• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Hamid dampak money politik

N/A
N/A
Riken Al@Bandaniyu

Academic year: 2024

Membagikan "Skripsi Hamid dampak money politik"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

RISALAH AKHIR

Oleh:

ABDUL KHAMID NIM: 20-0387

MA’HAD ALY AL FITHRAH

PROGRAM STUDI TAKHASSUS TASAWUF DAN TAREKAT

2024

(2)

Diajukan kepada Ma’had Aly Al Fithrah

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Program Sarjana Strata Satu Takhassus Tasawuf dan Tarekat

Oleh:

ABDUL KHAMID NIM. 200837

TAKHASSUS TASAWUF DAN TAREKAT MA’HAD ALY AL FITHRAH

SURABAYA

2024

(3)

Nama : Abdul Khamid

NIM : 200837

Takhassus : Tasawuf dan Tarekat

Judul Skripsi : Tasawuf dan Money Politic (Peluang Wara’ dalam Menanggulangi Praktik Money Politic Saat Pemilu)

Menyatakan bahwa Risalah Akhir ini secara keseluruhan adalah hasil karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk pada sumbernya.

Surabaya,

Yang membuat pernyataan

Abdul Khamid NIM. 200837

i

(4)

Nama : Abdul Khamid

NIM : 200837

Judul Risalah Akhir : Tasawuf dan Money Politic (Peluang Wara’ dalam

Menanggulangi Praktik Money Politic Saat Pemilu)Risalah Akhir ini telah diperiksa dan disetujui untuk dimunaqasahkan.

Surabaya, Pembimbing,

Mustaqim, M.Ag 12108046

ii

(5)

dipertahankan dalam sidang majelis munaqosah risalah akhir Ma’had Aly al Fithrah Surabaya, Takhasus Tasawuf dan Tarekat pada hari Sabtu, tanggal 20 Januari 2024, dan dapat diterima sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan progam sarjana S-1 (strata satu) dalam Takhasus Tasawuf dan Tarekat.

Tim penguji :

1. Ketua : Abdullah, M.Pd ...

2. Penguji I : Abdul Hadi MR, M.Pd ...

3. Penguji II : Mustaqim, M.Ag ...

Surabaya, 20 Januari 2024 Mengesahkan,

Mudir Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya

Achmad Imam Bashori, M.Th.I NIY.200307022

iii

(6)

Politic ketika masa pemilihan umum tiba, baik sebelum pelaksanaan pemilu, maupun ketika hari pelaksanaan pemilu. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor seperti kemiskinan, rendahnya pengetahuan tentang politik, kurangnya pengetahuan tentang nilai agama, serta haus akan kekuasaan. Sehingga hal ini bisa menyebabkan terjadinya praktik Money Politic. Dalam tasawuf terdapat nilai-nilai Wara’ yang bertolak belakan dengan nilai prakyik Money Politic, sehingga dalam hal ini Wara’ memiliki peluang dalam menanggulangi maraknya praktik Money Politic yang terjadi di Indonesia.

Jenis penelitian pada tulisan ini berupa penelitian kualitatif yang berbentuk kajian pustaka untuk mengetahui kondisi praktik Money Politic yang sering terjadi saat pemilu serta meneliti peluang Wara’ dalam menanggulangi praktik Money Politic dalam pemilihan umum di Indonesia. Data penelitian dihimpun melalui pengumpulan literatur baik berupa buku, berita online seperti Detik.com, Okezone.com, data ICW, serta kitab, jurnal dan lain-lain yang berhubungan dengan judul pembahasan. Kemudian teknis analisa data menggunakan metode menganalisa nilai-nilai wara’ dalam menanggulangi praktik Money Politic.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Praktik Money Politik (Politik Uang) merupakan salah satu bentuk kecurangan yang selalu terjadi saat pemilihan umum berlangung. Praktik politik uang ini bisa ditanggulangi melalui sifat wara’.

Wara’memiliki peluang dalam menanggulangi politik uang karena di dalamnya terdapat nilai-nilai etika , transparansi, dan kesederhanaan dalam berpolitik. Wara’

membuka pintu bagi kemunculan pemimpin yang lebih fokus pada kepentingan masyarakat. Selain itu, wara’ dapat meningkatkan partisipasi masyarahakat dalam bepolitik, membentuk suasana politik yang lebih sehat, dan memotivasi pemilih berdasrkan progam, bukan lagi berdasarkan besaran nilai uang yang diterima.

Senada dengan kesimpulan di atas, maka disarankan kepada mayarakat dan calon legislatif hendaknya menanamkan nilai-nilai wara’ dalam kehidupan bernegara dan berpolitik. Agar terhindar dari sesuatu yang buruk dalam berpolitik seperti melakukan praktik money politic serta menerima uang sogokan. Supaya tercipta suasana politik yang aman dan sesuai dengan asas-asas. Dan penulis juga merasa masih terdapat banyak kekurangan dalam tulisan ini, sehingga penulis menyarankan kepada peneliti selanjutnya dapat memperluas dan memperdalam kajian ini.

Kata Kunci: Money Politic, Wara’ dan politik.

iv

(7)

Nya, serta nikmat dan karunia-Nya. Baik berupa nikmat zahir maupun batin, terlebih nikmat iman dan Islam. Hanya karena-Nya penulis diberi kemampuan untuk menyelesaikan Risalah Akhir ini dengan judul “Tasawuf dan Money Politic (Opportunity Wara’ Dalam Menanggulangi Praktik Money Politic Saat Pemilu)”.

Sholawat serta salam tetap tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad saw yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang terang benderang yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan.

Risalah Akhir ini disusun sebagai persyaratan dalam memenuhi Program Sarjana Strata satu (S-1) di Ma’had Aly Al-Fithrah Surabaya dalam bidang Tasawuf dan Thoriqoh. Dengan selesainya Skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang tiada batasnya kepada:

1. Hadrotus Syaik Yai Ahmad Asrori al Ishaqi yang telah meridhoi serta membimbing penulis secara ruhaniyah.

2. Mudir Ma’had Aly Al-Fithrah Dr. Ahmad Imam Bashori, M.Th.I.

3. Seluruh Dosen Ma’had Aly Al-Fithrah yang tanpa mengrangi rasa hormat karena tidak bisa menyebutkan satu persatu, atas dedikasihnya dalam membina, mendidik secara Ikhlas selama penulis menimba ilmu di Ma’had Aly Al-Fithrah.

4. Kepada dosen pembimbing, Ustadz Mustaqim, M.Ag yang telah membantu dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan Risalah Akhir ini.

v

(8)

membesarkan penulis selama hidupnya, serta selalu mendoakan di alam sana.

7. Teman-teman seperjuangan Ropil, Rijal, Huda, Rakeen, Fatah, Iqbal, Wildan, Machda, Midah, Ika, Putri, Mila yang (katanya) selalu men- Support, dan saling memotivasi penulis.

Surabaya,

Yang membuat pernyataan

Abdul Khamid NIM. 200837

vi

(9)

“Keutamaan menuntut ilmu itu lebih dari keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara”.

(HR. Ath Thobroni)

“Pemimpin harus mempunyai sifat layaknya bumi yang menjadi pijakan. Kalau jadi pemimpim, ya harus siap diinjak kepalanya oleh rakyat karena tuannya

rakyat”.

(Ganjar Pranowo)

i

(10)

PERSETUJUAN PEMBIMBING RISALAH AKHIR... ii

PENGESAHAN... iii

ABSTRAK... iv

KATA PENGANTAR... v

MOTTO ... i

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TRANSLITERASI... iv

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah... 7

C. Batasan Masalah... 8

D. Rumusan Masalah... 8

E. Kajian Pustaka... 8

F. Tujuan Penelitian... 10

G. Manfaat Penelitian... 10

H. Metode Penelitian... 11

1. Jenis Penelitian... 11

2. Sumber Data... 12

3. Teknik Pengumpulan Data... 13

4. Teknik Analisis Data... 14

I. Sistematika Pembahasan... 14

BAB II PEMBAHASAN... 16

A. Money Politic... 16

1. Definisi Money Politic... 16

2. Bentuk dan Strategi Money Politic... 18

3. Faktor Money Politic... 20

i

(11)

2. Tingkatan Wara’... 26

3. Faedah Wara’... 29

BAB III KASUS-KASUS MONEY POLITIC DI INDONESIA... 31

A. Kasus Money Politic Pada Pemilu 2014 Pada 313 Kasus Politik Uang Ditemukan dalam Pileg 2014... 31

B. Kasus Money Politic dalam Pemilu 2019... 34

1. Caleg Gerindra di Nias Ditangkap Dengan Uang Rp ... 60

Juta... 35

2. Mobil Berisi Uang 1,075 Miliar... 36

3. Empat Orang dan Uang Ratusan Juta di Pekanbaru... 36

4. OTT Tiga Orang dan Dua Orang Caleg Terkait Politik Uang di Karo... 37

5. Caleg Golkar Tertangkap Tangan Bagi-Bagi Uang... 37

6. Wakil Bupati Jadi Tersangka Dugaan Politik Uang... 38

7. Pria di Depan Toko Posko Pemenangan M Taufik... 38

C. Kasus Money Politic Dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) 39 1. Politik Uang Pilkades di Kolaka Utara... 39

2. Anggota Polisi Terlibat Politik Uang Pilkada Serentak di Tengerang... 40

D. Nilai-Nilai Wara’ Sebagai Penanggulagan Money Politic... 42

BAB IV ANALISIS PELUANG WARA’ MENANGGULANGI MONEY POLITIK ... 45

A. Kepatuhan Pada Peraturan... 48

B. Kesederhanaan dan Kehati-Hatian... 50

BAB V PENUTUP... 55

ii

(12)

iii

(13)

abjad yang satu ke abjad yang lain, dengan tujuan utamanya adalah untuk mempermudah penulis dalam menganalisis makna yang terdapat dalam sebuah naskah dan menampilkan kata-kata asal agar terhindar dari salah pelafalan yang bisa menyebabkan kesalahan dalam memahami makna asli dari kata-kata yang di salin. Pedoman transliterasi yang digunakan untuk penulisan sebagai berikut:

Transliterasi Huruf

No Arab Latin No Arab Latin

1. ا A 16 ط t{

2. ب B 17 ظ z{

3. ت T 18 ع

4. ث Th 19 غ gh

5. ج J 20 ف f

6. ح h{ 21 ق q

7. خ Kh 22 ك k

8. د D 23 ل l

9. ذ Dh 24 م m

10. ر R 25 ن n

11. ز Z 26 و w

12. س S 27 ه h

13. ش Sh 28 ء

14. ص s{ 29 ي y

15. ض d{

iv

(14)

Vokal

Vokal Tunggal (monoftong) Tanda dan

Huruf Arab

Nama Latin

َ0 Fat}hah a

َ1 Kasrah i

َ2 D{ammah u

Catatan: khusus untuk hamzah, penggunaan apostrof hanya berlaku jika hamzah berharakat sukun atau di dahului oleh huruf yang berharakat sukun.

Vokal Rangkap (diftong) Tanda dan

Huruf Arab

Nama Latin Keterangan

ى ا Fathah dan

Ya Ay a dan y

ا

و Fathah dan

Wawu

Aw a dan w

Contoh: alayh (

هيلع

), Mawd}hu> (

عوضوم

)

Vokal Panjang (mad) Tanda dan

Huruf Arab

Nama Latin Keterangan

ix

(15)

jama>’ah(

ةعامجلا

), ghalizan (

ظيلغ

), yadu>ru (

رودي

)

Ta Ma>rbutah

Transliterasi untuk ta mar>but}ah ada dua macam, di antaranya:

1. Jika hidup (menjadi muda>f), maka transliterasinya adalah t 2. Jika mati atau sukun, maka transliterasinya adalah h.

Contoh: shari>at al-Isla>m (

ةعيرش ملاسلا

), al-baqarah (

ةرقبلا

)

Penulisan Huruf Kapital

Penulisan huruf besar dan kecil pada kata, phrase (ungkapan), atau kalimat yang ditulis dengan transliterasi Arab-Indonesia mengikuti ketentuan penulisan yang berlalu dalam tulisan. Huruf awal (initial latter) untuk nama diri, tempat, judul, buku, lembaga dan yang lain ditulis dengan huruf besar.

x dan

wawu

(16)

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara yang berbentuk republik yang memiliki sistem pemerintahan yang tidak lepas dari pengawasan rakyatnya. Demokrasi merupakan asas dan sistem yang paling baik di dalam sistem politik dan ketatanegaraan.1 Demokrasi, sebuah bentuk pemerintahan yang terbentuk karena kemauan rakyat dan bertujuan unutk memenuhi kepentingan rakyat itu sendiri. Ketika muncul sebuah demokrasi, maka segala hal berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Indonesia sendiri meruoakan negara demokrasi yang menganut asas Pancasila yang merupakan ideologi atau pandangan hidup bangsa Indonesia.2

Pemilihan umum ialah suatu proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Pemilu merupakan suatu indikasi bahwa suatu negara yang demokrasi dan berkedaulatan rakyat telah menjungjung tingi nilai-nilai kebenaran dan hak-hak rakyatnya.3 Sehingga bisa menghasilkan pemerintahan negara yang demokratis yang berdasarkan ideologi bangsa negara yakni berdasarkan Pedoman dari Pancasila sebagai pilar utama bagi bangsa indonesia dan berdasarkan norma Undang-

1 Nikmatul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hal, 237

2 Nanda Firdaus Puji Istiqomah, Penggunaan Money Polittic Dalam Pemilu di Indonesia Perspektif Hukum Fiqh Siyasah dan Hukum Posistif, (Skripsi : UIN Jember, 2020), hal, 1

3 Erin Malinda Rahmadani, Pengaruh Money Politic Terhadap Perilaku Pemilih Pemula Masyarakat Kecamatan Candi di Kabupate Sidoarjo dalam Pemilihan Presiden 2014, (Skripsi: UIN Surabaya, 2016), hal 3.

1

(17)

Undang 1945 di indonesia yang berkembangsaan NKRI. Adanya pemilu yang berdasarkan asas langsung, umum, bersih, jujur, dan adil diharapkan bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin yang mempunyai legitimitas yang tinggi dan kuat untuk menjalankan pemerintahan, baik dilevel pusat, daerah, maupun desa.4

Dalam hubungannya dengan demokrasi, partisipasi politik berpengaruh terhadap legitimasi masyarakat terhdap jalannya suatu pemerintahan. Setiap masyarakat memiliki prefensi dan kepentingan masing-masing untuk menentukan pilihan mereka dalam pemilu. Partisipasi politik merupakan serangkaian pilihan kegiatan yang berkaitan dengan keikutsertaan dalam kehidupan politik sebagai tindakan sosial. Pada realitas politik, partisipasi politik dikenal secara umum pada kegiatan yang berhubungan dengan pemilihan umum, dalam realitanya partisipasi politik memiliki bentuk yang beragam.5

Dalam sebuah even demokrasi seperti pemilihan umum, baik pemilu legislatif, pemilu daerah, maupun pemilu presiden tak luput di dalamnya terdapat praktik jual beli suara atau dapat disebut dengan Money Politic yang dapat mencederai sistem demokrasi itu sendiri. Dalam pelaksanaaannya demokrasi selalu dikotori dengan kecurangan. Money Politic kini tidak hanya terjadi ditingkat pemerintah pusat, tapi

4 M. Tetuko Nadigo, Upaya Penanggulangan Money Politic Pada Tahap Persiapan dan Pelaksanaan Pilkada Serentak di Provinsi Lampung, (Skripsi: Universitas Bandar Lampung, 2018), hal, 3

5 Nia Sastrawati, “Partisipasi Politik dalam Konsepsi Teori Pilihan Rasional James S Coleman”, Jurnal Ar-Risalah. No. 2 Vol. 19, (November 2019), hal, 191

(18)

sudah sampai pelosok yang jauh dari pusat pemerintahan. Sudah tidak asing lagi, bahkan pelakunya tidak lagi sembunyi-sembunyi tapi sudah berani terang-terangan.6

Politik uang juga selalu dikemas dengan berbagai cara yang beragam di dalam kampanya, misalnya seseorang caleg memberikan sembako kepada masyarakat yang akan mengikuti pemilihan suara di dalam kontestasi pemilihan, memberikan uang dengan dalih sedekah ataupun pemberian secara cums-Cuma, memberikan barang berupa sarung taua baju.7 Bahkan ada yang memberikan uang saat hari H pemilu, menurut Taufik Arbain, “kalau uang itu berhasil memindahkan kesadaran seseorang dan mengubah logika seseorang dari sesuatu yang sebelumnya ia yakini kepadsa sesuatu yang baru yang ditawarkan, berarti politik uang itu berhasil”.8

Dalam hal ini, kampanye mengambil peran yang sangat vital dalam pemilu, tim kampanye dalam hal ini dapat mengajak masyarakat untuk memilih salah satu calon legislatif dengan bersifat persuasif. Pada saat inilah timbul yang namaya Money Politic . Seperti yang kita ketahui bahwa praktik suap menyuap antara masyarakat dengan tim sukses calon legislatif merupakan suatu hal sudah mandarah daging di masyarakat, dan sudah menjadi hal yang lumrah terjadi saat musim politik, sehingga masyarakat menganggap sebagai sebuah tradisi.

6 Syamsul Hadi, Kriteria Money Politic dalam Pemilu Prespektif Hukum Islam, (Skripsi, Yogyakarta:

UIN Sunan Kali Jaga, 2012), hal, 4

7 Jonasmer Simatupang & Muhammad Subekhan, “Pengaruh Budaya Politik Uang dalam Pemilu Terhadap Keberlanjutan Demokrasi Indonesia”, Jurnal Seminar Nasional Hukum, Vol. 4 No. 3, (Juni, 2018), hal, 130

8 Taufik Arbain, D’idabu (Isasi) Banua Kumpulan Esai Sosial-Politik-Kebijakan, (Banjarmasain:

Pustaka Banua, 2014), hal, 165

(19)

Money politik muncul karena adanya hubungan yang saling menguntungkan (Mutualisme) antara calon peserta legislatif dengan masyarakat. Keduanya saling mendapatkan keuntungan dengan mekanisme money politik, bagi calon legislatif money politik merupakan media instan untuk mendapatkan suara, sementara di masyarakat money politik merupakan sebuah bonus rutin di masa pemilu yang lebih nyata dibandingkan dengan progam-progam yang dijanjikan.9

Adanya praktik Money Politc menunjukkan bahwa para calon pejabat public yang akan menduduki pemmerintahan tidak benar-benar memiliki kualitas dan kompetensi untuk untuk menjalankan pemerintahan dengan baik. Maka jalan keluarnya dengan mendorong, mengajak dan membeli suara pemilih. Adapun dampak adanya Money Politic bagi masyarakat maupun dampak bagi para calon legislatif.10 Dampak bagi calon legislatif sendiri ada dua sisi, yang pertama apabila meraka berhasil terpilih karena suksesnya Money Politic yang mereka lakukan, maupun dampak dari kekalahan para calon lagislatif yang gagal dalam Money Politic yang merka lakukan. Bagi para calon legislatif yang gagal dampaknya pada psikologi dan kesehatan mereka.11

Adapun dampak bagi masyarakat sendiri bahwa Money Politic dijadikan sebagai ajang mencari penghasilan. Masyarakat awam tidak memperdulikan nilai-nilai

9 Nova Saha Fasadena, “Maotif Masyarakat Menerima Money Politic Dalam Memilih Calon Kepala Desa (Studi Kasus Pemilihan Kepala Desa di Desa Rowotamtu Kec. Rambipuji Kab. Jember)”, Jurnal ISAB, No. 1, Vol. 1, (Agustus, 2021), hal, 57

10 Dewi Ratna Sari, Agus Satmoko Adi, “Hubungan Penerima Money Politic Dengan Tingkat Partisipasi

Politik Dalam Pemilihan Kepala Desa Di Desa Munung Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nagnjuk”, Jurnal Moral Dan Kewarganegaraan, No. 04, Vol. 03 2016, hal, 1857

11 Edy Suandi, Hamid, Memperkokoh Otonomi Daerah, (Yogyakarta: UII Press, 2009), hal 167

(20)

demokrasi, bagi mereka yang terpenting adalah mereka mendapat uang atau barang dengan cara mudah.12 Sudah sangat jelas negara dan agama melarang yang namanya praktik Money Politic. Negara sendiri melarang adanya Money Politic yang tertera dalam KUHP pasal 149 ayat (1) dan (2) yang berbunyi: Barang siapa pada waktu diadakan pemilihan berdasarkan aturan-aturan umum, dengan memeberi atau menjanjikan sesuatu, menyuap seseorang supaya tidak memakai hak pilihnya atau supaya memakai hak itu menurut cara yang tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana sama diterapkan kepada pemilih, yang dengan menerima pemberian atau janji, mau disuap.13

Sementara dalam Islam, Money Politik termasuk dalam kategori Risywah, rosulullah SAW sendiri melarang dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah:

هAAللا ىلAAص هAAللا لوسر ن0ع0ل :لاق هنع هللا يضر ةريره يبأ نع مKكْ2حلا يف ي1شِ0تَKر2ملاو ي1شاPرلا ملسو هيلع

Dari Abu Hurairah r.a telah berkata: “Rasulullah SAW telah mengutuk orang yang suka memberi suap dan orang yang menerima suap”. (HR. Turmudzi). Hadis ini

12 Dewi Ratna Sari, Agus Satmoko Adi, “Hubungan Penerima Money Politic Dengan Tingkat Partisipasi

Politik Dalam Pemilihan Kepala Desa Di Desa Munung Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nagnjuk”, hal, 185

13 Ali Mustofa, Tindak Pidana Uang dalam Pilkades, https://www.alimmustofa.com/2019/10/tindak- pidana-politik-uang-dalam.html, diakses pada (29 sep 2023)

(21)

menurut Syekh Al Bani dinyatakan shahih.14 Perbuatan risywah ini adalah perbuatan yang sangat keji dan berdosa. Mereka yang terjebak dalam budaya risywah akan memperoleh balasan yang setimpal dengan perbuatan yang mereka buat.15

Ada banyak faktor yang mempengaruhi munculnya praktik Money Politic. Sala satunya ialah kondisi ekonomi masyarakat yang berada dibawah rata-rata menjadikan faktor tidak sedidkit dari calon legislatif yang memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan sedikit uang untuk menarik suara dari mereka. Fakta yang agak miris ialah semakin banyak jumlah uang yang diberikan kepada calon pemilih, maka semakin besar pula kemungkinan terpilih, karena dengan uang yang diberikan akan menetukan siapa yang akan dipilih nantinya.16 Masyarakat banyak yang tidak mengerti juga menganggap hal ini sepele, mereka hanya ketahui dapat uang dari calon legislaif.17

Kurangnya nilai-nilai religius yang tertanam dalam diri Masyarakat juga menjadi faktor utama maraknya praktik Money Politic. Terlebih nilai-nilai religius yang mengarah kepada tasawuf, dalam hal ini Wara’ bisa menjadi opsi yang diterapkan kepada masyarakat untuk menanggulangi praktik Money Politik yang sudah marak terjadi.

14 Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Juz 2(Beirut: Dar Al Fikr, 2007), hal, 324

15 Mat Supriyansyah, Money Politic Dalam Pemilu Menurut Pandangan Hukum Islam dan Undang- Undang, (Lampung: Skripsi, 2017), hal 35.

16 Nur Fitriani dkk, “Problematika Money Politic Dalam Pemilu dan Solusinya Dalam Prespektif Islam:

Studi Kasus di Karawang”, Jurnal Pnelitian dan Pemikiran Islam, No. 01, Vol. 09, (Februari, 2022), hal, 58

17 Nur Amalia & Eka Vidya Putra, “Praktik Politik Uang Pada Pemilihan Kepala Desa”, Jurnal Perspektif, No. 3, Vol. 5, (September 2022), hal, 424.

(22)

Wara’ bisa menjadi solusi, karena wara mengandung pengertian menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan mudharat, serta dapat menjerumuskan manusia kedalam hal-hal yang haram dan syubhat.18 Wara’ juga merupakan sebuah pembinaaan mentalitas keislaman, karena didalamnya terdapat pencegahan yang mencakup pencegahan dari sesuatu yang tidak bermanfaat, baik dari segi ucapan, pendengaran, penglihatan, cara berfikir, dan seluruh gerak yang tempak maupun tidak tampak merupakan cakupan yang terkandung dalam nilai-nilai Wara’.19

Dalam penelitian ini penulis ingin mesukkan nilai-nilai Wara’ dalam kehidupan bermasayarakat serta berpolitik, sehingga bisa menjadi opportunity20 (peluang) untuk menanggulangi praktik Money Politic yang sudah menjadi budaya dimasyarakat.

B. Identifikasi Masalah

Dari penjelasan latar belakang tersebut, penulis dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi karena adanya paraktik Money Politic pada pemilihan kepala desa. Diantaranya sebagai berikut:

1. Money Politic sudah mengakar dan menjadi budaya ketika berlangsungnya pesta demokrasi pemilihan umum.

18 Abdul Karim Al Qusyairy, Ar Risa>lah Al Qusyairiyah, (Beirut: Dar Kutub Ilmiyah, 2019) hal,

146

19 Siti Syamsiyatun Munawaroh, Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Sikap Wara’ (Telaah Kitab Riyadhu Al Shalihin Karya Imam Nawawi), (Lampung: Skripsi, 2019), hal 42

20 Opportunities merupakan peluang yang bisa kita dapatkan berdasarkan kelebihan dan kelemahan yang

kita miliki. Lihat di https://www.topkarir.com/article/detail/mengenal-diri-lebih-dalam-dengan-analisis- swot, diakses (tanggal 30 Sep 2023)

(23)

2. Kurangnya kesadaran partisipasi masyarakat dalam mengikuti pesta demokrasi pemilihan umum yang mengakibatkan terjadinya Money Politic.

3. Kurangnya nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat.

4. Kurangnya kesadaran serta kurangnya nilai-nilai Wara’ yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat serta berpolitik.

C. Batasan Masalah

1. Money Politic sudah mengakar dan menjadi budaya ketika berlangsungnya pesta demokrasi pemilihan umum.

2. Nilai-nilai Wara’ dalam menanggulangi praktik Money Politic.

3. Peluang nilai-nilai Wara’ dalam menanggulangi praktik Money Politic.

D. Rumusan Masalah

1. Bagaimana praktik Money Politik terjadi ketika pemilu?

2. Apa nilai-nilai Wara’ bisa menjadi peluang dalam menanggulangi praktik Money Politic?

3. Bagaimana Wara’ dapat menanggulangi praktik Money Politic?

E. Kajian Pustaka

Dalam Penelitian ini menyertakan beberapa refrensi yang menyinggung tentang pembahasan Money Politic dan nilai-nilai tasawuf yang berhubungan dengan Money Politic, ini dimaksudkan untuk memperkuat berbagai argumentasi dan memberi kemantapan bagi pembaca tentang dampak Money Politic dan penanggulangannya

(24)

dengan memasukkan nilai-nilai tasawuf. Kajian-kajian terdahulu turut membantu penulis sebagai perbandingan dan bahan dalam korelasi antara beberapa teori yang telah ada sebelum penelitian ini dipublikasikan. Sejauh pengamatan peneliti terkait praktik Money Politic bisa diklasifikasikan menjadi dua corak, di antaranya:

1. Penelitian yang hanya memaparkan praktik Money Politic yang sering terjadi dalam pemilu, penelitan model seperti ini seperti yang terdapat pada penelitian:

a. Fathur Rozy dkk Praktik Politik Uang dalam Proses Pemilihan Kepala Desa Sumberingin Kidul Tahun 2019, jurnal ini ditulis Rosy dkk membahas mengenai praktik politik uang yang terjadi di desa.

b. Dewi Ratna Sari, Agus Sutmoko Adi Hubungan Penerima Money Politic Dengan Tingkat Partisipasi Politik Dalam Pemilihan Kepala Desa di Desa Munung Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk, jurnal ini ditulis oleh Desi dan Agus didalamnya terdapat data-data penerima uang ketika pemilihan kepala desa berlangsung.

c. Skripsi yang berjudul Penggunaan Money Politic Dalam Pemilu di Indonesia Perspektif Fiqh Siyasah dan Hukum Positif yang di dalamnya membahas hukum Money Politic menurut hukum fiqh siyasah dan hukum positif yang ada di Indonesia.

2. Penelitian yang memaparkan tentang solusi terhadap penaggulangan praktik Money Politic, penelitian model ini terdapat pada penelitian:

a. Nurfitriani, Oyoh Bariah, Kholid Ramdani Problematika Money Politic

(25)

Dalam Pemilu dan Solusinya Dalam Prespektif Islam: Studi Kasus di Karawang, jurnal yang isinya menawarkan solusi penaggulangan Money Politic berdasarkan syari’at Islam.

b. Khoiril Padilah, Irwansyah Solusi Terhadap Money Olitic Pemilu Serentak Tahun 2024: Mengidentifikasi Tantangan dan Strategi Penanggulangannya, jurnal ini berisi solusi penanggulangan Money Politic berdasarkan social budaya, serta hukum yang diterpakan di Indonesia.

F. Tujuan Penelitian

Penulisan risalah akhir ini dalam rangka mengungkap dan memahami praktik Money Politic yang selama ini sudah menjadi budaya dan tidak bisa terpisahkan, serta menawarkan konsep Wara’ sebagai peluang dalam menangulangi praktik Money Politic yang sering terjadi, terutama dimasyarakat desa.

G. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan menghasilkan sebuah nilai dan manfaat, baik dari sisi keilmuan teoritis maupun fungsional praktis, di antaranya:

1. Teoritis

Penulisan skripsi ini diharapkan mampu menjadi salah satu sumbangsih secara keilmuan teoritis intelektual kademis bagian tasawuf, terutama dari segi pembahasan konsep Wara’ dalam kehidupan berpolitik. Serta dapat menjadi sebuah refrensi dikemudian hari.

(26)

2. Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran dalam memaknai dan menanamkan makna Wara’ di dalam kehidupan seharai-hari, sebagai pelindung diri dari hal-hal yang menjerumuskan dalam kegiatan yang tidak diridhoi seperti menerima uang ketika pesta politik berlangsung. Juga bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi para pelaku politik supaya sadar dan tidak melakukan praktik Money Politic.

H. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah strategis umum yang dijadikan patokan dalam pengumpulan dan penyusunan analisis data yang perlukan guna mempermudah penulis menjawab permasalahan yang dihadapi.

1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif korelasi yang berpondasi pada jenis library research atau biasa disebut dengan penelitian kepustakaan. Penelitian kualitatif juga disebut dengan penelitian naturalistik yaitu penelitian yang datanya dinyatakan dalam keadaan yang sewajarnya atau apa adanya, tidak diubah dalam bentuk symbol atau bilangan dengan maksud untuk menemukan kebenaran dibalik data yang obyektif dan cukup. Penelitian jenis ini digunakan untuk memahami sebuah kondisi sosial yang ada diharapkan dapat menggambarkan serta mewujudkan visualisasi yang kompleks terhadap pembaca, dengan penyajian yang tekstual, serta melaporkan

(27)

sebuah laporan yang terperinci yang sudah disaring dari beberapa literatur informasi dan dilakukan harus dengan cara yang ilmiah, sehingga dapat dipertanggung jawabkan kevalidannya.

2. Sumber Data

Dalam penelitian ini memiliki sumber data yang menjadi tolak ukur validasi data. Sumber data adalah sumber dari mana data diperoleh. Penelitian ini menggunakan metode kualittif yang mana lebih mementingkan olahan teoritis daripada uji empiris. Dalam pennelitian ini, sumber data terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Data Primer

Data primer yakni sebuah data yang dijadikan sebagai sumber utama dalam penelitian menggunakan kitab Al Luma Fi Tasawuf karangan Syekh Abu Nasrh As-Syaraj yang menjelaskan beberapa makna dan konsep Wara’, Ihya’ Ulu>muddin karangan Imam Al- Ghozali. Serta berita online Detik.com, Sindo News, Oke Zone.com dan lain-lainnya yang terkait dengan praktik Money Politic.

b. Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah informasi yang mendukung data utama dengan melibatkan buku, jurnal, media masa, artikel, transkrip dan lainnya yang bersifat penunjang sebagai refrensi pihak kedua.

Meskipun sifat buku ini memiliki tingkatan di bawah dari buku primer,

(28)

akan tetapi informasi di dalamnya tidak kalah penting sebagai sarana penulisan ini, untuk mendapatkan bukti-bukti ilmiah yang pasti bisa dipertanggung jawabkan. Dalam sember sekunder terdapat beberapa literatur kitab antara lain karya Imam Al-Qusyairy yang berjudul Risalah Al-Qusyairiyah yang didalamnya membahas keterangan Wara dari penjelasan beberapa Ulama’. Selanjutnya Skripsi yang berjudul Penggunaan Money Politic Dalam Pemilu di Indonesia Perspektif Fiqh Siyasah dan Hukum Positif yang di dalamnya membahas hukum Money Politic menurut hukum fiqh siyasah dan hukum positif yang ada di Indonesia.

3. Teknik Pengumpulan Data

Tahapan selanjutnya dalam peneitian kualitatif setelah pemilihan metode yang relevan dengan penelitian, dan perancangan penelitian meliputi sumber data baik primer dan skunder adalah Teknik pengumpulan data. Pada tahapan ini, adakalnya memiliki atau menggunakan strategi pengumpulan data dengan menggunakan etnografi21, ataupun dokumentasi. Dalam teknik melacak jejak dokumentasi terdahulu mencakup dalam berbagai bentuk literatus tekstual meliputi buku, jutrnal, skripsi, tesis yang memiliki teori yang kuat untuk

21 Etnografi merupakan salah satu pendekatan dalam metode penelitian kualitatif yang berusaha mengeksplor suatu budaya masyarakat. Pendekatan ini bertujuan untuk menemukan esensi dan kompleksitas budaya dalam menggambarkan komunitas. Budaya yang dimaksud adalah sikap, pengetahuan, nilai, dan keyakinan yang membentuk individu dalam kelompok. Lihat. Windiani, Farida Nurul R, Menggunakan Metode Etnografi dalam Penelitian Sosial, (Jurnal dimensi: 2016), vol. 9, 2.

(29)

dipertanggung jawabkan kebenarannya yang memiliki keteerkaitan hubungan dengan sebuah permasalahan yang sedang diteliti dalam skripsi ini.

4. Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul, dalam penelitian yang dilakukan langkah selanjutnya adalah menganalisa data dengan menggunakan metode analisis.

Dengan tujuan melihat nilai dan konsep Wara bisa menjadi peluang dalam penanggulangan praktik Money Politic. Dari cara mereka menjabarkan makna Wara’ juga dengan menghubungkan berdasarkan literatur yang sudah ada sebelumnya sebagai bahan acuan sehingga penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan.

I. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah dalam penelitian ini, maka peneliti megkonsep sistematika pembahasan sebagai berikut:

1. Bab Pertama. Sebagai pendahuluan yang meruapakan bagian awal dari sebuah penelitian yang mencakup latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan masalah, kerangka teori, kerangka teori, metode penelitian, sistematika pembahasan.

2. Bab Kedua. Merupakan landasan teori mengenai tinjauan umum tentang praktik Money Politic dan Wara’ meliputi pengertian, ruang lingkup.

3. Bab Ketiga. Membahas tentang kasus-kasus praktik Money Politic yang terjadi ketika atau sebelum pemilu yang ada di Indonesia.

(30)

4. Bab Empat. Analisis data yang sudah terkumpul sebagai jawaban terhadap rumusan masalah tentang Money Polotic serta penanggulangannya dengan memaikai konsep Wara’ para sufi.

5. Bab Lima. Merupakan sebuah penutup yang berupa kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah.

(31)

A. Money Politic

1. Definisi Money Politic

Bentuk-bentuk korupsi yang terjadi dalam pemilu kerap kali diidentikan dengan Money Politic, sejauh ini belum ada istilah yang meggambarkan definisi Money Politic secara jelas. Money Politic dipergunakan untuk menerangkan segala jenis praktik dan tindak pidana korupsi dalam pemilihan umum, mulai dari korupsi politik hingga klientelisme22 dan memberi suara (vote buying) hingga kecurangan.23

Istilah Money Politic ialah menggunakan uang untuk mempengaruhi keputusan tertentu, dalam hal ini uang dijadikan sebagai alat untuk mempengaruhi seseorang dalam mengambil sebuah keputusan. Dengan adanya politik uang ini, maka keputusan yang diambil bukanlah bersumber dari hati nurani dan berdasarkan idealita, melainkan semata-mata didasarkan oleh

22 Modul kelas Politik Cerdas Berintegritas (PCB) mengartikan klientelisme sebagai salah satu bentuk korupsi politik yang berlangsung dalam hubungan relasi kekuasaan politik dengan corak patron- client.Hubungan tersebut biasanya terjadi ketika elite politik yang memiliki otoritas kekuasaan atau posisi politik mengeksploitasi simpatisan atau warga dengan janji-janji demi “dipertukarkan” dengan dukungan dan loyalitas politik. Lihat di https://aclc.kpk.go.id/aksi-informasi/Eksplorasi/20230912- klientelisme-salah-satu-bentuk-korupsi-politik diakses pada Rabu tanggal 6 Desember 2023.

23 Elvi Juliansyah, Pilkada Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, (Bandung: Mandar Maju, 2007), hal, 67.

16

(32)

kehendak si pemberi uang karena sudah merasa menuntungkan kepada yang diberi uang.24

Ada yang mengartikan Money Politic sebagai suatu upaya mempengaruhi orang lain dengan memberikan imbalan berupa materi atau juga dapat diartikan jual beli suara saat proses politik dan kekuasaan dan tindakan membagi-bagikan uang, baik milik pribadi atau partai untuk mempengaruhi suara pemilih. Sebagian orang mengartikan Money Politic sebagai upaya mempengaruhi orang lain melalui imbalan materi, atau juga bisa disebut dengan jual beli suara dalam proses pemilihan umum.

Maka Money Politic adalah sebuah tindakan yang disengaja oleh seseorang atau kelompok dengan memberi atau menjajikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya menggunakan hak pilihannya dengan cara tertentu atau tidak menggunakan hak pilihannya untuk memilih calon tertentu atau dengan sengaja menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak tertentu, pemberian bisa berupa uang atau barang. Money Politic umumnya dilakukan untuk menarik simpati para pemilih dalam menentukan hak suaranya.25

24 Hepi Riza Zen, “Politik Uang dalam Pandangan Hukum Positif dan Syariah”, Jurnal Al-Adalah, No. 3, Vol. XII, (Juni, 2015), 527.

25 L. Sumartini, Money Politics dalam Pemilu, (Jakarta: Badan Kehakiman Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, 2004), hal 148-149.

(33)

Sehingga dapat ditarik garis, terdapat empat hal penting yang harus digaris bawahi yang berkaitan denga Money Politic. Pertama, Vote Buyying atau membeli suara. Kedua, Vote Broker atau orang atau kelompok yang mewakili kandidat untuk membegikan uang atau barang. Ketiga, uang atau materi lainnya yang akan ditukarkan dengan suara. Keempat, pemilih yang menjadi sasaran praktik politik uang.26

2. Bentuk dan Strategi Money Politic

Dalam praktik Money Politic terdapat beberapa bentuk serta strategi yang digunakan dalam memenangkan salah satu calon atau partai, diantaranya ialah:

a. Serangan fajar:

Istilah serangan fajar digunakan untuk menyebut bentuk politik uang dalam rangka membeli suara oleh seseorang atau kelompok untuk memenanagkan calon yang bakal diusung. Serangan fajar umumnya menyasar kepada kelompok masyarakat menengah ke bawah dan kerap terjadi menjelang pelaksanaan pemilihan umum.27

b. Mobilisasi Masa:

Mobilisasi masa biasa terjadi pada saat kampanye dengan melibatkan penggalangan masa dengan iming-imingan sejumlah uang untuk meramaikan kampanye yang diadakan oleh partai politik. Penggunaan uang biasanya untuk

26 Muhammad Wahyu Saiful Huda, dkk, The Role of the Millennial Generation in the Creativity of the Anti-Money Politics Movement, Jurnal of Creativity Student, No. 2, Vol. 7, (Oktober, 2022), hal, 247

27 Dedi Irawan, Studi Tentang Poltik Uang (Money Politic) Dalam Pemilu Legislatif Tahun 2014: Studi Kasus di Kelurahan Sempaja Selatan, Jurnal Ilmu Pemerintahan, No. 1, Vol. 3, (Maret, 2015), hal, 1-3.

(34)

menyewa transpotasi, uang lelah serta uang makan dengan harapan masa yang dating akan memilih kelak ketika pemilihan umum berlangsung. Dalam situasi ini biasanya terjadi fenomena pembelian pengaruh dengan para tokoh Masyarakat yang dijadikan vote getter untuk mempengaruhi pemilih sesuai dengan pesanan kandidat.28

Sementara bentuk dari Money Politic bisa berupa distribusi sumbangan, baik berupa barang atau pun uang kepada para kader partai, pengembira, golongan atau kelompok tertentu.29 Sembako politik, yaitu pemberian dari calon tertentu kepada komunitas atau kelompok tertentu caranya dengan mengerimkan proposal tertentu dengan menyebutkan jenis bantuan dan besaran yang diminta, jika proposal tersebut dikabulkan maka secara otomatis calon pemilih harus siap memberikan suaranya.30

Contoh nyata dari sembako politik adalah dengan mengirimkan kebutuhan sehari-hari berupa minyak, beras, mie instan, gula, ataupun bahan- bahan sembako lainnya. Bentuk ini biasanya sanat efektif karena sasarannya tepat, yaitu Masyarakat yang ekonominya mengenah kebawah.

Dalam hal ini, baik strategi serangan fajar maupun mobilisasi masa yang dilakukan oleh tim kampanye untuk menarik simpati para pemilih bisa diberikan sebelum masa kampanye, saat masa kampanye, pada masa tenang

28 Ramlan Surbakti, Partai, Pemilu, dan Demokrasi, (Yohyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hal, 170.

29 Ibid. , hal, 172

30 Firmanzah, Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), hal, 102.

(35)

maupun saat malam hari atau fajar menjelang pagi dating ke TPS serta bisa juga dengan meramaikan kampanye akbar berupa jalan sehat, panggung hiburan, patrol, dan lain-lainnya.31

3. Faktor Money Politic

Jika dilihat dari sisi masyarakatnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya Money Politic, antara lain:

a. Kemiskinann

Menurut data yang ada sekarang, angka kemiskinan di Indonesia termasuk cukup tinggi, kemiskinan adadlah keadaan ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Kondisi seperti ini memaksa dan menekan Sebagian Masyarakat untuk berebut uang. Money Politic pun menjadi ajang masayarakat untuk mendapat uang. Mereka yang menerima uang tidak memikirkan konsenkuensi yang akan diterima, yakni tindakan suap jual beli suara yang jelas melangar hukum, yang terpenting ialah mereka mendapatkan uang dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.32

b. Rendahnya Pengetahuan Masyarakat Tentang Politik

Tidak semua orang tahu akan politik, bagaimana bentuknya, serta apa

31 Firmanzah, Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas, hal, 106

32 Amrullah Ahmad, dkk, Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Gema Insan Press, 1999), hal, 146

(36)

yang ditimbulkan dari politik, itu semua disebabkan tidak adanya pembelajaran serta edukasi politik di sekolah dan masyarakat. Sehingga katika ada pemilu masyarakat akan bersikap acuh dengan pemilu, tidak tahu calon tidak menjadi masalah, bahkan tidak memilih dalam pemilu pun tidak menjadi masalah. Kondisi seperti ini menyebabkan maraknya Money Politic.33 Masyarakat akan dengan mudah menerima pemberian dari para peserta pemilu, politik uang dianggap tidak masalah bagi mereka dan masyarakat tidak tahu bahwa ada permainan politik yang sebenarnya merugikan diri mereka sendiri.

c. Kebudayaan

Prinsip jika mendapat rezeki tidak boleh ditolak telah melekat dalam diri masyarakat Indonesia. Uang dan segala benruk barang yang diberi dari peserta pemilu dianggap sebagai rezeki bagi masyarakat yang tidak boleh ditolak, dan karena sudah diberi maka secara otomatis masyarakat harus memebri sesuatu untuk peserta pemilu, yaitu dengan memilih, menjadi tim sukses, bahkan ikut mensukseskan politik uang demi memenangkan salah satu peserta pemilu. Hal ini semata-mata dilakukan sebagai ungkapan balas budi terhadap calon yang sudah memberi uang atau barang, dalam hal ini prinsip yang sejatinya baik disalah artikan oleh masyarakat. Saling memberi tidak lagi dalam hal

33 Yogi Muhammad Zamili, Money Politic Prespektif Bawaslu Lampung (Lampung: Skripsi, 2020), hal, 27

(37)

kebaikan akan tetepi dalam hal kecurangan. Masyarakat tradisional yang masih menjunjung tinggi budaya ini menjadi sasaran empuk bagi para peserta pemilu untuk melakukan politik uang.34

d. Kurangnya Pengetahuan Agama

Minimya masyarakat akan pengetahuan tentang hukum agama otomatis akan membuat seseorang akan mudah dipengaruhi. Hal ini merupakan faktor yang menyebabkan seseorang dengan mudah melakukan dan menerima politik uang.35 Iman yang lemah otomatis akan membuat seseorang jauh dari Tuhan Yang Maha Esa, mengesampingkan fatwa bahwa apa yang mereka lakukan merupakan perbuatan dosa. Tidak rasa takut sama sekali, karena kalau mereka takut pasti tidak akan pernah melakukan Money Politic karena perbuatan itu dapat menyeret ke neraka, itulah kenepa budaya Money Politic masih saja langgeng di negeri ini.36

4. Dampak Money Politik

Money Politic juga menimbulkan dampak yang tidak baik, baik terhadap masyarakat, maupun dampak terhadap para calon legislatif. Berikut dampak yang ditimbulkan dari Money Politic:

a. Dampak Terhadap Masyarakat

34 Leo Agustino, Pilkada dan Dinamika Politik Lokal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal, 87.

35 Fuad Fachrudin, Agama dan Pendidikan Demokrasi, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2006), hal, 65

36 Mat Supriyansyah, Money Politic Dalam Pemilu Menurut Pandangan Hukum Islam Dan Undang- Undang, (Lampung: Skripsi, 2017), hal, 23

(38)

Tentunya tindakan Money Politic yang dilakukan oleh banyak pihak akan memunculkan kekacauan terhadap tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara. Tidaklah mengherankan jika Islam mengharamkan suap dan bersikap keras terhadap semua pihak yang terlibat di dalam praktik itu. Demikian itu, karena tersebarnya praktik suap di tengah masyarakat berarti merajalelanya kerusakan dan kezhaliman, berupa hukum tanpa asas kebenaran atau ketidakpedulian untuk berhukum dengan kebenaran, mendahulukan yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan yang seharusnya didahulukan, juga merajalelanya mental oportunisme dalam masyarakat, bukan mental tanggung jawab melaksanakan kewajiban.

Disamping itu, money politic juga berpotensi memunculkan konflik kebencian dan permusuhan di antara anggota masyarakat.

Karena pada hakikatnya, money politic hanya merupakan alat orang- orang yang memegang kebijakan untuk menindas kaum yang lemah. Di lain pihak, mereka yang menyerahkan hartanya kepada para penerima suap ini, memberikan harta mereka dengan sangat terpaksa.

b. Dampak Terhadap Calon Legislatif

Dampak mereka apabila berhasil terpilih menjadi anggota lagislatif ialah berpotensi melakukan tindak pidana korupsi, karena mereka telah mengeluarkan uang yang banyak dan tentunya target mereka ialah mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan waktu

(39)

kampanye.37 Bagi calon legislative yang gagal dampaknya ialah mereka bisa menjadi gila, atau psikologinya terganggu bila mereka mentalnya lemah. Banyak ditemukan para calon legislative yang gila karena mereka gagal terpilih.

Salah satu dampak negatif yang mencolok dari Money Politic adalah distorsi dalam proses demokrasi. Ketika uang memainkan peran dominan dalam politik, suara rakyat menjadi terpingkirkan. Calon atau partai politik yang kaya raya memiliki keunggulan dalam mempengaruhi pemilih melalui kempanye yang mahal, sementara calon yang berkualitas tetapi kurang secara finansial sering kali tertinggal dan jarang memilki basis pendukung.38

Dengan demikian money politic merupakan salah satu kecurangan yang ada dalam pemilu yang memiliki dampak yang luar biasa, baik dampak yang dirasakan oleh masyarakat sendiri, calon legislatif, maupun negara. Karena dengan adanya praktik money politic akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik dalam pemerintahan, salah satunya yang terlihat jelas yakni adanya praktik korupsi yang dilakukan oleh para legislatif.

B. Wara’

1. Pengertian Wara’

37 Abdurrohman, “Dampak Fenomena Politik Uang dalam Pemilu dan Pemilihan”, Jurnal Pemilu dan Demokrasi, No. 02, Vol, 1, (Desember, 2021), hal, 145.

38 Fudin, Amir. Kehancuran Politik Akibat Politik Uang: Sebuah Refleksi, dalam https://jateng.nu.or.id/opini/kehancuran-politik-akibat-politik-uang-sebuah-refleksi-KN1mP, diakses 20 Desember 2023.

(40)

Wara’ berasal dari Bahasa Arab yang memiliki arti sholeh, atau menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Dalam Kamus Al-Munawwir, Wara’

memiliki arti menjauhkan diri dari dosa, maksiat, dan perkra syubhat. Secara istilah Wara’ adalah menjauhi perkara yang syubhat karna takut terjerumus dalam perkara haram.39 Menurut Ibnu Qayyim Wara’ ialah mencegah dan terbebas dari perkara haram.40

Menurut Salman Al ‘Audah Wara’ ialah menghindari perkara yang bisa merugikan kelak di akhirat dan menghindari perkara yang bisa merugikan di dunia serta menghindari perkara yang masih belum tampak hukumnya dan ada indikasi syubhat, makruh atau haram.41 Rosulullah saw bersabda:

لا تاه1ب0تَ KAAشِ2م اAAمهنيبو ،نUي0ب مارAAحلا نإو نUي0ب 0للاحلا نإ دAAقف تاهبAAشِلا ىقتَا نمف ،ساAAنلا نم ريAAثك نهملعي يف عAAقو تاهبشِلا يف عقو نمو ،هضرعو هنيدل أربتَسا مارحلا .

Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Antara keduanya ada perkara samar yang tidak diketahui  banyak orang. Orang yang menghindari perkara samar, berate memelihara agama dan harga dirinya. Sedangkan orang yang jatuh dalam perkara samar, berarti jatuh dalam perkara haram. (HR. Bukhari Muslim).42

Wara’ adalah sikap yang dimiliki oleh kekasih Allah, baik itu para nabi, rosul, wali, dan orang-orang sholeh. Mereka dengan sekuat tenaga

39 Muhammad Nawawi, Syarah Nasho>ihul Iba>d, (Haramai, t.th), hal, 37.

40 Ali bin Salman, Duru>sun lil Syaikh Ali bin Umar Ba>dahdah, (Maktabah Syamilah), hal,

4

41 Salman Al ‘Audah, Duru>sun lil Syaikh Salaman Al ‘Audi, (Maktabah Syamilah), hal 34

42 Ali bin Nayef Asy Syahud, Mausu>’atul Khutubi wad Duru>su, (Maktabah Syamilah), hal 2.

(41)

menjaga diri agar hidupnya tidak terkontaminasi akan hal-hal yang dapat menjauhkan mereka dari Allah. Bagi orang wara’ apa pun yang dapat menjadikannya dekat dengan Allah akan ditempuh. Sementara yang dapat menjauhkan dari Allah akan ia tinggalkan.43

2. Tingkatan Wara’

Imam Al-Ghozali dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulu>muddi>n membagi tingkatan wara’ menjadi empat tingkatan, diantaranya:44

Tingkatan pertama ialah wara’ udhul. Yaitu menjahui hal-hal yang diharamkan dan apabila melanggarnya maka dnilai telah melakukan kefasikan dan kemaksiatan. Tingkatan ini merupakan tingkatan paling randah yang diperuntukan bagi orang-orang awam.

Tingkatan kedua ialah Wara’ orang-orang sholeh. Yaitu menjauhkan diri dari segala perbuatan syubhat, yang ada padanya suatu kemungkinan- kemungkina yang masih diragukan. Ketika menjelaskan kewaraan orang-orang sholeh, Imam Al-Ghazali mengutip hadist riwayat At-Tirmidzi:

كبيري لاام ىلإ كبيري ام عد :ملسو هيلع هللا ىلص لاق  

Artinya: “Rosulullah SAW bersabda, tinggalkan apa yang membuat ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu” (HR At-Tirmidzi)

43Lailatul Fadhilah, Konsep Wara’ dan Tawakal Menurut Az-Zarnu>ji dalam Kitab Ta’li>mul Muta’aalim dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Akhlak, (Ponorogo: Skripsi, 2021), hal, 16.

44 Abu Hamid Muhammad bin Muhammad AL-Ghozali, Ihya’ Ulu>muddi>n, (Beirut: Darul Ma’rifah, tt), hal, 95.

(42)

Contoh Wara’ pada tingkaan ini ialah ketika seseorang takut memburu binatang. Binatang yang ia tangkap ialah binatang yang lepas dari pemiliknya, makai ia lebih memilih menghindari untuk tidak berburu karena kekhawatirannya tersebut.

Tingkatan ketiga ialah Wara’ orang-orang yang bertaqwa. Yaitu meninggalakan perbuatan yang sebenarnya halal, akan tetapi dikhawatirkan terbawa ke perkara haram.45 Rosulullah SAW bersabda:

نيقتَملا نم لAAجرلا نوكْي لا :ملسو هيلع هللا ىلص لاق سأب هب امم ةفاخم هب سأب لا ام عدي ىتَح

Artinya: “Rosulullah SAW bersabda, ‘seseorang tidak termasuk ke dalam golongan orang yang bertakwa sehingga ia meninggalkan apa yang tidak masalah (halal) karena takut terbawa kepada yang menjadi masalah (haram)’,” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

Contoh Wara’ orang yang bertakwah ialah khawatir seseorang untuk tidak membicarakan kebaikan orang lain yang sebenarnya halal, akan tetapi khawatir akan terjerumus kepada ghibah yang diharamkan. Contoh lain ialah kewaraan orang untuk tidak memakan makanan dengan syhawat karena dikhawatirkan terjebak kepada tingkatan yang dilarang.

Tingkatan keempat ialah Wara’ orang-orang yang shidiq. Yaitu berpaling dan meninggalkan sesuatu selain kepada Allah SWT, karena khawatir

45 Ibid,..., hal, 96

(43)

melewati sepenggal umur pada hal yang tidak bermanfaat dalam menambah kedekaatan kepada Allah SWT, sekalipun mereka tahu aktifitas yang mereka lakukan itu tidak menjerumuskan kepada keharaman.46

Wara’ tidak hanya tidak hanya berkutat dalam urusan halal dan haram dalam agama, bukan sekedar aspek makanan melainkan pada apa yang telah agama perintahkan terhadap diri manusia, ketika dihadapkan pada dua hal yang masih belum jelas dalam aturan agama, maka memilih untuk meninggalkannya .47

Sementara itu, ulama lain membagi Wara’ dibagi menjadi tiga tingkatan:

a. Wajib, yaitu meninggalkan perkara yang haram, dan ini umum dilakukan oleh semua manusia.

b. Menahan diri dari perkara syubhat, ini dilakukan oleh sebagian kecil manusia.

c. Meninggalkan kebanyakan perkara yang mubah, dengan mengambil yang benar-benar penting saja, ini dilakukan oleh para nabi, orang-orang yang benar (Shidi>qhi>n), para syuhada dan orang-orang sholeh.

46 Ibid,..., hal, 8

47 Abbdullah Asy Syaraj, Al Luma fi Ta>rikhit Tasawwuf Isla>mi>, (Beirut, Dar Kutub Ilmiyah, 2016), hal, 43

(44)

Wara’ dari perkara yang mubah maksudnya wara’ dari perkara yang mubah yang dapat mengantarkannya kepada yang haram. Bukan dalam hal yang jelas-jelas kemubahannya.48

3. Faedah Wara’

Islam telah menjelaskan bahwa setiap gerak-gerik, tindakan, dan tingkah laku manusia senantiasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah SWT, tanggung jawab manusia sangat berat dan harus memperkuat akhlak dengan berlandaskan tauhid da berpedoman menaati segala yang diperintahkan Allah SWT dan menjahui apa-apa yang dilarang-Nya. Setiap manusia yang mengamalkan wara’ dalam dirinya maka sudah tentu dalam setiap kehidupannya mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT.

Seseorang yang mengamalkan sifat wara’ dalam kehidupan juga akan mendapatkan ganjaran yang besar serta mulia dari Allah SWT. Wara’

merupakan sifat seseorang individu bertaqwa yang paling tinggi, sikap yang senantiasa berusaha untuk menahan dari dari perkara-perkara yang meragukan dan perkara-perkara yang jelas keharamannya.49 Karena wara merupakan salah satu sifat yang terdapat dalam diri Rosulullah SAW. Apa yang tertanam dalam diri Rosulullah jika diamalkan oleh manusia dikehidupan sehari-hari maka seseorang tersebut akan berada dalam jalan yang benar. 50

48 Ali bin Nayef Asy Syahud, Mausu>’atul Khutubi wad Duru>su, (Maktabah Syamilah), hal 1

49 Nabil Al-Audy, Duru>shu Lil Syaikhi Al ‘Audy, hal, 6

50 Norkhairiyah Hashim, “Kepentingan Sifat Wara’ Dalam Pemilihan Produk Makanan”, Jurnal Halal hal, 141

(45)

Selain itu, wara’ mempunyai faedah untuk membentuk manusia yang patuh menaati peraturan yang ada, baik itu peraturan agama maupun peraturan yang dibuat oleh negara.51 Seseorang yang menamkan sifat wara’ tentunya dalam kehidupan sehari-hari akan selalu berhati-hati serta taat melaksanakan pearturan yang ada serta tidak sembarangan melanggar aturan yang telah ditetapkan, baik secara agama maupun secara kehidupan bernegara.

Wara’ memiliki faedah yakni mengarahkan seseorang untuk meninggalkan sesuatu yang berpotensi membukakan jalan menuju perbuatan dzalim dan kerusakan yang merugikan orang lain, serta menghindarkan dari harapan-harapan dan kesenangan yang mana tidak bisa menjadikan seorang tersebut menjadi orang yang ridho dikehidupan, serta tidak bisa menerima kesusahan dan cobaan yang menimpanya.52 Dengan ini wara’ bisa mengarahkan seseorang ke hal-hal yang positif serta bermanfaat dan keadilan bagi orang lain.

51 Will Durant, Qisshotul Hadha>rah Juz 4, hal, 380

52 Ibid.

(46)

A. Kasus Money Politic Pada Pemilu 2014 Pada 313 Kasus Politik Uang Ditemukan dalam Pileg 2014

Pemantauan ICW di 15 provinsi menggambarkan masih banyak maraknya pelanggaran politik uang dalam Pemilu Legislatif 2014 dan jumlahnya naik dua kali lipat dibandingkan Pemilu Legislatif 2009. Berdasarkan wilayah pemantauan, Provinsi Banten menduduki posisi pertama dengan 36 pelanggaran politik uang. Riau dan Bengkulu menyusul dengan jumlah yang sama yakni dengan 33 kasus, diikuti Sumatera Barat dengan 30 kasus, dan Sumatera Utara dengan 29 kasus.53

ICW dan jaringan kerja Lembaga Swadaya Masyarakat memantau pelaksanaan Pemilu Legislatif di Banten, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Pemantauan dilakukan sejak 16 maret 2014 terhitung sejak kampanye terbuka sampai hari pencoblosan tanggal 9 april 2014.

Dari 313 kasus yang berhasil ditemukan, pemberian uang menempati posisi pertama dengan 104 kasus. Menyusul pemberian barang sebanyak 128 kasus, pemberian jasa 27 kasus, dan penggunaan sumber daya negara sebanyak 54 kasus.

53 Tim ICW. “313 Kasus Politik Uang ditemukan dalam Pileg 2014”, dalam https://www.antikorupsi.org/id/article/313-kasus-politik-uang-ditemukan-dalam-pileg-2014, diakses pada 9 Januari 2024

31

(47)

Berdasarkan besaran jumlah uang, terdapat 28 kasus dengan nilai Rp 26,000 hingga Rp 50,000. Menariknya, menurut Donal masih banyak calon legislative yang memberi uang dengan besaran antara Rp 5.000 hingga Rp 25,000, besaran uang ini menempati urutan kedua dengan jumlah 24 kasus. “harga suaranya murah, dan ini banyak terjadi di Banten,” kata Donal. Menurutnya, aspek kondisi ekonomi masyarakat turut berpengaruh. Semakin rendah kondisi ekonomi masyarakat, maka semakin rendah biaya politik yang digelontorkan untuk membeli suara.54

Pemberian barang juga tidak luput jadi “salam tempel” bagi pemilih. Dari hasil temuan, umumnya barang berbentuk pakaian yang bukan atribut kampanye seperti bju koko dan baju muslim, kebutuhan pokok, dan alat-alat rumah tangga.

Sementara untuk pemberian jasa ditemukan tujuh kasus hiburan atau pertunjukan, layanan kesehatan, dan janji tentang pemberian uang atau barang. Penggunaan sumber daya negara seperti pemakain kendaraan dinas untuk berkampanye dan politisasi birokrasi masih marak, dan umumnya dilakukan oleh pejabat petahan dan keluarganya, atau calon yang dekat dengan petahana.

Berdasarkan partai politik pelaku pelanggaran politik uang, Partai Golkar menempati urutan pertama denagn 57 kasus, disusul Partai Persatuan Pembangunan dengan 30 kasus. Partai Amanat Nasional dan Partai Demokrat menyeimbangkan kedudukan dengan 25 pelanggaran, sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan melanggar dengan 24 kasus. Inilah partai-partai besar yang banyak melakukan politik uang yang berhasil terjarin dalam pantauan pemilu.

54 Ibid.

(48)

Berdasarkan aktor pelaku politik uang, yang paling banyak melanggar adalah kandidat caleg dengan 170 kasus, disusul dengan tim sukses dengan 107 kasus.

Menurut Donal, tergambar dominasi logistik masih dipegang oleh kandidat sendiri.

“Mereka belum percaya sepenuhnya logistik dipegang langsung oleh tim sukses,” ujar Donal. Sebab, ada juga kasus-kasus di mana kandidat caleg telah menyetor uang kepada tim suskses, namun tim sukses tidak bekerja malahan memakan uang tersebut secara pribadi. Masih tidak ada kepercayaan kandidat pada tim sukses, karena bahaya uang kandidat ditilap tim sendiri.55

Berdasarkan tingkat pencalonan, pelanggaran pemilu paling marak terjadi ditingkat Pemilu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten atau Kota dengan 126 kasus. Pada tingkat Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI ditemukan 76 pelanggaran, dan DPRD Provinsi menymbang 67 kasus. Sementara pada tingkat Dewan Perwakilan Daerah ditemukan 8 kasus. Hal ini disebabkan bahwa persaingan di wilayah yang sempit dan kandidat yang baanyak mendorong maraknya politik uang.

Penerima dalam transaksi politik uang, paling banyak adalah warga dengan 227 kasus, disusul kandidat caleg sendiri dan simpatisan dengan masing-masing 15 kasus.

Sejak pemantauan penyelenggaraan pemilu pada tahun 1999, 2004, 2009, dan 2014, terjadi lonjakan parah dalam pelanggaran politik uang. Pada pemilu tahun 2009 lalu, ditemukan 150 kasus pelanggarna politik uang, dan pada pemilu 2014 jumlahnya naik dua kali lipat yakni 313 kasus. Hasil pemantauan ini menunjukkan parktik politik uang masih marak terjadi dalam pemilu legislative tahun ini dengan

55 Ibid.

(49)

modus pemebrian “prabayar” yaitu sebelum hari-H pencoblosan berlangsung, dan

“pasca bayar”, di mana transaksi berlangsung setelah pemilu dilaksanakan.

Rencananya, seluruh temuan pelanggaran ini akan diserahkan pada Badan Pengawas Pemilu untuk ditindak lanjuti.56

Melihat peningkatan pelanggaran dalam pemilu legislative semakin massif, peneliti ICW Abdullah Dahlaan menilai demokrasi di tanah air masih terjebak politik jual beli negatif. “Ini bahaya dalam kultur demokrasi yang lagi kita banunn,” ujar Abdullah. Menurutnya, selain dipengaruhi pemilu di Indonesia yang menganut sitem proposional terbuka, politik uang juga terjadi akibat kinerja dan insfratuktur partai masih buruk. Akibatnya, modal sangat menentukan keterpilihan, ditambah lagi penegakan hukum kepolisisan yang lemah dan pengawasan Badan Pengawas Pemilu yang tak terasa “menggigit”. Semua faktor ini, menurut Abdullah menyumbang pada kerusakan pemilu yang ada di Indonesia.

B. Kasus Money Politic dalam Pemilu 2019

Dilansir dari media Kompas.com, ada tujuh kasus dugaan politik uang di sejumlah wilayah Indonesia jelang pemilihan umum berlangsung, dan berikut ulasannya:57

1. Caleg Gerindra di Nias Ditangkap Dengan Uang Rp 60 Juta.

56 Ibid.

57 Hendrik Yanto Delawa, dkk. “7 Kasus Politik Uang Jelang Pemilu, Uang 1 Miliar di Mobil Hingga 500

Juta di Hotel” dalam https://regional.kompas.com/read/2019/04/16/22190461/7-kasus-politik-uang- jelang-pemilu-uang-rp-1-miliar-di-mobil-hingga-rp-500?page=all daikses (Rabu 10 Januari 2023)

(50)

Polres Nias melakukan OTT (Operasi tangkap tangan) terhadap seorang anggota legislatif DPRD Sumatera Utara dari Partai Gerindar yang juga merupakan ketua tim penanganan calon presiden nomor urut 02 di Pulau Nias berinisial DRG pada selasa 16 Maret 2019. Selain DRG, polisi juga menangkap tiga orang lain, yaitu MH (37), KT (18), dan FL. Berdasarkan keteranga polisi, DRG diamankan bersama tiga orang tim suksesnya di posko kemenagna relawan di Jalan Sirao, Kelurahan Pasar, Gunungsitoli, Kota Gumumgsitoli, Sumatera Utara.

Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa uang Rp 60 juta dan sejumlah dokumen lain. Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan mengatakan penangkapan DRG dan tiga orang itu diduga terkait pilitik uang.

“Ada aktivitas yang bukan biasanya terjadi di posko tersebut,” kata Deni di Mapolres Nias, Selasa. Tiga pelaku mengaku akan membagikan uang tersebut kepada 2.400 orang. Uang yang akan dibagikan Rp 20.000 per oaring, dengan total Rp 48 juta, Adapun sisanya 12 juta akan diberikan untuk uang bensin tim yang bekerja di lapangan.58

2. Mobil Berisi Uang 1,075 Miliar.

Apparat Polres Lamongan mengamankan satu mobil saat razia di Jalan Panglima Soedirman, Kota Lamongan. Polisi menemukan uang tunai Rp 1,075 miliar dan atribut salai satu partai politik (parpol) di dalam mobil tersebut. Dua

58 Ibid.

(51)

orang diamankan bersama sejumlah atribut salah satu peserta pemilu 2019. Hal itu dibenarkan oleh Ketua Bawaslu Lamongan, Miftahul Badar. “Semalam itu memang ada razia dari teman-teman kepolisian. Kan ini semua pihak yang berwenang dan terkait sedang melaksanakan razia (hari tenang). Dalam razia itu didapati mobil yang membawa uang seperti yang disampaikan oleh Pak Kapolres dan atribut salah satu partai pemilu tertentu”, katanya saat ditemui di Kantor Bawaslu Lamongan.

3. Empat Orang dan Uang Ratusan Juta di Pekanbaru.

Bawaslu Kota Pekanbaru dan polisi melakukan operas tangkap tangan (OTT) terhadap empat orang terduga pelaku politik uang, Selasa (16/4/2019) siang sekitar pukul 13.30 WIB. Dari tangan pelaku, tim sentra Gakkumdu Kota Pekanbaru menyita uang Rp 506.400.000. keempat pelaku berinisial SA, NEI, DAN, dan RA ditangkap di lobi Hotel Prime Park di Jalan Sudirman, Pekanbarau.

Hal ini disampaikan Ketua Bawaslu Pekanbaru Indra Khalid Nasution dalam konferensi pers di Kantor Bawaslu Pekanbaru, Senin. “Tim sentra Gakkumdu, dalam hal ini Bawaslu dan Polresta Pekanbaru telah mengamankan empat terduga pelaku serangan fajar (politik uang),” kata Indra kepada wartawan. Penangkapan berawal dari laporan masyarakat tentang empat pelaku yang diduga akan melakukan serangan fajar pada masa tenang kampanye pemilu 2019.59

59 Ibid.

Referensi

Dokumen terkait