Data penimbangan massal di wilayah Kota Pariaman menunjukkan adanya penurunan persentase prevalensi gizi buruk. Secara nasional, prevalensi berat badan kurang pada tahun 2010 adalah sebesar 17,9% yang terdiri dari gizi buruk sebesar 4,9% dan gizi buruk sebesar 13,0%.
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, penulis mengetahui hubungan pola asuh, tingkat pengetahuan dan pemberian MP-ASI dengan status gizi pada anak usia 6-12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung Tahun 2018. Apakah ada hubungan pola asuh dengan pengetahuan? tingkat dan MP-ASI dengan status pemberian makan anak usia 6-12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung tahun 2018.
TujuanPenelitian
Tujuanumum
TujuanKhusus
ManfaatPenelitian
BagiMasyarakat
BagiPetugasKesehatan
BagiPenelitian
RuangLingkup
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Status Gizi
Penilaian Status Gizi
Menurut Supariasa (2012), penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: studi konsumsi pangan, statistik vital, dan faktor ekologi. a) Survei konsumsi makanan. Survei konsumsi pangan merupakan suatu metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
Klasifikasi Status Gizi
Mengumpulkan data konsumsi pangan dapat memberikan gambaran konsumsi berbagai zat gizi di masyarakat, keluarga, dan individu. Pengukuran status gizi dengan statistik vital dilakukan dengan menganalisis data berbagai statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan angka kematian karena sebab tertentu serta data lain yang berkaitan dengan gizi.
KebutuhanGiziBayi (0-12 bulan)
Faktorfaktor yang mempengaruhi status gizi
Menurut Scrimshaw (1959) dalam Supariasa (2012), terdapat hubungan yang sangat erat antara infeksi (bakteri, virus dan parasit) dengan malnutrisi, sehingga dapat mempengaruhi status gizi dan mempercepat terjadinya malnutrisi. Oleh karena itu, status gizi kurang atau kelebihan dapat menjadi indikasi perlunya perhatian dan perbaikan status gizi bayi.
Polaasuh
Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung. Ada hubungan pemberian mp-asi dengan status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung. Hasil uji statistik (chi-square) menunjukkan nilai p = 0,000 (p<0,05) yang berarti ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung.
Hubungan tingkat pengetahuan dengan status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung dapat dilihat pada tabel berikut. Hubungan pemberian MP-ASI terhadap status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung dapat dilihat pada tabel berikut. Hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi anak usia 6–12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung pemberian MP-ASI.
Hasil uji statistik (chi-square) menunjukkan nilai p = 0,000 (p<0,05) yang berarti ada hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi anak usia 6 -12 bulan di Posyandu, Kecamatan Sijunjung. Status gizi merupakan ekspresi keadaan keseimbangan yang berupa variabel tertentu, atau wujud gizi yang berupa variabel tertentu. Misalnya penyakit gondok endemik yang merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan asupan dan keluaran yodium dalam tubuh (Supariasa, 2012). Hasil uji statistik (chi-square) menunjukkan nilai p = 0,000 (p<0,05) yang berarti ada hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu Sijunjung - daerah.
Hasil uji statistik (chi-square) menunjukkan nilai p = 0,000 (p<0,05) yang berarti ada hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu, Sijunjung. Lingkaran.
PolaAsuhMakananakusia 6-24 bulan
MP-ASI
- Pengertian MP-ASI
- Bahan-bahanMakananPendamping ASI
- ManfaatMakananPendamping ASI
- DampakPemberian MP-ASI TerlaluDinipadaBayi
MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi yang diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizi selain ASI (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006). Tujuan pemberian makanan pendamping ASI adalah untuk meningkatkan energi dan zat gizi yang dibutuhkan bayi, karena ASI tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus menerus. Hal ini mungkin disebabkan karena asupan makanan anak harus bergantung pada ASI saja atau pemberian makanan tambahan yang tidak memenuhi syarat.
Selain menambah ASI, pemberian makanan tambahan juga sangat membantu bayi dalam proses belajar makan dan mampu menanamkan kebiasaan makan yang baik. Memberikan makanan hasil daerah setempat sejak dini akan membuat anak tersebut menyukai makanan tersebut hingga anak tersebut besar nanti. Sedangkan risiko jangka panjang yang terkait dengan pemberian makanan tambahan yang tepat adalah obsesi, hipertensi, aterosklerosis, dan alergi makanan.
Selain itu, pemberian makanan padat sebelum waktunya akan menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan dan menimbulkan gejala penyumbatan saluran cerna (PSP). Di usia kurang dari 6 bulan, pencernaan bayi belum kuat. Pemberian makanan pendamping ASI sebaiknya diberikan setelah usia 6 bulan karena jika diberikan terlalu dini, konsumsi ASI akan berkurang dan bayi akan mengalami gangguan pencernaan/diare.
Kerangkateori
Kerangka konsep
Hipotesis
DefinisiOperasional
Waktudantempatpenelitian
Populasidansampel
- Populasisampel
- Sampel
- Besarsampel
- Teknikpengambilan data
Distribusi frekuensi status gizi anak usia 6 sampai 12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung disajikan pada tabel berikut. Distribusi frekuensi pola asuh anak usia 6 sampai 12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung disajikan pada tabel berikut. Distribusi frekuensi pemberian MP-ASI pada anak usia 6 sampai 12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung disajikan pada tabel berikut.
Hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu Kecamatan Sijunjung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Hasil uji statistik (chi-square) menunjukkan nilai p = 0,000 (p<0,05) yang berarti ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status gizi anak usia 6-12 bulan di Posyandu, Sijunjung. Lingkaran. Berdasarkan Tabel 4.10 terlihat bahwa status gizi anak usia 6-12 bulan yang tidak normal paling sering diberikan MP-ASI yang tidak memadai (91,4%) dibandingkan dengan MP-ASI yang baik (28,6%).
Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa status gizi anak usia 6 hingga 12 bulan yang tidak normal paling sering diberikan MP-ASI yang tidak memadai (91,4%) dibandingkan dengan MP-ASI yang baik (28,6%). HUBUNGAN POLA PENGASUHAN ANAK, TINGKAT PENGETAHUAN DAN PEMBERIAN MP-ASI DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 6-12 BULAN DI POSYAND.
Jenis Dan Cara Pengumpulan Data
Pengolahandata dananalisa data
- Pengolahan Data
- Analisa Data…
HASIL PENELITIAN
Karakteristik Responden
Hasil Penelitian
- AnalisisUnivariat
- AnalisisBivariat
Dari tabel 4.7 terlihat bahwa lebih dari separuh (55,6%) makanan pendamping ASI yang diberikan pada anak usia 6-12 bulan masih kurang. Dari Tabel 4.9 terlihat bahwa status gizi abnormal pada anak usia 6-12 bulan paling banyak terjadi dengan tingkat pengetahuan ibu rendah (90,9%) dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi (33,3%). Hal ini didasarkan pada banyaknya faktor yang berhubungan dengan status gizi anak usia 6-12 bulan, padahal penelitian ini hanya melibatkan empat variabel.
Pemberian ASI dengan status gizi anak usia 6 sampai 24 bulan di Nagari Sumpur Kudus Kecamatan Sijunjung didapatkan 54,9% responden kurang baik dalam pemberian MP-ASI. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa status makan tidak normal pada anak usia 6 hingga 12 bulan paling sering diwujudkan dalam pola makan yang buruk (83,8%) dibandingkan anak usia 6 hingga 12 bulan yang pola makannya baik ( 34,6%). %). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa status gizi anak usia 6 sampai 12 bulan paling tidak normal dengan tingkat pengetahuan ibu rendah (90,9%) dibandingkan ibu yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi (33,3%). . hasil uji (chi-square) diperoleh nilai p = 0,000 (p<0,05) yang berarti ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status gizi anak usia 6 sampai 12 bulan di Posyand Sijunjung Daerah.
Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zulisma Idola (2013) mengenai hubungan tingkat ekonomi, tingkat pengetahuan ibu dan MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-24 bulan di Nagari Sumpur Kudus Kecamatan Sijunjung. Penelitian ini menemukan adanya hubungan antara pemberian MP-ASI pada anak usia 6-24 bulan ASI dengan status gizi anak. Hubungan tingkat ekonomi, tingkat pengetahuan ibu dan MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-24 bulan di Dinagari Sumpur Kudus Kecamatan Sijunjung.
PEMBAHASAN
AnalisisUnivariat
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 63 responden mempunyai status gizi tidak normal (63,5%) dan normal (36,5%). Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zulisma Idola (2013) mengenai hubungan tingkat ekonomi, tingkat pengetahuan ibu dan MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-24 bulan di Nagari Sumpur Kudus Kecamatan Sijunjung, menemukan bahwa status gizi sangat kurus sebanyak 16,3%. Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi balita adalah kebersihan lingkungan yang merupakan faktor tidak langsung, namun terdapat juga faktor lain yang mempengaruhi status gizi.
Temuan penelitian ini sebanding dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Witranalfi (2016) tentang hubungan pola asuh dengan status gizi balita, ditemukan bahwa 59,3% pola asuh balita buruk. Hasil penelitian ini dapat dibandingkan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Zulisma Idola (2013) mengenai hubungan tingkat ekonomi, tingkat pengetahuan ibu dan MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-24 bulan di Nagari Sumpur Kudus Kecamatan Sijunjung. didapatkan 58,3% responden mempunyai pengetahuan rendah mengenai status gizi. Pengetahuan gizi merupakan aspek kognitif yang menunjukkan pemahaman responden terhadap ilmu gizi, jenis-jenis zat gizi dan interaksinya dengan status gizi.
Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dari 63 responden, lebih dari separuh (55,6%) memberikan MP-ASI pada anak usia 6 hingga 12 bulan, bahkan lebih sedikit lagi. Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zulisma Idola (2013) mengenai hubungan tingkat ekonomi, tingkat pengetahuan ibu dengan MP-.
AnalisisBivariat
Pengenalan dan pemberian MP-ASI sebaiknya dilakukan secara bertahap, baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan bayi atau anak. Pemberian MP-ASI yang cukup baik secara kualitas maupun kuantitas merupakan hal yang penting bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat pada masa ini (Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Meylda Intantiyana, dkk (2018) mengenai hubungan pengetahuan gizi seimbang dengan status gizi balita di Kota Semarang menemukan.
Berdasarkan asumsi peneliti bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan status gizi, hal ini menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan bahwa semakin baik pengetahuan ibu maka semakin baik pula status gizi anaknya. Sebaliknya ibu yang memiliki pengetahuan buruk lebih besar kemungkinannya untuk mempunyai anak dengan status gizi tidak normal. Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi yang diberikan kepada bayi atau anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
Pengenalan dan pemberian MP-ASI sebaiknya dilakukan secara bertahap, baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan. Pemberian MP-ASI yang cukup baik kualitas maupun kuantitasnya penting bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual anak yang meningkat pesat pada periode ini (Azrul Azwar, 2013).
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Ibu lebih cenderung mencari informasi mengenai pemenuhan makanan pada balita, manfaat pemberian makanan pada balita, dan tanda-tanda gangguan tumbuh kembang pada balita. Buku Saku Ilmu Gizi Pedoman Umum Pemberian Makanan Pendamping ASI Lokal (MP-ASI). Memberikan makanan pendamping ASI kepada bayi yang berkunjung ke bagian rawat jalan anak.
Menurut ibu, berapa kali sehari supplemen diberikan kepada bayi berumur 6 hingga 8 bulan? Adakah ibu memberi bayi makanan tambahan apabila dia berumur 4 bulan? 13. Apakah makanan pelengkap yang diberikan kepada bayi apabila mereka berumur < 6 bulan? Adakah ibu menyusukan bayi bawah 6 bulan jika bayi rewel atau menangis? 15. Adakah ibu menyusukan anak di bawah 6 bulan dengan botol? 16. Aapakahibu menyusukan bayi bawah 6 bulan supaya anak bertambah gemuk. 17. Adakah ibu memberi makanan lembut seperti bubur susu sebagai makanan pertama untuk bayi berumur lebih dari 6 bulan? 18. Adakah ibu memberikan susu botol sebagai makanan tambahan semasa dia masih menyusu?
Apakah ibu memberikan makanan tambahan 1-3 kali sehari pada bayi di atas 6 bulan? 20. Apakah ibu memberi makan bayinya dengan lilin segera setelah bayinya lahir? Apakah ibu anda selalu menciptakan suasana menyenangkan (memberi makan sambil mengajak jalan-jalan, memberikan makanan kesukaannya) saat anaknya makan?