Presented by: Meta Wijaya
TANAMAN
KAKAO
Sejarah Tanaman Kakao
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan di Amerika Selatan bagian Utara. Penduduk yang pertama kali mengusahakan tanaman kakao serta menggunakannya sebagai bahan makanan dan minuman adalah Suku Indian Maya dan Suku Astek (Aztec). Di Indonesia tanaman kakao diperkenalkan oleh orang Spanyol pada tahun 1560 di Minahasa dan Sulawesi. Taksonomi kakao adalah sebagai berikut:
Kerajaan: Plantae, Divisi: Spematophyta, Sub divisi:
Angiospermae, Kelas: Dicotyledoneae, Anak kelas:
Dialypetalae, Ordo: Malvales, Famili: Sterculiceae;
Genus: Theobroma; Species: Theobroma cacao L (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2010).
Nilai Ekonomi
Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia menyatakan bahwa produksi Kakao dari tahun 2017-2021 yaitu:
Sumatera Barat merupakan salah satu sentra perkebunan kakao di Kawasan Barat
Indonesia yang diharapkan dapat berperan sebagai penyanggah tajamnya penurunan
produksi kakao di sentra-sentra produksi Wilayah Timur Indonesia. Untuk mewujudkan harapan tersebut maka pada tahun 2006 pemerintah telah mencanangkan program
revitalisasi perkebunan kakao salah satu di Sumatera Barat ( Disbun Sumbar, 2009).
Tanaman kakao menjadi salah satu komoditas yang cukup strategis di Propinsi Sumatera Barat, karena menurut hasil analisis input-output tahun 2007, kakao memiliki nilai total daya penyebaran dan indeks daya penyebaran nasing-masing 1,7896 dan 1,2142 yang
berarti memiliki keterkaitan ke depan maupun ke belakang yang cukup kuat (BPS, Sumbar, 2009).
Daerah penghasil kakao terbesar di Sumatera Barat salah satunya adalah Kabupaten Padang Pariaman 12.754 ton dengan luas tanam 30.289 Ha. Tanaman kakao dapat
tumbuh dimana saja terutama di daerah yang memiliki ketinggian nol hingga 800 meter dari permukaan laut. Prospek pasar kakao cukup luas karena kebutuhan dunia untuk kakao terus meningkat sekitar 3% setiap tahunnya (Antara Sumbar, 2018).
Penyebaran Tanaman Kakao di Sumatera Barat
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pada tahun 2020 Sumatera Barat menjadi penghasil kakao terbesar keenam, total produksi kakao Sumatera Barat tahun 2019 adalah 43.300 ton.
Untuk produksi kakao di Sumatera Barat mencapai 40.200 ton pada tahun 2020. Dharmasraya adalah wilayah di Sumatera Barat yang menghasilkan kakao, dan juga memiliki potensi untuk mengembangkan tanaman kakao (Theobroma cacao L). Dengan produksi sekitar 2.250 ton
kakao, luas perkebunan kakao Dharmasraya pada tahun 2020 mencapai 3.878 ha (BPS Provinsi Sumatera Barat, 2021).
Produksi Perkebunan Rakyat Menurut Jenis Tanaman di Provinsi Sumatera Barat (Ribu ton), 2022
Grafik Harga Kakao yang diterima rata - rata petani indonesia selama 5
tahun terakhir
Peluang Pasar Dan Produksi Kakao Di Indonesia
Produksi Kakao di Sumatera Barat Peluang Pasar
Sumatera Barat merupakan daerah yang berpotensi dalam hal
pengembangan sentra tanaman Kakao. Upaya pendekatan
pengembangan pertanaman kakao melalui penerapan teknologi yang
tepat guna baik dari aspek teknis, sosial, budaya dan kelembagaan.
Inovasi teknologi yang diterapkan bertujuan untuk mengatasi
masalah dan kebutuhan petani kakao.
Peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor
maupun kebutuhan dalam negeri. Konsumsi cokelat per kapita di dunia didominasi oleh
negara-negara Eropa, dengan urutan Swiss (8,8
kg/kapita/tahun), Austria (8,1 kg/kapita/tahun), Jerman (7,9kg/kapita/tahun), Inggris
(7,6 kg/kapita/tahun), dan Swedia (6,6 kg/kapita/tahun).
Produksi Kakao Indonesia Terus Menurun 3 Tahun
Terakhir
Jenis Tanaman Kakao
Asal Usul Jenis Tanaman Kakao
Criollo
merupakan salah satu jenis kakao yang kemungkinan besar berasal dari lembah Amazon. Forastero berarti "orang asing" atau
"pendatang". Forastero merupakan jenis kakao yang paling banyak
memenuhi kebutuhan kakao dunia dengan presentase mencapai hampir 80% dari seluruh produksi kakao di dunia. Kualitas kakao forastero lebih rendah dibandingkan dengan kakao Criollo. Dalam satu buah kakao
Forastero, dapat dihasilkan 35-50 biji cokelat
Forastero
TrinitarioTrinitario merupakan salah satu jenis kakao yang pertama kali dibudidayakan di daerah
Trinidad, setelah terjadi wabah penyakit tanaman cokelat pada tahun 1727 yang hampir
memusnahkan semua jenis kakao Criollo. Trinitario
merupakan jenis kakao hasil persilangan Criollo dan
Forastero.
Criollo merupakan varietas yang berasal dari Amerika Tengah, Amerika Selatan, Kepulauan
Karibia, dan Sri Lanka. Varietas ini pertama kali ditemukan oleh
penjajah Spanyol di hutan hujan Amerika Tengah, kakao jenis ini dianggap sebagai varietas kakao asli atau pribumi. Oleh karena itu, ia diberi nama Criollo, yang berarti
“native” atau “berasal dari tempat yang bersangkutan” dalam bahasa Spanyol