PENDAHULUAN
RumusanMasalah
TujuanPenelitian
Manfaat Penelitian
Untuk mengetahui poin partisipasi politik masyarakat pada pemilihan walikota desa tahun 2018 di desa Jonjo Kec. Berdasarkan hasil penelitian mengenai partisipasi politik masyarakat pada pemilihan walikota desa tahun 2018 di desa Jonjo Kec. Dampak perilaku pemilih terhadap partisipasi politik masyarakat pada pemilihan kepala desa tahun 2018 di desa Jonjo kecamatan.
Kesamaan tempat tinggal menentukan pilihan calon kepala kota pada pemilihan kepala kota Jonjo 2018.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Pemilihan Umum
7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum Parlemen, menjelaskan bahwa pemilihan parlemen adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota dewan perwakilan daerah, ketua dan wakil ketua serta memilih anggota dewan perwakilan rakyat daerah, yaitu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menurut Heywood (2014), pemilu memberikan kesempatan formal yang paling jelas kepada masyarakat. untuk mempengaruhi proses politik dan juga membantu secara langsung atau tidak langsung menentukan siapa yang harus mempunyai kekuasaan pemerintahan. Karena pemilu merupakan kegiatan formal yang dibiayai negara, maka lembaga yang terlibat juga bersifat formal. Untuk Indonesia, lembaga pelaksananya adalah KPU dan lembaga pengawasnya adalah Bawaslu.
Menurut Ibnu Tricahyono (2009), pemilihan umum merupakan alat terwujudnya kedaulatan rakyat yang bertujuan untuk membentuk pemerintahan yang sah dan sarana mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan rakyat. Sebagai sarana mewujudkan kedaulatan rakyat, pemilu diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil demi kepentingan umum. Berdasarkan berbagai rumusan pengertian pemilu di atas, maka dapat dikatakan bahwa pemilu merupakan suatu proses demokrasi dalam kehidupan bernegara, terdapat hak dan kewajiban sebagai warga negara untuk ikut serta dalam pemilu.
Asas-Asas Pemilu
34; Setiap orang berhak mengambil bagian dalam pemerintahan negaranya, baik secara langsung atau melalui wakil-wakil yang dipilih secara bebas. Kehendak rakyat harus menjadi dasar kekuasaan pemerintah; kehendak ini harus dinyatakan dalam pemilihan umum yang berkala dan jujur, yang harus dilakukan melalui hak pilih yang universal dan setara, serta harus dilakukan melalui pemungutan suara secara rahasia atau melalui prosedur pemungutan suara yang bebas dan setara.” Menurut konvensi hak asasi manusia internasional, terdapat tiga kondisi yang tidak dapat dipisahkan. dari terselenggaranya pemilu yang demokratis, yaitu bebas, adil (fair/adil) dan teratur (umum). Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu, yang dimaksud dengan adil adalah pada saat pemilu diselenggarakan, seluruh pemilih dan pemilih menerima hak pilihnya. perlakuan yang sama dan bebas dari penipuan oleh pihak manapun.
Prinsip keadilan diciptakan khusus untuk penyelenggara pemilu dan pemerintah yang ingin berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Adanya prinsip adil dalam pemilu dinilai penting di beberapa negara, bahkan Kanada memiliki Fair Elections Act, sebuah undang-undang yang bertujuan untuk menegakkan pemilu yang adil. Lahirnya Komisi Pemilihan Umum (GEC) tidak lepas dari upaya menjaga asas “keadilan”, khususnya bagi penyelenggara.
Tanpa keadilan mustahil kita bisa menghasilkan pemilu yang demokratis, tanpa pemilu yang demokratis, terlebih lagi mustahil kita bisa membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu, yang dimaksud dengan asas “langsung” adalah masyarakat sebagai pemilih mempunyai hak untuk memberikan suaranya secara langsung sesuai dengan keinginan hati nuraninya, tanpa perantara.
Sistem Pemilihan Umum
Oleh karena itu, pemilihan sistem pemilu universal menjadi perdebatan sengit dan tiada akhir antar partai politik, karena sistem pemilu selalu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di suatu negara. Hal yang menarik dari apa yang dikatakan Howoritz adalah sistem pemilu yang baik adalah sistem yang mampu menciptakan koalisi antaretnis dan antaragama serta kelompok minoritas yang mampu menduduki jabatan publik. Melalui sistem pemilu yang diterapkan dengan baik, konflik-konflik yang berpotensi muncul di tingkat akar rumput dapat diselesaikan oleh perwakilan di parlemen.
Pemilihan umum sistem distrik mengacu pada pertarungan antar calon yang dicalonkan oleh partai-partai di daerah kecil (daerah pemilihan) untuk mencari satu wakil. Kandidat yang menang akan mewakili wilayah tersebut di parlemen, dan suara kandidat yang kalah tidak dihitung lagi. Namun calon yang menang tidak lagi mewakili partainya, melainkan mewakili daerah pemilihannya dan harus memperjuangkan kepentingannya.
Dalam pemilu di sistem distrik, program dan karakter kandidat harus ditonjolkan dalam kampanye politik. Kelemahan dari sistem ini adalah calon yang terkenal tidak terpilih karena namanya berada di urutan terbawah daftar calon dan calon yang berada di urutan teratas adalah calon yang kurang dikenal.
Pemilihan Kepala Desa
Sistem pemilihan umum proporsional mengacu pada pertarungan antar partai politik di daerah pemilihan yang besar untuk mencari beberapa wakil. Partai politik mengajukan banyak calon dalam daftar dengan nomor urut dan masyarakat tidak perlu memilih nama tetapi cukup memilih gambar partai politik atau kontestan yang terdaftar. Suara yang diperoleh masing-masing peserta (parpol) dihitung, kemudian setiap peserta memperoleh sejumlah kursi sebanding dengan suara yang diperoleh.
Dalam sistem proporsional, kampanye politik harus mengedepankan manifesto partai dan karakter calon, karena dipilih oleh rakyat, merupakan penanda citra partai. Padahal, partai politik harus menghadirkan program dan tokoh (kandidat) yang menarik, dicintai, dan didukung masyarakat. Pemilihan kepala desa atau sering disingkat Pilkades merupakan pemilihan kepala desa secara langsung oleh masyarakat desa setempat.
Berbeda dengan Lurah yang merupakan PNS, kepala desa merupakan jabatan yang dapat diisi oleh warga biasa, Deko (2012).
Perilaku Pemilih
Berdasarkan beberapa pengertian perilaku pemilih di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku pemilih adalah perilaku yang dilakukan oleh pemilih, yang bertujuan untuk memenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Perilaku pemilih erat kaitannya dengan ideologi antara pemilih dengan kandidat atau partai politik, para kandidat mempunyai ideologi masing-masing. Rochimah (2009) menjelaskan perilaku pemilih dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan sosiologis, ekonomi dan psikologis sosial.
Pendekatan ini pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menentukan perilaku memilih seseorang. Pendekatan sosiologis terhadap perilaku pemilih menganggap agama merupakan faktor yang sangat kuat dalam mempengaruhi sikap pemilih terhadap calon atau bakal calon. Hubungan antara agama dan perilaku memilih nampaknya sangat berpengaruh, dimana nilai-nilai agama selalu hadir dalam kehidupan privat maupun publik dan dianggap mempengaruhi kehidupan politik dan pribadi pemilih.
Pendekatan ini mencoba menjelaskan bahwa kegiatan memilih sebagai perhitungan untung dan rugi yang diperhitungkan bukan sekedar “biaya”. Pendekatan sosiologi menjelaskan bahwa karakteristik sosial seperti latar belakang keluarga, pendidikan, pendapatan, ras, jenis kelamin, status kewarganegaraan dan partisipasi sosial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku memilih.
Partisipasi Politik Masyarakat
- Pengertian Partsipasi Politik Masyarakat
- Kategori dan Bentuk Partisipasi Politik
Partisipasi politik secara umum diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan memilih pemimpin negara, mempengaruhi kebijakan pemerintah secara langsung atau tidak langsung (Mariam Budiarjo, 2008). Sedangkan yang disebut partisipasi politik, menurut Gabriel Almond dalam Iksan (2014), hanya sebatas kegiatan sukarela, yaitu: kegiatan yang dilakukan tanpa adanya paksaan atau tekanan dari siapapun. Berdasarkan pengertian partisipasi politik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi politik adalah partisipasi masyarakat atau kelompok dalam kegiatan politik.
Gladiator adalah orang-orang yang selalu terlibat aktif dalam proses politik, yaitu komunikator, spesialis kontak personal, aktivis partai, pekerja kampanye, dan aktivis masyarakat. Kritikus, yaitu masyarakat yang berpartisipasi dalam bentuk non-konvensional atau bentuk partisipasi politik yang tidak konvensional. Partisipasi aktif adalah keaktifan warga negara dalam ikut serta dalam penentuan kebijakan dan pemilihan pejabat negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi kebaikan bersama.
Bentuk partisipasi aktif antara lain menyampaikan usulan kebijakan, menyampaikan usulan dan kritik terhadap kebijakan individu, bergabung dalam partai politik, dan berpartisipasi aktif dalam proses pemilu. Bentuk partisipasi pasif antara lain kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku dan pelaksanaan kebijakan pemerintah, seperti penggunaan hak pilih dalam pemilu.
Kerangka Fikir
Sementara itu, Ramlan Surbakti menyatakan tingkat partisipasi politik warga negara terbagi dua, yakni partisipasi aktif dan pasif. Partisipasi pasif adalah kegiatan warga negara yang mendukung pimpinan kekuasaan negara guna mewujudkan kehidupan bernegara yang mencapai tujuannya.
Definisi Operasional
Para pemilih akan menentukan pilihan berdasarkan penilaian mereka terhadap isu-isu kebijakan dan kandidat yang diajukan.
Hipotesis
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Tipe penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif yaitu penemuan pengaruh antar variabel dan dinyatakan dalam angka-angka serta penjelasan dengan membandingkan teori-teori dan menggunakan teknik analisis data yang sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti. Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian ini karena merupakan metode penelitian yang berupaya mendeskripsikan pengaruh perilaku pemilih terhadap partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan kepala desa di Desa Jonjo Kecamatan Parigi Kabupaten Gowa.
Populasi dan Sampel
Berdasarkan hal yang telah dijelaskan diatas, maka populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat desa Jonjo yang menggunakan hak pilihnya pada pemilihan kepala desa yang berjumlah 1998 orang.
Teknik Pengumpulan Data
Peneliti membuat 2 (dua) kuesioner untuk penelitian ini, satu kuesioner untuk memperoleh data terkait pengaruh perilaku memilih (variabel X) dan satu kuesioner untuk memperoleh data terkait partisipasi politik masyarakat (variabel Y). Skala Likert digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi masyarakat atau responden terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi perilaku memilih dan variabel partisipasi politik. Kuesioner penelitian yang dibuat oleh peneliti ini akan diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum dan sesudah penelitian.
Jika angka alpha atau cronbach alpha ≥ 0,7 maka pertanyaan indikator atau kuesioner dikatakan reliabel, begitu pula sebaliknya.
Teknik Analisis Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian