Standar Nasional Indonesia
ICS 790.040.20
Arang kayu
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
© BSN 2021
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN
BSN
Email: [email protected] www.bsn.go.id
Diterbitkan di Jakarta
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
@BSN 2021 i
Daftar isi
Daftar isi ... i
Prakata ... ii
1 Ruang lingkup ... 1
2 Acuan normatif ... 1
3 Istilah dan definisi ... 1
4 Klasifikasi ... 2
5 Persyaratan ... 2
6 Pengambilan contoh ... 2
7 Metode uji ... 2
8 Pengemasan ... 6
9 Pelabelan ... 6
Bibliografi ... 7
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
Prakata
SNI 1683:2021 Arang kayu yang dalam bahasa Inggris berjudul Wood charcoalmerupakan revisi dari SNI 01-1683-1989 Standar arang kayu digunakan sebagai pedoman bagi semua pihak dalam penentuan mutu arang kayu, dan ditetapkan oleh BSN Tahun 2021.
Revisi dalam Standar ini meliputi:
1. Penambahan penggunaan acuan normatif untuk pengambilan contoh yaitu SNI 0428;
2. Penambahan istilah dan definisi untuk kadar air, kadar abu, kandungan zat mudah menguap, nilai kalor, dan kandungan karbon terikat;
3. Penambahan persyaratan bahan baku (lihat Pasal 5.1);
4. Perubahan persyaratan mutu yaitu: dari satu (1) kelas mutu menjadi dua (2) kelas mutu;
menambahkan parameter nilai kalor dan kadar karbon terikat; menghapus parameter benda asing, tertahan ayakan berlobang 6,35 cm dan lolos ayakan berlobang 3,18 cm;
5. Penambahan metode uji kadar air (lihat Pasal 7.1), uji kadar abu (lihat Pasal 7.2), uji zat mudah menguap (lihat Pasal 7.3), uji kadar karbon terikat (lihat Pasal 7.4), dan uji nilai kalor (lihat Pasal 7.5),
6. Penambahan informasi penyimpanan sebelum pengemasan pada Pasal 8;
7. Penambahan persyaratan pelabelan yaitu pencantuman merk dagang, kode HS, bahan baku produk seperti pada Pasal 9.
Standar ini disusun oleh Komite Teknis 65-02 Hasil Hutan Bukan Kayu. Standar ini telah dibahas dan disetujui dalam rapat konsensus pada tanggal 20 Mei 2021 di Bogor dan melalui telekonferensi, yang dihadiri oleh wakil dari pemangku kepentingan (stakeholders) terkait, yaitu perwakilan dari pemerintah, pelaku usaha, konsumen, dan pakar.
Standar ini telah melalui tahap jajak pendapat pada tanggal 9 Juni 2021 sampai dengan tanggal 8 Agustus 2021 dengan hasil akhir disetujui menjadi SNI.
Perlu diperhatikan bahwa kemungkinan beberapa unsur dari dokumen Standar ini dapat berupa hak paten. Badan Standardisasi Nasional tidak bertanggung jawab atas pengidentifikasian salah satu atau seluruh hak paten yang ada.
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
1 dari 7
@BSN 2021
Arang kayu
1 Ruang lingkup
Standar ini menetapkan klasifikasi, persyaratan mutu, pengambilan contoh, metode uji, pengemasan, dan pelabelan arang kayu untuk penggunaan umum.
2 Acuan normatif
Dokumen acuan berikut sangat diperlukan untuk penggunaan standar ini. Untuk acuan tidak bertanggal digunakan acuan normatif edisi terakhir (termasuk revisinya).
SNI 0428, Petunjuk pengambilan contoh padatan
3 Istilah dan definisi
Untuk tujuan penggunaan dalam dokumen ini, berlaku istilah dan definisi berikut ini.
3.1
arang kayu
kayu yang telah dikarbonisasi pada suhu tinggi lebih kecil atau sama dengan 700 C sehingga mempunyai nilai kalor bakar dan kadar karbon terikat yang lebih tinggi dari bahan penyusunnya
3.2 kadar air
persentase kandungan air yang terkandung di dalam arang hasil proses karbonisasi
3.3
kadar abu
persentase kandungan mineral yang tidak menguap sebagai sisa dari proses pembakaran
[SNI 8021:2020]
3.4
kandungan zat mudah menguap
persentase berat yang hilang bila arang dipanaskan tanpa udara luar hasil proses karbonisasi
3.5
kandungan karbon terikat
persentase kandungan karbon yang terdapat dalam arang hasil proses karbonisasi
3.6
nilai kalor
jumlah panas yang dihasilkan oleh pembakaran lengkap dari sebuah kuantitas unit bahan bakar
[SNI 8021:2020]
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
3.7 limbah
sisa proses produksi utama atau bahan yang tidak mempunyai nilai dalam proses produksi tersebut
4 Klasifikasi 1) Mutu Pertama;
2) Mutu Kedua.
5 Persyaratan 5.1 Bahan baku
Bahan baku yang digunakan berupa kayu, limbah tebangan, limbah penggergajian kayu, tidak termasuk kayu bakau, kayu bekas bangunan dan furnitur yang mengandung residu kimia.
5.2 Mutu
Persyaratan mutu arang kayu sesuai Tabel 1.
Tabel 1 – Persyaratan mutu arang kayu
No Karakteristik Satuan Mutu
Pertama Kedua
1 Kadar air % ≤ 8 ≤ 10
2 Kadar abu % ≤ 4 ≤ 4
3 Kadar zat mudah menguap % 10 –17 10 –17
4 Kadar karbon terikata % ≥ 79 ≥ 79
5 Nilai kalor kal/g > 6500 6000 – 6500
aDihitung berdasarkan berat kering oven
6 Pengambilan contoh
Pengambilan contoh sesuai SNI 0428.
7 Metode uji 7.1 Uji kadar air 7.1.1. Prinsip
Kehilangan bobot contoh setelah pemanasan pada 115°C dihitung sebagai air yang terdapat dalam contoh.
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
3 dari 7
@BSN 2021
7.1.2. Peralatan a. Botol timbang;
b. Neraca;
c. Oven;
d. Desikator.
7.1.3. Prosedur
Timbang teliti 1 g contoh dalam botol timbang, yang telah diketahui bobotnya. Ratakan contoh kemudian masukkan ke dalam oven yang telah diatur suhunya (115°C ± 5°C) selama 3 jam. Waktu pemanasan, tutup botol timbang dibuka. Dinginkan dalam desikator kemudian timbang sampai bobot tetap.
Perhitungan:
Kadar Air, % = x 100 (1)
Keterangan:
W₁ adalah kehilangan bobot contoh, gram, W₂ adalah bobot contoh, gram.
7.2 Uji kadar abu 7.2.1. Prinsip
Contoh diabukan pada suhu tinggi, sisa pengabuan dihitung sebagai abu dalam contoh.
7.2.2. Peralatan a. Neraca;
b. Desikator;
c. Bunsen;
d. Cawan platina atau cawan porselen;
e. Gegep;
f. Tanur (Muffle furnace).
7.2.3. Prosedur
Timbang 2 g – 3 g contoh ke dalam cawan platina atau cawan porselen yang telah diketahui bobotnya. Abukan contoh pelan-pelan di atas api kecil nyala bunsen, setelah semua arang hilang, perbesar nyala bunsen selanjutnya pindahkan ke dalam tanur pada suhu 800°C selama 2 jam. Bila seluruh contoh telah menjadi abu, dinginkan cawan dalam desikator, kemudian timbang. Bila perlu abukan kembali, timbang sampai bobot tetap.
Perhitungan:
Kadar Abu, % = x 100 (2)
Keterangan:
W₁ adalah sisa abu, gram;
W₂ adalah bobot contoh, gram.
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
7.3 Uji zat mudah menguap 7.3.1. Prinsip
Zat - zat organik yang terikat dalam arang akan menguap pada pemanasan tanpa oksigen pada 950°C. Kehilangan bobot contoh dihitung sebagai bagian yang hilang pada pemanasan 950°C.
7.3.2. Peralatan a. Cawan porselen;
b. Neraca;
c. Desikator;
d. Kawat nikelin;
e. Tanur (muffle furnace).
7.3.3. Prosedur
Timbang 1 g - 2 g contoh ke dalam cawan porselen yang sudah diketahui bobotnya, di atas cawan tersebut letakkan lagi cawan lain yang sudah diketahui bobotnya, sehingga contoh berada di antara kedua cawan tersebut atau tutup cawan dengan penutup, ikat dengan kawat nikelin. Masukkan ke dalam tanur yang suhunya telah mencapai 950°C, panaskan selama 7 menit kemudian angkat dan dinginkan dalam desikator sampai suhu kamar.
Setelah dingin, timbang hingga bobot tetap.
Perhitungan:
Kadar zat mudah menguap, % = x 100 (3)
Keterangan:
W₁ adalah bobot contoh awal, gram;
W₂ adalah bobot contoh setelah pemanasan, gram.
7.4 Uji kadar karbon terikat 7.4.1. Prinsip
Dihitung dari contoh dengan mengurangi abu dan zat mudah menguap.
7.4.2. Prosedur
Lakukan uji kadar zat mudah menguap sesuai Pasal 7.3 dan uji kadar abu sesuai Pasal 7.2.
Hitung kadar karbon terikat dengan rumus sebagai berikut:
Kadar karbon terikat, % =100% - (A + B) (4)
Keterangan:
A adalah kadar zat yang mudah menguap, %;
B adalah kadar abu, %.
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
5 dari 7
@BSN 2021
7.5 Uji nilai kalor 7.5.1. Prinsip
Nilai kalor merupakan hasil pembakaran contoh dengan bantuan oksigen dalam bomb calorimeter pada kondisi tertentu.
7.5.2. Peralatan a. Bomb calorimeter;
b. Alat pembuat pelet contoh;
c. Alat penggiling contoh;
d. Erlenmeyer;
e. Buret;
f. Ayakan ukuran 60 mesh;
g. Fuse wire.
7.5.3. Bahan
a. Larutan Na₂CO3 0,0709 N, dapat juga digunakan larutan NaOH atau KOH dengan konsentrasi yang sama;
b. Indikator merah metil atau sindur metil.
7.5.4. Prosedur
1) Timbang contoh yang sudah dihaluskan kurang lebih 1 g dan kemudian dipres berbentuk pelet;
2) Ukur 10 cm fuse wire, hubungkan dengan masing-masing elektroda dan kenakan pada pelet contoh di dalam bomb;
3) Isi gas oksigen ke dalam bomb, maksimum 30 atm;
4) Tutup kontrol aliran gas, tunggu beberapa saat kemudian buang sisa oksigen dalam selang hingga regulator menunjukkan angka nol;
5) Isi bucket dengan air suling ± 1,5 Liter;
6) Letakkan bucket dalam calorimeter, masukkan bomb ke dalam bucket hingga tepat kedudukannya lalu hubungkan terminal kabel pada bomb;
7) Tutup calorimeter, hubungkan alat pengaduk, tunggu 5 menit hingga suhu air suling dalam bucket tidak berubah;
8) Catat suhu awal pada termometer;
9) Tekan ignition unit hingga lampu indikator mati, lanjutkan menekan ± 5 menit;
10) Catat kenaikan suhu pada termometer;
11) Tunggu ± 3 menit lalu catat suhu akhir pada termometer;
12) Buka calorimeter dan keluarkan bomb, buang sisa gas oksigen dari dalam bomb sehingga habis seluruhnya;
13) Bilas permukaan bomb, pindahkan air dari bucket ke dalam Erlenmeyer;
14) Ukur sisa fuse wire yang tidak terbakar;
15) Titrasi air dari bucket dengan larutan Na2CO3 dengan menggunakan indikator merah metil atau sindur metil.
16) Nilai kalor dihitung menggunakan rumus :
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
Nilai kalor (kal/g) = (5)
Keterangan:
∆T adalah kenaikan suhu pada thermometer;
w adalah 2426 kal/oC (sesuai dengan konversi alat yang digunakan);
I1 adalah mL Na2CO3 yang dipakai untuk titrasi;
I2 adalah 13,7 x 1,02 x berat contoh;
I3 adalah 2,3 x panjang fuse wire yang terbakar;
m adalah berat contoh, gram.
8 Pengemasan
Untuk menghindari sisa bara api hasil karbonisasi, arang kayu disimpan di dalam ruangan terbuka minimal selama 48 jam, kemudian dikemas dalam karung plastik atau kantong kertas yang tertutup rapat, tidak dipengaruhi dan mempengaruhi isi, aman selama penyimpanan dan transportasi.
9 Pelabelan
Pada setiap kemasan dicantumkan sekurang-kurangnya a) Nama produk;
b) Negara produsen;
c) Nama dan alamat perusahaan;
d) Merk dagang;
e) Kode produksi;
f) Mutu;
g) Ukuran;
h) Bobot bersih;
i) Kode Harmonized System (HS) (khusus untuk ekspor);
j) Bahan baku produk.
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
7 dari 7
@BSN 2021
Bibliografi
[1] SNI 06-3730-1995, Arang aktif teknis
[2] SNI 01-6235-2000, Briket arang kayu
[3] SNI 8021-2014, Pelet kayu
[4] DIN EN 1860-2. Appliances, solid fuels and firelighters for barbecuing. Part 2:
Barbecue charcoal and barbecue charcoal briquettes – Requirements and test methods. May 2005
[5] Efiyanti, L. Aprianty, S. Setiawan, D. Saepulloh, dan P. Gustan. 2020. Sifat Kimia dan Kualitas Arang Lima Jenis Kayu Asal Kalimantan Barat.Jurnal Penelitian Hasil Hutan 38(1):55-68.
[6] Hastuti, N. Pari, G. Setiawan, D. Mahpudin, dan Saepuloh. 2015. Kualitas Arang Enam Jenis Kayu Asal Jawa Barat Sebagai Produk Destilasi Kering. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 33(4): 337-346.
[7] Hudaya, N dan Hartoyo. 1988. Hasil destilasi kering dan nilai kalor dari beberapa jenis kayu Hutan Tanaman Industri. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 5(6): 348-352.
[8] Komarayati, S. Setiawan, D dan T. Nuthayati. 1995. Analisis kimia dan destilasi kering kayu karet. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 13 (1): 1-8.
[9] Nurhayati, Tj. 2000. Produksi arang dan destilasi kering kau mangium dan tusam dari tungku kubah. Buletin penelitian Hasil Hutan 18 (3): 137-151.
[10] Nurhayati, T. Setiawan, D dan Mahfudin. 1997. Hasil destilasi kering dan nilai kalor 15 jenis kayu. Buletin Penelitian Hasil Hutan 15 (4): 291-298.
[11] Pari, G. Setiawan, D dan Mahfudin. 1996. Hasil destilasi kering 10 jenis kayu dari Nusa Tenggara Timur. Buletin Penelitian Hasil Hutan 14 (9): 382-387.
[12] Pari, G. 1996. Hasil destilasi kering 9 jenis kayu dari Maluku Utara. Buletin Penelitian Hasil Hutan 14 (10): 462- 466.
[13] Pari, G. Setiawan, D dan Mahfudin. 2002. Menelaah sifat-sifat produk Hasil destilasi kering lima jenis kayu dari Kalimantan Timur. Buletin Penelitian Hasil Hutan 20 (2):
159-164.
[14] Charcoal Handbook. 1997. All about charcoal, from making to use. Tokyo Metrropolitan Government (Bureau of Labour and Economic Affairs), Tokyo.
[15] Protasio, T.DP. Lima, M.D.R. Scatolino, M.V. Silva, A.B. De Figueiredo, I.C.R. Hein, P.R.G , and P.F Trugilho. 2021..Charcoal productivity and quality parameters for reliable classification of Eucalyptus clones from Brazilian energy forests. Renewable Energy 174: 34-45.
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”
Informasi Perumus SNI 1683:2021
[1] Komtek perumus SNI
Komite Teknis 65-02 Hasil Hutan Bukan Kayu
[2] Susunan keanggotaan Komtek perumus SNI
[3] Konseptor rancangan SNI 1. Prof (R). Dr. Gustan Pari, M.Si 2. Dr. Saptadi Darmawan, S.Hut., M.Si 3. Drs. Johnny W. Utama
4. Dra. Nurmayanti, M.Si 5. Tati Kusmiati
6. Shelly Novi Handarini P, S.Sos, M.Si
[4] Sekretariat pengelola Komtek perumus SNI
Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Ketua : Dra. Nurmayanti, M.Si
Wakil Ketua : Ir. Totok Kartono Waluyo, M.Si
Sekretaris : Shelly Novi Handarini P., S.Sos, M.Si Anggota : 1. Prof. Suminar Setiati Achmadi
2. Prof (R) Dr. Gustan Pari, M.Si, B.Sc 3. Amelia Agusni, ST
4. Dr. Ir. Rita Kartika Sari, M.Si 5. Danang Kuncara Sakti, S.Hut, ME 6. Hera Nurhayati, SP, M.Sc
7. Rurin Wahyu Listriana, ST, MM 8. Ir. Priyani Ganevi T, MM 9. Yetti Heryati, S.Hut, M.Sc 10. Ika Puspita, ST
11. Tati Kusmiati
12. Theophila Aris Praptami
standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-02: Hasil Hutan Bukan Kayu, dan tidak untuk dikomersialkan”