• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penganalan Role Pondok Pesantren dalam Pendidikan Agama dan Pembangunan Karakter Santri

N/A
N/A
Yanyan Yoga Permana

Academic year: 2023

Membagikan " Penganalan Role Pondok Pesantren dalam Pendidikan Agama dan Pembangunan Karakter Santri"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM MANAJEMEN PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas

Mata Kuliah Metodologi dan Etika Penelitian Ilmiah Dosen Pengampu : Dr. Okke Rosmaladewi, M.Pd

PROGRAM STUDI

MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA BANDUNG

2022

Oleh:

Yan yan Yoga Permana NIM:41038103221039

(2)

ABSTRAK

Pondok Pesantren merupakan Lembaga pendidikan keagamaan yang cukup lama dan berkembang bukan hanya di pedesaan tetapi berkembang di seluruh pelosok perkotaan. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan yang didirikan oleh para kyai dulu yang bertujuan untuk meningkatkan keilmuan, pemahamaman, kemandirian serta menanamkan karakter para santri.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pondok pesantren dalam penanaman ilmu pengetahuan agama dan karakteristik santri, mengetahui program pembiasaan yang dilakukan pondok pesantren guna meningkatkan kemandirian hidup, mengetahui kendala-kendala yang dialami oleh pondok pesantren dalam penanaman ilmu pengetahuan agama dan pembentukan karakter santri dan mencari solusi untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dalam penelitian ini adalah jenis program yang dikembangkan di pondok pesantren dalam menanamkan pendidikan agama, karakter dan pendidikan pembiasaan melalui kegiatan keagamaan, pembinaan dan pengarahan . Pendidikan dan pembinaan tersebut diantaranya: kajian kitab kuning, pembinaan peningkatan kualitas santri dan pengembangan program pembiasaan. Diharapkan dengan program ini santri akan mampu memahami ilmu agama, berkarakter baik dan dapat hidup mandiri bagi diri mereka sendiri di masa yang akan datang. karakteristik yang sesuai dengan karakteristik santri menurut ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kata Kunci : Ponpes, Pondok Pesantren, Pendidikan karakter

(3)

PENDAHULUAN

Satu-satunya institusi atau lembaga pendidikan Islam yang lahir dari wilayah kebudayaan Nusantara adalah pondok pesantren. Keberadaan pesantren pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari wacana sosial intelektual di Indonesia. Pesantren menempati posisi sebagai model sistem sosial sekaligus sebagai sistem intelektual yang pertama dan tertua di Indonesia (Septuri,2020:1)

Di era Globalisasi sekarang ini pesantren berperan sangatlah penting dalam membentuk

karakter santri. Sebuah karakter yang baik dapat terbentuk apabila seseorang melakukan

atau menjalani suatu kegiatan kegiatan yang positif yang ada dalam lingkungannya, yakni

kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kecerdasan spiritual seseorang.

(4)

Karakter adalah tabiat/kebiasaan. Menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu. Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada pemikiran karena sudah tertanam dalam pikiran, dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan. (Abdullah Munir,2011:12)

Pendidikan karakter merupakan segala upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk mengajarkan kebiasaan cara berfikir dan berperilaku yang membantu anak untuk hidup dan bekerja Bersama sebagai keluarga, masyarakat dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan (Sofyan Tsauri, 2015:42)

Melalui pendidikan pondok pesantren diharapkan: (1) menambah ilmu pengetahuan agama , (2) terjadinya perubahan karakter yang positif bagi santri, (3) dapat menumbuhkan kemandirian bagi santri dalam kehidupan di masa yang akan datang.

Orang tua memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren biasanya disertai dengan harapan agar si anak

mempunyai ilmu agama yang bagus, berakhlak mulia dan memahami hukum-hukum Islam. Selama ini

tidak ada kekhawatiran bahwa dengan menuntut ilmu di pesantren akan menjauhkan kasih- sayang orang

tua terhadap anak. Anak yang tinggal di pondok pesantren dalam waktu cukup lama tetap bisa

berinteraksi dengan kedua orang tuanya. Akan tetapi santri datang dari berbagai daerah membawa

karakter yang berbeda.

(5)

Adapun santri yang belajar di pesantren ini terdiri dari 2 jenis, yaitu santri pondok dan non pondok. Santri pondok adalah mereka yang belajar dan tinggal di pondok karena asal domisili mereka cukup jauh. Sedangakan santri non pondok adalah mereka yang belajar di pesantren tetapi mereka pulang-pergi karena asal domisili sekitar. Hal ini dibedakan tiadalain karena keterbatasan sarana pondok yang ada.

Dengan berbagai aturan dan penerapan adab atau etika melalui

bimbingan dan pengarahan dari pembimbing/guru secara rutin dapat

mengantarkan santri kepada prestasi dan perilaku yang lebih baik dan

terarah sehingga terwujud karakter atau akhlak yang baik serta melahirkan

lulusan-lulusan yang berkualitas baik ilmu dan pengamalannya.

(6)

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yaitu dengan pemecahan masalah yang terjadi ,berupa masalah-masalah yang aktual. Data yang dikumpulkan dan disusun, dijelaskan sampaoi pada tahap analisa. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa:

1) Observasi,

Metode pengumpulan data dengan melibatkan berbagai faktor dalam pelaksanaannya.

2) Wawancara

Dengan melakukan tatap muka dan tanya jawab secara langsung antara peneliti dengan kyai, ustadz dan responden lainnya.

3) Studi Dokumentasi

Dengan Studi dokumentasi jenis pengumpulan data yang meneliti berbagai macam dokumen sebagai

bahan analisis.

(7)

SASARAN DAN LOKASI PENELITIAN

Yang menjadi responden penelitian adalah pimpinan pesantren, bidang kurikulum ,ustadz dan pembina asrama berupa pengumpulan data melalui wawancara ,observasi dan studi dokumentasi

Adapun lokasi penelitian adalah Lembaga Pendidikan

Pondok Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari yang

berdomisili di Kp. Rancakole RT.01 RW.02 Desa Rancakole

Kecamatan Arjasari kabupaten Bandung, Pesantren tersebut

berdiri pada tahun 2002 diatas tanah seluas lebih kurang 774

m2 yang telah diwakafkan masyarakat kepada Pesantren

Persatuan Islam 165 Arjasari.

(8)

HASIL

11/29/2023

TUJUAN

2.

Mendidik santri untuk menjadi pribadi muslim yang tafaqquh Fiddien (faham dalam agama) .

1.

3.

5.

4.

Mendidik santri untuk menjadi seorang muslim yang bertakwa kepada Allah SWT. berakhlak mulia, memiliki kecerdasan dan keterampilan.

Mendidik santri untuk menjadikan manusia muslim selaku kader-kader ulama dan mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, Tangguh dalam mengamalkan ajaran islam secara kaffah

Mendidik santri agar menjadi manusia berbakti dan bertanggungjawab

Membantu siswa/ santri dalam mengembangkan bakat, dan prestasi yang dimiliki.

(wawancara pimpinan pesantren, Nopember 2022)

(9)

Metode yang digunakan di pesantren ini adalah metode kombinasi.

Metode kombinasi ini berupa metode pembahasan, penerapan keteladanan, latihan pembiasaan , penerapan kedisiplinan dan praktek pengabdian masyarakat.

Kurikulum yang digunakan pun dengan kombinasi perpaduan kurikulum

pesantren dan kurikulum madrasah,dimana para santri bukan hanya

mengetahui dan memahami ajaran agama akan tetapi mengetahui dan

memahami teori-terori umum.

(10)

JENIS SANTRI DI PONDOK PESANTREN PERSATUAN ISLAM

165 ARJASARI

PONDOK NON PONDOK

santri yang full time tinggal dipondok tidak boleh pulang ke rumah minimal selama 1 bulan. Selain melaksanakan kegiatan utama pada waktu pagi, mereka juga mendapatkan materi tambahan dan pembinaan tambahan pada waktu sore, malam dan shubuh.

santri tidak tinggal di pondok dan

hanya mengikuti pembelajaran pada

jam utama saja yakni waktu pagi.

(11)

WAKTU KEGIATAN BELAJAR

PONDOK NON PONDOK

Pagi: Pukul 07.00-14.00 WIB

Sore: Pukul 16.00-17.30 WIB

Malam: Pukul 19.30-14.00 WIB

Subuh: Pukul 05.00-06.00 WIB

(12)

Hasil dari metode yang diterapkan di pesantren ini terlihat pada perbedaan antara santri pondok dan non pondok setelah mereka lulus dari pesantren, diantaranya:

1. Lebih giat bangun subuh, karena terbiasa dengan aturan bangun tidur.

2. Lebih giat shalat berjama’ah karena terbiasa diwajibkan mengikuti shalat berjama’ah

3. Lebih bersikap mandiri dan tidak mengandalkan bantuan orang lain karena sudah terbiasa mandiri.

4. Lebih berhati-hati dalam berucap dan bersikap karena terbiasa dengan teguran dan sanksi pelanggaran.

5. Lebih pandai berbicara, berpidato dan mampu menyampaikan materi kepada masyarakat karena terlatih dalam kegiatan pemnbiasaan dan keterampilaan.

6. Sekitar 75 % santri yang tinggal di pondok meraih peringkat 5 besar di kelasnya karena mereka mendapatkan materi-materi tambahan di pondok pesantren.

7. Secara umum perubahan karakter dan peningkatan akhlak

(13)

PEMBAHASAN

Pada tahun 2021 pesantren mulai mendapat perhatian pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 82 tahun 2021 tentang Pendanaan dan Penyelenggaraan Pesantren, berbagai bantuan dan hibah yang diberikan maka semakin pesatlah perkembangan pendidikan pesantren di Indonesia. Dengan peraturan ini diharapkan dapat membantu SDM dalam pengelolaannya.

Kata “Pesantren” berasal dari kata “santri” dengan awalan “pe” dan akhiran “an” berarti tempat tinggal para santri. Pengertian lain mengatakan bahwa pesantren adalah sekolah berasrama untuk mempelajari agama Islam dan tumbuh berkembang serta diakui masyarakat, karena dengan sistem pondok santri-santri menerima pengajaran dan pembinaan sepenuhnya ada dibawah kedaulatan seorang atau beberapa orang kyai dengan ciri khas yang bersifat karismatik serta independent dalam segala hal.

Pesantren juga dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh masyarakat dibawah pimpinan seorang kyai melalui jalur pendidikan non formal berupa pembelajaran kitab kuning. Selain itu, banyak juga yang menyelenggarakan pendidikan keterampilan serta pendidikan formal, baik Pesantren maupun madrasah dengan kombinasi 2 kurikulum yaitu kurikulum madrasah dan pesantren

(14)

Pondok Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari merupakan salah satu pesantren dengan sistem kombinasi antara kurikulum madrasah yang bersifat formal dan pesantren yang bersifat non formal, sehingga lulusannya mendapat 2 ijazah yaitu ijazah madrasah yang dikeluarkan oleh kementerian Agama dan Ijazah pesantren yang dikeluarkan oleh Lembaga.

Adapun metode dalam membentuk karakter santri di pondok Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari adalah dengan metode kombinasi, dimana santri bukan hanya mendapat pelajaran khusus keagamaan saja juga mendapat pelajaran umum dengan memadukan kurikulum pesantren dan madrasah baik madrasah Tsanawiyah untuk usia 12-14 tahun atau Madrasah Aliyah untuk usia 15-17 tahun

Metode adalah cara kerja yang mempunyai sistem dalam memudahkan pelaksanaan dari

suatu kegiatan untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.

(15)

Di dunia pesantren secara garis besar ada 2 metode yang diterapkan dalam membentuk perilaku santri, yakni metode tradisional dan metode kombinasi.

1.Metode Tradisional

a. Metode sorogan

Metode sorogan merupakan metode yang ditempuh dengan cara Ustadz menyampaikan pelajaran kepada santri secara individual. Sasaran metode ini biasanya kelompok santri pada tingkat rendah yaitu mereka yang baru menguasai pembacaan al-Qur’an. Melalui sorogan, pengembangan intelektual santri dapat ditangkap oleh kyai secara utuh.

b. Metode Wetonan

Metode wetonan atau di sebut juga metode bandungan adalah metode pengajaran dengan cara ustadz/kyai membaca, menerjemahkan, menerangkan dan mengulas kitab/buku-buku Keislaman dalam bahasa arab, sedangkan santri mendengarkannya. Mereka memperhatikan kitab/bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata yang diutarakan oleh ustadz/kyai.

(16)

c.Metode Muhawarah

Metode muhawarah adalah metode yang melakukan kegiatan bercakap- cakap dengan menggunakan bahasa Arab yang diwajibkan pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok. Sebagian pesantren hanya mewajibkan pada saat tertentu yang berkaitan dengan kegiatan lain, namun sebagian pesantren lain ada yang mewajibkan para santrinya setiap hari menggunakan bahasa Arab.

d.Metode Mudzakarah

Metode mudzakarah adalah suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyyah seperti aqidah, ibadah dan masalah agama pada umumnya. Aplikasi metode ini dapat mengembangkan dan membangkitkan semangat intelektual santri. Mereka diajak berfikir ilmiah dengan menggunakan penalaran-penalaran yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunah serta kitab- kitab keIslaman klasik.

e.Metode Majelis Taklim

Metode majelis taklim adalah metode menyampaikan pelajaran agama islam yang bersifat umum dan

terbuka, yang dihadiri jama’ah yang memiliki latar belakang pengetahuan, tingkat usia dan jenis

kelamin.

(17)

2.Metode Kombinasi

Sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan teknologi banyak pesantren yang melakukan pembenahan dalam metode pembelajaran, hal itu dilakukan guna memperbaiki kualitas- kualitas sumber daya santri sehingga bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Berikut ini beberapa metode hasil penyesuaian dengan pendidikan formal yaitu:

a.Metode keteladanan

Secara psikologis, manusia sangat memerlukan keteladanan untuk mengembangkan sifat-sifat dan petensinya. Pendidikan perilaku lewat keteladana adalah pendidikan dengan cara memberikan contoh- contoh kongkrit bagi para santri. Dalam pesantren, pemberian contoh keteladanan sangat ditekankan. Kiai dan Ustadz harus senantiasa memberikan uswah yang baik bagi para santri, dalam ibadah-ibadah ritual, kehidupan sehari-hari maupun yang lain, karena nilai mereka ditentukan dari aktualisasinya terhadap apa yang disampaikan. Semakin konsekwen seorang kyai atau Ustadz menjaga tingkah lakunya, semakin didengar ajarannya.

Menurut pendapat Zakiah Daradjat, (1994:72) salah seorang tokoh psikologi yang

sesuai dengan ajaran Islam “anak yang mendengar orang tuanya mengucapkan asma

Allah, dan sering melihat orang tuanya atau semua orang yang dikenal menjalankan

ibadah, maka yang demikian itu merupakan bibit dalam pembinaan jiwa anak

(18)

b. Metode Latihan dan Pembiasaan

Mendidik perilaku dengan latihan dan pembiaasaan adalah mendidik dengan cara memberikan latihan-latihan terhadap norma-norma kemudian membiasakan santri untuk melakukannya.

Dalam pendidikan di pesantren metode ini biasanya akan diterapkan pada ibadah-ibadah amaliyah, seperti shalat berjamaah, kesopanan pada kiai dan Ustadz . Pergaulan dengan sesama santri dan sejenisnya. Sedemikian, sehingga tidak asing di pesantren dijumpai, bagaimana santri sangat hormat pada Ustadz dan kakak-kakak seniornya dan begitu santunnya pada adik-adik pada junior, mereka memang dilatih dan dibiasakan untuk bertindak demikian.

c. Mendidik melalui ibrah (mengambil pelajaran)

Secara sederhana, ibrah berarti merenungkan dan memikirkan, dalam arti umum biasanya dimaknakan dengan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Tujuan Paedagogis dari ibrah adalah mengntarkan manusia pada kepuasaan pikir tentang perkara agama yang bisa

menggerakkan, mendidik atau menambah perasaan keagamaan.28 Adapun pengambilan ibrah

bisa dilakukan melalui kisah- kisah teladan, fenomena alam atau peristiwa-peristiwa yang

terjadi, baik di masa lalu maupun sekarang.

(19)

d. Mendidik melalui kedisiplinan

Pembentukan karakter lewat kedisiplinan ini memerlukan ketegasan dan kebijaksanaan.

Ketegasan mengharuskan seorang pendidik memberikan sangsi bagi pelanggar, sementara kebijaksanaan mengharuskan sang pendidik sang pendidik berbuat adil dan arif dalam memberikan sangsi, tidak terbawa emosi atau dorongan lain. Dengan demikian sebelum menjatuhkan sangsi, seorang pendidik harus memperhatikan beberapa hal berikut :

1. Perlu adanya bukti yang kuat tentang adanya tindak pelanggaran;

2. Hukuman harus bersifat mendidik, bukan sekedar memberi kepuasan atau balas dendam dari si pendidik;

3. Harus mempertimbangkan latar belakang dan kondisi siswa yang melanggar, misalnya frekuensinya pelanggaran, perbedaan jenis kelamin atau jenis pelanggaran disengaja atau tidak.

Di Pondok Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari hukuman ini dikenal dengan istilah tahzir. Tahzir adalah hukuman yang dijatuhkan pada santri yang melanggar.

Hukuman yang terberat adalah dikeluarkan dari pesantren.

(20)

b. Mendidik melalui targhib wa tahzib

Metode ini terdiri atas dua metode sekaligus yang berkaitan satu sama lain; targhib dan tahzib. Targhib adalah janji disertai dengan bujukan agar seseorang senang melakukan kebajikan dan menjauhi kejahatan. Tahzib adalah ancaman untuk menimbulkan rasa takut berbuat tidak benar.

c. Mendidik melalui kemandirian

Kemandirian tingkah-laku adalah kemampuan santri untuk mengambil dan

melaksanakan keputusan secara bebas. Proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan

santri yang biasa berlangsung di pesantren dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu

keputusan yang bersifat penting-monumental dan keputusan yang bersifat harian. Pada

tulisan ini, keputusan yang dimaksud adalah keputusan yang bersifat rutinitas harian.

(21)

Sistem pondok pesantren selalu diselenggarakan dalam bentuk asrama atau komplek asrama dimana santri mendapatkan pendidikan dalam suatu situasi lingkungan sosial keagamaan yang kuat dalam ilmu pengetahuan yang dilengkapi pula dengan atau tanpa ilmu pengetahuan umum. Dalam perkembangan selanjutnya, pondok pesantren disamping memberikan pelajaran ilmu agama, juga ilmu pengetahuan umum dengan system Pesantren atau sekolah. Dari sudut administrasi pendidikan pondok pesantren dapat dibedakan dalam empat kategori berikut ini:

1. Pondok pesantren dengan system pendidikan yang lama pada umumnya terdapat jauh di luar kota, hanya memberikan pengajian.

2. Pondok pesantren modern dengan sistem pendidikan klasikal berdasarkan atas kurikulum yang tersusun baik, termasuk pendidikan skill.

3. Pondok pesantren dengan kombinasi disamping memberikan pelajaran dengan sistem pengajian, juga dengan sistem Pesantren yang dilengkapi dengan pengetahuan umum.

Pondok pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari pada masa sekarang, dalam penyelenggaraan

sistem pendidikan dan pengajarannya menggunakan kategori kombinasi dimana disamping

memberikan pelajaran agama dengan kurikulum pesantren, juga memberikan pelajaran umum

dengan mengunakan kurikulum madrasah.

(22)

Kemudian pesantren merupakan Lembaga pembentukan karakter santri.

Pembentukan adalah usaha yang telah terwujud sebagai hasil suatu tindakan.

Karakter berasal dari bahasa yunani yaitu ”kharrasein” yang berarti memahat atau mengukir , sedangkan dalam bahasa latin, karakter bermakna membedakan tanda, sifat kejiwaan, tabiat, dan watak.

Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. (Abdulah Munir,2011:12)

Melihat penjabaran di atas, yang dimaksudkan penulis dalam hal

pembentukan karakter dalam penelitian ini yaitu bagaimana karakter atau

perilaku yang positif siswa /santri.

(23)

Pendidikan karakter yang dikembangkan di Pondok Pesantren Persatuaj Islam 165 Arjasari mencakup 3 elemen dasar yaitu: pengetahuan,

kemampuan dan tindakan. Pengetahuan akan menghasilkan Konsep Moral, kemampuan akan menghasilkan Sikap Moral sedangkan tindakan akan

menghasilkan Perilaku Moral.

(24)

KARAKTER

SIKAP MORAL Kata Hat

Simpat Empat

Cinta Kebaikan Toleransi Kasih Sayang KONSEP MORAL

Kesadaran Moral Pengetahuan Nilai Moral

Pandangan Ke depan Penalaran Moral Pengambilan keputusan

PERILAKU MORAL Kemampuan Kebiasaan

Keterkaitan 3 elemen tersebut dapat digambarkan melalui bagan

sebagai berikut:

(25)

FAKTOR KENDALA

FAKTOR KELUARGA

FAKTOR KELUARGA

FAKTOR LINGKUNGAN

FAKTOR LINGKUNGAN

FAKTOR SANTRI FAKTOR SANTRI

FAKTOR GURU FAKTOR GURU

FAKTOR SARANA DAN FASILITAS FAKTOR SARANA

DAN FASILITAS

Ruang lingkup pendidikan karakter pertama kali tentu harus ditanam melalui sebuah keluarga.

Sebagai sekolah pertama bagi seorang anak, keluarga yang diperankan utamanya oleh kedua orang tua memiliki posisi sentral dalam mengintroduksi seorang anak kepada pendidikan karakter.

Namun dalam praktiknya, hal ini tidak mudah dilakukan, ternyata di Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari Sebagian besar orang tua masih mengandalkan pendidikan dari guru khususnya dan pesantern pada umumnya

Lingkungan berperan besar dalam pembentukan karakter seorang anak. Betapapun bagusnya sebuah keluarga dalam mengajarkan pendidikan karakter di rumah namun jika lingkungan anak tersebut tidak mendukung, sudah pasti proses ini akan gagal.

Tidak semua santri belajar agama atas kehendak dan keinginannya sendiri, akan tetapi atas dorongan orang tua seolah-olah ada unsur keterpaksaan sehingga santri sering bolos belajar . Faktor Sarana dan Fasilitas.

Guru yang bertugas mengajar di pesantren masih ada yang mengutamakan kepentingan pribad dari pada kepentingan santri di pesantren, hal ini terjadi salah satunya minimnya SDM di Pondok pesantren.

Saran dan fasilitas di pondok Pesantren ini belum maksimal sehingga belum bisa semua tinggal di Pondok , karena keterbatasan dana sehingga santri masih bisa keluar dari lingkungan pondok pesantren atau diajak keluar oleh santri non pondok. Sebagus apappun manajemen pondok pesantren tidak akan maksimal jika kondisi sarana dan prasaran belum memadai.

(26)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya tentang fungsi asrama sebagai wahana pembentukan karakter santri di pondok pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari , maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

Peran Asrama sebagai wahana pembentukan karakter santri di Pondok Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari , Santri diajarkan untuk hidup mandiri dan sederhana, dilatih untuk hidup disiplin, menanamkan sifat kebersamaan, kepedulian dan kasih saying, sehingga bisa melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas baik dari keilmuan, sikap dan perilaku positif.

Hambatan-hambatan yang dialami oleh Pondok Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari dalam pembentukan karakter santri yaitu kurangnya kesadaran keluarga tentang tentang pendidikan karakter di keluarga, lingkungan yang kurang terjaga di sebabkan kurangnya sarana dan fasilitas yang ada.

Solusi yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari dalam Pembentukan Karakter Santri yaitu mengadakan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan, pembinaan kedisiplinan dalam sikap dan tingkah laku, guru terus berusaha memberikan motivasi kepada santri agar memiliki cita-cita yang luhur/ tinggi, guru terus berusaha memberikan nasehat kepada santri, guru memberikan hukuman bagi santri, serta guru mengadakan kerja sama terhadap orang tua santri.

1.

2.

3.

(27)

SARAN

Adapun saran dari penulis berdasarkan realita diatas adalah sebagai berikut:

1.Bagi Keluarga

a. Bagi keluarga atau orang tua khususnya santri non pondok hendaklah memahami bahwa pesantren bukan satu- satunya tempat pendidikan karakter akan tetapi keluarga yang paling utama.

b. Orang tua hendaknya memberikan motivasi dan arahan kepada anak sehingga terjalin kerjasama antara orang tua dan guru.

c. Orang tua hendaknya tidak sepenuhnya membebankan pendidikan anaknya ke pesantren

d. Orang tua hendaknya memantau anak saat berada di rumah agar tidak terpengaruhi dengan lingkungan yang negatif.

2.Bagi Guru dan Pimpinan Pesantren

e. Hendaknya para guru di Pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari senantiasa mengadakan koordinasi dengan berbagai pihak di Pesantren tentang kendala- kendala yang dihadapi dalam proses pembentukan karakter santri, terutama sarana dan fasilitas yang belum memadai.

f. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hendaknya sebagai guru dapat memahami karakteristik santri yang ada sehingga dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakteristik santri yang ada.

3.Bagi Santri

Bagi seluruh santri di pesantren Persatuan Islam 165 Arjasari hendaknya memahami betapa pentingnya ilmu agama untuk mewujudkan sikap dan karakter yang positif demi masa depan yang lebih baik.

(28)

SEKIAN

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

penulis mencoba membatasi permasalahan hanya pada “Peran Biro Pengasuhan Santri Terhadap Permasalahan Santri di Pondok Pesantren

Abstrak: Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Kepada Santri Mts. Pondok Pesantren Pancasila Bengkulu. Di sekolah

Syaifur Rahman, Pendidikan Pesantren Dalam Meningkatkan Life Skill Santri (Studi Kasus di Pondok Pesantren Roudlatul Ulum As-Syabrowiy), Skripsi, Pendidikan Agama

Abstrak: Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Kepada Santri Mts. Pondok Pesantren Pancasila Bengkulu. Di sekolah

Sementara peran pendidikan pondok pesantren di bidang pengembangan ajaran Islam dimaksudkan semata-mata untuk membekali pengetahuan agama kepada santri agar pada

Syaifur Rahman, Pendidikan Pesantren Dalam Meningkatkan Life Skill Santri (Studi Kasus di Pondok Pesantren Roudlatul Ulum As-Syabrowiy), Skripsi, Pendidikan Agama

“Peran Pengurus Asrama Dalam Pembentukkan Akhlak Santri Studi Kasus Di Pondok Pesantren Baitul Qurra Perumahan Ciputat Baru .” Institut Ilmu Al-Qur’an IIQ Jakarta, 2018.. Majid, Abdul,

Santri adalah peserta didik yang menimba ilmu agama di pondok pesantren di bawah bimbingan ustadz dan ustadzah serta pimpinan pesantren