SURAT KREDIT BERDOKUMEN DALAM NEGERI (SKBDN)
(Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Akuntansi Perbankan dan Lembaga keuangan lainnya) Dosen pengampu : Dr Haris Resmawan, SE., M.Ak., CA.
Disusun oleh:
Lutfi Riseliandro Ferdinand (214020027) Fadhilah Layla (214020028)
Kelompok 11 Kelas 21AKA
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PASUNDAN 2022-2023
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb Puji syukur atas Rahmat & Ridho Allah SWT, karena tanpa Rahmat & Ridho Nya, saya tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan selesai tepat waktu.
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Dr. Haris Resmawan, SE., M.Ak., CA. selaku dosen mata kuliah Akuntansi Perbankan dan Lembaga keuangan lainnya. Dalam makalah ini saya menjelaskan tentang Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca.
Mungkin dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan yang belum saya ketahui. Maka dari itu saya mohon saran & kritik dari teman-teman maupun dosen. Demi tercapainya makalah yang sempurna. Wassalamualaikum Wr. Wb.
Bandung, 06 Juni 2023
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar... 2
Daftar Isi... 3
BAB 1 PENDAHULUAN... 4
BAB 2 PERMASALAHAN... 6
BAB 3 PEMBAHASAN... 7
BAB 4 Contoh Soal... 29
BAB 5 PENUTUP... 30
DAFTAR PUSTAKA... 31
BAB 1 PENDAHULUAN
Lalu lintas perdagangan antar kota atau antar wilayah menghendaki suatu jaminan pembayaran atas barang-brang yang diperdagangkan. Penjual dan pembeli harus saling mempercayai dalam memenuhi kewajibannya. Pihak penjual memerlukan kepastian akan
pembayaran dan berkewajiban menyerahkan barang aau jasa yang sesuai dengan perjanjian dengan pihak pembeli. Pihak pembeli pun memerlukan kepastian bahwa barang yang dibeli sesuai dengan apa yang telah disetujui kedua belah pihak dan berkewajiban untuk membayar atas barang atau jasa yang telah dibelinya.
Jasa perdagangan yang dapat diberikan untuk memperlancar transaksi perdagangan dalam negeri adalah menerbitkan Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau sering dikenal dengan Letter of Credit (L/C) dalam negeri.
SKBDN pada prinsipnya sama dengan letter of credit yang digunakan dalam perdagangan luar negeri, yang membedakannya adalah wilayah kepabeannya dan valuta yang digunakan. SKBDN digunakan dalam negeri dengan valuta rupiah, sedangkan L/C berlaku untuk seluruh dunia dan bervaluta asing. Bank yang menerbitkan SKBDN akan memberikan jaminan pembayaran kepada cabang atau bank lain untuk membayar sejumlah uang tertentu yang telah ditentukan dalam SKBDN. Bank penerbit merupakan bank nasabah pembeli barang, sedangkan bank pembayar merupakan bank penjual barang. Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 5/6/PBI/2003 Tentang Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri, bahwa yang dimaksud dengan SKBDN adalah Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau lazim dikenal sebagai Letter of Credit (L/C) Dalam Negeri adalah setiap janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis pemohon (applicant) yang mengikat Bank Pembuka (Issuing Bank) untuk :
a. Melakukan pembayaran kepada penerima atau ordernya, atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh penerimanya,
b. Memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima atau ordernya, atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh penerima,
c. Memberi kuasa kepada bank lain untuk menegosiasi wesel yang ditarik oleh penerima, atas penyerahan dokumen, sepanjang pesyaratan dan kondisi SKBDN dipenuhi.
Karena adanya jaminan dari bank penerbit SKBDN untuk melakukan pembayaran kepada nasabah penjual barang sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dalam SKBDN dan dokumen lainnya, nasabah penjualan barang memiliki landasan hukum kuat untuk melangsungkan transaksi penjualan barang atau jasa. Dipihak lain, bank dimana nasabahnya adalah nasabah pembeli barang mempunyai hak untuk menagih sejumlah uang tertentu atas pembelian barang atau jasa yang telah disepakati antara penjual dan pembeli dengan cara melalui setoran jaminan atas SKBDN yang diterbitkannya. Maksud bank menerbitkan SKBDN adalah untuk memberikan jaminan secara tertulis yang berlandaskan hukum, untuk melakukan pembayaran kepada pihak penjual barang, mengaksep atau menegosiasi wesel-wesel yang ditarik oleh penjual serta memberikan kuasa kepada bank lain melakukan pembayaran, mengaksep atau menegosiasi wesel-wesel.
Keuntungan yang dapat dinikmati oleh bank penerbit SKBDN antara lain dapat memperluas jasringan pelayanan kepada masyarakat sebagai perantara perdagangan dan sekaligus mendapatkan tambahan pendapatan berupa komisi dan sumber dana berpa setoran jaminan
BAB 2
PERMASALAHAN
Setelah membaca Penjelasan pada bab 1 pendahuluan, Maka dari itu kita harus juga mengetahui:
a. Apa itu SKBDN
b. Apa fungsi, tujuan, dan manfaat SKBDN
c. Apa saja syarat-syarat untuk menerbitkan SKBDN d. Bagaimana mekanisme dalam penerbitan SKBDN
e. Apa saja peranan dan kewajiban suatu bank dalam menangani dokumen SKBDN?
BAB 3 PEMBAHASAN
A. Definisi SKBDN
Surat kredit berdokumen atau L/C adalah jasa bank yang diberikan kepada masyarakat untuk memperlancar pelayanan arus barang, baik arus barang dalam negri (antar pulau) atau arus barang keluar negeri (exspor-impor).
Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau sering disebut LC local, adalah instrument yang dikeluarkan oleh bank (Issuing Bank), atas permintaan Applicant
(buyer/pembeli) yang berisi janji bank untuk membayar sejumlah uang kepada penerima atau Beneficiary (atau penjual/seller) apabila Issuing Bank menerima dokumen yang sesuai dengan syarat SKBDN. SKBDN dipergunakan untuk mendukung transaksi perdagangan di dalam negeri. Bank besar di Indonesia seperti Bank Mandiri, dapat melayani kebutuhan baik dari sisi Pembeli (Buyer) maupun Penjual (Seller).
SKBDN (Surat Berdokumen Dalam Negeri) atau sebelumnya dikenal sebagai L/C (Letter of Credit) Dalam Negeri adalah L/C yang dipergunakan untuk keperluan pembelian barang-barang di dalam negeri.
Adapun definisi SKBDN berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.
27/38/Kep/Dir, 1994, pasal 1 ayat 1 tertulis di bawah ini:
Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau lazim dikenal sebagai Letter of Credit (L/C) Dalam Negeri, adalah setiap janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis Pemohon (Applicant) yang mengikat Bank Pembuka (Issuing Bank) untuk:
1) Melakukan pembayaran kepada penerima atau ordernya, mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh penerima
2) Memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, mengaksep dan membayar wesel-wesel yang ditarik oleh penerima
3) Menegosiasi wesel yag ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen sepanjang persyaratan dalam SKBDN dipenuhi dan bank, pemohon serta penerima berkedudukan di dalam negeri.
Dari SK tersebut di atas dapat diperoleh gambaran, bahwa bank umum dapat memberikan jasa perbankan kepada nasabah berupa SKBDN untuk melakukan pembayaran kepada mitra dagangnya yang berkedudukan di dalam negeri. Dalam pelaksanaan penarikan dana/persyaratan pembayarannya kepada pihak beneficiary dari SKBDN tersebut dapat dilakukan dengan cara: (1) Akseptasi, (2) Atas Unjuk, dan (3) Negosiasi. Ketiganya dijelaskan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor: 5/6/PBI/2003 Tentang SKBDN.
B. Tujuan dan Manfaat SKBDN 1) Tujuan SKBDN
Tujuan SKBDN dipergunakan untuk memperlancar transaksi perdagangan di dalam negeri. Fasilitas yang diberikan adalah berupa penangguhan pembayaran dalam jangka waktu tertentu dalam rangka pelaksanaan transaksi perdagangan di dalam negeri yang menggunakan SKBDN.
Adapun tujuan Penerbitan SKBDN, Maksud dari bank menerbitkan L/C dalam negeri adalah untuk :
Memberikan jaminan secara tertulis yang berlandaskan hukum
Melakukan pembayaran kepada pihak penjual barang
Mengaksep atau menegoisasi wesel-wesel yang ditarik oleh si penjual
Memberikan kuasa kepada bank lain melakukan pembayaran,mengaksep,atau menegoisasi wesel-wesel.
2) Manfaat SKBDN
a. sebagai sarana untuk memperlancar transaksi perdagangan dalam negeri.
b. Penerima jaminan tidak akan menderita kerugian bila pihak yang dijamin melalaikan kewajiban karena penerima jaminan akan mendapat ganti rugi (pembayaran) dari bank
c. memperlancar arus pengadaan barang-barang di dalam negeri dari satu tempat ke tempat lainnya baik antarpulau, antarkota atau antar pihak-pihak dalam satu kota.
d. pengiriman barang lebih terjamin.
e. sebagai alternatif fasilitas pembiayaan.
f. bank melayani anda atau pengusaha yang berorientasi ekspor dalam memberikan fasilitas SKBDN baik untuk penerbitan maupun penerimaan SKBDN.
C. Pihak-pihak Terkait Pelaksanaan SKBDN
Pihak-pihak Terkait dalam Pelaksanaan SKBDN antara lain sebagai berikut:
a. penjual atau beneficiary: yang menerima SKBDN.
b. pembeli atau applicant: pemohon kredit yang mengajukan aplikasi SKBDN.
c. bank pembuka atau issuing bank: atau opening bank sebagai bank pembuka SKBDN.
d. bank penerus atau advising bank: bank yang meneruskan SKBDN kepada beneficiary. Bank di sini hanya bertindak sebagai perantara.
e. bank negosiasi atau confirming bank: bank yang melakukan konfirmasi atas permintaan issuing bank dan menjamin sepenuhnya pembayaran.
f. bank penerima atau paying bank: bank yang secara khusus ditunjuk dalam SKBDN melakukan pembayaran kepada beneficary
g. Ekpedisi: sebagai perusahaan pengankutan barang.
D. Mekanisme SKBDN
Dalam pelaksanaan SKBDN diawali dengan adanya perjanjian antara penjual dengan pembeli direalisasikan dalam bentuk sales kontrak, bila kontrak perjanjian jual beli telah ditandatangani dan disetujui pembayaran transaksi tersebut menggunakan SKBDN, maka pembeli mengajukan permohonan secara tertulis/aplikasi pembukaan SKBDN pada banker (opening bank) untuk menerbitkan SKBDN (Issuing Bank).
Setelah menerima permohonan pembukaan SKBDN, maka bank dengan berpedoman pada “hanya berurusan dengan dokumen dan bukan dengan barang” (sumber SK Bank Indonesia NO. 27/38/Kep/Dir/Th. 1994, pasal 4.1), melakukan penganalisisan permohonan tersebut.
Adapun dalam permohonan penerbitan SKBDN sekurang-kurangnya perlu dicantumkan/memuat tentang (sumber Peraturan Bank Indonesia No.5/6/PBI/2003 Tentang SKBDN, dalam pasal 6 ayat 2:
1. Nama jelas dan alamat pemohon.
2. Nama jelas dan alamat penerima.
3. Nilai SKBDN.
4. Syarat pembayaran apakah atas tunjuk, akseptasi atau negosiasi.
5. Rincian dokumen, seperti dokumen pengangkutan, asuransi, atau dokumen-dokumen lain yang dibutuhkan.
6. Tanggal berakhirnya pengajuan dokumen.
7. Tempat penyerahan dokumen untuk pembayaran atas unjuk, akseptasi atau negosiasi.
8. Tanggal penerbitan dan tanggal jatuh tempo SKBDN.
9. Media penerbitan SKBDN: surat telek, swift atau sarana lainnya.
10. Uraian barang.
11. Tanggal terakhir pengiriman barang.
12. Tempat tujuan pengiriman barang.
13. Pernyataan tunduk pada syarat-syarat umum Bank untuk penerbitan SKBDN.
Dalam keadaan akan menyetujui ataupun dalam tahap analisa kebonafitan dari nasabahnya, bank dapat menetapkan sendiri besarnya jaminan dan atau setoran tunai yang harus dipenuhi.
Bila pengajuan permohonan telah disetujui ataupun diputuskan untuk dikabulkan maka bank pembuka menerbitkan SKBDN dan kemudian diteruskan/advise pada bank penerus
(advising bank) untuk disampaikan kepada penjual sebagai rekan usaha nasabahnya.
Adapun penerbitan dari SKBDN tersebut harus jelas mencantumkan dengan kondisi apakah SKBDN:
1. Tidak dapat diubah/Irrevocable.
2. Atau dapat diubah/Revocable.
3. Atau “dapat dialihkan” atau “transferable”.
4. Ataupun dengan menggunakan syarat pembayaran dimuka/clause (bank harus
menetapkan setoran minimal tunai yang memadai dengan memperhatikan besarnya uang muka yang ditarik).
Satuan nilai mata uang untuk penerbitan SKBDN, pemohon dapat mengajukan dalam mata uang rupiah atau pun valuta asing (valas) yang mempunyai catatan kurs pada Bank Indonesia. Bagi pihak penjual setelah menerima SKBDN, maka kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan sebagai konsekuensi dari kredit tersebut, yaitu:
1. Menyiapkan komoditi/barang yang sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam SKBDN maupun konrak jual beli.
2. Mengirimkan barang yang diminta sesuai dengan persyaratan dalam kontrak jual beli dan SKBDN yang diterima disertai dokumen-dokumen yang diisyaratkan dalam SKBDN tersebut.
3. Bersamaan dengan pengiriman barang, penjual menyerahkan dokumen-dokumen tersebut kepada bank penerus.
Bagi bank penerus atau bank penegosiasi atau confirming bank, bagian transfer melakukan:
1. Memeriksa dan meneliti semua dokumen yang diserahkan oleh penjual/beneficiary.
2. Bila tidak terdapat penyimpangan (discrepancy) maka dapat melakukan pembayaran kepada penjual/beneficiary
3. Mengirimkan seluruh dokumen kepada bank pembuka, disertai dengan surat penagihan senilai dana yang dibayarkan kepada penjual/beneficiary.
Bagi bank pembuka setelah menerima dokumen dan surat tagihan, maka melakukan: Penelitian dokumen-dokumen yang dikirimkan oleh penjual.
Bila tidak terdapat penyimpangan, maka menginformasikan kepada pembeli tentang keberadaan dokumen tersebut dan meminta kepada pihak nasabah untuk memenuhi kewajiban.
Bila nasabah telah memenuhi kewajibannya, maka bank akan menyerahakan dokumen-dokumen kepada nasabah diperuntukkan mengambil/mengeluarkan barang dari pelabuhan, gudang penyimpanan.
Penyelesaian pembayaran pada bank penerus, baik melalui rekening antar kantor atau melalui kliring.
Untuk mempermudah pemahaman tentang mekanisme SKBDN, maka dipelajari melalui sajian bagan berikut ini:
1. Pihak penjual dan pembeli mengadakan negosiasi jual beli barang hingga terjadi kesepakatan
2. Pihak pembveli diharuskan membuka L/C dalam negri pada suatu bank (bank pembuka L/C )
3. Setelah L/C dalam negri dibuka, oleh bank pembuka L/C segera memberitahu kepada bank pembayar bahwa L/C dalam negri telah dibuka dan agar disampaikan kepada sipenjual barang
4. Penjual barang mendapatkan pemberitahuan dari bank pembayar bahwa pembeli telah membuka L/C. Barang dagangan sudah dapat segera Dikirim. disini penjual barang meneliti apakah L/C terjadi perubahan dari syarat yang telah disetujui semula
5. Pihak penjual menghubungi maskapai pelayaran atau perusahaan angkutan lainnya untuk mengirim barang-brang ketempat tujuan pembeli barang. Maskapai pengangkutan melakukan perintah dari penjual.
6. Pada waktu pembeli menerima kabar dari perusahaan pengangkutan bahwa barang telah datang, maka pihak pembeli harus membuatkan sertifaid of receipts atau konosemen (B/L) yang harus diserahkan kepada perusahaan pengangkutan untuk diteruskan kepada bank pembayar dan penjual (pemberi perintah untuk mengirim barang). Hal; ini
dilakukan setelah pemeriksaan kebenaran L/C dengan faktur atau barang yang dikirim oleh si pembeli.
7. Atas dasar konosemen (B/L) atau sertifaid of receipts , Penjual segera menghungu bank pembayar dengan menunjukkan dokumen L/C dan surat pengantar dokumen disertai dengan wesel yang berfungsi sebagai penyerahan dokumendan penagihan pembayaran kepada bank pembayar.
8. Bank pembayar setelah menerima dokumen dari penjual segera menghungi bank pembuika L/C. Oleh bank pembuka L/C dalam negri segera memberitahu penerimaan dokumen dilampiri dengan perhitungan-perhitungannya kepada pembeli
9. Pembeli menerima dokumen dari bank pembuka L/C
10. Pembeli segera melunasi seluruh kewajibannya tas jual beli tersebut kepada bank pembuka L/C
11. Bank pembuka L/C memberi konfirmasi ( penegasan) penerimaan dokumen dan sekaligus memberitahukan bahwa pembeli telah melakukan pembayaran dengan demikian memberi izin kepada bank pembayar untuk melakukan pembayaran kepada penjual. Semua arsip disimpan.
12. Oleh bank pembayar akan dilakukan pembayaran dengan memperhatikan diskonto atas perhitungan wesel
E. Peranan dan Kewajiban Bank dalam SKBDN
1. Peranan Bank dalam Menangani Dokumen SKBDN
Peranan bank umum dalam penerbitan dan penyelesaian SKBDN tidak terlepas pada jenis-jenis dokumen yang telah disepakati antar pemohon/pembeli dengan penjual sebagai persyaratan SKBDN, bank tidak memeriksa terhadap fisik barang maupun dokumen yang tidak diisyaratkan dalam SKBDN dan akan mengembalikan dokumen tersebut kepada penjual/pengirimnya ataupun kepada pihak yang berkepentingan tanpa bertanggung jawab apapun. Bank mempunyai tanggung jawab dalam waktu maksimal 7 hari kerja perbankan (setelah tanggal penerimaan dokumen) untuk memeriksa dengan seksama semua dokumen yang diisyaratkan dalam SKBDN, untuk memastikan kesesuaian antara dokumen dengan persyaratandan kondisi SKBDN dan berkewajiban untuk memberitahukan kepada pengirim apakah dokumen tersebut diterima atau ditolak.
Bank akan melakukan penolakan terhadap dokumen yang penyerahannya melewati batas waktu berakhirnya SKBDN. Untuk batas waktu penyerahan dokumen pengangkutan dalam SKBDN dilakukan perhitungan yaitu dari tanggal penerbitan dokumen pengankutan bukan dari tanggal penyerahan dokumen tersebut. Namun apabila dokumen pengapalan tersebut tidak mencantumkan batas waktu penyerahan, maka bank akan menolak dokumen yang diajukan lewat dari 21 hari kalender setelah tanggal penerbitan dokumen pengangkutan (bersumber SK. Bank Indonesia No.
38/kep/Dir/1994/, pasal 15)
2. Kewajiban Bank dalam SKBDN
Dengan diterbitkannya SKBDN oleh suatu bank umum, maka SKBDN merupakan jaminan yang pasti sari bank pembuka sepanjang dokumen-dokumen yang diisyaratkan (disebutkan secara tepat dokumen-dokumen yang menjadi dasar pelaksanaan pembayaran, aksepatsi atau negosiasi) diserahkan kepada bank tertunjuk atau kepada bank pembuka.
F. AKUNTANSI SKBDN
Pada prinsipnya SKBDN tak dapat dibatalkan (irrevocable), kecuali ada persetujuan bank pembuka, bank pengkonfirmasi dan penerima. Oleh karena itu
penerbitan SKBDN dapat berupa SKBDN yang tidak dapat dibatalkan dan yang dapat dibatalkan. SKBDN yang tak dapat dibatalkan merupakan transaksi yang bersifat komitmen, sedangkan yang dapat dibatalkan meruakan transaksi yang bersifat kontijensi (bersyarat). Sebagai komitmen, tak dapat dibatalkan dan ada kepastian. Sedangkan kontijensi memberikan indikasi bahwa kelanjutan transaksi ini akan tergantung bank penerbit, bank pengkonfirmasi dan penerima (transaksi bersyarat). Keduanya dicatat dalam rekening administratif SKBDN dan/tak dapat dibatalkan dan masih berjalan dalam rangka perdagangan dalam negeri.
SKBDN ada dua macam :
1. Sight SKBDN
Adalah SKBDN atas unjuk, artinya kapanpun diunjukkan SKBDN dapat dicairkan. SKBDN tersebut sewaktu-waktu dapat dicairkan sepanjang hasil konfirmasi telah memberikan kepastian setoran jaminan penuh. Dalam SKBDN seperti ini harus dicantumkan secara jelas persyaratan pembayaran atas unjuk.
Contoh penerbitan sight SKBDN yang ditujukan pada nasabah cabang bank sendiri:
PT. Jaya Abadi nasabah Bank BCA Bandung hendak membeli semen 100.000 zak @ Rp30.000 kepada PT. Holcim Cilacap nasabah Bank BCA Cilacap. Untuk itu PT.Holcim meminta PT. Jaya Abadi membuka sight SKBDN. Tanggal 12 April 2006 PT. Jaya Abadi membuka sight SKBDN dengan setoran jaminan penuh kepada Bank BCA Bandung. Setoran jaminan tersebut beban gironya Rp2.500.000.000 dan sisanya tunai. Bank BCA Bandung memungut komisi Bab 17 – Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) [email protected] 172 penerbitan Rp5.000.000 dengan ongkos kawat/transfer Rp300.000. Komisi dan ongkos kawat dibayar tunai oleh PT. Jaya Abadi.
Pencatatan di bank penerbit (Bank BCA Bandung) Pencatatan pada rekening administratif
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) 12/4’06 Cr. Sight SKBDN Tak Dapat
Dibatalkan Dan Masih Berjalan
3.000.000.000
Akuntansi eksekusi pembayaran di bank penerbit Pencatatan pada rekening riil (efektif)
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
12/4’06 Dr. Kas 505.300.00
0
Dr. Giro PT.Jaya Abadi 2.500.000.0
00
Cr. Setoran Jaminan SKBDN 3.000.000.0
00
Cr. Pendapatan Komisi Penerbitan 5.000.000
Cr. Pendapatan Ongkos Kawat 300.000
Pencatatan Pada Bank BCA Cilacap Pencatatan pada rekening administratif
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
12/4’06 Dr. Sight SKBDN Tak Dapat Dibatalkan Dan Masih Berjalan
3.000.000.000
Pencatatan pada rekening riil (efektif)
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
12 Apr’06 Dr. Setoran Jaminan SKBDN 3.000.000.000
Cr. RAK Cabang Cilacap 3.000.000.000
Penerbitan Sight SKBDN tidak selalu nasabah harus menyetor 100% nilai SKBDN, namun adakalanya bank membolehkan setoran jaminan kurang dari
100% karena nasabah tersebut sangat dipercaya.
Penerbitan SKBDN juga bisa ditujukan kepada bank lain. Pada wilayah bankyang dituju, bank penerbit memiliki kantor cabang. Bila demikian penyelesaian transaksi harus melalui kantor cabang bank sendiri yang terdekat dengan bank yang dituju (bank lain) melalui kliring
Namun bila bank penerbit tidak mempunyai kantor cabang di wilayah bank tertuju maka menggunakan bank koresponden yang memiliki cabang di wilayah tersebut.
Contoh penerbitan sight SKBDN yang ditujukan pada kantor cabang bank sendiri dengan setoran kurang dari 100%:
Misalnya dari contoh sebelumnya, setoran jaminan yang diserahkan PT. Jaya Abadi baru 70% dengan perincian beban gironya Rp1.700.000.000 dan sisanya tunai. Semua biaya komisi dibayar tunai.
Pencatatan Pada Bank BCA Bandung Pencatatan pada rekening administratif
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
12/4’06 Cr.Sight SKBDN Tak Dapat Dibatalkan Dan Masih Berjalan
3.000.000.000
Pencatatan pada rekening riil (efektif)
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
12/4’06 Dr. Kas 405.300.00
0
Dr. Giro PT.Jaya Abadi 1.700.000.0
00
Cr. Setoran Jaminan SKBDN 2.100.000.0
00
Cr. Pendapatan Komisi Penerbitan 5.000.000
Cr. Pendapatan Ongkos Kawat 300.000
Kekurangan setoran jaminan harus dilunasi terlebih dahulu sebelum seluruh kewajiban bank penerbit dilakukan terhadap bank pembayar. Bila pihak applicant party tidak mampu membayar, maka kekurangannya dapat dikonversi ke kredit yang diberikan. Fasilitas ini sering disebut sebagai fasilitas overdraft (talangan atau cerukan). Perlakuan overdraft ini seperti kredit pada umumnya, dimana pihak debitur atau applicant dikenai biaya provisi dan administrasi
Pencatatan di Bank Penerbit saat Pembayaran
Misalnya kekurangan setoran jaminan dikonversi menjadi kredit yang diberikan dengan provisi 3% dan biaya administrasi Rp800.000. Provisi dan administrasi diterima tunai. Pencatatannya sebagai berikut:
Pencatatan pada rekening administratif
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
12/4’06 Dr. Sight SKBDN Tak Dapat Dibatalkan Dan Masih Berjalan
3.000.000.000
Pencatatan pada rekening riil (efektif)
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
12/4’06 Dr. Kas 27.800.000
Dr. Kredit yang Diberikan 900.000.00
0 Dr. Setoran Jaminan SKBDN 2.100.000.0 00
Cr. RAK Cabang Cilacap 3.000.000.0
00 Cr. Pendapatan Provisi Kredit
(900.000.000 x 3%)
27.000.000
Cr. Pendapatan Lainnya-administrasi 800.000
Pencatatan di Bank BCA Cabang Cilacap
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
12/4’06 Dr. RAK Cabang Bandung 3.000.000.000
Cr. Giro PT.Holcim 3.000.000.000
Contoh penerbitan Sight SKBDN yang ditujukan pada bank lain melalui bank koresponden:
PT. Duta Wisata nasabah Bank Omega Semarang hendak membeli bus pariwisata 3 unit @ Rp800.000.000 kepada PT.Berlian Surabaya nasabah Bank Sentosa Surabaya. Untuk itu PT.Berlian meminta PT. Duta Wisata untuk membuka sight SKBDN. Tanggal 20 Juni 2006 PT. Duta Wisata membuka sight SKBDN dengan setoran jaminan penuh kepada Bank Omega Semarang. Setoran jaminan tersebut beban gironya Rp2.000.000.000 dan sisanya tunai. Bank Omega Semarang memungut komisi penerbitan Rp5.000.000 dan ongkos kawat Rp400.000. Komisi dan ongkos kawat dibayar tunai oleh PT.Duta Wisata. Bank Omega Semarang menggunakan Bank BCA Semarang sebagai bank koresponden. Bank BCA Semarang memungut komisi konfirmasi R2.000.000. Bank BCA Surabaya memungut komisi penerusan Rp1.500.000. Pencatatannya sebagai berikut:
PT. Duta Wisata Semarang
PT. Berlian Surabaya
Bank Omega Semarang
Bank Sentosa Surabaya
Bank BCA Semarang
Bank BCA Surabaya
Pencatatan Pada Bank Omega Semarang (Pada Saat Pembukaan SKBDN) Pencatatan pada rekening administratif
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
20/6’06 Cr. Sight SKBDN Tak Dapat Dibatalkan Dan Masih Berjalan
2.400.000.000
Pencatatan pada rekening riil (efektif)
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
20/6’06 Dr. Kas 405.400.000
Dr. Giro PT.Duta Wisata 2.000.000.00
0
Cr. Setoran Jaminan SKBDN 2.400.000.0
00
Cr. Pendapatan Komisi Penerbitan 5.000.000
Cr. Pendapatan Ongkos Kawat 400.000
Pencatatan untuk Penyelesaian/Pembayaran Sight SKBDN
Pencatatan pembayaran di Bank Omega Semarang:
Untuk Bank Omega Semarang, selaku yang menerima konfirmasi bahwa sight SKBDN akan dicairkan, maka Bank Omega Semarang langsung menyerahkan PT.
Duta Wisata Semarang PT. Berlian Surabaya Bank Omega Semarang Bank Sentosa Surabaya Bank BCA Semarang Bank BCA Surabaya setoran jaminan PT. Duta Wisata ke Bank BCA Semarang melalui Bank Indonesia..
Pencatatan pada rekening administratif
Tanggal Rekenin Debit (Rp) Kredit (Rp)
g
20/6’06 Dr. Sight SKBDN Tak Dapat Dibatalkan 2.400.000.000 Dan Masih Berjalan
Pencatatan pada rekening riil
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
20/6’06 Dr. Setoran Jaminan SKBDN 2.400.000.000
Cr. Giro BI 2.400.000.000
Pencatatan di Bank BCA Semarang
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
20/6’06 Dr. Giro BI 2.400.000.000
Cr. RAK Cabang Surabaya (BCA) 2.398.000.0
00
Cr. Pendapatan Komisi Konfirmasi 2.000.000
Pencatatan di Bank BCA Surabaya selaku bank penerus
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
20/6’06 Dr. RAK Cabang Semarang 2.398.000.000
Cr. Giro BI 2.396.500.0
00
Cr. Pendap Komisi Penerusan 1.500.000
Pencatatan di Bank Sentosa Surabaya
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
20/6’06 Dr. Giro BI 2.396.500.000
Cr. Giro PT. Berlian 2.396.500.000
2. Usance SKBDN
Adalah SKBDN yang pembayarannya secara berjangka dengan menggunakan wesel berjangka. Pihak beneficiary tidak bisa langsung menerima pembayaran tunai ketika barang dikirim kepada pembeli (applicant). Penerbitan Usance SKBDN umumnya disepakati setoran jaminan kurang dari 100%. Dengan demikian pihak applicant harus melunasi pada saat seluruh barang sudah dikirim atau pada saat SKBDN efektif
Pada saat wesel jatuh tempo, berarti seluruh transaksi dengan bank penerbit yang berkaitan dengan Usance SKBDN mauun wesel harus diselesaikan. Penyelesaian wesel merupakan berakhirnya SKBDN.
Penerbitan wesel berjangka SKBDN tidak selalu dicairkan pada saat jatuh tempo, sangat tergantung pemegang wesel tersebut. Bila pemegang wesel membutuhkan uang sebelum wesel jatuh tempo, maka dapat mendiskontokannya/menjualnya.
Wesel yang didiskontokan akan dikenakan diskonto tertentu oleh bank pembayar.
Perhitungan hari diskonto adalah sejak tanggal diskonto sampai dengan hari jatuh tempo.
Contoh:
PT. Citra Bandung membeli genset senilai Rp 400.000.000 kepada PT. Sinar Jakarta. Untuk itu PT. Citra diminta menerbitkan usance SKBDN berjangka untuk menjamin pengiriman barang tersebut dibayar. PT. Citra adalah nasabah Bank Mega Bandung, sedangkan PT. Sinar adalah nasabah Bank Mega Jakarta.
Pembukaan usance SKBDN tanggal 1 April 2007 dengan setoran jaminan Rp 250.000.000 atas beban giro PT. Citra, komisi penerbitan Rp 1.500.000 diterima
bank dalam bentuk tunai. Usance SKBDN ini bersifat revocable (dapat dibatalkan).
Pencatatan penerbitan usance SKBDN di Bank Mega Bandung adalah:
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/7’07 Dr. Usance SKBDN Dapat Dibatalkan 400.000.000 (revocable) Dan Masih Berjalan
Mencatat pada rekening riil (efektif)
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/7’07 Dr. Giro PT. Citra 250.000.000
Cr Setoran Jaminan SKBDN 250.000.000
Penerbitan Usance SKBDN akan diikuti penerbitan wesel berjangka Usance SKBDN di bank pembayar. Wesel ini ditandatangani oleh beneficiary. Bila pihak beneficiary menghendaki pencairan sebelum jatuh tempo, maka wesel tersebut dapat didiskontokan (dapat dijualbelikan). Namun untuk dapat didiskontokan syarat wesel yang diterbitkan bank pembayar tersebut harus diaksep oleh bank penerbit. Akseptasi wesel merupakan bentuk tanggung jawab bank penerbit Usance SKBDN untuk sanggup membayar SKBDN sekiranya jatuh tempo.
Aksepatsi wesel juga bisa dilakukan oleh bank tertunjuk dan bank pengkonfirmasi sepanjang diberi kuasa oleh bank penerbit/pembuka. Akseptasi wesel sebesar nilai Usance SKBDN. Bank pengaksep (Accepting Bank) ini bank yang menyanggupi pembayaran wesel, secara otomatis dapat menjadi bank tertarik yaitu bank yang berkewajiban membayar atas wesel yang ditarik padanya.
Pada saat wesel jatuh tempo, berarti seluruh transaksi dengan bank penerbit yang berkaitan dengan usance SKBDN maupun wesel harus diselesaikan. Penyelesaian wesel merupakan berakhirnya SKBDN.
Misalnya jangka waktu wesel 3 bulan sejak 1 April 2007, maka pada akhir periode seluruh kewajiban terhadap bank pembayar harus dipenuhi. Kekurangan setoran jaminan dilunasi secara tunai. Pencatatannya adalah:
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Cr. Usance SKBDN Dapat Dibatalkan 400.000.000 (revocable) Dan Masih Berjalan
Mencatat pada rekening riil (efektif)
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Dr. Setoran Jaminan SKBN 250.000.000
Dr. Kas 150.000.000
Cr. RAK Cabang Jakarta 400.000.000
Pencatat di cabang pembayar
Pada saat penerbitan wesel berjangka SKBDN
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Cr. RAR Wesel Usance SKBDN Belum 400.000.000
Jatuh Tempo
Pada saat wesel jatuh tempo, bank pembayar memungut komisi Rp 1.500.000
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Dr. RAK Cabang Bandung 400.000.000
Cr. Giro PT. Sinar 398.500.0
00
Cr. Pendapatan Komisi Negosiasi 1.500.000
Penerbitan wesel berjangka SKBDN tidak selalu dicairkan pada saat jatuh tempo karena sangat tergantung pada pemegang wesel tersebut. Bila pemegang wesel membutuhkan uang sebelum wesel jatuh tempo, maka dapat mendiskontokannya/menjualnya. Wesel yang didiskontokan akan dikenakan
diskonto tertentu oleh bank pembayar. Perhitungan hari diskonto adalah sejak tanggal diskonto sampai dengan jatuh tempo. Mengacu pada soal diatas, jangka waktu wesel adalah 1 April 2007 sampai dengan 30 Juni 2007. Didiskontokan 1 Juni 2007, maka hari diskonto adalah 30 hari. Bunga diskonto 18%.
Keterangan Jumlah (Rp)
Face Value 400.000.000
Diskonto = (400.000.000 x 30 x 0,18) / 360 6.000.000
Nilai dibayar setelah diskonto 394.000.000
Komisi negosasi wesel 1.500.000
Nilai bersih diterima benefeciary 392.500.000
Pencatatan jurnalnya:
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp) 1/6’07 Dr. Wesel SKBDN yang Didiskontokan 400.000.000
Cr. Giro PT. Sinar 392.500.0
00
Cr. Pendapatan Komisi Negosiasi 1.500.000
Cr. Pendapatan Bunga Diterima Dimuka 6.000.000
Pendapatan bunga diterima dimuka harus diamortisasi setiap akhir bulan sampai dengan wesel jatuh tempo. Pencatatan jurnal amortisasi adalah:
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp) 30/6’07 Dr. Pendapatan Bunga Diterima Dimuka 6.000.000
Cr. Pendapatan Bunga Wesel 6.000.000
Pada tanggal 30 Juni 2007, bank pembayar selain melakukan amortisasi pendapatan bunga dimuka (diskonto) juga harus membukukan wesel yang telah jatuh tempo dengan catatan jurnal sebagai berikut:
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Dr. RAR Wesel Usance SKBDN Belum 400.000.000 Jatuh Tempo
Mencatat pada rekening riil (efektif)
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Dr. RAK Cabang Bandung 400.000.000
Cr. Wesel Usance SKBDN yang Didiskontokan
400.000.000
G. PENGALIHAN SKBDN
SKBDN yang dapat dialihkan (transferable SKBDN) adalah
SKBDN dimana penerima perama berhak untuk mengajukan permohonan kepada bank penerima yang membayar, mengaksep, atau menegosiasi untuk mengalihkan SKBDN tersebut, baik seluruhnya maupun sebagian kepada satu atau beberapa pihak penerima kedua. Namun demikian tidak semua SKBDN dapat dialihkan. SKBDN hanya dapat dialihkan satu kali kepada penerima kedua.
SKBDN hanya dapat dialihkan sesuai dengan persyaratan dan kondisi yang dinyatakan dalam SKBDN asli (original SKBDN), dengan pengecualian: a. nilai SKBDN, b. harga satuan, c. tanggal jatuh tempo, d.
tanggal terakhir pengajuan dokumen, e. jangka waktu pengangkutan. Salah satu atau semua batasan-batasan tersebut dapt dikurang/diperpendek.
Pihak beneficiary dalam mengirimkan barang dapat diasuransikan atau tidak. Dalam hal penggunaan asuransi barang, persentase penutupan asuransi yang harus dilaksanakan dapt ditingkatkan nilainya untuk mencapai jumlah pertanggungan yang ditentukan dalam SKBDN asli (original SKBDN).
Pengalihan SKBDN akan berkonsekuensi bahwa nama dan alamat penerima pertama dapat diganti dengan nama dan alamat pemohon, kecuali SKBDN asli (original SKBDN) mewajibkan nama pemohon secara khusus dicantumkan dalam setiap dokumen selain dari faktur. Disamping itu bank dapat menerima faktur dan wesel yang telah diubah oleh penerima pertama berdasarkan faktur dan wesel dari penerima kedua sepanjang nilainya tidak melebihi nilai SKBDN asli (original SKBDN). Bank yang seharusnya menjadi bank pembayar (paying bank) bila melakukan pengalihan SKBDN maka menjadi bank pentransfer (transferring bank) yaitu bank yang mengalihkan SKBDN atas dasar permintaan beneficiary.
Contoh:
Setelah PT. Sinar mengirimkan genset, pada tanggal 7 April 2007 mengalihkan haknya sebagai beneficiary atas usance SKBDN senilai Rp 400.000.000 kepada PT. Terang untuk menutup hutangnya. Dengan pengalihan ini Bank Mega Jakarta akan menerbitkan wesel usance SKBDN atas nama PT. Terang. Dengan demikian hak-hak atas efektivitas dana menjadi kepemilikan PT. Terang.
Bank Mega Jakarta selaku bank pembayar mencatat penerbitan wesel atas nama PT. Terang per 7 April 2007.
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
7/4’07 Cr. RAR Wesel Usance SKBDN Belum 400.000.000
Jatuh Tempo
Bank Mega mencatat pada rekening riil (efektif) ketika wesel jatuh tempo dan dibayar.
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Dr. RAK Cabang Bandung 400.000.000
Cr. Giro PT. Terang 400.000.000
Menihilkan rekening administratif ketika seluruh kewajiban bank pembayar telah terpenuhi.
Tanggal Rekenin
g
Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Dr. RAR Wesel Usance SKBDN Belum 400.000.000 Jatuh Tempo
Wesel yang telah jatuh tempo kadang-kadang tidak langsng dicairkan oleh beneficiary. Bila ini yang terjadi maka bank penerbit wesel (bank pembayar) perlu membukukannya dalam rekening administratif terlebih dahulu sampai dengan wesel tersebut dicairkan. Pencatatannya adalah menihilkan rekening administratif pertama dan memunculkan rekening administratif untuk wesel yang telah jatuh tempo.
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Cr. RAR Wesel Usance SKBDN Telah 400.000.000
Jatuh Tempo
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
30/6’07 Dr. RAR Wesel Usance SKBDN Telah 400.000.000 Jatuh Tempo
BAB 4 Contoh Soal
Misalnya jangka waktu wesel 3 bulan sejak 1 Juli 2003, maka pada akhir periode
seluruhkewajiban terhadap bank pembayar harus dipenuhi. Kekurangan setoran jaminan dilunasi secara tunai. Pencatatannya adalah:
30/9-2003 Cr. RAR Usance SKBDN 500.000.000 dapat dibatalkan (revocable dan masih berjalan
Mencatat pada rekening riil (efektif)
30/9-2003 Dr. Setoran jaminan SKBDN 300.000.000 Dr. Kas 200.000.000
Cr. RAK Cabang Semarang 500.000.000 Pencatatan di Cabang PembayarPada saat penerbitan wesel berjangka SKBDN
30/9-2003 Cr. RAR Wesel Usance SKBDN 500.000.000
Belum Jatuh tempo 500.000.000
BAB 5 PENUTUP
Kesimpulan
Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau sering disebut LC local, adalah instrument yang dikeluarkan oleh bank (Issuing Bank), atas permintaan
Applicant (buyer/pembeli) yang berisi janji bank untuk membayar sejumlah uang kepada penerima atau Beneficiary (atau penjual/seller) apabila Issuing Bank
menerima dokumen yang sesuai dengan syarat SKBDN. SKBDN dipergunakan untuk mendukung transaksi perdagangan di dalam negeri. Bank besar di Indonesia seperti Bank Mandiri, dapat melayani kebutuhan baik dari sisi Pembeli (Buyer) maupun Penjual (Seller).
Saran
untuk memperlancar pelayanan arus barang, baik arus barang dalam negri (antar pulau) atau arus barang keluar negri (exspor-impor).maka diperlukan SKBDN sebagai sarana pembayaran yang menjamin pembayaran yang diinginkan penjual dengan mengirim barangnya jaminan diberikan pula kepada pihak pembeli bahwa akan menerima jumlah dan kualitas barang yang diinginnkan sarana pembayaran semacam ini di buat melalui jaminan bank sebagai alat pembayaran Penulis mengharapkan saran, dan kritik yang sekiranya dapat membangun bagi penulis kedepannya. Terima kasih
DAFTAR PUSTAKA
Taswan. (2008). Akuntansi Perbankan : Transaksi dalam Valuta Rupiah.
Yogyakarta UPP AMP YKPN
https://www.coursehero.com/file/p3b7dabp/Pencatatan-penerbitan-Usance-SKBDN-di-Bank- ABC-Jakarta-adalah-Tanggal-Rekening/
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132318570/pendidikan/bab-17-skbdn.pdf
https://www.studocu.com/id/document/universitas-pembangunan-nasional-veteran- yogyakarta/akuntansi-perbankan/surat-kredit-berdokumen-dalam-negeri-akuntansi- skbdn/47981964