THE EFFECT OF EMOTIONAL MARKETING ON DONATION INTENTION
(STUDY ON ADVERTISING IN KITABISA.COM CROWDFUNDING MEDIA PLATFORM)
Muhammad Haqqi Hudan Maulana
Faculty of Economics and Business, Universitas Brawijaya [email protected]
Supervisor:
Nadiyah Harfiyah Rosita, SE., MM., CMA
Faculty of Economics and Business, Universitas Brawijaya ABSTRACT
This study aims to determine the effect that occurs in emotional marketing to donation intention. Emotional marketing in this study can be measured using several variables, namely through visual stimulus, an auditory stimulus, and message framing to respondents who have been seen to the kitabisa.com platform donation advertisement.
This study uses explanatory research methods that intend to explain the position of the variables studied and the influence of one variable with another variable through the submission of hypotheses. The sample used amounted to 120 respondents with a purposive sampling technique with the characteristics of a 17-year-old sample and had seen them at least 1-time platform kitabisa.com. The research test tool using a validity test, reliability test, and the classic assumption test. Hypothesis testing in this study using the t-test and F test with the result that visual stimulus and message framing have a partial effect while auditory stimulus have no partial effect on donation intention. The three variables that form emotional marketing simultaneously influence donation intention.
Keywords: emotional marketing, visual stimulus, auditory stimulus, message framing, donation intention
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang terjadi pada emotional marketing terhadap donation intention. Emotional marketing pada penelitian ini dapat dikukur menggunakan beberapa variabel yaitu melalui stimulus visual, stimulus auditori, dan message framing pada responden yang pernah melihat iklan platform donasi kitabisa.com. penelitian ini menggunakan metode penelitian ekplanatori yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta pengaruh antara satu variabel dengan variabel yang lain melalui pengajuan hipotesis. Sampel yang digunakan berjumlah 120 responden dengan teknik purposive sampling dengan karakteristik sampel berumur 17 tahun dan pernah melihat iklan platform kitabisa.com minimal 1 kali. Alat uji penelitian menggunakan uji validitas, uji reliabilitas dan uji asumsi klasik. Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji t dan Uji F dengan hasil bahwa stimulus visual dan message framing berpengaruh secara parsial sedangkan stimulus auditory tidak berpengaruh secara parsial terhadap donation intention. Ketiga variabel yang merupakan pembentuk emotional marketing tersebut berpengaruh secara simultan terhadap donaton intention.
Keywords: Emotional marketing, stimulus visual, stimulus auditory, message framing , donation intention
PENDAHULUAN
Perkembangan era globalisasi saat ini menuntut lembaga maupun perusahaan untuk dapat memanfaatkan seluruh aspek guna membantu perusahaan dalam mengkomunikasikan nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada target pasar perusahaan atau lembaga tersebut.
Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi pemasaran yang memegang peranan sangat penting bagi pemasar. Komunikasi ini memiliki pengaruh yang besar dalam mengkoordinasikan media -media informasi dan persuasi untuk memperkenalkan serta menjual produk, jasa, atau ide mereka (Belch
& Belch, 2004). Seorang pemasar harus dapat memilah dan memilih alat yang tepat untuk menyampaikan pesan dan nilai dalam proses tersebut.
Pada pergeseran era postmodern ini pemasar disadarkan bahwa perlunya sistem komunikasi pemasaran dengan pendekatan personal dan mengikat seperti pembentukan sosioemosional.
hubungan, dll.
Respon emosional merupakan respon atas dasar sikap afektif. Sikap itu timbul dari penelitian/pengamatan sederhana atas dasar isyarat-isyarat yang ditangkap oleh suatu objek.
Isyarat-isyarat ini akan menstimulasi munculnya perasaan secara tiba-tiba dari dalam diri seseorang dengan menggunakan dorongan emosinya.
Hal ini timbul sebagai akibat dari suatu penilaian yang terlalu cepat dengan mendasarkan pada kepercayaan-kepercayaan pribadi seseorang (Van Trijp,dkk, 1996).
Respon emosi tersebut dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap suatu merek melalui iklan yang direspon oleh konsumen secara positif maupun negatif (Arianto &
Mulyani, 2007).
Neuromarketing: The New Science of Consumer Behavior , Christophe Morin pada penelitiannya menyampaikan bahwa emosi adalah mediator yang kuat untuk memproses pesan, memahami dan memodelkan respons kognitif. Sehingga tenaga pemasar yang memahami bagaimana menafsirkan dan memengaruhi keadaan emosi konsumen dengan baik akan lebih efektif dalam
memengaruhi sikap, keputusan pembelian, serta loyalitas pelanggan (Hoyer, dkk., 2013). Teori ini membentuk kesimpulan bahwa proses pemasaran melalui pendekatan emosional yang disebut emotional marketing merupakan aspek penting. Hal ini berguna untuk menjalin interaksi baik yang akan berdampak pada kestabilan ikatan emosional konsumen. Biasanya, pemasar berusaha untuk membangkitkan emosi dengan menggunakan teknik seperti musik atau disebut stimulus auditory, adegan emosional, ekspresi wajah, atau disebut stimulus visual , dan sumber pesan yang menarik (message framing) seperti kampanye multimedia dengan tagline (Hoyer, dkk., 2013).
Stimulus visual dapat berfungsi sebagai sistem pengendali yang memengaruhi suasana hati konsumen, atau membuat iklan disukai dengan membuatnya menarik. Penelitian secara umum mendukung pandangan bahwa gambar-gambar yang menyenangkan dapat memengaruhi iklan dan sikap ketika mereka diproses secara
terpisah, di luar efek yang mereka miliki terhadap kepercayaan konsumen tentang produk tersebut (Hoyer, dkk., 2013).
Penguatan system visual tidak terlepas dengan adanya stimulus–stimulus auditory yang terdiri dari musik dan noises.
Pendengaran akan memproses informsasi untuk dilanjutkan pada system bagian otak yang mengatur emosi, sehingga dapat mengartur perasaan konsumen. Hal tersebut akan mendorong adanya proses emosional dalam menentukan perilaku pembeliannya terhadap produk (Khurniawan, dkk, 2017).
Disisi lain message framing dalam sebuah tagline pada suatu iklan memegang peranan penting.
Menurut Nuradi, dkk (1996) tagline adalah kalimat singkat sebagai penutup teks inti yang menyimpulkan secara singkat tujuan komunikasi suatu iklan. Artinya tagline memegang isi keseluruhan pesan iklan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Chen (2016) dikatakan bahwa pesan penutup yang dipadu dengan emotional framing
dari sebuah iklan memiliki pengaruh positif untuk dapat mengendalikan emosi.
Dinamisnya pertumbuhan komunikasi pemasaran termasuk emotional marketing tersebut tidak bisa dipisahkan dengan sebuah fenomena perkembangan teknologi informasi yang berbasis online khususnya di Indonesia. Hasil survey yang telah dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia) pada tahun 2018 lalu mengungkapkan bahwa kurang dari 15 tahun 64,8 masyarakat Indonesia telah terkoneksi dengan internet.
Menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia) alasan terbesar masyatrakat Indonesia menggunakan internet adalah untuk jejaring sosial (19,1%) dan text message (16,4%). Hal ini membuktikan bahwa masyarakat di Indonesia lebih gemar mengakses media sosial ketika mendapatkan konektivitas internet. Media sosial dapat membuat seseorang memiliki web page pribadinya untuk terhubung, berkomunikasi, serta membagi informasi yang dimiliki tanpa batas jarak dan waktu
(Glennardo, 2016). Sehingga wajar saja lembaga dan perusahaan memilih untuk menggunakan komunikasi pemasaran pada era ini dengan pendekatan efektif melalui media sosial.
Dewasa ini tidak hanya perusahaan atau lembaga profit yang menerapkan strategi komunikasi pemasaran berbasis sosial media untuk menjangkau konsumen namun badan amal maupun organisasi non profit juga telah memulai langkah tersebut. Fenomena ini terjadi karena badan amal maupun organisasi non profit membutuhkan jangkauan yang lebih luas dan efektif untuk menarik keinginan masyarakat agar dapat berkontribusi dalam donasi pada project-project amal.
Salah satu organisasi non- profit tersebut yaitu Kitabisa.com Berdiri sejak Juli 2013, Kitabisa.com telah mengumpulkan 193 Miliyar dan terus naik hingga 430 Miliyar pada 2018. Platform ini telah berhasil membantu lebih dari 17000 project amal.
Kitabisa.com mencoba mempertahankan nilai emosional dalam melakukan penyampaian
tujuan donasi kepada publik dengan membuat cerita dan video yang menunjukkan keadaan sebenarnya dari orang-orang yang membutuhkan bantuan donatur. Media platform Kitabisa.com menggunakan pendekatan pemasaran online dalam menyampaikan cerita dibalik project serta memberi tagline penutup untuk menyimpulkan pesan dari iklan donasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) donasi adalah sebuah pemberian pada umumnya bersifat secara fisik oleh perorangan atau badan hukum.
Pemberian ini mempunyai sifat sukarela dengan tanpa adanya imbalan bersifat keuntungan.
Li (2017) dalam
penelitiannya menyatakan bahwa individu akan melalui sebuah proses yang mendorong seseorang dalam minat berdonasi. Minat tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek internal dan eksternal yang dialami seorang donator. Aspek tersebut membentuk sebuah faktor spesifik yang mempengaruhi diri seorang donatur. Proses ini tidak terlepas dengan penyampaian nilai pada
donator yang dapat terpengaruhi setelah terpapar dengan teknik komunikasi pemasaran proyek donasi di badan amal. Ini merupakan sebuah temuan yang dapat membantu badan amal merencanakan pemasaran yang lebih efektif.
(Hoyer, dkk, 2013).
Sebuah penelitian mengatakan bahwasannya memberi dan berdonasi dapat membuat orang merasa menjadi lebih bahagia (Wendy Liu dan Jennifer, 2008).
Pikiran positif dan pemikiran dalam pendekatan emosional mampu mengubah pemikiran seseorang tentang kontribusi uang dengan proses donasi tersebut. Warren Buffet, salah satu orang terkaya di dunia, pada tahun 2010 menyumbangkan 99% kekayaannya, dan menyatakan bahwa ia tidak dapat lebih bahagia kecuali dengan melaksanakan keputusan tersebut.
Namun Hoyer mengatakan bahwa pertimbangan nilai moneter pada akhirnya menghasilkan kontribusi amal yang lebih rendah.
Keinginan tingkat emosional yang bisa ditunjukkan melalui niat berdonasi menjadi pesaing untuk bisa
mempertahankan keinginan tersebut.
Hal ini pada akhirnya menjadi alasan yang saling kontradiktif pada keputusan seorang donatur dalam melakukan perilaku berdonasi.
Melihat adanya permasalahan dan bagaiaman potensi emotional marketing mampu mempertahankan factor emosional pendorong psikologi donatur untuk berdonasi di Kitabisa.com maka penulis akan meneliti tentang “Pengaruh Emotional Marketing terhadap Donation Intention (Studi pada Iklan di Media Platform Crowdfunding Kitabisa.com)”.
KAJIAN PUSTAKA Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran adalah proses manajemen suatu perusahaan untuk melakukan dialog kepada berbagai audiens perusahaan,
dengan mengembangkan,
menyampaikan, dan mengevaluasi serangkaian pesan kepada kelompok stakeholder yang teridentifikasi (Fill, 1999). Marketing communication tools adalah perantara komunikasi perusahaan dalam memasarkan dan
mengenalkan barang atau jasa mereka.
Marketing communication tools yang biasa digunakan oleh pemasaran di antaranya adalah advertising, sales promotion, public relation, personal selling, on-line marketing, dan direct marketing.
Emotional Appeal
Emotional appeal (daya tarik emosional) adalah metode persuasi yang dirancang untuk menciptakan respons emosional. Emosi dikenal sebagai pathos atau penderitaan dalam bahasa Yunani merupakan salah satu dari tiga cara persuasi yang diidentifikasi oleh Aristoteles.
Dua lainnya adalah logo, atau logika, dan etos, atau otoritas. Banding emosional dianggap sebagai kekeliruan, atau kesalahan dalam bernalar, karena mereka memanipulasi emosi dalam audiensi (Firestone, 2018).
Daya tarik emosional diarahkan untuk mempengaruhi dan memanipulasi emosi penerima daripada logika yang sah untuk memenangkan argument. Dalam daya tarik emosional, bahasa
persuasif digunakan untuk mengembangkan fondasi daya tarik untuk argumen berbasis emosi (lumenlearnig, 2018).
Emotional Marketing
Pemasaran emosional, sebagai konsep pemasaran baru, berkembang dalam konteks konsep pemasaran kontemporer. Konsep ini berfokus pada pentingnya hubungan emosional antara perusahaan dan konsumen yang dipengaruhi oleh sistem nilai-nilai karakteristik dan kebutuhan konsumen kontemporer dalam membentuk budaya konsumsi baru. Kebutuhan emosional dalam lingkungan konsumsi disampaikan sebagai prasyarat dasar. Asumsi utama untuk pembentukan konsep ini melalui karakteristik aspek nilai sosial masyarakat kontemporer , karena nilai memungkinkan mengidentifikasi insentif "nyata"
individu di pasar dalam pertukaran dengan perusahaan yang atau produk yang dipilih ( Rytel, 2009).
Berdasarkan aspek ini, nilai- nilai sosial mencerminkan perilaku orang dan tujuan serta kecenderungan mereka yang
dipengaruhi oleh tidak hanya insentif biaya-manfaat yang ditentukan dengan jelas, tetapi juga kebutuhan emosional individu di pasar. Usaha tersebut akan membuat pelanggan merasa berharga dan diperhatikan, yang pada akhirnya akan membuat mereka loyal terhadap perusahaan.
Menurut Grisaffe (2011) dalam Badri (2011) pemasaran emosional merupakan aspek penting dalam menjalin interaksi yang baik dengan konsumen sehingga ikatan emosional dengan konsumen menjadi lebih stabil. hubungan emosional antara perusahaan dan konsumen (atau pemain pasar lainnya) menjadi fitur utama yang merangsang pertukaran. Budaya konsumsi kontemporer diserap dengan simbol mengubah rantai penciptaan nilai, menggantikan atribut pertukaran yang ditentukan secara rasional dengan yang emosional, (Rytel, 2009).
Stimulus Visual
Stimulus visual dapat berfungsi sebagai sistem pengendali yang memengaruhi suasana hati konsumen. Penelitian secara umum
mendukung pandangan bahwa gambar-gambar yang menyenangkan dapat memengaruhi iklan dan sikap ketika mereka diproses secara terpisah, di luar efek yang mereka miliki terhadap kepercayaan konsumen tentang produk tersebut (Hoyer, dkk., 2013).
Stimulus Visual tidak hanya terbatas pada simbol-simbol ataupun gambar namun juga melalui cerita- cerita dan tulisan yang dibagikan oleh pemasar.
Stimulus Auditori
Stimulus–stimulus auditory yang terdiri dari musik dan noises ditangkap pendengaran konsumen. Pendengaran akan memproses informsasi dan mengirimkannya ke otak yang mengatur emosi, sehingga dapat mempengaruhi perasaan konsumen.
Hal tersebut akan mendorong adanya proses emosional dalam menentukan perilaku pembeliannya terhadap produk (Khurniawan, dkk, 2017).
Penggunaan iklan dengan latar belakang musik diharapkan akan dapat menarik perhatian konsumen sehingga konsumen dapat
mengingat merek dan pesan-pesan yang disampaikan, sampai pada akhirnya konsumen melakukan pembelian atas produk tersebut (Purnama dan Setyowati, 2003).
Message Framing (Tagline)
Tagline merupakan suatu ungkapan pendek berisi pesan yang padat dan mudah diingat. Menurut Nuradi dkk (1996) tagline adalah kalimat singkat sebagai penutup teks inti yang menyimpulkan secara singkat tujuan komunikasi suatu iklan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chen (2016) dikatakan bahwa pesan penutup yang dipadu dengan emotional framing dari sebuah iklan memiliki pengaruh positif dalam mengendalikan donator untuk mau memberikan donasi.
Minat
Pengertian minat menurut bahasa (Etimologi), ialah usaha dan kemauan untuk mempelajarai (learning) dan mencari sesuatu.
Secara (Terminologi), minat adalah keinginan, kesukaan dan kemauan terhadap sesuatu hal. Secara sederhana, minat (interest) berarti
kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
Minat mengandung unsur- unsur yang terdiri dari kognisi (mengenal), emosi (perasaan), dan konasi (kehendak). Unsur kognisi, dalam arti minat itu didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai objek yang dituju oleh minat tersebut. Unsur emosi karena dalam partisipasi atau pengalaman itu disertai dengan perasaan tertentu (perasaan senang) sedangkan unsur konasi merupakan kelanjutan dari kedua unsur tersebut yaitu yang diwujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah.
Minat Donasi (Donation Intention) Sumbangan atau derma (Inggris: donation yang berasal dari Latin: donum) sebuah pemberian pada umumnya bersifat secara fisik oleh perorangan atau badan hukum, pemberian ini mempunyai sifat sukarela dengan tanpa adanya imbalan bersifat keuntungan.
Pemberian donasi dapat dilakukan
tidak hanya dalam bentuk pemberian jasa atau barang semata akan tetapi sebagaimana dapat dilakukan pula dalam bentuk pendanaan kehendak bebas.
Organisasi Giving Pledge meyakini bahwa kainginan berdonasi adalah sebuat niat untuk menyisihkan sebagian sampai seluruh harta yang mereka miliki demi kemanusiaan.
Keinginan untuk berdonasi menurut Pizarro (2000) dalam sudut penilaian moral merupakan perilaku altruistic terhadap relevansi reaksi empatik serta regulasi emosi.
Crowdfunding
Definisi sederhana dari Crowdfunding adalah proyek atau usaha dengan cara patungan / mengumpulkan sejumlah uang dari sejumlah orang. Kampanye crowdfunding didanai oleh masyarakat umum. Termasuk di antaranya adalah teman, keluarga, rekan kerja, dan siapa pun yang berhasil terhubung dengan ide Anda (Aditama, 2018).
Umumnya, crowdfunding dib entuk dalam sebuah platform web . Ada tiga pihak yang terlibat
dalam platform crowdfunding, yaitu project owner, supporter (publik yang memberikan dukungan dana), dan penyedia platform.
Konsep Hipotesis
Gambar 2.1. Konsep Hipotesis
Sumber: Peneliti, 2019 H1: Stimulus visual berpengaruh
signifikan terhadap Donation Intention pada Media Platform Kitabisa.com.
H2: Stimulus auditori berpengaruh signifikan terhadap Donation Intention pada Media Platform Kitabisa.com
H3: Message Framing (Tagline) berpengaruh signifikan terhadap Donation Intention pada Media Platform Kitabisa.com.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan metode penelitian eksplanatori dengan survey yang dilaksanakan
secara online kepada pengguna sosial media yang pernah terpapar komunikasi pemasaran (iklan) platform Kitabisa.com.
Penelitian dikategorikan dalam infinite population (populasi tak terhingga) dikarenakan jumlah populasinya yang tidak dapat diketauhi secara pasti dengan sample penelitian minimal 100 orang.
Sampling menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria Responden telah berusia minimal 18 tahun dan pernah melihat iklan media platform Kitabisa.com minimal satu kali.
Sumber data penelitian ini menggunakan media kuisioner dan data sekunder melalui informasi yang dikumpulkan dari catatan perusahaan, publikasi pemerintah, media, situs Web, dan internet. Data tersebut lalu diolah menggunakan SPSS 25.0 untuk melakukan uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, uji F dan uji t.
HASIL PENELITIAN Karakteristik Responden
Responden mayoritas berjenis kelamin perempuan dengan
persentase 70% dengan rentang usia didominasi 21-24 tahun. Pendidikan terakhir SMA/SMK/MA memiliki persentase tertinggi dengan nili 52%
dikarenakan responden sebagian besar adalah mahasiswa yang sedang menempuh S1. Pendapatan responden terbanyak bernilai dibawah Rp 1.000.000 dengan nilai 47%.Sebanyak 53% responden penelitian ini pernah melihat lebih dari 3 kali iklan kitabisa.com. Iklan tersebut disaksikan paling banyak melalui media instagram.
Pengujian Hipotesis
Pengaruh Stimulus visual terhadap Donation Intention
Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan uji t dapat diketahui bahwa variabel stimulus visual mempunyai pengaruh positif terhadap variabel donation intention.
Hasil penelitian pada responden menunjukkan nilai koefisien pada t hitung sebesar 3,226 dengan nilai signifikansi 0,002. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa H0 ditolak dan
H1 diterima yang
mengintepretasikan stimulus visual mempunyai pengaruh terhadap
donation intention pada Media Platform Kitabisa.com.
Pengaruh Stimulus auditori terhadap Donation Intention
Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan uji t dapat diketahui bahwa variabel stimulus visual menunjukkan hasil penelitian dengan nilai koefisien pada t hitung sebesar 0,185 dengan nilai signifikansi 0,853.
Hal ini membuktikan bahwa hasil analisis menunjukkan nilai uji t
< t hitung dan signifikan >0,05. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa H0 diterima dan H2 ditolak yang mengintepretasikan stimulus auditori tidak mempunyai pengaruh terhadap donation intention secara parsial
Pengaruh Message Framing (Tagline) terhadap Donation Intention
Hasil analisis statistik menggunakan uji t dapat diketahui bahwa variabel message framing mempunyai pengaruh positif terhadap variabel donation intention.
Hasil penelitian pada responden menunjukkan nilai koefisien pada t
hitung sebesar 2,335 dengan nilai signifikansi 0,021.
Hasil tersebut dapat diartikan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang mengintepretasikan variabel message framing mempunyai pengaruh terhadap donation intention pada Media Platform Kitabisa.com.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Emotional marketing yang diukur menggunakan stimulus visual , stimulus auditori dan message framing berpengaruh secara signifikan terhadap donation intention. Hal ini memiliki arti bahwa iklan di media platform kitabisa.com mampu mempengaruhi emotional seseorang untuk berempati untuk berdonasi.
2. emotional marketing terhadap donation intention sangat dipengaruhi oleh informasi visual gambar, foto, video dan cerita yang dibentuk sebagai pesan untuk penonton iklan kitabisa.com.
3. Stimulus Auditori pada iklan kitabisa.com tidak memiliki
pengaruh secara parsial. Hal ini dikarenakan musik akan mempengaruhi kebutuhan manusia diikuti faktor-faktor
lain yang mampu
menggerakkan emosi penonton.
Saran
1. Kitabisa.com harus bisa menyasar ke layanan pada masyarakat semua lapisan umur seperti website dan email dikarenakan pada masyarakat usia diatas 30 tahun adalah generasi yang sering menggunakan tersebut dan potensial.
2. Pematangan konsep yang terfokus pada gambar, video, dan informasi proyek sangat dibutuhkan untuk tetap memeprtahankan kualitas emotional marketing pada iklan kitabisa.com
3. Elemen musik (stimulus auditory) membutuhkan perbaikan sehingga mampu mendukung kesatuan dari emotional marketing pada iklan.
4. Kepercayaan Para donatur perlu tetap dijaga dengan menyediakan penggalangan dana yang mudah, informtif, dan accountable.
5. Peneliti selanjutnya yang memiliki topik serupa dapat memperluas kajian dengan menambahkan variabel lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arianto, D. A. N., & Mulyani, S.
(2007). Pengaruh Lingkungan Internal, Lingkungan Eksternal, Respon Emosional Dan Respon Rasional Terhadap Perpindahan Merek (Studi Pada Remaja Konsumen Sabun Mandi Di Swalayan Saudara Jepara).
Jurnal Dinamika Ekonomi &
Bisnis, 4(2).
Badri, Munir. 2011. Pengaruh
Pengalaman dan Keterikatan Emosional Pada Merk Terhadap Loyalitas
Konsumen. Jurnal
Manajemen Teori dan Terapan 4(3): 1-12.
Belch, G.E. & Belch, M.A. (2004) Advertising and Promotion:
An Integrated Market ing Communication Perspective.
Boston: McGraw Hill-Irwin.
C. Sweeney, Jillian & Wyber, Fiona.
(2002). The role of cognitions and emotions
in the musik‐approach‐
avoidance behavior relationship, viewed 20 Juli 2019.https://www.emerald.co m/insight/content/doi/10.110 8/08876040210419415/full/ht ml
Chang, C.-T., & Lee, Y.-K. (2009).
Framing Charity Advertising:
Influences of Message Framing, Image Valence, and Temporal Framing on a Charitable Appeal1. Journal of Applied Social Psychology, 39(12), 2910–
2935.
doi:10.1111/j.15591816.2009 .00555.x, viewed 19 Juli
2019, <sci-
hub.tw/10.1111/j.1559- 1816.2009.00555.x>
Chen, S., Thomas, S., & Kohli, C.
(2016). What Really Makes a Promotional Campaign Succeed on a Crowdfunding Platform? Journal of Advertising Research, 56(1), 81–94. doi:10.2501/jar-2016- 002, viewed 20 Juli 2019,
<sci-hub.tw/10.2501/JAR- 2016-002>
.
Eerola, Tuomas, Friberg, Anders, &
Bresin, Roberto. (2013).
Emotional expression in musik: contribution, linearity, and additivity of primary
musical cues,
https://www.frontiersin.org/ar ticles/10.3389/fpsyg.2013.00 487/full
Khurniawan, Dimas, Wulandari, Deasy, & Dimyati, Mohammad. (2017). The Impact of Sensory Branding’s Elements on Consumer’s Decision MakingBehavior of Buying Aqua With
Neuromarketing Approach In Jember, viewed 20 Juli 2019,
<https://jurnal.unej.ac.id/inde x.php/e-
JEBAUJ/article/view/4572/33 78>
Li, Y.-Z., He, T.-L., Song, Y.-R., Yang, Z., & Zhou, R.-T.
(2017). Factors impacting donors’ intention to donate to charitable crowd-funding projects in China: a UTAUT- based model. Information, Communication & Society, viewed 20 Juni 2019. <sci- hub.tw/10.1080/1369118x.20 17.1282530>
Liu, W., & Aaker, J. (2008). The Happiness of Giving: The Time-Ask Effect. Journal of Consumer Research, 35(3), 543–557.
doi:10.1086/588699, <sci- hub.tw/10.1086/588699>
Merchant, A., Ford, J. B., &
Sargeant, A. (2010).
Charitable organizations’
storytelling influence on
donors’ emotions and intentions. Viewed 14 Mei
2019, <sci-
hub.tw/10.1016/j.jbusres.200 9.05.013>
Nuradi. dkk. 1996. Kamus Istilah Periklanan Indonesia. Edisi Pertama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pizarro, D. 2000. Nothing more than feelings? The role of emotions in moral judgments.
Journal of the Theory of Social Behavior, 30, 356-375.
Purnama, Nursya’ Bani & Ratih Setyowati. 2003. Pengaruh Iklan Televisi Menggunakan Background Musik Terhadap Recall Audience: Fakultas Ekonomi.
https://journal.uii.ac.id/Sinerg i/article/view/915/845
Rytel, T. (2010). Emotional
marketing concept: The new marketing shift in the postmodern era. Verslas:
teorija ir praktika, (1), 30-38.
Scherer, K. R., & Oshinsky, J. S.
(1977). Cue utilization in emotion attribution from auditory stimuli. Motivation and Emotion, 1(4), 331–346.
doi:10.1007/bf00992539, viewed 19 Juli 2019, <sci- hub.tw/10.1007/BF00992539
>
Van Trijp, Hans, Wayne Hoyer dan Jeffrey Inman, 1996, “Why Switch? Product level Explanation for true Variety- Seeking Behavior, Journal of The Market Research Society, Vol. XXVI.
Wayne D.Hoyer, Deborah, & Pieters, 2013, Consumer Behavior, 7th, South Western, USA