Teknologi Pasca Panen Pada Kelapa Sawit
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisiologi dan Teknologi Pasca Panen .
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Ir. Noor Harini, MS.
Disusun Oleh:
Cindy Khanza H P R 202210220311137
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS PERTANIAN PETERNAKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya berkat limpahan rahmat, taufik serta hidayah-Nya tugas makalah Teknologi Produksi Tanaman dapat terselesaikan tepat pada waktunya tanpa ada suatu rintangan yang berarti. Sholawat dan salam semoga senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya, yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah yang gelap gulita menuju zaman yang terang benderang melalui perantaraan agama Islam yang haq.
Tulisan ini disusun sebagai syarat untuk memenuhi tugas Teknologi Produksi Tanaman berupa pembuatan makalah yang berisi tentang bagaimana perbanyakan tanaman kelapa dengan kultur jaringan. Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyusun makalah ini.
Kami berharap makalah ini bermanfaat bagi saya sendiri selaku penyusun dan para pembaca pada umumnya. Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dalam penyusunannnya, Hal tersebut disebabkan karena keterbatasan pengetahuan kami.
Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi perbaikan penulisan yang akan datang.
Batu, 25 Maret 2024
Cindy Khanza
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB I...4
PENDAHULUAN...4
LATAR BELAKANG...4
TUJUAN...5
BAB II...5
TINJAUAN PUSTAKA...5
2.1 Teknologi yang Digunakan...5
2.2 Penanganan Pasca Panen...7
BAB III...8
ISI DAN PEMBAHASAN...8
3.1 TEKNIK PERBANYAKAN KELAPA DENGAN KULTUR JARINGAN...8
BAB IV...10
PENUTUP...10
BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
Ilmu pasca panen merupakan disiplin ilmu yang penting bagi mahasiswa teknologi pangan. Dengan pengetahuan dan teknik yang diperoleh, mahasiswa dapat membantu mengurangi kehilangan hasil tanaman pangan akibat penanganan pasca panen. Penanganan pasca panen meliputi proses seperti pemrosesan, pengemasan, penyimpanan, pengawetan, dan lain-lain. Dengan teknologi pasca panen tanaman pangan, mahasiswa dapat membantu mencapai hasil panen yang optimum dengan kualitas yang baik.
Pengetahuan tentang ilmu pasca panen juga memiliki manfaat untuk masyarakat dan produsen. Teknologi pangan membantu menciptakan bahan pangan efisien yang dapat dikonsumsi masyarakat setiap harinya. Teknologi pengawetan bahan pangan, seperti pemrosesan, pengemasan, dan penyimpanan, sangat penting untuk mendistribusikan bahan pangan secara lebih merata ke berbagai penjuru dunia.
Dalam proses pengemasan, kemasan kedap udara bertujuan untuk mencegah adanya kerusakan pada makanan. Cara ini bisa menggunakan vacuum untuk mengatasi kadar oksigen. Sebagai contoh, es krim memerlukan proses pembekuan cepat guna mencegah proses pengembangan bakteri. Pada dasarnya, ilmu pasca panen memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produk pertanian, serta membantu mengurangi kehilangan hasil panen tanaman pangan. Dengan ilmu ini, mahasiswa teknologi pangan dapat membantu masyarakat dan industri pangan di Indonesia dalam meningkatkan kualitas dan ketersediaan bahan pangan.
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang sangat penting. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia di pelopori oleh Adrien Hallet, berkebangsaan Belgia, yang telah mempunyai pengalaman menanam kelapa sawit di Afrika. Penanaman kelapa sawit yang pertama di Indonesia dilakukan oleh beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit seperti pembukaan kebun di Tanah Itam Ulu oleh Maskapai Oliepalmen Cultuur, di Pulau Raja oleh Maskapai Huilleries de Sumatra – RCMA, dan di sungai Liput oleh Palmbomen Cultuur Mij.
TUJUAN
a. Mengetahui cara proses pasca panen kelapa sawit
b. Mengetahui Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Kultur Jaringan
c. Mengetahui Pemasaran Kelapa
d.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknologi yang Digunakan
Kultur jaringan adalah salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif.
Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.
Tahapan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
Pembuatan media
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.
Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak.
Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan.
Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.
Sterilisasi
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril.
Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.
Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.
Pengakaran
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik.
Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).
Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.
2.2 Penanganan Pasca Panen
Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2-3 tahun.
Buah akan menjadi masak sekitar 5-6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna kulitnya. Buah akan berubah menjadi merah jingga ketika masak. Pada saat buah masak, kandungan minyak pada daging buah telah maksimal. Jika terlalu matang, buah kelapa sawit akan lepas dan jatuh dari tangkai
tandannya. Buah yang jatuh tersebut disebut membrondol. Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut brondolan, dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. Kriteria panen yang perlu diperhatikan adalah matang panen, cara panen, alat panen, rotasi dan sistem panen serta mutu panen.
Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut brondolan dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. Kriteria panen yang perlu diperhatikan adalah matang panen, cara panen, alat panen, rotasi dan sistem panen, serta mutu panen.
Kriteria matang Panen
Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu pemanen agar memotong buah pada saat yang tepat. Kriteria matang panen ditentukan pada saat kandungan minyak maksimal dan kandungan asam lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA) minimal. Pada saat ini, kriteria umum yang banyak dipakaiadalah berdasarkan jumlah brondolan, yaitu tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan kurang lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih dari 10 tahun, jumlah brondolan sekitar 15 – 20 butir. Namun, secara praktis digunakan kriteria umum yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat dua brondolan.
Cara panen
Berdasarkan tinggi tanaman, ada tiga cara panen yang umum dilakukan oleh perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Untuk tanaman yang tingginya 2-5 m digunakan cara panen jongkok dengan alat dodos, sedangkan tanaman dengan ketinggian 5-10 m dipanen dengan cara berdiri dan menggunakan alat kampak siam. Cara egrek digunakan untuk tanaman yang tingginya lebih dari 10 m dengan menggunakan alat arit bergagang panjang.
Untuk memudahkan pemanenan, sebaiknya pelepah daun yang menyangga buah dipotong terlebih dahulu dan diatur rapi di tengah gawangan.
Persiapan Panen
Untuk menghadapi masa panen dan agar proses dapat berjalan dengan lancar, tempat pengumpulan hasil (TPH) harus disiapkan dan jalan untuk pengangkutan hasil harus diperbaiki. Para pemanen harus disiapkan peralatan yang akan digunakan.
BAB III
ISI DAN PEMBAHASAN
3.1 TEKNIK PERBANYAKAN KELAPA DENGAN KULTUR JARINGAN Bahan Kultur jaringan
Bahan kultur jaringan menggunakan pohon induk yang dipilih dari hasil persilangan pohon ibu dan pohon bapak tebaik dari varietas Deli Dura X Pisifera. Kriteria pemilihan pohon induk yang akan digunakan sebagai sel-sel pembiakan atau ortet adalah sebagai berikut :
a) Persilangan terpilih harus berproduksi 7-9 ton minyak sawit/hektar/tahun dan pohon yang
dipilih memiliki potensi produksi 9 – 11 ton minyak/hektar/tahun.
b) Kandungan asam lemak tidak jenuh di atas 54%
c) Bebas penyakit tajuk (crown disease).
d) Peninggian pohon berkisar antara 40 – 55 cm per tahun.
Media
Media untuk tempat menumbuhkan sel – sel pembiak adalah komponen yang tersusun dari senyawa kimia yang mampu mendukung perkembangan dan pertumbuhan jaringan.
Media tumbuh ini terdiri atas unsur – unsur hara makro, mikro, protein, vitamin, mineral, dan hormon pada dosis tertentu sehingga memberikan hasil optimum bagi perkembangan jaringan.
Metode
Seperti telah dikemukakan di atas, perbanyakan bahan tanaman melalui kultur jaringan dapat menggunakan teknologi Inggris (Unilever) atau teknologi perancis (CIRAD – CP). Metode pembiakan kultur jaringan yang dilaksanakan oleh PPKS Medan adalah metode CIRAD – CP yang dilaksanakan melalui lima tahap kegiatan sebagai berikut.
· Induksi Kalus
Bahan biakan adalah daun kelapa sawit yang manis muda (daun ke – 4, ke – 5, ke – 6 atau ke – 7) dan masih aktif. Daun Kelapa sawit tersebut diiris melintang berukuran 1 cm.
Dari satu pohon induk dapat diperoleh sebanyak 1.200 bahan biakan atau eksplan.
· Pembentukan Embrio
Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan embrio dari kalus berbeda - beda, tergantung pada klon yang digunakan.
· Pembiakan Embrio
Embrio muda dipindahkan ke media baru untuk pematangan sekaligus perbanyakannnya. Embrio tersebut dipelihara di dalam ruang pembiakan dengan intensitas cahaya 1.000 gross lux suhu 270C dan kelembaban udara 50% - 60%. Pematangan embrio membutuhkan waktu 2 – 4 bulan. Kemampuan pembiakan embrio dari setiap klon berbeda, tetapi tidak ada hubungannya dengan jenis persilangan. Pada embrio yang sudah matang (mature) dapat ditumbuhi – pupus, embrio juga didapat sebagai stock atau koleksi dalam tabung penyimpanan dengan teknik krioperservasi.
· Penumbuhan Pupus
Embrio yang terpilih untuk penumbuhan pupus dipindahkan ke dalam media baru, dikulturkan di dalam ruang pembiakan dengan intensitas cahaya 1.000 gross lux, suhu 300C, dan kelembaban 50 - 60%. Penumbuhan pupus membutuhkan waktu 2 - 4 bulan.
· Penumbuhan Akar
Pupus yang tumbuh dalam satu kelompok diseleksi untuk penumbuhan akar. Pupus yang mempunyai ukuran lebih dari 6 cm disapih dari kelompoknya dan dimasukkan ke dalam media induksi akar. Pupus yang masih berukuran kecil dipelihara kembali dalam media penumbuhan pupus.
BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN
Kultur jaringan adalah salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
Pemasaran Kelapa Petani biasanya menjual langsung ke pedagang pengumpul di desa kemudian pedagang pengumpul menjual ke pedagang pengumpul kota. Pedagang pengumpul kota menjual ke pedagang pengecer kelapa butir kemudian menjual ke konsumen akhir.
Selama proses itu, masing-masing lembaga melakukan fungsi-fungsi pemasaran, misalnya pembelian, penjualan, sortasi, transportasi, penyimpanan dan lain-lain. Pedagang pengumpul mempunyai posisi yang kuat dalam pemasaran kelapa. Mereka memiliki modal yang besar dan mampu menentukan harga pembelian dan harga penjualan dalam batas-batas tertentu sehingga menghasilkan sejumlah keuntungan yang diinginkan