JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 4, Agustus 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i4.4620 Hal 1160−1166 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom
Sistem Update Firmware Perangkat IoT Menggunakan Teknik OTA Berbasis HTTP
Krisna Madani, Rahmi Hidayati*, Uray Ristian
Fakultas MIPA, Program Studi Rekayasa Sistem Komputer, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia Email: 1[email protected], 2,*[email protected], 3[email protected]
Email Penulis Korespondensi: [email protected] Submitted 13-08-2022; Accepted 30-08-2022; Published 30-08-2022
Abstrak
Firmware merupakan perangkat lunak yang menyerupai sebuah sistem operasi dan tertanam pada perangkat keras. Pada perangkat Internet of Things (IoT), firmware yang sudah dipasang tidak akan diperbarui untuk waktu yang ditentukan atau bahkan tidak akan diperbarui sama sekali. Hal tersebut karena firmware dianggap sebagai sistem yang kebutuhan dan fungsinya tidak perlu diperbarui.
Namun, pada kenyataannya firmware yang sudah dipasang dan sedang dijalankan pastinya memerlukan pembaruan. Proses pembaruan umumnya juga menggunakan cara konvensional yaitu dengan menghubungkan perangkat pada komputer dengan menggunakan kabel.
Cara ini tentu saja tidak efektif dan efisien untuk dilakukan, apalagi jika memiliki banyak perangkat yang sudah terpasang. Oleh karena itu, pada penelitian ini dibuat sistem untuk memperbarui firmware pada perangkat IoT menggunakan jaringan internet. Sistem pembaruan yang dibangun pada penelitian ini menggunakan teknik Over The Air (OTA) dan Hypertext Transfer Protocol (HTTP).
Pada pengujian proses pembaruan dengan 3 perangkat IoT secara bersamaan, didapat rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh perangkat 1, perangkat 2 dan perangkat 3 adalah 43 detik, 44 detik dan 45 detik. Pada analisis QoS yang dilakukan, didapatkan hasil throughput 100% (sangat baik), packet loss 0% (sangat baik), rata-rata delay 93.931ms (sangat baik) dan jitter 98.948ms (sedang) pada jaringan yang digunakan untuk melakukan pembaruan.
Kata Kunci: Firmware; IoT; Pembaruan; OTA; QoS
Abstract
Firmware is software that resembles an operating system and embedded in the hardware. On Internet of Things (IoT) devices, the already installed firmware will not be updated for the specified time or will not even be updated at all. This is because the firmware is considered a system whose needs and functions do not need to be changed. However, in reality the firmware that is already instal led and is being run definitely needs a change. The update process generally also uses conventional methods, namely by connecting devices on a computer using a cable. This method is of course not effective and efficient to do, especially if you have many devices installed and running. Therefore, in this study, an update system was created to update devices using the internet network. The update system built on this study using Over The Air (OTA) techniques and Hypertext Transfer Protocol (HTTP). In testing the update process with 3 IoT devices simultaneously, the average time needed by device 1, device 2 and device 3 is 43 seconds, 44 seconds and 45 seconds.
In the QoS analysis carried out, the results obtained throughput of 100% (very good), packet loss of 0% (very good), average delay of 93,931ms (very good) and jitter of 98,948ms (medium) on the network used for updating.
Keywords: Firmware; IoT; Update; OTA; QoS
1. PENDAHULUAN
Internet of Things (IoT) adalah sebuah teknologi yang memungkinkan suatu perangkat dapat terhubung dengan perangkat lainnya menggunakan internet [1]. IoT terbentuk dari beberapa perangkat yang saling terhubung dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Pada perangkat IoT terdapat sebuah mikrokontroler yang dirancang untuk melakukan tugas atau operasi tertentu seperti menerima dan mengolah sinyal input, kemudian memberikan sinyal output sesuai dengan program yang telah dibuat dan dimasukkan pada mikrokontroler [2]. Program yang dibuat dan ditanamkan pada perangkat keras atau mikrokontroler untuk mengendalikan perangkat keras, sensor dan mengerjakan tugas-tugas tertentu disebut juga sebagai firmware [3].
Firmware merupakan perangkat lunak yang menyerupai sebuah sistem operasi pada perangkat keras dan tertanam pada perangkat keras elektronika. Firmware memiliki sifat yang sama dengan sistem operasi yaitu bertugas sebagai otak pada perangkat keras di mana perangkat keras tidak akan bisa menjalankan perintah tanpa adanya firmware [4]. Firmware yang sudah dijalankan dianggap sebagai sistem yang kebutuhan dan fungsinya tidak perlu berubah. Namun, pada kenyataannya firmware yang sedang dijalankan ini pasti akan berubah. Perubahan itu bisa dalam bentuk modifikasi atau penambahan fungsi, konfigurasi ulang parameter, meningkatkan keamanan, dan memperbaiki kesalahan. Hal ini dikarenakan jika sebuah perangkat IoT tidak diperbarui, perangkat akan rentan diserang oleh peretas, bug dari sistem yang tidak diperbaiki dan fitur dari perangkat IoT tidak akan bisa ditambah [5].
Perubahan pada perangkat IoT bisa dilakukan dengan cara memperbarui firmware yang tertanam pada perangkat keras. Untuk memperbarui firmware pada perangkat IoT umumnya pengguna harus mengambil perangkat tersebut, menghubungkannya pada komputer, kemudian melakukan pembaruan dan mengembalikannya ke tempat asalnya [6].
Cara ini tidak efektif dan efisien untuk dilakukan, apalagi jika memiliki banyak perangkat yang sedang dijalankan. Selain memerlukan banyak waktu, cara ini juga meningkatkan risiko kerusakan fisik pada perangkat keras elektronika.
Permasalahan ini dapat diatasi dengan menggunakan teknik Over The Air (OTA) di mana pembaruan firmware pada perangkat IoT dapat dilakukan melalui jaringan internet [7].
OTA merupakan proses yang memungkinkan perangkat untuk dapat memperbarui firmware atau perangkat lunak tanpa kabel. OTA dapat digunakan untuk memperbarui perangkat lunak, mengatasi bug, atau menambahkan fitur, dapat
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 4, Agustus 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i4.4620 Hal 1160−1166 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom menghemat waktu dan memperbarui perangkat tanpa interaksi fisik manusia.[8]. Update OTA dapat mengurangi biaya pemeliharaan karena tidak perlu membeli perangkat baru untuk mendapatkan fitur baru. Update menggunakan media udara memancarkan perangkat lunak atau firmware baru tanpa kabel [9].
Penelitian terkait pembaruan firmware menggunakan OTA mendapatkan keberhasilan update firmware dengan nilai QoS 0 = 50 %, QoS 1 = 70% dan QoS 2 = 80% dari 10 kali percobaan pengiriman file firmware pada perangkat IoT [10]. Penelitian lain mengenai analisis Quality of Service (QoS) pada Hypertext Transfer Protocol (HTTP) dan Message Queue Telemetry Transport (MQTT) mendapatkan hasil QoS pada HTTP dengan parameter delay, packet loss dan jitter lebih baik daripada MQTT, akan tetapi MQTT memiliki throughput lebih baik dibanding dengan HTTP [11]. Penelitian penggunaan protokol HTTP untuk komunikasi antara server dan perangkat IoTmembuktikan bahwa protokol HTTP dapat digunakan oleh perangkat IoT dan server untuk berkomunikasi yaitu mengirim dan menerima data. Data yang dikirim menggunakan JavaScript Object Notation (JSON) dan hasil pengujian performa sistem menunjukkan, sistem yang dibangun mampu menangani hingga 100 pengguna secara bersamaan [12].
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka pada penelitian ini membangu sistem update firmware pada perangkat IoT menggunakan teknik Over The Air dengan Hypertext Transfer Protocol. Dengan adanya sistem ini, dapat mempermudah pengguna dalam melakukan pembaruan perangkat IoT. Dimana proses pembaruan firmware dapat dilakukan melalui jaringan internet tanpa perlu terhubung secara fisik.
2. METODOLOGI PENELITIAN
2.1 Alur Penelitian
Alur penelitian menjelaskan tentang tahapan-tahapan yang dilakukan pada penelitian ini. Tahapan pada penelitian ini adalah studi literatur, pengumpulan data, analisis kebutuhan, perancangan sistem, implementasi dan pengujian. Diagram alir pada penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Diagram Alir Penelitian 2.2 Firmware
Firmware adalah sebuah perangkat lunak yang tertanam di dalam flash memory pada suatu perangkat keras. Fungsi dari firmware adalah mengendalikan kinerja perangkat keras atau firmware sebagai sistem operasi dari perangkat keras [13].
Perangkat keras tidak akan bisa menjalankan perintah-perintah tanpa adanya firmware. Firmware berfungsi sebagai pengontrol kinerja dari perangkat keras. Terdapat banyak instruksi yang disematkan ke dalam firmware dan fungsinya adalah untuk memberikan kontrol, pengaturan, penyaringan data, hingga akses ke jaringan privat dari perangkat lunak [14].
2.2 Over The Air
Over The Air adalah proses memuat firmware pada modul ESP atau perangkat IoT menggunakan jaringan internet. Secara umum istilah OTA adalah mekanisme pengiriman data secara wireless, mengirim paket untuk pembaruan firmware atau perangkat lunak ke perangkat mobile, sehingga pengguna tidak perlu pergi mengakses fisik perangkat [15].
2.3 Quality of Service
Quality of Service merupakan sebuah metode pengukuran tentang seberapa baik suatu jaringan dan merupakan usaha untuk mendefinisikan karakteristik dan sifat suatu layanan internet. Analisis QOS digunakan untuk mengukur atribut yang telah dispesifikasikan dan diasosiasikan dengan suatu layanan [16]. Berikut merupakan penjelasan mengenai parameter-parameter yang digunakan dalam penilaian QoS:
a. Throughput
Throughput merupakan total dari paket datang yang berhasil sampai pada tujuan selama interval waktu tertentu dan \ dibagi dengan durasi interval waktu tersebut. Persamaan throughput dapat dilihat pada Persamaan 1.
(1) Kategori throughput menurut standar TIPHON [17] dapat dilihat pada Tabel 1.
Throughput = Paket data diterima Lama pengamatan
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 4, Agustus 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i4.4620 Hal 1160−1166 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom Tabel 1. Kategori Throughput
Kategori Throughput Throughput Indeks
Sangat Baik 100 4
Baik 75 3
Sedang 50 2
Kurang < 25 1
b. Packet Loss
Packet loss merupakan parameter yang menjelaskan suatu kondisi dan menunjukkan total dari paket yang hilang.
Packet loss terjadi karena collision dan congestion pada jaringan. Perhitungan packet loss dapat dilihat pada Persamaan 2.
(2) Kategori packet loss menurut standar TIPHON [17] dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kategori Packet Loss
Kategori Packet Loss Packet Loss (%) Indeks
Sangat Baik 0 4
Baik 3 3
Sedang 15 2
Kurang 25 1
c. Delay
Delay merupakan waktu yang dibutuhkan oleh data untuk menuju jarak dari titik asal ke titik tujuan. Delay dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, congestion atau interval dari waktu proses yang lama. Perhitungan rata-rata delay dapat dilihat pada Persamaan 3.
(3) Kategori delay menurut standar TIPHON [17] dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Kategori Delay
Kategori Delay Delay (ms) Indeks
Sangat Baik < 150 4
Baik 150 s/d 300 3
Sedang 300 s/d 450 2
Kurang > 450 1
d. Jitter
Jitter merupakan variasi dari kedatangan paket atau biasanya disebut sebagai variasi delay. Jitter terjadi karena variasi- variasi dalam panjang queue, dalam waktu pengolahan data, dan juga dalam waktu penghimpunan ulang paket-paket di tujuan jitter. Perhitungan jitter dapat dilihat pada Persamaan 4.
(4) Kategori jitter menurut standar TIPHON [17] dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kategori Jitter
Kategori Jitter Jitter (ms) Indeks
Sangat Baik 0 4
Baik 0 s/d 75 3
Sedang 75 s/d 125 2
Kurang 125 s/d 225 1
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengujian Pembaruan Firmware
Pengujian proses pembaruan firmware pada perangkat IoT dilakukan sebanyak 10 kali dengan 1 perangkat, 2 perangkat secara bersamaan, 3 perangkat secara bersamaan, dan dengan file firmware berukuran 1MB, 1.1MB dan 1.2MB. Variasi
Packet Loss = (Paket data dikirim - Paket data diterima) x 100%
Paket data dikirim
Rata-rata delay = Total delay Total paket diterima
Jitter = Total variasi delay Total paket diterima
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 4, Agustus 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i4.4620 Hal 1160−1166 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom ukuran file firmware yang diuji menggunakan ukuran minimum firmware ketika diimplementasikan sistem pembaruan menggunakan OTA dan ukuran maksimum sketch yang dapat disimpan oleh ESP32. Waktu proses pembaruan dicatat setiap pengujian untuk melihat perubahan-perubahan pada tiap variasi. Waktu dihitung saat proses pembaruan dimulai hingga perangkat berhasil memulai ulang. Pada pengujian dengan 1 perangkat didapatkan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pembaruan adalah 30 detik. Tabel waktu proses pembaruan dengan 1 perangkat dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Pembaruan Dengan 1 Perangkat Pengujian ke Waktu (detik)
1 32
2 23
3 22
4 35
5 53
6 25
7 19
8 22
9 44
10 25
Rata-rata 30
Pada pengujian pembaruan dengan 2 perangkat secara bersamaan didapatkan rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh perangkat pertama adalah 32 detik dan perangkat kedua 40 detik. Waktu yang dibutuhkan ketika melakukan pembaruan dengan 2 perangkat secara bersamaan lebih banyak karena perangkat mengakses server secara bersamaan dan pembaruan dilakukan menggunakan jaringan internet yang sama. Tabel waktu proses pembaruan dengan 2 perangkat dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Pembaruan Dengan 2 Perangkat Pengujian ke Perangkat 1
Waktu (detik)
Perangkat 2 Waktu (detik)
1 33 41
2 31 21
3 30 44
4 25 39
5 42 57
6 34 19
7 39 56
8 29 54
9 22 38
10 31 27
Rata-rata 32 40
Pada pengujian pembaruan dengan 3 perangkat secara bersamaan didapatkan rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh perangkat pertama adalah 43 detik perangkat kedua 44 detik, dan perangkat ketiga 45 detik. Waktu yang dibutuhkan ketika melakukan pembaruan dengan 3 perangkat secara bersamaan lebih banyak karena perangkat mengakses server secara bersamaan dan pembaruan dilakukan menggunakan jaringan internet yang sama. Tabel waktu proses pembaruan dengan 3 perangkat dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Pembaruan Dengan 3 Perangkat Pengujian ke Perangkat 1
Waktu (detik)
Perangkat 2 Waktu (detik)
Perangkat 3 Waktu (detik)
1 38 45 45
2 33 42 31
3 20 19 53
4 18 20 41
5 57 23 49
6 59 34 47
7 34 49 52
8 24 23 19
9 56 43 18
10 24 54 41
Rata-rata 43 44 45
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 4, Agustus 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i4.4620 Hal 1160−1166 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom Pada pengujian pembaruan dengan variasi ukuran firmware dilakukan dengan menggunakan 1 perangkat. Pada pengujian didapatkan rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh perangkat adalah 35 detik untuk firmware berukuran 1MB, 36 detik untuk firmware berukuran 1.1MB dan 40 detik untuk firmware berukuran 1.2MB. Waktu yang dibutuhkan perangkat untuk melakukan pembaruan meningkat seiring meningkatnya ukuran firmware yang digunakan. Tabel waktu proses pembaruan dengan variasi ukuran firmware dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Pembaruan Dengan Variasi Ukuran Firmware Pengujian ke 1MB
Waktu (detik)
1.1MB Waktu (detik)
1.2MB Waktu (detik)
1 42 55 59
2 51 46 43
3 31 29 51
4 45 41 41
5 58 38 33
6 45 47 47
7 55 56 43
8 34 44 50
9 39 52 38
10 27 29 46
Rata-rata 35 36 40
3.2 Analisis QoS
Analisis QoS dilakukan pada jaringan internet yang digunakan untuk melakukan proses pembaruan. Analisis QoS dilakukan untuk menilai kualitas jaringan yang digunakan dan untuk melihat respons dari server kepada perangkat.
Analisis QoS dilakukan terhadap empat parameter, di antaranya Throughput, Packet Loss, Delay dan Jitter. Analisa jaringan dilakukan dengan menggunakan aplikasi wireshark. Pada Analisa jaringan didapatkan jumlah paket yang didapatkan adalah 2864 dengan waktu 283,289 detik, paket yang ditangkap berukuran 1271561 bytes. Hasil analisa jaringan menggunakan aplikasi wireshark pada jaringan yang digunakan untuk proses pembaruan dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Hasil Analisa Jaringan Menggunakan Aplikasi Wireshark
Dari hasil analisa jaringan yang telah dilakukan menggunakan aplikasi wireshark dan dengan menggunakan persamaan 1, maka didapatkan throughput sebagai berikut:
Dari hasil analisa jaringan yang telah dilakukan menggunakan aplikasi wireshark dan dengan menggunakan persamaan 2, maka didapatkan packet loss sebagai berikut:
Dari hasil analisa jaringan yang telah dilakukan menggunakan aplikasi wireshark dan dengan menggunakan persamaan 1, maka didapatkan delay sebagai berikut:
Throughput = 1271561
283,289 = 4488 bytes/s = 35904 bits/s
Packet Loss = 2864 - 2864 x 100%
2864 = 0%
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 4, Agustus 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i4.4620 Hal 1160−1166 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom
Dari hasil analisa jaringan yang telah dilakukan menggunakan aplikasi wireshark dan dengan menggunakan persamaan 1, maka didapatkan jitter sebagai berikut:
3.3 Pembahasan
OTA update merupakan sistem pembaruan perangkat lunak atau firmware baru yang dikirim ke suatu perangkat melalui nirkabel. Pada penelitian ini dilakukan implementasi OTA update yang diterapkan pada perangkat IoT. Sistem OTA diimplementasikan dan dibuat menjadi sebuah library yang siap digunakan, hal ini dapat mempermudah pengguna dalam mengembangkan perangkat IoT.
Proses pembaruan bekerja dengan mendeteksi status perangkat pada server, di mana jika status perangkat pada server adalah pembaruan tersedia maka perangkat IoT mengunduh firmware terbaru. Setelah firmware berhasil diunduh perangkat secara otomatis melakukan instalasi firmware tersebut. Saat firmware baru ditambahkan, semua perangkat dengan tipe yang sama berubah statusnya menjadi pembaruan tersedia, hal ini memicu seluruh perangkat IoT yang menggunakan tipe tersebut untuk melakukan pembaruan.
Pembaruan menggunakan teknik OTA dan protokol HTTP memungkinkan sebuah perangkat IoT melakukan pembaruan melalui jaringan internet. Protokol HTTP digunakan sebagai media komunikasi antara perangkat dan server melalui REST API yang telah dibangun. Perangkat mengirim dan menerima informasi dari server, jadi selama perangkat terhubung dengan jaringan internet pembaruan pasti berhasil kecuali terdapat masalah dengan kode program.
Pada pengujian pembaruan firmware pada perangkat IoT yang dilakukan sebanyak 10 kali tiap variasi, didapatkan hasil rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh sebuah perangkat untuk melakukan pembaruan adalah 30 detik. Kemudian untuk percobaan pembaruan dengan 2 perangkat secara bersamaan didapatkan rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh perangkat pertama adalah 32 detik dan perangkat kedua 40 detik. Selanjutnya pada percobaan pembaruan dengan 3 perangkat secara bersamaan didapatkan rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh perangkat pertama adalah 43 detik, perangkat kedua 44 detik dan perangkat ketiga 45 detik. Ketika melakukan pembaruan pada 2 perangkat atau lebih secara bersamaan, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pembaruan lebih banyak karena perangkat mengakses server secara bersamaan dan pembaruan dilakukan menggunakan jaringan internet yang sama. Lalu pada pengujian pembaruan dengan variasi ukuran dilakukan dengan menggunakan 1 perangkat. pada pengujian didapatkan rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh perangkat adalah 35 detik untuk firmware berukuran 1MB, 36 detik untuk firmware berukuran 1.1MB dan 40 detik untuk firmware berukuran 1.2MB. Waktu yang dibutuhkan perangkat untuk melakukan pembaruan bertambah seiring meningkatnya ukuran firmware yang digunakan.
Analisis QoS dilakukan pada jaringan internet yang digunakan untuk melakukan proses pembaruan. Analisis QoS dilakukan untuk menilai kualitas jaringan yang digunakan dan untuk melihat respons dari server kepada perangkat. Dari data yang didapat menggunakan aplikasi wireshark dan analisis terhadap empat parameter QoS didapatkan hasil rata-rata delay adalah 98.931ms, jitter 98.948ms, throughput 100% dan packet loss 0%.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan Pembaruan OTA pada perangkat IoT bekerja dengan cara mengecek status perangkat pada server. Status perangkat pada server berubah saat firmware baru ditambahkan, saat status perangkat berubah menjadi pembaruan tersedia maka perangkat IoT akan mengunduh dan memasang firmware terbaru. Hasil pengujian pada proses pembaruan dengan 1 perangkat waktu yang dibutuhkan adalah 30 detik, saat pembaruan 2 perangkat secara bersamaan membutuhkan waktu 32 detik dan 40 detik, saat pembaruan 3 perangkat secara bersamaan membutuhkan waktu 43 detik, 44 detik dan 45 detik. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa jumlah perangkat mempengaruhi waktu yang dibutuhkan oleh perangkat untuk melakukan pembaruan. Semakin banyak perangkat yang melakukan pembaruan secara bersamaan maka semakin banyak waktu yang dibutuhkan perangkat untuk melakukan pembaruan. Hasil pengujian pada proses pembaruan dengan variasi ukuran firmware yaitu 1MB, 1.1MB dan 1.2 MB waktu yang dibutuhkan saat proses pembaruan adalah 35 detik, 36 detik dan 40 detik. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa ukuran firmware mempengaruhi waktu yang dibutuhkan oleh perangkat untuk melakukan pembaruan. Semakin besar ukuran firmware yang digunakan maka semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pembaruan. Hasil analisis yang dilakukan terhadap empat parameter QoS didapatkan hasil rata-rata delay 93.931ms (sangat baik), jitter 98.948ms (sedang), throughput 100% (sangat baik) dan packet loss 0% (sangat baik).
REFERENCES
[1] B. Artono and R. G. Putra, “Penerapan Internet Of Things (IoT) Untuk Kontrol Lampu Menggunakan Arduino Berbasis Web,”
J. Teknol. Inf. dan Terap., vol. 5, no. 1, pp. 9–16, 2019.
[2] R. R. Prabowo, K. Kusnadi, and R. T. Subagio, “Sistem Monitoring dan Pemberian Pakan Otomatis Pada Budidaya Ikan Delay = 283,289
2864 = 0,098931 s = 98,931 ms
Jitter= 283.289
2863 = 0,098948 s = 98,948 ms
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 4, Agustus 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i4.4620 Hal 1160−1166 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom Menggunakan WEMOS dengan Konsep Internet of Things (IoT),” J. Digit, vol. 10, no. 2, p. 185, 2020.
[3] C. Iswahyudi, D. Setiawan, J. T. Informatika, A. Yogyakarta, and A. Id, “Analisis Perbandingan Kinerja Dan Kualitas Layanan Antara Firmware Default Dan Firmware Openwrt Pada Access Point Tp-Link Mr3020,” J. Teknol., vol. 10, no. 1, pp. 19–25, 2017.
[4] A. S. Muharom, “Rancang Bangun Pengatur Suhu dan Sirkulasi Udara di Smoking Room,” J. Ultim. Comput., vol. 9, no. 2, pp.
78–82, 2018.
[5] I. G. N. D. Paramartha, I. N. H. Kurniawan, G. B. Subiksa, and A. S. Kartika, “Arsitektur Internet of Things (IoT) Berskala Industri dengan fitur Over The Air Update,” TIERS Inf. Technol. J., vol. 2, no. 2, pp. 31–36, 2021.
[6] D. Frisch, S. Reißmann, and C. Pape, “An Over the Air Update Mechanism for ESP8266 Microcontrollers,” Twelfth Int. Conf.
Syst. Networks Commun., pp. 12–17, 2017.
[7] Y. F. Aladina, A. Bhawiyuga, R. A. Siregar, and P. H. Trisnawan, “Penerapan Mekanisme Continuous Deployment dalam Pengembangan dan Pembaruan Perangkat Lunak Sistem Benam Berbasis Internet of Things,” J. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput., vol. 9, no. 3, pp. 647–654, 2022.
[8] A. K. Hananta, T. Elektro, M. A. Murti, F. T. Elektro, N. Prihatiningrum, and F. T. Elektro, “System Design For Iot File Firmware Update Using Over The Air Update,” vol. 9, no. 2, pp. 193–198, 2022.
[9] O. Ananda, B. Wibowo Sanjaya, J. Marpaung, F. Imansyah, and D. Suryadi, “Update Time Delay Pada Peralihan Fase Penyalaan Lampu Lalu Lintas Menggunakan Teknik Over The Air,” J. Tek. Elektro, vol. 7, no. 1, pp. 1–33, 2019.
[10] L. Hakim, W. A. Kusuma, and M. Faiqurahman, “Over The Air Update Firmware pada Perangkat IoT Dengan Protokol MQTT,”
J. Sist. dan Inform., pp. 99–105, 2020.
[11] M. F. A. Safii, S. Raharjo, and U. Lestari, “Analisis Quality of Service Protokol Mqtt Dan Http Pada Penerapan Sistem Monitoring Suhu Berbasis Nodemcu ( Studi Kasus Ruang Server Kampus 3 Ist Akprind Yogyakarta ),” Progr. Stud. Tek. Inform.
Fak. Teknol. Ind. Inst. Sains Teknol. AKPRIND Yogyakarta, pp. 11–19, 2019.
[12] O. B. Pratama, A. Bhawiyuga, and K. Amron, “Pengembangan Perangkat Lunak IoT Cloud Platform Berbasis Protokol Komunikasi HTTP,” J. Pengemb. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput., pp. 3013–3020, 2018.
[13] Y. Pratama and R. M. A. K. Rasyid, “Perbandingan Kualitas Layanan Kinerja Perangkat Jaringan TP-LINK Wireless Router dan GL-INET Wireless Router Berbasis Firmware OpenWRT,” JOISML J. Inf. Syst. Manag., vol. 4, no. 1, pp. 1–7, 2022.
[14] D. P. A. R. Hakim, A. Budijanto, and B. Widjanarko, “Sistem Monitoring Penggunaan Air PDAM pada Rumah Tangga Menggunakan Mikrokontroler NODEMCU Berbasis Smartphone ANDROID,” J. IPTEK, vol. 22, no. 2, pp. 9–18, 2019.
[15] A. Wildan, M. Hannats, H. Ichsan, and D. Syauqy, “Implementasi Over the Air Update menggunakan Protokol SSDP untuk Pencarian Perangkat,” vol. 5, no. 9, pp. 3705–3711, 2021.
[16] I. Faisal and A. Fauzi, “Analisis QoS Pada Implementasi Manajemen Bandwith Menggunakan Metode Queue Tree dan PCQ (Per Connection Queueing),” J. Teknol. dan Ilmu Komput. Prima, vol. 1, no. 1, pp. 137–142, 2019.
[17] Aprianto Budiman, M. Ficky Duskarnaen, and Hamidillah Ajie, “Analisis Quality of Service (Qos) Pada Jaringan Internet SMK Negeri 7 Jakarta,” PINTER J. Pendidik. Tek. Inform. dan Komput., vol. 4, no. 2, pp. 32–36, 2020.