Fokus permasalahan yang dimaksud adalah mengenai peran hakim Pengadilan Agama Jember dalam menyelesaikan perkara waris. Tujuan keseluruhannya adalah untuk mengetahui peran hakim Pengadilan Agama Jember dalam menyelesaikan perkara waris.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap perbuatan pengadilan lain, menurut ketentuan yang ditentukan dalam undang-undang.7. Hal ini tertuang dalam UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kompetensi Dasar Kehakiman dan PERMA Nomor 1 Tahun 2008 tentang Tata Cara Mediasi.14.
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya pada lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan hukum tata usaha negara dan hakim pada pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan. Menyelesaikan berarti mengakhiri sesuatu.18 Dalam hal ini yang dimaksud dengan menyelesaikan perkara waris di pengadilan agama.
Sistematika Pembahasan
Penelitian Terdahulu
Kedua, tesis berjudul Implementasi Pembagian Warisan Secara Damai Berbentuk Takharuj di Pengadilan Agama Makasar. 23 Muhammad Ahsin Mahrus, Peran Hakim Pengadilan Agama dalam Hukum Islam (Legalitas Positif) (Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga Yogyakarta, 2008).
Kajian Teori
- Hakim Menyelesaikaan Perkara Waris Secara Litigasi
- Hakim Menyelesaikan Perkara Waris Secara Non Litigasi (Mediasi)
Pada saat dimulainya suatu persidangan atau pada sidang pertama sebelum sidang perkara, hakim wajib berusaha mendamaikan pihak-pihak yang terlibat dalam perkara itu dan dengan cara apa pun tidak boleh masuk ke dalam pokok perkara. Pada tahap ini hakim menentukan hukum mengenai peristiwa tersebut dan memberikan keadilan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam perkara tersebut. Putusan hakim merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh para pihak yang berperkara agar dapat menyelesaikan sengketanya dengan sebaik-baiknya.
Melalui putusan hakim, para pihak yang berperkara mengharapkan kepastian hukum dan keadilan yang akan mereka hadapi. Tujuan mediasi adalah menyelesaikan perselisihan antar pihak dengan melibatkan pihak ketiga yang netral dan tidak memihak. Dalam mediasi, para pihak yang bersengketa bersifat proaktif dan mempunyai kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan.
Dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja setelah para pihak menyepakati mediator yang diinginkan masing-masing pihak. Dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja setelah para pihak berselisih paham mengenai mediator, masing-masing dapat menyerahkan CV kepada hakim mediator yang ditunjuk. untuk menyelaraskan hari sidang yang telah ditentukan (Pasal 130 HIR dan Pasal 154 RBg).
Pemetaan ini dilakukan setelah para pihak yang terlibat duduk dan bertemu satu sama lain, difasilitasi oleh mediator.
Pendekatan dan jenis Penelitian
Metode penelitian adalah cara yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian dan membandingkannya dengan standar pengukuran yang telah ditentukan.65 Peneliti yang akan melakukan penelitian harus mengetahui dan memahami metode dan sistematika jika peneliti ingin menemukan kebenaran melalui kegiatan ilmiah. Alasan pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu: Pengadilan Agama di Jember merupakan pengadilan yang sah menurut tata peradilan di Indonesia, dan selain itu Pengadilan Agama di Jember merupakan pengadilan dengan jumlah yang sangat banyak. Dari sekian banyak perkara yaitu nomor 4 (empat) di Indonesia yang mempunyai perkara turun temurun saja di Pengadilan Agama di Jember mencapai 143 perkara pada tahun 2013.68 Oleh karena itu, dari pertimbangan tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di tempat penelitian ini.
Subyek Penelitian
Tehnik Pengumpulan Data
Dengan teknik wawancara, peneliti menggunakan wawancara yang tidak terencana (unguided), dalam hal ini bukan berarti peneliti tidak mempersiapkan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada informan, namun peneliti tidak terlalu terikat dengan aturan yang ketat.70 Dalam hal ini peneliti mewawancarai langsung hakim Pengadilan Agama Jember, panitera dan orang-orang (pegawai) Pengadilan Agama Jember yang memahami penelitian ini. Data yang peneliti inginkan adalah data yang berhubungan dengan penelitian yang sedang dilakukan peneliti. Yaitu peranan hakim pada pengadilan agama dalam menyelesaikan perkara waris, baik dalam penyelesaian sengketa maupun dalam penyelesaian perkara waris yang tidak dipersengketakan.
Dokumentasi adalah suatu teknik pencarian data tentang suatu hal baik berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, jurnal penelitian, dan lain-lain.71 Teknik ini digunakan untuk memperoleh data yang dianggap dapat membantu memberikan informasi tentang apa yang dibahas dalam hal ini. riset. Data yang peneliti inginkan dalam dokumentasi ini adalah data pertimbangan hukum yang diambil hakim sehubungan dengan pembuatan putusan dan data keputusan pewarisan. Sugiyono menjelaskan, analisis data adalah proses pencarian dan penyusunan data secara sistematis yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori-kategori, menguraikannya ke dalam satuan-satuan, mensintesisnya, menyusunnya menjadi pola-pola, kemudian memilih mana yang penting. . ..., dipelajari dan ditarik kesimpulannya, sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri atau orang lain.72.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis deskriptif, karena dalam penelitian ini ia memaparkan dan mendialogkan antara data teoritis masing-masing teori dan peraturan perundang-undangan yang ada, dengan data empiris masing-masing kenyataan di lapangan.73.
Teknik Pengecekan Keabsahan Data
Pertama, pada tahap ini peneliti mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan judul penelitian, kemudian peneliti menyusun matriks penelitian. Selanjutnya surat tersebut diperiksa oleh ketua Pengadilan Agama Jember dan apabila diterima maka peneliti berwenang melakukan penelitian di PA Jember. Ketiga, menyusun desain penelitian (proposal penelitian), Desain ini dapat diartikan sebagai upaya merencanakan dan menentukan segala kemungkinan serta peralatan yang diperlukan.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi di Pengadilan Agama Jember sebagai tempat penelitian, wawancara terhadap subjek yang telah ditentukan, kemudian melakukan dokumentasi. Kelima, pengolahan data: Setelah pengumpulan data lapangan dirasa cukup, tahap selanjutnya adalah pengolahan data. Keenam: menulis hasil penelitian. Setelah data siap dan melalui beberapa tahapan, data tersebut kemudian disistematisasikan menjadi karya ilmiah.
GAMBARAN OBYEK PENELITIAN
- Sejarah Pembentukan Pengadilan Agama Jember
Pada masa kemerdekaan ini, Pengadilan Agama Jember menjalankan kewenangannya sepanjang peraturan-peraturan sebelumnya tidak dihapuskan dan diganti dengan peraturan baru.75. Pengadilan Agama Jember merupakan salah satu penyelenggara peradilan yang tugas dan fungsinya telah diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan terakhir mengalami perubahan lagi dengan Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009. Visi peradilan agama adalah “Pengakuan putusan yang adil dan berwibawa sehingga kehidupan masyarakat menjadi tenang, tertib dan tenteram dalam lindungan Allah.
Halaman depan Pengadilan Agama Jember juga digunakan sebagai tempat parkir bagi pegawai dan masyarakat yang berminat mengunjungi Pengadilan Agama Jember. Menurut Khamimuddin, selaku hakim sekaligus Humas Pengadilan Agama Jember, terdapat perbedaan antara ruang sidang utama, ruang sidang II, dan ruang sidang III, yaitu dari segi kegunaannya, bahwa ruang sidang utama digunakan khusus untuk perkara yang sedang dipertimbangkan. besar. seperti perkara waris, pembagian harta masyarakat dan perkara keuangan syariah... tak menutup kemungkinan ruang sidang utama juga digunakan untuk mengadili perkara-perkara yang dianggap biasa, seperti perkara perceraian, permohonan dan lain sebagainya. Sedangkan ruangan yang saat ini digunakan sebagai Ruang Pos Bakum pada awalnya adalah Ruang Sidang I, namun untuk lebih memberikan efisiensi dan kenyamanan dalam pelayanan kepada masyarakat maka Ruang Sidang I dijadikan Ruang Pos Bakum karena Pengadilan Agama Jember tidak mempunyai ruangan khusus.82.
Ketua Kamar Pengadilan Agama Jember 2. Kamar Wakil Ketua Pengadilan Agama Jember 3. Aula Pengadilan Agama Jember. Khamimudin selaku Hakim dan Humas Pengadilan Agama mengatakan, sarana dan prasarana di Lantai II hanya dikhususkan untuk pegawai dan tamu Pengadilan Agama Jember.83.
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
- Peran Hakim Pengadilan Agama Jember Dalam Menyelesaikan Perkara Waris Secara Litigasi
Namun di pengadilan agama Yaman, hakim lebih mengedepankan keadilan hukum meski kepastian hukum tidak tercapai. Sedangkan hakim Pengadilan Agama Jember mengutamakan peraturan yang ada dalam hukum Islam, yaitu hakim mengutamakan keadilan dalam mengambil keputusan, khususnya dalam perkara waris. Dalam perkara waris di Pengadilan Agama Jember, sebelum hakim membacakan isi putusan, hakim terlebih dahulu menanyakan kepada para pihak apakah putusan masih mau dibacakan atau tidak.
Namun rata-rata di Pengadilan Agama Jember, dalam perkara pewarisan, para pihak meminta agar putusan tidak dibacakan, namun para pihak meminta salinan putusan. Jadi, peranan hakim Pengadilan Agama Jember dalam penyelesaian permasalahan keturunan melalui perselisihan adalah mendamaikan para pihak yang bersengketa, hal ini sesuai dengan PERMA Nomor 01 Tahun 2008 tentang Mediasi di Pengadilan. Dalam penelitian ini peneliti hanya fokus pada penyelesaian sengketa waris di Pengadilan Agama Jember melalui mediasi.
Dalam menangani permasalahan waris, Pengadilan Agama Jember mengutamakan penyelesaiannya melalui mediasi (pemeriksaan) antara para pihak dan dipimpin oleh hakim mediator. Dalam perkara pewarisan di Pengadilan Agama Jember lebih mengutamakan penyelesaian melalui mediasi dibandingkan proses peradilan, yaitu melalui setiap persidangan hakim berusaha mendamaikan para pihak.
PEMBAHASASN TEMUAN
Meski perdamaian ini hanya dibahas sekilas dalam acara perdata, namun di lapangan, khususnya di Pengadilan Agama Jember, hakim lebih aktif dalam mendamaikannya. Walaupun dalam perkara perdata jawaban, replika dan duplikat terdakwa boleh dibacakan atau tidak, namun di Pengadilan Agama Jember dalam perkara pengesahan hakim tidak dibacakan apabila perkaranya menggunakan jasa pengacara, melainkan hanya salinan datum. tetapi apabila dalam perkara waris tidak dipergunakan jasa pengacara, maka hakim yang membacakannya. Setelah penyidikan dianggap selesai, hakim memerintahkan para pihak untuk menyampaikan kesimpulan di persidangan, meskipun hal tersebut tidak diwajibkan dalam hukum acara perdata, namun untuk memudahkan hakim dalam mengambil keputusan di Pengadilan Agama Jember menuntut agar Hakim dapat memberikan kesimpulan kepada para pihak.
Begitu pula dengan hakim Pengadilan Agama Jember, setelah jawaban lengkap barulah langkah selanjutnya. Di Pengadilan Agama Jember terdapat 2 (dua) tahapan dalam pengambilan keputusan, yaitu penetapan pendahuluan dan penetapan. Seperti halnya perkara pewarisan perdata di Pengadilan Agama Jember, hakim lebih mengutamakan penyelesaian yang tidak bersifat kontroversial/deliberatif antara para pihak.
Di Pengadilan Agama Jember, sistem mediasi kelompok hakim memegang peranan yang sangat aktif, karena berhasil atau tidaknya mediasi tergantung pada penerapan sistem tersebut. Di Pengadilan Agama Jember, pembinaan pemahaman agama dan pemahaman para pihak mengenai niat ahli waris dalam menagih harta sangat efektif dalam menyelesaikan perkara waris dengan cara yang tidak menghakimi (Musyawarah/Mediasi).
Kesimpulan
- Kesimpulan Umum
- Kesimpulan Khusus
Sedangkan peran hakim Pengadilan Agama Jember dalam menyelesaikan perkara waris secara non sengketa (mediasi) adalah sebagai pihak ketiga yang netral, tanpa memihak siapapun. Namun hanya dengan berusaha mendamaikan para pihak dan memberikan pemahaman agama demi suksesnya Mediasi. Namun tidak semua perkara waris di Pengadilan Agama Jember dapat diselesaikan melalui mediasi, namun hanya sebagian kecil yang dapat diselesaikan melalui mediasi.
Saran
Ashshofa Burhan, 2001, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Rineka Cipta) Ahsin Muhammad Mahrus, 2008, Peran Hakim di Peradilan Agama. Daud Muhammad Ali, 2007, Hukum Islam, Pengantar Hukum Islam dan Tatanan Hukum di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada). Hesnu Mei Hermawan, 2012, Peran Hakim dalam Upaya Keadilan Substantif (Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam) (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Ruang Ketua