• Tidak ada hasil yang ditemukan

sejarah ilmu pengetahuan

N/A
N/A
Fikri Albarsani

Academic year: 2024

Membagikan "sejarah ilmu pengetahuan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

ILMU-ILMU KEAGAMAAN DAN ILMU-ILMU UMUM DALAM ISLAM

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Machasin. M.A

Disusun oleh:

Muhammad Fikri Albarsani 22201022006

PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

2024

(2)

1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Membahas mengenai ilmu pengetahuan dalam Islam, mestinya perlu mengetahui epistimologi ilmu pengetahuan dalam Islam, pada masalah apa pengetahuan dalam Islam? Maka dapat dijelaskan bahwa sumber pengetahauan dalam islam ialah meliputi alam fisik yang dapat diindra dan alam meta fisik yang tidak dapat diindra seperti Tuhan, malaikat, alam kubur, alam akhirat. Pada pertanyaan epistimologi yang kedua, bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh? Dalam Islam, ilmu pengetahuan dapat dicapat melalui tiga elemen; indra, akal, dan hati. Dari ketiga elemen ini dalam praktiknya diterapkan dengan metide yang berbeda-beda; indra untuk metode observasi (bayani), akal untuk metide logis atau deminstratif (Burhani), dan hati untuk metode intuitif (‘irfani).

Apabila dilihat secara umu ilmu dalam Islam dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok yaitu meliputi: metafisika yang memiliki posisi tertinggi, kemudian disusul oleh matematika, dan yang terakhir terdapat ilmu-ilmu fisik. Melalui tiga kelompok ilmu tersebut, maka muncullah berbagai disiplin ilmu pengetahuan dari berbagai kelompoknya, misalnya; dalam ilmu-ilmu metafisika (ontology, teologi, kosmologi, angeologi, dan eskatologi), dalam ilmu-ilmu matematika (geometri, aljabar, aritmatika, music dan trigonometri), dan dalam ilmu-ilmu fisik (fisika, kimia, geologi, geografi, astronomi, dan optika).

RUMUSAN MASALAH

1. Baagaimana Asal-usul Ilmu Pengetahuan dalam Islam?

2. Bagaimana Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Islam?

3. Bagaimana Kemunduran Ilmu Pengetahuan dalam Islam?

(3)

2 BAB II

ASAL-USUL ILMU PENGETAHUAN

Sejarah ilmu pengetahuan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW terbagi menjadi dua periode utama: Makkah dan Madinah. Inti dari ilmu pengetahuan pada masa tersebut adalah berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Nabi Muhammad berperan sebagai pendidik dan pelopor Pendidikan Islam, yang menandai titik awal pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Model pembelajaran pada masa Rasulullah menekankan pada pemahaman dan penghafalan al-Quran, dengan pengajaran yang sederhana melalui interaksi langsung antara pendidik dan murid. Pendidikan Islam pada periode ini menekankan aspek kerohanian dan moral, namun juga tidak meninggalkan aspek-aspek lain seperti pendidikan mental, jasmani, matematika, ilmu sosial, dan lainnya. Oleh karena itu, Pendidikan Islam pada masa awal Islam sudah mengajarkan pendidikan yang komprehensif. Meskipun fokus pada bidang keimanan dan aqidah, pencapaian dalam kesusastraan dan kebendaan juga sudah ada, meski belum sebesar masa-masa berikutnya..1

Pada periode awal di Makkah, Nabi Muhammad SAW mengutamakan pembinaan moral, akhlak, dan tauhid kepada masyarakat Arab setempat. Ketika hijrah ke Madinah, fokusnya bergeser ke pembinaan sosial. Seiring dengan banyaknya penerimaan Islam di Makkah, Nabi menyediakan rumah Arqam bin Abil Arqam sebagai pusat pertemuan untuk sahabat dan pengikutnya. Di tempat ini, Pendidikan Islam dimulai dalam sejarah Islam. Di rumah Arqam, Nabi mengajarkan prinsip- prinsip agama Islam kepada sahabat-sahabatnya, membacakan ayat-ayat al-Quran yang baru turun, dan menerima tamu-tamu yang ingin memeluk Islam atau

1 Hamim Hafiddin, “Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah,” TARBIYA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam 1, no. 1 (2015): 18.

(4)

3

menanyakan tentang agama ini. Rumah Arqam juga menjadi tempat Nabi melakukan shalat bersama sahabat-sahabatnya.2

Pada periode Makkah ini Pendidikan yang diajarkam Nabi berfokus pada Pendidikan keagamaan dan akhlak serta menganjurkan kepada manusia untuk menggunakan akal pikirann dalam memeprhatikan kejadian manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta. Muhammad Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, membaginya kedalam empat kategori, yaitu: 1) pendikam keagamaan. 2) Pendidikan Akliyah dan ilmiah. 3) Pendidikan akhlak dan budi pekerti. 4) Pendidikan jasmani dan Kesehatan.

Pada periode Madinah, pendidikan Islam berkembang pesat karena Nabi tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama tetapi juga sebagai kepala negara. Setelah terbentuknya masyarakat Islam, Pendidikan Islam dilakukan secara luas dan terbuka.

Di periode ini, Nabi Muhammad memulai inisiatif baru dalam pendidikan Islam, antara lain: 1) mendirikan masjid di Madinah, yang kemudian menjadi pusat pendidikan dan dakwah Islam, dan 2) menyatukan berbagai potensi yang sebelumnya tersebar dan bahkan terpecah belah. Langkah ini terwujud dalam dokumen yang terkenal sebagai piagam Madinah..3

Pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad di Madinah dapat dikatakan sebagai Pendidikan sosial dan politik. Hal ini merupakan keberlanjutan dari Pendidikan tauhid di Makkah, yaitu pembinaan di bidang Pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran, yang merupakan cermin dan pantulan dari sinar tauhid tersebut.

Pada masa Khulafaurrasyidun, wilayah ekspansi Islam semakin luas seiring dengan peningkatan jumlah pemeluk Islam. Kehidupan masyarakat juga berkembang pesat di sektor ekonomi, dan kedatangan para pemikir dari berbagai kota turut

2 Mohammad Syam’un Salim, “Khabar Sadiq; Sebuah Metode Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Islam,” Kalimah 12, no. 1 (2014): 100.

3 Hafiddin, “Pendidikan Islam... 22.

(5)

4

mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Periode ini ditandai dengan dominasi pengembangan ilmu syari’at dibandingkan ilmu logika. Ilmu syari’at ini berakar pada sumber-sumber Islam, seperti al-Quran dan Hadis, yang menjawab berbagai masalah keagamaan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Salah satu hasilnya adalah munculnya ilmu qira’at yang berkaitan dengan cara membaca dan memahami al-Quran. Dalam misi penyebaran ilmu qira’at ini, Khalifah Umar mengirim beberapa delegasi, antara lain: Muadz bin Jabal ke Palestina, Ubadah Ibn Shamit ke kota Hims, Abu Darda’ ke Damaskus, sementara Ubay ibn Ka’b dan Abu Ayub menetap di Madinah..4

Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas tidak hanya ahli dalam ilmu al-Qur'an tetapi juga mahir dalam ilmu fikih, karena ilmu fikih mampu memberikan jawaban terhadap permasalahan sehari-hari yang bersumber dari al-Quran dan hadis.

Karenanya, tidak mengherankan jika para ahli al-Qur'an tersebut juga mempunyai keahlian dalam ilmu fikih. Seperti sahabat-sahabat lainnya yang juga terampil dalam ilmu al-Qur'an dan fikih, seperti Umar ibn Khatab, Ali Ibn Abi Thalib, Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Abbas, Abdullah Ibn Ma’ud, Anas Ibn Malik, Muadz Ibn Jabal, dan Abdullah Ibn Amru Ibn Ash.5

Pada masa Khulafaurrasyidun terjadi persoalan politik yang berujung pada persoalan teologi yang kompleks. Awalnya dimulai dengan munculnya fitnah besar pada masa Khalifah Utsman bin ‘Affan yang tragisnya berakhir dengan syahidnya beliau. Fitnah ini meluas ke perang Jamal dan mencapai puncaknya dalam perang Shiffin yang berakhir dengan arbitrase antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Peristiwa-peristiwa politik ini menimbulkan kebingungan di kalangan umat Islam saat itu dan memunculkan beberapa kelompok. Perseteruan politik

4 Arif Al Anang, “Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam,” Fajar Historia:

Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan 3, no. 2 (2019): 101.

5 Ibid., 102.

(6)

5

tersebut kemudian mengundang pertanyaan-pertanyaan teologis tentang dosa besar, iman dan kafir, serta topik-topik yang lainnya..6

Meskipun secara etimologi, "kalam" berarti perkataan atau pembicaraan, dalam konteks istilah, kalam tidak merujuk pada "perkataan" atau "pembicaraan"

sebagaimana dalam penggunaan sehari-hari. Lebih tepatnya, kalam mengacu pada pembicaraan yang bernalar dan menggunakan logika. Dalam konteks ini, kalam mengandung makna alasan atau argumen rasional yang digunakan untuk mendukung pernyataan. Istilah ini mengacu pada sistem pemikiran spekulatif yang digunakan untuk mempertahankan Islam dan tradisi keislaman dari ancaman atau tantangan eksternal. Para pendukung kalam, yang disebut mutakallimin, adalah individu yang menggunakan dogma atau persoalan-persoalan teologis kontroversial sebagai topik diskusi dan wacana dialektik. Mereka menawarkan bukti-bukti spekulatif untuk mempertahankan posisi mereka. Lahirnya ilmu kalam ini menandai awal munculnya ilmu pengetahuan dalam Islam..7

6 Amat Zuhri dan Miftahul Ula, “Ilmu Kalam dalam Sorotan Filsafat Ilmu,” Religia 18, no. 2 (2015): 164.

7 Ibid., 166.

(7)

6 BAB III

KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DALAM ISLAM

Kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam mencakup berbagai bidang ilmu, seperti: ilmu-ilmu agama, Bahasa, Sejarah, geografi, filsafat, astronomi, matematika, dan fisika atau ilmu pengetahuan alam. Para ilmuan dalam Islam banyak bermunculan dan berkontribusi besar pada kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka semua ini menulis karya-karyanya kedalam Bahasa Arab. Berikut ulasan secara ringkas mengenai perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam.8

1. Ilmu Naqli a. Ilmu Agama

Ilmu-ilmu agama merupakan cabang disiplin ilmu yang diperdalam oleh masyarakat Arab Muslim. Sahabat Nabi banyak melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk tujuan dakwah. Dari perjalanan tersebut, muncul berbagai pusat kajian Islam seperti madrasah-madrasah yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Kajian ini berpusat pada Al-Qur'an, Hadis, dan Fiqh. Pusat-pusat kajian Islam tersebar di beberapa tempat, antara lain di Makkah, Madinah, Kufah, Basrah, Fustat, dan Damaskus. Di antara ulama terkemuka pada masa tersebut adalah Abdullah ibn Amr ibn Ash (w. 65 H) dan Yazid Ibn Abu Habib (w. 128 H) di Fustat, Mesir. Dari kedua ulama ini juga lahir tokoh-tokoh ulama tabi'in yang mahir dalam bidang Hadis dan Fiqh, seperti Laits ibn Sa’ad dan Abdullah ibn Lahi’ah..9

Pada perkembangan selanjutnya, dapat dikatakan sebagai puncak kemajuan dalam bidang agama, yang tercermin dalam kemajuan ilmu fikih dan hadis. Misalnya, dalam bidang ilmu fikih, telah lahir empat corak mazhab yang terkenal, yaitu mazhab Hanafi yang didirikan oleh Imam Abu Hanifah (w. 150 H), mazhab Syafi’i oleh Imam

8 Ahmad Masrul Anwar, “Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Bani Ummayah,” Jurnal TARBIYA 1, no. 1 (2015): 47–76.

9 Nurhasan, “Perkembangan Ilmu Pengetahuan di masa Dinasti Umayyah,” Al-Turas 12, no. 2 (2006): 168. .

(8)

7

Muhammad Idris al-Syafi’i (w. 204 H), mazhab Maliki oleh Imam Malik bin Anas, dan mazhab Hambali oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H). Di bidang hadis, juga terjadi kemajuan signifikan pada masa ini, khususnya sekitar pertengahan abad ketiga Hijriyah. Pada periode ini, terlihat kecenderungan penulisan hadis yang didahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan antara hadis sahih dan hadis dhaif. Tokoh- tokoh utama dalam hal ini termasuk al-Bukhari (w. 256 H), Muslim (261 H), Ibn Majah (w. 273 H), Abu Dawud (w. 275 H), al-Tirmidzi (w. 279 H), serta al-Nasa’i (w.

303 H)..10

b. Ilmu Bahasa

Setelah berhasil menaklukkan wilayah-wilayah tersebut, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa-bahasa lokal di daerah-daerah yang ditaklukkan. Di Syam, bahasa Arab bercampur dengan bahasa Romawi dan Siryani; di Mesir, bercampur dengan bahasa Koptik; di Irak dan Persia, bercampur dengan bahasa-bahasa Ajam setempat; dan di Maroko, bercampur dengan bahasa Barbar. Setelah wilayah-wilayah ini memeluk Islam, muncul kebutuhan untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa agar orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari dan di luar wilayah Arab tidak keliru dalam menggunakan bahasa tersebut. Tokoh pertama dalam ilmu bahasa atau nahwu yang tercatat dan menulisnya adalah Abu Aswad ad- Du'ali (w. 69 H). Beliau belajar langsung dengan Ali bin Abi Thalib, sehingga ada yang menyebut Ali bin Abi Thalib sebagai bapak ilmu nahwu. Abu Aswad memiliki beberapa murid terkenal, seperti Yahya ibn Ya’mar, Anbasah ibn Ma’dan, Maimun al- Aqran, dan Isa ibn Umar al-Tsaqafi..11

c. Ilmu Tafsir

10 Mohammad Kosim, “Ilmu Pengetahuan Dalam Islam (Perspektif Filosofis-Historis),” Tadrîs 3, no. 2 (2008): 133.

11 Muchlis Muchlis, “Perkembangan Pendidikan Masa Dinasti Umayyah (41-132 H / 661-750 M),” Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam 5, no. 1 (2020): 46.

(9)

8

Selanjutnya pada bidang tafsir bidang ilmu tafsir masa Abbasiyah telah menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu hadis. Buku tafsir yang lengkap yang tersusun dari al-fatihah sampai al-Nas juga mulai disusun. Menurut catatan Ibn al- Nadim yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap tersebut ialah Yahya bin Ziyad al-Daylamy atau yang dikenal dengan al-Farra.

d. Ilmu Sejarah

Ilmu Sejarah muncul berkat kajian mengenai sirah nabawiyah atau riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW, berbagai perang yang dialami beliau bersama sahabat, serta peristiwa penting seperti hijrah para sahabat dan Rasulullah SAW.

Kitab-ketab Sejarah pertama yang disusun adalah al-Maghazi dan al-Sirah. Kota Madinah menjadi pusat utama kajian ilmu Sejarah karena di situlah Rasulullah SAW dan para sahabatnya tinggal. Hal ini memungkinkan banyak dari kalangan tabi’in untuk belajar dan mengumpulkan informasi dari sahabat yang masih hidup di sana sebanyak mungkin..12

Tokoh-tokoh sejarawan pada masa ini termasuk Aban ibn Utsman ibn Affan (w. 105 H), Urwah ibn Zubair (w. 92 H), Abdullah ibn Abu Bakar ibn Hazm al- Anshari (w. 135 H), dan Ashim ibn Amr ibn Qatadah al-Anshari (w. 120 H). Ashim sendiri mendapat perintah khusus dari Khalifah Umar ibn Abdul Aziz untuk mengajar di Masjid Umayyah di Damaskus mengenai perang-perang yang dialami Rasulullah SAW serta biografi sahabat-sahabatnya..13 Ilmu Sejarah dalam Islam terus mengalami perkembangan dengan munculnya tokoh-tokoh seperti Ibn Ishaq (w. 152 H) yang karyanya kemudian diringkas oleh Ibn Hisyam (w. 218 H). Selanjutnya, Muhammad ibn ‘Umar al-Waqidi (w. 207 H) muncul dengan buku-buku seperti al-Tarikh al-Kabir dan al-Maghazi. Sejarawan lain yang penting termasuk Muhammad ibn Sa’ad (w. 230 H) dengan karyanya Tabaqat al-Kubra, serta Ahmad ibn Yahya al-Baladhuri (w. 279 H) yang menulis Futuh al-Buldan. Di antara mereka terdapat juga al-Mas’udi yang

12 Nurhasan, “Perkembangan Ilmu Pengetahuan... 170.

13 Ibid., 171.

(10)

9

terkenal sebagai ahli Sejarah dan geografi, serta sejarawan-sejarawan lainnya yang memberikan sumbangan signifikan dalam ilmu Sejarah Islam.14

e. Ilmu Sastra

Bangsa Arab secara naluri memiliki karakter sebagai penyair karena lingkungan mereka yang sangat kondusif. Pada masa itu, seni syair berkembang sesuai dengan imajinasi masing-masing penyair, dan banyak penyair yang muncul di dalam kabilah-kabilah Arab. Penyair memiliki kedudukan yang terhormat dalam kabilah mereka. Syair-syair Arab yang berkembang pada masa dinasti Umayah memiliki orientasi yang berbeda dengan syair-syair masa jahiliyah. Pada masa ini, muncul jenis syair ghazal yang bernuansa cinta dan erotisme yang dikembangkan oleh Umar ibn Abu Rabi’ah di Hijaz. Selain itu, terdapat pula syair-syair yang bernuansa politik, baik yang berisi pujian maupun kritikan, seperti syair dari Ubaidillah ibn Qais al-Ruqiyat. Di samping itu, ada juga penyair-penyair istana seperti al-Farazdaq yang menjadi penyair untuk Khalifah Abdul Malik ibn Marwan, serta Jarir yang menjadi penyair untuk gubernur Irak pada masa al-Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi..15

Pada bidang kesusastraan, penyair yang terkenal masa Abbasiyah ialah Abu Nawas, dengan syairnya yang berisi tentang arak, asrama, berburu dan berragam obyek syair yang lainnya yang menyangkut kebudayaan dan kemewahan. Mengenai prosa ada Abdullah ibn al-Muqaffa yang menerjemahkan buku Pahlevi (Persia Kuno), Kalilah Wa Dimmah dalam Bahasa Sanksekerta sebagai buku prosa tertua sastra Arab.

2. Bidang ilmu aqli

Kemajuan pada masa Abbasiyah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban manusia modern dalam bidang ilmu pengetahuan. Sebagai

14 Intan, “Kontribusi Dinasti... 171.

15 Yusnadi dan Fakhrurrazi, “Pendidikan Islam... 171.

(11)

10

contoh, Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, pencetus ilmu aljabar, memberikan sumbangan yang signifikan. Selanjutnya, ilmu astronomi juga mendapat perhatian besar dari komunitas Muslim pada era Abbasiyah, didukung secara langsung oleh Khalifah al-Mansur, yang juga dikenal sebagai seorang astronom. Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari berperan penting dengan menerjemahkan buku "Siddhanta" dari bahasa Sanskerta ke bahasa Arab. Tokoh-tokoh penting dalam ilmu astronomi Muslim antara lain al-Khwarizmi, Ibn Jabir al-Battani (w. 929 M), Abu Rayhan al- Biruni (w. 1048 M), dan Nasir al-Din al-Tusi (w. 1274 M). Mereka semua memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ilmu astronomi pada masa tersebut..16

Bidang lain yang mengalami kemajuan adalah kedokteran, dengan dokter terkenal pada masa ini adalah Ali Ibnu Rabban al-Tabari, yang terkenal karena karyanya berjudul Firdaus al-Hikmah pada tahun 850 M. Selain itu, terdapat beberapa tokoh lain seperti al-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibn Bakhtisyu, dan Yahya ibn Masuwaih yang memberikan kontribusi signifikan dalam bidang kedokteran. Dalam bidang ilmu kimia, bapak ilmu kimia Islam dikenal sebagai Jabir ibn Hayyan (w. 815 M), yang juga dikenal dengan nama Geber. Ahli kimia lainnya pada periode berikutnya termasuk al-Razi, al-Tughrai, yang hidup sekitar abad ke-12 Masehi, yang turut mengembangkan dan memperluas pengetahuan dalam ilmu kimia di dunia Islam..17

Pada masa kekuasaan Khalifah Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun, terjadi Gerakan penerjemahan buku filsafat dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.

Beberapa ilmuwan Muslim pada masa dinasti Abbasiyah terpengaruh oleh filsafat Yunani. Berkat dedikasi mereka dalam ilmu pengetahuan, para ilmuwan ini

16 Abdul Karim, “Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Metodologi Penelitian,”

Fikrah Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 2, no. 1 (2017): 283.

17 Haidar Putra Daulay, Zaini Dahlan, dan Yumita Anisa Putri, “Peradaban dan Pemikiran Islam pada Masa Bani Abbasiyah Islamic Civilization and Thought in the Abbasid Period,” Edu Society 1, no.

2 (2021): 233.

(12)

11

mengembangkan pemikiran mereka sendiri dan meninggalkan karya-karya yang berharga bagi peradaban manusia selanjutnya. Tokoh-tokoh filsuf Muslim pada masa itu termasuk al-Kindi (w. 252 H), al-Farabi (w. 339 H), Ibnu Sina (w. 428 H).18

Ilmu pengetahuan mencapai puncak kejayaannya pada masa Abbasiyah bukan tanpa alasan, melainkan didukung oleh beberapa faktor yang mendasar. Pertama, etos keilmuan yang tinggi di kalangan umat Islam, didorong oleh ajaran Islam yang memberikan perhatian istimewa terhadap ilmuwan dan aktivitas ilmiah. Kedua, Islam sebagai agama yang rasional memberikan ruang luas bagi akal untuk berkembang dalam ilmu pengetahuan. Ketiga, berkembangnya ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam klasik adalah sebagai hasil dari kewajiban mereka untuk memahami alam semesta ciptaan Allah. Keempat, dukungan yang kuat dari khalifah-khalifah Abbasiyah yang mencintai ilmu pengetahuan sangat berperan. Mereka menyediakan fasilitas dan sumber daya yang memadai untuk pengembangan ilmu pengetahuan, seperti Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), Observatorium, Kuttab (sekolah- sekolah), dan berbagai lembaga pendidikan lainnya..19

18 Karim, “Sejarah Perkembangan... 282.

19 Kosim, “Ilmu Pengetahuan... 134.

(13)

12 BAB IV

KEMUNDURAN ILMU PENGETAHUAN DALAM ISLAM Pada abad ke-13 Masehi, setelah serbuan bangsa Mongol atas Baghdad, proses peralihan kekuasaan dari Islam ke Kristen di Spanyol, dan berakhirnya Perang Salib, kebudayaan Islam pada masa itu hampir merosot di hampir semua wilayah Islam. Gerakan maju yang cepat tiba-tiba terhenti, bahkan beberapa sektor mengalami kemunduran. Kefakuman ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, unsur Arab yang menjadi ciri khas kebudayaan Islam pada awal perkembangannya dan fase pengembangannya tersisihkan oleh dominasi unsur Persia dan Turki. Orang-orang Persia mulai menghidupkan kembali bahasa dan kebudayaan mereka sendiri, sementara kebudayaan Arab diabaikan, seperti yang terlihat pada Kerajaan Bani Buwaihi al-Parisi. Kedua, ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam pada masa itu cenderung menjadi milik aristokrat dan tidak merakyat, terbatas hanya di istana-istana keluarga kerajaan. Akibatnya, kedudukan ilmu dan kebudayaan Islam dalam dunia Islam merosot drastis..20

Pada sisa masa itu, kemerdekaan berfikir dan berijtihad yang sejalan dengan aliran Mu'tazilah telah terkekang. Demikian pula, dinamika dalam aqidah dan keyakinan perlahan-lahan menjadi statis seiring dengan berkembangnya aliran Asy'ariyah yang menggantikan pendekatan rasional dengan pendekatan tekstual.

Khalifah Mutawakkil melindungi paham Asy'ariyah yang berbeda dengan kebijakan sebelumnya dari Khalifah al-Ma’mun yang melindungi Mu'tazilah. Akibatnya, kebudayaan yang sebelumnya berkembang maju menjadi terhenti dan kehilangan kreativitasnya..21

Faktor penting lainnya adalah musnahnya pusat kebudayaan Islam di Baghdad akibat serbuan bangsa Mongol, yang menyebabkan hilangnya banyak buku yang

20 Ibrahim Nasbi, “Kemunduran Ilmu Pengetahuan Dan Filsafat Dalam Dunia Islam,” Jurnal Shaut Al-’Arabiyah 4 (2016): 4.

21 Ibid.

(14)

13

merupakan khazanah pengetahuan dan warisan kebudayaan Islam dari beberapa abad sebelumnya. Sementara itu, terjadi pula eskalasi perselisihan dan persaingan antara paham-paham dan aliran-aliran keagamaan yang semakin memburuk. Masing-masing aliran cenderung tertutup dan mengklaim kebaikan serta kebenaran dari aliran mereka sendiri, sehingga terjadi konflik antara Fuqaha dan Sufiyah, antara Mu’tazilah dan Asy’ariyyah, serta antara pengikut Syiah dan Sunni. Perselisihan juga terjadi antara aliran-aliran fikih seperti antara Syafi’iyah dan Hanafiyah, serta antara mazhab Hambali dengan mazhab-mazhab lainnya.22

Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa pertentangan tersebut tidak hanya terbatas pada kalangan ulama dan cerdik cendekiawan, tetapi juga merembes ke kalangan rakyat awam yang tidak mengenal toleransi terhadap lawan atau musuhnya.

Hal ini berdampak buruk bagi aktivitas keilmuan dan kebudayaan Islam. Ulama yang menyaksikan pergolakan pada saat itu merasa tidak nyaman dalam menyampaikan gagasan-gagasan baru yang berhubungan dengan kepentingan umat. Mereka cenderung untuk menutup diri dan kurang bersemangat dalam melakukan ijtihad.23

Apabila terdapat negeri Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan bangsa Mongol, negeri tersebut adalah Mesir yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mamluk. Mesir berhasil selamat dari kehancuran, sehingga keberlanjutan perkembangan peradaban masa klasik masih terlihat relatif baik di sana. Meskipun begitu, prestasi yang dicapai oleh Mesir pada masa tersebut tetap berada di bawah pencapaian umat Islam pada masa klasik secara umum. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kuatnya pengaruh metode berpikir tradisional yang sudah tertanam sejak munculnya aliran teologi Asy’ariah, serta kecaman terhadap filsafat yang semakin mewarnai pemikiran mayoritas umat Islam sejak era pemikiran al-Ghazali. Namun, yang lebih penting lagi adalah kehancuran Baghdad yang

22 Anang Sholikhudin, “Merebut Kembali Kejayaan Islam Analisis Internal dan Eksternal Penyebab Kemunduran Islam,” Al-Murabbi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3 (2017): 137.

23 Ibid.

(15)

14

merupakan pusat-pusat peradaban Islam dengan fasilitas ilmiahnya yang kaya, sehingga kehilangan inspirasi yang besar bagi peradaban Islam.24

Berikut faktor-faktor yang menjadi penyebab kemunduran ilmu pengetahuan dan filsafat dalam dunia Islam, sebagai berikut25:

1. Runtihnya tiga Kerajaan besar, yaitu: Safawiyah di Persia, Utsmani di Turki, dan Mughal di India.

2. Serangan ke kota Baghdad oleh Hulagu Khan pada abad 13 M, menjadikan kejayaan Islam yang berlangsung berabad-abad runtuh.

3. Pengaruh interen oleh al-Ghazali yang berkaitan dengan karyanya yaitu kitab

al-tahafut al-falasifah

4. Pengaruh filsafat Yunani dengan metode deduktifnya dan logika yang bertolak dari Silogisme primer yang mengandung kelemahan-kelemahan. Ini menjadi sumber pemikiran Islam, bukan lagi bersumber dari Al-Quran

5. Madzhab al-Syafi’I yang dominan dan kurang memperhatikan pada penelitian dan pemikiran

6. ketatnya persyaratan yang harus dipenuhi untuk melakukan ijtihad, sehingga sangat sedikit sekali ijtihad-ijtihad baru muncul dari para ‘alim dalam Islam.

7. Menyebarnya sufisme dan mistisme dengan ajaran zuhudnya.

8. Kekhawatiran para penguasa apabila semakin banayk orang yang pandai dan berilmu maka kemungkinan besar kekuasaan yang dipegang oleh penguasa menjadi terganggu..

24 Ibid., 141.

25 Nasbi, “Kemunduran Ilmu Pengetahuan..., 6.

(16)

15 BAB V KESIMPULAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam mengalami evolusi yang signifikan dari masa Rasulullah SAW hingga era dinasti Abbasiyah. Pada masa Rasulullah, ilmu pengetahuan mulai berkembang dnegan Pembangunan masjid sebagai pusat dakwah dan kegiatan sosial, ekonomi, dan politik. Keempat Khulafaur Rasyidin melanjutkan usaha ini denga mempertahankan dan memperluas pengetahuan yang telah ada.

Dibawah dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan mencapai puncak kejayaannya.

Pemerintah memberikan dukungan besar, seperti yang dilakukan oleh khaliah al- Ma’mun yang mendirikan Baitul Hikmah, pusat pengemvangan ilmu pengetahuan, dan menerjemahkan buku-buku asing ke dalam Bahasa Arab. Infrastruktur Pendidikan dibangun, dan ilmuwan seperti al-Khawarizmi dan al-Farazi memberikan kontribusi penting dalam bidang matematika dan astronomi.

Dari semua hal diatas dapat diambil kesimpulan bahwa dari masa Rasulullah hingga Abbasiyah, Islam tidak hanya menkankan pentingnya iman tetapi juga menggalakkan pencarian ilmu. Ini tercermin dalam semangat intelektual yang tinggi, integrasi ilmu agama dan umum, serta kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Periode ini menandai ea di mana Islam berkontribusi besar pada warisan intelektual dunia.

(17)

16

DAFTAR PUSTAKA

Anang, Arif Al. “Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam.” Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan 3, no. 2 (2019).

Anwar, Ahmad Masrul. “Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Bani Ummayah.” Jurnal TARBIYA 1, no. 1 (2015).

Daulay, Haidar Putra, Zaini Dahlan, dan Yumita Anisa Putri. “Peradaban dan

Pemikiran Islam pada Masa Bani Abbasiyah Islamic Civilization and Thought in the Abbasid Period.” Edu Society 1, no. 2 (2021).

Hafiddin, Hamim. “Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah.” TARBIYA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam 1, no. 1 (2015).

Intan, Salmah. “Kontribusi Dinasti Abbasiyah Bidang Ilmu Pengetahuan.” Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 6, no. 2 (2018).

Karim, Abdul. “Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Metodologi

Penelitian.” Fikrah Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 2, no. 1 (2017):

Kosim, Mohammad. “Ilmu Pengetahuan Dalam Islam (Perspektif Filosofis- Historis).” Tadrîs 3, no. 2 (2008).

Muchlis, Muchlis. “Perkembangan Pendidikan Masa Dinasti Umayyah (41-132 H / 661-750 M).” Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam 5, no. 1 (2020).

Nasbi, Ibrahim. “Kemunduran Ilmu Pengetahuan Dan Filsafat Dalam Dunia Islam.”

Jurnal Shaut Al-’Arabiyah 4 (2016).

Nurhasan. “Perkembangan Ilmu Pengetahuan di masa Dinasti Umayyah.” Al-Turas 12, no. 2 (2006).

Salim, Mohammad Syam’un. “Khabar Sadiq; Sebuah Metode Transmisi Ilmu

(18)

17

Pengetahuan dalam Islam.” Kalimah 12, no. 1 (2014).

Sholikhudin, Anang. “Merebut Kembali Kejayaan Islam Analisis Internal dan Eksternal Penyebab Kemunduran Islam.” Al-Murabbi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3 (2017).

Yusnadi, Yusnadi, dan Fakhrurrazi Fakhrurrazi. “Pendidikan Islam Pada Masa Daulah Bani Umayyah.” At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, 2020.

Zuhri, Amat, dan Miftahul Ula. “Ilmu Kalam dalam Sorotan Filsafat Ilmu.” Religia 18, no. 2 (2015).

Referensi

Dokumen terkait

Dalam sejarah perkembangan modern ilmu falak di Indonesia pada awal abad ke-20, ditandai dengan penulisan kitab-kitab ilmu falak oleh para ulama ahli falak

Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam.Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa

Ide ini disampaikan oleh Nasr meskipun belum menggunakan identitas atau label yang jelas, dilanjutkan al-Attas dan disebarluaskan oleh al-Faruqi dengan

Pengalaman yang diperoleh ahli kimia tidak lagi relevan untuk mempelajari sifat secara keseluruhan dari materi tetapi hanya sebatas pada aspek yang berkaitan dengan awan

Buku karangannya lainnya di bidang filsafat antara lain : Al Munqidz minadh Dhalal, Maqosidul Falasifah. Selain ahli kedokteran, dia juga ahli filsafat, pengikut Aristoteles

Secara garis besar, Amsal Bakhtiar membagi periodeisasi sejarah perkembangan ilmu pengetahuan menjadi empat periode: pada zaman Yunani kuno, pada zaman Islam, pada

‘Ilmu Mushthalah Al-Hadits adalah ilmu yang membahas tentang pengertian istilah-istilah ahli hadis dan yang dikenal antara mereka. Tujuannya,memudahkan para

muhaddits, ahli ushul fiqh ushuli, ahli fiqh faqih, ahli nahwu nahwiyy, dan pengarang mushannif.141 Sedangkan pamannya dari jalur Bapak yang bernama Al-Khatib Fakhr al-Din dikenal