STUDI MIKROPALEONTOLOGI
DAERAH BUHUDAA DAN LOPO
Ansyar Mbuinga
Teknik Geologi, fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Gorontalo
Desa Moutong, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo [email protected]
Abstrak
Mikropaleontologi adalah cabang ilmu paleontologi yang berbarengan dengan makropaleontologi yaitu cabang ilmu yang mempelajari tentang fosil. Berbeda dengan makropaleontologi yang mempelajari fosil yang berukuran besar, mikropaleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sisa-sisa organisme yang berukuran mikro dan telah menjadi fosil atau yang terawetkan di alam. Salah satu daerah yang ada di kabupaten gorontalo yaitu desa buhudaa dan lopo diduga terdapat lokasi yang menyimpan banyak aneka ragam foraminifera, sehingga hal ini yang mendorong penulis untuk melakukan observasi di daerah tersebut. Metode yang digunakan dalam praktikum lapangan kali ini adalah metode observasi langsung ke lokasi penelitian dengan membawa alat dan bahan yang sudah disiapkan untuk keperluan saat proses pengambilan sampel. Dengan adanya penelitian ini penulis berharap dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan juga para pembaca yang bergerak di bidang paleontologi.
Kata kunci:Fosil, Organisme, Observasi, Lapangan, Foraminifera
Abstract
Micropaleontology is a branch of paleontology that coincides with macropaleontology, which is the branch of science that studies fossils. In contrast to macropaleontology which studies large fossils, micropaleontology is the study of the remains of micro-sized organisms that have become fossils or are preserved in nature. One of the areas in Gorontalo district, namely the villages of Buhudaa and Lopo, is thought to have a location that holds a large variety of foraminifera, so this is what prompted the author to make observations in that area. The method used in this field practicum is the method of direct observation to the research location by bringing tools and materials that have been prepared for use during the sampling process. With this research, the author hopes that it will be useful for the author himself and also readers who work in the field of paleontology.
Keywords:Fossil, Organism, Observation, Field, Foraminifera
I. P
ENDAHULUANMikropaleontologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang organisme yang berukuran mikro yang telah mengalami proses pembatuan (litifikasi). Dalam pengamatannya, fosil-fosil mikro tersebut membutuhkan bantuan berupa mikroskop untuk dapat dikenali dengan jelas. Salah satu ordo mikrofosil yang sangat sering dikenali dan dijumpai yaitu Foraminifera. Foraminifera oraminifera itu sendiri terbagi atas dua, yaitu benthonik dan planktonik.[1]
Fosil yang berukuran mikro mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan biostratigrafi suatu daerah. Dari berbagai jenis fosil mikro yang terdapat pada di permukaan Bumi, Foraminifera merupakan yang paling luas penyebarannya.
Foraminifera merupakan salah satu ordo dari filum protozoa. Ordo ini memiliki spesies yang sangat bervariasi, mulai dari yang hidup plantonik sampai bentonik. Disamping itu pada suatu fosil foraminifera memiliki umur relatif dan kebiasaan hidup tertentu, sehingga ketepatan pendeskripsian fosil foraminifera tidak boleh meleset. Karena pentingnya penentuan ciri-ciri fosil foraminifera, pada tanggal 30 september 2016, dilakukanlah prakitkum mengenai cara penentuan foraminifera bentonik pada alat peraga, sebagai pengenalan awal terhadap fosil foraminifera yang hidup secara bentonik.[2]
Foraminifera adalah organisme bersel satu yang dalam pola hidupnya mampu membangun cangkang yang bersifat gampingan dengan arsitektur cangkang yang unik dan rumit. Karakkteristik foraminifera berguna untuk mendeterminasi paleoenvironment dalam Ukurannya yang kecil membuat foraminifera dapat dianalisis melalui disiplin ilmu mikropaleontologi. Berkaitan dengan lingkungan terumbu, salah satu jenis foraminifera yang memiliki peran paling signifikan keterdapatannya pada batuamping adalah foraminifera bentonik besar.[3]
Foraminifera adalah organisme bersel tunggal yang hidupnya secara akuatik (terutama hidup di laut, mungkin seluruhnya), mempunyai satu atau lebih kamar yang terpisah satu sama lain oleh sekat (septa) yang ditembus oleh yang banyak banyak lubang halus (foramen). (foramen). Terdapat Terdapat 3 jenis foraminifera foraminifera yaitu foraminifera planktonik yang hidup mengikuti arus dan dipakai untuk menentukan umur, foraminifera bentonik yang dipakai untuk menentukan lingkungan pengendapan, dan Foraminifera Besar[4]
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memahami apa itu mikropaleotologi serta komunitas foraminifera yang di pelajari dalam ilmu mikropaleontologi yang ada di
lokasi praktikum. Hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi data yang sudah ada dalam menginterpretasikan lingkungan pengendapan mikrofosil di kawasan Bongo dan sekitarnya.
Analisis lingkungan pengendapan dan mikrofosil merupakan bagian penting dalam pembelajaran mahasiswa geologi, yaitu identifikasi kumpulan mikrofosil tertentu, khususnya satuan batuan berbasis foraminifera.[5]
II.
DASAR TEORIForaminifera bentonik besar merupakan organisme yang masih dalam klasifikasi yang sama dengan foraminifera pada umumnya khususnya foraminifera bentonik. Perbedaan yang mendasar di antara keduanya adalah foraminifera bentonik besar memiliki ukuran yang lebih besar. Ukuran yang besar ini memungkinkan foraminifera besar diidentifikasi melalui kenampakan struktur dalamnya yang kompleks Pengamatan struktur dalam dari foraminifera besar ini dilakukan dibawah sampel berupa sayatan tipis. Selain itu, perbedaan dari foraminifera bentonik besar dengan foraminifera bentonik kecil adalah cara hidupnya dimana foraminifera bentonik besar hidup berasosiasi dengan alga dan koral. Secara umum, foraminifera bentonik besar memiliki ciri-ciri: Perubahan Lingkungan Pengendapan berdasarkan Biofasies Foraminifera Bentonik[6]
Memiliki struktur dalam yang kompleks
Hidup bersama dengan alga dan diatom pada lingkungan laut dangkal beriklim tropis sampai subtropis
Memiliki ukuran 600 mikron – 20cm
Diameter 5 – 20 mm
Memiliki cangkang gampingan
Bentuk cangkang lentikular, discoidal, atau fusiform
Foraminifera bentonik besar masih berada pada urutan pemerian yang sama dengan foraminifera bentonik kecil. Foraminifera bentonik besar termasuk ke dalam Filum Protista yang menunjukkan bahwa foraminifera merupakan organisme uniseluler. Dalam menentukan lingkungan pengendapan terumbu, foraminifera memiliki peran penting dalam mengidentifikasinya, khususnya foraminifera bentonik besar. Hal ini dikarenakan kehadiran foraminifera sebagai biota penciri lingkungan pengendapan sangat dipengaruhi faktor paleoekologi.[7]
Peran foraminifera bentonik besar yang sigifikan ini dipengaruhi oleh kecenderungannya untuk berevolusi sangat cepat, berlimpah, persebarannya yang luas, dan beberapa jenis diantaranya mengalami kepunahan yang cepat pula (Hallock, 1986). Pada lingkungan pengendapan terumbu, kehadiran cangkang foraminifera dalam komposisi batuan karbonat mencapai 15%.[8] Dengan perannya membentuk material karbonat dapat dibandingkan dengan koral dan alga. Faktor-faktor tersebut sangat menunjukkan peran penting foraminifera bentonik besar sebagai indikator paleoekologi khususnya bagi lingkungan pengendapan terumbu. Model fasies Wilson[9]
dianggap sebagai model ideal dalam penentuan fasies batugamping. Hal ini dikarenakan pendekatan model fasies ini didasari oleh beberapa faktor antara lain litologi dan fosil. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Hallock (1986) menyederhanakan pembagian model fasies Wilson (1975) berdasarkan peninjauan kandungan fosil foraminifera. Adaptasi foraminifera terhadap lingkungannya akan membentuk karakteristik unik pada komposisi dan morfologi cangkangnya, sehingga kelompok foraminifera tertentu mampu merefleksikan kondisi paleoekologi tempat hidupnya dan memberi gambaran lingkungan pengendapan.[10]
III.
METODEMetode yang digunakan untuk praktikum mikropaleontologi yang dilalukan pada tanggal 19 November 2023 di Desa Buhudaa dan Desa Lopo adalah metode observasi langsung ke lapangan.
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum lapangan hingga ke pengolahan data adalah:
Nama Gambar Fungsi
(HidrogenH202 Piroxide)
Berfungsi untuk melarutkan batuan dan menguraikan fosil mikro yang terkait dengan butiran sedimen Palu Geologi
Menghaluskan sampel handspaceman
menjadi ukuran butiran
(ayakan)Mesh
Memisahkan sampel berdasarkan ukuran mesh
Kain tebal
Membungkus sampel agar
tidak berkontak
langsung dengan palu geologi yang
berpotensi merusak microfosil
Kain tipis Menyaring
sampel pada saat pencucian
Spidol
Menulis keterangan stasiun dan lain-lain
Oven Mengeringkan
sampel
Kantong Sampel
Wadah sampel setelah dikeringkan
Wadah Wadah untuk
merendam sampel
IV. H
ASIL DANP
EMBAHASANHasil
STA 1.1
Atodobacularia bulbifera Class : miliolata Subclass : miliolana Order : miliolida Family : nubeculariidae
Geological Time: jurassic Upper Jurassic Tithonian STA 1.2
Lingulina costata d'Orbigny, 1846 Class : Nodosariata Subclass : Nodosariana Order : Nodosariida Family : Nodosariidae
Geological Time: Neogene Miocene Langhian STA 2.1
Silicobathysiphon gerochi Mjatliuk, 1966
Class : Astrorhizata
Subclass : Astrorhizana
Order : Astrorhizida
Family : Bathysiphonidae
Geological Time : Cretaceous Upper
Cretaceous Bile karpaty unit
Permission courtesy of Michael A. Kaminski The Grzybowski Foundation Special Publications Editor of
STA 2.2
Botellina labyrinthica Brady, 1881
Class : Astrorhizata
Subclass : Astrorhizana
Order : Hippocrepinida
Family : Botellinidae
Geological Time : Quaternary Holocene recent
STA 2.3
Haplophragmoides canadensis georgescu and braun, 2013Class : rotaliata
Subclass : textulariana
Order : lituolida
Family : haplophragmoididae Geological Time : jurassic Upper jurassic
Volgian
The SEM image is
provided by Dr. M. Dan georgescu
STA 2.4
Rhizammina algaeformis brady, 1879
Class : astrorhizata
Subclass : Astrorhizana
Order : Astrorhizida
Family : Rhabdamminidae
Geological Time : Quaternary Holocene recent
Pembahasan STA 1.1
Pada praktikum lapangan di desa buhudaa terdapat singkapan yang di duga terdapat mikrofosil.
Salah satunya pada stasiun 1, berdasarkan hasil analisis lab ditemukan mikrofosil Atodobacularia bulbifera yang memiliki kelas miliolata, subkelas miliolana, order miliolida, family nubecularridae dengan skala waktu geologisekitar jurasic upper.
STA 1.2
Ditempat yang sama yaitu di desa buhudaa mahasiswa praktikan juga mendapatkan mikrofosil yang jika dilihat berdasarkan hasil analisis lab adalah Lingulina costata d'Orbigny, 1846, kelas Nodosariiata, subkelas nodosariiana, order nodosariida, family Nodossariidae dan memiliki skala waktu geologi sekitar Neogene Miocene Langhian.
STA 2.1
Selain di desa buhudaa mahasiswa praktikan juga melakukan observasi ke Desa Lopo dan pada stasiun pertama mahasiswa praktikan mendapatkan mikrofosil Silicobathysiphon gerochi Mjatliuk, 1966, kelas Astrorziata, subkelas Astrorhizana, Order Astrorhizida, family Bathysiphonidae dengan skala waktu geolgi sekitar Creteseus Upper
STA 2.2
Ditempat yang sama mahasiswa praktikan juga mendapatkan mikrofosil Botellina labyrinthica Brady, 1881 kelas Astrorzihata, subkelas Astrorhizana, order Hippocrepinida, family Botellinidae dengan skala waktu geologi Quarternary Holocene.
STA 2.3
Masih ditempat yang sama pula mahasiswa praktikan juga mendapatkan mikrofosil Haplophragmoides canadensis georgescu and braun, 2013 kelas rotaliata, subkelas textulariana, order lituolida, family haplopharagmoididae dengan skala waktu geologi Jurassic Upper
STA 2.4
Masih ditempat yang sama juga mahasiswa praktikan mendapatkan mikrofosil Rhizammina algaeformis brady, 1879 kelas Astrorhizata, subkelas astrorhizana, order astrorhizida, family Rhabdamminidae dengan skala waktu geologi Quarternary Holocene
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum lapangan yang telah dilakukan pada tanggal 19 november 2023 tepatnya pada hari minggu serta studi literatur yang penulis lakukan maka penulis dapat memahami bahwa ternyata di daerah gorontalo khususnya di pesisir pantai maupun yang sudah sedikit jauh dari pantai itu masih bisa terdapat mikrofosil seperti Atodobacularia bulbifera, Lingulina costata d'Orbigny, Silicobathysiphon gerochi Mjatliuk, Botellina labyrinthica Brady, Haplophragmoides canadensis georgescu and braun, serta Rhizammina algaeformis brady. Yang rata-rata memiliki kelas yang hampir sama.
UCAPAN TERIMA KASIH
Segala Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, bimbingan dan kasih karunia-NYA yang dilimpahkan kepada penulis, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan mikropaleontologi ini. Dalam menyusun laporan ini, penulis tidak luput dari berbagai kesulitan dan hambatan, namun atas bantuan dan dorongan dari berbagai pihak akhirnya penulisan laporan ini dapat terselesaikan. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar- besarnya kepada Bapak Dr. Aang panji permana S.T.,
M.T selaku dosen pengampu dari mata kuliah mikropaleontologi
Untuk semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan Namanya satu persatu, yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu penulisan laporan ini. Penulis telah berusaha dengan sebaik mungkin dengan kemampuan yang ada dalam menyelesaikan laporan ini untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Namun penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis sangat menghargai segala kritik dan saran yang membangun. Akhir kata, penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua penulis dan pembaca.
REFERENSI
[1] Kasnita, K. (2020). KOMPOSISI JENIS FOSIL
FORAMINIFERA PADA STRUKTUR
VERTIKAL SEDIMEN PENYUSUN
DARATAN PULAU BARRANGLOMPO, KEPULAUAN SPERMONDE (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).
[2] Van Marle, L.J. 1991. Eastern Indonesian, late cenozoic smaller benthic foraminifera.
Verhandelingen der Koninklijke Nederlands Akademie van Wetenschappen Afd.
Natuurkunde, Eerste Reeks, deed 34.
Amsterdam,328p.
[3] Natsir, S.M. 2010. Kelimpahan foraminifera resen pada sedimen permukaan di Teluk Ambon. J. Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 2(1):9-18.
[4] Natsir, S.M. dan Rubiman. 2010. Distribusi foraminifera bentik Resen di Laut Arafura. J.
Ilmu dan Teknologi Kelautan, 2(2):74-82.
[5] Hallock, P. and Glenn, E.C., 1986. Larger Foraminifera: A Tool for Paleoenvironmental Analysis of Cenozoic Carbonate Depositional Facies. Palaios, pp.55-64.
[6] Beavington-Penney, S.J. and Racey, A., 2004.
Ecology of extant nummulites and other larger benthic foraminifera: applications in palaeoenvironmental analysis. Earth-Science Reviews,67(3-4), pp.219-265.
[7] Adhyar, L., 2008. Geologi dan Fasies Karbonat Formasi Wonosari pada Interval Tf 1-2 Selatan Jawa Tengah. Universitas Padjadjaran.
[8] Loeblich, A.R. dan H. Tappan. 1994.
Foraminifera of the Sahul Shelf and Timor Sea.
Cushman foundation for foraminifera research special publication.
[9] Jones, R.W.2014.Foraminifera and Their Applications. Cambridge University Press:Cambridge
[10] Patterson, R.T., A.D. Fowler, dan B.T. Huber.
2004. Evidence of hierarchical organization in the planktic foraminiferal record. J. of Foraminiferal Research, 34:85- 95.
BIOGRAFI PENULIS