• Tidak ada hasil yang ditemukan

skripsi - IAIN Repository

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "skripsi - IAIN Repository"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Pertanyaan Penelitian

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah “Bagaimana persepsi masyarakat tentang keengganan orang tua menikahkan anaknya yang berbeda suku di Desa Nampirejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur Perspektif Hukum Islam”. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan yang bermanfaat dan memberikan kontribusi positif bagi pembaca yang ingin mengetahui tentang kondisi sosial masyarakat sehingga sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan syariat Islam di Indonesia, salah satunya sebagai pedoman bagi umat. yang akan menikah dengan orang yang berbeda etnis.

Penelitian Relevan

Skripsi karya Friska Berliana Pakpahan berjudul “Fungsi komunikasi antar budaya dalam prosesi pernikahan adat Batak di kota Samarinda (Studi kasus empat pasangan etnis yang berbeda antara etnis Batak dengan etnis Jawa, Toraja dan Dayak). 6Friska Berliana Pakpahan, Fungsi Komunikasi Lintas Budaya di Prosesi Pernikahan Adat Batak di Kota Samarinda (Studi kasus empat pasangan etnis yang berbeda antara etnis Batak dan etnis Jawa, Toraja dan Dayak, (Universitas Mulawarman1: 20).

LANDASAN TEORI

Pengertian Persepsi

Faktor yang mempengaruhi persepsi adalah perhatian Perhatian terjadi ketika seseorang memusatkan perhatian pada salah satu indera dan mengesampingkan masukan dari indera lainnya. Faktor utama yang mempengaruhi persepsi adalah perhatian, karena perhatian dapat dikonsentrasikan dan mengesampingkan input melalui indera lainnya.

Faktor-Faktor Penentuan Persepsi

Tugas dan Kewajiban Orangtua Terhadap anak

Wajar jika seorang perempuan dan laki-laki memiliki keinginan untuk hidup bersama dan membangun rumah tangga, yaitu dengan menikah.28 Dalam masyarakat yang majemuk seperti masyarakat Desa Nampirejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur masyarakat masih memiliki karakteristik daerah sehingga tercipta persepsi tertentu terhadap suku lain yang merendahkan suku lain. Dalam memilih laki-laki (calon suami) atau perempuan (calon istri) dilihat dari agama atau akhlaknya, bukan dari suku atau adat istiadatnya. Pustaka Ilmiah Lain Terkait Persepsi Masyarakat Tentang Keengganan Orang Tua Menikahkan Anaknya Berbeda Suku di Desa Nampirejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur Perspektif Hukum Islam.

Faktor Keengganan Orang Tua Menikahkan Anaknya Berbeda Suku di Desa Nampirejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan survei yang dilakukan peneliti di Desa Nampirejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, terdapat empat orang wali yang tidak bersedia menikahkan anaknya yang berbeda suku. Menurut Bapak A, sebagai warga Desa Nampirejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur yang sehari-hari berprofesi sebagai petani, saat ini berusia 61 tahun dan memiliki empat orang anak, diantaranya dua laki-laki dan dua perempuan, dua anaknya adalah menikah dengan seorang gadis dari suku yang sama, yaitu Jawa.

Analisis Keengganan Orang Tua Menikahkan Anaknya Bersuku Lain di Desa Nampirejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur Di Desa Nampirejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur Perspektif Hukum Islam. Kita bisa melihat bahwa ketika memilih laki-laki (calon suami) atau perempuan (calon istri) dilihat dari agama atau akhlaknya, bukan suku atau adat istiadatnya.

Perkawinan Perbedaan Suku Perspektif Hukum Islam

METODE PENELITIAN

Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah semua data atau orang yang memberikan keterangan dan keterangan yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian. Sumber data primer adalah sumber data yang memberikan data langsung kepada pengumpul data dan sumber data yang diperoleh langsung dari lapangan. Data primer dapat berupa pendapat individu atau kelompok subjek (orang), hasil pengamatan terhadap suatu objek (fisik), peristiwa atau kegiatan dan hasil pengujian sumber primer internal.

Data primer yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara dengan narasumber yang terbagi menjadi tiga kelompok yaitu petugas KUA Kecamatan Batanghari, tokoh agama di Desa Nampirejo dan masyarakat umum antara lain Bapak A, Bapak E, Bapak .M.,Mr.B.data sekunder yaitu sumber data yang disusun dalam bentuk dokumen 47 Sumber data sekunder digunakan untuk mendukung peneliti dalam mengungkapkan data yang diperlukan dalam penelitian ini agar sumber data primer menjadi lengkap. Sumber data sekunder yang digunakan para ulama antara lain Fiqih Lima Mazhab yang ditulis oleh Muhammad Jawad Mughniyah, Perkawinan dan Perceraian Keluarga Muslim yang ditulis oleh Boedi Abdullah dan lain-lain.

Teknik Pengumpulan Data

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang akurat untuk tujuan pemecahan masalah tertentu sesuai dengan datanya 48 Metode yang digunakan peneliti adalah wawancara bebas terarah untuk menghindari pembicaraan yang menyimpang dari masalah yang akan diteliti. Metode wawancara atau interview adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang dilakukan secara lisan oleh dua orang atau lebih secara tatap muka untuk mendengar secara langsung informasi atau pernyataan. 49 Tujuan wawancara adalah untuk memperoleh informasi yang benar dari sumber yang dapat dipercaya. 50. Untuk mendapatkan data tentang peneliti ini, peneliti mencari informasi yang diperlukan mengenai persepsi masyarakat tentang keengganan orang tua menikahkan anaknya yang berbeda suku.

Merupakan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa data tertulis yang berisi informasi dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual dan sesuai dengan masalah penelitian. Dari pengertian dokumentasi tersebut peneliti dapat memahami bahwa dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan dalam penelitian untuk memperoleh informasi berupa buku, majalah, undang-undang dan sebagainya.

Teknik Analisis Data

Setelah semua data yang diperlukan telah diperoleh, kemudian dianalisis dan disimpulkan bahwa metode analisis yang digunakan penulis dalam penelitian ini cenderung memunculkan teori dan fakta nyata dari data yang ada untuk menggali pengetahuan tentang persepsi masyarakat tentang keengganan orang tua. menikahkan anaknya yang berbeda suku di Kecamatan Batanghari Desa Nampirejo Kabupaten Lampung Timur menurut hukum Islam. Dalam catatan Desa Nampirejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, ada kasus orang tua yang ragu menikahkan anaknya. Keengganan orang tua tersebut didasari oleh beberapa faktor yang mempengaruhi salah satunya faktor karena mereka berbeda suku. Desa Nampirejo tidak ada pasangan yang kesulitan berkomunikasi dengan keluarga pasangannya dan lingkungan sekitar yang tinggal di Desa Nampirejo, sebagian besar dari mereka yang berbeda suku dapat beradaptasi dengan baik dengan keluarga pasangannya dan lingkungannya. Dalam penelitian ini subjek penelitian yang penulis fokuskan adalah tokoh agama, pejabat Kantor Urusan Agama Kabupaten Batanghari dan 4 orang wali agama yang berada di Desa Nampirejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur yang juga menjadi topik penelitian ini. digunakan oleh penulis untuk mendapatkan data yang mendukung penelitian.

Pertama, Bapak AK, petugas KUA Kecamatan Batanghari, saat ini berusia 39 tahun, telah bekerja di KUA Kecamatan Batanghari selama tujuh tahun. Kedua, Pak MU sebagai tokoh agama di desa Nampirejo, saat ini berusia 45 tahun, berprofesi sebagai pedagang. Tn. AK selaku pegawai KUA Kabupaten Batanghari mengatakan bahwa “saat ini berada di KUA Batanghari untuk. Perbedaan suku memang menjadi problematika selama ini, tidak hanya di Desa Nampirejo, di Desa Nampirejo Kecamatan Batanghari terdapat wali yang enggan menikahkan anaknya, namun dengan berbagai pendekatan dan wawasan asalkan mampu mengatasi stigma negatif tersebut kepada mengubah.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Keluarga Subjek Penelitian

Ketiga, Bapak A yang sehari-hari bekerja sebagai petani, saat ini berusia 61 tahun dan memiliki empat orang anak, dua putra dan dua putri, saat ini kedua putranya menikah dengan seorang gadis dari suku yang sama yaitu Jawa. Pak E adalah seorang pedagang berusia 42 tahun, beliau memiliki 2 orang putri yang saat ini berusia 26 tahun dan 20 tahun. E, Suku Lampung memiliki karakter suku yang keras ketika berbicara atau bersosialisasi di antara orang-orang yaitu menggunakan nada suara yang keras, sehingga karakternya berbeda dengan orang Jawa yang memiliki gaya bahasa yang pendiam dan menghina, sehingga membuat Pak E menjadi ragu untuk menikahkan putrinya dengan pria suku Lampung karena dianggap suku Lampung nanti akan sombong terhadap wanita suku Jawa, selain itu suku Lampung juga memiliki tradisi Walimatul Urs yang mewah dan megah, sehingga Bukan hal yang aneh bagi mereka untuk menikahkan anaknya dengan biaya yang cukup fantastis, bahkan bisa bertahan lama. sampai 3 (tiga) hari, kecuali dalam adat Lampung juga ada pengakuan sebambangan/kawin lari, tradisi ini sering dilakukan dalam adat Lampung. Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.

Alquran tidak mengizinkan seorang wanita Muslim menikah dengan pria yang melakukan perzinahan dan tindakan tercela lainnya. Agama mengizinkan seorang budak kulit hitam untuk menikahi seorang wanita dari garis keturunan terhormat dan kaya, asalkan dia adalah seorang Muslim yang mampu menjaga harga diri. Agama tersebut membolehkan pria non-Quraisy menikahi wanita Quraisy, pria Hasyim menikahi wanita Hasyim, dan pria miskin menikahi wanita kaya.

Faktor- Faktor-Faktor Keengganan Orangtua Menikahkan Anaknya

Analisis Keengganan Orangtua Menikahkan Anaknya Berlainan

Selain mitos dan perbedaan pendapat masyarakat, terdapat kendala dalam perkawinan antar suku yang mempengaruhi keharmonisan perkawinan antar suku. Hambatan yang berbeda ini muncul karena pernikahan diatur atau dilakukan oleh dua suku yang berbeda dan masing-masing suku tersebut memiliki latar belakang, budaya dan kepercayaan yang berbeda. Selain itu, perkawinan beda ras bukan hanya penyatuan dua manusia yang berbeda, tetapi juga penyatuan dua budaya dari masing-masing suku yang berbeda.

Sementara itu, orang tua perempuan merasa enggan bergaul dengan orang yang tidak cocok dengannya, baik dari segi agama. Perbedaan itu bukanlah alat untuk meruntuhkan ambisi, tetapi perbedaan adalah wadah untuk mempersatukan suku yang dibawa, juga bukan sesuatu yang dibanggakan, karena kearifan dibuat untuk saling bertoleransi. Berdasarkan kesimpulan di atas, berikut saran terkait penelitian ini bagi orang tua yang enggan menikahkan anaknya yang berbeda suku agar puas menikahkan anaknya karena perkawinan beda ras adalah perkawinan yang diperbolehkan menurut Islam untuk dibentuk. keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah.

PENUTUP

Saran

Fungsi Komunikasi Lintas Budaya dalam Prosesi Perkawinan Adat Batak di Kota Samarinda (Studi Kasus Empat Pasangan Etnis Berbeda Antara Etnis Batak dengan Etnis Jawa, Toraja dan Dayak). Perkawinan Pria Batak Toba Dengan Wanita Jawa Di Kota Surakarta Dan Akibat Hukumnya Terhadap Warisan.

Referensi

Dokumen terkait

“menikah dini dapat menghilangkan galau, hal ini disebabkan karena produktivitas waktu. Ada banyak tugas dan aktivitas baru yang bisa menyibukkan seseorang yang mengalami