta-fakta sejarah yang telah diuji. Historiografi, peneliti menyusun hasil interpretasi dari fakta-fakta sejarah, sehingga menjadi suatu karya sejarah dengan kisah yang selaras, mudah dipahami dan memiliki bukti yang kredibilitas.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Latar Belakang berdirinya Sarekat Dagang Islam
Keadaan di Indonesia yang pada awal abad ke 20 mulai banyak dikuasai oleh Pemerintah Belanda, bahkan hingga perekonomian pribumi pun dikelola oleh mereka. Prinsip ekonomi liberal yang sudah digunakan sejak tahun 1870 dan sudah berjalan selama 20 tahun memberikan keuntungan bagi para penguasa Belanda dan Eropa lainnya10 Persaingan perdagangan di Indonesia pada saat itu tidak hanya dirasakan antara Pemerintah Belanda
9 Dien Madjid dan Johan Wahyudi, Ilmu Sejarah: Sebuah Pengantar, (Jakarta: Kencana, 2014), hlm. 219- 236.
10 Yasmis, Sarikat Islam dalam Pergerakan Nasional Indonesia (1912-1927), hlm. 23.
dengan pribumi akan tetapi juga dengan para pedagang dari Cina. Pedagang-pedagang Cina yang sangat mendominasi perdagangan masyarakat pribumi, disebabkan karena mereka mendapatkan hak dan status sosial yang lebih tinggi daripada masyarakat pribumi. Para pedagang Cina ini sangat mengawasi pemasaran yang dilakukan oleh pribumi, dan mereka mendapatkan hak untuk memonopoli hasil perdagangan masyarakat pribumi. Sehingga para pedagang pribumi tidak mendapatkan penghasilan dari apa yang telah mereka kerjakan.
Pemerintah Belanda memberikan fasilitas kepada pedagang Cina untuk menjadi pengusaha-pengusaha batik. Hal tersebut dilakukan Pemerintah Belanda agar penduduk pribumi menyerah dalam bidang perekonomian. Para pedagang Cina ini menjual batik dapat menjual kain batik dengan harga yang murah, karena mereka membeli bahan-bahannya langsung dari importir bangsa Eropa. Sedangkan pengusaha pribumi menjual batik-batik tersebut dengan harga yang lebih mahal karena mereka sulit untuk membeli kain batik yang dibeli dari kelas menengah yang dikuasai oleh orang-orang Cina.11 Hal ini menyebabkan para pengusaha pribumi mengalami kerugian yang besar, karena mereka juga kalah daya saing dengan pengusaha Cina. Keresahan yang dirasakan para pedagang batik pribumi ini, menyatukan mereka untuk melakukan perlawanan kepada Pemerintah Belanda dan pengusaha Cina. Kemudian dibentuklah sebuah kelompok pengusaha batik di Lawean yang dipelopori oleh K.H. Samanhudi, ia bersama saudara-saudara dan teman-temannya yang merupakan para pengusaha batik dan pegawai rendah Kasunanan Surakarta membentuk perkumpulannya dengan nama “Rekso Rumekso” yang diartikan saling menjaga.12
K.H. Samanhudi dan kelompoknya bukanlah dari kalangan orang terpelajar, sehingga mereka tidak memahami tentang pemerintahan yang mengharuskan bahwa suatu organisasi harus memerlukan badan hukum. Perkumpulan mereka pun dibantu oleh Raden Martodharsono, yang merupakan bekas redaktur Medan Priyayi untuk mengorganisasikan suatu koperasi dagang dan sekaligus memecahkan masalah badan hukum.13 Setelah itu perkumpulan ini berganti nama menjadi Sarekat Dagang Islam yang ditetapkan pada 16 Oktober 1905, dengan tujuan untuk menghimpun para pengusaha pribumi Muslim, agar dapat bersaing dengan pengusaha-pengusaha Cina. Ketika nama Sarekat Dagang Islam (SDI) mulai banyak
11 Zuhroh Latifah, Sarekat Islam Pelopor Gerakan Kebangsaan dalam Gerakan-Gerakan Islam Indonesia Kontemporer, hlm. 4.
12 Retno Winarni dan Ratna Endang, Konflik Politik dalam Pergerakan Sarekat Islam 1926, hlm. 218.
13 Ibid, hlm. 219.
diberitakan di surat kabar lokal, hal ini menarik perhatian banyak masyarakat pribumi terutama masyarakat yang beragama Islam untuk menjadi anggota dari organisasi ini.14
14 Zuhroh Latifah, Sarekat Islam Pelopor Gerakan Kebangsaan dalam Gerakan-Gerakan Islam Indonesia Kontemporer, hlm. 5.