TEKNOLOGI BANGUNAN
TANGGAP BENCANA BANJIR
TRI PRATAMA. C. S. HAPILI / 19021102059 CHRIST IMANUEL HAANS / 19021102020
TEKNOLOGI BANGUNAN TANGGAP BENCANA (A-
KM)
BANJIR
● Banjir adalah suatu kondisi dimana tidak tertampungnya air di dalam saluran pembuang (kali) atau terhambatnya aliran air di dalam saluran pembuang (Suripin, 2004)
● Banjir merupakan peristiwa dimana luaran air melebihi suatu ambang batas yang dianggap normal dalam kehidupan sehari- hari (Bradley & Potter, 1992)
● Menurut kamus besar Bahasa Indonesia dijelaskan definisi banjir terdiri dari beberapa kriteria yaitu : (1) berdasarkan kata kerjanya banjir adalah berair banyak dan deras, kadang-kadang meluap:karena hujan terus-menerus, sungai meluap. (2) berdasarkan kata benda banjir adalah air yang banyak dan mengalir deras pada musim hujan, terbenamnya daratan karena volume air yang meningkat. (3) berdasarkan kata sifat banjir juga mengandung arti datang banyak sekali. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan banjir adalah suatu keadaan atau kondisi pada saat musim hujan yang mengakibatkan sungai atau tempat penampungan air secara masal tidak mampu lagi menampung jumlah air, karena terhambatnya aliran air dalam saluran penampungan air, sehingga air naik melebihi batas normalnya.
Gambar 1 : Banjir Banyumas Jawa Tengah 18 Maret 2022
(Sumber : https://news.detik.com/foto-news/d-5990198/banyumas- terendam-banjir-begini-kondisinya_)
JENIS – JENIS BANJIR
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada situs resmi The National Severe Stroms Laboratory (NSSL) membedakan banjir menjadi 5 jenis :
● River Flood atau Banjir Sungai terjadi ketika permukaan air naik diatas tepian sungai (riverbanks) karena hujan berlebihan. Banjir Sungai terjadi akibat hujan terus menerus yang terjadi di daerah yang sama dalam periode waktu yang lama, gabungan curah hujan dan pencairan salju atau sumbatan akibat es. Banjir yang terlokalisasi dapat menyebabkan kerusakan yang cukup besar pada properti disekitarnya serta menimbulkan ancaman keamanan yang signifikan.
● Coastal Flood atau disebut juga Banjir Rob atau Banjir Pantai. Banjir Pantai atau penggenangan area daratan disepanjang pantai disebabkan oleh pasang naik yang lebih tinggi dari rata-rata dan diperburuk curah hujan tinggi dan angin yang bertiup ke arah darat dari laut.
● Strom Surge atau Gelombang Badai adalah kenaikan permukaan air yang tidak normal di daerah pantai. Gelombang Badai disebabkan oleh kekuatan yang dihasilkan dari angin badai yang hebat, gelombang dan tekanan atmosfer yang rendah.
● Inland Flooding atau Banjir di daratan disebabkan oleh hujan lebat dalam jangka pendek atau curah hujan sedang selama beberapa hari yang dapat membebani infrastruktur drainase yang ada.
● Flash Flood atau Banjir Bandang merupakan banjir di daerah permukaan rendah akibat hujan yang turun secara terus menerus. Banjir bandang muncul secara tiba-tiba yang dikarenakan banyaknya air yang ada di suatu tempat. Banjir bandang terjadi akibat penjenuhan air yang berada diwilayah tersebut yang berlangsung secara cepat, sehingga tanah tidak mampu lagi untuk menyerap air
Gambar 2 : Banjir Sungai Cibanten Serang Banten 1 Maret 2022 (Sumber : suara.com)
Gambar 3 : Banjir Rob Manado Januari 2021 (Sumber : Kompas.com)
Gambar 4 : Gelombang Badai Kupang NTT April 2021
(Sumber : sergap.id)
Gambar 5 : Inland Flooding Jakarta Februari 2020 (Sumber : USAtoday.com)
Gambar 6 : Banjir Bandang Manado Januari 2014 (Sumber : sindonews.com)
PENYEBAB BANJIR
● Menurut Kodoatie dan Sugianto (2001) bahwa banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya banjir. Namun secara umum penyebab terjadinya banjir dapat diklasifikasikan dalam dua kategori yaitu banjir yang disebabkan oleh sebab-sebab alami dan banjir yang diakibatkan oleh tindakan manusia.
● Menurut Ramli (2010) terdapat faktor-faktor yang dapat menyebabkan banjir, diantaranya :
Gambar 1 : Banjir Banyumas Jawa Tengah 18 Maret 2022
(Sumber : https://news.detik.com/foto-news/d-5990198/banyumas- terendam-banjir-begini-kondisinya_)
● Curah hujan tinggi yang menyebabkan debit air sungai lebih besar dari biasanya bahkan bisa melebihi kapasitas sungai.
● Pengaruh fisiografi/geofisik sungai seperti bentuk sungai, fungsi daerah kemiringan sungai, bentuk penampang, lokasi sungai dan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya banjir.
● Topografi dapat mengalirkan air dari daerah tinggi ke daerah yang lebih rendah.
Daerah-daerah dataran rendah merupakan salah satu karakteristik wilayah banjir.
● Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan permukaan air laut diakibatkan konsolidasi lahan, beban bangunan terlalu berat, pengambilan air tanah yang berlebihan dan pengerukan di sekitar pantai.
● Banyak permukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai yang seharusnya dataran sungai dibebaskan dari bangunan.
● Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah sehingga menghambat aliran air dan memperdangkal sungai.
● Kurangnya tutupan lahan hulu sungai dan di daerah aliran sungai, karena banyaknya alih fungsi lahan sehingga kurangnya vegetasi menyebabkan terjadi erosi yang berlebihan dan terjadinya sedimentasi yang berlebihan sehingga mengurangi kapasitas sungai.
● Perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat. Sistem pengendalian yang tidak tepat dan dapat menambah kerusakan saat banjir.
● Kerusakan bendungan. Penelitian yang kurang memadai menimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan banjir lebih besar.
KARAKTERISTIK BANJIR
● Banjir dapat datang secara tiba-tiba dengan intensitas besar namun dapat langsung mengalir
● Banjir dating secara perlahan namun intesitas hujannya sedikit
● Pola banjirnya musiman
● Banjir datang secara perlahan namun dapat menjadi genangan yang lama di daerah depresi
● Akibat yang ditimbulkan adalah terjadinya genangan, erosi dan sedimentasi sedangkan akibat lainnya adalah terisolasinya daerah permukiman dan diperlukan evakuasi penduduk.
Gambar 1 : Banjir Banyumas Jawa Tengah 18 Maret 2022
(Sumber : https://news.detik.com/foto-news/d-5990198/banyumas- terendam-banjir-begini-kondisinya_)
DAMPAK BANJIR
● Merusak Sarana dan prasarana (rumah, mobil, gedung, harta benda,dll) dan untuk mengganti atau memperbaikinya memerlukan biaya
● Melumpuhkan jalur transportasi dan komunikasi, banjir dapat melumpuhkan transportasi karena menggenang jalur yang dipakai, dan banjir dapat melumpuhkan komunikasi karena saat ini masyarakat sangat bergantung pada internet dan listrik, sedangkanjika terjadi banjir, sarana dan prasarana yang mendukung komunikasi akan rusak.
● Membuat terhentinya aktivitas manusia karena manusia akan kesulitan untuk beraktifitas dalam keadaan banjir.
● Mencemari lingkungan seperti lingkungan menjadi kotor dan dapat menyisakann banyak lumpur.
● Banjir dapat menyebabkan erosi dan memicu timbulnya bencana lain
BANJIR DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi di dunia (Wazir Z.
2019. Arsitektur Vernakular Tanggap Bencana Indonesia. Jurnal Arsir vol 3).
Banjir merupakan bencana alam terbanyak yang melanda Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, ada 651 kejadian banjir selama tahun 2021.
Jumlah itu mencapai 36% dari 1.807 bencana alam yang terjadi di tanah air sepanjang tahun ini.Puting beliung serta tanah longsor menyusul masing-masing sebanyak 490 kejadian dan 369 kejadian. Indonesia juga mengalami 163 kejadian kebakaran hutan dan lahan, 55 kejadian gempa bumi serta 21 kejadian gelombang pasang dan abrasi.
Gambar 9 : Grafik Jumlah Kejadian Bencana di Indonesia 2021
(Sumber : BNPB.go.id)
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Pengendalian banjir pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun yang penting adalah dipertimbangkan secara keseluruhan dan dicari sistem yang paling optimal.
● Menurut teknis penanganan pengendalian banjir dapat dibedakan menjadi dua yaitu: Pengendalian banjir secara teknis (metode struktur) dan pengendalian banjir secara non teknis (metode non-struktur).
Pengendalian Banjir
Metode Struktur Metode Non-Struktur
Bangunan Pengendali
Banjir Sistem Perbaikan dan
Pengaturan Sungai Diantaranya Bendungan (dam) / Waduk River Improvement Pengelolaan DAS
Kolam Retensi Tanggul Pengaturan Tata Guna Lahan
Pembuatan Check Dam Sudetan (Bypass/Short-cut) Pengendalian Erosi Bangunan Pengurung
Kemiringan Sungai Floodway Pengembangan dan
Pengaturan Daerah Banjir
Retrading Basin Sistem Drainase Khusus Penanganan Kondisi Darurat
Pembuatan Polder
BANGUNAN PENGENDALI BANJIR
Metode struktur pengendalian banjir dengan Bangunan Pengendali Banjir adalah:
• Bendungan/waduk (dam) Pembuatan check dam (penangkap sedimen
• Bangunan pengurang kemiringan sunga
• Kolam retensi
• Retarding basin
• Groundsill
• Pembuatan polder
01
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Bendungan
Secara teknis perencanaan untuk dam pengendalian banjir adalah sebagai berikut:
• Metode pengaturan banjir
Debit banjir akan diatur secara alamiah oleh pelimpah dari dam yang tanpa menggunakan pintu pengatur, dengan tujuan memudahkan operasi, untuk menekan biaya operasi dan pemeliharaan dimasa mendatang. Sedangkan untuk mendapatkan pengaruh pengaturan terhadap pengendalian banjir yang lebih besar, dapat digunakan waduk yang dilengkapi pintu pengendali banjir.
• Ratio penurunan debit banjir pada dam pengendali banjir Pada dam pengendali banjir terdapat alokasi volume untuk pengendalian banjir dan volume untuk memenuhi kebutuhan air. Alokasi volume waduk untuk pengendalian banjir, akan menentukan pola hidrograf banjir yang dilepas waduk ke hilir dan ratio penurunan debit banjir.
• Alokasi kapasitas untuk pengendalian banjir
• Bila kapasitas untuk pengendalian banjir dan biaya konstruksi dam naik, maka debit rencana dan biaya perbaikan sungai akan menurun.
• Kapasitas pengendalian banjir ditentukan oleh biaya total minimum dari perbaikan sungai dan biaya konstruksi dam.
Gambar 10 : Contoh Bendungan
(Sumber : https://news.detik.com/foto-news/d-5990198/banyumas- terendam-banjir-begini-kondisinya_)
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Waduk
Waduk adalah wadah buatan yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya bendungan (PP No 37 Tahun 2010). Waduk pada umumnya dibangun untuk pengembangan sumber daya air sungai, dengan menampung air pada waktu musim hujan untuk memperbaiki kondisi aliran sungai terutama pada musim kemarau. Hal ini untuk mengantisipasi kebutuhan air yang meningkat terutama pada musim kemarau. Waduk biasa disebut multi guna atau multi purpose dam, misalnya untuk irigasi, penyediaan air baku (air minum), pembangkit listrik tenaga air, dsb.
Waduk yang mempunyai faktor tampungan atau dapat menampung air, mempunyai efek terhadap aliran air di hilir waduk. Dengan kata lain waduk dapat merubah pola inflow- outflow hidrograf. Perubahan outflow hidrograf di hilir waduk biasanya menguntungkan terhadap pengendalian banjir, dengan adanya debit banjir yang lebih kecil dan perlambatan waktu banjir. Yang perlu diperhatikan dalam pengendalian banjir dengan waduk adalah perlambatan waktu tiba banjir, penurunan debit banjir yang dilepas ke hilir dan rasio alokasi volume waduk untuk pengendalian banjir terhadap volume untuk pengembangan dan pengelolaan sumber daya air.
Gambar 11 : Waduk Cirata Cianjur Jawa Barat (Sumber : mediaindonesia.com)
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Kolam Retensi/Penyimpanan (Retention Basin)
Seperti halnya bendungan, kolam penampungan (retention basin) berfungsi untuk menyimpan sementara debit sungai sehingga puncak banjir dapat dikurangi, retention berarti penyimpanan. Wilayah yang digunakan untuk kolam penampungan biasanya di daerah dataran rendah atau rawa.
Selain retention basin ada juga detention basin. Perbedaannya adalah sebagai berikut:
• Retention basin berarti menyimpan air di suatu cekungan dan dibiarkan sampai airnya habis karena infiltrasi atau penguapan sering disebut wet pond.
• Detention basin adalah menyimpan air di suatu cekungan saat banjir lalu setelah hujan reda air dialirkan ke sungai atau saluran untuk membantu keberadaan air di sungai sering disebut dry pond.
• Retentin basin sering digunakan untuk peningkatan kualitas air, pengisian air tanah , perlindungan banjir , peningkatan atau kombinasi dari semuanya. Kadang-kadang mereka bertindak sebagai pengganti penyerapan alami hutan atau proses alam lainnya yang hilang ketika suatu wilayah dikembangkan
Gambar 12: Retention Basin (Sumber : researchgate.net)
Gambar 13 : Detention Basin (Sumber : researchgate.net)
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Pebuatan Check Dam
Check dam adalah bangunan kecil temporer atau tetap yang dibangun melintang saluran/sungai untuk memperkecil kemiringan dasar memanjang pada sungai sehingga bisa mereduksi kecepatan air, erosi dan membuat sedimen bisa tinggal di bagian hulu bangunan. Sehingga bangunan ini bisa menstabilkan saluran atau sungai
Gambar 14 : Check Dam Jogjakarta
(Sumber : https://www.shutterstock.com)
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Bangunan Pengurang Kemiringan Sungai
Bangunan ini bisa berupa drop structure atau groundsill. Manfaatnya adalah bisa mengurangi kecepatan air, dan untuk groundsill juga dapat mencegah scouring pada hilir bendung atau pilar jembatan.
Gambar 16 : Contoh Groundsill
(Sumber : researchgate.net)
Gambar 15 : Contoh Drop Structure
(Sumber : northernwater.org)
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Retrading Basin
Retarding basin adalah suatu kawasan (cekungan) yang didesain dan dioperasikan untuk tampungan (storage) sementara sehingga bisa mengurangi puncak banjir dari suatu sungai. Dapat dikatakan pula suatu tampungan (reservoir) yang mengurangi puncak banjir melalui simpanan sementara. Retard berarti memperlambat
Dalam cara ini daerah depresi (daerah rendah) sangat diperlukan untuk menampung volume air banjir yang datang dari hulu, untuk sementara waktu dan dilepaskan kembali pada waktu banjir surut.
• Kolam retensi di Samping Badan Sungai • Kolam retensi di Badan Sungai
Prinsip yang dipakai dalam pembangunannya harus tersedia lahan yang cukup karena secara parsial berada di luar alur sungai. Syarat yang lain adalah tidak mengganggu system aliran sungai yang ada.
Karena berada di dalam badan sungai sehingga konsepnya menjadi mirip dengan waduk. Penggunaan tipe ini bisa dilakukan jika terkendala dengan lahan, karena memanfaatkan badan sungai itu sendiri.
Gambar 1 7 : Retrading Basin
(Sumber : https://civil-eng.binus.ac.id/)
Gambar 18 : Retrading Basin
(Sumber : https://civil-eng.binus.ac.id/)
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Pembuatan Polder
Polder adalah sebidang tanah yang rendah, dikelilingi oleh embankment baik bisa berupa tanah urugan/timbunan atau tanggul pasangan beton atau batu kali yang membentuk semacam kesatuan hidrologis buatan, yang berarti tidak ada kontak dengan air dari daerah luar polder selain yang dialirkan melalui saluran buatan manusia bisa berupa saluran terbuka atau pipa.
Polder berfungsi sementara untuk menampung aliran banjir ketika sungai atau saluran tak bisa mengalir ke hilir secara gravitasi karena di sungai tersebut terjadi banjir dan ada air pasang di laut untuk daerah pantai. Bila mana polder penuh maka dipakai pompa untuk mengeluarkan air di dalam polder tersebut sehingga daerah yang dilindungi tidak kebanjiran.
Gambar 19 & 20 : Stasiun Tawang Semarang
(Sumber : Modul 4 Metode Pengendalian Banjir)
SISTEM PERBAIKAN DAN PENGATURAN SUNGAI
Metode struktur pengendalian banjir untuk sistem jaringan sungai diantaranya adalah:
• River improvement (perbaikan/peningkatan sungai),
• Tanggul,
• Sudetan (by pass/short-cut),
• Floodway.
02
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● River Improvement
River improvement dilakukan terutama berkaitan erat dengan pengendalian banjir, yang merupakan usaha untuk memperbesar kapasitas pengaliran sungai. Hal ini dimaksudkan untuk menampung debit banjir yang terjadi untuk dialirkan ke hilir atau laut, sehingga tidak terjadi limpasan
Pekerjaan ini pada dasarnya dapat meliputi kegiatan antara lain:
• Perbaikan bentuk penampang melintang.
• Mengatur penampang memanjang sungai.
• Melakukan rekonstruksi bangunan di sepanjang sungai yang tidak sesuai dan mengganggu pengaliran banjir.
• Menstabilkan alur sungai.
• Pembuatan tanggul banjir.
River Improvement dapat dilakukan dengan
• Membangun tanggul yang tinggi (Menaikan tinggi tanggul)
• Memperpanjang lebar sungai
• Memperdalam dasar sungai
Gambar 21 : River Improvement
(Sumber : https://www.water.go.jp)
SISTEM PERBAIKAN DAN PENGATURAN SUNGAI
● Tanggul
Tanggul adalah penghalang yang didesain untuk menahan air banjir di palung sungai untuk melindungi daerah di sekitarnya. Tanggul juga berfungsi untuk melokalisir banjir di sungai, sehingga tidak melimpas ke kanan dan ke kiri sungai yang merupakan daerah peruntukan.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara lain:
• Dampak tanggul terhadap regim sungai,
• Tinggi jagaan dan kapasitas debit sungai pada bangunan-bangunan sungai misalnya jembatan,
• Ketersediaan bahan bangunan setempat,
• Syarat-syarat teknis dan dampaknya terhadap pengembangan wilayah,
• Hidrograf banjir yang lewat, Pengaruh limpasan, penambangan, longsoran dan bocoran,
• Pengaruh tanggul terhadap lingkungan,
• Elevasi muka air yang lebih tinggi di alur sungai,
• Lereng tanggul dengan tepi sungai yang relatif stabil.
Gambar 22: Contoh perlu atau bisa dibuat tanggul
(Sumber : Modul 4 Metode Pengendalian Banjir)
Gambar 23 : Tanggul buatan dari tanah
(Sumber : Modul 4 Metode Pengendalian Banjir)
SISTEM PENGENDALIAN BANJIR
● Sudetan (By Pass/Short cut)
Sudetan (By Pass) adalah saluran yang digunakan untuk mengalihkan sebagian atau seluruh aliran air banjir dalam rangka mengurangi debit banjir pada daerah yang dilindungi.
Perbaikan alur sungai biasanya termasuk perbaikan alignment atau jalur sungai, melalui pekerjaan sudetan. Pada alur sungai yang berbelok-belok sangat kritis, sebaiknya dilakukan sudetan, agar air banjir dapat mencapai bagian hilir atau laut dengan cepat, dengan mempertimbangkan alur sungai stabil. Hal ini dikarenakan jarak yang ditempuh oleh aliran air banjir tersebut lebih pendek, kemiringan sungai lebih curam dan kapasitas pengaliran bertambah atau akan mengalami perubahan hidrograf banjir.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sudetan adalah:
• Tujuan dilakukan sudetan.
• Arah alur sungai sudetan (kondisi meander yang ada).
• Penampang sungai sudetan.
• Usaha mempertahankan fungsi dari sudetan.
• Pengaruh sudetan terhadap sungai secara keseluruhan, bangunanbangunan pemanfaatan sumber daya air maupun bangunan fasilitas.
• Pengaruh penurunan muka air di sebelah hulu sudetan terhadap lingkungan.
• Pengaruh berkurangnya fungsi retensi banjir.
• Tinjauan terhadap sosial ekonomi. Gambar 24 : Sudetan
(Sumber : Modul 4 Metode Pengendalian Banjir PUPR 2017)
SISTEM PERBAIKAN DAN PENGATURAN SUNGAI
● Floodway
Pembuatan floodway dimaksudkan untuk mengurangi debit banjir pada alur sungai lama, dan mengalirkan sebagian debit tersebut banjir melalui floodway. Hal ini dapat dilakukan apabila kondisi setempat sangat mendukung untuk membuat floodway. Apabila kondisi lapangan tidak menguntungkan, misalnya sungai untuk jalur floodway tidak ada, maka pembuatan floodway kurang layak untuk dilaksanakan.
Beberapa faktor yang harus menjadi perhatian dalam pembuatan floodway adalah:
• Alur lama yang melewati kota sulit untuk diperbaiki sesuai dengan debit desain, karena kesulitan lahan yang sudah penuh pemukiman.
• Alur lama berbelok-belok terlalu jauh, untuk menuju ke laut, sehingga dari segi hidrolis tidak menguntungkan.
• Terdapat jalur untuk alur baru yang menguntungkan (lebih pendek), dengan menggunakan sungai kecil yang ada.
• Pembebasan lahan pada alur floodway tidak mengalami kesulitan.
• Tidak mengganggu pemanfaatan sumber daya air yang ada.
• Dampak negatif (sosial ekonomi) diupayakan sekecil mungkin.
Dalam perencanaan floodway, kajian rekayasanya setidak-tidaknya meliputi antara lain:
• Debit banjir rencana,
• Jalur floodway,
• Perencanaan alur floodway yang meliputi penampang memanjang dan melintangnya,
• Bangunan pembagi banjir.
Gambar 25 : Contoh Floodway
(Sumber : asianmuslin.com) Gambar 26 : Tanggul buatan
dari tanah
(Sumber : sda.pu.go.id)
CONTOH TEKNOLOGI TANGGAP BANJIR DI JEPANG
Tokyo, ibu kota Jepang, adalah salah satu kotaterbesar di dunia. Pertumbuhan ekonomi yang pesat pada 1960 sampai 1980an telah mengagetkan seluruh dunia. Karena memprioritaskan pertumbuhan ekonomi, Jepang tidak bisa mengontrol megacity yang besar, lahan kosong untuk sebagian besar untuk konstruksi sehingga lahan yang tersisa tidak dapat menyerap semua air menyebabkan tanah longsor yang serius dan korban jiwa yang besar. Pada tahun 2018, beberapa daerah di Jepang diguyur hujan dengan curah 300-500mm selama 4 hari. Bahkan di Hiroshima, Okayama dan Hyogo, curah hujan melebihi 500mm, 4 kali lebih besar dari rata-rata curah hujann bulanan. Selain itu ketika hujan deras, air sungai meluap sehingga merusak tanggul.
● Karakteristik Perkotaan Jepang
Gambar 27: Banjir yang disebabkan oleh hujan deras dan menimbulkan kerusakan pada area permukiman Kota Kurashiki, Juli
2018
(Sumber : IOP Publish)
CONTOH TEKNOLOGI TANGGAP BANJIR DI JEPANG
● Perluasan kanal sungai, membangun bendungan , saluran pembuangan dan waduk. Meliputi perluasan saluran, konstruksi dan penguatan tanggul, serta pengerukan dasar sungai sehingga banjir dapat dibuang tanpa membanjiri tanah di sepanjang sungai.
Selain itu, konstruksi buatan saluran untuk mengalirkan air banjir dari bagian tengah atau hilir sungai yang satu ke sungai yang lain atau langsung ke laut. Saluran drainase banjir dibangun ketika sungai tidak memenuhi debit banjir mengalir atau ketika perencanaan sistem saluran drainase tidak tepat.
Langkah-langkah untuk melindungi daerah aliran sungai dari sudut pandang pemerintah adalah :
● Mempertahankan kendali laju urbanisasi di daerah berkembang
● Melestarikan lahan di daerah yang berbatasan dengan kota modern
● Membangun waduk buatan di daerah dataran rendah
● Membangun tangki air hujan dibawah jantung kota
● Membangun perkerasan permeabel dan lubang drainase yang secara alami menyerap air ke dalam tanah.
Gambar 28 : Sebelum dan sesudah penggalian (perluasan kanal sungai di Jepang)
(Sumber : IOP Publish)
CONTOH TEKNOLOGI TANGGAP BANJIR DI JEPANG
Dalam beberapa dekade terakhir, ibu kota Jepang telah menyempurnakan cara mereka menghadapi hujan dan sungai yang bergejolak. Kini Tokyo telah memiliki saluran pembuangan bawah tanah kawasan metropolitan. Sistem ini selesai dibangun pada tahun 2006 setelah pengerjaan 13 tahun.
Saluran itu menyedit air dari sungai ukuran kecil dan menengah di Tokyo Utara dan memindahkannya ke sungai Edo yang lebih besar. Ruang bawah tanah adalah kanal sepanjang 4.5Km dengan diameter 12.5m dan di kedalaman 40m di bawah tanah. Volume dari saluran ini lebih dari 540.000m³.
● Membangun Terowongan Saluran Air Bawah Tanah
Gambar 29: Kanal bawah tanah verisi 540.000m³ air hujan untuk irigasi
(Sumber : IOP Publish)
CONTOH TEKNOLOGI TANGGAP BANJIR DI JEPANG
Penggunaan perkerasan kedap air menciptakan aliran air ke sungai dan drainase sehingga ketika terjadi hujan deras akan meningkatkan volume air pada saluran-saluran tersebut. Pemerintah kemudian mengganti penggunaan perkerasan kedap air dengan material yang mampu membuat air langsung terserap ke dalam tanah. Di Jepang, telah diterapkan sistem perkerasan jalan yang memungkinkan air hujan meresap ke bawah dan disimpan sementara di bagian bawah lapisan paving, yang secara perlahan meresap ke dalam tanah di bawahnya atau dialirkan secara melintang ke lokasi penyimpanan air.
● Drainase Alami Pada Trotoar dan Jalan Penyerap Air
Gambar 30: Natural Drainage
(Sumber : Pinterest)
CONTOH TEKNOLOGI TANGGAP BANJIR DI JEPANG
Membuat drainase langsung dari atap ke area resapan di samping rumah
● Memperindah Bangunan dengan Area Hijau yang Mengalirkan Air saat Musim Hujan
Planting box digunakan untuk membantu penyerapan air dari tempat parkir, jalan, dan
trotoar
Penggunaan vegetasi yang membantu menangkap air
dan menyaring air hujan
CONTOH TEKNOLOGI TANGGAP BANJIR DI JEPANG
Tanaman hijau menyerap air hujan secara alami
dan kemudian dikumpulkan ke sistem
saluran pembuangan yang terletak di bawah
● Memperindah Bangunan dengan Area Hijau yang Mengalirkan Air saat Musim Hujan
Atap yang ditutupi dengan vegetasi menyebabkan banyak air hujan masuk
dan terjadinya evapotranspirasi air yang
disimpan
Permukaan jalan diperkeras dengan material yang dapat memungkinkan air hujan
tersimpan sementara di tanah
CONTOH TEKNOLOGI TANGGAP BANJIR DI JEPANG
● Penggunaan Air Hujan Untuk Irigasi dan Kamar MandiAir hujan disimpan di saluran pipa untuk disimpan di tangka air bawah tanah untuk irigasi pohon-pohon dan vegetasi lainnya disekitar area tersebut selama bulan-bulan kekeringan.
Gambar 31: Sokusi penyimpanan air di Kawasan permukiman di Tokyo
(Sumber : IOP Publish)