• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PENGOPERASIAN RAWAI TUNA PAPER 2025 - Copy

N/A
N/A
Roy Lihardo Girsang

Academic year: 2025

Membagikan "TEKNIK PENGOPERASIAN RAWAI TUNA PAPER 2025 - Copy"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

i

TEKNIK PENGOPERASIAN RAWAI TUNA ( Tuna Long Line )

PAPER

Oleh:

RAYHAN RAMADHAN

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN

KAMPUS JAKARTA 2025

(2)

ii

ii

Paper Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Mengikuti Ujian Akhir Semester IV

Oleh:

RAYHAN RAMADHAN NRP: 59231115183

PROGRAM SARJANA TERAPAN

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN

JAKARTA 2025

(3)

iii PAPER

Judul : PENGAMATAN TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT

TANGKAP RAWAI TUNA ( tuna long line ) Penyusun : Rayhan Ramadhan

NRP : 59231115183

Program Studi : Teknologi Penangkapan Ikan

Menyetujui

Menyetujui, Mengetahui,

Dosen Pembimbing, Ketua Program Studi,

Yusrizal, Dr., S.Pi., M.Si. Erick Nugraha, S.St.Pi, M.Si.

(4)

KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan PAPER yang berjudul Teknik Pengoperasian Alat Tangkap Rawai Tuna.

Paper ini disusun dan diajukan sebagai salah satu syarat untuk menguikuti ujian akhir semester IV di Program Studi Teknologi Penangkapan Ikan, Politeknik Ahli Usaha Perikanan.

Semoga paper ini dapat menjadi referensi bidang perikanan khususnya bidang Teknologi Penangkapan Ikan.

Jakarta,….. Maret 2025

(5)

1 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 0

DAFTAR ISI ... 1

1. PENDAHULUAN... 2

1.1 Latar Belakang ... 2

1.2 Tujuan ... 3

1.3 Hasil dan Pembahasan ... 4

Gambar 1 blong longine KM. Mutiata 26 ... 4

2. PEMBAHASAN ... 5

Gambar 2 KM.Mutiara 26... 5

2.1 Teknik Pengoperasian ... 6

2.1.1. Pemanfaatan Data VMS ... 7

2.1.2 Integrasi dengan Data LoogBook ... 8

2.1.3 Tahapan Operasional Longline ... 8

2.1.4 Moitoring dan Tracking ... 8

2.2 Pengoperasian Setting Hauling ... 8

Gambar 3. Penurunan Rdio Bouy ... 9

Gambar 4. Pemasangan umpan dan penebaran tali utama ... 10

2.3 Hasil tangkapan utama : ... 11

2.4 Hasil tangkapan sampingan ... 11

2.5 Penanganan Hasil Tangkapan ... 12

2.5.1 Penanganan di Atas Kapal : ... 12

2.5.2 Proses Bongkar Muat ... 12

2.5.3 Penanganan di Tempat Pendaratan Tuna (TPT) ... 12

2.5.4 Pengolahan dan Distribusi ... 12

2.6 Daerah Penangkapan ... 13

2.6.1 Karakteristik Daerah Penangkapan ... 13

2.6.2 Wilayah Penangkapan di Indonesia Indonesia memiliki beberapa daerah penangkapan tuna yang terkenal, antara lain: ... 13

2.6.3 Metode Penangkapan ... 13

2.6.4 Pemetaan dan Penelitian ... 13

3. KESIMPULAN ... 15

DAFTAR PUSTAKA ... 16

(6)

2 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perikanan tuna adalah salah satu sektor yang sangat bernilai tinggi di Indonesia, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor. Salah satu alat tangkap yang sering digunakan oleh nelayan Indonesia untuk menangkap tuna adalah tuna long line atau rawai tuna. Alat ini telah menjadi pilihan utama bagi nelayan, terutama karena efektivitasnya dalam menangkap ikan pelagis besar seperti tuna yang hidup di lapisan permukaan hingga menengah di perairan lepas. Penelitian yang dilakukan oleh Barat dan Prisantoso (2017), Darondo et al. (2020), serta Gunawan et al. (2022) menunjukkan bahwa longline adalah salah satu alat tangkap paling populer di kalangan nelayan Indonesia untuk perikanan tuna. Menurut Andriana et al. (2023), alat ini dilengkapi dengan mata pancing (hook) pada setiap ujung tali cabang, yang diatur sedemikian rupa agar dapat menarik perhatian. ikan pelagis besar di wilayah operasi. Salah satukeunggulan utama alat ini adalah kemampuannya untuk selektif menangkap ikan target seperti bigeye tuna (Thunnus obesus), yellowfin tuna (Thunnus albacares), albacore (Thunnus alalunga), dan southern bluefin tuna (Thunnus maccoyii) (Astuti et al., 2017).

Terjadinya fluktuasi produktivitas tuna di Benoa diperkirakan disebabkan oleh kegiatan IUU fishing salah satunya adalah kegiatan transhipment. Kegiatan alih muat merupakan kegiatan yang cukup strategis dalam pelaksanaan usaha perikanan pada kapal tuna longline namun dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 57/Permen-KP/2014 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.30/MEN/2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia sebagai dasar pelarangan pindah muatan di laut (FAO 2007). Kegiatan transhipment memberikan keuntungan untuk kapal perikanan karena dapat memindahkan hasil penangkapannya ke kapal lain di tengah laut dan dapat melanjutkan operasi penangkapannya tanpa harus kembali ke pelabuhan, hal ini dapat menghemat biaya bahan bakar dan distribusi produk ke pasar lebih cepat (Natsir 2013).

(7)

3

Tuna longline atau juga dikenal sebagai rawai tuna merupakan alat penangkap ikan tuna yang paling efektif. Rawai tuna terdiri dari rangkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus. Satu kapal tuna longline biasanya mengoperasikan 1000-2000 mata pancing untuk sekali operasi.

Alat tangkap ini bersifat pasif, yaitu menanti umpan dimakan oleh ikan sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan dan mesin kapal dimatikan, kapal dan alat tangkap dihanyutkan mengikuti arus atau drifting. Drifting berlangsung selama 4-5 jam dan selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal. Alat tangkap ini termasuk alat tangkap ramah lingkungan karena bersifat selektif terhadap jenis ikan yang ditangkap.

Di Pelabuhan Benoa Bali, desain dan konstruksi rawai tuna didasarkan dibedakan menjadi 2 sistem yaitu sistem arranger dan non arranger (blong dan basket). Satu unit longline terdiri dari pelampung (float), tali pelampung (float line), tali utama (main line) dengan sejumlah tali cabang (branch line) yang berpancing (hook). Bahan tali utama dan tali cabang dapat terbuat dari bahan polymide dan nylon (monofilamen) atau bahan polyethilene. Dalam satu pelampung digunakan 7-17 mata pancing dengan jenis umpan yang berbeda. Umpan yang digunakan terdiri dari umpan hidup (ikan bandeng) dan umpan mati seperti ikan lemuru, layang, cumi dan tongkol (ATLI, 2010).

1.2 Tujuan

1. Untuk mengawasi dan mengelola perikanan tuna longline.

2. Mengidentifikasi aktivitas penangkapan ikan seperti posisi, kecepatan, dan arah gerak kapal.

3. Mengidentifikasi pelanggaran seperti kegiatan transshipment, pelanggaran wilayah penangkapan ikan, dan ketidaksesuaian data logbook dengan data VMS saat pendaratan hasil tangkapan.

4. Memvalidasi data kapal yang mendaratkan hasil tangkapan di pelabuhan.

5. Mengetahui arah, posisi, aktivitas, tujuan, dan identitas kapal.

6. Memberikan informasi dan penanganan dini jika terjadi masalah di laut, seperti kecelakaan atau hilang kontak.

(8)

4

7. Memenuhi persyaratan ekspor hasil perikanan terkait ketertelusuran.

8. Memantau aktivitas penangkapan ikan oleh awak kapal untuk mencegah kecurangan.

1.3 Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian, konstruksi alat tangkap tuna long line pada KM. Mutiara 26 terdiri dari main line sepanjang 24 meter yang terbuat dari bahan monofilamen, dilengkapi dengan tali cabang sepanjang 15 meter yang juga berbahan monofilamen (Barata dan Prisantoso, 2017). Tali pelampung memiliki panjang 10 meter, serta dilengkapi dengan tali snap, pelampung bola, dan radio buoy sebanyak 12 unit dengan panjang tali radio buoy 17 meter. Mata pancing yang digunakan berukuran nomor 6. Setiap segmen antara pelampung terdiri dari 9 tali cabang, sedangkan jumlah pelampung bola dalam satu kelompok (blong) adalah 8 buah. Jumlah mata pancing dalam setiap blong mencapai 81 buah, seperti yang ditunjukkan pada (Gambar 1).

Gambar 1 blong longine KM. Mutiata 26

(9)

5 2. PEMBAHASAN

Aktivitas kapal yang didapatkan dari data VMS diidentifikasi dengan cara mengetahui kecepatan kapal, arah gerak kapal, dan posisi kapal yang diperoleh dari data VMS. Kecepatan kapal dapat dibedakan menjadi beberapa warna untuk memudahkan dalam melakukan identifikasi aktivitas kapal tuna longline. Kecepatan dan warna serta keterangan aktivitas kapal tuna longline pada VMS tracking kapal tuna longline.

Sistem alat tangkap yang digunakan KM. Mutiara 26 adalah sistem blong. Sistem blong merupakan sistem pengoperasian alat tangkap secara manual (non arranger). Adapun perbedaan dengan sistem arranger terletak pada bahan tali utama (Gambar 2) menggunakan bahan monofilament (Baskoro et al., 2014), penggunaan mesin hauler, penyusunan main line dan pemasangan branch line (Barata dan Prisantoso, 2017).

Gambar 1 KM.Mutiara 26

(10)

6 2.1 Teknik Pengoperasian :

1. Teknik Setting Setting

adalah proses penempatan alat tangkap longline di laut. Langkah- langkahnya meliputi:

1) Persiapan Alat dan Lokasi: Sebelum melakukan setting, nelayan harus memilih lokasi yang strategis berdasarkan informasi tentang migrasi ikan dan kondisi lingkungan. Semua peralatan, termasuk tali utama, cabang, umpan, dan pelampung, harus dipersiapkan.

2) Penurunan Tali Utama: Tali utama diturunkan ke laut dengan kecepatan kapal yang telah ditentukan. Umpan dipasang pada setiap cabang tali (branch line) pada interval tertentu untuk menarik perhatian ikan tuna.

3) Pengaturan Kedalaman: Penempatan umpan dilakukan pada kedalaman yang sesuai dengan habitat ikan tuna, biasanya antara 100 hingga 400 meter.

2. Peredam Alat tangkap

Peredam alat tangkap longline adalah komponen penting yang berfungsi untuk mengurangi dampak hentakan dan tarikan dari ikan yang tertangkap, serta menjaga kestabilan alat tangkap saat beroperasi di laut.

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai peredam dalam konteks alat tangkap longline:

3.Fungsi Peredam :

1) Mengurangi Hentakan: Ketika ikan besar seperti tuna tertangkap, mereka dapat memberikan tarikan yang kuat pada tali utama. Peredam membantu menyerap sebagian dari hentakan ini, sehingga mengurangi risiko kerusakan pada alat tangkap dan meningkatkan kemungkinan ikan dapat diangkat tanpa putus.

2) Menjaga Kestabilan: Dengan adanya peredam, posisi tali utama dan cabang tetap stabil di kedalaman yang diinginkan, meskipun terjadi perubahan arus atau gelombang di laut. Hal ini penting untuk memastikan bahwa umpan tetap berada pada kedalaman yang efektif untuk menarik perhatian ikan.

(11)

7 4. Komponen Peredam

Peredam dalam sistem longline dapat terdiri dari beberapa elemen:

1) Pelampung: Pelampung digunakan untuk memberikan daya apung tambahan dan membantu menjaga posisi tali di permukaan air.

Pelampung ini biasanya dipasang pada interval tertentu sepanjang tali utama.

2) Pemberat: Pemberat dipasang pada cabang tali untuk menenggelamkan umpan ke kedalaman yang diinginkan. Pemberat juga berfungsi untuk menstabilkan posisi alat tangkap dan mengurangi kemungkinan kusut.

3) Bahan Tali: Tali utama dan cabang yang digunakan dalam longline biasanya terbuat dari bahan yang memiliki kelenturan tinggi, sehingga mampu menyerap sebagian hentakan tanpa mudah putus.

5. Pengoperasian Peredam.

Dalam pengoperasian alat tangkap longline, peredam harus diperhatikan dengan seksama. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam pengoperasian:

1) Pemasangan: Pastikan pelampung dan pemberat terpasang dengan benar pada tali utama dan cabang sebelum melakukan setting.

2) Monitoring Selama Setting: Selama proses setting, perhatikan posisi pelampung dan pemberat untuk memastikan bahwa umpan berada pada kedalaman yang optimal.

3) Penarikan (Hauling): Saat melakukan hauling, perhatikan respons dari peredam. Jika ada tarikan yang terlalu kuat, segera sesuaikan kecepatan penarikan untuk mencegah kerusakan pada alat tangkap.

2.1.1. Pemanfaatan Data VMS

1. Data VMS digunakan untuk mengawasi aktivitas perikanan, seperti posisi kapal, kecepatan, dan arah pergerakan1.

2. Data VMS membantu mengidentifikasi pelanggaran, termasuk kegiatan transshipment ilegal, pelanggaran wilayah penangkapan ikan, dan ketidaksesuaian antara data logbook dan data VMS saat kapal mendarat.

(12)

8

3. Informasi dari VMS dapat memvalidasi data kapal saat mendaratkan hasil tangkapan di pelabuhan.

2.1.2 Integrasi dengan Data LoogBook

Data VMS dicocokkan dengan data logbook untuk meningkatkan kesesuaian data, yang menunjukkan peningkatan dari 53% di 2016 menjadi 98% di 2018.

2.1.3 Tahapan Operasional Longline 1. Persiapan di laut.

2. Setting (penurunan alat tangkap).

3. Drifting (menghanyutkan tali pancing).

4. Hauling (penarikan alat tangkap).

2.1.4 Moitoring dan Tracking

1. VMS digunakan untuk melacak lokasi dan pergerakan kapal dalam pengawasan perikanan dan pengendalian hukum5.

2. Pelanggaran yang dipantau melalui VMS meliputi pelanggaran daerah penangkapan ikan (DPI), pelabuhan, penggunaan alat tangkap ilegal, keaktifan VMS, dan kegiatan transshipment5.

3. Kapal longline dan rawai tuna cenderung bergerak dengan garis lurus saat beroperasi dengan kecepatan lebih dari 4 knot.

2.2 Pengoperasian Setting Hauling

KM. Mutiara 26 memiliki panjang 26,38 m, lebar 5,55 m, dan ukuran dalam 2,15 m. Gross tonase kapal sebesar 122 GT yang terbuat dari fiberglass, Jenis kapal ini dikategorikan kapal long line skala besar (ukuran lebih dari 25 m dan lebih dari 100 GT (Beverly et al., 2003). Kapal tersebut dibangun pada tahun 2002 di Taiwan, merek dan daya mesin utama adalah cummins 671 KW serta dilengkapi peralatan navigasi dan komunikasi, memiliki 11 palka (freezer) dimana masing-masing mempunyai fungsi dan ukuran serta kapasitas volumenya masing-masing. Karakteristik dasar dari jenis kapal long line antara lain kecepatan untuk mencapai daerah penangkapan yang jauh, ketahanan untuk penangkapan selanjutnya di daerah penangkapan yang jauh, mempunyai fasilitas penyimpanan beku untuk menjaga hasil tangkapan bernilai ekonomis, peralatan untuk setting dan hauling (Thermes et al., 2023).

(13)

9

Proses setting biasanya dimulai pada pukul 04.00 WITA sampai pukul 10.00 WITA (Gambar 3) dengan kecepatan kapal 4-6 knot dan berlangsung selama 5-7 jam tergantung berapa banyak alat tangkap diturunkan.Proses setting melibatkan penurunan main line dengan branch line dan umpan (Gambar 4) pada interval tertentu untuk mencapai lapisan perairan yang menjadi habitat ikan pelagis besar seperti tuna. Teknik pemasangan ini mirip dengan penelitian oleh (Lucena-Frédou et al. 2017), yang menekankan pentingnya penentuan kedalaman alat tangkap untuk mencapai hasil optimal. Umpan yang digunakan di KM. Mutiara 26 yaitu umpan beku yang terdiri dari ikan lemuru (Sardinella sp.) dan ikan layang (Decapterus sp.). Ukuran umpan ikan lemuru yaitu 16 – 20 cm, dan ikan layang 20 – 24 cm. Selama pengoperasian, menggunakan 5 dos ikan umpan, dimana 1 dos ikan. umpan berisikan 80 ikan umpan beku. Umpan digunakan untuk memikat ikan (Talib, 2017). Cara pemasangan umpan yaitu mata pancing dipasangkan pada insang atau segaris dengan tutup insang.

Setelah pemasangan, alat tangkap dibiarkan di dalam air selama beberapa waktu. Di KM. Mutiara 26, waktu tenggelam ditentukan berdasarkan kondisi lingkungan seperti arus laut dan kedalaman. Waktu tenggelam yang optimal sangat memengaruhi keberhasilan penangkapan, serupa dengan hasil penelitian (Rikza et al.2013).

Gambar 3. Penurunan Rdio Bouy

(14)

10

Proses ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi ikan untuk memakan umpan. Proses penarikan alat tangkap (hauling) dilakukan di lambung kanan kapal dengan kecepatan kapal 4–6 knot, pada sore atau malam hari, tergantung pada waktu setting. Total waktu hauling berkisar antara 12–14 jam. KM. Mutiara 26 melakukan 32 kali proses setting-hauling.

Hasil tangkapan utama yang terbanyak selama penelitian adalah ikan tuna sirip biru (Thunnus maccoyii) sebanyak 242 ekor, sedangkan yang paling sedikit adalah ikan albacore (Thunnus alalunga) sebanyak 24 ekor.

Alat tangkap tuna longline tidak hanya menangkap ikan target, tetapi juga dapat menangkap ikan non-target yang tidak ekonomis dan akhirnya dibuang. Ikan yang tertangkap selain hasil tangkapan utama dapat dikategorikan sebagai hasil tangkapan sampingan. Sedangkan hasil tangkapan sampingan yang diperoleh selama penelitian meliputi hiu selendang biru (Prionace glauca) sebanyak 56 ekor, ikan layur naga (Alepisaurus ferox), dan ikan pari lemer (Pteroplatytrygon violacea). Ikan hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis tinggi akan disimpan, seperti halnya hiu selendang biru, sementara ikan yang tidak memiliki nilai ekonomis, seperti ikan layur naga dan ikan pari lemer, akan dibuang. Ikan yang tertangkap selanjutnya melalui proses penaikan ke atas kapal.

Gambar 2. Pemasangan umpan dan penebaran tali utama

(15)

11 2.3 Hasil tangkapan utama :

1) Hasil tangkapan utama tuna longline di Laut Bali, khususnya yang didaratkan di Pelabuhan Benoa, didominasi oleh beberapa spesies tuna yang bernilai ekonomi tinggi. Berdasarkan penelitian dan data yang tersedia, berikut adalah ringkasan hasil tangkapan utama:

2) Tuna Mata Besar (Thunnus obesus): Ini adalah salah satu spesies utama yang ditangkap, dengan ukuran yang bervariasi antara 75–185 cm FL dan modus pada ukuran 115 dan 125 cm FL.

3) Madidihang atau Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares): Juga merupakan spesies dominan, dengan ukuran tangkapan berkisar antara 95–165 cm FL dan modus pada ukuran 105 cm FL.

4) Albakora (Thunnus alalunga): Meskipun tidak sepopuler dua spesies di atas, albakora juga termasuk dalam hasil tangkapan utama.

5) Cakalang (Katsuwonus pelamis): Ini adalah spesies lain yang sering tertangkap dalam operasi longline.

Hasil tangkapan sampingan (by-catch) juga signifikan, dengan spesies seperti ikan lemadang (Coryphaena hippurus), ikan pedang (Xiphias gladius), dan berbagai jenis ikan lainnya. Secara keseluruhan, hasil tangkapan utama dari armada tuna longline terdiri dari sekitar 64,9% dari total tangkapan, sementara hasil tangkapan lain mencapai 35,1%.

2.4 Hasil tangkapan sampingan

Hasil tangkapan sampingan dari ikan tuna yang ditangkap menggunakan alat longline mencakup berbagai spesies, di mana sebagian besar memiliki nilai ekonomis. Berikut adalah ringkasan hasil tangkapan sampingan yang umum ditemukan:

1) Ikan Opah (Lampris guttatus): Sering menjadi hasil tangkapan sampingan yang dominan.

2) Hiu Selendang Biru (Prionace glauca): Juga merupakan salah satu spesies yang sering tertangkap dan memiliki nilai ekonomis.

3) Ikan Escolar (Lepidocybium flavobrunneum): Termasuk dalam kategori hasil tangkapan sampingan yang bernilai.

4) Ikan Pedang (Xiphias gladius): Tangkapan sampingan lainnya yang sering ditemukan.

(16)

12

5) Ikan Layur Naga (Alepisaurus ferox) dan Ikan Pari Lemer (Pteroplatytrygon violacea): Juga tercatat sebagai hasil tangkapan sampingan, meskipun tidak selalu memiliki nilai ekonomis tinggi.

2.5 Penanganan Hasil Tangkapan 2.5.1 Penanganan di Atas Kapal :

1) Pematian Ikan: Setelah ditangkap, ikan tuna segera dimatikan untuk mengurangi stres. Ini biasanya dilakukan dengan menusuk bagian otak menggunakan alat seperti spike atau kawat stainless untuk merusak sistem sarafnya.

2) Pembersihan Awal: Setelah ikan mati, dilakukan pembuangan darah dan isi perut. Ikan dibersihkan dengan cara membelah perut dan membuang insang serta organ dalam lainnya, kemudian disiram dengan air laut untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran.

3) Pendinginan: Ikan yang telah dibersihkan kemudian disimpan dalam palka dengan balok es untuk menjaga suhu dan kesegarannya 2.5.2 Proses Bongkar Muat

1) Pembongkaran: Ikan dibongkar dengan hati-hati di pelabuhan, biasanya pada pagi hari untuk menghindari panas matahari yang dapat merusak kualitas ikan. Selama pembongkaran, ikan disemprot dengan air untuk menjaga kebersihannya.

2) Pemeriksaan: Setelah dibongkar, ikan diperiksa oleh petugas untuk memastikan bahwa tidak ada kerusakan fisik dan memenuhi standar kualitas.

2.5.3 Penanganan di Tempat Pendaratan Tuna (TPT)

1) Pemindahan ke Transit: Ikan yang telah dibongkar dipindahkan ke tempat transit atau Tuna Landing Center (TLC) untuk proses lebih lanjut.

2) Penyimpanan dan Pengemasan: Di TLC, ikan ditimbang, dicatat, dan diberi label sebelum disimpan dalam bak sementara atau langsung dikemas untuk distribusi. Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menjaga mutu ikan.

2.5.4 Pengolahan dan Distribusi

1) Pengolahan Awal: Jika diperlukan, ikan dapat diproses lebih lanjut di pabrik pengolahan sebelum diekspor. Proses ini meliputi pembersihan tambahan dan pengemasan sesuai dengan permintaan pasar.

(17)

13

2) Distribusi: Setelah semua proses penanganan selesai, ikan siap didistribusikan ke pasar atau diekspor ke negara tujuan. Penanganan yang baik selama seluruh proses ini sangat penting untuk mempertahankan kesegaran dan kualitas ikan tuna

2.6 Daerah Penangkapan

Daerah penangkapan ikan tuna merujuk pada lokasi atau wilayah tertentu di mana ikan tuna ditangkap oleh nelayan. Penentuan daerah ini sangat penting untuk mengoptimalkan hasil tangkapan dan menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan. Berikut adalah beberapa aspek penting mengenai daerah penangkapan ikan tuna:

2.6.1 Karakteristik Daerah Penangkapan

1) Kondisi Lingkungan: Daerah penangkapan tuna sering kali berada di perairan yang memiliki kondisi lingkungan yang mendukung, seperti suhu air yang ideal (antara 17°C hingga 22°C) dan ketersediaan makanan yang melimpah, seperti plankton.

2) Kedalaman Laut: Tuna biasanya ditangkap pada kedalaman tertentu, sering kali antara 100 hingga 300 meter, tergantung pada spesies dan metode penangkapan yang digunakan.

2.6.2 Wilayah Penangkapan di Indonesia Indonesia memiliki beberapa daerah penangkapan tuna yang terkenal, antara lain:

1. Samudera Hindia: Terutama di bagian barat Indonesia, termasuk perairan sekitar Kepulauan Mentawai dan Pulau Siberut.

2. Laut Sulawesi dan Laut Maluku: Daerah ini dikenal kaya akan sumber daya tuna, dengan hasil tangkapan yang baik menggunakan alat tangkap seperti pancing ulur atau longline.

3. Selat Makassar dan Laut Flores: Juga merupakan daerah penting untuk penangkapan tuna, dengan banyak nelayan tradisional beroperasi di wilayah ini.

2.6.3 Metode Penangkapan

1. Tuna Longline: Metode ini digunakan untuk menangkap ikan tuna besar dengan menggunakan tali panjang yang dilengkapi dengan banyak kail. Ini adalah metode industri yang umum digunakan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

2. Pancing Ulur: Metode tradisional yang sering digunakan oleh nelayan kecil, biasanya di sekitar rumpon atau lokasi-lokasi tertentu yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya ikan tuna.

2.6.4 Pemetaan dan Penelitian

Pemetaan daerah penangkapan sangat penting untuk memahami pola migrasi ikan tuna dan potensi hasil tangkapan.

(18)

14

Penelitian menunjukkan bahwa daerah-daerah dengan upwelling atau pencampuran air laut cenderung memiliki konsentrasi ikan tuna yang lebih tinggi, sehingga menjadi lokasi strategis bagi para nelayan.Dengan memahami karakteristik dan lokasi daerah penangkapan ikan tuna, nelayan dapat meningkatkan efisiensi penangkapan serta berkontribusi pada pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan.

Wilayah operasi KM. Mutiara 26 berada di perairan Samudera Hindia, pada koordinat 33°26.743’ LS dan 104°33.303’ BT, yang terletak di bagian selatan Samudera Hindia, sekitar selatan Indonesia dan barat laut Australia.

Area penangkapan tuna long line yang hasil tangkapannya didaratkan di Pelabuhan Benoa mencakup perairan Samudera Hindia dan Laut Banda di mana perairan samudera ini umumnya merupakan jalur migrasi ikan-ikan oceanodromous seperti tuna (Baskoro et al., 2014; Astuti et al., 2017). Tahap awal pengoperasian diawali dengan menurunkan radio buoy pada lambung kanan kapal yang telah terhubung dengan main line. Radio buoy berfungsi untuk memudahkan kapal dalam menemukan ujung main line saat proses hauling. Selanjutnya, umpan dipasang pada mata pancing, dan secara bersamaan tali snap pada main line disambungkan ke tali cabang, lalu umpan yang sudah terpasangpada pancing ditebar ke air.

Setelah penurunan alat tangkap, kapal akan menurunkan jangkar parasut, dan pancing dibiarkan selama sekitar 4–8 jam, dihitung sejak waktu radio buoy terakhir diturunkan (proses soak time). Jangkar parasut diletakkan di haluan kapal, dengan fungsi untuk menjaga agar kapal tidak berputar saat berhenti dan agar kapal dapat hanyut mengikuti arus. Proses ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi ikan untuk memakan umpan.

Proses penarikan alat tangkap (hauling) dilakukan di lambung kanan kapal dengan kecepatan kapal 4–6 knot, pada sore atau malam hari, tergantung pada waktu setting. Total waktu hauling berkisar antara 12–14 jam. KM.

Mutiara 26 melakukan 32 kali proses setting-hauling.

(19)

15 3. KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini menyoroti potensi penggunaan data Vessel Monitoring System (VMS) dalam mengawasi dan mengelola aktivitas perikanan tuna, khususnya untuk kapal tuna longline yang berbasis di Benoa, Bali. Berikut adalah poin-poin kunci dari kesimpulan tersebut:

1. Manfaat VMS: Data VMS dapat digunakan untuk memantau aktivitas penangkapan ikan, seperti posisi, kecepatan, dan arah gerak kapal.

Hal ini penting untuk memahami pola gerakan dan menentukan apakah kapal mengikuti regulasi yang ditetapkan.

2. Peningkatan Kesesuaian Data: Tingkat kesesuaian antara data logbook dan data VMS mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2016 hingga 2018, dengan kesesuaian mencapai 98% pada tahun 2018. Ini menunjukkan bahwa pemanfaatan data VMS semakin baik dalam mendukung akurasi laporan hasil tangkapan.

3. Identifikasi Pelanggaran: Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana data VMS dapat membantu dalam mengidentifikasi pelanggaran, seperti kegiatan transshipment yang tidak sesuai dan kehadiran kapal di area larangan.

4. Rekomendasi: Penulis merekomendasikan pembaruan sistem VMS yang lebih integratif dengan data e-logbook dan perlunya penelitian lebih lanjut untuk jenis kapal perikanan lainnya.

(20)

16

DAFTAR PUSTAKA

Alimina, N., Asnani, Sara, L., Arami, H., dan Mustafa, A. 2022. Pelatihan Penanganan Hasil Tangkapan Bagi Nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA 5(4):

382–387

Darondo, Franky Adrian, Sugianto Halim, and Wudianto Wudianto.

"Modifikasi pemberat hand line dengan inovasi menggunakan pemberat batu beton pada penangkapan tuna di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung." Jurnal Ilmu Dan Teknologi Perikanan Tangkap 5.2 (2020).

Faizah, Ria, and Budi Iskandar Prisantoso. "Hubungan panjang dan bobot,sebaran frekuensi panjang, dan faktor kondisi tuna mata besar (Thunnus obesus) yang tertangkap di Samudera Hindia." BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap 3.3 (2017): 183-189.

Tawaqal, Muhammad Irsyad, Roza Yusfiandayani, and Mohammad Imron.

"Analisis Fishing Activity Kapal Tuna Longline Menggunakan Vessel Monitoring System Yang Berbasis Di Benoa Bali." Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan 10.1 (2019): 109-119.

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat 3 (tiga) jenis ikan tuna yang didaratkan di TPI PPSC yang merupakan hasit tangkapan dari alat tangkap longline dan gillnet. Berdasarkan h s i l wawancara d m

Maka diperlukan suaru metode penangkapan ikan yang lain yang dapat digunakan pada saat musim lainnya dimana produksi tuna menurun.. Alat tangkap purse seine

Jaket tuna adalah alat bantu penanganan pada saat ikan tuna tertangkap dengan pancing ulur yang dipasang atau dipergunakan sewaktu mata kail dari pancing ulur tersangkut ikan sasaran

Perusahaan penangkapan ikan tuna dan cakalang skala besar pada umumnya juga menggunakan alat tangkap pukat cincin (purse seine) namun dalam penelitian ini penggunaan alat

Alat perlengkapan kapal yang dibawa nelayan rawai (Long line) selama penangkapan ikan secara umum sama dengan pengoprasian alat tangkap lainnya, yang membedakan adalah

Bobot hasil tangkapan ikan tuna sirip kuning terbesar dengan pengoperasian alat tangkap longline dengan tali pancing yang menggunakan jumlah mata pancing 1592 mata pancing

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi jenis hasil tangkap sampingan dan mencoba menganalisis hubungan interaksi ikan hasil tangkap sampingan dengan ikan

Besarnya perubahan total faktor produk- tivitas perikanan tuna berdasarkan alat tangkap (Tabel 3) menunjukkan bahwa perubahan fak- tor produktivitas penangkapan ikan tuna