• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tampilan Permasalahan Pendidikan dan Solusinya di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Tampilan Permasalahan Pendidikan dan Solusinya di Indonesia"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN SOLUSINYA DI INDONESIA

KRT. Samsul Hadi Dwijonagoro1 E-mail : [email protected]

Aniza Wulandari2

E-mail : [email protected] , Frizka Rizty Audiya3

E-mail : [email protected]

Abstrak

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yang terjadi saat ini dapat disebabkan oleh masih banyaknya masalah pendidikan yang dihadapi Indonesia. Hal ini disebabkan karena perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik ditingkat nasional, provinsi, maupun kota dan kabupaten. Padahal dengan Pendidikan yang memadai mungkin saja permasalahan- permasalahan di Indonesia dapat teratasi. Hal dasar yang sangat dibutuhkan dalam upaya pemerataan Pendidikan Indonesia adalah dana serta birokrasi yang jelas dan mudah. Banyak solusi dan inovasi yang telah dilakukan namun itu juga belum dapat menyurutkan permasalahan Pendidikan yang ada di Indonesia. Demi mewujudkan generasigenerasi bangsa yang cerdas dan berguna bagi pembangunan, maka pemerintah tentu berfikir keras guna memecahkan permasalahan pemerataan pendidikan di Indonesia. Perlu adanya kesadaran dari tiap individu untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dan lebih maju. Kata Kunci:

Kualitas pendidikan, permasalahan pendidikan, solusi pendidikan

PENDAHULUAN

1 Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Ketua Biro Rumah Tangga STKIP PGRI Pacitan, Abdi Dalem Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Penngurus Masyarakat Sejarawan Indonesia Pacitan.

2 Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan

3 Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan

(2)

Pendidikan sebagai suatu sistem terbuka tidak lepas dari masalah, baik masalah mikro ataupun masalah makro. Masalah mikro, yaitu masalah yang timbul dalam komponen komponen yang terdapat dalam pendidikan itu sendiri sebagai suatu sistem. Masalah makro, yaitu masalah yang muncul dalam pendidikan itu sebagai suatu sistem dengan sistem sistem lainnya yang lebih luas didalam seluruh kehidupan manusia.

Rendahnya kualitas pendidikan merupakan permasalahan yang sampai sekarang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak bangsa, terlebih lagi kurangnya peran serta pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan menjadi penghambat kualitas pendidikan di Indonesia.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Mutu bangsa bergantung pada pendidikan yang mampu menjunjung nilai-nilai dan memiliki kemampuan membentuk watak, manusia yang beriman dan mengembangkan potensi dalam dirinya.

Setelah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya manusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang. Dengan adanya pendidikan yang mencakup nilai, budaya, dan pengetahuan akan menambah wawasan berpikir yang diberikan melalui pendidikan formal di sekolah. Sekolah adalah salah satu instansi yang memiliki tugas dan kewajiban sebagai fasilitator proses belajar agar dapat mencapai keberhasilan potensi pendidikan.

Kualitas Pendidikan yang saat ini sangat memprihatikan dibuktikan dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari tingkat pencapaian pendidkan, Kesehatan, dan pernghasilan per kepala yang menunjukan, bahwa indeks pengembangan di Indonesia semakin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-105 (1998), ke109 (1999), dan ke-108 (2018).

Kualitas Pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program ( PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia hanya 8 sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori dari The Middle Years Program

(3)

(MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode studi literasi atau kajian kepustakaan. Metode penelitian ini memiliki sumber dari berbagai macam kumpulan artikel hasil karya ilmiah atau penelitian sebelumnya yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian pada artikel ini. Penelitian kepustakaan dapat dipercaya hasilnya dalam menjawab permasalahan penelitian dikarenakan isi dari penelitian kepustakaan adalah kumpulan dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain. Sebelum melakukan telaah sumber-sumber ilmiah, peneliti harus mempersiapkan alat-alat yang digunakan untuk penelitian, kemudian peneliti menentukan dan mengetahui secara tastis sumber ilmiah yang dibutuhkan. Sumber

ini dapat berupa buku, jurnal, dan data atau informasi lainnya yang relevan. Setelah mengumpulkan sumber, peneliti dapat membaca kesimpulan dari berbagai macam kajian yang telah dikumpulkan. Hal-hal inilah yang sejalan dengan langkah-langkah Studi Pustaka.

PEMBAHASAN

1. Kualitas Pendidikan di Indonesia

Pendidikan secara etimologi memiliki asal kata dari bahasa Yunani yakni “paedagogie”, terdiri dari kata “pais” yang berarti amaak dan dari kata “again” yang berarti membimbing. Sehingga jika diartikan, paedagogie yaitu membimbing anak atau bimbingan kepada anak. Sedangkan dalam bahasa inggris, Pendidikan berasal dari kata “to educate” yang memiliki arti memperbaiki moral dan melatih pengetahuan.

Kualitas pendididkan diperlukan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Pendidikan tersebut sudah berjalan dengan sesuai atau belum. Menurut Ace Suryadi dan H.A.R Tilaar, kualitas Pendidikan merupakan kemampuan Lembaga Pendidikan untuk

(4)

memanfaatkan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar secara seoptimal mungkin.4

Pendidikan adalah kunci utama untuk berkembangnya sebuah negara, tanpa pendidikan yang memadai suatu negara tidak dapat mempertahankan existensinya. Menurut Eric A. Hanushek (2005) pada bukunya berjudul Economic outcomes and school quality mengemukakan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi sangat penting bagi negara-negara untuk mecapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Analisis empiris cenderung mendukung prediksi teoritis bahwa negara-negera miskin harus tumbuh lebih cepat dari negara-negara kaya karena mereka dapat mengadopsi teknologi yang sudah dicoba dan di uji oleh negara-negara kaya.5

Kualitas Pendidikan di Indonesia memang semakin memburuk akhir-akhir ini. Hal ini terbukti dengan kualitas guru, sarana belajar dan murid-muridnya. Banyak guru yang kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah mendedikasin dirinya menjadi guru.

Selain pengalaman dalam mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Sarana pembelajaran juga menjadi faktor semakin terpuruknya Pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah

4 Fitria Nur Auliah. K, Meninjau permasalaahn rendahnnya kualitas Pendidikan di Indonesia dan solusi, AoEj: Academy of Education journal, volume 13 no. 4 2022, diakses 22 Desember 2022 11.54 https://jurnal.ucy.ac.id/index.php/fkip/article/view/765/948 2 Wikipedia https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pendidikan diakses 5 Desember 2022 17.34

5 Amirulloh Aziz mengemukakan, salah satu ciri berkualitasnya satu sekolah ialah dengan banyak diperoleh siswa yang memiliki prestasi baik menyangkut akademik maupun non-akademik serta tujuannya sesuai dengan tujuan Pendidikan yang sudah ditetapkan, baik menyangkut akademik maupun non-akademik serta tujuannya sesuai dengan tujuan Pendidikan yang sudah ditetapkan. Upaya dalam mencapai Pendidikan bermutu tidak hanya terpenuhinya, aspek input dan aspek output saja.

(5)

baik menyangkut akademik maupun non-akademik serta tujuannya sesuai dengan tujuan Pendidikan yang sudah ditetapkan. Upaya dalam mencapai Pendidikan bermutu tidak hanya terpenuhinya, aspek input dan aspek output saja, melainkan pada aspek proses yang terdiri dari proses pengambilan kebijakan, pengelolaan rencana program, pengelolaan kelembagaan, proses KBM, monitoring dan penilaian dengan catatan bahwa proses KBM ialah yang paling penting dibandingkan dengan proses lainnya.4 Jerome S. Arcaro menjelaskan bahwa setiap program mutu atau kualitas harus memperhatikan empat komponen penting.6 (1) Adanya komitmen untuk berubah, baik dari anggota dewan sekolah maupun para administrator.

Meskipun perubahan itu sering menjadi momok yang menakutkan, namun dengan adanya komitmen untuk berubah akan dapat membantu dalam mengurangi ketakutan pada orang- orang pada wilayah/lingkungan Lembaga Pendidikan. (2) Adanya pemahaman yang baik tentang dimana keberadaan sekolah atau wilayah kita sekarang. Artinya, usaha perubahan yang sudah dicanangkan langgeng dan berhasil, harus diketahui dahulu bagaimana system yang berjalan saat ini. (3) Adanya visi masa depan yang jelas dan dipegang oleh semua orang di Lembaga/sekolah tersebut. Dengan visi itulah Lembaga Pendidikan akan dituntun dan diarahkan agar tetap focus dan berkomitmen dalam program mutu/kualitas tersebut. (4) Adanya rencana implementasi mutu di Lembaga/sekolah. Recana tersebut harus menjadi pedoman dalam proses implementasi yang secara kontinyu senantiasa diperbarui sebagai ciri perubahan, karena program mutu tidaklah pernah stagnan.

Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia

Febi Ismail mengurai beberapa permasalahan Pendidikan yang masih di hadapi bangsa Indonesia. Permasalahan tersebut masih berkutat pada6 (1) Sistem Pendidikan. (2) Praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang masih ada di dalam Pendidikan. (3) System pendidikan tidak menuju permberdayaan masyarakat. (4) Pendiddikan tidak berorientasi masa depan. (4) Anggaran Pendidikan yang masih kurang. (5) Daya saing lulusan yang masih rendah.

Jika carut marut Pendidikan terus didomplengi tujuan-tujuan di luar “mencerdaskan kehidupan bangsa”, maka nasib negara ini hanya akan tiggsl menunggu saat kehancurannya.

Harus ada pioneer-pioneer baru yang cinta terhadap Pendidikan, sehngga dengan kecintaanya tersebut dapat membarakan pentingnya belajar dan bersekolah di dada semua warga Indonesia. Harus ada agent of change yang peduli terhadap nasib bangsa, sehingga dengan kepeduliaanya tersebut dapat merubah wajah Pendidikan bangsa Indonesia menjadi lebih

6Andi Agustang, dkk, masalah Pendidikan di Indonesia, hal. 2, diakses 5 Dessember 2022 18.44 https://osf.io/9xs4h/

(6)

baik. Permasalahan Pendidikan di Indonesia dituai tiap tahunnya. Permasalahan pun muncul mulai asas input, proses, hingga output.7

INPUT

Permasalaahn yang terjadi pada aras input yaitu penerimaan siswa baru di sekolahsekolah.

Sekolah sebagai intitusi Pendidikan seharusnya berfokus pada peningkatan kualitas seseorang, bukan semata-mata mengejar keuntungan. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa Pendidikan di Indonesia sudah menjadi hal yang prestisius bagi beberapa kalangan.

PROSES

Permasalahan pada proses pembelajaran tak kalah kompleksnya dengan upaya memasukkan anak ke sekolah. Usaha untuk bisa memasukkan anak ke sekolah unggulan kadang tidak dibarengi dengan pemberian motivasi yang positif bagi si anak. Anak seharunysa diberikan gambaran mengenai apa yang ingin ia capai, bukan memberi gambaran apa yang ingin orangtua capai dari si anak.

OUTPUT

Pada aras output yaitu berkaitan dengan kelulusan, maka akan berhadapan dengan permasalahan yang masih gencar dipentahankan dan dipertentangkan, yaitu masalah ujian.

Wajar 12 tahun mewajibkan anak-anak berusia 7-19 tahun untuk mengenyam bangku sekolah.

Anak hanya menjadi pintar secara otak, tetapi belum tentu pintar secara emosional dan tingkah laku.

Permasalahan Pendidikan menjadi tantangan terbesar dalam dunia Pendidikan di Indonesia untuk mewujudkan Pendidikan yang berkualitas. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi bangsa Indonesia, pasalnya kualitas manusia yang dihasilkan sangat bergantung pada kualitas Pendidikan itu sendiri.

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana dan prasarana, kualitas guru, dan kesejahteraan guru), maka pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Gambaran prestasi belajar siswa sebagaimana hasil penilaian yang dilakukan oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement Study Center Boston College tersebut, diikuti oleh 500.000 siswa dari 63 negara terhadap Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS); Indonesia diwakili oleh siswa kelas VIII tahun 2011. Hasil penilaian tersebut mengungkapkan bahwa Indonesia dalam bidang Matematika berada di urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42 negara yang siswanya di tes (skor Indonesia turun 11 angka dari penilaian

7Lim ibrohim, dkk, Inovasi sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan Pendidikan, jurnal education FKIP UNMA, volume 6 no. 2, 2020 hal. 549, diakses 12 Desember 2022 11.25 https://www.ejournal.unma.ac.id/index.php/educatio/article/view/594/394 7 Priarti megawanti, meretas permasalaahn Pendidikan di Indonesia, jurnal formatif, vol. 2 no.3 2012 hal. 228 diakses 12 desember 2022 18.09

(7)

tahun 2007). Peringkat pertama diraih oleh siswa Korea (613), selanjutnya diikuti Singapura (500). Bidang sains,Indonesia berada di urutan ke-40 dengan

1) Masalah Pendidikan di Indonesia dalam Lingkup Makro a. Kurikulum yang Membingungkan dan Terlalu Kompleks

Kurikulum merupakan sebuah rancangan atau program yang diberikan oleh penyelenggara pendidikan untuk peserta didiknya. Di Indonesia, terhitung sudah mengalami 10 hingga 11 kali perubahan kurikulum sejak Indonesia merdeka. Tentu perubahan-perubahan kurikulum yang terjadi dapat membingungkan, terutama bagi pendidik, peserta didik, dan bahkan orang tua.

Menurut Nasution, Mengubah kurikulum dapat juga diartikan dengan turut mengubah manusia, yaitu pendidik, penyelenggara pendidikan, dan semua yang terlibat dalam pendidikan. Itu sebabnya perubahan kurikulum tesrebut sering dianggap sebagai perubahan sosial atau social change.

Selain perubahan kurikulum, kurikulum yang diterapkan di Indonesia juga terbilang cukup kompleks. Hal ini sangat berdampak pada pendidik dan peserta didik. Peserta didik akan terbebani dengan sejumlah materi yang harus dikuasainya. Sehingga, sulit bagi peserta didik untuk memilih dan mengembangkan potensi dalam dirinya yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka. Selain peserta didik, pendidik juga terkena dampaknya. Pendidik akan terbebani dengan tugas yang banyak untuk mempelajari materi-materi dan tugas mengajari muridnya dengan materi yang banyak. Sehingga, tidak menutup kemungkinan pendidik menjadi kurang optimal dalam mengajari muridnya.

b. Pendidikan yang Kurang Merata

Indonesia merupakan negara berkembang yang masih mengalami berbagai proses pembangunan, termasuk dalam sektor pendidikan. Sehingga, hal ini menyebabkan pelaksanaan proses pendidikan juga masih dihadapkan oleh berbagai tantangan permasalahan di negara yang masih berkembang, seperti kurang meratanya pendidikan terutama di daerah-daerah tertinggal. Ketidakmerataan ini sering dialami oleh lapisan masyarakat yang miskin. Seperti yang kita ketahui, semakin tinggi pendidikan semakin mahal juga biayanya. Sehingga, tak jarang banyak orang yang memilih tidak sekolah dibandingkan harus mengeluarkan banyak biaya.

c. Masalah Penempatan Guru

Pada beberapa kasus pendidikan di Indonesia, masalah penempatan guru ini masih kerap terjadi. Terutama penempatan guru bidang studi yang tidak sesuai dengan penempatannya atau keahliannya. Hal ini dapat menyebabkan guru tidak bisa optimal dalam mengajar. Menurut Jakaria, ketidaklayakan mengajar guru dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya

(8)

yaitu ketidaksesuaian antara bidang studi yang diajarkan dengan latar belakang pendidikan guru tersebut (Jakarta: 2014). 10 Masalah penempatan guru ini biasanya terjadi karena kekurangan guru di suatu daerah tertentu. Hal itu membuat guru yang ada harus bisa mengajar bidang studi lain untuk memenuhi kebutuhan siswanya. Kekurangan guru ini biasa terjadi di daerah yang terpencil, karena tidak meratanya penyaluran guru ke daerah tersebut.

d. Rendahnya Kualitas Guru

Guru merupakan seorang pengajar yang menyampaikan ilmu kepada peserta didiknya. Peran seorang guru sangatlah penting dalam mencapai keberhasilan Pendidikan. Tidaklah mudah hidup menjadi seorang guru, begitu banyak tanggung jawab yang dilakukan. Namun, nyatanya masih banyak guru yang memandang pekerjaannya adalah suatu hal yang mudah dan hanya melakukan pekerjaannya sekadar untuk mendapat penghasilan. Menurut Herlambang, saat ini terbangun paradigma keliru tentang pemahaman profesi guru yang meliputi: (1) Mencetak manusia yang siap untuk kerja. (2) Memandang bahwa mendidik merupakan pekerjaan mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun. (3) Memiliki tujuan utama yaitu untuk mendapat penghasilan (Herlambang: 2018).

Keadaan guru di Indonesia bisa dikatakan amat memprihatinkan. Hal ini dikarenakan kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Masih banyak guru yang seenaknya dalam menjalankan tugas, seperti: terlambat masuk kelas, lebih banyak bercerita dibanding menjelaskan pelajaran, kurang memahami konsep materi yang akan diajarkan, kurang memahami karakter siswa bahkan masuk ke dalam kelas hanya untuk memberikan tugas lalu pergi meninggalkan kelas. Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

Padahal, Indonesia membutuhkan guru yang berkualitas dan profesional. Seperti yang dikatakano oleh Suparno, bahwa pendidikan di Indonesia saat ini membutuhkan guru yang melakukan tugasnya sebagai panggilan bukan sekadar tuntutan pekerjaan Sebagai seorang pendidik atau guru harus bisa menjalankan kewajibannya sebagai mana mestinya, guru memiliki kewajiban untuk mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan menilai anak didiknya.

(9)

Adapun tugas guru menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 yaitu guru bertugas dalam merencanakan dan menyusun pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil dari pembelajaran, membimbing, melatih, meneliti, dan mengabdi terhadap masyarakat. Dengan menjalankan tugasnya sebagai seorang guru, diharapkan guru dapat mendidik dan membimbing siswanya menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

e. Biaya Pendidikan yang Mahal Saat ini sudah menjadi rahasia umum dengan anggapan

“semakin tinggi pendidikan semakin tinggi piula biaya yang dikeluarkan”. Hal tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, dikarenakan banyak masyarakat yang terdampak akibat mahalnya biaya pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan sangatlah membebani masyarakat Indonesia yang kebanyak adalah lapisan menengah kebawah. Tak sedikit orang lebih memilih tidak sekolah dibandingkan harus mengeluarkan biaya yang besar. Adapula anak yang ingin bersekolah namun terkendala biaya sehingga terpaksa untuk berhenti sekolah. Perlu diketahui bahwa biaya pendidikan yang mahal akan membuat ketidakmerataannya pendidikan di Indonesia dan akan berdampak tidak baik terhadap berbagai aspek di kehidupan.

Menurut Idris, permasalahn pendidikan ini akan berdampak terhadap segala aspek di kehidupan, akan merajalelanya pengangguran, marak kriminalitas, kemiskinan yang semakin meningkat, dan sebagainya

2) Masalah Pendidikan di Indonesia dalam Lingkup Mikro a. Metode Pembelajaran yang Monoton

Metode pembelajaran yang monoton ini berarti tidak ada perubahan dan inovasi, dengan kata lain metode ini dilakukan begitu saja tidak ada perbedaan saat menyampaikan materi. Padahal, metode pembelajaran yang digunakan sangatlah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Pasalnya proses pembelajaran adalah kegiatan yang berniali edukatif, dimana terjadi interaksi antara siswa dan guru.12

Interaksi dalam proses kegiatan pembelajaran benilai edukatif dikarenakan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang telah disusun 12 Oleh sebab itu, dalam kegiatan pembelajaran, guru atau pendidik perlu menerapkan metode yang kreatif dan inovatif guna menarik perhatian siswanya yang kemudian dapat mencapai hasil pembelajaran sesuai harapan.

b. Sarana dan Prasarana Kurang Memadai

Indonesia sebagai negara yang berkembang tentu saja masih banyak yang perlu dibangun dan disempurnakan. Termasuk dalam penyempurnaan sarana dan prasarana pendidikan. Sampai saat ini masih kerap dijumpai di sekolah-sekolah daerah tertentu fasilitas yang tidak memadai,

(10)

bahkan tidak ada fasilitas sama sekali. Masalah rendahnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyaluran dana yang terhambat, penyalahgunaan dana sekolah, perawatan sarana dan prasarana yang buruk, pengawasan pihak sekolah yang acuh terhadap sarana dan prasarana, dan faktor lainnya. Akibatnya, banyak siswa yang tidak dapat menikmati fasilitasi di sekolah dengan baik. Padahal adanya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa. Menurut Yustikia, sarana dan prasarana memiliki hubungan penting dengan pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak menggunakan sarana dan prasarana yang baik akan berdampak kurang baik untuk proses belajar. Proses belajar dinilai akan kurang bermaksna

c. Rendahnya Prestasi Siswa

Inti dari sebuah pendidikan adalah proses belajar itu sendiri. proses pembelajaran dilakukan guna mengembangkan dan menemukan potensi-potensi yang ada dalam diri siswa dan menghasilkan prestasi siswa yang diharapkan. Menurut Putri dan Neviarni, berprestasi adalah sebuah puncak dari proses belajar yang membuktikan keberhasilan belajar siswa. Namun, sayangnya prestasi siswa yang rendah masih menjadi tantangan besar untuk mewujudkan harapan pendidikan Indonesia. Banyak sekali faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas prestasi siswa.13 Faktor Internal 1. Faktor jasmani: kurang memperhatikan asupan makanan, fisik yang sakit 2. Faktor psikologis: kurangnya motivasi, baik dari diri sendiri ataupun orang lain.

2. Kelelahan Faktor Eksternal 1. Rendahnya kualitas guru

2. Kurang memadainya sarana dan prasarana

3. Faktor keluarga, seperti terjadi konflik di dalam keluarga

4. Faktor lingkungan, seperti orang-orang disekita acuh terhadap pendidikan, pergaulan yang buruk, dll.

3. Solusi untuk meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia

Kualitas pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih rendah jika dibandingkan dengan negara lainnya. Padahal, pendidikan adalah suatu hal yang penting dalam kehidupan. Besar harapan bangsa terhadap peserta didik untuk kemajuan negara Indonesia.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwasanya pendidikanlah yang berperan besar dalam menghasilkan masyarakat yang berkualitas. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya dan solusi untuk mewujudkan pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tentunya yang dapat menciptakkan manusia-manusia yang berkualitas. Adapun beberapa solusi dari permasalahan tersebut sebagai berikut.

(11)

a. Melakukan Pemerataan Pendidikan

Permasalahan ketidakmerataannya pendidikan di Indonesia bukanlah hal yang asing di telinga kita. Sampai saat masih kerap terjadi kasus dimana ada di daerah tertentu yang kurang mendapat perhatian mengenai pendidikannya. Ada bebarapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ketidakmerataan pendidikan. Menurut Kurniawan, secara tradisional solusi yang dapat dilakukan yakni seperti:

(1) Pembangunan Gedung atau ruang belajar untuk siswa di setiap daerah,

(2) Melakukan gotong royong antar warga untuk merawat dan menjaga fasilitas sekolah yang diberikan,

(3) Mengirimkan guru-guru profesional ke daerah-daerah yang terpencil atau kurang terperhatikan,

(4) Adanya program untuk pendekatan kepada warga atau melakukan edukasi tentang pentingnya pendidikan (mendatangi rumah-rumah warga)

(5) Adanya Universitas Terbuka, seperti saat ini sudah banyak diterapkan di berbagai daerah Masalah biaya juga menjadi hambatan dalam pemerataan pendidikan. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian pemerintah dalan menyalurkan dana kepada masyarakat kurang mampu untuk bersekolah. Selain pemerintah, masyarakat juga bisa melakukan gotong royong dalam rangka pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi mereka yang membutuhkan.

a. Meningkatkan Kesejahteraan Guru

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pendidikan di Indonesia sangat membutuhkan guru yang bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan tepat sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003. Untuk mencapai itu semua perlu dibarengi dengan kesejahteraan guru yang terjamin. Kesejahteraan guru dengan profesionalisme guru dinilai memiliki keterkaitan. Menurut Kulla, dampak kurang memadainya kesejahteraan guru terlihat dari masih banyak guru yang melakukan pekerjaan sampingan, seperti berdagang, ataupun beternak (Kulla: 2017). Hal tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja guru saat mengajar.

Tak jarang guru terlalu fokus kepada pekerjaan sampingannya sehingga membuat proses mengajar kurang optimal.

b. Meningkatkan Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan lagi guna mencapai tujuan pendidikan sesuai yang diharapkan. Menurut Aziz, pendidikan yang bermutu yaitu pendidikan yang dapat memenuhi harapan, kebutuhan, dan keinginan sesuai harapan masyarakat Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan: (1) Menetapkan kurikulum sesuai dengan yang dibutuhkan (sesuaikan dengan kondisi siswa, masyarakat, dan negara), (2) Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana, (3) Mengadakan kegiatan-kegiatan sederhana seperti, kursus, program literasi, menjalin hubungan dengan wali murid dan lain sebagainya.

(12)

c. Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

Saat ini rendahnya prestasi siswa masih menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan Indonesia. Kenyataan ini sangatlah disayangkan, karena ini membuktikan adanya kegagalan dalam pendidikan di Indonesia.Maka dari itu perlu melakukan tindakan atau upaya yang dapat menjadi solusi atas permasalahan tersebut, diantaranya15: (1) Guru menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan efektif, tidak monoton, (2) Siswa harus aktif dalam kegiatan pembelajaran menjadi pusat belajar, bukan hanya sebagai pendengar, (3) Peran orang tua dalam memotivasi anaknya untuk belajar sangat diperlukan, (4) Masyarakat turut membantu proses belajar siswa dengan menciptakan lingkungan yang baik dan nyaman.

KESIMPULAN

Pendidikan secara etimologi memiliki asal kata dari bahasa Yunani yakni “paedagogie”, terdiri dari kata “pais” yang berarti amaak dan dari kata “again” yang berarti membimbing. Sehingga jika diartikan, paedagogie yaitu membimbing anak atau bimbingan kepada anak. Sedangkan dalam bahasa inggris, Pendidikan berasal dari kata “to educate” yang memiliki arti memperbaiki moral dan melatih pengetahuan, Kualitas pendididkan diperlukan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Pendidikan tersebut sudah berjalan dengan sesuai atau belum. tingkat pendidikan yang tinggi sangat penting bagi negara-negara untuk mecapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Analisis empiris cenderung mendukung prediksi teoritis bahwa negara-negera miskin harus tumbuh lebih cepat dari negara-negara kaya karena mereka dapat mengadopsi teknologi yang sudah dicoba dan di uji oleh negara-negara kaya.

1. Permasalahan Pendidikan di Indonesia Permasalahan makro mencakup:

a. Kurikulum yang membingungkan dan terlalu kompleks b. Pendidikan kurang merata

c. Masalah penempatan guru d. Rendahnya kualitas guru e. Biaya Pendidikan mahal

Sedangkan pemasalahan pendidikan dalam lingkup mikro mencakup:

a. Metode pembelajaran yang monoton b. Sarana dan Prasarana Kurang Memadai c. Rendahnya Prestasi Siswa

2. Solusi yang dapat di lakukan a. Melakukan Pemerataan Pendidikan b. Meningkatkan Kesejahteraan Guru

(13)

c. Meningkatkan Mutu Pendidikan d. Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

DAFTAR PUSTAKA

Agustang, Andi, Dkk, Masalah Pendidikan Di Indonesia, Hal. 2, Https://Osf.Io/9xs4h/

(14)

Ibrohim, Lim, Dkk, Inovasi Sebagai Solusi Dalam Mengatasi Permasalahan Pendidikan, Jurnal Education FKIP UNMA, Volume 6 No. 2, 2020 Hal. 549, Https://Www.Ejournal.Unma.Ac.Id/Index.Php/Educatio/Article/View/594/394

K., Fitria Nur Auliah, Meninjau Permasalaahn Rendahnnya Kualitas Pendidikan Di Indonesia Dan Solusi, Aoej: Academy Of Education Journal, Volume 13 No. 4 2022 Https://Jurnal.Ucy.Ac.Id/Index.Php/Fkip/Article/View/765/948

Megawanti, Priarti, Meretas Permasalahan Pendidikan Di Indonesia, Jurnal Formatif, Vol. 2 No.3 2012 Hal. 228

Mukid, Abd., Meningkatkan Kualitas Pendidikan Melalui System Pembelajaran Yang Tepat, Tadris, Vol. 2 No. 1 2007 Hal. 123

Wikipedia Https://Id.M.Wikipedia.Org/Wiki/Pendidikan

Fajri Ihsanul, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia, Https://osf.io/eu8yj/download/?format=pdf

Referensi

Dokumen terkait

(gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro- aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan

Menurut Makmur dan Berutu (Sibarani 2014 :10) memiliki tiga definisi yakni. 1) Gotong-royong sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Indonesia ummnya dan

Menunjukkan perilaku jujur,  disiplin, bertanggung jawab,  peduli (gotong royong, kerjasama,  toleran, damai), santun, responsif,

perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai) santun, rensponsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas

Demikianlah tiga langkah ini sebagai strategi kunci atau strategi penentu yang berupaya mamberi solusi pada tiga latar, yaitu pembangunan kesadaran pada semua

Faktor manusia sebagai pengemudi merupakan faktor yang paling dominan dalam kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran rambu-rambu lalu

Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan

Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsif dan pro- aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai