PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Apa faktor penyebab masih adanya guru tanpa kualifikasi sarjana di SDI Baopukang Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Defenisi Operasional
Memiliki latar belakang pendidikan yang baik tentunya sangat penting untuk mendapatkan gelar tersebut. guru yang profesional, selain itu juga diperlukan dukungan lain, misalnya. .. ketajaman pemahaman, penguasaan bidang studi, rajin mempelajari materi yang berkaitan dengan bidang studi yang diajarkan dan lain sebagainya. Menurut Gagne (2006), setiap guru berfungsi sebagai perancang instruksional, pemimpin instruksional, evaluator pembelajaran siswa (judge of student learning performance). a) Guru sebagai perancang pengajaran. “Kesalahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran adalah guru hanya menggunakan pola satu arah yaitu dari guru ke siswa. Oleh karena itu, guru harus menggunakan interaksi siswa-guru-siswa yang bervariasi.”
Kami berharap ini akan menjadi bekal yang cukup bagi guru-guru yang tidak memenuhi syarat untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan."
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Umasugi, dkk. 2014) “Analisis Permendikna Nomor 16 Tahun 2007 Dalam Rangka Jaminan Standardisasi Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di Kabupaten Kepulauan Sula”, menyebutkan bahwa Kebijakan Standardisasi Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru di Kabupaten Kepulauan Sula, belum menerima Kabupaten yang penuh politik. mendukung. Terlihat bahwa kebijakan tersebut tidak diatur dalam Peraturan Daerah yaitu Peraturan Bupati Kepulauan Sula yang secara khusus mengatur tentang peningkatan kualifikasi akademik dan kompetensi guru, sebagai respon terhadap Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. TIDAK. Keterbatasan sumber daya manusia pada instansi yang menyelenggarakan peningkatan kualifikasi akademik dan kompetensi guru di bidang pendidikan, disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan rendahnya komitmen mengenai pentingnya peningkatan kualifikasi akademik dan kompetensi guru di Kepulauan Sula. Kabupaten.
Sesuai dengan peraturan pemerintah no. 19 Pasal 28 Tahun 2005 “pendidik harus mempunyai kualifikasi akademik dan pelatihan sebagai agen pengajar, sehat jasmani dan rohani serta mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.
Standar Sistem Pendidikan
Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan siswa. Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: penilaian hasil pembelajaran oleh pendidik; penilaian hasil pembelajaran menurut satuan pendidikan; dan evaluasi hasil pembelajaran oleh Pemerintah. Peraturan Menteri tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 20 Tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan.
Peraturan menteri tentang standar pendanaan pendidikan adalah peraturan nomor 69 tahun 2009 tentang Standar Biaya Operasional Non Staf Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Atas/Madrasah. Aliyah (SMA/MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menengah Luar Biasa (SMPLB) dan Sekolah Menengah Luar Biasa (SMALB). 9) Standar Pendidikan Anak Usia Dini.
Problematika Profesi Guru di Indonesia
Mengenai guru sebagai simbol akhlak, Al-Ghazali memunculkan ungkapan sugestif dalam bentuk perumpamaan: “Guru dan siswa ibarat bayangan dan pohon. Selain sebagai aktor sosial yang mempunyai lapisan khusus, guru sebenarnya adalah agen. perubahan sosial Disiplin mengajar mempunyai hubungan dengan siswa dimana guru harus melaksanakan tugasnya dengan penuh semangat, kegembiraan, ketangkasan (kegembiraan) dan metode mengajar anak yang bervariasi.
Meskipun guru pada umumnya mengajar dan membantu siswa memperoleh ilmu pengetahuan, namun kewenangan guru terletak pada bidang pengajaran dan pendidikan.
Kualifikasi dan Kompetensi Guru
Guru yang memiliki kompetensi profesional hendaknya mampu memilah dan memilih serta mengelompokkan materi pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa menurut jenisnya. Fokus ini diambil untuk mengetahui kinerja guru yang belum memiliki kualifikasi sarjana dan juga faktor-faktor yang menyebabkan keberadaannya serta tindakan mendesak pemerintah untuk merespons permasalahan seperti ini. Pada prinsipnya pendidikan dasar merupakan titik tolak bagi seorang peserta didik dalam menentukan masa depannya; sehingga kualitas pendidikan yang mereka peroleh harus benar-benar dari guru yang profesional.
Karena terbatasnya jumlah guru sarjana di sini, maka tak heran jika guru-guru tersebut termasuk lulusan SMA. Dengan kata lain, seorang guru yang memiliki komitmen tinggi dan tekad yang kuat dapat mengubah mutu pendidikan siswa di suatu sekolah. Dikatakan bahwa guru yang baik adalah yang menguasai materi dengan baik sehingga benar-benar menjadi sumber belajar bagi siswanya.
Guru yang menganut model ini dibebaskan dari tugas mengajar dan ditugaskan mengikuti perkuliahan di salah satu universitas. Kami sangat mendukung program pemerintah saat ini dimana guru-guru yang belum berkualitas dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi terbuka yang ada di kecamatan. Konsep rekrutmen dimasukkan sebagai upaya untuk memperoleh guru yang tepat sesuai kebutuhan.
Jumlah calon guru yang akan direkrut sebenarnya berdasarkan hasil analisis kebutuhan guru yang menggambarkan peta kebutuhan guru. Jika proses rekrutmen sudah sampai pada pencarian guru yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah persoalan guru di sekolah.
Kode Etik Guru Indonesia
Kerangka Pikir
“Jujur saya sebagai guru senior di sini meragukan kemampuan para guru lulusan, namun untuk menyelamatkan situasi kekurangan guru, biarlah mereka mengajar dengan cara belajar menjadi guru yang baik dan nyata” (Hasil wawancara, 12 Januari 2017). Selain belum diterapkannya peraturan pemerintah daerah mengenai distribusi guru yang baik, sekolah juga harus bertekad untuk menerapkan isi peraturan yang ada. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang diperlukan saat ini adalah langkah-langkah bijak dan tegas dari pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan guru yang belum memenuhi syarat untuk mengajar, khususnya di sekolah-sekolah yang terletak di daerah pedalaman.
Siswa di daerah terpencil juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, fasilitas pendidikan yang memadai, seperti sekolah dengan ruang kelas yang memadai, listrik, laboratorium bahkan fasilitas internet, guru yang memiliki kemampuan pedagogi dan pengajaran yang profesional. Pemerintah mempunyai tanggung jawab yang besar untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan mengembangkan otonomi daerah, memenuhi kebutuhan pendidikan di daerah terpencil dan memberikan kesempatan yang besar kepada guru yang ingin ditempatkan di daerah terpencil. Maju dan mundurnya suatu lembaga sangat dipengaruhi oleh kinerja individu guru pada lembaga tersebut.
Banyak guru yang datang mengajar dan langsung menjelaskan materi yang ditunda disini. Siswa kami juga merasa kesal karena mata pelajaran yang sama dijelaskan oleh guru. Rekrutmen merupakan proses awal yang penting dalam seleksi calon guru yang tepat dan berdampak besar pada program pengembangan selanjutnya. Standar kualifikasi ini tidak dapat dinegosiasikan dan juga memungkinkan guru berpengalaman untuk berpartisipasi dalam penilaian proses rekrutmen.
Jika kebutuhan dan kesejahteraan guru tercukupi dengan baik oleh pemerintah, maka tidak akan ada lagi guru yang absen karena mencari pekerjaan tambahan di luar (Denny Suwarja, 2003). Untuk itu Indonesia harus memiliki guru yang berkualitas agar tujuan pendidikan dapat terwujud dengan baik.
METODE PENELITIAN
Lokus Penelitian
Alasan pemilihan lokasi ini langsung didasarkan pada pertimbangan bahwa SDI Baopukang merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Dasar yang memiliki banyak guru tanpa kualifikasi sarjana.
Informan Penelitian
Ada tiga jenis informan dalam penelitian ini yaitu informan kunci, informan utama, dan informan tambahan. Informan kunci adalah mereka yang mengetahui dan mempunyai berbagai informasi dasar yang diperlukan dalam penelitian. Sedangkan informan tambahan adalah mereka yang dapat memberikan informasi meskipun tidak terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti.
Jumlah responden atau informan dalam penelitian kualitatif belum diketahui sampai peneliti melakukan kegiatan pengumpulan data di lapangan. Hal ini dikarenakan pengumpulan data pada penelitian kualitatif bertujuan untuk mencapai kualitas data yang cukup, sehingga sebagian kecil responden sudah tidak lagi berkualitas baik, artinya sudah mencapai titik jenuh karena responden tidak lagi memberikan informasi baru, yaitu informasi baru. yang responden ceritakan, sama seperti responden sebelumnya.
Fokus Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah keberadaan guru tanpa kualifikasi sarjana di SDI Baopukang.
Instrumen Penelitian
Jenis Dan Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data
Partisipasi moderat adalah peneliti dalam pengumpulan data, berpartisipasi dalam survei partisipatif dalam beberapa kegiatan, namun tidak semua (ada keseimbangan antara menjadi orang dalam dan menjadi orang luar); Partisipasi aktif artinya peneliti ikut serta dalam melakukan apa yang dilakukan nara sumber, namun belum sepenuhnya selesai; Dengan kata lain survei ini memerlukan suasana yang natural sehingga peneliti tidak terkesan sedang melakukan penelitian.
Teknik Analisis Data
- Teknik Keabsahan Data
Namun guru yang kami pilih tidak sembarangan; Artinya kita lihat mahir atau tidaknya dia di bagian ini, dan kita lihat juga nilai rapornya saat masih SMA. Selain itu, dugaan lain datang dari Bu Lusi yang mengatakan demikian. Dalam konteks keberadaan UU 32 tentang Pemerintahan Daerah, dimana pendidikan menjadi kewenangan kabupaten/kota, dalam kebijakan perluasan akses pendidikan di Kabupaten Lembata ditemukan bahwa seringkali pemangku kepentingan mengorbankan kualitas guru agar kualitas guru tidak berkurang. guru yang diperlukan dapat dipenuhi dengan cepat, biasanya dalam jumlah besar.
Jadwal Penelitian
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN
Sejarah Kabupaten Lembata
Kedua nama ini dijuluki oleh Belanda karena kebijakan perdagangannya yaitu VOC (Verenigde Oost Indice Company). Pulau ini pernah difoto oleh pihak Belanda dan hingga saat ini fotonya masih disimpan di Kantor Kecamatan Atadei (salah satu dari 59 kecamatan di sebelah selatan Kabupaten Lembata). Sepanjang sejarah, pulau ini terus berganti nama menjadi Lembata, nama ini diberikan oleh mendiang.
Yan Kia Poli pada saat MUBESRATA (Musyawarah Besar Rakyat Lembata) tanggal 7 Maret 1967 di Lewoleba, kemudian diresmikan oleh mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur El Tari. Padahal, lahirnya Pulau Lembata diperkirakan terjadi pada tahun 1400 saat berlangsungnya zaman Glatzer, yaitu zaman ketika es di Kutub mencair sehingga banyak pulau yang tenggelam dan kemudian penduduknya bermigrasi ke berbagai daerah untuk mencari pulau Lembata. ke tempat tinggal baru. Dalam cerita sejarah Leo Boli Ladjar (alm), masyarakat Lembata sebenarnya bermigrasi dari dua pulau yaitu Pulau Lapang dan Pulau Batang yang terletak di bagian barat Kabupaten Alor Lapang dan Batang (dua pulau kosong tak berpenghuni) yang terletak di bagian barat Kabupaten Alor Lapang. bagian barat Pulau Alor dan bagian timur utara Pulau Lembata.
Kedua pulau ini memiliki kekayaan alam yang tiada habisnya, yaitu rumput laut yang kini menjadi favorit masyarakat Alor. 60 Sejak 12 Oktober 1999, Lembata menjadi kabupaten tersendiri yang memisahkan diri dari Kabupaten Flores Timur sebagai kabupaten induk.
Cuaca Iklim
Mata Pencaharian
Penduduk
Sarana dan Prasarana