Tema: “TAPERA dan Stabiltas Keamanan Nasional.”
Novi Indah Earlyanti
PENGERTIAN PENGERTIAN
Tabungan Perumahan Rakyat (TAPERA) adalah penyimpanan yang dilakukan oleh Peserta secara pcriodik dalam jangka waktu tertentu yang hanya dapat dimanfaatkan untuk pembiayaan perumahan dan/atau dikembalikan berikut hasil pemupukannya setelah kepesertaan berakhir (Peraturan Pemerintah No. 25 Tahnu 2020).
Setiap pekerja dengan usia paling rendah 20 tahun atau sudah kawin yang memiliki penghasilan paling sedikit sebesar upah minimum, wajib menjadi peserta Tapera (Pasal 1 Peraturan Pemerintah/ No.25 Tahun 2020).
LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG
Sumber Masalah:
(1) Beban Finansial bagi Pekerja dan Pengusaha
Potongan Gaji: Potongan sebesar 3% dari gaji pekerja (2.5%
dibayar pekerja dan 0.5% oleh pengusaha) menambah beban bagi pekerja yang sudah terbebani dengan berbagai potongan lain seperti BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan Pajak Penghasilan.
Biaya Tambahan bagi Pengusaha: Pengusaha merasa keberatan dengan tambahan beban biaya di tengah kondisi ekonomi yang mungkin tidak stabil.
(2) Ketidakpastian Manfaat bagi Peserta
Kepemilikan Rumah: Tidak ada jaminan bahwa setelah bertahun-tahun membayar iuran, peserta pasti dapat memiliki rumah. Dana yang dikumpulkan mungkin tidak cukup untuk uang muka, apalagi membeli rumah secara penuh.
(3). Penyalahgunaan Dana
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengelolaan dana disebabkan oleh kasus korupsi di lembaga lain seperti Taspen, Jiwasraya dan Asabri, sehingga ada kekhawatiran dana Tapera juga akan disalahgunakan.
(4). Minimnya Informasi
Kurangnya informasi yang jelas dan memadai mengenai mekanisme dan manfaat Tapera menyebabkan kebingungan dan resistensi dari pekerja dan pengusaha.
(5). Keterlambatan Implementasi
Lama waktu antara pengesahan UU No. 4 Tahun 2016 dan penerbitan peraturan pelaksananya (PP No. 25 Tahun 2020 dan PP No. 21 Tahun 2024) menyebabkan kebijakan ini terasa tidak relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
(6) Bersifat wajib (memaksa) baik WNI, WNA, ASN, Polri, TNI, Swasta, sektor Formal maupun sektor Non Formal (Mis. Kurir ekspedisi dan pengemudi ojek online),
LATAR BELAKANG (2)
LATAR BELAKANG (2)
LATAR BELAKANG LATAR BELAKANG (3) (3)
(7). Aturan yang tidak transparan
Prosedur dan persyaratan yang rumit untuk pencairan dana Tapera membuat masalah baru, sulit diakses, dan terutama bagi pekerja swasta serta pekerja kontrak yang rentan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK).
(8) Keterbatasan Implementasi untuk WNA
Pengusaha asing mungkin merasa keberatan dengan kewajiban bagi WNA yang bekerja lebih dari enam bulan untuk ikut serta dalam Tapera, mengingat keterbatasan mereka dalam membeli properti di Indonesia.
(9). Potensi Kerusuhan Sosial
Ketidakpuasan dan protes massal terkait kebijakan ini bisa mengancam stabilitas keamanan nasional.
(10). Tuntutan Revisi dan Judicial Review
Banyak elemen masyarakat mendesak berbagai pihak, termasuk legislatif dan serikat pekerja, untuk merevisi atau membatalkan kebijakan ini melalui judicial review.
(1). Transparansi terhadap Pengelolaan Dana
Polri bekerja sama dengan lembaga pengawas lainnya untuk memastikan dana Tapera dikelola dengan transparan dan akuntabel guna mencegah korupsi.
(2) Penegakan Hukum
Menindak tegas setiap upaya korupsi atau penyalahgunaan dana Tapera untuk menjaga kepercayaan publik.
(3) Sosialisasi Program
Mengedukasi masyarakat mengenai tujuan dan manfaat Tapera untuk mengurangi resistensi dan meningkatkan partisipasi masyarakat.
(4) Dialog dengan Pemangku Kepentingan
Melakukan dialog terbuka dengan serikat pekerja, pengusaha, dan kelompok masyarakat untuk mendengarkan aspirasi mereka dan mencari solusi bersama.
ANALISIS & EVALUASI PENYELESAIAN MASALAH
ANALISIS & EVALUASI PENYELESAIAN MASALAH
(3) Koordinasi dengan Instansi Terkait
Bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian PUPR, dan instansi lainnya untuk memastikan kebijakan dan pelaksanaannya berjalan lancar.
(4) Monitoring dan Evaluasi
Melakukan monitoring dan evaluasi berkala terhadap implementasi program Tapera untuk memastikan efektivitas dan relevansinya dengan kondisi ekonomi saat ini.
(5) Pengelolaan Demonstrasi
Menangani demonstrasi dengan pendekatan humanis dan menghormati hak asasi manusia untuk mencegah eskalasi konflik.
(6) Memfasilitasi penyelesaian sengketa antara pekerja dan pengusaha terkait implementasi Tapera.
1. Ketidakpuasan Sosial
Jika implementasi Tapera tidak efektif atau tidak merata, hal ini dapat menyebabkan ketidakpuasan sosial di antara masyarakat yang merasa tidak mendapatkan manfaat dari program tersebut. Ketidakpuasan sosial ini bisa berujung pada protes, unjuk rasa, atau bahkan kerusuhan, yang dapat mengganggu stabilitas keamanan nasional.
2. Ketidaksetaraan Ekonomi
Jika kebijakan Tapera tidak mampu mengurangi kesenjangan ekonomi antara berbagai kelompok masyarakat, ini dapat meningkatkan ketegangan sosial dan politik. Ketidaksetaraan ekonomi yang tinggi dapat menciptakan ketegangan antar- kelompok yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan nasional..
3. Ketegangan Antar-Kelompo
Implementasi Tapera yang tidak merata atau diskriminatif dapat menciptakan ketegangan antar-kelompok di masyarakat, terutama antara kelompok yang mendapatkan manfaat dari program tersebut dengan kelompok yang merasa diabaikan atau didiskriminasi. Hal ini dapat mengganggu stabilitas keamanan nasional.
4. Ketidakpastian Ekonomi
Jika implementasi Tapera tidak didukung oleh kebijakan ekonomi yang kokoh dan berkelanjutan, hal ini dapat menciptakan ketidakpastian ekonomi yang dapat memicu ketegangan sosial dan politik., ketegangan dan ketidakstabilan, yang pada gilirannya dapat mengganggu stabilitas keamanan nasional.
5. Korupsi dan Penyalahgunaan
Program-program besar seperti Tapera rentan terhadap praktik korupsi dan penyalahgunaan dana. Jika terjadi penyalahgunaan dana Tapera oleh pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaannya, hal ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan lembaga terkait, serta menciptakan ketidakstabilan politik dan sosial.
1. Polri perlu melakukan analisis risiko terhadap potensi konflik yang mungkin timbul akibat kebijakan Tapera, serta mengambil langkah preventif dan responsif untuk mengatasi konflik tersebut secara efektif.
2. Memperkuat koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait seperti Kementerian Tenaga Kerja, BP Tapera, dan pemerintah daerah.
3. Melakukan sosialisasi yang intensif tentang tujuan dan manfaat Tapera kepada masyarakat, khususnya pekerja formal dan informal.
4. Mengembangkan dan menyarankan sistem pelaporan yang mudah diakses oleh peserta Tapera untuk melaporkan masalah atau penyimpangan, serta pastikan adanya tindak lanjut yang cepat dan transparan.
REKOMENDASI
5. Membuat mekanisme pengawasan khusus untuk memastikan pekerja asing diperlakukan adil dalam skema Tapera dan tidak ada diskriminasi.
6. Menerapkan pendekatan humanis dalam penanganan demonstrasi yang terkait dengan Tapera, dengan mengedepankan dialog dan mediasi.
7. Polri aktif dalam melakukan pengawasan terhadap pengelolaan dana Tapera dan menegakkan hukum terhadap pelanggaran yang terjadi, seperti penyalahgunaan dana atau tindakan korupsi.
8. Polri perlu meningkatkan kemampuan intelijen dalam memantau perkembangan terkait implementasi Tapera, termasuk potensi gangguan keamanan yang mungkin muncul sebagai dampak dari program tersebut.
Terima Kasih
“Tantangan besar dalam menerapkan kebijakan adalah menjaga keseimbangan antara kesejahteraan rakyat dan stabilitas keamanan. POLRI siap menjadi pelindung integritas dan keadilan demi masa depan yang lebih baikt”
"Keberhasilan menjaga stabilitas keamanan nasional tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, tetapi juga pada kecerdasan dalam menghadapi perubahan sosial dan ekonomi, seperti implementasi pemberlakuan program Tapera.”