PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana sistem kepercayaan masyarakat Towani Tolotang mengenai tradisi dan agama di Buloe Kecamatan Maniangpajo Kabupaten Wajo.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sistem Kepercayaan Masyarakat Towani Tolotang antara Tradisi dan Agama di Buloe Kecamatan Maniangpajo Kabupaten Wajo. Selain menyembah dewa Seuwae, masyarakat Towani Tolotang juga menyembah dewa lain. Lima konsep sosial yang disebutkan masing-masing mempunyai makna yang mendalam bagi masyarakat Towani Tolotang.
Iman atau Keyakinan Towani Tolotang meyakini bahwa kekuasaan tertinggi ada pada Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa).
Definifi Operasinal
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP
Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan adalah suatu susunan atau seperangkat aturan mengenai keyakinan yang dianut oleh suatu kelompok sosial tertentu di suatu tempat tertentu.
Masyarakat
Prae-animisme, merupakan suatu bentuk agama yang didasarkan pada kepercayaan terhadap kekuatan magis yang ada pada segala sesuatu yang luar biasa dan terdiri dari kegiatan keagamaan yang berpedoman pada kepercayaan tersebut. Totemisme adalah salah satu bentuk agama yang ada dalam masyarakat yang terdiri dari kelompok kekerabatan unilineal dan didasarkan pada keyakinan bahwa setiap kelompok unilineal adalah keturunan dewa leluhur. Misteri-misteri yang ada dalam kehidupan ini hanya dapat dijelaskan dengan bantuan pendekatan keimanan atau keagamaan, untuk mengetahui hal tersebut secara jelas akan dipaparkan berbagai konsep ahli mengenai pengertian agama.
Agama bagi kelompok sosial subordinat sangat berbeda dengan peranannya bagi kelompok berkuasa. Di kalangan masyarakat subordinat dikatakan bahwa agama dapat mengungkapkan perlawanan melalui millenarisme, sektarianisme, dan cabai yaitu dalam bentuk kemarahan dan perlawanan. Agama dapat memberikan harapan, pahala dan mendukung. Agama sebagai suatu sistem kepercayaan dapat menjadi bagian dan inti dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan masyarakat tersebut dan menjadi sumber stimulator atau penggerak dan pengontrol bagi tindakan anggota masyarakat agar tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai budaya. dan doktrin agama. Dengan demikian, secara langsung maupun tidak langsung, etos yang mengatur keberadaan dan aktivitas berbagai institusi dalam masyarakat (keluarga, ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya) dipengaruhi, didorong, dan diatur oleh berbagai sistem nilai yang bersumber dari agama yang dianutnya. setuju untuk. dan diwujudkan dalam aktivitas anggota masyarakat sebagai tindakan dan karya yang tercakup dalam simbol-simbol suci (Suparlan dalam Abdullah, 1993: vi-vii).
Kerangka Konsep
METODE PENELITIAN
- Lokus Penelitian
- Informan Penelitian
- Focus Penelitian
- Instrument Penelitian
- Jenis dan Sumber Data Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Data
- Teknik Keabsahan Data
- Jadwal Penelitian
Karena pengukuran yang digunakan dalam sistem stratifikasi Towani Tolotang didasarkan pada ikatan darah, maka stratifikasinya bersifat tertutup. La Panaungi kemudian mengikuti perintah tersebut, dan suara tersebut kembali terdengar sebagai wahyu pertama Dewata Seuwae mengenai keyakinan Towani Tolotang. Penganut Towani Tolotang meyakini keberadaan manusia di dunia hingga saat ini terbagi menjadi dua generasi.
Masyarakat Towani Tolotang sebenarnya intensif mempraktikkan sistem pelestarian lingkungan dalam berbagai aspek kehidupannya. Sebagai warga masyarakat Towani Tolotang, adaptasi menjadi prioritas, apa yang Uwa' lalui itulah yang diupayakan masyarakat. Oleh karena itu, pemimpin (uwa') pada masyarakat Towani Tolotang tidak hanya berkaitan dengan urusan agama dan kepercayaan saja, tetapi juga berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan sosial, budaya, dan kehidupan bernegara.
Hal ini menunjukkan contoh ketegasan tokoh masyarakat Towani Tolotang terhadap pengikutnya untuk mengambil keputusan tegas. Agama yang menjadi konsep sosial masyarakat Towani Tolotang dalam bertindak dan berinteraksi kemudian diterapkan dalam sistem sosialnya, seperti perkawinan, penguburan jenazah dan lain sebagainya. Dalam pandangan hidup Towani Tolotang, masyarakat terbagi menjadi dua generasi, yaitu generasi Sawerigading dan generasi La Panaungi.
Kemampuannya dalam menjaga budaya dan tradisi inilah yang menjadikan masyarakat Towani Tolotang dikenal sebagai masyarakat adat yang perlu dilestarikan baik dari segi budaya maupun tradisinya. Hubungan masyarakat Towani Tolotang dengan masyarakat non Towani Tolotang tetap terjaga dengan baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang dianutnya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Keadaan Demografi
Sumber daya manusia inilah yang kemudian mampu menggali dan menggambarkan serta memanfaatkan kekayaan alam yang ada pada setiap daerah atau wilayah, dengan kata lain faktor kependudukan ini merupakan salah satu faktor pembangunan daerah, bahkan bisa dikatakan faktor ini menempati posisi yang paling penting. karena kita tahu, bahwa pembangunan itu sendiri adalah usaha untuk masyarakat dan untuk masyarakat itu sendiri. Sebaran penduduk terkonsentrasi di tempat-tempat sepanjang jalan utama. sumber data: Kantor Desa Dualimpoe). Dari segi lapangan kerja, masyarakat Buloe sebagian besar berprofesi sebagai petani, hal ini disebabkan karena kondisi alam yang berada di kawasan pertanian, selain sebagai petani, ada juga yang berprofesi sebagai PNS, TNI/POLRI, dan selebihnya adalah individu swasta. dan pengrajin. sumber data: Kantor Desa Dualimpoe).
Keadaan Sosial Budaya dan Ekonomi
Towani Tolotang terlebih dahulu menyepakati kesepakatan yang dikenal dengan nama Ade' Mappura Onroe, yang isi utamanya adalah Ade' Mappura Onroe, Wari Riattutui, Janci Ripaaseri, Rapang Ripannungeng dan Agamae Riwonrei Mabbere. Mereka tetap mengaku percaya pada suatu agama, namun di dalam hatinya pemahaman agama yang asli tetap ada. Tolotang merupakan suku Bugis yang memiliki kesamaan sejarah, budaya, adat istiadat dan bahasa dengan kebanyakan suku Bugis lainnya.
Adat istiadat ini sangat penting dalam masyarakat, dimana adat istiadat atau adat istiadat masyarakat tersebut yang masih menonjol terlihat dari kegiatan sakral seperti perkawinan, upacara kelahiran, upacara kematian dll. Selain itu adat istiadat menjadi suatu ritual yang tentunya tidak lepas dari agama yang kemudian dianut oleh masyarakat Buloe yaitu kepercayaan Towani Tolotang yang konsep kegiatan sakralnya dilakukan sesuai dengan ajaran agamanya. Buloe Desa Dualimpoe yang tepatnya terletak di kecamatan Maniangpajo mempunyai potensi perekonomian yang relatif sama dengan kegiatan perekonomian di daerah lainnya.
Sejalan dengan pertumbuhan perekonomian masyarakat Buloe dan diiringi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi khususnya informasi dan komunikasi membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat tanpa mempengaruhi perilakunya sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya yaitu Towani Tolotang.
Stratifikasi Sosial
Stratifikasi dalam masyarakat merupakan ciri masyarakat yang teratur dan sering terjadi, dan bentuk stratifikasi sosial berbeda-beda tergantung masyarakatnya. Lapisan masyarakat ini mulai ada ketika masyarakat mulai terbiasa hidup bersama dalam suatu organisasi sosial. Masyarakat Tolotang juga mengenal sistem stratifikasi sosial, yang paling menonjol adalah faktor keturunan yang antara lain menentukan imbalan.
Hal ini tidak lepas dari cerita masyarakat Tolotang sendiri yang menganggap pemimpinnya adalah keturunan Sawerigading (nenek moyang orang Bugis) atau La Panaungi yang bergelar Uwa atau Uwatta dan keturunannya menempati lapisan paling atas seperti pada sebagian besar bangsawan Bugi. Lapisan sosial kedua dalam masyarakat adalah Tosama atau kelompok sosial biasa, sedangkan sistem perbudakan yang dalam masyarakat Bugi disebut dengan Ata, tidak lagi dilakukan dalam masyarakat Towani Tolotang seperti yang terjadi pada masyarakat Bugi dengan adanya perubahan nilai. dari masyarakat feodal ke masyarakat modern. Di kalangan Uwa masih terdapat strata yang menempati kedudukan tertinggi dalam masyarakat, hal ini terlihat dari ketertarikan Tiwi terhadap kelompok tersebut dengan sebutan Uwatta Battoae dan hal ini ditularkan secara turun temurun.
Ukuran stratifikasi sosial lain pada masyarakat Towani Tolotang terlihat dari tingkat pendidikan. Di antara para pemimpinnya, ada cerita khusus yang harus dipenuhi untuk mendapatkan gelar Uwatta Battoae yang saat ini dipercayakan kepada Uwa Allo', kriteria yang ditetapkan adalah memahami dengan baik adat istiadat Towani Tolotang (Makkiade). , cerdas dan mampu berkomunikasi, cerdas dalam hal ini tidak memerlukan tingkat pendidikan yang tinggi (macca atau panrita), rasa solidaritas sosial (mapesse) yang tinggi, tau warani. (Sumber data Wa’Candeng: wawancara 10 Agustus 2017) . Ukuran-ukuran lain seperti penguasaan ilmu pengetahuan, kedudukan formal dan kekayaan yang dapat memberikan pengaruh dan menentukan kedudukan dalam masyarakat yang menggunakan sistem stratifikasi terbuka, hampir tidak mempunyai pengaruh dalam sistem stratifikasi sosial Towani Tolotang selama tidak termasuk dalam Uwa. . kelompok, meskipun mereka menempati posisi tertinggi di lapisan Tosama. Sebaliknya, seseorang yang belum pernah mengenyam pendidikan formal atau hanya berprofesi sebagai petani biasa, namun berasal dari kelompok Uwa yang berkategori Tiwi Bunga, dianggap masih menempati posisi tinggi di masyarakat Towani Tolotang.
Golongan Uwa senantiasa menjaga kemurnian garis keturunannya dalam rangka kesinambungan, mereka menyadari bahwa latar belakang asal muasal penghargaan dan penilaian bermula dari sejarah keberadaan Tolotang yang menempatkan nilai tertinggi pada keturunan La Panaungi atau Sawerigading, yang menurut mereka bisa berkomunikasi dengan Dewa Seuwae, merupakan faktor yang sangat memprihatinkan. Selain itu, simbol ini juga tampak pada arsitektur bangunan tempat tinggal atau rumah yang terdiri dari rumah panggung dengan tiang berbentuk bulat atau segi delapan untuk kelompok Uwa, dan berbentuk persegi panjang untuk kelompok Tosama (sumber data: wa'candeng, wawancara 10 Agustus 2017 ).
Sistem Kekerabatan
Pelajaran ini dikembangkan oleh Sawerigading dan dilanjutkan oleh La Panaungi. Komunitas Tolotang terdiri dari Towani Tolotang dan Tolotang Benteng. Dalam memuja Dewa Towani Tolotang tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui beberapa upacara ritual dengan menggunakan simbol totem. Dalam versi Towani Tolotang, orang-orang yang menghuni bumi selama ini adalah orang-orang kedua yang diutus oleh Patotoe atau Dewata Seuwae.
Towani Tolotang percaya bahwa dunia tengah (bumi) diciptakan oleh Dewa Seuwae yang memerintah dunia atas dengan cara yang sangat rahasia dan tersembunyi bahkan dari penghuni surga. Dari segi hukum, masyarakat Towani Tolotang ikut serta dalam penerapan aturan yang berlaku meskipun dalam hal tertentu hak eksklusifnya tidak diakui oleh kerajaan. Sejarah religiusisasi Towani Tolotang dari Uwatta Battoae Uwa'Barang menunjukkan adanya dua kepentingan berbeda terkait Towani Tolotang.
Faktanya, hingga saat ini Towani Tolotang masih berada di bawah naungan agama Hindu, bukan Islam. Dalam pembentukan sikap pribadi dan sikap terhadap kehidupan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat Towani Tolotang wajib berpegang teguh pada ciri-ciri pokok konsep sosial masyarakat sebagaimana dikemukakan oleh Lakulawu. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Towani Tolotang yang mengaku tidak lagi mengikuti ajaran Sawerigading, melainkan hanya mengikuti ajaran La Panaungi.
Sifat jujur inilah yang menjadi tolak ukur dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Towani Tolotang, baik antar anggota komunitasnya maupun antar penganut agama lain disekitarnya. Keberagaman yang ada pada masyarakat Towani Tolotang hingga saat ini masih dijunjung sebagai sesuatu yang sakral, sehingga interaksi sosial yang terjadi antar anggota masyarakat merupakan wujud dari nilai-nilai.