• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tampilan EVALUASI METODE PEER LEARNING TERHADAP PENYULUHAN HIDROPONIK

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Tampilan EVALUASI METODE PEER LEARNING TERHADAP PENYULUHAN HIDROPONIK"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

52

EVALUASI METODE PEER LEARNING TERHADAP PENYULUHAN HIDROPONIK (STUDI DI KWT KENANGA KELURAHAN MARGABAKTI

KECAMATAN CIBEUREUM)

Mira Nurlela1, Annisya Syahrani2, Saskia Isabella Putri Suhendari3

1-2-3 Jurusan Pendidikan Masyarakat, Universitas Siliwangi,

Jl. Siliwangi No.24, Tawang, Kota Tasikmalaya

1[email protected], 2[email protected],

3[email protected]

ABSTRACT

Agricultural land in Tasikmalaya City is decreasing, a lot of land in the Tasikmalaya City area is being diverted.

As a result, it is difficult to get quality land around people's homes in Tasikmalaya City. As for other alternatives that can be done by carry out a counseling on hydroponics using peer learning methods. The purpose of this study is to knowing the implementation of peer learning methods in hydroponic counseling at KWT Kenanga Margabakti. This research uses a qualitative approach. Data collection techniques through interviews, observations, and documentation. Data analysis techniques in this study are carried out in several stages (1) data collection, (2) data reduction, (3) presentation of data, (4) conclusion withdrawal & verification. The results of the research conducted on 4 respondents, showed that the peer learning method on hydroponic counseling in KWT Kenanga Margabakti Tasikmalaya is very good and produces output that the mothers of KWT members understand the material well and are active during counseling. So it can be concluded that counseling using peer learning methods to mothers, especially adults, is very effectively used.

Keywords: Evaluation, Peer Learning, Extention

ABSTRAK

Lahan pertanian di Kota Tasikmalaya semakin berkurang, banyak lahan di wilayah Kota Tasikmalaya yang di alihfungsikan. Akibatnya sulit mendapatkan tanah yang berkualitas di sekitar rumah warga di Kota Tasikmalaya.

Adapun alternatif lain yang dapat dilakukan dengan mengadakan penyuluhan hidroponik dengan metode peer learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan metode peer learning dalam penyuluhan hidroponik di KWT Kenanga Margabakti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan beberapa tahap (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, (4) penarikan kesimpulan &

verifikasi. Hasil dari penelitian yang dilakukan kepada responden sebanyak 4 orang, dari hasil wawancara yang dilakukan menunjukkan bahwa metode peer learning pada penyuluhan hidroponik di KWT Kenanga Margabakti Tasikmalaya sangat baik dan menghasilkan output yaitu ibu-ibu anggota KWT memahami materi dengan baik serta aktif selama penyuluhan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan metode peer learning kepada ibu-ibu terutama orang dewasa sangat efektif digunakan.

Kata Kunci: Evaluasi, Peer Learning, Penyuluhan

PENDAHULUAN

Kota Tasikmalaya merupakan salah satu kota di priangan timur yang letak wilayahnya strategis, karena Kota Tasikmalaya terletak di bagian timur Provinsi Jawa Barat yang termasuk ke dalam jalur perlintasan selatan arah Jawa Tengah-Jogja-Jawa Timur (Hamri et al., 2016), menjadikan Kota Tasikmalaya sebagai salah satu kota yang sangat berpengaruh bagi wilayah disekitarnya, baik itu dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Seiring bertambahnya kemajuan dan tingginya angka kepadatan penduduk di Kota Tasikmalaya, menyebabkan banyak lahan di wilayah Kota Tasikmalaya yang kemudian dialihfungsikan untuk perdagangan, pemukiman dan perumahan, industri, dan jasa, sehingga lahan pertanian di Kota Tasikmalaya berkurang, dan produksi pertanian mengalami penurunan. Selain permasalahan alihfungsi lahan, sulitnya mendapatkan tanah yang berkualitas di sekitar rumah warga, menjadi masalah

(2)

53

lainnya. Hal ini menjadi masalah karena tanah yang berkualitas di Kota Tasikmalaya sudah sulit ditemukan dan beberapa warga harus membeli tanah dan membuat pupuk untuk memenuhi nutrisi tanah tersebut.

Dari permasalahan-permasalahan tersebut, Kelurahan Margabakti tepatnya di KWT Kenanga, melaksanakan penyuluhan mengenai pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan sistem hidroponik dari botol bekas. Dengan menggunakan sistem hidroponik, dapat meminimalisir penggunaan tanah sebagai media tanam, dan diganti dengan menggunakan rockwool atau sekam.

Menurut Muljono (2007) penyuluhan adalah proses untuk memberikan penerangan kepada masyarakat tentang segala sesuatu yang belum diketahui. Istilah penyuluhan ini digunakan untuk memberikan suatu ilmu baru baik itu kepada masyarakat agar mereka lebih mengetahui dan mampu berdaya. Sedangkan menurut Khairunnisa et al. (2021), penyuluhan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh penyuluh untuk memberdayakan petani. Dalam hal ini di dukung pula oleh situasi dan kondisi dari petani sendiri dalam menerima manfaat dari penyuluhan yang diberikan.

Totok Mardikanto (dalam Bahua, 2016:5) berpendapat bahwa penyuluhan adalah sebuah aktivitas dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai hal-hal yang belum atau kurang dipahami. Dalam hal ini, pencerahan yang diberikan harus bersifat kontinu atau berulang, agar masyarakat dapat lebih memahami dengan baik dan mampu berdaya terkait hal-hal yang belum atau kurang dipahami.

Penyuluhan menurut Budi (2018:1) umumnya adalah kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan masyarakat baik itu dalam bidang industri, kesehatan, pendidikan, hukum, dan juga pertanian serta pemberdayaan desa. Dari banyaknya bidang, pertanian merupakan salah satu sektor yang identik dengan bidang penyuluhannya.

Dalam pelaksanaan penyuluhan di KWT Kenanga, dilakukan beberapa metode salah satunya yaitu peer learning (tutor teman sebaya). Hal ini dilakukan untuk memberikan keleluasaan kepada ibu-ibu di KWT Kenanga selaku warga belajar agar memahami materi penyuluhan. KWT Kenanga menjadi salah satu KWT yang tergolong aktif dalam memberikan penyuluhan dan kegiatan rutin untuk dilaksanakan di KWT, sehingga pelaksanaan penelitian dalam mengevaluasi metode peer learning terhadap pelaksanaan penyuluhan hidroponik dapat dilakukan.

Peer Learning (pembelajaran sebaya) adalah teknik pembelajaran secara kolaboratif yang membentuk interaksi antara warga belajar untuk menjadi tutor teman sebayanya di dalam suatu kelompok sehingga proses pembelajaran dilakukan dengan berpusat kepada warga belajar (Rumiyanto & Sudarmono, 2015).

Adapun pendapat lainnya mengenai metode peer learning atau pembelajaran tutor sebaya menurut Mahfiyana et al., (2019) adalah sumber belajar berupa rekan atau teman sebaya yang menguasai materi dengan baik dan memberikan bantuan belajar kepada rekan-rekan atau teman-teman sebayanya.

Menurut Asngari & Sumaryanto (dalam Kastrena et al., 2020) peer teaching atau peer learning adalah pembelajaran dengan menekankan kepada sistem pembelajaran yang terpusat kepada siswa (student active learning) yang mampu membimbing peserta didik untuk belajar dengan teman sebayanya.

Nurlizawati (2019) menyatakan bahwa pembelajaran tutor teman sebaya dapat dimanfaatkan dalam pengaplikasian materi karena cukup efektif dalam membangun komunikasi serta keaktifan peserta didik dalam hal ini warga belajar selama proses pembelajaran yang berlangsung. Sedangkan menurut Ruseno (dalam Hastari, 2019) menyatakan bahwa metode peer learning dalam pembelajaran memberikan kebebasan kepada warga belajar selaku tutor guna meningkatkan metode-metode yang dapat dilakukan dalam menerangkan materi kepada teman-temannya.

(3)

54

Menurut Djamarah (dalam Anggorowati, 2011) penggunaan model pembelajaran tutor sebaya ini dilakukan oleh teman-teman yang memiliki umur hampir sebaya atau sebaya dalam pergaulan di dalam kelompoknya dan mampu menjelaskan atau menerangkan kembali materi pembelajaran kepada teman-temannya.

Metode peer learning ini menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kecanggungan, dan rasa takut untuk bertanya ketika dijelaskan atau diberikan materi oleh guru atau tutor. Dalam hal ini, KWT Kenanga menerapkan metode ini kepada ibu-ibu anggotanya agar ibu-ibu dapat lebih leluasa dalam memahami materi dan mempraktikan materi yang diberikan tanpa ada rasa takut, malu, atau segan. Dikarenakan yang menjadi tutornya adalah teman sebayanya, sehingga perasaan takut, malu bertanya, dan segan pun dapat berkurang dan ibu-ibu anggota KWT dapat berperan aktif selama mengikuti penyuluhan hidroponik.

Evaluasi menurut (Aryanti et al., 2015) merupakan alat yang digunakan dalam membantu perencanaan, perbaikan dan pengembangan serta penyempurnaan kegiatan. Artinya, evaluasi berupa alat yang digunakan untuk menjadi pendukung kegiatan mulai dari proses perencanaan, perbaikan, pengembangan, hingga penyempurnaan kegiatan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

Menurut Suarga (2019) evaluasi adalah proses untuk menilai keberhasilan suatu program yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Dengan dilakukan evaluasi, maka dapat diketahui progres dari program yang dilaksanakan sudah sejauh mana dan sudah sampai mana dikerjakan, dan dapat ditindak lanjuti apabila terjadi perubahan atau ketidaksesuaian program dengan rencana yang telah ditetapkan.

Adapun definisi evaluasi menurut Salsabila (2006) yaitu sebuah proses menilai yang dilakukan dengan cara yang sistematis, yaitu berupa pemberian nilai, atribut, apresiasi, pengenalan serta memberikan solusi dari penemuan masalah selama proses evaluasi berlangsung baik itu kepada program, sumber belajar, dan warga belajar untuk mengetahui keberhasilan dari program dan unsur-unsur di dalamnya.

Evaluasi program adalah metode sistematik untuk mengumpulkan, menganalisis, dan memakai informasi untuk menjawab pertanyaan dasar mengenai program (Wirawan, 2012).

Model Evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Model CIPP. Model ini dikembangkan oleh Stufflebeam dan Guba pada tahun 1966 (Kadir, 2008). CIPP merupakan model kependekan dari Context, Input, Process, dan Product.

Keunikan model ini adalah pada setiap tipe evaluasi terkait pada perangkat pengambil keputusan (decission) yang menyangkut perencanaan dan operasional sebuah program.

Keunggulan model CIPP memberikan suatu format evaluasi yang komprehensif atau menyeluruh pada setiap tahapan evaluasi yaitu tahap konteks, masukan, proses, dan produk.

Keempat kata yang merupakan singkatan CIPP tersebut merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program.

Stufflebeam dalam Kadir (2008) menyatakan bahwa pendekatan yang berorientasi pada pemegang keputusan (a decision oriented evaluation approach structured) untuk menolong administrator dalam membuat keputusan, dimana evaluasi sebagai suatu proses yang menggambarkan, memperoleh dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan dan membuat pedoman kerja untuk melayani para manajer dan administrator dengan membagi evaluasi menjadi empat macam yaitu:

a) Context evaluation to serve planning decision, konteks evaluasi ini membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program.

b) Input evaluation, structuring decision, tahap kedua dari model CIPP adalah evaluasi input, atau evaluasi masukan. Komponen evaluasi masukan meliputi: 1) Sumber Daya Manusia, 2) Sarana dan peralatan pendukung, 3) Dana atau anggaran, dan 4) Berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan.

(4)

55

c) Process evaluation to serve implementing decision.

d) Product evaluation, to serve recycling decision, evaluasi produk untuk menolong keputusan selanjutnya, apa hasil yang telah dicapai? Apa yang dilakukan setelah program berjalan.

Dengan demikian, metode peer learning dalam penyuluhan pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan sistem hidroponik ini dapat dijadikan alternatif untuk orang dewasa terutama ibu-ibu di KWT Kenanga dalam melaksanakan penyuluhan hidroponik. Maka dari itu peneliti melakukan penelitian ini berupa evaluasi metode peer learning terhadap pelaksanaan penyuluhan yang dilakukan untuk mengetahui metode peer learning yang diterapkan dalam penyuluhan berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana atau tidak sehingga perlu adanya evaluasi lebih dalam.

METODOLOGI

Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif karena dilakukan pengamatan secara langsung di lapangan dengan menggunakan teknik pengumpulan data dalam mengkaji penelitian ini yaitu observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi.

Teknik observasi (pengamatan) merupakan teknik untuk mengetahui fenomena atau gejala dari permasalahan di tempat penelitian dengan melakukan pengamatan langsung. Maka dalam penelitian ini penulis menggunakan pengamatan langsung terhadap lokasi penelitian yaitu di KWT Kenanga di Kelurahan Margabakti Kecamatan Cibeureum tepatnya di RW 02.

Teknik wawancara merupakan cara sistematis untuk memperoleh informasi-informasi dalam bentuk pernyataan-pernyataan lisan mengenai suatu obyek atau peristiwa pada masa lalu, kini, dan akan datang. Wawancara dilakukan kepada ibu-ibu anggota KWT Kenanga terkait pelaksanaan penyuluhan menggunakan metode peer learning. Sebelumnya daftar pertanyaan wawancara disusun terlebih dahulu dan kemudian diberikan pertanyaan kepada ibu-ibu terkait objek penelitian.

Teknik dokumentasi merupakan salah satu cara dalam mengumpulkan data penelitian secara tidak langsung, artinya data didapatkan melalui dokumen-dokumen pendukung yang berhubungan dengan data yang akan diteliti. Dalam hal ini peneliti meminta dokumen-dokumen lain kepada KWT Kenanga untuk melengkapi data yang sedang diteliti.

Adapun total subjek penelitian sebanyak 4 orang yang terdiri dari 1 pengelola yaitu Ibu Sulistiawati (A), 1 sumber belajar/penyuluh yaitu Mira Nurlela (B), dan 2 warga belajar yaitu Ibu Wiwi (C) dan Ibu Sri Mulyani (D). Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan beberapa tahap (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, (4) penarikan kesimpulan & verifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

KWT Kenanga berada di Jl. Anyar Kp. Nyanggahurip RT.03/RW.02 Kel. Margabakti Kec. Cibeureum Kota Tasikmalaya. Kelurahan Margabakti berada dalam wilayah Kecamatan Cibeureum dengan jarak dari kelurahan ke ibu kota kecamatan ± 2 km dan jarak ke Ibu Kota Tasikmalaya ± 15 km. KWT Kenanga di ketuai oleh Ibu Sulistiawati dan jumlah anggota sebanyak 30 orang. KWT Kenanga memiliki banyak prestasi salah satunya pada tahun 2019 meraih juara 1 Kelompok Sadar Inflasi Terbaik.

Penyuluhan hidroponik dengan metode peer learning di KWT Kenanga, Kelurahan Margabakti, Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya, dilakukan pada hari Rabu saat pertemuan rutin anggota KWT Kenanga. Penyuluhan dilakukan dengan metode peer learning sehingga peserta (ibu-ibu anggota KWT) berperan penting juga dalam kegiatan penyuluhan.

(5)

56

Penyuluhan ini juga tidak hanya melibatkan peserta, namun ada pengelola, dan penyuluh selaku sumber belajar.

Sebelum pelaksanaan program penyuluhan hidroponik kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga di Kelurahan Margabakti dengan metode peer learning, dilakukan identifikasi kebutuhan di tempat pelaksanaan penyuluhan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Candra &

Husin (2018) bahwa identifikasi kebutuhan dilakukan untuk mencari dan menemukan kebutuhan belajar yang diinginkan oleh peserta belajar sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

Setelah mengetahui identifikasi masalah dan identifikasi kebutuhan tersebut selanjutnya menentukan sasaran dan tujuan dilaksanakannya program penyuluhan. Dari hasil analisis identifikasi kebutuhan, ditemukan permasalahan-permasalahan yaitu lahan di Kota Tasikmalaya banyak yang dialihfungsikan untuk sektor lain sehingga lahan pertanian semakin berkurang dan daya beli masyarakat Kota Tasikmalaya akan kebutuhan cukup tinggi, sehingga pasokan produk atau bahan pangan pun semakin mahal, selain itu sulit mendapatkan tanah yang berkualitas untuk penanaman tanaman di daerah Kota Tasikmalaya akibat pengalihfungsian lahan.

Dari permasalahan yang ditemukan jika disesuaikan dengan kondisi dan wilayah Kota Tasikmalaya yang cukup strategis, dapat dikembangkan sebuah program yaitu Penyuluhan Hidroponik dengan Menggunakan Metode Peer Learning, program ini ditujukan untuk memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk dimanfaatkan dengan menanam tanaman hortikultura, baik itu sayur-sayuran dan buah-buahan, dan meningkatkan pasokan makanan yang berguna untuk menjaga daya tahan tubuh masyarakat ditengah situasi pandemi seperti saat ini, sekaligus menambah nilai ekonomi masyarakat. Lalu untuk meminimalisir penggunaan tanah yang sulit ditemukan di Kota Tasikmalaya, alternatif yang dilakukan yaitu menggunakan model penanaman hidroponik. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Roidah (2014) bahwa hidroponik merupakan media bercocok tanam tanpa menggunakan tanah dan digantikan dengan sabut kelapa, sekam, busa atau rockwool, dan batu kerikil. Sehingga penggunaan tanah sangat minim dalam model penanaman hidroponik ini, dan untuk nutrisi zat hara tanah akan diganti dengan nutrisi AB Mix khusus hidroponik sayuran hijau.

Metode peer learning digunakan karena sasaran dari program penyuluhan ini yaitu ibu- ibu atau orang dewasa yang dominan lanjut usia, yang mana peer learning (pembelajaran sebaya) adalah teknik pembelajaran secara kolaboratif yang membentuk interaksi antara warga belajar untuk menjadi tutor teman sebayanya (Rumiyanto & Sudarmono, 2015). Jadi dalam pelaksanaan penyuluhan tidak seperti biasanya guru mengajar pada peserta didiknya namun dalam metode ini, lebih merangkul dan sama-sama belajar dari pengalaman-pengalaman juga pengetahuan yang dimiliki setiap anggota KWT. Pembelajaran dengan tutor teman sebaya dapat dimanfaatkan dalam pengaplikasian materi karena cukup efektif dalam membangun komunikasi serta keaktifan peserta didik dalam hal ini warga belajar selama proses pembelajaran berlangsung (Nurlizawati, 2019) yang nantinya lebih dilakukan diskusi dan juga menciptakan interaksi aktif antar anggota KWT dan penyuluh karena diutamakan untuk saling berdiskusi dalam mendemonstrasikan sehingga proses pelaksanaan program dapat berjalan lebih nyaman, aktif, dan leluasa.

Pelaksanaan program ini berpusat dalam bidang penanaman tanaman hidroponik yang dilaksanakan secara tatap muka dengan anggota kelompok wanita tani (KWT) Kenanga, yang di dalamnya terdapat agenda diskusi dan simulasi penyemaian benih di rockwool, dan pembuatan media hidroponik dengan limbah botol plastik. Dalam pelaksanaan program, penyuluh menyampaikan materi dengan menampilkan PPT yang sudah disiapkan. Selain PPT, penyuluh juga memberikan tayangan video tentang penyemaian benih di rockwool sampai penanaman tanaman hidroponik dengan menggunakan limbah botol plastik sebagai materi penunjang sumber pembelajaran. Dalam melaksanakan penyuluhan hidroponik menggunakan

(6)

57

metode peer learning, pada tahap awal diberikan materi terkait hidroponik kepada ibu-ibu KWT untuk selanjutnya dapat dipraktikan kepada masyarakat umum terkait penyuluhan hidroponik ini. Dengan menggunakan metode peer learning, ibu-ibu baik itu anggota KWT dan masyarakat umum dapat lebih memahami materi dengan baik dan lebih aktif dalam pelaksanaan penyuluhan berlangsung.

Pelaksanaan program selanjutnya yaitu demonstrasi penyuluhan ke lapangan.

Sasarannya yaitu Taman Dasa Wisma yang ada di RW 02 Kelurahan Margabakti, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Taman Dasa Wisma merupakan binaan dari KWT Kenanga, yang dikoordinatori oleh tiap-tiap anggota KWT sendiri yang berada di sekitar dasa wisma.

Adapun untuk pelaksanaan demonstrasi sendiri, penyuluh mendatangi tiap-tiap taman dasa wisma yang didampingi langsung oleh Ibu Wiwi yang merupakan anggota aktif dalam KWT Kenanga. Dalam kegiatan demonstrasi itu lebih berfokus pada praktek, pertama yaitu praktek penyemaian benih di rockwool, kemudian pembuatan media hidroponik menggunakan limbah botol plastik. Penyuluh memberi kesempatan kepada ibu-ibu yang mau mencoba langsung baik dalam proses penyemaian benih maupun pembuatan media hidroponik. Setelah itu penyuluh memberikan 9 media hidroponik kepada anggota taman dasa wisma untuk ditanami tanaman hortikultura, yang bertujuan agar melihat bagaimana kelompok tani memahami apa yang sudah disampaikan penyuluh.

Berdasarkan hasil wawancara dengan C selaku warga belajar, pelaksanaan penyuluhan hidroponik dengan menggunakan metode peer learning ini merupakan hal baru bagi ibu-ibu di KWT Kenanga. Dengan adanya penyuluhan, ibu-ibu di KWT Kenanga merasa sangat terbantu sehingga dapat menambah ilmu baru di bidang pertanian untuk dipraktikan di rumah mereka masing-masing. Dalam pelaksanaan penyuluhan hidroponik menggunakan metode peer learning di KWT Kenanga cukup membantu warga belajar untuk lebih memahami materi penyuluhan dan bebas dalam berpendapat. Sejalan dengan yang diungkapkan Febriyanto &

Kartiko (2014) bahwa melalui metode peer learning berdampak dalam pembelajaran. Dengan adanya program penyuluhan hidroponik menggunakan metode peer learning ini, ibu-ibu merasa lebih produktif dan terbantu untuk memanfaatkan lahan di rumah mereka, selain itu lebih menguasai materi dengan baik dan mampu memberikan ilmu tersebut kepada orang-orang disekitar sehingga saling berdaya.

Menurut hasil wawancara dengan D selaku warga belajar, bahwa pelaksanaan penyuluhan dengan menggunakan metode peer learning merupakan hal yang baru diketahui oleh ibu-ibu anggota KWT Kenanga. Namun dalam pelaksanaan metode ini dalam penyuluhan hidroponik dirasakan sekali oleh ibu-ibu warga belajar ketika penyuluhan berlangsung menjadi lebih aktif dan ikut serta dalam proses demonstrasi. Dilaksanakannya program penyuluhan juga membantu sekali untuk ibu-ibu menambah ilmu serta wawasan terutama dibidang pertanian.

Dengan menggunakan metode peer learning dalam penyuluhan hidroponik dirasa sesuai dengan penyuluhan karena itu ibu-ibu anggota KWT dapat memahami materi dengan baik karena lebih aktif untuk bertanya kepada teman sebayanya dalam program penyuluhan ini.

Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Zubaidah (dalam Nurlizawati, 2019) dengan menggunakan tutor teman sebaya dapat meningkatkan aspek akademis, komunikasi, dan lebih efektif dalam membantu rekan sebaya memahami materi. Ditambah dengan adanya demonstrasi dalam penyuluhan hidroponik sangat membantu ibu-ibu KWT Kenanga dalam memahami gambaran serta langkah-langkah dalam pelaksanaan hidroponik. Dampak yang dirasakan oleh ibu-ibu peserta penyuluhan dengan diterapkannya metode peer learning pada penyuluhan hidroponik yaitu lebih paham dan mengerti, lebih produktif, serta menambah skill dan relasi di masyarakat.

Menurut hasil wawancara dengan B selaku penyuluh, sebelum dilaksanakan program, penyuluh meminta perizinan kepada Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga untuk pelaksanaan program penyuluhan disana. Kemudian dilakukan sosialisasi terjun ke lapangan

(7)

58

untuk menginformasikan kepada warga masyarakat yang ada di Dasa Wisma tiap RT di wilayah sekitar KWT Kenanga. Metode peer learning yang diterapkan pada penyuluhan hidroponik sangat cocok, karena dalam pelaksanaan penyuluhan dilakukannya secara diskusi, kemudian warga belajar secara aktif bebas mengutarakan apa yang diketahui tentang hidroponik. Setelah penyuluhan selesai warga belajar bisa berbagi atau sharing ilmu yang telah dia dapatkan di penyuluhan hidroponik kepada warga lain yang tidak bisa menghadiri langsung dalam kegiatan penyuluhan. Pelaksanaannya tentu dibutuhkan metode khusus yaitu peer learning atau tutor teman sebaya. Dikarenakan peserta dari program ini merupakan orang dewasa yang memiliki karakteristik khusus yang perlu disesuaikan selama pelaksanaan program, yang peserta program atau kelompok tani dapat mengimplementasikan kepada masyarakat lain disekitar. Metode ini dilakukan karena dapat menciptakan suasana pembelajaran baru terutama bagi kelompok tani mengenai pemanfaatan lahan pekarangan menggunakan media hidroponik tanpa adanya kecanggungan dan perasaan takut bertanya, saling berdiskusi dalam mendemonstrasikan.

Sehingga proses pelaksanaan program dapat berjalan lebih nyaman, aktif, dan leluasa. Adapun tujuannya agar warga masyarakat bisa memanfaatkan lahan pekarangan dan limbah botol plastik dan untuk fasilitas sarana dan prasarana terpenuhi karena sumber belajar sudah mempersiapkan dari mulai bahan-bahan pembuatan hidroponik dan media untuk penyuluhan hidroponik. Dalam pelaksanaan program penyuluhannya berjalan sesuai rencana dan berhasil, dalam penyuluhan warga masyarakat berhasil, dikarenakan ibu-ibu yang mengikuti kegiatan penyuluhan mampu memahami dan mengerti materi dengan baik. Praktik yang dilakukan dengan metode peer learning ini dapat menghasilkan output yaitu ibu-ibu di wilayah RW 02 Margabakti mampu mempraktikan dan mengimplementasikan hidroponik di pekarangan rumah masing-masing. Namun, ada perubahan waktu pelaksanaan penyuluhan, dilaksanakannya lebih awal, dikarenakan menyesuaikan waktu ibu-ibu KWT, agar tidak mengganggu waktu keseharian ibu-ibu KWT Kenanga. Adapun respon dari ibu-ibu warga belajar sangat baik, banyak warga yang antusias dan aktif dalam pelaksanaan penyuluhan hidroponik menggunakan metode peer learning.

Selain itu, menurut hasil wawancara dengan A selaku pengelola, penyuluhan dilakukan dengan metode peer learning sehingga peserta (ibu anggota KWT) berperan penting juga dalam kegiatan penyuluhan. Setelah kegiatan penyuluhan, selanjutnya demontrasi praktek menggunakan alat dan bahan yang sudah disediakan. Dengan adanya penyuluhan hidroponik menggunakan metode peer learning ini membantu pengelola dalam memilih metode yang akan digunakan pada penyuluhan-penyuluhan selanjutnya.

Berdasarkan hasil analisis didapatkan responden yang melaksanakan peer learning mengalami peningkatan pengetahuan dengan menggunakan metode peer learning. Selain itu, Ibu-ibu baik itu anggota KWT dan masyarakat umum dapat lebih memahami materi dengan baik dan lebih aktif dalam pelaksanaan penyuluhan berlangsung. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Boud et al. (2001) menjelaskan peer learning sebagai metode pembelajaran yang bertujuan untuk pengembangan keterampilan, cara berpikir, mengatasi masalah dan memberi umpan balik melalui komunikasi dengan orang lain. Westberg & Jason (1996) mengungkapkan salah satu alasan penggunaan metode peer learning, dimana pembelajaran sesama dapat memperbaiki pengetahuan, mengkaji dan menelaah konsep serta saling berbagi pengalaman, melalui peer learning para peserta dapat memperluas wawasan mereka, mengetahui kelebihan maupun kelemahan mereka. Kemudian menurut penelitian Stone et al.

(2013) peer learning dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kognitif dan motorik.

Pelaksanaan metode peer learning pada penyuluhan hidroponik berhasil dilaksanakan, dikarenakan ibu-ibu yang mengikuti kegiatan penyuluhan mampu memahami dan mengerti materi dengan baik. Selain itu, praktik yang dilakukan dengan metode peer learning ini dapat menghasilkan output yaitu ibu-ibu di wilayah RW 02 Margabakti mampu mempraktikan dan mengimplementasikan hidroponik di pekarangan rumah masing-masing. Dan beberapa

(8)

59

diantaranya mampu menjelaskan dan membantu membimbing ibu-ibu yang belum paham akan hidroponik ini. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Boud et al. (2001) peer learning mengacu pada pembelajaran dengan teman sebaya yang membantu temannya untuk belajar.

Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan, menghilangkan rasa enggan, rendah diri, malu sehingga diharapkan perawat tidak segan untuk mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya.

KESIMPULAN

Dari hasil analisis evaluasi metode peer learning yang diterapkan pada penyuluhan hidroponik kepada ibu-ibu di KWT Kenanga ditemukan bahwa penyuluhan dengan menggunakan metode peer learning adalah sangat sesuai, yang dijabarkan sebagai berikut:

Context evaluasi program metode peer learning pada penyuluhan hidroponik (identifikasi kebutuhan, tujuan program, dan sasaran program) sudah sangat sesuai dengan yang dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakat, khususnya ibu-ibu anggota KWT Kenanga RW 02 di Kelurahan Margabakti, Cibeureum dalam proses pelaksanaan penyuluhan.

Input evaluasi program metode peer learning pada penyuluhan hidroponik (identifikasi sumber daya, sarana dan prasarana, struktur organisasi) sudah cukup baik, mulai dari tempat atau sekretariat untuk pelaksanaan penyuluhan, sarana penunjang lainnya seperti proyektor, speaker, microfon. Lalu struktur organisasi juga sudah baik, lengkap, dan jelas mulai dari ketua sampai anggota organisasi.

Process pelaksanaan metode peer learning dalam penyuluhan hidroponik (persiapan penyuluhan, metode yang digunakan, sosialisasi, pelaksanaan) berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang direncanakan mulai dari persiapan hingga pelaksanaan penyuluhan. Serta metode yang digunakan pun yaitu peer learning dapat diterima dan diikuti dengan baik selama kegiatan penyuluhan berlangsung oleh ibu-ibu anggota KWT dan warga masyarakat sekitar RW 02 Kelurahan Margabakti.

Product pelaksanaan metode peer learning dalam penyuluhan hidroponik (ketercapaian program) hasil dari pelaksanaan program penyuluhan dengan metode peer learning ini banyak ibu-ibu merasa lebih terbantu dan lebih aktif dalam memahami materi sehingga dapat mengimplementasikan hidroponik dengan baik di rumah, serta mampu menanam dan memanfaatkan lahan pekarangan rumah dengan sistem hidroponik. Selain itu, ibu-ibu dapat memberikan materi serta berbagi materi dengan masyarakat umum di sekitar KWT Kenanga terkait hidroponik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan warga belajar, penyuluh, dan pengelola, dapat dilihat dari keaktifan dan respon ibu-ibu KWT Kenanga dalam pelaksanaan penyuluhan dan praktik dalam membuat hidroponik dengan botol bekas yang merasa terbantu dan senang dengan diterapkannya metode ini dalam penyuluhan hidroponik sehingga pelaksanaan penyuluhan berjalan dengan baik dan setiap anggota merasa bebas untuk bertanya dan memberikan pendapat tanpa harus malu atau segan. Hal ini berarti metode peer learning pada penyuluhan hidroponik sangat sesuai dan dapat menjadi alternatif cara untuk memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu sekaligus melaksanakan pemberdayaan wanita.

Keberhasilan program penyuluhan terutama di bidang pertanian dapat menggunakan metode peer learning. Dengan metode ini, apabila dilaksanakan dengan memberikan bekal kepada ibu-ibu wanita tani melalui penyuluh untuk saling memberikan ilmu kepada masyarakat, maka semua elemen dapat berperan dengan aktif tanpa harus merasa canggung, malu, atau takut dalam bertanya. Sehingga proses pen yuluhan dapat diterima dengan baik dan jelas oleh masyarakat khususnya ibu-ibu wanita tani.

DAFTAR RUJUKAN

(9)

60

Anggorowati, N. P. (2011). Penerapan Model Pembelajaran Tutor Sebaya Pada Mata Pelajaran Sosiologi. International Journal of Indonesian Society and Culture, 3(1), 103–120.

https://doi.org/10.15294/komunitas.v3i1.2303

Aryanti, T., Supriyono, & Ishaq, M. (2015). Evaluasi Program Pendidikan dan Pelatihan Program Pasca Sarjana. Jurnal Pendidikan Non Formal, 10(1), 1–13.

Bahua, M. I. (2016). Kinerja Penyuluh Pertanian. Deepublish.

Boud, D., Cohen, R., & Sampson, J. (2001). Peer Learning in Higher Education: Learning

from and with Each Other (1st ed.). Routledge.

https://doi.org/10.1108/et.2002.00444fad.001

Budi, S. (2018). Penyuluhan Pertanian: Teori dan Penerapannya (E. Wardah (ed.)). Sefa Bumi Persada.

Candra, A., & Husin, A. (2018). Identifikasi Kebutuhan Masyarakat Terhadap Pendirian Taman Bacaan Masyarakat di Desa Tanjung Seteko Kecamatan Indralaya. Journal of Nonformal Education and Community Empowerment, 2(2), 92–99.

Febriyanto, A., & Kartiko, D. C. (2014). Pengaruh Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Dribble Bola Basket (Studi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Prambon Sidoarjo). Jurnal Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan, 2(3), 783–786.

Hamri, E., Putri, E. I. K., Siregar, H., & Bratakusumah, D. (2016). Kebijakan Pemekaran Wilayah dan Pengembangan Pusat Pertumbuhan Ekonomi Kota Tasikmalaya. Jurnal Ekonomi Dan Kebijakan Publik, 7(1), 111–125. https://doi.org/10.22212/jekp.v7i1.412 Hastari, R. C. (2019). Penerapan Strategi Tutor Sebaya Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar

Matematika. Jurnal Abdimas Unmer Malang, 4(1), 46–50.

Kastrena, E., Setiawan, E., Patah, I. A., & Nur, L. (2020). Pembelajaran Peer Teaching Berbasis Zoom Video Sebagai Solusi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Passing Bawah Bola Voli Saat Situasi Covid 19. Indonesian Journal of Primary Education, 4(1), 69–75.

Kadir. (2008). Evaluasi Pelaksanaan Program BOS Sekolah Menengah Pertama di Semarang.

Thesis. Universitas Diponegoro.

Khairunnisa, N. F., Saidah, Z., Hapsari, H., & Wulandari, E. (2021). Peran Penyuluh Pertanian terhadap Tingkat Produksi Usahatani Jagung. Jurnal Penyuluhan, 17(2), 113–125.

https://doi.org/10.25015/17202133656

Mahfiyana, L., Mardani, D. M. S., & Hermawan, G. S. (2019). Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya (Peer Learning) Berbantuan Media Scramble Untuk Meningkatkan Penguasaan Huruf Katakana Siswa Kelas X Ibb3 Sma Negeri 3 Singaraja Tahun Ajaran 2018/2019. Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang Undiksha, 5(2), 217.

https://doi.org/10.23887/jpbj.v5i2.18605

Muljono, P. (2007). Learning Society, Penyuluhan dan Pembangunan Bangsa. Jurnal Penyuluhan, 3(1), 55–62.

Nurlizawati. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Tutor Teman Sebaya di SMAN 1 Pasaman. Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, 6(1), 33–41.

Roidah, I. S. (2014). Pemanfaatan Lahan Dengan Menggunakan Sistem Hidroponik. Jurnal Universitas Tulungagung Bonorowo, 1(2), 43–50.

Rumiyanto, & Sudarmono, A. (2015). Penerapan Peer Learning Model Syndicate Group Dalam Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Listrik Statis Kelas IX B MTs. Diponegoro Kecamatan Ungaran Timur Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal Pendidikan, 2(3), 71–84.

Salsabila, H. (2006). Fungsi-fungsi Manajemen: Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Evaluasi.

Stone, R., Cooper, S., & Cant, R. (2013). The Value of Peer Learning in Undergraduate Nursing Education: A Systematic Review. ISRN Nursing, 1–10.

https://doi.org/10.1155/2013/930901

(10)

61

Suarga. (2019). Hakikat, Tujuan Dan Fungsi Evaluasi Dalam Pengembangan Pembelajaran.

Inspiratif Pendidikan, 8(2), 327–338. https://doi.org/10.24252/ip.v8i1.7844

Westberg, J., & Jason, H. (1996). Fostering Learning in Small Groups: A Practical Guide.

Springer Publishing Company.

Wirawan. (2012). Evaluasi Teori, Model, Standar, Aplikasi dan Profesi. Jakarta: Rajawali Pers.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil kuisioner setelah dilakukan penyuluhan, sebanyak 100% responden sudah mengetahui bahwa limbah kotoran hewan ternak dapat dimanfaatkan menjadi biogas dan juga sudah

Hasil Wawancara dengan Pendidik Berdasarkan hasil wawancara dengan guru di MTsN 4 Banda Aceh proses pembelajaran menggunakan model blended learning dilakukan dengan dua metode yaitu