PENDAHULUAN
LatarBelakang
RumusanMasalah
TujuanPenelitian
ManfaatPenelitian
TINJAUAN PUSTAKA
KajianPustaka
- KonsepPemerintah Daerah
- KonsepDewanPerwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
- Formulasi KebijakanPublik
- KonsepRencana Tata Ruang Wilayah
Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Tingkat II yang produk akhirnya disebut Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RUTRD) atau Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tingkat II. Rencana Tata Ruang Wilayah Tingkat II yang produk akhirnya disebut Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK).
KerangkaPemikiran
Dunn (1999) berpendapat bahwa formulasi kebijakan yang baik akan memudahkan dan sangat berguna bagi analis kebijakan untuk mengidentifikasi asumsi-asumsi yang tersembunyi, mendiagnosis penyebab permasalahan publik dan mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perumusan kebijakan penataan ruang harus menjadi hal yang sangat penting sebagaimana disyaratkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. .
DefinisiOperasional
26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan bahwa pengaturan Penataan Ruang merupakan upaya untuk menetapkan landasan hukum bagi Pemerintah, Pemerintahan Daerah, dan masyarakat dalam Penataan Ruang pasal 1 ayat 9. Undang-undang ini menyatakan bahwa pemerintahan daerah provinsi dan perencanaan tata ruang provinsi penataan ruang kawasan strategis ketentuan pasal 10 angka 2 huruf a dan angka 3 huruf b. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam hal ini Partai Eksekutif dan Legislatif merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah sekaligus perumus dan pendukung dalam penyusunan rencana tata ruang bersama dengan Partai Politik, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Tokoh Masyarakat sebagai unsur masyarakat. serta faktor pendukung percepatan perumusan kebijakan pemerintah dalam penyusunan Kebijakan Penataan Ruang Daerah sebagai landasan hukum proses pembangunan, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Proses perumusan kebijakan atau lebih sering disebut proses politik yang dilakukan antara pihak eksekutif dan legislatif (anggota Panitia Khusus RTRW) mulai dari jabatan fraksi hingga rapat paripurna DPRD dalam perumusan Kebijakan Penataan Ruang hingga prosesnya pengambilan keputusan bersama sebagai produk kebijakan pemerintah daerah dalam proses pembangunan.
Faktor penghambat dalam perumusan kebijakan ini antara lain perubahan hutan lindung yang terjadi di Provinsi Sulawesi Barat khususnya di Polewali Mandar, dimana data BAPENAS dan Kementerian Kehutanan mengakibatkan sengketa data seluas ±600.000 ha dari 1.700.000 ha. Kurangnya komunikasi politik yang dimaksud lebih berkaitan dengan proses perumusan kebijakan ini, sehingga banyak anggota pansus yang tidak hadir dalam proses perumusan kebijakan ini, terbukti dari temuan penulis dalam berita acara pansus. dan eksekutif. pertemuan. Faktor kedua yang mendukung implementasi kebijakan adalah kejelasan, yaitu instruksi implementasi kebijakan tidak hanya dapat diterima oleh pelaksana kebijakan saja, namun komunikasinya juga harus jelas. Faktor ketiga yang mendukung implementasi kebijakan adalah konsistensi, yaitu jika ingin implementasi kebijakan efektif maka petunjuk pelaksanaannya harus konsisten dan jelas.
Sumber daya manusia (SDM) penting yang mendukung implementasi kebijakan antara lain: staf yang memadai dan keterampilan yang baik untuk menjalankan tugasnya, wewenang dan kapasitas yang dapat mendukung proses implementasi perumusan kebijakan. Pasalnya, Ketua Komisi Khusus Penataan Ruang Daerah mengakui anggaran RTRW cukup besar sehingga tidak lagi mengandalkan anggaran.
METODE PENELITIAN
MetodePenelitian
LokasiPenelitian
JenisdanDesainPenelitian
Informan
Risalah Rapat Pansus DPRD Provinsi Sulawesi Barat tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat. Ingin mengetahui sejauh mana hubungan pemerintah daerah (eksekutif) dan DPRD dalam merumuskan kebijakan penataan ruang daerah Provinsi Sulawesi Barat. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keterlambatan pengesahan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Barat pertama kali dibentuk dan ditetapkan berdasarkan hasil Pemilihan Umum tahun 2004. Secara teknis, tugas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Barat dalam kaitannya dengan penataan ruang ditangani langsung oleh DPRD. Bagian Penataan Ruang dan Prasarana Fisik. Berdasarkan hasil penelitian penulis, rapat Panitia Khusus pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Penataan Ruang Daerah Provinsi Sulawesi Barat telah dilaksanakan sebanyak 4 (empat) kali.
Perencanaan Fisik Pekerjaan Umum dan Kehutanan di ruang rapat Badan Perencanaan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, berikut petikan pernyataan Ketua Pantus RTRW Provinsi Sulawesi Barat. Rancangan Peraturan Daerah tentang Penataan Ruang Daerah Provinsi Sulawesi Barat bertentangan dengan PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang”. Yang jelas DPRD Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dalam hal ini panitia khusus RTRW masih tetap berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan rancangan peraturan daerah ini menjadi peraturan daerah. Kalaupun ada kekurangan, kami akan terus melakukan perbaikan sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak segera mengesahkannya. RTRW ini sudah menjadi peraturan daerah (PERDA), meski harus diakui masih terdapat beberapa kendala khususnya di hutan lindung, hingga saat ini kami masih melakukan upaya klarifikasi dan validasi data terkait RTRW Sulbar dengan Direktorat Jenderal (Dit).
Pada tanggal 23-30 September 2010 telah dilakukan upaya penandatanganan peta usulan rancangan peraturan daerah tentang penataan ruang provinsi Sulawesi Barat. Badan Perencanaan Daerah, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kehutanan dan panitia khusus RTRW merupakan pemain sentral dalam proses perumusan kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat. Setelah penulis mencoba sesuai dengan kemampuan yang ada untuk menyelesaikan karya ini dengan judul: “Hubungan Pemerintah Daerah dan DPRD dalam Perumusan Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat.
TeknikPengumpulan Data
TeknikAnalisis Data
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
- ProfilProvinsi Sulawesi Barat
- ProfilInstansiObyekPenelitian
HUBUNGAN PEMERINTAH DAERAH (EKSEKUTIF) DAN
Rapat menyepakati Raperda tersebut dan akan dibahas sesuai mekanisme yang ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD Provinsi Sulawesi Barat. Pada pembahasan selanjutnya, RAPERDA Rencana Tata Ruang Daerah (RTRW) dibahas oleh Panitia Khusus (PANSUS) yang dibentuk oleh Pimpinan DZHRB bersama Ketua Daerah atau Pejabat yang ditunjuk oleh Ketua Daerah (gubernur). . Dalam rapat Komisi Khusus Peraturan Tata Ruang Daerah tersebut, selain DZHR dan eksekutif sebagai lembaga yang mempunyai kewenangan membuat peraturan daerah, turut hadir pula partai politik, lembaga swadaya masyarakat, serta tokoh dan tokoh. rencana tata ruang wilayah Provinsi Sulawesi Barat - tokoh masyarakat.
Sejak terbentuknya panitia khusus RTRW Provinsi Sulawesi Barat, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Pimpinan DPRD Provinsi Sulawesi Barat Nomor: 40 Tahun 2010 tentang Pembentukan Pimpinan dan Anggota Pansus RTRW Provinsi Sulawesi Barat. pembahasan rancangan peraturan daerah terkait penataan ruang daerah yang mengangkat dr. Namun hal tersebut menemui kendala dalam persetujuan permohonan perubahan kawasan hutan.Tertundanya penyusunan Peraturan Tata Ruang Daerah Provinsi Sulawesi Barat tentang perubahan hutan lindung yang terdaftar di Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS hektar terdiri dari 13 KPH ( Kesatuan Pengelolaan Hutan) menjadi 1.100.000 hektar. Selain itu, Ketua Pansus Penataan Ruang Daerah Provinsi Sulawesi Barat mengatakan, tertundanya penyelesaian rancangan peraturan daerah tentang rencana tata ruang daerah berarti berubahnya hutan lindung menjadi kawasan pemukiman, berikut petikan pernyataan Ketua Pansus RTRW Provinsi Sulawesi Barat.
Lebih lanjut Ketua Pansus menambahkan akan serius dan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan rancangan Peraturan Daerah RTRW Provinsi Sulawesi Barat, berikut petikan pernyataan Ketua Panitia Khusus RTRW Provinsi Sulawesi Barat. Sementara dari sisi menyambut, seluruh proses perumusan kebijakan rancangan peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat relevan dengan konsep konsultatif dan persuasif.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERHAMBATNYA
Dukungan sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam proses perumusan kebijakan RTRW, dari pengamatan penulis bahwa seluruh anggota Pansus, BAPPEDA, Departemen Pekerjaan Umum dan Dinas Kehutanan semuanya memiliki latar belakang pendidikan formal yang cukup sehingga memang harus ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. anggota pansus tersebut bukan berdasarkan latar belakang pendidikan dan profesinya, namun sejauh pengamatan penulis tidak ditemukan faktor yang menjadi kendala dalam proses perumusan kebijakan perencanaan fisik daerah provinsi Sulawesi Barat. Rencana perencanaan fisik daerah tersebut cukup sah menurut aturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Barat, dimana anggota panitia khusus RTRW telah mewakili masing-masing fraksi yang ada, sehingga dianggap sebagai kebutuhan dalam penyusunan rancangan peraturan daerah tersebut, antara lain pembahasan rancangan peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat. Perubahan hutan lindung dalam proses perancangan tata ruang wilayah menjadi faktor yang memperlambat proses pengesahan ketentuan daerah tentang RTRW. Hal ini terlihat dari hasil observasi data dan hasil wawancara penulis dengan ketua pansus. dan Badan Pelaksana dalam hal ini Badan Perencanaan Daerah, Departemen Tenaga Kerja, Pekerjaan Umum, dan Kehutanan.
Dari data yang penulis temukan, kendala serius yang dihadapi komisi khusus dan eksekutif dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah ini lebih banyak terkait dengan status hutan lindung, dimana menurut data Bappenas dan Dinas Kehutanan, terjadi perubahan hutan lindung di kawasan pemukiman, tercatat 1.700.000 diantaranya. Ha hutan lindung di Sulawesi Barat berubah menjadi 1.100.000 Ha. Kurang berkembangnya komunikasi politik yang disebutkan penulis adalah kurangnya intensitas pemerintah daerah, termasuk pansus, berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Kementerian Kehutanan di Jakarta, untuk mendapatkan persetujuan secepatnya dan lebih banyak lagi. setelah pengiriman. menyampaikan kepada anggota DPR RI agar proses koreksi dan persetujuan segera diselesaikan oleh Dewan. Dari hasil penelitian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa terdapat faktor-faktor yang menghambat proses pengesahan Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi.
Faktor terakhir adalah proses pengaturan Sungai Larian, dimana hulu sungai tersebut berada dalam wilayah administratif provinsi Sulawesi Tengah, sedangkan muara Sungai Larian berada dalam wilayah administratif provinsi Sulawesi Barat. Hingga saat ini, rancangan peraturan daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat berada di Kementerian Kehutanan untuk mendapat persetujuan Menteri Kehutanan dan kemudian diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) untuk persetujuan dan kemudian diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Barat untuk dijadikan peraturan daerah.
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam pemerintahan daerah, baik eksekutif maupun legislatif mempunyai peran sebagai penggerak roda pemerintahan. Dalam kaitannya dengan perumusan kebijakan dalam bentuk peraturan daerah, pemerintah daerah (eksekutif) dan DPRD (legislator) merupakan mitra kerja. Kedua lembaga ini membahas rancangan peraturan daerah untuk mendapat persetujuan bersama, setelah itu rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama tersebut disahkan dan kemudian diundangkan.
Saran