APA SAJA SANKSI YANG DAPAT DIKENAKAN KEPADA PIHAK YANG MELAKUKAN WANPRESTASI DALAM HUKUM PERIKATAN
Dalam hukum perikatan, perjanjian merupakan hubungan hukum yang mengikat kedua belah pihak atau lebih untuk saling memenuhi kewajiban masing-masing yang telah disepakati bersama. Salah satu pihak wajib melakukan prestasi, yang maksudnya adalah melaksanakan kewajiban yang telah disepakati dalam perjanjian. Prestasi ini berupa tindakan tertentu, memberikan sesuatu, atau bahkan tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya. Maka ketika sebelah pihak gagal memenuhi kewajibannya, hal ini disebut wanprestasi, yang dapat menyebabkan konsekuensi berupa sanksi kepada pihak yang tidak melaksanakan prestasi tersebut.
Dalam konteks hukum perikatan di Indonesia, pengaturan mengenai wanprestasi memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga kepastian dan keadilan dalam pelaksanaan perjanjian. Wanprestasi, yang didefinisikan sebagai kegagalan debitur untuk memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati, dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), khususnya Pasal 1234, prestasi yang harus dipenuhi oleh debitur dapat berupa memberikan sesuatu, melakukan suatu tindakan, atau tidak melakukan tindakan tertentu. Ketidakpatuhan terhadap salah satu dari kewajiban ini dapat mengakibatkan debitur dianggap melakukan wanprestasi.
Terdapat beberapa unsur yang harus dipenuhi untuk mengkategorikan suatu tindakan sebagai wanprestasi, antara lain ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban, pelaksanaan yang tidak sesuai dengan ketentuan perjanjian, keterlambatan dalam memenuhi kewajiban, atau bahkan melakukan tindakan yang dilarang oleh perjanjian.1
Wanprestasi ini berimplikasi pada beberapa sanksi yang dapat ditujukan terhadap pihak pelanggar nya, seperti yang diatur dalam kitab undang-undang hukum perdata (KUHP perdata) Indonesia. Sanksi atau hukuman ini tujuannya adalah untuk mengembalikan pihak yang dirugikan pada posisi semula, memberikan ganti rugi, atau memastikan bahwasanya perjanjian tetap terlaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebelumnya.
Ganti rugi adalah bentuk kompensasi yang diberikan kepada pihak yang dirugikan akibat wanprestasi. Hal ini diatur dalam Pasal 1234 KUHPerdata yang menyebutkan bahwa pihak yang melanggar perjanjian wajib mengganti kerugian yang ditimbulkan. Ganti rugi ini
1Yoliandri Nur Sharky & Gunawan Djajaputra, Akibat Hukum Terjadinya Wanprestasi Dalam Perjanjian Kerja Tanpa Adanya Jaminan, 6 UNES Review 2, 2024,
https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i2.
bisa berupa penggantian biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi kerugian yang timbul atau penggantian atas keuntungan yang hilang akibat tidak terpenuhinya perjanjian.
Pemenuhan prestasi juga bisa menjadi sanksi, yang memungkinkan untuk pihak yang dirugikan menuntut supaya pihak yang wanprestasi tetap melaksanakan kewajibannya.
walaupun telah terjadi sebuah pelanggaran. Pemenuhan prestasi ini bisa dilakukan secara sukarela oleh pihak pelanggar atau dengan bantuan pengadilan jika dibutuhkan. Hal ini tujuannya adalah untuk mengembalikan pelaksanaan perjanjian sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat di awal.
Tidak hanya itu, pembatalan perjanjian menjadi sanksi yang lebih fatal, yang bisa dilakukan saat wanprestasi dianggap sangat sangat merugikan dan tidak bisa diterima lagi.
Pembatalan ini dapat dilakukan dengan atau tidak adanya perantara pengadilan, tergantung pada ketentuan yang terdapat di dalam perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya.
Pembatalan perjanjian ini berfungsi untuk mengakhiri kewajiban yang telah tertunda lama dan mengembalikan keadaan pihak pihak terkait ke posisi semula sebelum dilaksanakannya perjanjian. Secara keseluruhan, sanksi terhadap wanprestasi ini tidak hanya berfungsi untuk menghukum pihak yang melanggar, tetapi juga untuk menegakkan keadilan dan memulihkan hak pihak yang dirugikan. Sanksi-sanksi tersebut memberikan dasar hukum yang kuat dalam menjaga kepastian hukum dan integritas perjanjian yang telah dibuat antara pihak-pihak yang terlibat.
Setelah memahami konsep dasar wanprestasi, salah satu sanksi yang umumnya diterapkan adalah pemberian ganti rugi kepada pihak yang dirugikan. Ganti rugi ini berfungsi sebagai kompensasi atas kerugian yang timbul akibat ketidakmampuan pihak yang melakukan wanprestasi untuk memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian. Dalam hukum perdata Indonesia, ketentuan mengenai ganti rugi diatur dalam Pasal 1243 KUHPerdata, yang mencakup dua jenis kerugian, yakni kerugian materiil dan immateriil. Ganti rugi materiil meliputi kerugian yang dapat dihitung secara nyata, seperti kerusakan atau kehilangan harta benda, sementara kerugian immateriil mencakup dampak seperti rasa sakit, kehilangan peluang bisnis, atau kerugian emosional.2
Sanksi ini bertujuan untuk mengembalikan posisi pihak yang dirugikan seolah-olah perjanjian telah dipenuhi sesuai dengan ketentuan yang ada. Pihak yang dirugikan berhak menuntut ganti rugi baik secara langsung maupun tidak langsung, sesuai dengan dampak yang
2 Hamdi, Naufal Razzan, et al., Upaya Hukum Terhadap Wanprestasi: Perspektif Hukum Perikatan dan Penegakan Hukum di Indonesia, Jurnal Ilmu Hukum 2, no. 1 (Oktober 2024): 194-204, https://doi.org/10.62017/syariah.
dialami akibat wanprestasi tersebut. Ganti rugi tidak hanya mencakup kerugian yang dapat dihitung secara finansial, tetapi juga dapat mencakup kerugian yang bersifat non-material, yang lebih sulit diukur secara kuantitatif namun tetap memberikan dampak besar terhadap pihak yang dirugikan.
Menurut jurnal yang pertama (Hamdi et al., 2024), pihak yang dirugikan dapat menuntut ganti rugi atas dasar kerugian yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran kontrak.
Ganti rugi yang diberikan bertujuan untuk memulihkan keadaan pihak yang dirugikan, meskipun hal ini tidak selalu dapat mengembalikan kondisi tersebut sepenuhnya. Sebagai contoh, dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 1386K/PDT/2020, PT Karya Metropolitan Utama menuntut ganti rugi akibat kegagalan Yayasan Abdurrab untuk memenuhi kewajibannya dalam perjanjian kontrak yang telah disepakati. Hal ini menunjukkan bahwa ganti rugi merupakan salah satu bentuk perlindungan terhadap pihak yang dirugikan dalam hukum perikatan Indonesia.3
Pemenuhan prestasi juga merupakan salah satu sanksi yang dapat dikenakan kepada pihak yang melakukan wanprestasi dalam hukum perikatan. Sanksi ini bertujuan agar pihak yang wanprestasi dapat memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang disepakati dalam perjanjian. Pemenuhan prestasi menjadi alternatif yang mendasar dan tepat dalam menyelesaikan masalah wanprestasi, karena sanksi ini lebih mengutamakan pemulihan keadaan awal sesuai dengan kesepakatan perjanjian, daripada hanya memberikan kompensasi melalui ganti rugi.
Dalam praktiknya, pengadilan dapat memutuskan agar pihak yang wanprestasi memenuhi prestasinya, dengan menambahkan biaya atau syarat tertentu jika diperlukan.
Pemenuhan prestasi ini mengacu pada Pasal 1243 KUH Perdata, yang menyatakan bahwa pemenuhan prestasi harus dilakukan sesuai dengan isi perjanjian, baik berupa barang, tindakan, atau pelaksanaan kewajiban yang telah disepakati. Oleh karena itu, jika pihak yang dirugikan menginginkan agar pihak yang wanprestasi tetap melaksanakan kewajibannya, pengadilan dapat memberikan keputusan untuk memaksakan pemenuhan prestasi tersebut.
Namun, pemenuhan prestasi tidak selalu mudah dilakukan, terutama apabila pihak yang wanprestasi sudah tidak mampu atau enggan melaksanakan kewajibannya. Dalam hal ini, pengadilan bisa memberikan keputusan yang lebih tegas untuk memastikan pemenuhan kewajiban tersebut dapat terlaksana, meskipun dengan tambahan biaya atau syarat tertentu.
3 Hamdi, Naufal Razzan, et al., “Upaya Hukum Terhadap Wanprestasi: Perspektif Hukum Perikatan dan Penegakan Hukum di Indonesia,” Jurnal Ilmu Hukum 2, no. 1 (Oktober 2024): 194-204, https://doi.org/10.62017/syariah.
Sebagai contoh, pengadilan dapat mengarahkan pihak yang wanprestasi untuk menyelesaikan kewajibannya dalam jangka waktu tertentu atau dengan cara yang berbeda dari yang telah disepakati sebelumnya. Meskipun demikian, pemenuhan prestasi ini lebih diutamakan jika dibandingkan dengan pemberian ganti rugi, karena dengan pemenuhan prestasi, pihak yang dirugikan dapat kembali mendapatkan apa yang telah menjadi haknya.
Selain itu, dalam kasus tertentu, pihak yang dirugikan juga bisa saja memilih untuk membawa permasalahan wanprestasi ini ke pengadilan untuk mendapatkan pemenuhan prestasi. Proses ini dimulai dengan pengajuan gugatan ke pengadilan yang kemudian akan memutuskan apakah pihak yang wanprestasi harus memenuhi kewajibannya atau tidak.
Apabila pengadilan memutuskan untuk mengabulkan permohonan pemenuhan prestasi, maka pihak yang wanprestasi wajib untuk melaksanakan kewajiban sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat sebelumnya.4
terkait dengan hal ini aspek lain yang perlu diperhatikan adalah apakah pemenuhan prestasi tersebut masih relevan dan bisa diterapkan dalam konteks perjanjian yang ada. Jika sudah tidak memungkinkan bagi pihak yang wanprestasi untuk memenuhi kewajibannya, maka pengadilan boleh saja memberikan alternatif berupa ganti rugi atau pembatalan perjanjian.
Meskipun seperti itu, jika pemenuhan prestasi masih dapat dilaksanakan, maka pengadilan tentunya akan lebih memilih untuk memutuskan supaya pihak yang wanprestasi tetap memenuhi kewajibannya. Hal ini sesuai dengan prinsip dalam hukum perikatan yang mengutamakan pelaksanaan perjanjian yang benar dan sah.
Secara keseluruhan, sanksi pemenuhan prestasi menjadi salah satu langkah penting dalam penyelesaian wanprestasi. Dalam hukum perikatan, pemenuhan prestasi tidak hanya menjamin bahwa kewajiban yang tertuang dalam perjanjian dapat terlaksana dengan baik, tetapi juga memberikan keadilan kepada pihak yang dirugikan dengan memastikan bahwa hak- haknya dapat dipenuhi. Pembatalan perjanjian dan ganti rugi juga merupakan alternatif sanksi yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang terjadi. Oleh karena itu, penting bagi pihak yang terlibat dalam suatu perjanjian untuk memahami hak dan kewajiban mereka, serta memastikan bahwa penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan prosedur hukum yang ada.
4 Yoliandri Nur Sharky & Gunawan Djajaputra, Akibat Hukum Terjadinya Wanprestasi Dalam Perjanjian Kerja Tanpa Adanya Jaminan, 6 UNES Review 2, 2024,
https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i2.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdi, M. N. R., Aritonang, C. D., Rizky, G. P., Aqil, M., & Surahmad. (2024). Upaya hukum terhadap wanprestasi: Perspektif hukum perikatan dan penegakan hukum di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum, 2(1), 194–204. https://doi.org/10.62017/syariah
Sharky, Y. N., & Djajaputra, G. (2024). Akibat hukum terjadinya wanprestasi dalam perjanjian kerja tanpa adanya jaminan. Unes Review, 6(4). https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i2