TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN
“Memprediksi Erosi Tanah Dengan USLE Dan Memanfaatkan Untuk Menyusun Rekomendasi Upaya Konservasi Tanah Dan Air”
Dosen Pengampu: Syamsul Arifin, SP., M.Si.
Nama : Hendy Dwi Bayu Ardianto NIM : 205040200111046
Kelas : K Absen : 4
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2022
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Tingginya curah hujan di Indonesia menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya degradasi lahan akibat erosi yang terjadi. Disamping curah hujan yang tinggi, laju erosi juga dapat meningkat jika tutupan tanah menghilang dan ketika kondisi lahan memiliki kelerengan yang curam. Kondisi tersebut mengakibatkan teerjadinya aliran permukaan yang semakin besar. Faktor yang mempercepat proses terjadinya erosi selain dari faktor alam itu sendiri seperti kelerengan, intensitas curah hujan, tekstur dan struktur tanah adalah kegiatan manusia dalam usaha produksi pertanian maupun kegiatan kehidupan lainnya yang memanfaatkan sumberdaya alam secara tidak bertanggung jawab (Arsyad, 2010).
Pertanian dapat menjadi salah satu penyebab degradasi lahan dikarenakan menyebabkan berkurangnya cadangan air tanah, pohon yang berperan menyimpan cadangan air di tanah berkurang, akibatnya lahan jadi kekurangan air dan kekeringan. Berkurangnya jumlah vegetasi juga menyebabkan terjadinya peningkatan erosi pada lahan tersebut. Pada lahan dengan vegetasi yang minim air hujan akan langsung menghantam permukaan tanah yang akan menyebabkan permukaan tanah akan terkikis yang dimana jika dibiarkan secara terus menerus akan menimbulkan kerusakan pada lahan. Laju kehilangan tanah dan erosi di Indonesia meningkat setiap tahun. Faktor utama dari tingginya laju erosi dan kehilangan tanah disebabkan oleh curah hujan di Indonesia yang cukup tinggi. Selain dari curah hujan yang tinggi tingkat kelerengan lahan juga menjadi faktor peningkatan laju erosi.
Erosi tanah mengakibatkan kerusakan yang sangat luas dan mahal, baik pada daerah hulu maupun bagian hilir. Erosi mengakibatkan kerusakan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga terjadi penurunan kapasitas infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air (water holding capacity), peningkatan kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah, penurunan kualitas struktur tanah, serta pengurangan ketersediaan bahan organik dan organisme tanah seperti cacing karena terbawa aliran permukaan. Maka dari itu, untuk menanggulangi ancaman erosi dapat dilakukan langkah pencegahan dan perawatan dengan mengaplikasikan teknik konservasi yang sesuai dengan masalah yang ada pada wilayah tersebut. Oleh karena itu dilakukan perbandingan bagaimana hasil dari pendugaan metode USLE dengan Edp dan bagaimana rekomendasi konservasi tanah dan air yang sesuai dengan masing-masing SPL.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari tugas yang diberikan dan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pendugaan erosi dengan metode USLE dan Edp?
2. Bagaimana tahapan yang dapat dilakukan dalam konservasi tanah di masing- masing SPL?
3. Bagaimana rekomendasi konservasi tanah dan air pada SPL tersebut?
BAB 2
HASIL DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN PENDUGAAN EROSI AKTUAL DENGAN USLE DIBANDINGKAN DENGAN EROSI DAPAT
DIPERBOLEHKAN
Tabel Hasil Survei
No .
Kriteria Lahan
yang Disurvei
Satuan Peta Lahan (SPL)
A B C D E F
1 Faktor R 539
2 Faktor K 0.22
3
Kemiringa n lahan
(%)
2 10 25 40 55 105
4 Panjang
lereng (m) 500 300 250 150 100 100
5
Kedalama n tanah
(cm)
120 120 120 65 120 90
6
Jenis tanah (faktor kedalaman
)
Udept (0.8)
Udept (0.8)
Udept (0.8)
Udept (0.8)
Udept (0.8)
Udept (0.8)
7 Bobot isi
(ton m-3) 0,73 0,8 0,78 0,85 0,71 0,9
8
Pengguna an lahan aktual
Tegal Tegal Tegal Tegal
Hutan produksi
tebang habis/
agrofores tri
Hutan produksi
tebang pilih/
agrofores tri 9 Tutupan
lahan Jagung Jagung Jagung Jagung
Pinus dan sayuran
Pinus + kopi
10 Pengelola an lahan
Tidak bertera
s
Tidak bertera
s
Tidak berteras
Tidak berteras
Tidak berteras
Tidak berteras
11
Kelas Kemampu
an lahan
II_t4 III_l2 IV_I3 IV_I4 VII_I5 VIII_I6
12
Arahan Pengguna
an lahan
Tanam an semusi
m
Tanam an semusi
m
Sempad an sungai
Agrofores tri
Hutan produksi
Hutan lindung
Pendugaan Erosi Tanah Aktual di Masing-masing SPL No
.
Faktor USLE Nilai Faktor Erosi dan Erosi Tanah di Satuan Peta Lahan (SPL)
1 2 3 4 5 6
Pendugaan Erosi Aktual
1 R 539
2 K 0.22
3 Panjang
Lereng (M) 500 300 250 150 100 100
4 L 4,77 3,69 3,37 2,61 2,13 2,13
5 Kemiringan
(%) 2 10 25 40 55 105
6 S 0,18 1,18 5,29 12,36 22,36 76,97
7 C 0,7 0,7 0,7 0,7 0,5 0,2
8 P 1 1 1 1 1 1
9 Erosi aktual (ton/ha/th)
72,21 5
360,24 6
1.481,65 7
2.677.77 3
2.826,94 7
4.422,49 5 Pendugaan Erosi yang dapat diperbolehkan (Edp)
10 Kedalaman
Tanah (mm) 120 120 120 65 120 90
11 Faktor Tanah 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
12 Umur Lahan 400 400 400 400 400 400
13
Erosi yang dapat diperbolehka
n /Edp (ton ha-1 tahun-1)
17,52 19,2 18,72 11,05 17,04 16,2
Pembahasan apakah penggunaan lahan aktual di masing-masing SPL mengalami degradasi
1. SPL A: Berdasarkan hasil perhitungan eorsi aktual dan Edp yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa SPL A mengalami degradasi. Hal ini terlihat dari nilai erosi aktual yang lebih besar yaitu 72,21 dibandingkan Edp yang sebesar 17,52.
2. SPL B: Berdasarkan hasil perhitungan eorsi aktual dan Edp yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa SPL B mengalami degradasi. Hal ini terlihat dari nilai erosi aktual yang lebih besar yaitu 360,246 dibandingkan Edp yang sebesar 19,2.
3. SPL C: Berdasarkan hasil perhitungan eorsi aktual dan Edp yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa SPL C mengalami degradasi. Hal ini terlihat dari nilai erosi aktual yang lebih besar yaitu 1.481,657 dibandingkan Edp yang sebesar 18,72.
4. SPL D: Berdasarkan hasil perhitungan eorsi aktual dan Edp yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa SPL D mengalami degradasi. Hal ini terlihat dari nilai erosi aktual yang lebih besar yaitu 2.677.773 dibandingkan Edp yang sebesar 11,05.
5. SPL E: Berdasarkan hasil perhitungan eorsi aktual dan Edp yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa SPL E mengalami degradasi. Hal ini terlihat dari nilai erosi aktual yang lebih besar yaitu 2.826,947 dibandingkan Edp yang sebesar 17,04.
6. SPL F: Berdasarkan hasil perhitungan eorsi aktual dan Edp yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa SPL F mengalami degradasi. Hal ini terlihat dari nilai erosi aktual yang lebih besar yaitu 4.422,495 dibandingkan Edp yang sebesar 16,2.
BAB 3
REKOMENDASI KONSERVASI TANAH DAN AIR
Tabel Kondisi Kemampuan Lahan dan Rekomendasi Tindakan Konservasi Tanah
SP L
Sub Kelas
KPL
Arahan Pengguna
a Lahan
Rekomendasi Pengembanga
n Kawasan
Rekomendasi Tindakan Konservasi Tanah
Vegetatif Kimia Mekanis
A II_t4 Tanaman semusim
Tanaman semusim
pola tanam tumpang
sari
Pemupukan dan pengapura n
Strip cropping, pergiliran tanaman, pembuata n saluran drainase B III_ l2 Tanaman
semusim
Tanaman semusim
Penggunaa n tanaman
pagar
Penambaha n bahan
organik
Penerapa n teras
gulud C IV_l3 Sempadan
sungai
Kawasan Ekowisata
Penanama n cover
crop
Penambaha n bahan
organik
Pembuata n teras
gulud
D IV_l4 Agroforest ri
Kawasan hutan campuran dan
rumput gajah
Menanam pepohonan permanen,
strip penyangga,
strip filter
Penerapan soil conditioner
Pembuata n teras bangku
E VII_l5 Hutan Produksi
Kawasan hutan produksi
pinus
Penanaman tanaman vegetasi
Penerapan soil conditioner
Pembuata n teras bangku
F VIII_l 6
Hutan Lindung
Kawasan hutan campuran untuk resapan
air
Menanam pepohonan
permanen atau reforestri
- -
Tahapan Konservasi Tanah dan Air 1. SPL A
Sistem pertanaman lorong (alley croping) adalah suatu sistem di mana tanaman pangan ditanam pada lorong (alley) di antara barisan tanaman pagar. Pada budidaya lorong konvensional, tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong di antara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur.
Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar. Pada awal penerapan budidaya lorong aliran permukaan dan erosi dapat menerobos tanaman pagar yang belum tumbuh merapat, meskipun ditanam lebih dari satu baris tanaman.
Pada kondisi demikian, tanaman pagar kurang efektif dalam menghambat aliran permukaan dan menjaring sedimen yang terangkut, sehingga dapat menghanyutkan pupuk dan bahan organik. Setelah tanaman pagar berkembang, persaingan penyerapan air, unsur hara dan sinar matahari
antara tanaman pagar dengan tanaman budidaya dapat mengurangi produksi tanaman yang dibudidayakan. Teknik koservasi selanjutnya adalah dengan managemen tanah / kimia yang menggunakan metode pemupukan atau pengapuran. Metode koservasi selajutnya adalah dengan metode mekanis, yaitu stripcropping. Menurut Subagyono et al. (2003), (strip cropping) adalah suatu sistem budidaya tanaman dengan beberapa jenis tanaman ditanam dalam strip yang berselang-seling pada sebidang tanah pada waktu yang sama dan disusun memotong lereng atau menurut garis kontur.
2. SPL B
Metode konservasi vegetatif pada SPL ini dilakukan dengan menggunakan tanaman pagar. Tanaman pagar yang ditanam dapat berupa tanaman yang bisa dipanen seperti sayuran. Tanaman pagar berfungsi sebagai pelindung dari serangan hewan atau hama. Penggunaan tanaman pagar juga terbilang cukup sederhana, yaitu dengan menggali tanah sekitar 20 cm, dan dilanjutkan memberi pupuk organik 2-4 kg/m dan 30gram NPK/m.
Setelah itu tutup kembali lubang tanam dan dibiarkan selama dua minggu agar pupuk dapat terlarut ke tanah. Agar tanaman pagar tumbuh subur aplikasikan pupuk sebulan sekali. Lakukan pemangkasan selama 2-3 minggu sekali, atau paling tidak sebulan sekali (Fatimah, 2015). Dengan menanam tanaman yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman berakar dalam, maka tanah di sekitarnya akan lebih gembur. Sementara itu pada penggunaan teras gulud dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bagian bawah sehingga terjadi suatu deretan bentuk guludan. Teras jenis ini dapat datar atau miring ke dalam. Teras gulud yang berlereng ke dalam dipergunakan untuk tanah-tanah yang permeabilitasnya rendah dengan tujuan agar air yang tidak segera terinfiltrasi tidak mengalir ke luar melalui galud.
3. SPL C
Cover crop adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan / atau untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah. Adanya vegetasi di atas permukaan tanah akan melindungi tanah dari pukulan air hujan dengan fungsi untuk memperbesar resapan air kedalam tanah, menghasilkan air yang berkualitas baik, menghasilkan udara yang segar, mengurangi erosi, menjadikan lahan lebih produktif dan memperindah lansekap atau pemadangan. Untuk penanaman rumput bisa dilakukan dengan pola strip rumput, rumput ini bisa sebagai pagar pada pekarangan penginapan yang berfungsi juga sebagai penahan erosi. (Subagyono et al., 2003). Metode selanjutnya pada metode mekanis adalah dengan pengaplikasian teras gulud.
Pembuatan teras gulud memiliki persyaratan teknis yaitu dibuat pada kemiringan lereng 10-40% bisa juga diterapkan pada kelerengan >40%, memiliki kedalaman tanah >60 cm (Fatimah, 2015).
4. SPL D
Pohon permanen ditanam dengan tujuan agar kelestarian biodiversitas pada lingkunagn tersebut dapat tetap terjaga serta dapat menjaga kandungan air di dalam tanah. Penananam juga bertujuan menekan ancaman erosi terjadi. Penggunaan rumput gajah bertujuan dalam penerapan strip filter, karena rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang ditanam dalam strip menjadi filter atau penahan sedimen agar tidak keluar lahan dan cukup efektif
dalam mengurangi potensi tersalurnya sedimen ke dalam perairan/drainase (Satriagasa dan Suryatmojo, 2020). Metode mekanis yang digunakan adalah dengan pembuatan teras bangku. Teras bangku adalah serangkaian dataran yang dibangun sepanjang kontur pada interval yang sesuai. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bagian bawah sehingga terjadi suatu deretan bentuk tangga atau bangku.
Teras jenis ini dapat datar atau miring ke dalam. Teras bangku sulit dipakai pada usaha pertanian yang menggunakan mesin-mesin pertanian yang besar dan memerlukan tenaga dan modal yang besar untuk membuatnya (Arsyad, 2010).
5. SPL E
Konservasi vegetatif dilakukan dengan penanaman tanaman vegetasi.
Tanaman vegetasi berfungsi sebagai penutup tanah, menjaga kandungan air, serta menekan laju erosi. Dengan adanya vegetasi pada lingkungan tersebut tanah akan menjadi lebih kokoh, sehingga tanah yang diikat dengan akar dari vegetasi tersebut tidak dapat dengan mudah dihempas oleh air hujan ataupun faktor erosi lainnya. Pembuatan teras bangku juga dilakukan pada konservasi mekanis. Teras bangku adalah bangunan teras yang dibuat sedemikian rupa sehingga bidang olah miring ke belakang dan dilengkapi dengan bangunan pelengkap lainnya untuk menampung dan mengalirkan air permukaan secara aman dan terkendali. Keuntungan dati penggunaan teras bangku yaitu efektif dalam mengendalikan erosi dan aliran permukaan, menangkap tanah dalam parit-parit yang dibuat sepanjang teras dan tanah yang terkumpul itu dapat dikembalikan ke bidang olah, dan mengurangi panjang lereng.
6. SPL F
SPL F memiliki kelerengan yang sangat curam yaitu sebesar 105% sehingga potensi terjadinya erosi semakin besar. Dengan upaya penanaman pohon permanen pada wilayah tersebut dapat dengan baik mengefisienkan lingkungan tersebut dari besarnya ancaman erosi dan degradasi lahan. Pohon permanen yang ditanam dapat memperkuat tanah dengan menahan melalui akar, sehingga ketika terjadi hujan perakaran yang ada dapat menahan tanah.
Tabel Erosi Tanah di Masing-masing Rencana Penggunaan Lahan atas Perencanaan Konservasi Tanah dan Air
No Faktor USLE
Nilai Faktor dan Erosi Tanah untuk Rekomendasi Penggunaan Lahan
A B C D E F
1
Rekomendasi Konservasi Tanah dan Air
Alley cropping, Pemupuk
an dan pengapur
a, Stripcoppi
n, pergiliran tanaman
Penggu naan tanama n pagar, polikultu
r
Penana man cover
crop, Teras bangku
Menanam pepohona
n permanen
, strip penyangg
a, strip filter, dan Pembuata n teras bangku
Penan aman tanam an vegeta si, dan
Teras bangku
Mena nam pepoh
onan perma nen atau refore stri,
2 R 539 539 539 539 539 539
3 K 0,22 0,22 0,22 0,22 0,22 0,22
4 Panjang
Lereng (m) 500 300 250 150 100 100
5 L 4,77 3,69 3,37 2,61 2,13 2,13
6 Kemiringan
(%) 2 10 25 40 55 105
7 S 0,18 1,18 5,29 12,36 22,36 76,97
8 C 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7
9 P 1 1 1 1 1 1
10
Erosi Tanah (ton ha-1
tahun-1)
72,215 360,246 1.481,6
57 2.677,773 2.826, 947
4.422, 495 11 Edp (ton ha-1
tahun-1) 17,52 19,2 18,72 11,05 17,04 16,2 Pembahasan
Berdasarkan perhitungan erosi aktual dan Edp menunjukkan bahwa lahan yang telah dilakukan konservasi mengalami penurunan pada setiap SPL-nya. Hal ini membuktikan bahwa konservasi yang sesuai akan mengurangi nilai erosi dan meningkatnya kualitas dan kuantitas tanaman. Dengan adanya konservasi mewujudkan kelestarian sumberdaya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan manusia. Selain itu, konservasi merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelestarian satwa. Tanpa konservasi akan menyebabkan rusaknya habitat alami satwa. Rusaknya habitat alami ini telah menyebabkan konflik manusia dan satwa. Konflik antara manusia dan satwa akan merugikan kedua belah pihak, manusia rugi karena kehilangan satwa bahkan nyawa sedangkan satwa rugi karena akan menjadi sasaran balas dendam manusia (Rachman, 2011).
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan erosi aktual dan Edp yang dilakukan pada masing- masing SPL menunjukkan bahwa seluruh SPL mengalami erosi aktual yang lebih besar dari Edp. Maka dari itu diperlukan tindakan konservasi untuk mengurangi nilai erosi aktual tidak lebih dari nilai Edp. Tindakan konservasi yang dapat dilakukan daintaranya konservasi secara vegetatif, kimia, dan mekanis.
4.2 Saran
Dalam penggunaan lahan khususnya untuk budidaya pertanian diperlukan adanya tindakan konservasi. Tindakan konservasi ini bertujuan agar lahan yang dimanfaatkan terhindar dari degradasi dan terjaga kesuburan tanahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad S. 2010. Pengawetan Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Fatimah. 2015. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Rachman, M. 2011. Konservasi nilai dan warisan budaya. Indonesian Journal of Conservation. 1(1).
Subagyono, K., Marwanto, S., dan Kurnia, U. 2003. Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif. Bogor: Balai Penelitian Tanah.
Subagyono, Rosadi B, Manik TK, Senge M, Oki Y, dan Adachi T. 2003. The dynamics of soil water pressure under coffee tree with different weed management in a hilly area of Lampung, Indonesia. p.387-394. In Proceedings International Seminar Toward Sustainable Agriculture in Humid Tropics Facing 21st Century. Bandar Lampung, Sept. 27-28, 1999.
University of Lampung.
Satriagasa, Muhammad Chrisna dan H. Suryatmojo. 2020. Efektivitas Tutupan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) dalam Mitigasi Erosi Tanah oleh Air Hujan. Jurnal Agritech. 40(2): 141-149