• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH BANGSA ARAB, EKSISTENSI, KULTURNYA

N/A
N/A
Faiqoh ULNH

Academic year: 2025

Membagikan "SEJARAH BANGSA ARAB, EKSISTENSI, KULTURNYA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH BANGSA ARAB, EKSISTENSI, KULTURNYA

Evi Soraya dan Ana Roudlotul Jannah* (Program Magister PAI Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta) e-mail: [email protected], [email protected]

A b s t r a c t s A r t i c l e I n f o

Tulisan ini menjelaskan tentang sosiohistoris bangsa Arab pra-Islam di bidang agama, ekonomi, politik, sosial, akidah, pemikiran, pemahaman, dan unsur kejiwaan yang berjalan di atas aturan jahiliyah. Penelitian ini termasuk jenis penelitianpustaka (library research), penelitian yang obyek kajiannya menggunakan data pustaka berupa buku-buku sebagai sumber datanya, Penelitian ini dilakukan dengan membaca, menelaah, dan menganalisis berbagai literatur yang ada, berupa Al Qur’an, hadis, kitab, maupun hasil penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatifataupenelitian naturalistic. Sumber Data dalam penelitian ini Sumber data Primer Al-Qur’an, Hadist, Kitab Sirah Nabawiyah, Sumber data Sekunder buku, jurnal, kitab-kitab Islam dan internet yang berisikan hasil sosiohistoris Arab Pra Islam yang relevan dengan objek kajian penelitian. Hasil Penelitian ini menyatakan bahwa;

Menjelang datangnya Islam, kekuatan dunia berpusat pada dua kekuatan kemaharajaan; Imperium Byzantiun sebagai pewaris kerajaan Romawi yang beragama Kristen dan Imperium Persia yang beragama Majusi.

1). Asal usul bangsa Arab ada tiga, yaitu Arab Ba’idah, Aribah, dan Musta’ribah, atau disebut juga Arab Adnaniyah yang kelak menurunkan Muhammad saw dari jalur Quraisy, ke Adnan, hingga ke Ismail., 2). Kondisi keagamaan bangsa Arab dipenuhi dengan praktik penyembahan berhala dan patung-patung dengan skala yang masif di seluruh lapisan masyarakat., 3). Kondisi politik bertumpu pada kekuatan kabilah, atau sistem kesukuan dan kelompok, yang darinya diambil pola kepemimpinan di antara mereka, termasuk persekutuan, dengan sistem kabilah berpotensi untuk kinflik dan perang sepanjang masa., 4). Kondisi ekonomi

Article History:

Received 00 Jan 2xxx Revised 00 Jan 2xxx Accepted 00 Jan 2xxx Available online 00 Jan 2xxx ____________________

Keyword:

Sejarah Bangsa Arab, eksistensi, kultur

(2)

menitikberatkan pada perjalanan dagang ke negeri sekitar, ke utara Syam, dan selatan Yaman, dan negeri lainnya, sebagian besar sebagai penggembala kambing, domba, dan unta., 5). Kondisi sosial saling membanggagakan suku dan nasab masing-masing, Unjuk keahlian dalam menyampaikan syair, yang juga isinya adalah membanggakan suku dan kabilah masing-masing.

Perlakuan yang tidak wajar kepada kaum wanita, termasuk konsep nikah dan talak yang jauh dari nilai Islam. Juga tradisi berperang, suka merampok, dan budaya jahiliyah lainnya yang melekat pada bangsa Arab., 6). Kondisi moral bangsa Arab budaya mabuk- mabukan (minum khamr), judi, mengundi nasib, berzina, dan tindakan amoral lainnya, akan tetapi bangsa Arab punya karakter positif pada diri mereka, yaitu: pandai, ahli piker, cendekia, pujangga, dermawan, tangguh, dan suka membela kebenaran.

A b s t r a c t s

This article explains the socio-historical history of pre- Islamic Arabs in the fields of religion, economics, politics, social, beliefs, thoughts, understanding, and psychological elements that run on the rules of jahiliyah. This research is a type of library research, research whose object of study uses library data in the form of books as a data source. This research was carried out by reading, reviewing and analyzing various existing literature, in the form of the Qur'an, hadith, books, as well as research results. The method used in this research is qualitative or naturalistic research. Data sources in this research: Primary data sources: Al-Qur'an, Hadith, Nabawiyah Sirah Book, Secondary data sources - books, journals, Islamic books and the internet which contain the results Pre-Islamic Arab sociohistory that is relevant to the object of research study. The results this research state that ; Towards the arrival of Islam, world power was centered on two imperial powers; Byzantine Empire as heir kingdom Romans who were Christians and the Persian Empire who were religious Magi .

1). There are three origins of the Arab nation, namely Arab Ba'idah, Aribah, and Musta'ribah, or also called Arab Adnaniyah who later descended Muhammad saw from the Quraish route, to Adnan, to Ismail., 2). The religious conditions of the Arab nation are filled with the practice of worshiping idols and statues on a massive scale at all levels of society., 3). Political conditions rely on the strength of tribes, or tribal systems and groups, from which leadership patterns are drawn between them, including alliances, with

(3)

DOI: http://dx.doi.org/10.xxxxx/ijost.v2i2 p- ISSN 2528-1410 e- ISSN 2527-8045

the tribe system having the potential for conflict and war throughout time., 4). Economic conditions focus on trade trips to surrounding countries, to the north of Syria, and south of Yemen, and other countries, mostly as herders of goats, sheep and camels ., 5). Social conditions make each other proud of each other's ethnicity and lineage, show off their expertise in conveying poetry, the content is also to make them proud of their respective tribes and tribes. Unfair treatment of women, including the concepts of marriage and divorce which are far from Islamic values. Also the tradition of war, robbery, and other jahiliyah cultures inherent in the Arab nation., 6). The moral condition of the Arab people is the culture of drinking (drinking khamr), gambling, drawing lots of fortunes, committing adultery, and other immoral acts, but the Arab people have positive characters in themselves, namely: clever, wise thinkers, intellectuals, poets, philanthropists, tough , and likes to defend the truth

A. Latar Belakang Masalah Pendahuluan

Istilah Arab merupakan simbol yang menunjukan esensi dan keadaan sebuah bangsadengan kebesarannya pada masanya. Istilah ini telah memberikan gambaran yang jelas bahwasanya kata Arab berasal dari bahasa yang digunakan oleh sebuah komunitas dalam sarana komunikasi mereka yaitu bahasa Arab. Dalam kamus Al Munjid disebutkan bahwasannya Arab atau Aruba berarti orang yang menggunakan bahasa Arab dengan fasih.

Disamping itu, terdapat Arab juga berarti padang pasir, tanah gundul dan gersang.

Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada Jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu atau nama dari leluhur terdahulu, lalu mereka menjadikan namanya sebagai tempat tinggal. Hal ini sesuai dengan pengertian kata Arab sebagaimana disebutkan dalam Al-Munjid bahwasanya kata Urbu dan Arab memiliki arti sekumpulan kaum yang memiliki tempat tinggal seperti wilayah yang berada di sebelah timur dari Laut Merah.

Dari telaah ini, dapat disimpulkan bahwa istilah Arab mengandung dua pengertianu tama yaitu Arab sebagai konsepsi kebahasaan yang menunjukkan bahasa komunikasi sebuah masyarakat tertentu (Arab) yang selanjutnya dijadikan sebagai identitas kebangsaan bagi masyarakat bahasa tersebut. Yang kedua, Arab sebagai sebuah wilayah kekuasaan bagi komunitas tertentu (Arab) yang memiliki kekhususan secara demografis dan topografis dan menunjukkan identitas bagi penduduk yang tinggal di wilayah tersebut. Deskripsi modern menyatakan bangsa Arab ini sebagai sebuah grup etnik yang heterogen yang berada sepanjang Timur Tengah dan Afrika Utara.

(4)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan yang menjadi kajian utama dalam makalah ini adalah

1. Bagaimana geografi tanah Arab?

2. Bagaimana asal usul bangsa Arab

3. Bagaimana Kultur Masyarakat Arab: Seni, Sastra, Ta’asub Al-Qaba’ily, Agama?

A. Tujuan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan masalah yang menjadi kajian utama dalam makalah ini adalah

1. Untuk mengetahui geografi tanah Arab

2. Untuk mengetahui Asal Usul Bangsa Arab Al-Baidah dan Al-Baqiyah

3. Untuk mengetahui Kultur Masyarakat Arab: Seni, Sastra, Ta’asub Al-Qaba’ily, Agama

Analysis

BAB II

SEJARAH BANGSA ARAB, EKSISTENSI, KULTURNYA

A. Geografi Tanah Arab

Jazirah Arab adalah sebuah jazirah (semenanjung besar) di Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia. Nama Jazirah Arab sendiri berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa, kata jazirah artinya adalah pulau sedangkan Arab artinya adalah gurun atau tanah yang tandus. Jazirah Arab ini berbatasan masing-masing adalah di

(5)

sebelah utara dengan Irak dan Suriah, di sebelah selatan dengan Samudera Hindia, di sebelah timur dengan Teluk Persia dan Laut Oman, dan di sebelah barat dengan Laut Merah. Terlepas dari adanya perbedaan dalam penentuan batasan ini.

Luasnya diperkirakan antara 1.000.000 mil persegi hingga 1.300.000 mil persegi.1

Jazirah Arab secara umum memiliki iklim yang amat panas, kering, sedikit hujan, dan sungai yang hanya terdapat di bagian selatan. Untuk itu, pada zaman dulu, penduduk Arab hidup dengan berdagang, beternak, atau bercocok tanam. Perdagangan dilakukan oleh kafilah-kafilah dagang hingga ke wilayah Syam, Yaman, Irak, dan Persia.

Jazirah Arab terbagi atas 8 wilayah yaitu; Hijaz, Yaman, Hadramaut, Muhrah, Oman, Al-Hasa, Najed, dan Ahqaf. Adapun letak lokasi daerah-daerah tersebut yaitu :2 1. Hijaz terletak di sebelah Tenggara dari Tunisia di tepi Laut Merah. Daerah tersebut

dinamakan Hijaz karena menutupi daerah antara daerah Tihamah dan daerah Najd.

Dalam daerah Hijaz pulalah terdapat kota suci tempat lahir Nabi Muhammad SAW yakni Mekkah.

2. Yaman terletak di sebelah selatan Hijaz, dinamakan Yaman karena daerah ini terletak di kanan Ka’bah. Apabila kita menghadap ke Timur, di sebelah kiri daerah itu terletak negeri Asier. Di dalam daerah itu terdapat kota kota besar seperti kota Saba’ (Ma’rib), Shan’a, Hudaidah, dan Aden. Tanah Yaman merupakan suatu daerah yang menjadi bagian Barat Daya dari Jazirah Arab, di sebelah Barat dibatasi oleh Laut Merah, di sebelah Selatan oleh Samudera Hindia, di sebelah Utara oleh Hijaz, dan di sebelah Timur oleh Hadramaut.

3. Hadramaut terletak di sebelah Timur Yaman dan di tepi Samudera Hindia.

4. Muhrah terletak di sebelah Timur Hadramaut.

5. Oman terletak di sebelah Utara bersambung dengan Teluk Persia dan di sebelah Tenggara dengan Samudera Hindia.

6. Al Hasa terletak di pantai Teluk Persia dan panjangnya sampai ke tepisungai Furat.

7. Najd terletak di tengah-tengah antara Hijaz, Al-Hasa, sahara negeri Syam dan negeri Yamamah. Tanah Najd merupakan dataran yang tinggi dan luas, dan bersambung di utara dengan negeri Syam, di Timur dengan negeri Irak, di Barat dengan Hijaz dan di Selatan dengan Yamamah.

1 Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, (Jakarta: Darul Haq, 2014), h.1

2 Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi SAW, (Jakarta: Gema Insani Press, 2010), h. 14

(6)

8. Ahqaf terletak di daerah Arab sebelah Selatan dan di sebelah Barat Daya dari Oman.

Daerah Ahqaf merupakan dataran yang rendah.

Pada masa sebelum Islam, kebudayaan tanah Arab yang ditinjau dari segi geografis dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu :3

a. Arab Petrix atau Petraea, yakni wilayah yang terletak di sebelah Barat Daya Gurun Syria, dengan Petra sebagai pusatnya.

b. Arab Diserta atau Gurun Syria, yang kemudian dipakai untuk menyebut seluruh Jazirah Arab karena tanahnya tidak subur.

c. Arab Felix, wilayah hijau (Green Land) yakni wilayah Yaman yang memiliki kebudayaan maju dengan kerajaan Saba’ dan Ma’in. Arab Felix, yang dalam bahasa Arab disebut Al-Bilad As- Sai’dah, atau sering disebut juga Al-Ardi Ar-Khadira’ (bumi hijau). Dinamakan Al-Ardi Ar-Khadira’ (bumi hijau) karena banyaknya pepohonan dan rerumputan tumbuh dengan subur. Arabia Felix terletak di bagian selatan Semenanjung Arab, yang terbentang dari Yaman sampai ke Oman. Kawasan ini disebut sering mendapat curahan hujan tinggi hingga membuat daerah tersebut subur. Sana’a sebagai ibukota Yaman terletak pada ketinggian 2000 meter dari permukaan laut yang disebut juga sebagai salah satu kota terkaya dan terindah di sepanjang Semenanjung Arabia.4

Simenanjung Arab terdiri atas dua bagian. Pertama, daerah pedalaman, merupakan daerah padang pasir yang kering karena kurang dituruni hujan dan sedikit penduduk karena daerahnya tandus. Kedua, daerah pantai di pinggir laut, di bagian tengah dan selatan, hujan turun teratur sehingga subur ditanami yaitu daerah hijaz, Yaman, Hadramaut, Oman dan Bahrain. Di atanta daerah itu Yaman yang paling subur sehingga disebut negeri Barkah.5

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa sebagian besar daerah Jazirah adalah padang pasir (gurun sahara) yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sif at yang berbeda-beda, karena itu ia bisa dibagi menjadi tiga bagian, di antaranya : a) Sahara Langit

Sahara langit memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur ke barat yang disebut juga sahara Nufud. Oase dan mata air sangat jarang, tiupan angin

3 Jawwad Ali, Sejarah Arab Sebelum Islam, (Ciputat: PT Pustaka Alvabet), h. 10

4 Philip K. Hitti, History Of The Arabs, From The Earliest Times To The Present , Seven Edition, (London: Mcmillian & Co LTD, 2013), h. 3839.

5 Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam, Riau: Yayasan Pusaka Riau, 2018), h. 9

(7)

seringkali menimbulkan kabut debu yang mengakibatkan daerah ini sulit ditempuh.

Sebagian besar permukaan tanahnya ditutupi oleh pasir putih, dan pasir berwarna kemerah-merahan. Daerah ini terluas di Jazirah Arab bagian Utara yang disebut dengan Al-Badiyah, atau dinamakan Ad-Dahna. Daerah gurun pasir Nufud beriklim kering. Tetapi menariknya ketika musim dingin tiba, hujan turun di kawasan ini menjadikan Gurun Nufud hamparan rerumputan hijau dan juga sebagai tempat bagi domba serta unta mencari makan.

b) Sahara Selatan

Sahara selatan yang membentang menyambung Sahara Langit ke arah timur sampai selatan Persia. Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus dan pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut dengan al-Rabi al- Khaly (bagian yang sepi).

c) Sahara Harat

Suatu daerah yang terdiri dari tanah liat yang berbatu hitam bagaikan terbakar.

Gugusan batu-batu hitam itu menyebar di keluasan sahara ini, seluruhnya mencapai 29 buah.

Dapat disimpulkan bahwa Jazirah Arab merupakan semenanjung yang berada di Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia. Jazirah Arab ini berbatasan di sebelah utara dengan Irak dan Suriah, di sebelah selatan dengan Samudera Hindia, di sebelah timur dengan Teluk Persia dan Laut Oman, dan di sebelah barat dengan Laut Merah.

B. Asal Usul Bangsa Arab

Merujuk pada silsilah keturunan dan asal-usulnya, Bangsa Arab merupakan salah satu dari bangsa Semith, bangsa besar keturunan Sam bin Nuh yang mendiami Jazirah Arab, dataran yang dinisbahkan kepada bangsa mereka. Para sejarawan membagi Bangsa Arab menjadi dua atau tiga bagian. Jika dikatatakan terdiri dari 2 bagian yakni; Arab Ba’idah dan Arab Baqiyah, yang mana Arab Baqiyah terbagi menjadi dua bagian, yakni: 6

1. Arab Baidah

6 A. Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah Sejarah Hidup Nabi Muhammad, (Jakarta:

Ummul Qura, 2012), h. 42.

(8)

Bangsa Arab Ba’idah adalah bangsa Arab terdahulu, yang telah punah, biasa disebut juga Arab kuno, yang tidak mungkin terlacak sejarahnya secara rinci, seperti kaum ‘Ad, Tsamud, Tasm, dan Jadis. Kisah bangsa tersebut tertulis dari kitab samawi, terutama al-Qur’an, syair Arab jahiliyah dan Hadits Rasulullah. Bangsa Arab Ba’idah inilah keturunan murni dari bangsa Semit, dari Sam bin Nuh.7 Mereka berdialog menggunakan Bahasa Semit.

Arab Baídah pernah mendiami Mesopotamia akan tetapi karena serangan Raja Namrudz dan kaum yang berkuasa di Babylonia sampai Mesopotamia Selatan pada tahun 2000 SM. Suku bangsa ini berpencar dan berpisah ke berbagai daerah.

Kaum ‘ad merupakan suku Arab kuno yang dipimpin oleh Ad ibn Kin’ad, tinggal di daerah Ahqaf, daerah sebelah barat Oman dan sebelah timur Yaman, membentang dari Laut Arab sampai Pegunungan Dhofar dan pinggiran Rub’ al Khali, dalam sejarahnya, kaum ini hidup pada masa Nabi Hud As. Kaum Tsamud merupakan suku Arab kuno yng hidup dari 2300 SM sampai 200M di Gunung Athlab dan di seluruh Arab Tengah. Kaum Tsamud hidup pada masa Nabi Shaleh As.8

2. Arab Baqiyah

Arab Baqiyah adalah bangsa Arab yang masih ada dan survive hingga kini. Para ahli Sejarah bangsa Arab membagi bangsa Arab Baqiyah menjadi dua, yaitu Arab Aribah atau Arab Qathaniyah dan Arab Musta’ribah atau Adnaniyah.

a. Arab Aribah

Arab Aribah yaitu cikal bakal dari rumpun bangsa Arab yang ada sekarang ini.9 Bangsa Arab murni berasal dari keturunan Yasyjub bin Ya’rub bin Qathan, nenek moyang Bangsa Arab yang dikenal Bani Qathan. Suku bangsa Arab ini dikenal dengan sebutan Arab Qathaniyah. Mereka menetap di tepian Sungai Eufrat lalu menyebar di hadramaut dan Yaman bagian selatan semenanjung Arabia. Suku bangsa Arab Aribah yang terkenal adalah Kahlan dan Himyar.

Di Yaman terdapat beberapa kerajaan terkenal dengan kota-kota besar yang makmur dan maju di zamannya, di antaranya kerajaan Saba’ negeri Arab yang bahagia, (Baldatun thayyibun wa Rabbun Ghafuur) yang berdiri abad ke- 8 SM dan Kerajaan Himyar berdiri abad ke-2 SM.

7 https://www.kemhan.go.id/badiklat/2013/03/21/bangsa-arab.html

8 Ahmad al ‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta:Akbar Media Eka Sarana, 2008), h.58

9 Musyarif, Sejarah Peradaban Islam (Pra Islam sampai Bani Umayyah), (Parepare: Kaaffah Learning Center, 2019), h. 6.

(9)

Suku Kahlan banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah Arab menjelang terjadinya banjir besar Ketika mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan. Hal ini diakibatkan dari tekanan bangsa Romawi dan tindakan mereka menguasai jalur perdagangan laut dan setelah mereka menghancurkan jalur darat serta berhasil menguasai Mesir dan Syam.

Hal itu akibat dari persaingan antar suku Kahlan dan suku Himyar, yang berakhir dengan keluarnya suku Kahlan dan ditandai dengan menetapnya suku Himyar. Suku Kahlan yang berhijrah antara lain; Azad, Lakhm dan Judzam, Bani Tha’i dan Kindah.

b. Arab Musta’ribah

Bangsa Arab musta’ribah disebut juga Arab campuran atau Arab pendatang, disebut demikian karena berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim yang datang ke Makkah lalu menikahi Wanita dari suku Jurhum. Dari perkawinannya Ismail dikaruniai dua belas orang anak, semuanya laki laki.Mereka adalah Nabit, Qaidzar, Adzbal, Mabsya, Masma’a, Damma, Masyi, Hadad, Thaima, Yathur, Nafis, dan Qaidzuma. Dari mereka ituterpecah menjadi dua belas kabilah, dan semuanya tinggal di Makkah. Mata pencaharian mereka adalah berdagang, dari negeri Yaman ke negeri Syam dan Mesir. Kemudian, kabilah kabilah tersebut menyebar di seluruh jazirah, bahkan ada yang keluar jazirah.10

Mereka dikenal dengan keturunan Adnan, yang disebut juga Arab Adnaniyun, darinya lahir beberapa kabilah, di antaranya adalah Kinanah, kemudian menurunkan kabilah Quraisy. Rasulullah bersabda:

َةَناَنِك ِنِِب َلْيِعاَْسِْإ ِدَلَو ْنِم ىَفَطْصاَو َلْيِعاَْسِْإ َمْيِهاَرْ بِإ ِدَلَو ْنِم ىَفَطْصا َالله َّنِإ ِنَِب ْنِم ِنِاَفَطْصاَو ٍمِشاَه ِنَِب ٍشْيَرُ ق ْنِم ىَفَطْصاَو اًشْيَرُ ق َةَناَنِك ِنَِب ْنِم ىَفَطْصاَو .ٍمِشاَه

10 Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, jilid 1, (Jakarta:

PT.Darul Falah,2005), h. 3

(10)

“Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari anak Ibrahim, memilih Kinanah dari anak Ismail, memilih Quraisy dari Bani Kinanah, Memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilihku dari Bani Hasyim.”

Nabi Muhammad adalah keturunan Adnan dari Bani Hasyim, salah satu dari Bani Quraisy. Bani Quraisy merupakan suku yang paling terhormat dan berpengaruh di Makkah karena mereka menguasai Ka’bah, pusat peribadatan dan perdagangan Bangsa Arab. 11

Jadi, dapat disimpulkan bahwa bangsa Arab saat ini, bila dilihat dari asal-usul keturunan, dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu:

Qathaniyun (keturunan Qathan) dan Adnaniyun (keturunan Ismail bin Ibrahim). Keturunan Qathan (Arab Aribah) adalah suku Arab yang tinggal di bagian Selatan semenanjung Arabia, seperti Yaman, Hadramaut, Oman dan Bahrain. Sementara keturunan Adnan (Arab Musta’ribah) adalah suku Arab yang tinggal di bagian utara semenanjung Arabia, seperti Hijaz, Najd, dan Syam. Mereka memiliki hubungan dekat dengan bangsa-bangsa sekitar, seperti Romawi, Persia, Yahudi, dan Kristen.

C. Kultur Masyarakat Arab, Seni, Sastra, Ta’Assub Al Qobaily, Agama 1. Bidang seni

Budaya masyarakat Arab pra-Islam yang paling menonjol adalah bidang sastra Arab, khususnya puisi Arab. Negara Yaman merupakan tempat pertumbuhan budaya yang sangat penting yang pernah berkembang di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Bangsa Arab adalah bangsa yang memiliki rasa seni yang tinggi. Puncak kebudayaan Arab justru berangkat dari kemampuannya yang tidak bersifat kekerasan, yakni berbahasa lisan.

Kepandaian dalam mengadu bicara dapat menggantikan peperangan secara fisik, yakni mereka saling berlomba-lomba mengarang dan membuat syair-syair. Supaya dapat dihargai dan dihormati orang-orang Arab, sehingga menjadikan mereka terbiasa bersaing dalam mengarang syair-syair yang bagus.

Nilai sastra dan keindahan dalam melantukan syair sangat dihargai orang Arab.

Mereka mengukur kecerdasan seseorang dari seberapa indah dan menarik dalam

11 Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos, 1997), h. 5.

(11)

melantunkan syair. Penyair selain menjadi juru bicara kaumnya, juga sangat memahami dongeng-dongeng rakyat, di samping itu juga sebagai pengkaji perkembangan sosial, penuntun dan sebagai operator. Oleh karena itu terdapat sebuah pepatah mengatakan,

“Puisi merupakan catatan publik (diwan) orang-orang Arab”. Penyair selain disebut sebagai sejarahwan juga disebut sebagai ilmuan dan penyampai berita. Syair-syair masyarakat Arab merupakan ingatan-ingatan akan suatu kisah, yang dilantunkan ke publik, sehingga menjadi sebuah catatan akan suatu peristiwa yang telah terjadi. Tradisi orang Arab jahiliah yang gemar dalam membuat patung, merupakan salah satu seni rupa yang dimiliki bangsa Arab pada saat itu. Dalam membuat patung berhala, orang Arab membuatnya bukan hanya sebagai untuk mereka sembah saja, melainkan juga memang suka dalam pembuatan patung. Orang-orang Arab pada saat itu memang dikenal pintar dalam membuat patung, bahkan setiap kabilah memiliki patung berhala mereka masing- masing untuk mereka sembah. Berhala tersebut biasanya terbuat dari batu dan kayu. Sebagian penduduk tanah Arab tidak menganggap berhala tuhan, tetapi sebagai perantaraan. Terdapat percampuradukan antara mereka menyembahnya atau hanya sebagai kegemaran mereka dalam membuat patung, sehingga dikatakan menjadi sebuah perantaraan. Sehingga banyaknya patung-patung yang mereka biarkan begitu saja, tanpa mereka fungsikan menjadi berhala sesembahan mereka.

2. Bidang Sastra

Masyarakat Arabia sangat terkenal dengan kemahirannya dalam bidang bahasa dan sastra, terutama syi’ir. Bahasa mereka sangat kaya sebanding dengan bahasa bangsa Eropa sekarang ini. Keistimewaan bangsa Arabia di bidang bahasa dan sastra merupakan kontribusi mereka yang cukup penting terhadap perkembangan dan penyebaran Islam.

Dalam hal ini Philip K. Hitti berkomentar: “Keberhasilan penyebaran Islam diantaranya didukung oleh kekuasaan bahasa Arab, khususnya bahasa Arab al-Qur’an”. Kemajuan kebudayaan mereka dalam bidang bahasa dan sastra tidak diwarnai dengan semangat kebangsaan Arab, melainkan diwarnai oleh semangat kesukuan Arab. Pujangga-pujangga syair zaman jahiliyah membanggakan suku, kemenangan dalam suatu pertempuran, membesarkan nama tokoh-tokoh dan pahlawan, serta leluhur mereka.

Selain bersyair, tradisi lain yang dimiliki bangsa Arab adalah berdagang. Untuk keperluan perdagangan ini bangsa Arab memiliki pasar-pasar dekat Mekkah, seperti: Ukaz, Majanna dan Dzul Majaz. Di pasar-pasar dagang biasanya juga diiringi dengan pasar sastra

(12)

(suq al-Adab), di mana orang-orang Arab berlomba-lomba menunjukkan kehebatannya dalam membuat syi‘ir. Semua kegiatan kepenyairan itu dilestarikan dalam bentuk hafalan, jarang yang melakukan penulisan kecuali bagi syair-syair yang memenangkan perlombaan syair di pasar Ukaz biasanya ditulis dan digantungkan di dinding ka‘bah dan dikenal dengan mu‘allaqāt. Tradisi berdagang sudah mendarah daging bagi orang Arab Quraish, dan tetap dilestarikan Islam dengan memberi aturan kejujuran dan cara berdagang yang baik. Sedangkan pasar dagang zaman jahiliyah didampingi pasar sastra (suq al-Adab), pada masa Nabi mengalami perubahan tema dan isi yang cukup radikal yang berbeda dengan masa jahiliyah.

a. Periodesasi Sejarah Kesusastraan Arab

Ada beberapa perbedaan pembagian periodesasi sejarah sastra Arab, akan tetapi mayoritas ahli sastra Arab membaginya menjadi lima periode. Pembagian ini sangat erat sekali hubungannya dengan keadaan politik, sosial dan agama. Untuk mengetahui keadaan sosial, politik dan agama suatu bangsa dapat kita lihat dari hasil sastra yang dihasilkan oleh bangsa itu, sebab kesustraan adalah cermin yang dapat menggambarkan keadaan sebenarnya suatu bangsa. Kelima periode itu adalah sebagai berikut:

1) Al-‘Aṣr al-Jāhily (zaman jahiliyah) Periode ini dimulai sekitar 150 sebelum kedatangan Islam sampai agama Islam lahir.

2) Al-‘Aṣr ṣadr al-Islam dan kerajaan Umawiyah Periode ini dimulai sejak lahirnya agama Islam sampai berdirinya daulat Abbasiyah pada tahun 132 H.

3) Al-‘Aṣr al-‘Abbasy (zaman Abbasiyah) Periode ini dimulai sejak berdirinya daulat Abbasiyah sampai runtuhnya kota Baghdad oleh tangan bangsa Mongolia tahun 656 H.

4) Al-‘Aṣr al-Turky (zaman pemerintahan Turki) Periode ini dimulai sejak runtuhnya kota Baghdad sampai timbulnya kebangkitan bangsa Arab di adab modern pada tahun 1220 H.

5) Al-‘Aṣr al-Ḥadīth (modern) Timbulnya kesusastraan modern ditandai dengan timbulnya rasa nasionalisme bangsa Arab di abad modern sampai sekarang. 12 b. Pengertian Puisi

12Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, jilid 1, (Jakarta:PT. DarulFalah, 2005),h. 65

(13)

Menurut Aḥmad Ash-Shāyib: “syi’ir atau puisi Arab adalah ucapan atau tulisan yang memiliki wazan atau bahr serta unsur ekspresi rasa dan imajinasi yang harus lebih dominan dibanding prosa”. Kata syi’ir menurut etimologi berasal dari “sha’ara” atau

“sha’ura” yang artinya mengetahui dan merasakan.

1) Kondisi Puisi Arab dari Zaman ke Zaman

Sejarah kesusasteraan Arab telah mengungkapkan kebiasaan bangsa Arab pada umumnya adalah senang menggubah syi’ir. Hal ini mereka anggap suatu kebiasaan yang bersifat tradisional, karena dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan kehidupan mereka yang faṣīh, merupakan faktor yang kuat untuk menolong mereka dalam menggubah syi’ir.16 Berikut ini penjelasan kondisi puisi Arab dari zaman ke zaman:

a) Zaman jahiliyah

Menurut pandangan bangsa Arab puisi adalah sebagai puncak keindahan dalam sastra. Sebab, puisi adalah bentuk gubahan yang dihasilkan dari kehalusan perasaan dan keindahan daya hayal. Karena itu, orang Arab lebih menyenangi puisi dibanding jenis sastra lainnya.17 Orang Arab memandang puisi dengan pandangan penuh kebanggaan, bahkan barangkali sampai pada tingkat kesakralan. Pada waktu-waktu tertentu mereka hanya melantunkan puisi ketika dalam keadaan berwudhu sebagaimana menyenandungkan qasīdah al- multamis (kasidah do’a) yang berkofiyah mim. Mendengarkan puisi dan cinta kepadanya bagi orang Arab merupakan kesenian dan perasaan yang menggebu- nggebu yang dapat merasakan isi ceritanya dan sekaligus mencari ilmu, menambah pengetahuan dan memperbanyak pengalaman. Mereka mencintai puisi dan suka mendengarkannya, karna puisi merupakan dīwān (kumpulan) yang melestarikan kebesarannya, mencatat keturunan dan peristiwa-peristiwa serta mempertajam semangat kepahlawanan pada dirinya. Setiap suku mempunyai penyair yang mampu memperjuangkan keagungan sukunya dan memperkuat kebesarannya serta mempertahankannya. Tujuan puisi pada zaman ini adalah :

1. Tashbīh/ghazal: ialah suatu bentuk puisi yang didalamnya menyebutkan wanita dan kecantikannya.

(14)

2. Ḥammāsah/Fakhr: ialah suatu puisi yang digunakan untuk membanggakan keunggulan suatu kaum atau menyebutkan kemenangan yang diperoleh.

3. Madaḥ: ialah puisi yang digunakan untuk memuji seseorang dengan segala sifat dan kebesaran yang dimilikinya seperti kedermawanan dan keberanian maupun ketiggian budi pekertinya.

4. Rothā’: jenis puisi ini digunakan untuk mengingat jasa orang yang sudah meninggal.

5. Hijā’: jenis puisi ini digunakan untuk mencaci dan mengejek seorang musuh dengan menyebutkan keburukan orang itu.

6. I‘tidhār: ialah jenis puisi yang digunakan untuk mengajukan udhur dan alasan dalam suatu perkara dengan mohon maaf dan mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya

7. Waṣf: jenis puisi ini biasanya digunakan untuk menggambarkan segala sesuatu, seperti peperangan dan keadaan alam. h) Ḥikmah: puisi ini berisi pelajaran kehidupan yang terkenal pada zaman jahiliyah. • Al-Mu‘allaqāt Al-Mu’allaqāt adalah qasidah panjang yang indah yang diucapkan para penyair jahiliyah dalam berbagai kesempatan dan tema. Sebagian mu’allaqāt ini diabadikan dan ditempelkan di dinding-dinding Ka’bah pada masa jahiliyah. Dinamakan dengan mu’allaqāt (kalung) karena indahnya puisi-puisi tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan pada wanita

b) Zaman ṣadr al-Islam dan kerajaan Umawiyah

Pandangan Islam terhadap puisi ada dua macam. Pertama: suatu puisi akan dipandang terpuji oleh Islam jika digunakan dengan maksud dan cara yang baik. Kedua: puisi yang digunakan untuk maksud dan cara yang tidak terpuji maka Islam akan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak terhormat. Nabi sangat peka dengan keadaan bangsa Arab yang puisinya cenderung pada permusuhan dan kekerasan. Karena itu, dalam beberapa kasus Nabi melarang puisi. Namun jika puisi mempromosikan kearifan dan kebajikan, Nabi memujinya. Puisi merupakan dīwān al-Arab, sumber kemulyaan dan kemegahan mereka.

Kemudian datang al-Qur’an yang mengajak pada tauḥīd dan berpegang pada keutamaan. Kejadian ini sangat mengejutkan mereka, maka

(15)

merekapun mulai memperhatikan, merasakan dan meneliti kata-kata, gaya bahasa dan artiarti al-Qur’an. Sehingga diantara mereka ada yang mencari-cari cara untuk melukainya dan ada yang percaya dan mencari petunjuk-petunjuknya, kemudian orang-orang sesat menentangnya.

Tujuan puisi zaman ṣadr al-Islam

1. Menyebarkan aqidah Islam serta penetapan hukum-hukumnya, dan menganjurkan kaum muslimin untuk mengikutinya.

2. Dorongan untuk perang dan mendapat persaksian di sisi Allah karena menegakkan kalimatullah.

3. Al-hijā’, yaitu mula-mula untuk membela agama Allah, menyerang orangorang Arab musyrik dimana caci maki tersebut tidak melanggar batas-batas keperwiraan dan telah mendapat izin dari Nabi.

4. Penggambaran peperangan dan penguasaan terhadap kota-kota serta bagaimana cara pengepungannya dan sebagainya.

5. Pujian. Puisi pada zaman ṣadr al-Islam memiliki keistimewaan yang lebih dibandingkan puisi pada zaman jahiliyah. Keistimewaan yang paling menonjol adalah terpengaruhnya para penyair dengan makna, lafadh, susunan dan gaya bahasa al-Qur’an dan Ḥadith serta menyandarkan pikiran-pikiran mereka pada ruh al-Qur’an.

Perkembangan puisi pada masa Bani Umayah tidak lepas dari peran beberapa kota tempat tumbuh dan berkembangnya sastra. Di antara kota-kota itu adalah: Hijaz, Najed dan Irak. Dalam priode Umayyah kegiatan penciptaan dan pembacaan puisi semakin meningkat. Ada dua faktor yang menyebabkan perkembangan ini. Pertama, Futuhāt (penyebaran Islam) awal telah menyebabkan kekuasaan Islam meliputi penduduk-penduduk non-Arab, dan banyak dari mereka telah masuk Islam. Kedua, para khalifah Umayyah sendiri memang menggemari puisi, dan mereka memberikan hadiah-hadiah besar kepada para penyair yang menghasilkan puisi-puisi indah.

c) Zaman Abbasiyah

Setelah kekuatan politik dinasti Umayyah mulai goyah, kekuatan baru (Abbasiyah) mulai mempersiapkan langkah, menciptakan aliran-aliran baru dalam puisi dengan sentuhan dan konsep yang lebih modern dari sebelumnya. Bassār Ibnu Burdin berada di garda depan

(16)

gerakan ini. Banyak dijumpai perubahan fundamental dalam bait-bait puisi cinta yang ditulisnya. Dalam hal ini, Bassār berusaha menemukan hal-hal baru dalam penulisan puisi, seperti penghematan dalam penggunaan kata serta pengungkapan perasaan jiwa yang berbeda dari puisi orang Badui. Adapun tujuan syi’ir pada zaman Abbasiyah sudah mulai mengarah pada hal-hal yang bersifat keindahan, kesenian, lelucon, jenaka, senda gurau dan bersenang-senang untuk melampiaskan hawa nafsu, di samping itu masih berkisar juga untuk tujuan rayuan dan ejekan. Dengan demikian, maka pada zaman inilah mulai ada perpaduan antara syi’ir Arab klasik dengan syi’ir Arab modern, sehingga makna yang terkandung di dalam syi’ir itu menjadi sangat halus dan khayalannyapun sangat indah.13

Masyarakat Arab berdiam di jazirah Arab yang terletak di Asia Barat Daya dengan kondisi alam yang sebagian besar merupakan gurun pasir dan jarang turun hujan. Kondisi alam yang demikian menyebabkan mereka memiliki sifat yang keras dan pemberani yang cenderung seenaknya, kondisi tersebut juga mempengaruhi fisik mereka yang kuat dan kekar, sebagai bentuk adaptasi dari lingkungan hidup yang demikian keras. Secara umum, masyarakat Arab terbagi menjadi dua kelompok besar jika didasarkan pada tempat tinggal, yaitu masyarakat Badui (Badiah) dan masyarakat perkotaan (Hadharah). Masyarakat Badui hidup di wilayah pedalaman di tengah-tengah padang pasir yang tandus dan gersang. Mereka hidup secara nomaden atau berpindah- pindah mencari sumber-sumber air (oase) dan jugapadang rumput untuk mereka tinggali, sekaligus menggembalakan ternak-ternak mereka.

Mereka berpindah mencari tempat lain yang lebih subur ketika tempat yang mereka tinggali sekiranya sudah tidak menghasilkan lagi. Mereka memiliki insting bertahan hidup yang kuat, mereka gemar melakukan penyerangan kepada wilayah yang mereka rasa lebih subur dan menghasilkan seperti wilayah- wilayah perkotaan.

Salah satu keistimewaan dari masyarakat Badui adalah nasab dan kebahasaan mereka yang masih murni, hal tersebut dilatarbelakangi oleh kebiasaan mereka yang hidup menyendiri di tengah padang pasir, sehingga tidak banyak orang- orang dari luar wilayah Arab yang datang untuk berbaur dengan mereka .

13 M Yunus - Humanistika: Jurnal Keislaman, 2015, h. 175

(17)

Adapun masyarakat perkotaan hidup secara menetap dan tidak berpindah- pindah di wilayah perkotaan dan perkampungan, mereka hidup dengan berdagang ataupun bercocok tanam. Banyak dari penduduk perkotaan sudah tidak lagi memiliki nasab yang murni (Arab asli), mengingat daerah tempat tinggal mereka sering kali disinggahi oleh banyak pendatang non Arab seperti Persia dan Afrika sehingga terjadilah pencampuran bahasa dan keturunan. Mereka tinggal di wilayah tepian jazirah Arab di sebelah Utara yang sedikit lebih subur, penduduk perkotaan dikatakan lebih berbudi dibandingkan dengan masyarakat Badui pedalaman. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat iklim tempat tinggal mereka yang sedikit berbeda, dimana masyarakat perkotaan tinggal di wilayah yang tenang dengan sumber daya alam yang stabil, sehingga tidak membutuhkan kemampuan bertahan hidup yang keras sebagaimana masyarakat badui.

Kendati demikian, hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari fakta bahwa masyarakat Arab pra Islam pada masa itu, masih memiliki akhlak dan moral yang jauh dari kebaikan. Baik masyarakat badui maupun perkotaan dikenal dengan moral yang bobrok, mereka merupakan orang-orang yang gemar berjudi, berzina, dan berperang. Terlebih lagi perlakuan kejamnya terhadap perempuan. Perempuan hanya dianggap sebelah mata oleh mereka, hak-hak mereka tidak dihiraukan bahkan banyak terjadi penguburan hidup-hidup terhadap bayi-bayi perempuan oleh beberapa suku Arab pra Islam. Meskipun sebenarnya dalam beberapa suku, tradisi tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap hal-hal buruk yang mungkin menimpa anak-anak perempuan dalam kabilah mereka. Seperti pelecehan dan penawanan yang mungkin mereka terima apabila kabilah mereka kalah dalam peperangan, dan kekhawatiran mereka akan beban yang mungkin akan mereka tanggung apabila membawa perempuan dalam aktvitas kehidupan mereka yang nomaden. Kendati demikian, alasan-alasan tersebut tetap tidak bisa dibenarkan sebagai pembelaan atas tindakan keji mereka terhadap anak-anak mereka sendiri.

Kedudukan perempuan pada masa itu berada pada titik yang sangat rendah, masyarakat menganggap mereka sebagai lambang kesengsaraan, aib, dan kemiskinan.

Perempuan tidak mendapatkan hak waris atau peninggalan atas keluarganya, bahkan seorang istri yang suaminya meninggal dapat diwariskan kepada anak tertua atau salah seorang kerabat dari mendiang suaminya. Begitu juga sikap mereka terhadap para budak, hamba sahaya pada masa itu tidak lebih dari sekedar barang kepemilikan yang bebas diperlakukan sesuai kemauan pemiliknya bahkan hingga

(18)

banyak terjadi penyiksaan terhadap beberapa budak. Aktivitas-aktivitas tercela tersebut tidak ubahnya menjadi sebuah aktivitas normal yang sehari-hari mereka lakukan.14

3. Kondisi Politik: Ta’assub al Qabail (Fanatisme Kesukuan)

Ketika Nabi Muhammad SAW dilahirkan, tak satu pun negara besar di wilayah sekitarnya yang memikirkan Arab. Persia dan Bizantium, keduanya disibukkan

dengan pertengkaran mereka yang melelahkan dan

berakhir sesaat sebelum Nabi Muhammad SAW wafat. Keduanya bersemangat untuk berebut mengelola wilayah Arab bagian Selatan yangsekarang disebut Yaman. Tidak ada dari negara negara besar, baik Persia maupun Bizantiumyang tergiur untuk menguasai Arab dan tak seorang pun bermimpi bahwa wilayah itu akan melahirkan sebuah agama dunia baru, yang menjadi kekuatan dunia yang besar. Pada saat itu, Arab dianggap sebagai negara yang tak bertuhan dan tidak ada agama yang mampu eksis bertahan di wilayah tersebut.

Masyarakat Arab pra Islam memiliki kecenderungan sukuisme yang tinggi, mereka amat membanggakan suku atau kabilah asal mereka. Mereka akan melakukan apapun demi melindungi martabat dari kabilah asalnya termasuk berperang dengan kabilah lain. Peperangan antar suku merupakan sesuatu yang tidak jarang untuk ditemukan pada masyarakat Arab di masa itu. Peperangan antar suku dapat disebabkan oleh sesuatu yang sepele, seperti kalah dalam pacuan, sengketa mata air, padang rumput, dan hal-hal sepele lainnya. Akibat seringnya terjadi kecamuk perang, menyebabkan tidak banyak sumber tertulis terkait riwayat kehidupan masyarakat Arab pra Islam. Peperangan- peperangan tersebut menghabiskan waktu dan tenaga mereka sehingga mereka tidak lagi memiliki waktu dan kesempatan untuk mengembangkan sebuah kebudayaan. Fanatisme kesukuan mereka juga dipengaruhi oleh kebanggaan mereka terhadap nasab atau garis keturunan mereka. Beberapa literatur bahkan mengatakan bahwa bangsa Arab pra Islam memiliki daya ingat yang luar biasa, mereka dapat menghafalkan nasab tiap anggota keluarganya sehingga nasab itu akan tetap murni dan lebih unggul dari kabilah atau suku lainnya.15

4. Kondisi keagamaan

14 Maliki, Interdisciplinary Journal (MIJ): 2023, 1(3), 31-43

15 Ahmadal ‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta:Akbar Media Eka Sarana, 2008), 58.

(19)

Ada bermacam-macam pendapat tentang cara berpindahnya bangsa Arab dari agama Nabi Ibrahim kepada kepercayaan Watsani. Boleh jadi di antara pendapat-pendapat itu, yanglebih dekat kepada yang sebenarnya ialah yang dituturkan oleh Ibnul Kalbi yaitu : yangmenyebabkan bangsa Arab akhirnya menyembah berhala dan batu, ialah siapa-siapa yangmeninggalkan kota Makkah selalu membawa sebuah batu, diambilnya sari batu-batu yang ada di Haram Ka’bah, dengan maksud untuk menghormati Haram itu, dan untuk memperlihatkan cinta mereka terhadap kota Makkah. Dengan demikian jelaslah sudah betapaagama Nabi Ibrahim telah campur aduk dengan kepecayaan Watsani.

Di samping pemujaan kepada berhala-berhala, agama-agama ketuhanan pun telah pernah memasuki Jazirah Arab, sebelum datang agama Islam. Seperti raja Yaman yang bernama Zu Nuas yang menerima agama Yahudi dari orang-orang Yahudi yang berpindah keYaman. Di Yatsib, Khaibar, Wadil Qura dan lain-lain ada pula orang-orang yang beragamaYahudi. Boleh jadi mereka berasal dari Palestina, atau mereka ialah bangsa Arab yang telahmemeluk agama Yahudi. Di samping agama berhala dan ketuhanan, ada pula agama lain, seperti: As Shaibah,yaitu agama yang dikenal para pemeluknya sebagai penyembah bintang bintang. Agama initersebar di negeri Yaman, Harran, dan Irak. Zoroaster, yaitu agama yang dibangsakan kepada zoroaster, seorang yang dianggap sebagai Nabi dari bangsa Persia kuno.16

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Jazirah Arab merupakan semenanjung yang berada di Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia. Jazirah Arab ini berbatasan di sebelah utara dengan Irak dan Suriah, di sebelah selatan dengan Samudera Hindia, di sebelah timur dengan Teluk Persia dan Laut Oman, dan di sebelah barat dengan Laut Merah.

Merujuk pada silsilah keturunan dan asal-usulnya, Bangsa Arab merupakan salah satu dari bangsa Semith, bangsa besar keturunan Sam bin Nuh yang mendiami Jazirah Arab,

16 Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta:Kalam Mulia, 2006), 127

(20)

dataran yang dinisbahkan kepada bangsa mereka. Para sejarawan membagi Bangsa Arab menjadi dua atau tiga bagian. Jika dikatatakan terdiri dari 2 bagian yakni; Arab Ba’idah dan Arab Baqiyah, yang mana Arab Baqiyah terbagi menjadi dua bagian.

Budaya masyarakat Arab pra-Islam yang paling menonjol adalah bidang sastra Arab, khususnya puisi Arab. Masyarakat Arabia juga sangat terkenal dengan kemahirannya syi’ir.

Kondisi Ta’assub al Qabail Masyarakat Arab pra Islam memiliki kecenderungan sukuisme yang tinggi, mereka amat membanggakan suku atau kabilah asal mereka.

Mereka akan melakukan apapun demi melindungi martabat dari kabilah asalnya termasuk berperang dengan kabilah lain. Kepercaayaan dan agama mereka bermacam macam, ada yang masih menganut agama Hanif yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, Watsani (menyembah berhala), agama Yahudi, Ash Shaibah, Zoroaster, dll

B. SARAN

Demikian makalah ini telah selesai kami buat, semoga dapat digunakan sebaik- baiknya oleh pembaca sekalian sebagai referensi pengetahuan mengenai Sejarah Bangsa Arab, Eksistensi, Kulturnya. Kami menerima segala masukan dari pembaca sekalian untuk perbaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta:Kalam Mulia, 2006.

Ahmadal ‘Usairy, Sejarah Islam, Jakarta:Akbar Media Eka Sarana, 2008.

Malik, Abu Muhammad Abdul bin Hisyam Al Muafiri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, jilid 1, Jakarta: PT.Darul Falah, 2005.

Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997.

Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ): 2023.

M Yunus - HUMANISTIKA: Jurnal Keislaman, 2015.

Jawwad Ali, Sejarah Arab Sebelum Islam, Ciputat: PT Pustaka Alvabet, 2010.

Ahmad al ‘Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta:Akbar Media Eka Sarana, 2008.

(21)

Musyarif, Sejarah Peradaban Islam (Pra Islam sampai Bani Umayyah), (Parepare:

Kaaffah Learning Center, 2019.

Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Jakarta: Ummul Qura, 2012.

https://www.kemhan.go.id/badiklat/2013/03/21/bangsa-arab.html

Philip K. Hitti, History Of The Arabs, From The Earliest Times To The Present , Seven Edition, London: Mcmillian & Co LTD, 2013.

Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam, Riau: Yayasan Pusaka Riau, 2018.

Referensi

Dokumen terkait