• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS PERNIKAHAN PENDERITA GANGGUAN MENTAL

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "STATUS PERNIKAHAN PENDERITA GANGGUAN MENTAL "

Copied!
89
0
0

Teks penuh

Skripsi berjudul: STATUS PERNIKAHAN PASIEN GANGGUAN JIWA (Studi Kasus di Desa Sumberrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur), disusun oleh Miftakhul Huda, NPM 1171573, Jurusan Al-Ahwal asy-Syakhsiyah, Fakultas Syariah Sesi Seminar Syariah Fakultas IAIN Metro, pada hari/tanggal : Kamis, 25 Januari 2017. Adapun pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana status perkawinan pria dengan gangguan jiwa di Desa Sumberrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status perkawinan pria gangguan jiwa di Desa Sumberrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan Starta Satu (SI) Fakultas Syariah Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah untuk memperoleh gelar S.H.

Latar Belakang Masalah

Tidak terpenuhinya kewajiban akibat suami atau istri mengalami gangguan jiwa merupakan masalah yang perlu dikaji secara hukum. Namun, pernikahan tersebut tidak berjalan normal karena pihak perempuan kembali ke keluarganya, sedangkan pihak laki-laki yang mengalami gangguan jiwa diasuh oleh keluarganya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Sn (adik laki-laki penderita gangguan jiwa), diketahui bahwa kakak laki-lakinya mengalami gangguan jiwa sejak masih lajang, dan terkadang melakukan tindakan yang mengganggu lingkungan.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pandangan hukum Islam terhadap status perkawinan laki-laki dengan gangguan jiwa di Desa Sumberrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur.

Pertanyaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumbangan informasi ilmiah tentang pandangan hukum Islam terhadap status perkawinan suami dengan gangguan jiwa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi data pendukung di lapangan yang berkaitan dengan pandangan hukum Islam terhadap status perkawinan suami dengan gangguan jiwa.

Penelitian Relevan

Pengertian Pernikahan

Berdasarkan beberapa dalil dari al-Qur’an dan hadits sebagaimana diuraikan di atas, dapat dipahami bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT secara fitrah. Kompilasi Hukum Islam (KHI) BAB II Pasal 3 menyebutkan bahwa tujuan perkawinan adalah sebagai berikut “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinan, mawaddah dan rahmah”. Selain syarat sahnya perkawinan di atas, syarat lain yang harus dipenuhi untuk sahnya perkawinan adalah syarat mengenai saksi.

Berdasarkan pandangan di atas, rukun nikah terdiri dari suami istri, wali mempelai wanita, dua orang saksi, dan sighat akad nikah.

Fasakh

Pengertian Fasakh

Fasakh berarti mengendurnya ikatan antara suami dan istri karena berbagai sebab seperti cacat atau penyakit terminal. Fasakh dilakukan untuk menghindari kerugian akibat tidak terpenuhinya tujuan perkawinan atau adanya syarat-syarat dalam perkawinan yang bertentangan dengan syar`. Dalam perkawinan tersebut dapat terjadi hal-hal yang menghalangi tujuan perkawinan tersebut, atau perkawinan tersebut akan merusak hubungan antara keduanya, sehingga sebagai penyelesaian akhir diperlukan pembatalan perkawinan.

Dasar Hukum Fasakh

هَّنأ

لاَق : َلاَق

Sebab-sebab Terjadinya Fasakh

Fasakh terjadi karena tidak terpenuhinya syarat-syarat pada saat akad nikah berlangsung, atau karena hal-hal lain yang terjadi setelah akad nikah dan membatalkan kelangsungan perkawinan. Setelah upacara pernikahan, diketahui bahwa istrinya adalah saudara perempuan atau saudara kandung laki-laki tersebut. Jika suami istri murtad atau meninggalkan Islam dan sama sekali tidak ingin kembali, maka akad batal (fasakh) karena kemurtadan yang baru saja terjadi.

Jika seorang laki-laki kafir masuk Islam, tetapi perempuannya tetap kafir, yaitu tetap musyrik, maka akad batal demi hukum (fasakh). Memahami pandangan di atas, sebab-sebab fasakh dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu yang timbul akibat tidak terpenuhinya syarat-syarat akad nikah, dan yang timbul setelah akad dilangsungkan. Tidak terpenuhinya syarat sahnya perkawinan, seperti adanya hubungan muhrim, merupakan sebab fasakh, karena hubungan muhrim merupakan penghambat sahnya perkawinan.

Adapun sebab-sebab yang timbul setelah selesai akad, seperti suami atau isteri yang murtad, atau salah satu pihak masuk Islam, sedangkan satu pihak lagi tidak mau masuk Islam. Dalam kes ini, kecacatan tidak termasuk, dan jika lelaki atau wanita tidak mengalami persetubuhan yang kerap, tidak perlu melakukan fasakh, tetapi jika hiperseks menyebabkan salah satu pihak mengalami gangguan fizikal dan bahaya, ia mungkin fasakh adalah. dilakukan. Lelaki miskin, dalam hal ini, jika lelaki itu tidak mempunyai kemampuan untuk memberi nafkah kepada keluarganya, bahkan menimbulkan kesusahan dan penderitaan kepada keluarganya, wanita itu berhak melakukan fasakh.

Berdasarkan pendapat di atas, fasakh juga boleh berlaku kerana salah seorang suami atau isteri mengalami kelainan seksual yang berbahaya. Fasakh juga boleh berlaku akibat kehilangan (tidak kelihatan) salah seorang daripada pasangan, yang lokasinya tidak jelas, dan jika salah seorang daripada pasangan itu gila.

Prosedur Fasakh

Boleh jadi istri si musyrik ingin masuk Islam (setelah di pengadilan) agar akad nikahnya tidak harus fasakh. Permohonan pembatalan perkawinan dapat diajukan kepada Pengadilan Agama yang mengurus tempat tinggal suami atau istri atau tempat dilangsungkannya perkawinan. Pembatalan perkawinan dimulai setelah putusan Pengadilan Agama mempunyai kekuatan hukum tetap dan berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.

Berdasarkan ketentuan di atas, putusan fasakh hanya dapat dilakukan oleh hakim melalui proses di pengadilan yang meliputi tempat tinggal suami atau istri atau tempat dilangsungkannya perkawinan. Dibanding perceraian dengan acara pengadilan lainnya, pembuktian dalam perkara fasakh lebih nyata dan jelas. Misalnya, dalam hal salah satu pasangan impoten, surat keterangan dokter dapat digunakan sebagai salah satu dokumen pendukung yang diserahkan.

Gangguan Mental

  • Pengertian Gangguan Mental
  • Ciri-Ciri Gangguan Mental
  • Macam Gangguan Mental
  • Akibat Gangguan Mental

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa gangguan jiwa atau penyakit kejiwaan adalah pola psikologis atau perilaku yang umumnya berkaitan dengan stres atau gangguan jiwa yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia. Gangguan jiwa mengacu pada perubahan fungsi jiwa yang menyebabkan penderitaan bagi individu dan hambatan dalam pelaksanaan peran sosial. Individu yang mengalami gangguan jiwa dapat diketahui dari gejala yang ditimbulkannya, baik dari segi pikiran, perasaan dan perilaku, maupun dari segi kondisi fisiknya.

Berdasarkan pendapat di atas, individu yang mengalami gangguan jiwa dapat dikenali dari keadaan psikologisnya yang sering gelisah, gelisah, ketegangan batin, merasa putus asa, tertekan dan sebagainya. Gangguan jiwa adalah gambaran disintegrasi kepribadian yang ditandai dengan munculnya dan berkembangnya gejala kejiwaan yang abnormal dan sulit dikendalikan, seperti kecemasan, halusinasi, dan pada tahap tertentu penderitanya dapat terputus dari realitas di luar dirinya. Berdasarkan kutipan di atas, gangguan jiwa secara umum dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu: psikopati, psikoneurosis, dan psikofungsional.

Sedangkan psikofungsional adalah jenis gangguan jiwa berat yang ditandai dengan gangguan berpikir dan emosional, serta. Dalam hal ini, hukum Islam memandang gangguan jiwa sebagai aib yang dapat mempengaruhi kemaslahatan perkawinan. Dalam penelitian hukum sosiologis, hukum dipahami sebagai pranata sosial yang sangat terkait dengan variabel sosial lainnya 1 Kondisi sosial dalam penelitian merujuk pada gangguan jiwa, sedangkan variabel yang terkait dengan gangguan jiwa adalah status perkawinan.

Merujuk pada pendapat di atas, maka penelitian ini berangkat dari kasus gangguan jiwa pada salah satu pasangan suami istri dan bagaimana perkawinan tersebut berlangsung di lapangan, termasuk penyelesaian hukum yang dilakukan. Berdasarkan sifat penelitian di atas, maka penulis dalam penelitian ini berusaha untuk mendeskripsikan gangguan jiwa yang dialami oleh pasangan suami istri dan referensi hukum dari peraturan perundang-undangan yang dapat dijadikan sebagai dasar pengkajian.

Sumber Data

Mengingat jenis penelitian deskriptif di atas, maka penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif studi kasus. Dalam pemilihan sumber data primer yang digunakan sebagai informan penelitian digunakan teknik purposive sampling yaitu: teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan khusus ini, misalnya orang itu yang paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia penguasa.”9.

Menurut Patton dalam Imam Suprayoga dan Tobroni, dalam penelitian kualitatif, sumber data tidak digunakan untuk mewakili populasi, tetapi lebih cenderung untuk mewakili informasi. Pengertian ini sesuai dengan teknik yang dikenal dengan purposive sampling, yaitu kecenderungan peneliti memilih informan yang diyakini mengetahui dan memahami informasi secara mendalam. Dari sumber data primer tersebut, penulis mengumpulkan data tentang status perkawinan suami yang mengalami gangguan jiwa dan upaya hukum yang dilakukan oleh istri.

Sumber data sekunder ialah sumber yang tidak memberikan data secara langsung kepada pengumpul data, contohnya melalui orang lain atau melalui dokumen." 11. Anshary, Matrimonial Law in Indonesia, Crucial Problems, Books by Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, Books by Beni Ahmad Saebani and Syamsul Falah,.

Metode Pengumpulan Data

Data yang dicari dari wawancara mendalam meliputi: status perkawinan suami mengalami gangguan jiwa, keadaan gangguan jiwa yang dialami suami, dan upaya hukum yang ditempuh istri. Metode observasi yang digunakan adalah observasi non partisipan, karena penulis tidak berinteraksi langsung dengan subjek penelitian dalam kegiatan sehari-hari. Objek penelitian yang diamati dalam penelitian kualitatif disebut situasi sosial yang terdiri dari tiga komponen yaitu tempat, pelaku dan kegiatan.

Pendokumentasian adalah “pencarian data tentang hal-hal atau variabel-variabel yang berupa catatan transkripsi, buku, surat kabar, agenda dan sebagainya.”17 Dalam penelitian ini dokumentasi digunakan untuk mencari data tentang akta nikah, buku nikah dan dokumen-dokumen lain yang relevan dengan tujuan penelitian. riset.

Teknik Penjamin Keabasahan Data

Dokumentasi adalah “pencarian data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, agenda dan sebagainya.”17. Dalam penelitian ini dokumentasi digunakan untuk mencari data akta nikah, buku nikah dan dokumen lainnya yang relevan dengan objek penelitian. sering juga disebut triangulasi sumber), triangulasi metode, triangulasi teori, dan triangulasi peneliti. Dalam hal ini peneliti berusaha memperoleh informasi dari berbagai sumber terkait perkawinan dimana laki-laki mengalami gangguan jiwa.

Teknik Analisis Data

Awalnya Desa Sumberrejo masih berupa semak belukar kemudian berkembang menjadi Bedeng yaitu Bedeng 43 Wetan dan Bedeng 43 Kulon. Pada masa penjajahan Belanda, kepemimpinan Desa Sumberrejo dipercayakan kepada seorang lurah bernama Darmo Suhajo. Penduduk awal Desa Sumberrejo adalah pendatang dari Pulau Jawa yang berasal dari Kutarjo, Purworejo, Kebumen, Madiun, Sumpyuh, Yogyakarta, Ponorogo dan daerah lainnya.

Pada tahun 1972 Desa Sumberrejo diubah menjadi Desa Sumberrejo dan dipimpin oleh seorang kepala desa, dan pada tahun 1980 istilah Desa diubah kembali menjadi Desa yaitu Desa Sumberrejo dipimpin oleh seorang kepala desa. Desa Sumberrejo memiliki visi “Terwujudnya Desa Sumberrejo sebagai lumbung pangan yang aman, maju, sejahtera, mandiri dan berkeadilan sosial serta tertib administrasi dengan suasana kerukunan umat beragama”1. Berdasarkan hasil observasi penulis diperoleh data bahwa Desa Sumberrejo merupakan desa yang memiliki banyak lahan pertanian atau persawahan, sehingga masyarakat Desa Sumberrejo pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani.

Kondisi orbit dan iklim Desa Sumberejo 1) Jarak ke ibukota kabupaten 36 Km 2) Jarak ke ibukota kabupaten 3 Km.

Sugiyanto

Yusiran

Saran

Referensi

Dokumen terkait

Dampak psikologis yang terjadi adalah adanya ketidakbahagiaan dalam pernikahan, tidak adanya hubungan yang harmonis antara istri pertama dengan suami, hilangnya kontak batin,

Selain itu ada hubungan yang signifikan antara kesehatan mental pasangan suami istri dengan pola penyesuaian pernikahan pasangan suami istri tersebut, kesehatan mental

Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 mendefenisikan perkawinan yaitu ” perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan

Pernikahan bagi umat Islam merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri berdasar akad nikah yang diatur dalam undang-undang dengan

Perkawinan atau Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan

Pernikahan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal

Sehingga ketika cinta harus berlabuh, mereka sudah siap untuk menjalani bahtera rumah tangga dalam ikatan pernikahan, dengan tujuan akhir adalah sakinah, mawaddah dan rahmah hingga ke

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan bertujuan untuk membentuk